Anda di halaman 1dari 3

Nama : Satriya Rizkiyanto

NIM : I0411038
MIRANDA GOELTOM

Miranda Swaray Goeltom (lahir di Jakarta, 19 Juni 1949, umur 64 tahun) adalah deputi senior
gubernur Bank Indonesia dan guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sebelumnya dia menjabat sebagai deputi gubernur BI.
Dia juga ikut dalam pemilihan gubernur BI pada tahun 2003 namun dikalahkan Burhanuddin
Abdullah dan akhirnya harus puas dengan posisi deputi senior. Setelah Boediono maju dalam
pencalonan wakil presiden bersama Susilo Bambang Yudhoyono, ia mengambil alih posisi
sebagai Pejabat Pelakasana Tugas Harian Gubernur Bank Indonesia.
Pada 26 Januari 2012, mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S. Goeltom
resmi jadi tersangka cek pelawat, Miranda sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka kasus
cek pelawat DGS BI. Keputusan ini diambil dalam gelar perkara yang digelar pada 25 Januari
2012. Ia dijerat dengan pasal 5 ayat 1 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan
pasal UU No 20 tahun 2011 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dengan ancaman
maksimal dalam pasal itu 5 tahun penjara.
Miranda diduga ikut serta atau membantu Nunun Nurbaeti memberi suap ke sejumah anggota
DPR 1999-2004. Nunun sendiri telah divonis dua tahun enam bulan karena dianggap terbukti
menjadi pemberi suap. Kasus ini juga menyeret lebih dari 20 anggota DPR dari Fraksi PDI
Perjuangan, Fraksi Golkar, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, dan Fraksi TNI/Polri
dijebloskan ke penjara karena terbukti menerima suap saat memilih DGS BI tahun 2004 yang
dimenangi Miranda.
Sebenarnya banyak kalangan meyakini kasus ini tak hanya melibatkan Miranda Gultom dan
Nunun Nurbaeti, sebab ditengari ada penyandang dana di balik kedua orang ini. Sayangnya,
dalam proses sidang Nunun dugaan adanya penyandang dana ini tak kunjung terungkap. Yang
terungkap dalam persidangan Nunun adalah asal usul cek pelawat yang menjadi sarana
penyuapan sejumlah anggota DPR itu.

Cek perjalanan itu suap diterbitkan Bank Internasional Indonesia (BII) atas permintaan Bank
Artha Graha. Cek tersebut dipesan nasabah Bank Artha Graha, PT First Mujur Plantation and
Industry (FMPI), sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit ini memiliki revolving loan di
Bank Artha Graha.
Kronologi keterkaitan antara pemberian cek pelawat dengan upaya pemenangan Miranda
Goeltom itu sebagai berikut:
Mei 2004
Di hari lain di ruang fraksi PDIP di lantai 6 gedung Nusantara I, DPR, digelar pertemuan
kembali. Tjahjo kembali mememberi arahan agar anggota PDIP menjalankan keputusan
partai dengan memilih Miranda sebagai DGS BI. Pada saat itu, Panda Nababan ditunjuk
sebagai koordinator pemenangan.
29 Mei 2004
Digelar pertemuan di Club Bimasena. Hadir Miranda, Tjahjo Kumolo, Panda Nababan dan
para anggota Komisi IX dari PDIP. Pada saat itu, Miranda menyampaikan visi dan misinya.
Setelah itu, Tjahjo kembali menekankan agar anggota Komisi IX PDIP memilih Miranda
sebagai keputusan partai.
8 Juni 2004
Dalam voting di ruang Komisi IX DPR di gedung Nusantara I, Miranda Goeltom akhirnya
terpilih sebagai DGS BI. Tak lama kemudian, Dudhie ditelepon Panda Nababan untuk
menemui seseorang di Restoran Bebek Bali untuk menerima titipan dari Nunun Nurbaiti
berupa sebuah travellers cheque (TC) BII senilai Rp 9,8 miliar. Nunun Nurbaiti merupakan
istri Adang Daradjatun, mantan Wakapolri yang saat ini menjadi anggota DPR dari Fraksi
PKS.
Atas permintaan Panda, Dudhie mendatangi Restoran Bebek Bali dan menemui seseorang
yang bernama Ahmad Hakim Safari MJ alias Arie Malangjudo. Oleh Arie, Dudhie diberi TC
yang disimpan dalam amplop cokelat yang diberi label warna merah. Siapa Arie Malangjudo,
masih misterius.
Terdakwa kemudian memberitahukan kepada Panda Nababan. Dan oleh Panda Nababan
disarankan untuk dibagi-bagi ke anggota komisi IX dari PDIP. Dudhie kemudian mendapat
10 lembar TC senilai Rp 500 juta. Sisanya, diserahkan ke Panda Nababan, Emir Moeis, dan
Sukardjo Harjosuwiryo, dan anggota FPDIP lainnya.
KPK akhirnya menahan 19 tersangka kasus dugaan suap pemilihan mantan DGS BI Miranda
S Goeltom. Mereka dikirim ke sejumlah lokasi penahanan yakni LP Cipinang, Rutan
Salemba, Rutan Pondok Bambu, dan Polda Metro Jaya. Berdasarkan hasil penyidikan,
ditemukan bahwa para tersangka diduga menerima suap terkait pemilihan Deputi Gubernur
Senior Bank Indonesia dalam bentuk Travellers Cheque, kata juru bicara KPK, Johan Budi
di KPK, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Jumat (28/1/2011).
Berikut nama para anggota FPDIP yang mendapat TC:
1. Dudhie Makmun Murod
Rp 500 juta
2. Williem M Tutuarima
Rp 600 juta
3. Susanto Pranoto
Rp 500 juta
4. Agus Condro Prayitno
Rp 500 juta
5. Muh. Iqbal
Rp 500 juta

6. Budiningsih
7. Poltak Sitorus
8. Aberson M Sihaloho
9. Rusman Lumban Toruan
10. Max Moein
11. Jeffrey Tongas Lumban Batu
12. Matheos Pormes
13. Engelina A Pattiasina
14. Suratal HW
15. Ni Luh Mariani Tirtasari
16. Soewarno
17. Panda Nababan
18. Sukardjo Hardjosoewirjo
19. Izedrik Emir Moeis

Rp 500 juta
Rp 500 juta
Rp 500 juta
Rp 500 juta
Rp 500 juta
Rp 500 juta
Rp 350 juta
Rp 500 juta
Rp 500 juta
Rp 500 juta
Rp 500 juta
Rp 1,45 miliar
Rp 200 juta
Rp 200 juta (detik.com)

Dari 26 mantan anggota Komisi IX yang menjadi tersangka, sebanyak lima orang belum
ditahan. Mereka yang merupakan Kader Golkar adalah Boby Suhardiman, dan Hengky
Baramuli. Sedangkan, kader PDIP yang belum ditahan adalah Williem Tutuarima,
Budiningsih, Rusman Lumban Toruan. Dua orang lainnya tidak termasuk dalam penahanan
karena berbagai alasan. Antony Zeidra Abidin, dari Partai Golkar, kini tengah menjalani
hukuman penjara lima tahun karena kasus aliran dana Bank Indonesia. Sedangkan Jeffrey
Tongas Lumban, dari PDIP, sudah meninggal dunia.
Tanggapan Kasus Miranda Goeltom
Melihat kasus tersebut bisa dikatakan bahwa seorang yang punya jabatan, punya harta,
seorang yang berpendidikan tinggi, seorang profesor yang telah mengabdi kepada negaranya
selama lebih dari 40 tahun saja bisa terpikirkan untuk melakukan tindak pidana korupsi, lalu
apalagi para pejabat-pejabat baru yang telah mengeluarkan dana demi mendapatkan atau
menduduki kursi jabatan tersebut. Pasti lebih mudah tergiur untuk melakukan tindak pidana
korupsi untuk mencukupi kebutuhannya dan selagi mereka masih menjabat sebagai pejabat.
Untuk itu, tentunya kita sebagai rakyat harus lebih kritis dalam memilih wakil-wakil rakyat
dan calon-calon pejabat, selain itu pihak-pihak pemerintah sendiri harus secara rutin
melakukan inspeksi terbuka maupun rahasia untuk memantau para pejabat-prjabat negara.
Diharapkan semoga Indonesia bisa menjadi semakin baik dan semakin berkurang tindak
pidana korupsinya.