Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengertian trauma secara umum adalah luka atau jejas baik fisik maupun
psikis. Trauma dengan kata lain disebut injury atau wound, dapat diartikan
sebagai kerusakan atau luka yang biasanya disebabkan oleh tindakan-tindakan
fisik dengan terputusnya kontinuitas normal suatu struktur. Trauma juga diartikan
sebagai suatu kejadian tidak terduga atau suatu penyebab sakit, karena kontak
yang keras dengan suatu benda. Definisi lain menyebutkan bahwa trauma gigi
adalah kerusakan yang mengenai jaringan keras gigi dan atau periodontal karena
sebab mekanis.
Berbagai macam kondisi yang mengakibatkan terjadinya trauma pada gigi
anterior adalah kecelakaan lalu lintas yang dewasa ini banyak terjadi di jalan raya,
kecelakaan saat berolahraga, saat bermain, tindakan kriminalitas, child abuse,
dalam lingkungan rumah tangga (terkena pompa air, jatuh dari tangga, dan
lainlain), dalam lingkungan pekerjaan, perkelahian, dan bencana alam. Selain
faktor-faktor di atas ada beberapa faktor predisposisi terjadinya trauma gigi
anterior yaitu posisi dan keadaan gigi tertentu misalnya kelainan dentofasial
seperti maloklusi kelas I tipe 2, kelas II divisi 1 atau yang mengalami overjet lebih
dari 3 mm, keadaan yang memperlemah gigi seperti hipoplasia email, kelompok
anak penderita cerebral palsy, dan anak dengan kebiasaan mengisap ibu jari yang
menyebabkan gigi anterior protrusive.
Survey klinis menunjukkan bahwa trauma pada gigi adalah masalah yang
umum terjadi pada anak dan orang dewasa. Avulsi merupakan kondisi lepasnya
gigi dari soket alveolar akibat adanya cedera gigi. Kasus avulsi gigi ditemukan
pada 0,5-5% dari jejas trauma pada gigi permanen. 1 Perawatan ideal gigi avulsi
adalah penanaman kembali gigi ke dalam soket gigi segera setelah terjadi cedera.
Oleh karena itu, menjaga vitalitas sel ligamen periodontal yang terletak di

permukaan akar gigi merupakan hal yang penting, sampai perawatan dapat
dilakukan.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan avulsi dan intrusi?
b. Apakah perawatan yang dilakukan untuk gigi yang avulsi dan intrusi?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Menjelaskan yang dimaksud dengan avulse dan intrusi
b. Menjelaskan perawatan yang dilakukan untuk gigi avulse dan intrusi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Avulsi
2.1.1 Pengertian Avulsi
Avulsi didefinisikan sebagai keluarnya seluruh gigi dari soket akibat
trauma. Secara klinik dan foto ronsen, gigi tidak ada di dalam soket
(Dalimunte,2003). Gutmann dan Gutmann (1995) memaparkan penyebab gigi
avulsi adalah: (1) kecelakaan lalu lintas; (2) perkelahian; (3) jatuh; (4) kecelakaan
olahraga; (5) kerusakan jaringan periodontal; dan (6) penyakit sistemik, seperti
diabetes mellitus
Avulsi (avulsion) adalah kondisi ketika otot terentang kuat melampaui
kebebasan kemampuan jangkauan gerak, atau ketika bertemu dengan
resistensi tiba-tiba/mendadak ketika melakukan kontraksi kuat.

Avulsi

merupakan keadaan trauma gigi ketika gigi terlepas dari tempatnya


(soketnya) secara utuh dan menghasilkan luka kompleks, serta
mempengaruhi beberapa jaringan pendukung gigi. Aktivitas di luar
rumah

seperti

melakukan

olahraga,

bermain

sepeda,

serta

kecelakaan kendaraan merupakan penyebab utama terjadinya


trauma gigi. Avulsi merupakan cedera trauma gigi yang paling
sering terjadi. Studi literatur dari tahun 1995-2007 menunjukan
prevalensi trauma gigi susu dan permanen yang tinggi di seluruh
dunia.

Berdasarkan data statistik National Center for Health, setiap tahunnya


didapati sebanyak 5 juta kasus avulsi gigi di Amerika, pada anak umumnya
disebabkan kecelakaan akibat terjatuh atau benturan pada kepala terutama pada

bagian mulut saat olah raga. Pemakaian mouthguards, yaitu peralatan plastik yang
dapat melindungi gigi pada permainan sepak bola cukup efektif karena dapat
mencegah kurang lebih 200.000 cedera pada mulut setiap tahunnya.
Keparahan trauma pada gigi geligi tersebut dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa bagian, salah satu diantaranya adalah lepasnya seluruh bagian gigi dari
soket atau yang biasa disebut dengan avulsi. Untuk menanganinya, dokter gigi
perlu melakukan suatu tindakan untuk mengembalikan gigi ke dalam soketnya
semula, tindakan ini disebut replantasi gigi. Golden periode untuk melakukan
replantasi gigi adalah 2 jam setelah gigi tersebut terlepas. Apabila gigi direplantasi
lebih dari 2 jam, kemungkinan gigi akan menjadi non vital sehingga gigi tersebut
perlu mendapat perawatan endodontik setelah difiksasi. Bila gigi avulsi tidak
segera dirawat, maka dapat menimbulkan dampak negatif, yaitu gangguan fungsi,
estetis, dan psikolog.
2.1.2 Pemeriksaan
Pemeriksaan yang teliti penting untuk mendapatkan hasil perawatan yang
akurat sehingga perawatan dapat dilakukan dengan tepat. Pemeriksaan meliputi
anamnesa untuk mengetahui riwayat medis dan riwayat kesehatan gigi, serta
pemeriksaan klinis untuk mengetahui keadaan ekstra oral, intra oral dan roentgen.
a. Pemeriksaan Ekstra Oral
Pemeriksaan leher dan kepala merupakan pemeriksaan awal yang
bermanfaat untuk mencatat lokasi dan panjang luka-luka pada wajah dan
kemungkinan adanya kontaminasi pada luka. Selanjutnya dilakukan
palpasi terhadap mandibula, zigoma, TMJ, dan daerah mastoidea. Fraktur
mandibula dapat diketahui dengan palpasi pada daerah pinggir mandibula
untuk suatu fraktur step down. Terbatasnya pergerakan rahang bawah pada
pembukaan atau penutupan mulut merupakan tanda-tanda terjadinya
fraktur rahang. Biasanya terjadi perubahan gigitan, ketidak simetrisan
wajah, pergerakan rahang yang abnormal dan sakit, pembengkakan,
numbness (rasa baal). Pemeriksaan selanjutnya untuk menentukan apakah
4

bibir mengalami laserasi, memar atau pembengkakan. Serta apakah


terdapat benda asing seperti serpihan pasir ataupun gigi yang patah.
b. Pemeriksaan Intra Oral
Seluruh jaringan lunak mulut yaitu mukosa labial, palatal dan
gingiva harus diperiksa. Benda asing yang terdapat pada mukosa seperti
gumpalan darah, kotoran yang masih menempel, fragmen gigi dan tanah
harus dibersihkan dengan menggunakan H2O2 3%, larutan salin atau air
hangat. Daerah alveolus dipalpasi untuk mendeteksi apakah terdapat
fraktur terutama pada daerah gigi yang avulsi. Ini penting untuk diketahui
sebab regenerasi tulang tidak akan bisa memberikan dukungan yang kuat
apabila replantasi dilakukan pada alveolus yang sudah hancur. Semua gigi
yang ada harus diperiksa apakah terdapat fraktur, karies atau dislokasi.
c. Pemeriksaan Roentgen
Pemeriksaan roentgen merupakan bagian pemeriksaan yang
penting dalam menilai suatu kasus, digunakan untuk mendeteksi kondisi
daerah kosong dari gigi avulsi, fraktur akar, fraktur rahang, derajat
pergeseran akar gigi tetangga dan mengetahui apakah terdapat benda
asing pada jaringan lunak mulut. Pemeriksaan roentgen dapat dilakukan
dengan pengambilan foto panoramik, periapikal, bite wing atau
oklusal.Jika dicurigai adanya fraktur rahang, diperlukan radiograf yang
lain, misal: lateral oblik, lateral skull, dan antero posterior skull.
2.1.3 Media Penyimpanan
Perhatian utama pada perawatan awal gigi avulsi adalah untuk
mempertahankan vitalitas jaringan ligamen periodontal pada permukaan akar.
Semakin lama gigi berada di luar mulut, semakin kecil kemungkinan sel-sel
jaringan ligamen periodontal untuk dapat bertahan hidup. Hal ini terjadi karena
gigi tersebut menjadi kering sehingga banyak sel-sel ligamen periodontal yang
mati. Media penyimpanan merupakan media tempat gigi yang avulsi disimpan,
bila perawatan replantasi gigi tidak dapat dilakukan segera setelah cedera.Tujuan

penempatan gigi avulsi pada media penyimpanan ini dapat memelihara ligamen
periodontal pada waktu terbatas sebelum dilakukan replantasi gigi. Ada beberapa
jenis media penyimpanan gigi avulse :
a. Hanks Balanced Salt Solution
Hanks Balanced Salt Solution (HBSS) merupakan larutan salin standar,
yang biasanya digunakan dalam penelitian biomedis untuk mendukung
pertumbuhan berbagai sel. HBSS bersifat biocompatible dengan sel-sel
ligamen periodontal karena mempunyai osmolalitas yang ideal yaitu 270
sampai 320 mOsm, pH yang seimbang. HBSS mengandung berbagai
nutrien yang penting, seperti kalsium, fosfat, kalium dan glukosa yang
diperlukan untuk mempertahankan metabolisme sel yang normal untuk
waktu yang lama. Penelitian telah membuktikan bahwa media
penyimpanan yang terbaik untuk gigi yang avulsi adalah media kultur sel
seperti HBSS karena dapat menjaga sel-sel ligamen periodontal tetap
hidup selama 24 jam dibandingkan dengan saliva dan susu. Namun, HBSS
hanya dapat diperoleh di apotik, toko-toko obat dan farmasi, biasanya
tersedia dengan nama dagang yang disebut Save-a-Tooth Larutan ini
tidak membutuhkan pendinginan dan tersedia dalam sebuah wadah yang
steril.
b. Saliva
Saliva dapat digunakan sebagai media penyimpanan karena
mempunyai suhu yang sama dengan suhu kamar. Beberapa penelitian
mendukung pengunaan saliva sebagai media menyimpanan sampai 30
menit pertama dari waktu cedera. Penyimpanan gigi avulsi pada saliva
lebih dari 30 menit dapat menimbulkan masalah karena saliva secara
alamiah mengandung mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi
berat pada akar gigi. Infeksi dapat menyebabkan kematian sel-sel liagamen
periodontal.9 Penelitian lainnya kemampuan sel-sel ligamen periodontal
untuk berikatan, mengadakan proliferasi dan kolonisasi kembali dengan
permukaan akar (kapasitas klonogenik 7,6%) selama 30 menit berada

dalam saliva. Setelah 30 menit kapasitas fungsional ligamen periodontal


akan menurun dengan cepat.
Beberapa penelitian telah menganjurkan bahwa menyimpan gigi
dalam mulut pasien (saliva) adalah baik bagi kelangsungan hidup ligamen
periodontal.9 Gigi dapat ditahan pada vestibulum bukal atau dibawah
lidah.12 Namun, penyimpanan gigi dalam mulut dapat menimbulkan
masalah bagi anak, seperti tertelannya gigi, terhirup atau kemungkinan
anak mengunyah giginya.11 Untuk menghindari keadaan tersebut, saliva
(bersama dengan darah yang mungkin juga ada di dalamnya) dikumpulkan
di dalam sebuah wadah kecil sehingga gigi dapat dimasukkan ke
dalamnya.
c. Susu
Penelitian laboratorium pada tahun 2005 menunjukan bahwa susu
merupakan suatu media optimal untuk menyimpan gigi avulsi.14 Hal ini
didukung kuat oleh suatu penelitian terhadap transport organ dan sel yang
disimpan di dalam susu dengan temperature 39 oF. Keuntungan lain adalah
susu mudah didapat sehingga gigi dapat segera ditempatkan di media susu.
Tekanan osmolalitas gigi dapat mempertahanan vitalitas sel ligamen
periodontal dibandingkan saliva, saline dan air.
Susu mempunyai kemampuan mendukung kapasitas klonogenik sel-sel
ligamen periodontal pada suhu ruang sampai 60 menit. Pada temperature
yang lebih

rendah, susu dapat

mengurangi

pembengkakan sel,

meningkatkan viabilitas sel dan perbaikan penyembuhan sel. Hal ini


didukung

oleh

penelitian

fisiologi

sel

yang

menunjukkan

efek

perlindungan susu terhadap sel-sel ligamen periodontal yang disimpan di


media penyimpanan pada temperature rendah. Kemampuan susu
temperatur rendah untuk mendukung klonogenik sel ligamen periodontal
pada gigi avulsi lebih lama 45 menit dibandingkan dengan media
penyimapan susu pada temperatur ruang yang melindungi viabilitas sel
selama 60 menit.
d. Saline Fisiologis

Saline fisiologis merupakan larutan yang mengandung 0.9% NaCl yang


dapat digunakan sebagai media penyimpanan gigi avulsi. Penelitian
menunjukkan saline fisiologis lebih baik digunakan sebagai media
penyimpanan daripada air atau saliva, apabila gigi harus disimpan untuk
waktu lebih dari 30 menit sebelum replantasi.4 Penyimpanan pada saline
fisiologis tidak menyebabkan pembengkakan struktur sel. Namun
kebutuhan metabolit dan glukosa untuk mempertahankan metabolisme sel
yang normal tidak dapat terpenuhi oleh saline. Pengunaan larutan saline
sebagai media penyimpanan gigi avulsi tidak direkomendasikan apabila
gigi harus disimpan selama lebih dari satu atau dua jam.8 Hal ini
disebabkan karena kebutuhan sel untuk mempertahankan metabolisme
tidak terpenuhi.
e. Air Kelapa (Cocos nucifera)
Air kelapa (Cocos nucifera), pada umumnya dikenal sebagai "Tree of
Life", adalah minuman alami yang dihasilkan secara biologis dan dikemas
kedap udara di dalam buah kelapa. Komposisi elektrolit dari air kelapa
menyerupai cairan intraseluler yang lebih erat dari plasma ekstraseluler.
Zat-zat utama yang terkandung dalam air kelapa antara lain kalium,
kalsium, dan magnesium. Sedangkan natrium, klorida, dan fosfat,
ditemukan dalam jumlah konsentrasi yang lebih rendah. Air kelapa
merupakan cairan hipotonik dibandingkan plasma, dan memiliki gravitasi
spesifik sekitar 1,020, sebanding dengan plasma darah.5 Air kelapa
memiliki osmolaritas tinggi karena adanya kandungan gula didalamnya,
terutama glukosa dan fruktosa, juga kaya akan banyak asam amino
esensial antara lain lisin, sistin, fenilalanin, histidin, dan tryptophan.5 Air
kelapa mudah diterima oleh tubuh manusia dan merupakan sarana yang
aman untuk rehidrasi terutama pada pasien yang menderita defisiensi
kalium.6 Air kelapa telah terbukti memiliki efektivitas yang sebanding
dengan cairan elektrolit komersial dalam memperpanjang waktu bertahan
pada pasien sakit.5 Air kelapa juga unggul dalam melakukan pemeliharaan
untuk kelangsungan hidup sel-sel ligamen periodontal karena adanya

berbagai nutrisi di dalamnya seperti protein, asam amino, vitamin, dan


mineral
2.1.4 Penatalaksanaan Avulsi
Sebelum perawatan dilakukan, anak dan orang tua perlu diredakan
emosinya terlebih dahulu. Karena setelah trauma terjadi, anak pasti akan merasa
takut

dan

cemas,

terutama

bila

dokter

gigi

langsung

memberikan

perawatan. Pasien yang mengalami cedera, harus benar-benar diperhatikan


bagaimana kondisi saluran pernapasannya. Dasar dari usaha mempertahankan
jalan napas adalah mengontrol perdarahan dari mulut atau hidung dan
membersihkan orofaring. Untuk anak yang tidak memiliki kelainan pada
pembekuan darah, perdarahan pada daerah yang avulsi biasanya tidak berakibat
fatal, melakukan penekanan baik secara langsung dengan jari maupun tidak
langsung menggunakan kasa atau tampon.
Kasus lepasnya gigi dari soket alveolar akibat trauma injuri harus
mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat, dengan tetap memperhatikan
kondisi fisik anak.Pada kasus avulsi yang disebabkan oleh cedera kemungkinan
terdapat komplikasi seperti laserasi pada jaringan lunak labial, bukal, palatum,
lidah. Pencegahan terhadap tetanus harus dilakukan dengan membersihkan luka
dengan seksama, penyingkiran benda-benda asing dan pemberian tetanus toxoid
antitoxin.
Dianjurkan untuk tidak memegang gigi avulsi pada bagian akarnya, karena
dapat merusak serat-serat ligamen periodontal, tetapi memegang gigi pada bagian
mahkota. Pembersihan gigi dilakukan hanya jika terdapat kotoran pada gigi,
namun tidak boleh mengikis atau menggosok gigi.
Penatalaksanaan gigi avulsi harus dilakukan dalam waktu seminimum
mungkin untuk menjaga ligamen periodontal karena bila ligamen periodontal
masih baik, derajat dan ketepatan waktu resorpsi akar akan terjaga dan
kemungkinan terjadinya ankilosis akan berkurang. Resorpsi akar hampir tidak

terhindarkan apabila melebihi 2 jam, waktu maksimal dilakukan replantasi adalah


48 jam setelah gigi berada diluar soket.
Setelah replantasi perlu juga dilakukan splinting untuk menjaga stabilitas
gigi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan ligamen periodontal untuk regenerasi.
Kemudian dilakukan kontrol yang tepat agar hasil perawatan dapat diperoleh
dengan baik.
a. Replantasi
Berdasarkan penelitian Andreasen dkk, menjelaskan bahwa waktu
keberadaan gigi ekstra alveolar berhubungan dengan prediksi prognosis
gigi. Durasi ekstra alveolar melebihi 5 menit dapat menurunkan
kemungkinan regenerasi ligamen periodontal jika dilihat dari gambaran
roentgen foto. Hasil ini mendukung penelitian Andreasen dan Bodin yang
menyatakan bahwa, resorpsi akar tidak akan terjadi apabila replantasi
dilakukan dalam waktu kurang dari 10 menit gigi avulsi, tapi resorpsi akar
kemungkinan terjadi 50% pada replantasi gigi 10-15 menit pasca avulsi
sehingga jelaslah bahwa replantasi yang segera akan mempengaruhi hasil
perawatan.
Sebelum mendapatkan tindakan perawatan pasien diinstruksikan
untuk menyimpan gigi dalam media alumunium foil atau perintahkan anak
untuk menggenggam dengan hati-hati gigi dalam sapu tangan ataupun kain
bersih dan segera ke dokter gigi. Gigi dapat juga disimpan dalam media
penyimpanan untuk menghindari dehidrasi ligamen periodontal dan
kematian pulpa.
Syarat replantasi adalah sebagai berikut:

Replantasi harus dilakukan dalam waktu seminimum mungkin

yaitu kurang dari 30 menit setelah avulsi.


Gigi harus dalam keadaan bersih, apabila gigi terlalu kotor akan

mengakibatkan infeksi akibat kuman yang terbawa oleh gigi.


Tidak terdapat karies yang luas

10

Tulang alveolar tidak hancur agar dapat menopang gigi yang akan

direplantasi.
Ligamen periodontal tidak tergores.

Prosedur replantasi adalah sebagai berikut:

Gigi dipegang pada bagian mahkota dengan kain kasa yang basah
dan tidak boleh dikerok atau digosok. Jika masih ada kotoran yang
tertinggal cukup dengan meletakkan gigi di bawah air mengalir

atau mencelupkan pada rendaman salin


Berikan anastesi lokal pada regio yang akan direplantasi, agar

pasien tidak merasa kesakitan pada saat penanganan.


Soket dibersihkan dengan irigasi salin, H2O2 3 % atau aquadest
yang

disemprotkan

melalui

spuit

secara

hati-hati

untuk

mengeluarkan sisa-sisa kotoran, gumpalan darah beku ataupun

debris yang masih tertinggal, jangan dikuret.


Lakukan replantasi, yaitu gigi dimasukkan perlahan-lahan dengan
tekanan yang ringan. Pastikan gigi berada pada posisi yang benar
dengan berpatokan pada gigi tetangga dan kontak oklusal yang
tepat. Jika terdapat sesuatu yang mengganjal pada soket, gigi
diletakkan kembali ke larutan salin, periksa kembali soket dengan

menggunakan instrumen tumpul dan ulangi kembali replantasi.19


Reposisi kembali gingiva yang tersingkap dan lakukan penjahitan
jika diperlukan, terutama pada daerah servikal yang juga berguna
untuk mengontrol perdarahan.

b. Splinting
Prosedur penting yang dilakukan setelah tahap replantasi adalah
stabilisasi dengan splin. Setelah gigi ditanamkan kembali, gigi masih
mobil dan kemungkinan untuk lepas sangat besar. Pada beberapa kasus,
gigi yang tidak diberikan stabilisasi bisa saja akan tertelan. Splint
merupakan suatu alat yang digunakan untuk mendukung, melindungi dan
menstabilisasi gigi serta memberikan perlekatan pada saat proses

11

regenerasi serat-serat ligamen periodontal. Beberapa bahan yang dapat


dilakukan untuk melakukan splinting, diantaranya adalah dengan Titanium
Trauma Splint (TTS), orthodontic wire splint, wire composit splint,resin
splint, porselen veneers ataupun akrilik splint. Syarat splinting sebagai
stabilisasi kasus gigi avulsi adalah sebagai berikut:
Mempunyai sifat pasif dan tidak menyebabkan terjadinya trauma.
Fleksibel, yaitu tidak mengganggu pergerakan fungsional gigi dan
memungkinkan terjadinya regenerasi ligamen periodontal karena
splint yang rigid dapat memperbesar kemungkinan terjadinya

ankilosis.
Memungkinkan pemeriksaan tes vitalitas dan akses endodontik

pada gigi yang avulse.


Mudah digunakan dan dilepaskan.
Nyaman dan mudah dibersihkan oleh pasien, sehingga oral higiene

tetap terjaga.
Dapat dilakukan sesegera mungkin secara intra oral tanpa

memerlukan prosedur laboratorium.


Harus adekuat, sehingga stabilisasi gigi dapat terjamin selama

perawatan.
Tidak boleh menyebabkan pergeseran terhadap gingival.
Memperhatikan nilai-nilai estetik
Prosedur

splinting

menggunakan

kawat Titanium

Trauma

Splint (TTS) adalah sebagai berikut:

Setelah gigi ditanamkan kembali ke dalam soket, semua


permukaan gigi yang akan displin dibersihkan dari kotoran dan

debris.
Diukur kawat TTS meliputi gigi tetangga yang akan menjadi

penyangga.
Permukaan gigi dietsa sesuai luas kawat yang akan dipasang
Lanjutkan dengan aplikasi bonding dan resin komposit, kawat di
tekan perlahan ke permukaan gigi sampai menyentuh resin
komposit, dilanjutkan dengan polimerisasi

12

Periksa adaptasi dan kesesuaian dengan bibir pasien. Usahakan


resin komposit tidak berlebihan agar tidak mengganggu penutupan

bibir pasien
Lakukan pengambilan roentgen foto untuk memastikan apakah
prosedur replantasi yang dilakukan sudah tepat pada posisi yang

seharusnya
Splint dilepaskan dari permukaan gigi setelah 7-10 hari pensplinan.
Waktu ini sesuai dengan kebutuhan ligamen periodontal untuk
beregenerasi. Pemakaian splint tidak dianjurkan lebih dari 14 hari
karena dapat menyebabkan terjadinya resorpsi dan ankilosis.
Setelah pemasangan splint dilaksanakan, instruksi kepada pasien

adalah sebagai berikut:

Setelah perawatan, aspirin atau asetaminofen dapat diberikan


sebagai analgesik sedangkan untuk pengobatan infeksi perlu

diberikan antibiotik.
Pasien dianjurkan menghindari gigitan pada gigi yang di splin.
Konsumsi makanan yang lunak.
Menjaga oral higiene dengan menyikat gigi atau menggunakan

obat kumur klorheksidin selama pemakaian splint.


Pasien harus menghindari kumur-kumur, meludah, selama 24 jam

setelah replantasi.
Setelah 24 jam pemakaian splint pasien harus berkumur-kumur
dengan air garam hangat tiap dua jam untuk mencegah
pembengkakan pada jaringan di sekitar gigi.

2.2 Intrusi
2.2.1 Pengertian
Luksasi intrusi yaitu, pergeseran sebagian atau berpindah tempatnya gigi
sebagian masuk kedalam soket. Dapat di katakan intrusi bila gigi dipaksa masuk
kedalam soket alveolaris. Pada gigi ang mengalami intrusi, hanya sebagian kecil
mahkota yang telihat atau bahkan tertanam seluruhnya dalam soket karea adanya

13

pembengkakan gingiva, hal tersebut hanya bisa diteksi dengan radiografi. Pada
kasus intrusi, terkadang disertai dengan fraktur soket alveolaris. Gigi yang intrusi
biasanya stabil dan tidak sensitive. Pada radiografi terlihat ruang periradikuler
mengecil bahkan sama sekali hilang.
Pada tipe luksasi baik intrusi maupun ekstrusi, melibatkan lebih banyak
laserasi

jaringan

lunak

yang

parah

disertai

dengan

pendarahan

dan

pembengkakan. Hal itu terjadi karena adanya robekan pada ligamentum


periodonsium mengakibatkan pembengkakan dan pendarahan gingiva. Walaupun
melibatkan jaringan periodonsium, namun kasus ini tidak melibatkan struktur
gigi, artinya struktur gigi tidak mengalami kerusakan hal tersebut terjadi karena
pukulan atau benturan yang menimpa gigi hamper sejajar sumbu panjang gigi dari
pada sudut tegak gigi, sehingga kecil kemungkinan mengalami fraktur. Tetapi
sedera yang terjadi adalah fraktur.
2.2.2 Pemeriksaan
a) Pemeriksaan subjektif
Pemriksaan ini mencakup anamnesa atau Tanya jawab antara dokter gigi
dengan pasien mengenai keluhan apa yang dialami.
b) Pemeriksaan objektif
Pemeriksaan ekstra oral
Pemeriksaan terhadap adanya memar, lasserasi atau luka pada wajah.
Pemeriksaan terhadap adanya pembengkakan pada bibir yang disertai
dengan odema untuk mengidentifikasi adan ya benda asing yang
terpendap dalam bibir. Pemeriksaan ekstra oral juga dilakukan
terhadap tulang wajah dan rahang. Untuk mengetahui kemunkinan
adanya fraktur rahang atau tulang alveolar. Bila gigi berpindah tempat

atau telah terjadi ekstrusi atau intrusi dicurigai adanya fraktur alveolar.
Pemeriksaan intra oral
o Pemeriksaan jaringan lunak dalam rongga mulut
Pemeriksaan yang dilakukan pada mukosa pipi, lidah, palatum,
dasar lidah, gingival harus diperiksa baik secara visual atau
palpasi. Perhatikan apakah ada pembengkakan, pendarahan dan
laserasi gingva.
14

o Pemeriksaan gigi geligi dan jaringan pendukung


Mobility gigi : Palpasi gigi dan alveolus untuk merasakan
apakah gigi goyang. Jika gigi goyang periksa kegoyangan
gigi secara hati-hati. Bila tidak terdapat gigi goyang maka
gigi dalam keadaan normal dan gigi dipaksa masuk

kedalam soket.
Perpindahan tempat : perpindahan tempat ini dapat dilihat
secara langsung, biasanya gigi akan terletak jauh dari
posisi normal dan insisal edge gigi yang mengalami9
perpindahan tempat posisinya tidak sama dengan insisal

edge gigi tetangganya.


Perkusi : perkusi bergnan untuk mengidentifikasi adanya
cidera periradikuler dan liga mentum periodontal. Perkusi
dilakukan dengan cara mengetukkan ujung pegangan kaca
mulut pada gigi dengan arah horizontal dan vertical.
Perkusi harus dilakukan dengan hati-hati karena gigi yang
terkena trauma sangat nyeri sekalipun dengan ketukan
ringan. Selain memeriksa gigi yang di keluhkan periksa
pula gigi disebelahnya dan gigi antagonisnya untuk
mengetahui apakah ada cidera pada gigilain yang tidak
disadari dan mungkin tidak terlihat secara klinis. Cidera
pada

struktur

penyangga

gigi,

yang

melibatkan

ligamentum periodontal akan sensitive terhadap perkusi

meskipun dengan ketukan ringan.


Oklusi : pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat adanya
kontak premature gigi-gigi anterior rahang atas dan rahang

bawah yang merupakan pertanda adanya pergeseran gigi.


Pemeriksaan pulpa : ada dua tes klinis yang patut
dipertimbangkan karena dapat diaplikasikan pada gigi
yang terkena trauma yaitu tes pulpa elektrik dan tes
thermal dengan gutta-percha panas atau khloretil dingin.

15

Tes pulpa elektrik hanya dilakukan jika dokter gigi

menguasai teknik yang akurat dan pasien kooperatif.


Pemeriksaan warna gigi : pada kasus ini gigi yang
melibatkan cidera pulpa dapat mengakibatkan perubahan
warna gigi setelah beberapa hari saja. Warna kemerah
jambuan mengindikasikan pendarahan pulpa, warna abuabu tua mengindikasikan nekrose pulpa, sedangkan warna
kuning sampai coklat mengindikasikan adanya obleritasi

pada kamar pulpa.


Pemeriksaan radiografi
Peranan radiografi sangat dibutuhkan untuikmelengkapi diagnose dan
perencanaan perawatan guna pemeriksaan radiografi pada kasus intrusi
dan ektrusi adalah :
- Menentukan diagnose dan rencana perawatan
- Melihat perluasan dan perkembangan akar gigi
- Melihat ukuran ruang pulpa
- Melihat perpindahan tempat pada gigi
- Melihat fraktur gigi dan tulang
- Melihat ada tidaknya elemen gigi atau benda asing yang terpendam
-

daam jaringan lunak


Sebagai sarana untuk

mengevaluasi

hasil

perawatan

dan

membandingkannya dengan keadaan gigi sebelum dirawat


2.2.3.Perawatan
Perawatan pertama yang dilakukan adalah mengembalikan posisi gigi
keposisi semula (reposisi). Prosedur reposisinya dilakukan jika gigi tersebut
intrusinya dalam keadaan ekstrim (gigi sama sekali terbenam dalam tulang
alveolar, mahkota secara klinis hamper tidak kelihatan, serta akar sudah tumbuh
sempurna). Maka prosedur reposisi dengan bantuan alat ortodonti dan reposisi
secara bedah dapat dilakukan
Reposisi gigi dengan bantuan alat ortodonti dilakukan denagn cara
menarik gigi yang intrusi, keluar dari soketnya secara perlahan-lahan dengan
memakai tang untuk tempat pemasangan bracket ortodonti. Pada gigi intrusi

16

sebelumnya diberikan anastesi local secara infiltrasi baru dapat dilakuakan


penarika gigi.

BAB III
PENUTUP

Avulsi merupakan keadaan trauma gigi ketika gigi terlepas dari tempatnya
(soketnya) secara utuh dan menghasilkan luka kompleks, serta mempengaruhi
beberapa jaringan pendukung gigi.
Luksasi intrusi yaitu, pergeseran sebagian atau berpindah tempatnya gigi
sebagian masuk kedalam soket. Dapat di katakan intrusi bila gigi dipaksa masuk
kedalam soket alveolaris. Pada gigi ang mengalami intrusi, hanya sebagian kecil
mahkota yang telihat
Pemeriksaan yang teliti penting untuk mendapatkan hasil perawatan yang
akurat sehingga perawatan dapat dilakukan dengan tepat. Pemeriksaan meliputi
anamnesa untuk mengetahui riwayat medis dan riwayat kesehatan gigi, serta
pemeriksaan klinis untuk mengetahui keadaan ekstra oral, intra oral dan roentgen.

17

Media penyimpanan merupakan media tempat gigi yang avulsi disimpan,


bila perawatan replantasi gigi tidak dapat dilakukan segera setelah cedera.Tujuan
penempatan gigi avulsi pada media penyimpanan ini dapat memelihara ligamen
periodontal pada waktu terbatas sebelum dilakukan replantasi gigi. beberapa jenis
media penyimpanan gigi avulsi, berdasarkan urutan yang paling baik digunakan
adalah larutan garam isotonik, susu, saliva
Perawatan yang dilakukan pda avulse gigi yaitu replantasi dan splinting.
Perawatan yang dilakukan pada intrusi yaitu pemakaian alat ortodonti dan reposisi
secara bedah.

Daftar Pustaka
http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2010/05/19/penatalaks
anaan-replantasi-gigi-anterior-permanen-pada-anak-144858.html
http://opendentistry.blog.unsoed.ac.id/files/2012/05/PanduanSkill-Lab-Medical-Emergency.pdf
http://kamuskesehatan.com/arti/avulsi/
http://www.jdentistry.ui.ac.id/index.php/JDI/article/download/39/34
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/8295

18