Anda di halaman 1dari 6

Proceeding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XIV (SNTTM XIV)

Banjarmasin, 7-8 Oktober 2015

Studi Eksperimental tentang Karakteristik Turbin Angin Sumbu Vertikal


Jenis Darrieus-Savonius
Bambang Arip Dwiyantoro*, Vivien Suphandani dan Rahman
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS),
Kampus ITS, Sukolilo, Surabaya 60111 Indonesia
*

bambangads@me.its.ac.id

Abstrak
Turbin angin sumbu vertikal merupakan alat yang sedang dikembangkan dalam menghasilkan
energi dari hembusan angin. Salah satu penyebab masih sedikitnya penggunaan energi dari angin
adalah desain dari turbin angin yang kurang tepat. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan
dikembangkan desain turbin angin sumbu vertikal jenis Darrieus-Savonius yang optimal dan diuji
karakteristiknya dengan metode eksperimental. Metode yang digunakan untuk mendesain turbin
angin adalah dengan melakukan studi literatur, menganalisa bagian kritis dari turbin angin dan
menganalisa struktur desain yang optimal. Prototipe turbin angin dari desain yang optimal
dilakukan uji karakteristik di wind tunnel secara eksperimental dengan memvariasikan kecepatan
angin. Dari hasil eksperimen menunjukkan bahwa semakin besar kecepatan angin maka semakin
besar pula putaran turbin angin dan torsi yang dibangkitkan. Dihasilkan desain turbin angin sumbu
vertikal jenis Darrieus-Savonius yang mampu menghasilkan daya 500 Watt dengan kecepatan angin
rata-rata 7.5 m/s.
Kata kunci : turbin angin, sumbu vertikal, Darrieus, Savonius, karakteristik, wind tunnel

Pendahuluan
VAWT (Vertical Axis Wind Turbine) dapat
digolongkan menjadi dua tipe yaitu tipe lift dan
drag. Contoh turbin vertikal tipe lift yaitu turbin
Darrieus. Kelebihan turbin tipe lift adalah
kemampuan mengekstraksi daya dari fluida
dengan baik terutama pada kecepatan tinggi.
Kelemahan dari turbin Darrieus adalah
diperlukannya sumber eksternal sebagai
pendorong awal (starting). Berbagai penelitian
telah dilakukan untuk mengatasi kelemahan ini
[1, 2]. Permasalahan stall sudu pada kecepatan
rendah di wind turbine Darrieus dapat diatasi
dengan memberikan pitch (sudu dapat diputar
pada sumbu span), sehingga angle of attack pada
sudu bervariasi utk berbagai kecepatan angin.
Pada turbin tipe drag, momentum aliran yang
menumbuk
permukaan
sudu
akan
mengakibatkan rotor berputar. Salah satu contoh
turbin tipe drag adalah turbin Savonius.
Kelebihan dari turbin tipe drag adalah
kemampuan self-starting dengan kecepatan
angin yang kecil, sehingga tidak diperlukan

bantuan dorongan eksternal. Kelemahannya


adalah kecepatan putaran maksimum dari rotor
yang tidak dapat melebihi kecepatan angin.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk
memperbaiki performa dari turbin Savonius,
antara lain dengan memvariasikan jumlah sudu
bucket dan jarak antar bucket [3].

Gambar 1. Konfigurasi VAWT hybrid [4]


Dengan adanya berbagai kelebihan dan
kelemahan yang dimiliki baik oleh VAWT tipe
lift maupun tipe drag, maka dikembangkan

KE-17

Proceeding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XIV (SNTTM XIV)


Banjarmasin, 7-8 Oktober 2015

turbin angin sumbu vertikal tipe hybrid yang


merupakan kombinasi tipe Darrieus dan tipe
Savonius (hybrid D-S). Darrieus turbin bisa
digunakan untuk berbagai arah angin, tetapi
memiliki torsi yang rendah (kendala saat selfstarting). Desain hybrid D-S dikembangkan
untuk mendapatkan torsi yg lebih besar untuk
self-starting. Terdapat dua konfigurasi untuk tipe
hybrid D-S. Pada konfigurasi pertama, rotor
Savonius terletak pada pada poros dengan lokasi
aksial yang sama (align) dengan sudu Darrieus.
Untuk konfigurasi ini, rotor Savonius tampak
berada didalam sudu Darrieus, seperti
ditunjukkan pada Gambar 1a. Untuk konfigurasi
kedua, rotor Savonius dan sudu Darrieus terletak
pada lokasi aksial yang berbeda, sehingga rotor
Savonius tampak berada diluar sudu Darrieus,
seperti ditunjukkan pada Gambar 1b.

dan Savonius pada lokasi aksial yang berbeda


(type-B) mampu mengekstraksi daya lebih besar
[4]. Namun disisi lain, hasil pemodelan dinamik
dengan dimensi turbin yang bervariasi dan
berbagai kondisi angin menyimpulkan bahwa
type-B tidak selalu memberikan performa yang
lebih baik daripada type-A. Secara umum,
dimensi yang lebih besar akan memberikan
koeffisien daya efektif yang cenderung menurun.
Namun, turbin type-B menunjukkan penurunan
yang sangat signifikan pada dimensi besar untuk
hembusan angin dengan durasi pendek. Dari
grafik tersebut, secara umum type-A lebih cocok
digunakan untuk aplikasi wind turbin tunggal
karena performanya yang relatif konsisten dalam
berbagai kondisi. Namun untuk aplikasi wind
turbin kecil (dengan radius dibawah atau sekitar
1 m), type-B mempunyai koefisien daya yang
lebih baik.

Penelitian
dengan
terowongan
angin
menunjukkan turbin dengan letak sudu Darrieus

Gambar 2. Desain VAWT Darrieus-Savonius

Tabel 1. Spesifikasi VAWT Darrieus-Savonius


Bagian bergerak
Darrieus Blade:
Airfoil:

3 Blades (each 120)


Symetric dengan chord length : 10 cm
KE-17

Proceeding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XIV (SNTTM XIV)


Banjarmasin, 7-8 Oktober 2015

Savonius Blade:
Airfoil:
Shaft:

2 level Savonius Blade


Half Round type
Double Shaft System (inner dan outer).
Bagiam tetap (tower)

Tinggi:

4 m (dari ground)

Diameter:

14 cm dengan thickness 0.8 cm

Gambar 2 menunjukkan desain turbin


angin tipe Darrieus-Savonius, dimana dibuat
dengan menggabungkan jenis Darrieus
turbin angin dengan Savonius turbin angin.
Turbin angin jenis DS memiliki tinggi 2,16
m, dan diameter 2,34 m. Ada tiga buah
Darrieus blade, dan dua tingkat Savonius
blade turbin angin. Generator listrik terletak
di bawah sistem blade keseluruhan. Tabel 1
menunjukkan spesifikasi turbin angin jenis
Darrieus-Savonius.

dimana CD adalah besarnya coefficient of


drag dan A adalah frontal area dari sudu yang
terkena angin yaitu luasan penampangan
dari luasan darrieus dijumlah dengan luasan
savonius dalam satuan meter persegi.
Nilai torsi statis didapatkan ketika turbin
mulai berputar dari keadaan diam. Hal ini
menunjukkan bahwa kecepatan angin yang
menyebabkan turbin dapat berputar dari
keadaan diam adalah kecepatan angin
minimum. Besarnya coefficient of torque
(CT) dapat dirumuskan:

Perhitungan turbin angin


Daya yang dihasilkan pada poros suatu
turbin angin merupakan transformasi energi
kinetik yang terdapat pada aliran angin.
Besarnya nilai torsi dari turbin angin darrieus
rotor
kombinasi
savonius
adalah
penjumlahan dari besar torsi yang dihasilkan
oleh sudu darrieus dan sudu savonius.
Besarnya torsi (T) yang dihasilkan dapat
dihitung sebesar [5]:

..........................(3)

Koefisien daya total yang dimiliki oleh


suatu turbin
angin, yaitu kemampuan
sebuah turbin angin untuk menghasilkan
daya. Koefisien daya total (CP) didapat dari
persamaan:

T = FD . r .........................................(1)
FD adalah gaya yang terjadi di turbin angin
dan r adalah jarak lengan gaya terhadap
sumbu. Gaya ini didapat dari perumusan:

CP = CT . .......................................(4)

FD = 0.5 CD V A ...........................(2)

adalah tip speed ratio (TSR) dari turbin


angin darrieus-savonius. Besar tip speed

KE-17

Proceeding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XIV (SNTTM XIV)


Banjarmasin, 7-8 Oktober 2015

ratio didapat menggunakan persamaan:

terjadi saat angin mengenai penampang


sudu darrieus, akan tetapi karena sudu
darrieus pada penelitian ini tidak memiliki
sudut serang (angle of attack) maka gaya
yang terjadi hanya gaya drag. Tabel 3
menunjukkan hasil perhitungan gaya pada
turbin angin.

......................................(5)

D adalah diameter dari turbin angin skala


model darrieus-savonius dalam satuan meter,
sedangkan adalah kecepatan angular.

Tabel 3. Hasil perhitungan gaya pada turbin


Kecepatan
Gaya
Gaya
Gaya
angin
pada sudu pada sudu total
(m/s)
darrieus
savonius
(N)
(N)
(N)

Hasil Pengujian dan Diskusi


7,5
7,8
8,1
8,4
8,7
9
9,3
9,9
10,4
10,5

Pengujian yang dilakukan pada wind


tunnel
menghasilkan
beberapa
data
diantaranya adalah arus listrik, tegangan
listrik, kecepatan angin dan putaran dari
turbin angin. Tabel 2 merupakan data yang
didapat dari hasil pengujian di wind tunnel.
Sebelum melakukan pengambilan data di
wind tunnel terlebih dulu dilakukan
kalibrasi agar data yang didapatkan benarbenar
sesuai
dengan
kondisi
yang
sebenarnya.
Tabel 2. Data pengujian
Kecepatan
I
V
angin
(A)
(Volt)
(m/s)
7,5
0.0038
1.1352
7,8
0.0073
1.2725
8,1
0.0174
1.4873
8,4
0.0231
1.5517
8,7
0.0262
1.6218
9
0.0282
1.6782
9,3
0.0314
1.7311
9,9
0.0354
1.7651
10,4
0.0377
1.8223
10,5
0.0402
1.8672

0,007
0,007
0,008
0,009
0,011
0,012
0,013
0,014
0,015
0,016

1,045
1,126
1,183
1,239
1,297
1,388
1,481
1,677
1,849
1,885

1,05
1,13
1,19
1,25
1,31
1,40
1,49
1,69
1,86
1,90

Angin yang datang menyebabkan gaya


drag terjadi pada sudu darrieus dan pada
sudu savonius. Besarnya nilai coefficient of
drag bentuk C-section open facing flow
(C D =0.09) lebih besar daripada coefficient
of drag bentuk C-section open facing
downstream (C D =0.06) sehingga gaya drag
yang dihasilkan juga lebih besar. Nilai
koefisien power skala model yang didapatkan
ditunjukkan pada Tabel 4.

P
(Watt)
0,007
0,015
0,038
0,056
0,066
0,074
0,085
0,097
0,105
0,114

Tabel 4. Nilai koefisien power skala model


Putaran
V
TSR
CT
CP
turbin
(m/s)
(rpm)
742
762
786
836
858

Dalam pengujian ini, gaya yang terjadi


sesaat angin mengenai turbin angin adalah
gaya drag dan gaya lift. Gaya drag terjadi
saat angin mengenai penampang sudu
darrieus-savonius, sedangkan gaya lift
KE-17

7,5
7,8
8,1
8,4
8,7

0,859
0,867
0,872
0,883
0,886

0,15
0,16
0,18
0,21
0,23

0,13
0,14
0,16
0,19
0,20

Proceeding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XIV (SNTTM XIV)


Banjarmasin, 7-8 Oktober 2015

892
912
942
976
992

9
9,3
9,9
10,4
10,5

0,890
0,894
0,892
0,904
0,947

0,27
0,29
0,33
0,38
0,43

tunnel 7,5 m/s dengan putaran turbin angin


742 rpm. Grafik diatas menunjukkan
semakin besar kecepatan angin yang
mengenai sudu turbin angin maka putaran
yang dihasilkan juga semakin besar. Hal ini
disebabkan energi yang dimiliki oleh angin
semakin besar kecepatan angin yang terjadi
sehingga dapat menghasilkan putaran turbin
yang semakin tinggi.

0,24
0,26
0,30
0,34
0,39

Gambar 3 menunjukkan hubungan antara


kecepatan angin (V) yang mengenai sudu
turbin angin dengan putaran (n) yang
dihasilkan oleh turbin angin. Data dihasilkan
pada saat turbin angin mulai menghasilkan
daya yaitu pada kecepatan angin di wind

Gambar 3. Grafik hubungan antara putaran turbin amngin model terhadap kecepatan angin

Gambar 4. Grafik hubungan antara koefisien power turbin angin model terhadap TSR
Gambar 4 menggambarkan perbandingan
antara koefisien power dari turbin angin

model terhadap tip speed ratio. Koefisien


power dari suatu turbin angin akan
KE-17

Proceeding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XIV (SNTTM XIV)


Banjarmasin, 7-8 Oktober 2015

sebab itu koefisien power dari turbin angin


semakin meningkat. Desain turbin angin ini
mampu menghasilkan daya 500 Watt pada
kecepatan angin 7.5 m/s.

meningkat seiring dengan meningkatnya tip


speed ratio. Hal ini disebabkan karena tip
speed ratio dipengaruhi oleh kecepatan
angin yang mengenai sudu turbin angin,
dimana semakin besar kecepatan angin maka
tip speed ratio semakin besar. Turbin
mengalami C P maksimum pada TSR 0,95
yaitu sebesar 42 %.

Referensi
[1] M. N. Nahas, A self-starting darrieustype windmill, Energy 18 (1993) 899-906.
[2] Howell, Robert, and N. Durrani, Wind
tunnel and numerical study of a small VAWT,
Renewable Energy 35 (2010) 412-422.
[3] R. Gupta and K. K. Sharma, Flow physics
of a combined darrieus-savonius rotor using
computational fluid dynamics, Int. Research
J. Eng. Sci., Tech. and Innov. 1 (2012) 1-13.
[4] Wakui and T. Nagao, Hybrid configurat of
Darrieus and Savonius rotors for standalone
wind turbinegenerator systems, Electrical
Eng. in Japan 150 (2005) 13-22.
[5] J. F. Walker and J. Nicholas, Wind energy
technology, Washington, 1997.

Konsep flow similarity digunakan dalam


proses ini untuk mendapatkan kondisi di
lapangan, dalam hal ini prototipe turbin
angin riil, yang sesuai dengan kondisi di
laboratorium pada saat pengujian dengan
turbin angin model. Untuk melakukan
analisa flow similarity, syarat pertama adalah
geometric similarity, dimana bentuk dari
turbin angin model dan prototipe harus sama.
Syarat yang kedua adalah kinematic
similarity, yaitu karakteristik aliran yang
melintasi turbin angin model harus sama
dengan aliran yang melintasi turbin angin
prototipe. Syarat ketiga adalah dynamic
similarity, dimana semua gaya yang terjadi
pada turbin angin model harus mempunyai
rasio yang sama pada turbin angin
prototype. Dari analisa non dimensional
parameter didapatkan:

......(6)

Bila tip speed ratio (TSR) pada


angin prototipe ( p ) sama dengan tip
ratio rata-rata turbin angin model
sebesar 0,86, maka besarnya daya
yang dihasilkan sebesar 500 Watt

turbin
speed
yaitu
turbin

Kesimpulan
Dari hasil pengujian karakteristik turbin angin
sumbu vertikal jenis Darrieus-Savonius
menunjukkan bahwa semakin besar kecepatan
angina menyebabkan energi yang dihasilkan
oleh turbin angin juga semakin besar, oleh
KE-17