Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Komponen-komponen kimia yang terkandung di dalam bahan
organik seperti yang terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan sangat
dibutuhkan oleh keperluan hidup manusia, baik komponen senyawa
tersebut digunakan untuk keperluan industri maupun untuk bahan obatobatan. Komponen tersebut dapat diperoleh dengan metode ekstraksi
dimana ekstraksi merupakan proses pelarutan komponen kimia yang
sering digunakan dalam senyawa organik untuk melarutkan senyawa
tersebut dengan menggunakan suatu pelarut yang selanjutnya akan
dilakukan pemisahan komponen.
Kromatografi adalah cara pemisahan campuran yang didasarkan
atas perbedaan distribusi dari komponen campuran tersebut diantara dua
fase, yaitu fase diam (stationary) dan fasa bergerak (mobile). Fasa diam
dapat berupa zat padat atau zat cair, sedangkan fasa bergerak dapat
berupa zat cair atau gas. Teknologi yang penting untuk analisis dan
pemisahan preparatif pada campuran bahan adalah prinsip dasar
kromatografi.
Salah satu metode pemisahan yang memerlukan biaya paling murah
dan memakai peralatan sangat sederhana ialah kromatografi lapis tipis
preparatif (KLTP).Walaupun KLTP dapat memisahkan dalam jumlah
gram,sebagian besar pemakaian hanya dalam jumlah miligram. KLT

preparatif dilakukan dengan menggunakan lapisan tebal (sampai 1 mm)


sebagai pengganti lapisan penyerap yang tipis
Salah satu tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat adalah
kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla) (Dalimartha, S. 2007).
Tumbuhan

ini

termasuk

dalam

suku

Compositae

(Aste-raceae)

diindikasikan untuk tumor rahim, malaria, pneumonia, antiinflamasi dan


sebagainya (Dalimartha, 2007).
Dilakukan pengujian dengan metode kromatografi lapis tipis
preparatif berguna untuk memisahkan campuran reaksi sehingga
diperoleh senyawa murni untuk pendahuluan, untuk menyiapkan cuplikan
analisis, untuk meneliti bahan alam yang lazimnya berjumlah kecil dan
campurannya rumit, dan untuk memperoleh cuplikan yang murni untuk
mengkalibrasi KLT kuantitatif.
Dari alasan tersebut di atas, maka dianggap perlu pengetahuan
yang cukup untuk mengenal berbagai macam tumbuhan yang berkhasiat
obat, untuk diisolasi komponen kimia yang terdapat dalam suatu simplisia,
khususnya bagi seorang farmasis.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya yaitu bagaimana cara mengisolasi
ekstrak pisang ambon (Musa acuminata Colla) dengan menggunakan
metode kromatografi lapis tipis preparatif?

C. Maksud dan Tujuan


1. Maksud
Adapun maksud dilakukannya praktikum ini yaitu mengisolasi
senyawa aktif pada fraksi kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla)
dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis preparatif
berdasarkan pola kromatogram.
2. Tujuan
Adapun

tujuan

dilakukannya

praktikum

ini

yaitu

untuk

mendapatkan isolat yang aktif sebagai antioksidan dari ekstrak kulit


pisang ambon (Musa acuminata Colla) dengan metode kromatografi
lapis tipis preparative berdasarkan pola kromatogram.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Uraian Tanaman
1 Klasifikasi tanaman (Integrated Taxonomic Information System,
2014).
Regnum

: Plantae

Subregnum

: Viridaeplantae

Infraregnum

: Streptophyta

Devisi

: Tracheophyta

Sub devisi

: Spermatophytina

Class

: Magnoliopsida

Superorder

: Lilianae

Order

: Zingiberales

Family

: Musaceae

Genus

: Musa L

Species
: Musa acuminata Colla.
2 Morfologi pisang ambon

Seperti tanaman yang lainnya, tanaman pisang mempunyai bagianbagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga, buah dan biji.
Menurut (Tjahjadi, 1991) akar pohon pisang merupakan akar serabut
yang berpangkal dari umbi batang yang sebagian letaknya berada di
bawah tanah. Rata-rata panjangnya adalah 4-5 meter untuk yang
menjalar kesamping dan hanya 75-150 cm untuk yang tumbuh ke
dalam tanah. Batang pisang menurut (Nakasone, 1998) merupakan
batang semu yang terbentuk dari pelepah daun yang membesar di
pangkalnya dan mengumpul membentuk struktur berselangseling yang
terlihat kompak sehingga tampak sebagai batang (pseudo stem).
Secara fisiologi daun pisang menurut (Nur et al., 2006) berwarna
hijau tua untuk daun yang dewasa dan hijau muda untuk daun yang
masih muda kecuali untuk beberapa spesies, terdapat bercak merah
pada lembaran daunnya atau pada ibu tulangnya. Daun pisang memiliki
pelepah daun yang yang membesar dan mengumpul berselang seling
membentuk suatu struktur seperti batang yang disebut psudo stem.
Bunga terdiri dari kumpulan dua baris bunga pertama dan disusul
bunga jantan. Braktea membuka secara sekuen sekitar satu per hari.
Tangkai bunga terus memanjang sampai 1,5 m. Buah kemungkinan
berkembang dari ovari interior dan eksokarp disusan pada lapisan
epidermis dan

paerenkim, dengan daging menjadi mesokarp.

Endokarp terdiri atas lapisan hampir rongga ovar.ian. Masing-masing


node memiliki dua baris pada bunga yang membentuk tandan pada

buah dan secara umum disebut sisir dengan buah individual yang
disebut finger (Nakasone, 1998).
3 Kandungan kimia
Menurut Atun et al., 2007 menyebutkan bahwa kulit buah pisang
ambon (Musa acuminata Colla) kaya akan senyawa flavonoid, maupun
senyawa fenolik yang lainnya, disamping banyak mengandung
karbohidrat, mineral seperti kalium dan natrium, serta selulosa. Hasil
penapisan fitokimia ekstrak menunjukkan hasil positif untuk senyawa
tannin, kuinon, flavonoid dan polifenolat (Fitrianingsih et al., 2012).
Menurut Kanazawa dan Sakakibara (2000) jenis flavonoid yang
teridentifikasi adalah narigenin dan rutin, serta menurut Someya
(2002), terdapat katekin, galokatekin dan epikatekin.
4 Manfaat tanaman
Pisang ambon merupakan buah yang banyak dikonsumsi oleh
masyarakat karena mengandung senyawa yang disebut asam lemak
rantai pendek, yang memelihara lapisan sel jaringan dari usus kecil
dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi. Menurut
penelitian yang telah dilakukan buah pisang ambon matang sangat
efektif dalam mengurangi keparahan klinis dari penyakit diare dan
banyak mengandung vitamin, mineral, protein dan karbohidrat yang
baik untuk dikonsumsi tubuh (Amrullah dan Elly, 1985).
B. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)
Istilah kromatografi mula-mula ditemukan oleh Michael Tswett
(1908), seorang ahli botani Rusia. Nama kromatografi diambil dari
bahasa Yunani (chromato = penulisan dan grafe = warna). Kromatografi

berarti penulisan dengan warna. Kromatografi adalah cara pemisahan


campuran yang didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen
campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (stationary) dan
fasa bergerak (mobile). Fasa diam dapat berupa zat padat atau zat cair,
sedangkan fasa bergerak dapat berupa zat cair atau gas (Yazid, 2005).
Kromatografi adalah proses melewatkan sampel melalui suatu
kolom, perbedaan kemampuan adsorpsi terhadap zat-zat yang sangat
mirip mempengaruhi resolusi zat terlarut dan menghasilkan apa yang
disebut kromatogram (Khopkar, 2008).
Kromatografi

merupakan

salah

satu

metode

pemisahan

komponen-komponen campuran dimana cuplikan berkesetimbangan di


antara dua fasa, fasa gerak yang membawa cuplikan dan fasa diam
yang menahan cuplikan secara selektif. Bila fasa gerak berupa gas,
disebut kromatografi gas, dan sebaliknya kalau fasa gerak berupa zat
cair, disebut kromatografi cair (Hendayana, 1994).
Pada kromatografi lapis tipis preparatif, cuplikan yang akan
dipisahkan ditotolkan berupa garis pada salah satu sisi pelat lapisan
besar dan dikembangkan secara tegak lurus pada garis cuplikan
sehingga campuran akan terpisah menjadi beberapa pita. Pita
ditampakkan dengan cara yang tidak merusak jika senyawa itu
tanwarna, dan penyerap yang mengandung senyawa pita dikerok dari
pelat kaca. Kemudian cuplikan dielusi dari penyerap dengan pelarut
polar. Cara ini berguna untuk memisahkan campuran reaksi sehingga

diperoleh senyawa murni untuk telaah pendahuluan, untuk menyiapkan


cuplikan analisis, untuk meneliti bahan alam yang lazimnya berjumlah
kecil dan campurannya rumit dan untuk memperoleh cuplikan yang
murni untuk mengkalibrasi kromatografi lapis tipis kuantitatif (Gritter,
1991).
Pengembangan plat KLTP biasanya dilakukan dalam bejana
kaca yang dapat menampung beberapa plat. Keefisienan pemisahan
dapat ditingkatkan dengan cara pengembangan berulang. Harus
diperhatikan bahwa semakin lama senyawa berkontak dengan
penyerap maka semakin besar kemungkinan penguraian (Hostettman,
1995).
Pendeteksian bercak hasil pemisahan dapat dilakukan dengan
beberapa cara. Untuk senyawa tak berwarna cara yang paling
sederhana adalah dilakukan pengamatan dengan sinar ultraviolet.
Beberapa senyawa organik bersinar atau berfluorosensi jika disinari
dengan sinar ultraviolet gelombang pendek (254 nm) atau gelombang
panjang (366 nm). Jika dengan cara itu senyawa tidak dapat dideteksi
maka harus dicoba disemprot dengan pereaksi yang membuat bercak
tersebut tampak yaitu pertama tanpa pemanasan, kemudian bila perlu
dengan pemanasan (Gritter,1991).
Pada kromatografi lapis tipis, fase diam berupa lapisan tipis yang
terdiri atas bahan padat yang dilapiskan pada permukaan penyangga
datar yang biasanya terbuat dari kaca, dapat pula terbuat dari plat

polimer atau logam. Lapisan melekat pada permukaan dengan bantuan


bahan pengikat, biasanya kalsium sulfat atau amilum (pati). Penjerap
yang umum dipakai untuk kromatografi lapis tipis adalah silika gel,
alumina, kieselgur, dan selulosa (Gritter, 1991).
Dua sifat yang penting dari fase diam adalah ukuran partikel dan
homogenitasnya,

karena

adhesi

terhadap

penyokong

sangat

tergantung pada kedua sifat tersebut. Ukuran partikel yang biasa


digunakan adalah 1-25 mikron. Partikel yang butirannya sangat kasar
tidak akan memberikan hasil yang memuaskan dan salah satu cara
untuk memperbaiki hasil pemisahan adalah dengan menggunakan fase
diam yang butirannya lebih halus. Butiran yang halus memberikan
aliran pelarut yang lebih lambat dan resolusi yang lebih baik
(Sastrohamidjojo, 1985).
Fase gerak ialah medium angkut yang terdiri atas satu atau
beberapa pelarut. Jika diperlukan sistem pelarut multi komponen, harus
berupa suatu campuran sesederhana mungkin yang terdiri atas
maksimum tiga komponen (Stahl, 1985).
Dalam pemisahan senyawa organik selalu menggunakan pelarut
campur.

Tujuan

menggunakan

pelarut

campur

adalah

untuk

memperoleh pemisahan senyawa yang baik. Kombinasi pelarut adalah


berdasarkan atas polaritas masing-masing pelarut, sehingga dengan
demikian akan diperoleh sistem pengembang yang cocok. Pelarut
pengembang yang digunakan dalam kromatografi lapis tipis antara lain:

n-heksana, karbontetraklorida, benzena, kloroform, eter, etilasetat,


piridian, aseton, etanol, metanol dan air (Gritter, 1991).
Dalam mengidentifikasi noda-noda dalam kromatografi sangat
lazim menggunakan harga Rf (Retordation Factor) yang didefinisikan
sebagai:
Rf =

Jarak titik pusat bercak dari titik awal


Jarakgarisdepanpelarutdarititikawal

Harga Rf beragam mulai dari 0 sampai 1. Faktor-faktor yang


mempengaruhi harga Rf (Sastrohamidjojo, 1985):
a. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan
b. Sifat Penjerap
c. Tebal dan kerataan dari lapisan Penjerap
d. Pelarut dan derajat kemurniannya
e. Derajat kejenuhan uap pengembang dalam bejana
f. Teknik percobaan
g. Jumlah cuplikan yang digunakan
h. Suhu
i. Kesetimbangan

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A Alat dan Bahan
1

Alat
Adapun alat yang digunakan, yaitu batang pengaduk, chamber
KLTP, pipa kapiler, pensil, pipet volume, mistar, chamber kecil, gelas
kimia, gelas ukur, lampu UV, lempeng KLT ukuran 7 x 1 cm, sendok
tanduk besi, dan vial.

Bahan
Adapun bahan yang digunakan, yaitu aluminium foil, DPPH, eluen
BAW, eluen kloroform:methanol (8:2), fraksi kloroform:metanol KKK &
KCV, label, lempeng KLTP, dan tissue.
B

Cara Kerja

1. Penyiapan Sampel
a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
b. Diambil fraksi dari hasil Kromatografi kolom dengan perbandingan
eluen methanol : kloroform (8 : 2)

c. Ditotolkan pada lempeng kaca ukuran 20x 20 cm secara


berhimpitan
2. Penyiapan Eluen
a.

Dibuat perbandingan eluen methanol : kloroform (8 : 2) dan


dihomogenkan

b.

Dimasukkan dalam chamber dan dijenuhkan terlebih dahulu

3. Penyiapan fase diam


a.

Disiapkan lempeng dengan ukuran 20 x 20 cm

b.

Digaris lempeng dengan batas atas 0,5 cm dan batas bawah 1


cm dengan menggunakan pensil

4. Cara kerja
a.

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

b.

Dimasukkan lempeng yang telah ditotol dalam chamber yang


berisi eluen

c.

Diamati noda yang terelusi yang naik sampai tanda batas

d.

Diamati pada lampu UV 254 nm dan 366 nm

5. Pengelompokan Fraksi
a. Ditandai noda yang terbentuk berwarna terang pada lempeng
preparatif dengan menggunakan pensil
b. Disemprot

dengan

pereaksi

DPPH

agar

antioksidannya.
c. Dikeruk noda yang dihasilkan pada lempeng

melihat

aktivitas

d. Pita-pita yang telah dikeruk dimasukkan dalam vial lalu diberi label

BAB IV

HASIL & PEMBAHASAN


A. Hasil Praktikum
No
1

Pita
Fraksi 2

(Pita 1)
Fraksi 3

Rf
0,81 cm

Keterangan
Aktif sebagai

0,77 cm

antioksidan
Aktif sebagai

(Pita 2)
Keterangan:
Tumbuhan/sampel
Fase diam
Fase gerak
Ukuran Lempeng

antioksidan

: kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla)


: silika gel
: n-kloroform:methanol (8:2)
: 2020 cm
B. Pembahasan

Kromatografi Lapis Tipis Preparatif bekerja dengan prinsip absorbsi


dan parisi dengan menggunakan fase diam Lempeng dan fase geraknya
yaitu eluen.
KLT Preparatif dapat digunakan untuk memisahkan bahan dalam
jumlah gram, namun sebagian besar pemakaian hanya dalam jumlah
milligram. Seperti halnya KLT secara umum KLT Preparatif juga melibatkan
fase diam dan fase gerak.
Prinsip dari kromatografi Lapis Tipis Preparatif yaitu adsorpsi dan
partisi, adsorpsi yaitu penyerapan pada permukaan oleh adanya fase
diam (silica) sedangkan partisi yaitu pemisahan oleh adanya fase gerak
(eluen).
Keuntungan KLTP adalah salah satu metode pemisahan yang
memerlukan pembiayaan paling murah

dan memakai peralatan paling

dasar. Kerugian KLTP adalah pengambilan senyawa dari plat yang


dilanjutkan dengan pengekstraksian penjerap memerlukan waktu lama
dan jika senyawa beracun harus dikerok dari plat akan menimbulkan
banyak masalah serius. Serta adanya zat pencemar dan sisa dari plat
sendiri setelah pengsekstraksian pita yang mengandung senyawa yang
dipisahkan dengan pelarut.
Sampel yang digunakan dalam praktikum ini adalah ekstrak kulit
pisang ambon Kulit pisang ambon (Musa acuminata Colla) Menurut Atun
et al., 2007 menyebutkan bahwa kulit buah pisang ambon (Musa
acuminata Colla) kaya akan senyawa flavonoid, maupun senyawa fenolik
yang lainnya, disamping banyak mengandung karbohidrat, mineral seperti
kalium dan natrium, serta selulosa. Hasil penapisan fitokimia ekstrak
menunjukkan hasil positif untuk senyawa tannin, kuinon, flavonoid dan
polifenolat (Fitrianingsih et al., 2012). Menurut Kanazawa dan Sakakibara
(2000) jenis flavonoid yang teridentifikasi adalah narigenin dan rutin, serta
menurut Someya (2002), terdapat katekin, galokatekin dan epikatekin.
Dimana Pisang ambon merupakan buah yang banyak dikonsumsi oleh
masyarakat karena mengandung senyawa yang disebut asam lemak
rantai pendek, yang memelihara lapisan sel jaringan dari usus kecil dan
meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi. Menurut
penelitian yang telah dilakukan buah pisang ambon matang sangat efektif
dalam mengurangi keparahan klinis dari penyakit diare dan banyak

mengandung vitamin, mineral, protein dan karbohidrat yang baik untuk


dikonsumsi tubuh (Amrullah dan Elly, 1985).
Dalam fitokimia dilakukan suatu proses isolasi dari suatu komponen
kimia dari tumbuhan dan biota laut yang banyak digunakan dalam
pengobatan

tradisional

yang

berkembang

menjadi

obat

modern.

Menggunakan cara yang bervariasi tergantung dari sifat fisika dan kimia
komponen tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan proses pemurnian
dengan kristalisasi dengan tujuan mendapatkan senyawa kimia yang
penampakannya bagus dan kelihatan lebih banyak. Metode fitokimia
sangat penting artinya dalam bidang farmasi sebagai salah satu cara
meneliti senyawa aktif yang terdapat dalam tumbuhan.
Pada KLT preparatif, cuplikan yang akan dipisahkan ditotolkan
berupa garis pada salah satu sisi plat lapisan besar dan dikembangkan
secara tegak lurus pada garis cuplikan sehingga campuran akan terpisah
menjadi beberapa pita. Pita ditampakkan dengan cara yang tidak merusak
jika senyawa itu tahan warna, dan penjerap yang mengandung pita
dikerok dari plat kaca. Kemudian cuplikan dielusi dari penjerap dengan
pelarut polar. Dilakukan pengujian dengan metode kromatografi lapis tipis
preparatif berguna untuk memisahkan campuran reaksi sehingga
diperoleh senyawa murni untuk pendahuluan, untuk menyiapkan cuplikan
analisis, untuk meneliti bahan alam yang lazimnya berjumlah kecil dan
campurannya rumit, dan untuk memperoleh cuplikan yang murni untuk
mengkalibrasi KLT kuantitatif.

Dalam praktikum ini prosedur yang digunakan yaitu kromatografi


lapis tipis preparatif. Dimana pada praktikum sebelumnya diperoleh bahwa
terdapat fraksi aktif sebagai antioksidan, sehingga untuk mendapatkan
isolat yang aktif sebagai antioksidan perlu dilakukan oercobaan KLTP.
Lalu fraksi ditotol pada lempeng KLT dengan penotolan seperti pita,
setelah itu lempeng di elusi dengan eluen di dalam chamber, setelah
nodanya naik dilakukan pengamatan dibawah uv 254 nm dan 366 nm
karena pada uv 254 nm senyawa organik yang dapat berflouresensi,
sedangkan untuk UV 366 nm berwarna gelap (ungu) itu menandakan
yang berfluoresensi adalah lempeng KLT yang mengandung indikator.
Kemudian noda yng nampak dikeruk dan dimasukkan ke dalam botol
sentrifug kemudian disentrifugasi menit dengan kecepatan 800 rpm.
Dilakukan sentrifuge berguna untuk memisahkan isolat menjadi dua fase.
Setelah terbentuk endapan haslilnya disaring dan dimasukkan ke dalam
vial.
Pada praktikum yang dilakukan diperoleh dua pita yang nampak
dimana aktif sebagai antioksidan dengan Rf 1 adalah 0,81 cm dan Rf2
adalah 0,77 cm.

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan
diperoleh dua pita yang nampak yang aktif sebagai antioksidan dengan
nilai Rf1 adalah 0,81 cm dan Rf2 adalah 0,77 cm.
B. Saran
Sebaiknya praktikum dapat dilakukan dengan metode berbeda agar
lebih banyak lagi di tahu cara mengekstraksi dengan metode-motode lain.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. Penuntun dan Buku Kerja Fitokimia II. Universitas Muslim
Indonesia; Makassar.
Bamidele,O, Akinnuga, AM, Anyakudo, MMC, Ojo, OA, Olorunfemi, JO &
Dalimartha., Setiawan. 2009. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 6.
Jakarta: Pustaka Bunda.
Gritter J.R, dkk., 1991., Pengantar Kromatografi., Penerbit ITB, Bandung.
Halawane, J. E., N. Hanif.,dan J. Kinho. 2011.Masa Depan.Buku.Balai
Penelitian Kehutanan Manado :Manado.
Hendayana, Sumar, dkk. 1994. KIMIA ANALITIK INSTRUMENTASI IKIP
Semarang Press: Semarang.
Integrated Taxonomic Information System, 2015 (online). Diakses tanggal
3
Mei
2015
(http://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?
search_topic=TSN&search_value=36481)
J. B. Harbone. 1987. Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern
Menganalisis Tumbuhan. Penerbit ITB. Bandung.
Kamboj, A &Saluja, AK 2011, Isolation of Stigmasterol and -sitosterol
from Petroleum Ether Extract of Aerial Parts of Ageratum conyzoides
(Asteraceae), Int J Pharm Pharm Sci, vol.3, no. 1,p.94. Kartesz, JT
2012,
Khopkar., S.M., 2008, Dasar-dasar Kimia Analitik, Jakarta, Erlangga.
Ndip, RN, Ajonglefac, AN, Wirna, T, Luma, HN, Wirmum, C &
Efange,SMN2009, In-Vitro Antimicrobial Activity of Ageratum
conyzoides (Linn) on Clinical Isolates of Helicobacter pylori, Afr J
Pharm Pharmacol, vol. 3, no. 11, pp. 586, 590.
Prasad, KB 2011, Evaluation of Wound Healing Activity of Leaves of
Ageratum Conyzoides, Int J of Pharm Pract Drug Res, vol. 1, no. 1 ,
pp.8, 9, 12.
Rohman, Abdul. 2009. Kromatografi untuk Analisis Obat. Graha Ilmu :
Jakarta.
Sachin, J, Neetesh, J, Tiwari, A, Balekar, N & Jain, DK2009,Sample
Evaluation of Wound Healing Activity of Polyherbal Formulation of
Roots of Ageratum conyzoides Linn, Asian J Res Chem, vol. 2,no. 2,
p. 137.
Sastrohamidjojo., 1985, Kromatografi, Penerbit Liberty, Yogyakarta.
Stahl, Egon. 1991. Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi.
Penerbit ITB: Bandung.

Lampiran 1. Skema kerja Isolasi Fraksi yang aktif sebagai


antioksidan pada ekstrak kulit pisang ambon (Musa
acuminata Colla)
Disiapkan Alat dan bahan

Dipilih fraksi yang aktif dari KKK dan KCV

Ditotolkan dengan pipa kapiler fraksi yang aktif pada lempeng KLTP
20 x 20 secara garis lurus.

Dielusi didalam chamber KLTP dengan eluen n-heksan:etil asetat 9:1


Diamati dibawah sinar UV 254 dan 366 nm
Disemprotkan dengan DPPH
Dikeruk noda atau pita yang aktif dari silika gel.
Ditampung di dalam vial.

Lampiran 2. Gambar Tanaman Isolasi Fraksi yang aktif sebagai


antioksidan pada ekstrak kulit pisang ambon (Musa
acuminata Colla)

Lampiran 3. Gambar praktikum Isolasi Fraksi yang aktif sebagai


antioksidan pada ekstrak kulit pisang ambon (Musa
acuminata Colla)berdasarkan pola kromatogram

Gambar 1. Setelah penyemprotan DPPH

Gambar 2. Dibawah UV 254 nm

Gambar 3. Dibawah UV 366 nm