Anda di halaman 1dari 42

Keterangan Umum

BAB I KASUS PASIEN

Nama

: Ny. I

Umur

: 29 tahun

Alamat

: Kopo

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Agama

: Islam

Status

: Sudah Menikah

Tanggal pemeriksaan : 20– oktober – 2015

Anamnesis Keluhan utama : Nyeri di pinggang kanan

Pasien datang ke UGD RSUD Al-ihsan dengan keluhan nyeri pinggang kanan sejak 3 bulan yang lalu, nyeri terasa hilang timbul dan menjalar ke perut bagian bawah dan terkadang nyeri dirasakan didaerah kemaluan. 3 jam SMRS pasien merasakan nyeri yang bertambah hebat hingga membuat pasien keringat dingin, berteriak kesakitan dan berguling-guling nyeri muncul secara tiba-tiba karena keluhan tersebut pasien dibawa ke UGD, keluhan tidak hilang dengan perubahan posisi, nyeri yang dirasakan pasien tidak menjalar ke punggung. Keluhan disertai dengan mual dan muntah sebanyak 2 kali disertai demam yang muncul 3 hari SMRS pada waktu yang bersamaan pasien juga mengeluhkan buang air kecil berdarah, darah berwarna merah segar yang disertai dengan nyeri saat berkemih, tidak puas ketika berkemih, pasien tidak perlu menunggu lama jika ingin berkemih, pancaran air kencing normal, tidak menetes-netes saat buang air kecil, ketika buang air kecil tidak terputus putus, frekuensi buang air kecil pasien sebanyak 1-2 kali perhari, warna air kemih kuning pekat dan lebih sedikit dari biasanya.

Riwayat Penyakit

Pasien memiliki riwayat pentakit Asam Urat

Pasien tidak memiliki riwayat darah tinggi

Pasien tidak memiliki riwayat trauma saluran kemih

Pasien tidak memiliki riwayat Operasi sebelumnya

Pasien tidak memiliki riwayat infeksi saluran kemih

Riwayat buang air kecil berpasir dan batu fisangkal pasien

Riwayat kebiasaan :

Pasien mengaku jarang minum air putih sejak masih muda

Pasien juga sering menahan keinginan berkemih saat bekerja

Pasien jarang berolah raga

Riwayat keluarga

:

Tidak ada keluarga yang mengeluhkan hal yang sama dengan pasien

Riwayat pengobatan :

Pasien mengaku setiap kali nyeri pada pinggang Pasien membeli obat di warung untuk menghilangkan nyeri pinggangnya, namun pasien lupa nama obat tersebut

Pemeriksaan Fisik :

Keadaan Umum

: sakit sedang, pasien tamak gelisah

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 120 / 80 mmHg

Respirasi

: 24 x/menit

Nadi

: 99 x/menit

Suhu

: 37,7°c

* Kepala

* Leher

: simetris, Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik. : KGB tidak teraba, JVP tidak meningkat.

* Thoraks

Cor

: Bentuk dan gerak simetris. : Bunyi jantung S1 dan S2 murni, regular,

murmur (-).

Pulmo : VBS normal kiri=kanan, ronkhi -/-, wheezing -/-

* Abdomen : Datar, lembut, massa (-), hepar dan lien tidak teraba. Bising usus (+). * Ekstremitas: edema -/-, sianosis -/-

Status Urologis

:

a/r flank dextra : Perabaan ginjal +/-, Balotement +/- Nyeri ketok CVA +/-

a/r suprapubis

: nyeri tekan (+), blast kesan kosong.

a/r Genitalia Eksterna : nyeri di vulva (+), meatal stenosis (-)

Rectal Toucher :

-Tonus sphincter ani kuat

  • - Mukosa licin

  • - Ampulla tidak kolaps

- Tidak teraba batu diprostat

  • - Sarung tangan feses(-), darah(-)

Resume

:

Seorang wanita 29 tahun datang ke UGD RSUD Al-ihsan dengan keluhan nyeri dipinggang kanan sejak 3 bulan yang lalu,nyeri terasa hilang timbul dan menjalar ke perut bagian bawah dan terkadang neri dirasakan didaerah kemaluan. 3 jam SMRS pasien merasakan nyeri yang bertambah hebat, pasien juga mengeluhkan mual dan muntah disertai dengan demam, buang air kecil berdarah yang timbul 3 hari hari SMRS disertai nyeri saat berkemih, tidak puas bila berkemih, pasien mangaku jarang meminum air putih, sering menahan keingiinan untuk berkemih, pasien memiliki riwayat ingin berkemih.

Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan pasien komposmentis, sakit sedang tampak gelisah, takikadia tanda vital lain dalam batas normal pada regia flank dextra Perabaan ginjal +/-, Balotement +/-, Nyeri ketok CVA +/-, regio suprapubis nyeri tekan (+), blast kesan kosong. Regio enitalia Eksterna nyeri di vulva (+).

Diagnosis Kerja

:

Renal Colic ec susp urolitiasis

Diagnosis Banding

:

Renal colic ec susp nefrolitiasis

Renal colic ec susp ureterolitiasis

Renal colic ec susp vesikolitiasis

Renal colik ec susp urethrolitiasis

Usulan Pemeriksaan

Lab :

:

Hb, Ht, leukosit, trombosit,

ureum, kreatinin, asam urat,

Urinalisis

USG BNO - IVP CT-Scan

Penatalaksanaan :

Umum :

Informed Consent tentang penyakit yang diderita pasien dan konseling mengenai pencegahan

terhadap penyakit tersebut agar tidak berulang :

- Menghindari dehidrasi dengan minum cukup

- Diet untuk mengurangi kadar zat-zat pembentuk batu (asam urat, protein, garam)

Khusus :

Obat analgetik NSAID

Obat bloker alfa adrenergik

Pemberian Antibiotik broad spektrum

Pemasangan kateter

Medikamentosa (bila dari pemeriksaan penunjang didapatkan ukuran batu ginjal <

5mm)

Konsul dokter urologi

Bila dari pemeriksaan penunjang didapatkan ukuran batu

ginjal > 5 mm dan fungsi ginjal baik(ESWL /Bedah terbuka (nefrolitotomi))

Penatalaksanaan IGD

:

Obat analgetik NSAID

Obat bloker alfa adrenergik

Pemberian Antibiotik broad spektrum

Pemasangan kateter

Edukasi :

  • - Banyak minum air putih (8-10 gelas sehari)

  • - jangan menahan buang air kecil

  • - pola makan seimbang, berolahrga

Prognosis

:

Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam

: ad bonam

Quo ad sanationam

: ad bonam

  • 1. Bentuk dan Ukuran

BAB II

ANATOMI

Ginjal berjumlah sepasang, berwarna coklat kemerahan, dan merupakan organ padat yang terlindung dengan baik di dalam retroperitonium pada kedua sisi tulang belakang. Berat ginjal pria dewasa sekitar 150 gram. Ginjal wanita dewasa relatif lebih kecil, sekitar 135 gram. Ukuran panjang (vertikal) normal sekitar 10-12 cm, lebar (transversal) 5-7 cm, dengan ketebalan (anteroposterior) 3 cm. Ginjal kanan bentuknya lebih bervariasi akibat desakan dari hepar. Ukuran vertikal ginjal kanan cenderung lebih pendek, dengan ukuran transversal yang terkadang dapat melebihi ukuran vertikal. Dibandingkan ukuran tubuh, ginjal anak secara relatif lebih besar daripada ginjal orang dewasa. Pada saat lahir, kontur ginjal ireguler dengan lobulasi multipel. Lobulasi ini menghilang pada tahun pertama kehidupan. Pada orang dewasa, kelengkungan ginjal dari pool atas ke pool bawah tampak halus. Meski demikian, adanya sisa lobulasi pada orang dewasa merupakan varian normal. Permukaan medial ginjal berbentuk cekung, disebut hilum. Hilum ginjal terbuka ke arah sinus ginjal, suatu rongga yang membentuk sisi tengah ginjal dan dikelilingi oleh parenkim ginjal. Struktur pengumpul urin dan pembuluh darah ginjal menempati sinus ginjal dan keluar dari ginjal medial dari hilum.

  • 2. Letak dan Mobilitas Ginjal Ginjal terletak sepanjang muskulus psoas dalam posisi oblik, di mana pool bawah terletak lebih lateral dari pool atas. Dari potongan transversal, ginjal tidak dalam posisi tegak lurus 90 derajat, tetapi 30 derajat lebih ke anterior dari penampang koronal.

Ginjal kanan berada lebih rendah sekitar 1- 2 cm dibanding ginjal kiri karena berada di bawah hepar. Namun demikian, letak anatomis kedua ginjal ini cukup bervariasi. Pool atas ginjal kiri terletak pada korpus vertebra torakal XII dan pool bawahnya terletak pada vertebra lumbal III. Ginjal kanan terletak setinggi bagian atas vertebra lumbal I hingga bagian bawah lumbal III. Ginjal ditunjang oleh lapisan lemak perirenal, pedikel vaskuler, tonus otot abdomen, dan organ visera di sekitarnya. Meskipun begitu, ginjal termasuk organ yang mobil. Pergerakan napas dan perubahan posisi dari berbaring ke tegak dapat menyebabkan pergerakan sekitar 4-5 cm. Bila mobilitas ginjal menghilang, perlu dicurigai adanya suatu fiksasi abnormal, seperti perinefritis, namun mobilitas ginjal yang berlebih tidak selalu berasal dari suatu proses patologis.

  • 3. Bagian-bagian Ginjal Parenkim ginjal terdiri dari korteks dan medulla. Penampakan korteks biasanya lebih terang dan homogen dari medulla. Korteks terdiri dari glomerulus dan sebagian tubulus ginjal yang berfungsi sekresi. Komponen korteks ada yang berada di antara piramid medulla dan menonjol ke sinus renal, disebut kolumna renalis Bertini. Medulla terdiri dari sejumlah piramid yang dibentuk dari kumpulan tubulus yang lurus dan duktus kolektivus ginjal. Apeks piramid disebut papilla renal dan berakhir pada kaliks minor. Ginjal dan kelenjar adrenal dikelilingi oleh lemak perirenal dan keduanya secara longgar ditutup oleh fasia perirenal (fasia Gerota). Lapisan anterior dan posterior fasia Gerota meluas dan bergabung dengan sekitarnya pada tiga tempat, di lateral, medial, dan superior. Pada perluasan ke superior, fasia Gerota bergabung dengan permukaan diafragma inferior, ke medial meluas melewati garis tengah dan bergabung dengan fasia Gerota kontralateral, ke inferior fasia Gerota merupakan ruang terbuka yang berisikan ureter dan pembuluh gonad (pembuluh darah spermatika dan vas deferens). Di sekitar fasia Gerota terdapat sejumlah lemak pararenal. Fasia Gerota merupakan penghalang anatomis sekeliling ginjal. Keganasan ginjal pada fase awal biasanya berada di dalam kapsul fasia dan dapat dengan mudah dieksisi dengan mengangkat ginjal. Selain itu, fasia Gerota dapat dengan mudah dipisahkan dari fasia transversalis di posterior atau dari peritonium dan kolon di anterior.

Gambar. Anatomi Ginjal Gambar. Ginjal dan organ sekitarnya 4. Hubungan Ginjal dengan Organ Sekitarnya

Gambar. Anatomi Ginjal

Gambar. Ginjal dan organ sekitarnya

Pada bagian posterior, hubungan ginjal kiri dan kanan dengan organ sekitarnya relatif hampir serupa. Diafragma menutup bagian atas dari ginjal. Karena diafragma berkaitan erat pula dengan pleura, maka setiap tindakan bedah dengan pendekatan ke bagian atas ginjal, berisiko mengenai rongga pleura. Iga XII menyilang ginjal pada bagian bawah diafragma. Batas atas kiri ginjal yang lebih tinggi dari yang kanan, juga berhubungan dengan iga XI. Sisi medial dua pertiga bagian bawah kedua ginjal, pembuluh darah ginjal, dan pelvis renal berada di atas m. psoas. Di lateralnya berturut-turut terdapat m. kuadratus lumborum dan aponeurosis m. transversus abdominis. Di bagian anterior, ginjal kanan berada di belakang hepar, dipisahkan oleh lapisan peritoneum, kecuali pada sebagian kecil pool atas yang langsung berhubungan dengan daerah retroperitoneal hepar. Adanya lapisan peritoneum ini memberikan keuntungan proteksi terhadap penyebaran kanker ginjal secara langsung ke hepar. Perluasan peritoneum parietal yang menghubungkan fasia perirenal yang menutup pool atas ginjal kanan dengan sisi posterior hepar disebut ligamentum hepatorenal. Traksi yang berlebihan pada ligamentum ini pada saat operasi dapat menyebabkan robekan parenkim hepar. Duodenum berbatasan dengan sisi medial dan struktur hilum ginjal kanan. Fleksura hepatika kolon melintas pada pool bawah ginjal kanan. Kelenjar adrenal terletak pada sisi superomedial pool atas kedua ginjal. Pada ginjal kiri, kauda pankreas yang terletak retroperitoneal dan pembuluh darah splanknik yang berkaitan, berbatasan dengan bagian atas, medial, dan hilum ginjal. Di atas dari kauda pankreas, ginjal kiri berbatasan dengan dinding posterior gaster sedangkan di bawah kauda pankreas, berbatasan dengan jejunum. Di pool bawah, ginjal kiri berdekatan dengan fleksura lienalis kolon. Limpa dipisahkan dari bagian lateral atas ginjal kiri oleh lapisan peritoneum. Biasanya dijumpai perluasan peritoneum yang menghubungkan fasia perirenal yang menutupi pool atas ginjal kiri dengan kapsul ginjal inferior, yang disebut ligamentum splenorenal atau lienorenal. Regangan yang berlebihan pada saat operasi pada ligamentum ini dapat menyebabkan robekan limpa.

  • 5. Pembuluh Darah, Persarafan, dan Sistem Limfatik

Pada bagian posterior, hubungan ginjal kiri dan kanan dengan organ sekitarnya relatif hampir serupa. Diafragma menutup

Arteri :

Arteri renalis merupakan cabang aorta abdominalis. Percabangan tersebut terletak setinggi vertebra lumbal II, di bawah pangkal a. mesenterika superior. Jumlah arteri renalis umumnya satu pada masing-masing sisi dan memasuki ginjal pada daerah hilum dan diapit oleh vena renalis di anterior dan pelvis renis di posterior. Pada beberapa variasi normal, arteri renalis ditemukan bercabang dua atau lebih sebelum mencapai ginjal. Pada kasus duplikasi pelvis dan ureter, sering ditemukan masing-masing segmen mendapat suplai arteri sendiri-sendiri. Arteri renalis kanan mempunyai pangkal di aorta lebih tinggi dari yang kiri, dan karena letak ginjal kanan yang lebih rendah, lebih panjang dibandingkan arteri renalis kiri. Arteri renalis mempunyai cabang anterior dan posterior. Cabang posterior memperdarahi segmen tengah permukaan posterior ginjal. Cabang anterior terdiri dari empat segmen, yaitu apikal, superior, medial, dan inferior. Cabang anterior mensuplai segmen atas dan bawah posterior ginjal serta seluruh segmen permukaan anterior ginjal, sedangkan cabang posterior memperdarahi sisanya. Semua arteri-arteri pada ginjal adalah end artery, tanpa anastomosis atau sirkulasi kolateral, sehingga oklusi pada salah satu segmen atau arteri utama akan menyebabkan iskemia dan infark pada parenkim ginjal yang mendapat suplai darah. Hal ini memberikan implikasi klinis dalam melakukan insisi pada daerah ginjal. Insisi pada daerah yang relatif avaskuler, seperti insisi vertikal pada 1 cm posterior dari sisi konveks lateral ginjal (garis Brödel) atau insisi transversal di antara segmen posterior dan pool atas atau pool bawah ginjal, merupakan insisi yang lazim dilakukan dalam operasi untuk mendapat akses ke sistem pengumpulan urin atau kaliks ginjal tanpa menyebabkan cedera arteri yang membahayakan.

Arteri renalis kemudian dibagi lagi menjadi arteri interlobaris, yang berjalan

naik pada kolumna renalis, di antara piramid-piramid. Selanjutnya arteri ini menyusuri basis piramid dan dinamai arteri arkuata. Arteri arkuata kemudian

Gambar. Vaskularisasi
Gambar. Vaskularisasi

bercabang-

cabang lagi

dengan

arah

ke

korteks

disebut

arteri

interlobularis. Dari sini, cabang yang lebih kecil, arteriol aferen membentuk jalinan kapiler yang disebut glomerulus. Dari glomerulus, keluar arteri eferen yang membentuk jaringan kapiler kedua di sekeliling tubulus pada daerah korteks atau memanjang terus hingga ke medulla renalis (vasa rekta).

Arteri renalis kemudian dibagi lagi menjadi arteri interlobaris, yang berjalan naik pada kolumna renalis, di antara

Vena :

Vena-vena pada ginjal berpasangan dengan arterinya, namun berbeda dengan arteri, vena-vena tersebut saling beranastomosis sehingga bila ada gangguan drainase dari salah satu vena, maka vena lainnya akan saling mengisi. Vena renalis kanan mempunyai panjang 2- 4 cm dan langsung bermuara ke vena cava inferior tanpa menerima percabangan lain. Vena renalis kiri mempunyai panjang tiga kali lipat (6-10 cm) dan lebih dahulu menyilang aorta untuk kemudian bermuara ke vena cava inferior. Sebelumnya, vena renalis kiri menerima percabangan dari vena adrenalis kiri, vena lumbalis, dan vena gonadal kiri.

Meski arteri dan vena renalis umumnya tunggal, namun pembuluh asesorius sering ditemukan. Pembuluh ini mempunyai arti klinis karena, bila letaknya berdekatan dan menekan ureter, dapat menyebabkan terjadinya hidronefrosis.

Meski arteri dan vena renalis umumnya tunggal, namun pembuluh asesorius sering ditemukan. Pembuluh ini mempunyai arti

Skema. Aliran Pembuluh darah Ginjal

  • Persarafan Persarafan ginjal berasal dari pleksus renalis yang berjalan beriringan dengan pembuluh darah ginjal sepanjang parenkim ginjal. Persarafan aferen berjalan dari ginjal ke korda spinalis bersama dengan serabut simpatik sedangkan persarafan eferen ke ginjal merupakan persarafan autonom yang mengeluarkan serabut vasomotor ke arteriol aferen dan eferen. Serabut saraf ginjal mempunyai hubungan dengan pleksus testikuler. Hubungan ini mungkin dapat menjelaskan timbulnya nyeri pada testis pada beberapa kelainan ginjal.

  • Sistem limfatik

Drainase

limfatik gunjal sangat banyak dan mengikuti pembuluh darah

sepanjang kolumna renalis keluar dari parenkim ginjal dan kemudian membentuk beberapa trunkus limfatikus di dalam sinus ginjal. Saluran limfatik dari kapsul ginjal, jaringan perinefrik, pelvis renal, dan ureter proksimal bergabung dengan

trunkus limfatik ini. Ada dua atau lebih nodus limfatikus di hilum renal yang berhubungan dengan vena renalis, yang bila ada, merupakan tempat metastasis pertama keganasan ginjal. Pada ginjal kiri, trunkus limfatikus mengalir ke nodus limfatikus paraaorta lateralis, sedangkan pada ginjal kanan trunkus limfatikus mengalir ke nodus limfatikus parakaval kanan dan interaortokaval.

HISTOLOGI

Unit fungsional ginjal disebut nefron, yang mempunyai fungsi sekresi dan ekskresi. Bagian yang berfungsi sekresi sebagian besar berada pada korteks dan terdiri dari korpus Malphigi serta bagian sekresi tubulus renal. Bagian yang berfungsi ekskresi terletak di dalam medulla. Korpus Malphigi, gabungan glomerulus dan kapsula Bowman, berhubungan dengan tubulus proksimal. Tubulus ginjal yang berfungsi sekresi terdiri dari tubulus proksimal, ansa Henle, dan tubulus distal, sedangkan bagian dari tubulus ginjal yang berfungsi ekskresi adalah tubulus kolektivus. Bagian ini menyeluarkan kandungannya melalui papilla piramid ke kaliks minor.

Jaringan penunjang Stroma ginjal terdiri dari jaringan ikat longgar yang mengandung pembuluh darah, kapiler, persarafan, dan pembuluh limfatik.

Gambar. Histologi Ginjal

Gambar. Histologi Ureter

Gambar. Histologi Urethra BAB II FISIOLOGI Fungsi primer ginjal adalah mempertahankan volume dan komposisi ECF (cairan

Gambar. Histologi Urethra

BAB II

FISIOLOGI

Fungsi primer ginjal adalah mempertahankan volume dan komposisi ECF (cairan ekstraseluler) dalam batas – batas normal. Komposisi dan cairan ekstrasel ini dikontrol oleh filtrasi glomerulus, reabsorpsi, dan sekresi tubulus. 2 Ginjal mengekskresikan bahan – bahan kimia asing tertentu (misalnya obat – obatan), hormone dan metabolit lain, tetapi fungsi yang paling utama adalah mempertahankan volume dan komposisi ECF dalam batas normal. Tentu saja ini dapat terlaksana dengan mengubah ekskresi air dan zat terlarut, kecepatan filtrasi yang tinggi memungkinkan pelaksanaan fungsi ini dengan ketepatan yang tinggi. Pembentukan renin dan eritropoetin serta metabolisme vitamin D merupakan fungsi non-ekskretor yang penting. 2

Ginjal juga berperan penting dalam degradasi insulin dan pembentukan sekelompok senyawa yang mempunyai makna endokrin yang berarti, yaitu prostaglandin. Sekitar 20% insulin yang dibentuk oleh pancreas didegradasi oleh sel – sel tubulus ginjal. Akibatnya penderita diabetes yang menderita payah ginjal membutuhkan insulin yang jumlahnya lebih sedikit. Prostaglandin merupakan hormone asam lemak tidak jenuh yang terdapat banyak dalam jaringan tubuh. Medula ginjal membentuk PGI dan PGE 2 yang merupakan vasodilator potensial. Prostaglandin mungkin berperan penting pada pengaturan aliran darah ginjal, pengeluaran renin dan reabsorpsi Na + . Kekurangan prostaglandin mungkin juga turut dalam beberapa bentuk hipertensi ginjal sekunder, meskipun bukti – bukti yang ada sekarang ini masih kurang memadai. 2

 

FUNGSI UTAMA GINJAL

 

No

FUNGSI EKSKRESI

No

FUNGSI NON - EKSKRESI

 

1

Mempertahankan osmolaritas plasma sekitar 285 mOsmol dengan mengubah – ubah ekskresi air.

1

Mensintesis dan mengaktifkan hormone Renin : penting dalam pengaturan tekanan darah.

2

Mempertahankan volume ECF dan

Eritropoetin : merangsang produksi sel darah merah oleh sumsum tulang.

1,25-dihidroksi

vitamin

D 3

:

3

tekanan darah dengan mengubah – ubah ekskresi Na + .

Mempertahankan konsentrsi plasma masing – masing elektrolit individu

Mempertahankan pH plasma sekitar 7,4

-

hidroksilasi akhir vitamin D 3 menjadi bentuk yang paling kuat. Prostaglandin : sebagian besar adalah

4

dalam rentang normal.

vasodilator, bekerja secara local

Degradasi hormone polipeptida.

dengan mengeluarkan kelebihan H + dan membentuk kembali HCO 3 .

melindungi dari kerusakan iskemik ginjal.

5

Mengekskresikan produk akhir nitrogen dari metabolism protein (terutama urea, asam urat dan kreatinin).

2

Insulin, glucagon, parathormon, prolaktin, hormone pertumbuhan, ADH dan hormone GIT (gastrin, polipeptida

6

Bekerja sebagai jalur ekskretori untuk

intestinal vasoaktif/ VIP).

sebagian besar obat.

Tabel. Fungsi Ginjal

Gambar. Korpus Renalis (Glomerulus & Glomerular Bowman’s Capsule) G ambar. Nefron

Gambar. Korpus Renalis (Glomerulus & Glomerular Bowman’s Capsule)

Gambar. Korpus Renalis (Glomerulus & Glomerular Bowman’s Capsule) G ambar. Nefron

G

ambar. Nefron

BAB III UROLITHIASIS

DEFINISI

 

Batu

saluran

kencing

merupakan

keadaan

patologis

karena

adanya

massa keras

berbentuk seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kencing dan dapat menyebabkan nyeri, perdarahan atau infeksi pada saluran kencing. Terbentuknya batu disebabkan karena air kemih kekurangan materi-materi yang dapat menghambat terbentuknya batu. Batu saluran kencing dapat terbentuk karena adanya peningkatan kalsium, oksalat, atau asam urat dalam air kencing serta kurangnya bahan-bahan seperti sitrat, magnesium, pirofosfat yang dapat menghambat pembentukan batu, kurangnya produksi air seni, infeksi saluran kencing, gangguan aliran air kencingdan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap/idiopatik. Batu Ginjal di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis atau renalis,nefrolitiasis). Renal calculi adalah pengkristalan dari mineral-mineral yang mengelilingi suatu zat organik seperti nanah, darah, atau sel-sel yang sudah mati. Kebanyakan dari renal calculi

terdiri dari garam-garam calcium (oxalate dan posphat), atau magnesium-amonium phospat dan uric acid. Renal calculi, merupakan penumpukan garam mineral yang dapat diam di mana saja di sepanjang saluran perkemihan. Ini terjadi jika urine penuh mencapai batas jenuh asam urat, fosfat, dan kalsium oksalat. Normalnya, zat-zat ini larut dalam cairan urine dan dengan mudah terbilas saat buang air kecil. Tetapi ketika mekanisme alami seperaati pengaturan keseimbangan asam-basa (Ph) terganggu atau imunitas tertekan, zat-zat itu mengkristal dan kristal ini bisa menumpuk, akhirnya membentuk zat yang cukup besar untuk menyumbat aliran urin.

terdiri dari garam-garam calcium (oxalate dan posphat), atau magnesium-amonium phospat dan uric acid. Renal calculi, merupakan

ETIOLOGI

Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran

urin, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang idiopatik. Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih pada seseorang. Faktor- faktor tersebut antara lain :

  • A. Faktor Intrinsik :

    • a) Herediter (keturunan)

    • b) Umur :sering dijumpai pada usia 30-50 tahun.

    • c) Jenis Kelamin :lebih sering pada laki-laki dibandingkan perempuan.

  • B. Faktor Ekstrinsik :

    • a) Geografis : pada beberapa daerah menunjukan angka kejadian batu saluran kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt

  • (sabuk batu), sedangkan daerah batu di Afrika Selatan hampir tidak dijumpai penyakit batu saluran kemih.

    • b) Iklim dan temperatur

    • c) Asupan air : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.

    • d) Diet : Diet banyak purin, oksalat, dan kalsium mempermudah terjadinya penyakit batu saluran kemih.

    • e) Pekerjaan : Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak

    duduk atau kurang aktivitas atau sedentary life. Sumber lain juga mengatakan bahwa terbentuknya batu bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan penghambat pembentukan batu yang normal. Sekitar 80% batu terdiri dari kalsium, sisanya mengandung berbagai bahan, termasuk asam urat, sistin dan mineral struvit. Batu struvit (campuran dari magnesium, amonium dan fosfat) juga disebut "batu infeksi" karena batu ini hanya terbentuk di dalam air kemih yang terinfeksi. Ukuran batu bervariasi, mulai dari yang

    tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sampai yang sebesar 2,5 sentimeter atau lebih. Batu yang besar disebut "kalkulus staghorn". Batu ini bisa mengisi hampir keseluruhan pelvis renalis dan kalises renalis. Penyebab dari renal calculi adalah idiopatik akan tetapi ada faktor-faktor predisposisi dan yang utama adalah UTI (Urinary Tract Infection). Infeksi ini akan meningkatkan timbulnya zat-zat organik. Zat-zat ini dikelilingi oleh mineral-mineral yang mengendap. Pengendapan mineral-mineral ini akan meningkatkan alkalinitas urin dan mengakibatkan pengendapan calsium posphat dan magnesium-amonium posphat. Stasis urin juga dapat menimbulkan pengendapan zat-zat organik dan mineral-mineral. Dehidrasi juga merupakan factor resiko terpenting dari terbentuknya batu ginjal. Faktor-faktor lain yang dikaitkan dengan pembentukan batu adalah sebagai berikut :

    • A. Pemakan Antasid dalam jangka panjang

    • B. Terlalu banyak vitamin D,dan calsium carbonate

    Teori Proses Pembentukan Batu Saluran Kemih

    • A. Secara teoritis batu dapat terbentuk diseluruh saluran kemih terutama pada tempat- tempat yang sering mengalami hambatan aliran urine (stasis urin), yaitu pada system kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pelvikalices (stenosis uretero-pelvis), divertikel, obstruksi infravesika kronis seperti pada hyperplasia prostat

    benigna, striktura dan buli-buli neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang memudahkan terjadinya pembentukan batu.

    • B. Batu terdiri atas kristal-kristal yang tersusun oleh bahan-bahan organik maupun anorganik yang terdapat dalam urine. Kristal-kristal ini tetap dalam keadaan metastable/tetap telarut dalam urine jika tidak ada keadaan–keadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi kristal.

    • C. Kristal-kristal yang saling mengadakan presipitasi membentuk inti batu/nukleasi yang kemudian akan mengadakan agregasi, dan menarik bahan-bahan lain sehingga menjadi kristal yang agak besar, tapi agregat kristal ini masih rapuh dan belum cukup mampu membuat buntu atau sumbatan saluran kemih.

    • D. Agregat kristal menempel pada epitel saluran kemih atau membentuk retensi kristal, dan dari sini bahan-bahan lain diendapkan pada agregat itu sehingga membentuk batu yang cukup besar untuk menyumbat saluran kemih.

    • E. Kondisi metastable dipngaruhi oleh suhu, PH larutan, adanya koloid didalam urine, konsentrasi solute dalam urine, laju aliran urine, atau adanya korpus alienum di dalam saluran kemih yang bertindak sebagai inti batu.

    • F. Lebih dari 80% batu saluran kemih terdiri atas batu calsium, meskipun patogenesis pembentukan batu hampir sama,tetapi suasana di dalam saluran kemih yang memungkinkan terbentuknya jenis batu itu tidak sama, misal batu asam urat mudah terbentuk dalam suasana asam,sedangkan batu magnesium ammonium fosfat terbentuk karena urine bersifat basa.

    Faktor Penghambat Terbentuknya Batu:

    • a. Ion Magnesium (Mg), karena jika berikatan dengan oksalat maka akan membentuk garam magnesium oksalat sehingga jumlah oksalat yang akan berikatan dengan kalsium (Ca) untuk membentuk kalsium oksalat menurun.

    • b. Sitrat, jika berikatan dengan ion kalsium maka akan membentuk garam kalsium sitrat sehingga mengurangi jumlah kalsium yang berikatan dengan oksalat ataupun fosfat berkurang, sehingga Kristal kalsium oksalat atau kalsium fosfat jumlahnnya berkurang.

    • c. Beberapa jenis protein atau senyawa organic mampu bertindak sebagai inhibitor dengan menghambat pertumbuhan Kristal, menghambat aggregasi Kristal dan menghambat retensi Kristal, antara lain glikosaminoglikan (GAG), protein Tamm Horsfall (THP) atau Uromukoid, nefrokalsin, dan osteopontin. Defisiensi zat-zat yang berfungsi sebagai inhibitor batu merupakan salah satu factor penyebab timbulnya batu saluran kemih.

    meningkatkan ekskresi Ca Masukan Masukan Natrium Natrium Kalium Kalium   meningkatkan ekskresi Ca PENINGKATA PENINGKATA
    meningkatkan ekskresi Ca
    Masukan Masukan Natrium Natrium Kalium Kalium  
    meningkatkan ekskresi Ca
    PENINGKATA
    PENINGKATA
    N Resiko
    N Resiko
    Masukan Masukan Protein Protein  
    Ekskresi Ekskresi Ca,asam Ca,asam urat, urat, fosfat, fosfat, sistin sistin
    Pembentukan
    Pembentukan
    Batu
    Batu
    Masukan Masukan Ca Ca  
    Saluran Kemih
    Saluran Kemih
    Masukan Masukan Sukrosa Sukrosa
    meningkatkan ekskresi Ca
    meningkatkan ekskresi Ca
    Masukan Masukan Vit Vit C C  

    Pembagian Jenis Batu

    • A. Berdasarkan sifat materi penyusunnya :

      • a) An Organik Stone ( Ph basa ),contoh Ca oksalat, Ca fosfat, magnesium fosfat, garam triple fosfat.

      • b) Organik Stone ( Ph Asam), contoh uric acid dan cystin.

  • B. Secara Radiologis :

    • a) Batu Radio Opaque atau nyata : umumnya adalah anorganik stone

    • b) Batu Radio lucent atau tidak nyata, bersifat organic dan asam.

    • c) Batu organik campuran kalsium

  • C. Berdasarkan warna batu :

    • a) Warna sangat gelap dan ukuran kecil,ex : calcium oksalat

    • b) Warna putih, besar,dan halus ex: calcium fosfat

    • c) Warna coklat, kecil dan halus ex :Ca urat/asam urat.

  • D. Berdasarkan letak batu :

    • a) Batu Ureter

    Batu ureter pada umumnya adalah batu yang terbentuk di dalam sistim kalik

    ginjal, yang turun ke ureter. Terdapat tiga penyempitan sepanjang ureter yang

    biasanya menjadi tempat berhentinya batu yang turun dari kalik yaitu ureteropelvic

    junction (UPJ), persilangan ureter dengan vasa iliaka, dan muara ureter di dinding

    buli.

    • b) Batu Ginjal

    • c) Batu Kandung kemih

    • d) Batu Uretra

    Komposisi Batu :

    1. Batu Kalsium (kurang lebih 70 - 80 % dari seluruh batu saluran kemih)

    Lebih dari 80% batu saluran kemih terdiri atas batu kalsium, baik yang berikatan

    dengan oksalat maupun dengan fosfat, membentuk batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat

    sedangkan sisanya berasal dari batu asam urat, batu magnesium ammonium fosfat (batu

    infeksi), batu xanthyn, batu sistein dan batu jenis lainnya. 5

    Batu ureter pada umumnya adalah batu yang terbentuk di dalam sistim kalik ginjal, yang turun kesitrat (zat penghambat pembentukan batu kalsium) di dalam air kemih, diberikan kalium sitrat. Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong terbentuknya batu kalsium, merupakan akibat dari mengkonsumsi makanan yang kaya oksalat (misalnya bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh karena itu sebaiknya asupan makanan tersebut dikurangi. Kadang batu kalsium terbentuk " id="pdf-obj-22-33" src="pdf-obj-22-33.jpg">

    Sebagian besar penderita batu kalsium mengalami hiperkalsiuria, dimana kadar

    kalsium di dalam air kemih sangat tinggi. Obat diuretik thiazid (misalnya trichlormetazid)

    akan mengurangi pembentukan batu yang baru. 5

    • 1. Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari).

    • 2. Diet rendah kalsium dan mengkonsumsi natrium selulosa fosfat.

    Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentukan batu kalsium) di dalam air

    kemih, diberikan kalium sitrat. Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang

    menyokong terbentuknya batu kalsium, merupakan akibat dari mengkonsumsi makanan

    yang kaya oksalat (misalnya bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh

    karena itu sebaiknya asupan makanan tersebut dikurangi. Kadang batu kalsium terbentuk

    akibat penyakit lain, seperti hiperparatiroidisme, sarkoidosis, keracunan vitamin D,

    asidosis tubulus renalis atau kanker. Pada kasus ini sebaiknya dilakukan pengobatan

    terhadap penyakit-penyakit tersebut. 5

    Faktor terjadinya batu kalsium 5

    Hiperkalsiuri (kalsium di dalam urine lebih besar dan 250-300 mg/24 jam)

    Hiperkalsiuri absobtif

    Hiperkalsiuri renal

    Hiperkalsiuri resorptif

    Hiperoksaluri adalah ekskresi oksalat urine yang melebihi 45 gram perhari

    teh, kopi instan, minuman .soft drink, kokoa, arbei, jeruk sitrun, dan

    sayuran berwarna hijau terutama bayam

    Hiperurikosuri adalah kadar asam urat di dalarn urine yang melebihi 850

    mg/24 jam

    Sumber asam urat di dalam urine berasal dari makanan yang

    mengandung banyak purin/asam urat maupun berasal dari metabolisme

    endogen

    Hipositraturi

    penyakit asidosis tubuli ginjal atau renal tubular acidosis, sindrom

    malabsobsi, atau pemakaian diuretik golongan thiazide dalam jangka

    waktu lama

    Hipomagnesiuri

    • 3. Batu Struvit (batu infeksi )

    Batu struvit, disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini

    disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Batu dapat tumbuh menjadi lebih besar

    membentuk batu staghorn dan mengisi seluruh pelvis dan kaliks ginjal. Kuman

    penyebab infeksi ini adalah golongan kuman pemecah urea atau urea splitter yang

    dapat menghasilkan enzim urease dan merubah urine menjadi bersuasana basa melalui

    hidrolisis urea menjadi amoniak, seperti pada reaksi: CO(NH 2 ) 2+ H 2 O2NH 3+ CO 2 .

    1

    Sekitar 75% kasus batu staghorn, didapatkan komposisi batunya adalah

    matriks struvit-karbonat-apatit atau disebut juga batu struvit atau batu triple

    phosphate, batu fosfat, batu infeksi, atau batu urease, walaupun dapat pula terbentuk

    dari campuran antara kalsium oksalat dan kalsium fosfat. 1

    Batu struvit, disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih.ikan dan unggas, karena makanan tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih. Untuk mengurangi pembentukan asam urat bisa diberikan allopurinol . Batu asam urat terbentuk jika keasaman air kemih bertambah, karena itu untuk menciptakan suasana " id="pdf-obj-24-41" src="pdf-obj-24-41.jpg">

    Suasana basa ini yang memudahkan garam-garam magnesium, ammonium,

    fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium amoniun fosfat (MAP) atau (Mg

    NH 4 PO 4. H 2 O) dan karbonat apatit (Ca 10 [PO 4 ] 6 CO 3 . Karena terdiri atas 3 kation Ca ++

    Mg ++ dan NH 4 + ) batu jenis ini dikenal dengan nama batu triple-phosphate. Kuman-

    kuman yang termasuk pemecah urea diantaranya adalah Proteus spp, Klebsiella,

    Serratia, Enterobacter, Pseudomonas, dan Stafilokokus. Meskipun E.coli banyak

    menyebabkan infeksi saluran kemih, namun kuman ini bukan termasuk bakteri

    pemecah urea. 1

    4. Batu Urat (Batu asam urat merupakan 5-10% dari seluruh batu saluran kemih)

    Dianjurkan untuk mengurangi asupan daging, ikan dan unggas, karena

    makanan tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih.

    Untuk mengurangi pembentukan asam urat bisa diberikan allopurinol. Batu asam urat

    terbentuk jika keasaman air kemih bertambah, karena itu untuk menciptakan suasana

    air kemih yang alkalis (basa), bisa diberikan kalium sitrat. Dan sangat dianjurkan

    untuk banyak minum air putih.

    Faktor yang menyebabkan terbentuknya batu asam urat adalah :

    Urine yang terlau asam (pH urine <6 )

    Volume urine yang jumlahnya sedikit (<2 liter/hari) atau dehidrasi

    Hiperurikosuri.

    Terbentuknya batu bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan garam-garam

    yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan penghambat

    pembentukan batu yang normal.

    Sekitar 80% batu terdiri dari kalsium, sisanya mengandung berbagai bahan,

    termasuk asam urat, sistin dan mineral struvit. Batu struvit (campuran dari

    magnesium, amonium dan fosfat) juga disebut batu infeksi karena batu ini hanya

    terbentuk di dalam air kemih yang terinfeksi. Ukuran batu bervariasi, mulai dari yang

    tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sampai yang sebesar 2,5 sentimeter atau

    lebih. Batu yang besar disebut kalkulus staghorn. Batu ini bisa mengisi hampir

    keseluruhan pelvis renalis dan kalises renalis.

    Epidemiologi

    Penelitian epidemiologik memberikan kesan seakan-akan penyakit batu

    mempunyai hubungan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat dan berubah sesuai

    dengan perkembangan kehidupan suatu bangsa. Berdasarkan pembandingan data

    penyakit batu saluran kemih di berbagai negara, dapat disimpulkan bahwa di negara

    yang mulai berkembang terdapat banyak batu saluran kemih bagian bawah, terutama

    terdapat di kalangan anak.

    Di negara yang sedang berkembang, insidensi batu saluran kemih relatif

    rendah, baik dari batu saluran kemih bagian bawah maupun batu saluran kemih bagian

    atas. Di negara yang telah berkembang, terdapat banyak batu saluran kemih bagian atas,

    terutama di kalangan orang dewasa. Pada suku bangsa tertentu, penyakit batu saluran

    kemih sangat jarang, misalnya suku bangsa Bantu di Afrika Selatan.

    Satu dari 20 orang menderita batu ginjal. Pria:wanita = 3:1. Puncak kejadian

    di usia 30-60 tahun atau 20-49 tahun. Prevalensi di USA sekitar 12% untuk pria dan 7%

    untuk wanita. Batu struvite lebih sering ditemukan pada wanita daripada pria. 4

    INSIDENSI UROLITHIASIS

    PEMBENTUK BATU

    India USA

    Japan

    UK

    Calcium Oxalate Murni

    86.1

    33

    17.4

    39.4

    Calcium Oxalate bercampur

    4.9

    34

    50.8

    20.2

    Phosphate

    Magnesium Ammonium 2.7

    15

    17.4

    15.4

    Phosphate (Struvite )

    TANDA DAN GEJALA

    Batu pada kaliks ginjal memberikan rada nyeri ringan sampai berat karena

    distensi dari kapsul ginjal. Begitu juga baru pada pelvis renalis, dapat bermanifestasi

    tanpa gejala sampai dengan gejala berat. Umumnya gejala batu saluran kemih

    merupakan akibat obstruksi aliran kemih dan infeksi. Keluhan yang disampaikan oleh

    pasien tergantung pada posisi atau letak batu, besar batu, dan penyulit yang telah

    terjadi. 4

    Keluhan yang paling dirasakan oleh pasien adalah nyeri pada pinggang. Nyeri

    ini mungkin bisa merupakan nyeri kolik ataupun bukan kolik. Nyeri kolik terjadi karena

    aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises ataupun ureter meningkat dalam usaha

    untuk mengeluarkan batu dari saluran kemih. Peningkatan peristaltik itu menyebabkan

    tekanan intraluminalnya meningkat sehingga terjadi peregangan dari terminal saraf

    yang memberikan sensasi nyeri.

    Nyeri ini disebabkan oleh karena adanya batu yang menyumbat saluran kemih,

    biasanya pada pertemuan pelvis ren dengan ureter (ureteropelvic junction), dan ureter.

    Nyeri bersifat tajam dan episodik di daerah pinggang (flank) yang sering menjalar ke

    perut, atau lipat paha, bahkan pada batu ureter distal sering ke kemaluan. Mual dan

    muntah sering menyertai keadaan ini. 4

    Nyeri non kolik terjadi akibat peregangan kapsul ginjal karena terjadi

    hidronefrosis atau infeksi pada ginjal. Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri

    ketok pada daerah kosto-vertebra, teraba ginjal pada sisi sakit akibat hidronefrosis,

    terlihat tanda-tanda gagal ginjal, retensi urine, dan jika disertai infeksi didapatkan

    demam-menggigil. 4

    Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di dalam

    kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat

    ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau

    kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). 4

    Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di

    daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah

    kemaluan dan paha sebelah dalam. Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut

    menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin

    menjadi sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter. 4

    Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran

    kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas

    penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. 4

    Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke

    saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal

    (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal. 4

    PATOFISIOLOGI

    Secara teoritis batu dapat terbentuk di seluruh saluran kemih terutama pada

    tempat-tempat yang sering mengalami hambatan aliran urine (stasis urine), yaitu pada

    sistem kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pelvikalises (stenosis

    uretero-pelvis), divertikel, obstruksi infravesika kronis seperti pada hyperplasia prostat

    benigna, stiktura, dan buli-buli neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang

    memudahkan terjadinya pembentukan batu. 7

    Batu terdiri atas kristal-kristal yang tersusun oleh bahan-bahan organik

    maupun anorganik yang terlarut dalam urine. Kristal-kristal tersebut tetap berada dalam

    keadaan metastable (tetap terlarut) dalam urine jika tidak ada keadaan-keadaan tertentu

    yang menyebabkan terjadinya presipitasi kristal. Kristal-kristal yang saling mengadakan

    presipitasi membentuk inti batu (nukleasi) yang kemudian akan mengadakan agregasi

    dan menarik bahan-bahan lain sehingga menjadi kristal yang lebih besar. 7

    Meskipun ukurannya cukup besar, agregat kristal masih rapuh dan belum

    cukup mampu membuntu saluran kemih. Untuk itu agregat kristal menempel pada

    epitel saluran kemih (membentuk retensi kristal), dan dari sini bahan-bahan lain

    diendapkan pada agregat itu sehingga membentuk batu yang cukup besar untuk

    menyumbat saluran kemih. Kondisi metastabel dipengaruhi oleh suhu, pH larutan,

    adanya koloid di dalam urine, laju aliran urine di dalam saluran kemih, atau adanya

    korpus alienum di dalam saluran kemih yang bertindak sebagai inti batu. 7

    Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya renal kalkuli seperti : 5

    • A. Hiperparatiroidisme

    • B. Asidosis tubular renal

    • C. Malignansi

    • D. Penyakit granulomatosa ( sarcoidosis,tuberculosis)

    • E. Masukan vitamin D yang berlebihan

    • F. Masukan susu dan alkali

    • G. Penyakit mieloproliferatif ( leukaemia, polisitemia, mieloma multiple).

    Serta faktor presipitasi seperti: gaya hidup, intake cairan kurang, retensi urine,

    konsumsi vitamin C dosis tinggi, immobilisasi, dll. Semua kondisi diatas akan

    mempengaruhi keadaan metastabel dari zat-zat yang terlarut dalam urine, dimana

    keadaan metastabel ini sangat berkaitan dengan Ph larutan, suhu, konsentrasi solut

    dalam urine, dan laju aliran urine yang jika tidak seimbang maka akan menimbulkan

    pembentukan kristal-kristal urine yang lama-kelamaan akan membesar dan

    menimbulkan obstruksi traktus urinarius dan menimbulkan gejala seperti nyeri

    kostovertebral dan gejala lain tergantung daerah batu terbentuk. Apabila sebagian dari

    tractus urinarius mengalami obstruksi, urine akan terkumpul dibagian atas dari obstruksi

    dan mengakibatkan dilasi pada bagian itu. 6

    Otot-otot pada bagian yang kena berkontraksi untuk mendorong urine untuk

    melewati obstruksi. Apabila obstruksinya partial, dilatasi akan timbul dengan pelan

    tanpa gangguan fungsi. Apabila obstruksinya memberat, tekanan pada dinding ureter

    akan meningkat dan mengakibatkan dilatasi pada ureter (hydroureter). Volume urine

    yang terkumpul meningkat dan menekan pelvis dari ginjal dengan akibat pelvis ginjal

    berdilasi (hydrophrosis). Penambahan tekanan ini tidak berhenti pada pelvis saja tetapi

    bisa sampai ke jaringan-jaringan ginjal yang kemudian menyebabkan kegagalan renal. 7,8

    Obstruksi juga bisa mengakibatkan stagnansi urine. Urine yang stragnant ini bisa

    bisa menjadi tempat untuk perkembangan bakteri dan infeksi. Obstruksi pada tractus

    urinarius bawah dapat menyebabkan distensi bladder. Infeksi bisa timbul dan

    pembentukan batu. 8

    Obstruksi pada tractus urinarius atas bisa berkembang sangat cepat karena pelvis

    ginjal adalah lebih kecil bila dibandingkan dengan bladder. Peningkatan tekanan pada

    jaringan-jaringan ginjal dapat menyebabkan ischemia pada renal cortex dan medula dan

    dan dilatasi tabula-tabula renal. Statis urine pada pelvis ginjal bisa menyebabkan infeksi

    dan pembentukan batu, yang bisa menambah kerusakan pada ginjal. Ginjal yang sehat

    bisa mengadakan konpensasi, akan tetapi apabila obstruksi diperbaiki , ginjal yang sehat

    pun akan mengalami hypertrophy karena harus mengerjakan pekerjaan ginjal yang tak

    berfungsi. Obstrusi pada kedua ginjal bisa mengakibatkan kegagalan renal. 8

    DIAGNOSIS

    Diagnosa berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

     

    Anamnesa

    Batu Buli-buli

    Pada anak-anak ditemukan rasa sakit pada saat BAK, sehingga anak menangis

    dan menarik-narik penisnya, kadang-kadang dapat terjadi prolaps ani. Biasanya

    anak akan mengambil posisi tertentu yang memungkinkan urin keluar.

    Pada orang dewasa, terdapat TRIAS : hematuria, disuria, dan gangguan

    pancaran.

    Nyeri dapat hilang pada perubahan posisi.

    Jika batu sudah masuk kedalam uretra, maka akan terjadi retensio urin.

    Batu Ureter

    Colic pain, menyebar dari pinggang kearah testis. Nyeri tidak hilang pada

    perubahan posisi.

    Sering disertai perut kembung, mual dan muntah.

    Hematuria.

    Batu Ginjal

    Tidak mempunyai keluhan yang khas.

    Keluhan dapat timbul karena :

    • a. Infeksi (pielonefritis)

    • b. Batu masuk ke ureter

    Peradangan pelvokalises.

    Perlu ditanya usia penderita, tingkat social, riwayat keluar batu dan diet.

    Pemeriksaan Fisik

    Regio Costovertebra Angle

    Nyeri

    Ballottement/massa

    Regio Supra Simfisis

    Benjolan bulli-bulli

    Nyeri tekan

    Rabaan batu (dengan bimanual)

    Genitelia Eksterna

    Mungkin dapat meraba batu jika batu terletak pada uretra pars anterior

    Rectal Toucher

    Untuk mendeteksi adanya hipertrofi prostat

    Pemeriksaan Penunjang

    • 1. Foto Polos Abdomen Pembuatan foto polos abdomen bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya batu radio opak di saluran kemih. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat bersifat radio opak dan paling sering dijumpai diantara batu lain, sedangkan batu asam urat bersifat non opak (radio lusen).

    • 2. Pielografi Intra Vena (PIV) Pemeriksaan ini bertujuan menilai keadaan anatomi dan fungsi ginjal. Selain itu PIV dapat mendeteksi adanya batu semi-opak ataupun batu non opak yang tidak dapat terlihat oleh foto polos abdomen. Jika PIV belum dapat menjelaskan keadaan sistem saluran kemih akibat adanya penurunan fungsi ginjal, sebagai penggantinya adalah pemeriksaan pielografi retrograd.

    • 3. Ultrasonografi

    USG dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan PIV,

    yaitu pada keadaan-keadaan: alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal

    yang menurun, dan pada wanita yang sedang hamil. Pemeriksaan USG

    dapat menilai adanya batu di ginjal atau di buli-buli (yang ditunjukkan

    sebagai echoic shadow), hidronefrosis, pionefrosis, atau pengkerutan

    ginjal.

    • 4. Pemeriksaan Mikroskopik Urin, untuk mencari hematuria dan Kristal.

    • 5. Renogram, dapat diindikasikan pada batu staghorn untuk menilai fungsi ginjal.

    • 6. Analisis batu, untuk mengetahui asal terbentuknya.

    • 7. Kultur urin, untuk mecari adanya infeksi sekunder.

    • 8. DPL, ureum, kreatinin, elektrolit, kalsium, fosfat, urat, protein, fosfatase alkali serum. 3

    PENATALAKSANAAN

    Tujuan :

    • a. Menghilangkan batu untuk mempertahankan fungsi ginjal

    • b. Mengetahui etiologi untuk mencegah kekambuhan

    Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih secepatnya harus

    dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi untuk

    melakukan tindakan/terapi pada batu saluran kemih adalah jika batu telah

    menimbulkan obstruksi, infeksi, atau harus diambil karena suatu indikasi social.

    Obstruksi karena batu saluran kemih yang telah menimbulkan hidroureter atau

    hidronefrosis dan batu yang sudah menyebabkan infeksi saluran kemih harus segera

    dikeluarkan. Kadang kala batu saluran kemih tidak menimbulkan penyulit seperti diatas

    tetapi di derita oleh seseorang yang karena pekerjaannya (misalkan batu yang diderita

    oleh seorang pilot pesawat terbang) mempunyai resiko tinggi dapat menimbulkan

    sumbatan saluran kemih pada saat yang bersangkutan sedang menjalankan profesinya,

    dalam hal ini batu harus dikeluarkan dari saluran kemih.

    Kadang kala batu saluran kemih tidak menimbulkan penyulit seperti diatas,

    namun diderita oleh seorang yang karena pekerjaannya (misalkan batu yang diderita

    oleh seorang pilot pesawat terbang) memiliki resiko tinggi dapat menimbulkan

    sumbatan saluran kemih pada saat yang bersangkutan sedang menjalankan profesinya

    dalam hal ini batu harus dikeluarkan dari saluran kemih. Pilihan terapi antara lain :

    1.

    Terapi Konservatif

    Sebagian besar batu ureter mempunyai diameter <5 mm. Seperti disebutkan

    sebelumnya, batu ureter <5 mm bisa keluar spontan. Terapi bertujuan untuk

    mengurangi nyeri, memperlancar aliran urin dengan pemberian diuretikum,

    berupa :

    • a) Minum sehingga diuresis 2 liter/ hari

    • b) α - blocker

    • c) NSAID

    Batas lama terapi konservatif adalah 6 minggu. Di samping ukuran batu syarat

    lain untuk observasi adalah berat ringannya keluhan pasien, ada tidaknya infeksi

    dan obstruksi. Adanya kolik berulang atau ISK menyebabkan observasi bukan

    merupakan pilihan. Begitu juga dengan adanya obstruksi, apalagi pada pasien-

    pasien tertentu (misalnya ginjal tunggal, ginjal trasplan dan penurunan fungsi

    ginjal ) tidak ada toleransi terhadap obstruksi. Pasien seperti ini harus segera

    dilakukan intervensi. 10

    1. Terapi Konservatif Sebagian besar batu ureter mempunyai diameter <5 mm. Seperti disebutkan sebelumnya, batu ureter
    2. ESWL ( Extracorporeal Shockwave Lithotripsy ) Berbagai tipe mesin ESWL bisa didapatkan saat ini. Walau
    • 2. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)

    Berbagai tipe mesin ESWL bisa didapatkan saat ini. Walau prinsip

    kerjanya semua sama, terdapat perbedaan yang nyata antara mesin generasi lama

    dan baru, dalam terapi batu ureter. Pada generasi baru titik fokusnya lebih sempit

    dan sudah dilengkapi dengan flouroskopi, sehingga memudahkan dalam

    pengaturan target/posisi tembak untuk batu ureter. Hal ini yang tidak terdapat pada

    mesin generasi lama, sehingga pemanfaatannya untuk terapi batu ureter sangat

    terbatas. Meskipun demikian mesin generasi baru ini juga punya kelemahan yaitu

    kekuatan tembaknya tidak sekuat yang lama, sehingga untuk batu yang keras perlu

    beberapa kali tindakan. 9

    2. ESWL ( Extracorporeal Shockwave Lithotripsy ) Berbagai tipe mesin ESWL bisa didapatkan saat ini. Walau

    (http://piogama.ugm.ac.id/index.php/2009/02/gelombang-kejut-penghancur-batu-ginjal/)

    Dengan ESWL sebagian besar pasien tidak perlu dibius, hanya diberi

    obat penangkal nyeri. Pasien akan berbaring di suatu alat dan akan dikenakan

    gelombang kejut untuk memecahkan batunya Bahkan pada ESWL generasi

    terakhir pasien bisa dioperasi dari ruangan terpisah. Jadi, begitu lokasi ginjal

    sudah ditemukan, dokter hanya menekan tombol dan ESWL di ruang operasi akan

    bergerak. Posisi pasien sendiri bisa telentang atau telungkup sesuai posisi batu

    ginjal. Batu ginjal yang sudah pecah akan keluar bersama air seni. Biasanya

    pasien tidak perlu dirawat dan dapat langsung pulang.

    ESWL ditemukan di Jerman dan dikembangkan di Perancis. Pada Tahun

    1971, Haeusler dan Kiefer memulai uji coba secara in-vitro penghancuran batu

    ginjal menggunakan gelombang kejut. Tahun 1974, secara resmi pemerintah

    Jerman memulai proyek penelitian dan aplikasi ESWL. Kemudian pada awal

    tahun 1980, pasien pertama batu ginjal diterapi dengan ESWL di kota Munich

    menggunakan mesin Dornier Lithotripter HMI. Kemudian berbagai penelitian

    lanjutan dilakukan secara intensif dengan in-vivo maupun in-vitro. Barulah mulai

    tahun 1983, ESWL secara resmi diterapkan di Rumah Sakit di Jerman. Di

    Indonesia, sejarah ESWL dimulai tahun 1987 oleh Prof.Djoko Raharjo di Rumah

    Sakit Pertamina, Jakarta. Sekarang, alat generasi terbaru Perancis ini sudah

    dimiliki beberapa rumah sakit besar di Indonesia seperti Rumah Sakit Advent

    Bandung dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

    Pembangkit (generator) gelombang kejut dalam ESWL ada tiga jenis

    yaitu elektrohidrolik, piezoelektrik dan elektromagnetik. Masing-masing generator

    mempunyai cara kerja yang berbeda, tapi sama-sama menggunakan air atau

    gelatin sebagai medium untuk merambatkan gelombang kejut. Air dan gelatin

    mempunyai sifat akustik paling mendekati sifat akustik tubuh sehingga tidak akan

    menimbulkan rasa sakit pada saat gelombang kejut masuk tubuh.

    ESWL merupakan alat pemecah batu ginjal dengan menggunakan

    gelombang kejut antara 15-22 kilowatt. Meskipun hampir semua jenis dan ukuran

    batu ginjal dapat dipecahkan oleh ESWL, masih harus ditinjau efektivitas dan

    efisiensi dari alat ini. ESWL hanya sesuai untuk menghancurkan batu ginjal

    dengan ukuran kurang dari 3 cm serta terletak di ginjal atau saluran kemih antara

    ginjal dan kandung kemih (kecuali yang terhalang oleh tulang panggul). Hal laim

    yang perlu diperhatikan adalah jenis batu apakah bisa dipecahkan oleh ESWL atau

    tidak. Batu yang keras (misalnya kalsium oksalat monohidrat) sulit pecah dan

    perlu beberapa kali tindakan. ESWL tidak boleh digunakan oleh penderita darah

    tinggi, kencing manis, gangguan pembekuan darah dan fungsi ginjal, wanita hamil

    dan anak-anak, serta berat badan berlebih (obesitas).

    Penggunaan ESWL untuk terapi batu ureter distal pada wanita dan anak-

    anak juga harus dipertimbangkan dengan serius. Sebab ada kemungkinan terjadi

    kerusakan pada ovarium. Meskipun belum ada data yang valid, untuk wanita di

    bawah 40 tahun sebaiknya diinformasikan sejelas-jelasnya

    3.

    Endourologi

    Tindakan Endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk

    mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian

    mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke

    dalam saluran kemih. Alat itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil

    pada kulit (perkutan). Proses pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik,

    dengan memakai energi hidraulik, energi gelombang suara, atau dengan energi

    laser. 10

    Beberapa tindakan endourologi antara lain:

    a. PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) yaitu mengeluarkan batu yang

    berada di dalam saluran ginjal dengan cara memasukkan alat endoskopi ke

    sistem kalises melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau

    dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil. 8

    PNL yang berkembang sejak dekade 1980-an secara teoritis dapat

    digunakan sebagai terapi semua batu ureter. Tapi dalam prakteknya

    sebagian besar telah diambil alih oleh URS dan ESWL. Meskipun

    demikian untuk batu ureter proksimal yang besar dan melekat masih ada

    tempat untuk PNL. Prinsip dari PNL adalah membuat akses ke kalik atau

    pielum secara perkutan. Kemudian melalui akses tersebut kita masukkan

    nefroskop rigid atau fleksibel, atau ureteroskop, untuk selanjutnya batu

    ureter diambil secara utuh atau dipecah dulu. 8

    Keuntungan dari PNL, bila batu kelihatan, hampir pasti dapat

    diambil atau dihancurkan; fragmen dapat diambil semua karena ureter bisa

    dilihat dengan jelas. Prosesnya berlangsung cepat dan dengan segera dapat

    diketahui berhasil atau tidak. Kelemahannya adalah PNL perlu

    keterampilan khusus bagi ahli urologi. Sebagian besar pusat pendidikan

    lebih banyak menekankan pada URS dan ESWL dibanding PNL. 8

    • b. Litotripsi (untuk memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan alat pemecah batu/litotriptor ke dalam buli-buli),

    • c. ureteroskopi atau uretero-renoskopi. Keterbatasan URS adalah tidak bisa untuk ekstraksi langsung batu ureter yang besar, sehingga perlu alat pemecah batu seperti yang disebutkan di atas. Pilihan untuk menggunakan jenis pemecah batu tertentu, tergantung pada pengalaman masing-masing operator dan ketersediaan alat tersebut. 8

    • d. ekstraksi Dormia (mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya melalui alat keranjang Dormia).

    Pengembangan ureteroskopi sejak tahun 1980 an telah mengubah secara

    dramatis terapi batu ureter. Kombinasi ureteroskopi dengan pemecah batu

    ultrasound, EHL, laser dan pneumatik telah sukses dalam memecah batu ureter.

    Juga batu ureter dapat diekstraksi langsung dengan tuntunan URS.

    Dikembangkannya semirigid URS dan fleksibel URS telah menambah cakupan

    penggunaan URS untuk terapi batu ureter. 8

    • 4. Bedah Terbuka

    Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk

    tindakan-tindakan endourologi, laparoskopi, maupun ESWL, pengambilan batu

    masih dilakukan melalui pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka itu antara lain

    adalah: pielolitotomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu pada saluran ginjal,

    dan ureterolitotomi untuk batu di ureter. Tidak jarang pasien harus menjalani

    tindakan nefrektomi atau pengambilan ginjal karena ginjalnya sudah tidak

    berfungsi dan berisi nanah (pionefrosis), korteksnya sudah sangat tipis, atau

    mengalami pengkerutan akibat batu saluran kemih yang menimbulkan obstruksi

    atau infeksi yang menahun. 11

    Beberapa variasi operasi terbuka untuk batu ureter mungkin masih

    dilakukan. Tergantung pada anatomi dan posisi batu, ureterolitotomi bisa

    dilakukan lewat insisi pada flank, dorsal atau anterior. Meskipun demikian dewasa

    ini operasi terbuka pada batu ureter kurang lebih tinggal 1 -2 persen saja, terutama

    pada penderita-penderita dengan kelainan anatomi atau ukuran batu ureter yang

    besar. 11

    • 5. Pemasangan Stent

    Meskipun bukan pilihan terapi utama, pemasangan stent ureter terkadang

    memegang peranan penting sebagai tindakan tambahan dalam penanganan batu

    ureter. Misalnya pada penderita sepsis yang disertai tanda-tanda obstruksi,

    pemakaian stent sangat perlu. Juga pada batu ureter yang melekat (impacted). 11

    Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih, tindakan selanjutnya yang

    tidak kalah pentingnya adalah upaya menghindari timbulnya kekambuhan. Angka

    kekambuhan batu saluran kemih rata-rata 7% per tahun atau kurang lebih 50%

    dalam 10 tahun. 11

    KOMPLIKASI

    Dibedakan komplikasi akut dan komplikasi jangka panjang. Komplikasi akut

    yang sangat diperhatikan oleh penderita adalah kematian, kehilangan ginjal, kebutuhan

    transfusi dan tambahan intervensi sekunder yang tidak direncanakan. Data kematian,

    kehilangan ginjal dan kebutuhan transfusi pada tindakan batu ureter memiliki risiko

    sangat rendah. Komplikasi akut dapat dibagi menjadi yang signifikan dan kurang

    signifikan. Yang termasuk komplikasi signifikan adalah avulsi ureter, trauma organ

    pencernaan, sepsis, trauma vaskuler, hidro atau pneumotorak, emboli paru dan urinoma.

    Sedang yang termasuk kurang signifikan perforasi ureter, hematom perirenal, ileus,

    stein strasse, infeksi luka operasi, ISK dan migrasi stent. 6

    Komplikasi jangka panjang adalah striktur ureter. Striktur tidak hanya

    disebabkan oleh intervensi, tetapi juga dipicu oleh reaksi inflamasi dari batu, terutama

    yang melekat. Angka kejadian striktur kemungkinan lebih besar dari yang ditemukan

    karena secara klinis tidak tampak dan sebagian besar penderita tidak dilakukan evaluasi

    radiografi (IVP) pasca operasi. 6

    Obstruksi adalah komplikasi dari batu ginjal yang dapat menyebabkan

    terjadinya hidronefrosis dan kemudian berlanjut dengan atau tanpa pionefrosis yang

    berakhir dengan kegagalan faal ginjal yang terkena. Komplikasi lainnya dapat terjadi

    saat penanganan batu dilakukan. Infeksi, termasuk didalamnya adalah pielonefritis dan

    sepsis yang dapat terjadi melalui pembedahan terbuka maupun noninvasif seperti

    ESWL. Biasanya infeksi terjadi sesaat setelah dilakukannya PNL, atau pada beberapa

    saat setelah dilakukannya ESWL saat pecahan batu lewat dan obstruksi terjadi. Cidera

    pada organ-organ terdekat seperti lien, hepar, kolon dan paru serta perforasi pelvis

    renalis juga dapat terjadi saat dilakukan PNL, visualisasi yang adekuat, penanganan

    yang hati-hati, irigasi serta drainase yang cukup dapat menurunkan resiko terjadinya

    komplikasi ini. 6

    Pada batu ginjal nonstaghorn, komplikasi berupa kehilangan darah, demam,

    dan terapi nyeri yang diperlukan selama dan sesudah prosedur lebih sedikit dan berbeda

    secara bermakna pada ESWL dibandingkan dengan PNL. Demikian pula ESWL dapat

    dilakukan dengan rawat jalan atau perawatan yang lebih singkat dibandingkan PNL. 7

    Komplikasi akut meliputi transfusi, kematian, dan komplikasi keseluruhan.

    Dari meta-analisis, kebutuhan transfusi pada PNL dan kombinasi terapi sama (< 20%).

    Kebutuhan transfusi pada ESWL sangat rendah kecuali pada hematom perirenal yang

    besar. Kebutuhan transfusi pada operasi terbuka mencapai 25-50%. Mortalitas akibat

    tindakan jarang, namun dapat dijumpai, khususnya pada pasien dengan komorbiditas

    atau mengalami sepsis dan komplikasi akut lainnya. Dari data yang ada di pusat urologi

    di Indonesia, risiko kematian pada operasi terbuka kurang dari 1%. 6

    Komplikasi ESWL meliputi kolik renal (10,1%), demam (8,5%), urosepsis

    (1,1%) dan steinstrasse (1,1%). Hematom ginjal terjadi akibat trauma parietal dan

    viseral. Hasil studi pada hewan tidak menunjukkan adanya kelainan lanjut yang berarti.

    Dalam evaluasi jangka pendek pada anak pasca ESWL, dijumpai adanya perubahan

    fungsi tubular yang bersifat sementara yang kembali normal setelah 15 hari. Belum ada

    data mengenai efek jangka panjang pasca ESWL pada anak. 6

    Komplikasi pasca PNL meliputi demam (46,8%) dan hematuria yang

    memerlukan transfusi (21%). Konversi ke operasi terbuka pada 4,8% kasus akibat

    perdarahan intraoperatif, dan 6,4% mengalami ekstravasasi urin. Pada satu kasus

    dilaporkan terjadi hidrothoraks pasca PNL. Komplikasi operasi terbuka meliputi

    leakage urin (9%), infeksi luka (6,1%), demam (24,1%), dan perdarahan pascaoperasi

    (1,2%). Pedoman penatalaksanaan batu ginjal pada anak adalah dengan ESWL

    PENCEGAHAN

    Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih, tindakan selanjutnya yang tidak

    kalah pentingnya adalah upaya menghindari timbulnya kekambuhan. Angka

    kekambuhan batu saluran kemih rata-rata 7% pertahun atau kurang lebih 50% dalam 10

    tahun. 9

    Pencegahan yang dilakukan adalah berdasar atas kandungan unsure yang

    menyusun batu saluran kemih yang diperoleh dari analisis batu. Pada umumnya

    pencegahan ini berupa: 9

    • 1. Menghindari dehidrasi dengan minum cukup dan diusahakanproduksi urin sebanyak 2-3 liter perhari.

    • 2. Diet untuk mengurangi kadar zat-zat komponen pembentuk batu.

    • 3. Aktivitas harian yang cukup

    • 4. Pemberian medikamentosa. Beberapa diet yang dianjurkan untuk mengurangi kekambuhan adalah:

    • 1. Rendah protein, karena protein akan memacu ekskresi kalsium urin dan menyebabkan suasana urin menjadi lebih asam.

    • 2. Rendah oksalat

    • 3. Rendah garam, karena natriuresis akan memacu timbulnya hiperkalsiuri

    • 4. Rendah purin.

    • 5. Diet rendah kalsium tidak dianjurkan kecuali pada pasien yang menderitya hiperkalsiuri absortif tipe II.

    Masuk Masu Masu Asam Masuk Asam an air kan kan Lemak an air Lemak Kaliu Kaliu
    Masuk
    Masu
    Masu
    Asam
    Masuk
    Asam
    an air
    kan
    kan
    Lemak
    an air
    Lemak
    Kaliu
    Kaliu
    (Minyak
    (Minyak
    m
    ikan)
    Volu
    Volu
    Vit.
    Ekskre
    Vit.
    Ekskre
    Ekskres
    Ekskres
    me
    me
    B6
    si Ca,
    B6
    si Ca,
    i
    i
    urine
    urine
    , ,
    Oksalat
    Oksalat
    Kejenuhan
    Kejenuhan
    sistin sistin  
    kalsium
    kalsium
    oksalat oksalat  
    PENURUNAN Resiko
    Pembentukan Kristal (Batu)
    Saluran Kemih

    Prognosis

    Prognosis batu ginjal tergantung dari faktor-faktor ukuran batu, letak batu, dan

    adanya infeksi serta obstruksi. Makin besar ukuran suatu batu, makin buruk

    prognosisnya. Letak batu yang dapat menyebabkan obstruksi dapat mempermudah

    terjadinya infeksi. Makin besar kerusakan jaringan dan adanya infeksi karena faktor

    obstruksi akan dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal. 1

    Pada pasien dengan batu yang ditangani dengan ESWL, 60% dinyatakan

    bebas dari batu, sisanya masih memerlukan perawatan ulang karena masih ada sisa

    fragmen batu dalam saluran kemihnya. Pada pasien yang ditangani dengan PNL, 80%

    dinyatakan bebas dari batu, namun hasil yang baik ditentukan pula oleh pengalaman

    operator. 1

    DAFTAR PUSTAKA

    • 1. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi IV. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta. 2006.

    • 2. Price; Wilson. Patofisiologi. Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit. Volume 2. Edisi 6. ECG Michigan. 2002.

    • 3. W Schrier, Robert. Manual of Nephrology: Diagnosis and Therapy. 5th Edition. Lippincott Williams & Wilkins Publishers. October 1999. hal 12

    • 4. Tiselius HG, Ackermann D, Alken P,dkk. Guidelines on urolithiasis. Dalam : EAU guidelines. Edition presented at the 16 th EAU Congress, Geneva, Switzerland 2001

    • 5. Tiselius HG, Ackerman D, Alken P, dkk. Guidelines on urolithiasis. Dalam : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=pubmed&dopt

    • 7. Schwart’z : Principles of Surgery 8 th ed. New York. McGraw-Hill Companies.2007, chapter 39.

    • 8. Snell. Richard S. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Jakarta : EGC . 2006

    • 9. Türk,C.Guidelines on Urolithiasis. European Association of Urology. 2011.

    10. Pearle, Margaret S. Urolithiasis, chapter 8. 2011.

    11. Sherwood, Lauralee. Fisiologi manusia dari Sel ke Sistem, Edisi I. Jakarta : EGC.

    2001.