Anda di halaman 1dari 16

KINETIKA OBAT

1.

Tujuan
Mampu memperkirakan masa kadaluarsa zat aktif yang diberikan

2.

Prinsip
2.1. Berdasarkan peruraian sediaan farmasi yang disebabkan oleh kenaikan
suhu
2.2. Berdasarkan kecepatan sediaan yang terurai pada suhu penyimpanan

3.

Teori
Pada umunya penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan dengan cara

kinetika kimia. Cara ini tidak memerlukan waktu yang lama sehingga praktis
digunakan dalam bidang farmasi. Hal-hal yang penting diperhatikan dalam penentuan
kestabilan suatu zat dengan cara kinetika kimia adalah (Anonim, 2004) :

Kecepatan reaksi
Farktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi
Tingkat reaksi dengan cara penentuannya

Stabilitas suatu obat adalah suatu pengertian yang mencakup masalah kadar obat
yang berkhasiat. Batas kadar obat yang masih bersisa 90% tidak dapat lagi disebut
sub standar waktu diperlukan hingga tinggal 90% disebut umur obat. ( Alfred Martin,
1983 )
Ada bebrapa pendekan untuk kestabilan dari preparat-preparat farmasi yang
mengandung obat-obat yang cenderung mengurai dengan hidrolisis. Barang kali
paling nyata adalah reduksi atau eliminasi air dari sistem farmasi. Bahkan bentukbentuk sediaan padat yang mengandung obat-obat labil dalam air dari harus
dilindungi dari kelembaban atmosfer. Ini dapat dibantu dengan menggunakan suatu
penyalutan pelindung tahan air menyelimuti tablet atau dengan menutup dan menjaga
obat dalam wadah yang tertutup rapat. (Lachman, 1994)
Suatu obat kestabilannya dapat dipengaruhi juga oleh pH, dimana reaksi
penguraian dari larutan obat dapat dipercepat dengan penambahan asam (H +) atau
basa (OH-) dengan menggunakan katalisator yang dapat mempercepat reaksi tanpa
ikut bereaksi dan tidak mempengaruhi hasil dari reaksi. (Ansel, 1989)
1

Kestabilan dari suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam
membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal itu penting mengingat sediaannya
biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan juga memrlukan waktu yang lama
untuk sampai ketangan pasien yang membutuhkannya. Oabt yang disimpan dalam
jangka waktu yang lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan hasil urai
dari zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat membahaykan jiwa pasien. Oleh
karena itu, perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kestabilan suatu
zat hingga dapat dipilih suatu kondisi dimana kestabilan obat tersebut optimum.
(Anonim, 2004).
Stabilitas fisik dan kimia bahan obat baik dan trsendiri dengan bahan bahan
dari formulasi yang merupakan kriteria paling penting untuk menentukan suatu
stabilitas kimia dan farmasi serta mempersatukannya sebelum memformulasikan
menjadi bentuk-bentuk sediaan. (Ansel, 1989).
Untuk obat-obat tertentu 1 bentuk kristal atau polimorf mungkin lebih stabil dari
pada lainnya, hal ini penting supaya obat dipastikan murni sebelum diprakarsai
percobaan uji stabilitasnya dan suatu ketidakmurnian mungkin merupakan katalisator
pada kerusakan obat atau mungkin menjadikan dirinya tidak akan stabil dalam
mengubah penampilan fisik bahan obat. (Parrot, 1968).
Kestabilan suatu sediaan farmasi dapat dievaluasi dengan test stabilitas
dipercepat dengan mengamati perubahan kosentrasi pada suhu yang tinggi.
(Lachman, 1994).
Kestabilan suatu obat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktore antara lain panas,
cahaya, oksigen, kelembaban, pengaruh pH dan mikroorganisme. Disini kestabilan
suatu obat dapat dipercepat dengan meningkatkan suhunya. Dengan demikian batas
waktu kadaluarsa dari suatu obat dapat diketahui dengan tepat. (Anonim, 2004).
Interkonversi bentuk hidrat dan anhidrat dari ampicilin dapat memiliki efek yang
berkaitan pada laju pelarutan dari formulasi berarti berkaitan dengan ketersediaan
hayati. Bentuk dari anhidrat lebih larut dibandingkan dengan berat murni
kelarutannya pada suhu 37o C telah ditentikan bagian fungsi dari pil untuk ke suatu
bentuk kristal. (A.C. Kenneth, 1991).

Perbedaan bahan obat karena susunan kimianya masing-masing memasukkan


pengaruhnya dalam sistem biologi. Beberapa bulan dihubungkan dengan lainnya
secara kimiawi dan memasukkan pengaruh yang sama. Modifikasi bahan obat yang
ada secara kimia dapat menghasilkan senyawa baru dengan kelebihan-kelebihan
terapeutiknya dibandingkan dengan senyawa-senyawa yang paten. Jadi suatu ciri
senyawa mungkin diolah secara sintesis dari suatu susunan aktifitas dasar
farmakologi untuk mendapatkan bahan-bahan obat yang lebih baik dalam satu
kelompok senyawa . senyawa-senyawa yang mempunyai kelebihan terhadap lainnya
akan didahulukan pengembangan & pemakaian.(Ansel, 1989)
Kadaluarsa obat adalah berakhirnya batas aktif dari obat yang memungkinkan
obat menjadi kurang aktif atau menjadi toksik (beracun). Kadaluarsa obat juga
diartikan sebagai batas waktu dimana produsen obat menyatakan bahwa suatu produk
dijamin stabil dan mengandung kadar zat sesuai dengan yang tercantum dalam
kemasannya pada penyimpanan sesuai dengan anjuran. Dalam penggunaan obat
dikenal istilah medication error, yaitu pemakaian obat yang tidak tepat dan
menimbulkan kerugian pada pasien, walaupun pengobatan tersebut berada dalam
pengawasan profesional kesehatan, pasien dan konsumen. Salah satu komponen
penting dalam medication error adalah deteriorated drug error, yaitu penggunaan
obat yang telah kadaluarsa atau integritas secara fisik dan kimia telah menurun.
Untuk menentukan kecepatan dekomposis suatu obat, digunakan metode
elevated, terurainya obat tersebut dipercepat dengan memanaskannya pada
temperature yang lebih tinggi. Log K versus 1/T dinyatakan dalam grafik dengan
menentukan persamaan garis regresi linear akan didapatkan harga K pada
temperature kamar untuk menetukan waktu kadaluarsa obat. Metode ini dikenal
sebagai studi stabilitas dipercepat.
Stabilitas obat adalah derajat degradasi suatu obat dipandang dari segi kimia.
Stabilitas obat dapat diketahui dari ada tidaknya penurunan kadar selama
penyimpanan. Pada pembuatan obat harus diketahui waktu paro suatu obat. Waktu
paro suatu obat dapat memberikan gambaran stabilitas obat, yaitu gambaran
kecepatan terurainya obat atau kecepatan degradasi kimiawinya. Panas, asam-asam,

alkali-alkali, oksigen, cahaya, kelembaban dan faktor-faktor lain dapat menyebabkan


rusaknya obat. Ada dua hal yang menyebabkan ketidakstabilan obat, yang pertama
adalah labilitas dari bahan obat dan bahan pembantu, termasuk struktur kimia
masing-masing bahan dan sifat kimia fisika dari masing-masing bahan. Yang kedua
adalah faktor-faktor luar, seperti suhu, cahaya, kelembaban, dan udara, yang mampu
menginduksi atau mempercepat reaksi degradasi bahan. Skala kualitas yang penting
untuk menilai kestabilan suatu bahan obat adalah kandungan bahan aktif, keadaan
galenik, termasuk sifat yang terlihat secara sensorik, secara miktobiologis,
toksikologis, dan aktivitas terapetis bahan itu sendiri. Skala perubahan yang diijinkan
ditetapkan untuk obat yang terdaftar dalam farmakope. Kandungan bahan aktif yang
bersangkutan secara internasional ditolerir suatu penurunan sebanyak 10% dari
kandungan sebenarnya (Voight, R., 1994).
Kestabilan dari suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam
membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal itu penting mengingat sediaannya
biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan juga memrlukan waktu yang lama
untuk sampai ketangan pasien yang membutuhkannya. Oabt yang disimpan dalam
jangka waktu yang lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan hasil urai
dari zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat membahaykan jiwa pasien. Oleh
karena itu, perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kestabilan suatu
zat hingga dapat dipilih suatu kondisi dimana kestabilan obat tersebut optimum.
Stabilitas fisik dan kimia bahan obat baik dan tersendiri dengan bahan bahan dari
formulasi yang merupakan kriteria paling penting untuk menentukan suatu stabilitas
kimia dan farmasi serta mempersatukannya sebelum memformulasikan menjadi
bentuk-bentuk sediaan.

Stabilitas obat adalah suatu pengertian yang mencakup masalah kadar obat yang
berkhasiat. Batas kadar obat yang masih tersisa 90 % tidak dapat lagi atau disebut
sebagai sub standar waktu diperlukan hingga tinggal 90 % disebut umur obat. Orde
reaksi dapat ditentukan dengan beberapa metode, diantaranya :
a. Metode Substitusi
4

Data yang terkumpul dari hasil pengamatan jalannya suatu reaksi


disubstitusikan ke dalam bentuk integral dari persamaan berbagai orde reaksi. jika
persamaan itu menghasilkan harga K yang tetap konstan dalam batas-batas variasi
percobaan, maka reaksi dianggap berjalan sesuai dengan orde tersebut.
b. Metode Grafik
Plot data dalam bentuk grafik dapat digunakan untuk mengetahui orde reaksi
tersebut. Jika konsentrasi di plot terhadap t dan didapat garis lurus, reaksi adalah orde
nol. Reaksi dikatakan orde pertama bila log (a-x) terhadap t menghasilkan garis lurus.
Suatu reaksi orde kedua akan memberikan garis lurus bila 1/ (a-x) diplot terhadap t
(jika konsentrasi mula-mula sama). Jika plot 1 /(a-x) terhadap t menghasilkan garis
lurus dengan seluruh reaktan sama konsentrasi mula-mulanya,reaksi adalah orde
ketiga.
c. Metode Waktu Paruh
Dalam reaksi orde nol, waktu paruh sebanding dengan konsentrasi awal, a.
Waktu paruh reaksi orde pertama tidak bergantung pada a; waktu paruh untuk reaksi
orde kedua, dimana a = b sebanding dengan 1/a dari dalam reaksi orde ketiga,
dimana a = b = c, sebanding dengan 1/a. Umumnya berhubungan antar hasil di atas
memperlihatkan waktu paruh suatu reaksi dengan konsentrasi seluruh reaktan sama.
Ada beberapa pendekatan untuk kestabilan dari preparat-preparat farmasi yang
mengandung obat-obat yang cenderung mengurai dengan hidrolisis. Barangkali
paling nyata adalah reduksi atau eliminasi air dari sistem farmasi. Bahkan bentukbentuk sediaan padat yang mengandung obat-obat labil air harus dilindungi dari
kelembaban atmosfer. Ini dapat dibantu dengan menggunakan suatu penyalut
pelindung tahan air menyelimuti tablet atau dengan menutup dan menjaga obat dalam
Wadah tertutup kuat (Martin, 1993).
Ketidakstabilan yang terpenting adalah secara fisik :
a. Perubahan struktur kristal
Banyak

bahan

obat

menunjukkan

sifat

polimorf

artinya

mereka

berkemampuan muntuk muncul dalam modifikasi yang berlainan. Selama


penyimpanan dapat berlangsung perubahan polimorf, yang disebabkan perubhan

lingkungan dalam sediaan obat yang tidak dapat dilihat secara orgaleptik, tetapi
umumnya menyebabkan perubahan dalam sikap pelepasan dan sikap rebsorbsinya.
b. Perubahan keadaan distribusi
Melalui

efektivitas

gravitasi

pada

cairan

sistem

berfase

banyak

memungkinkan terjadi munculnya pemisahan, yang mula-mula terasakan hanya


sebagai pergeseran tingkat dispersitas yang dapat dilihat secara mikroskopis, tetapi
dalam stadium yang lebih maju dapat juga dilihat secara makroskopis sebagai
sedimentasi atau pengapungan.
c. Perubahan konsistensi dan agregat
Sediaan obat semi padat seperti salep dan pasta selama penyimpanannya
seringkali mengeras kemudia yang dalam kasus ekstrim mengarahnya padda suatu
kerugian daya penarapannya.
d. Perubahan perbandingan kelarutan
Pada sistem dispersi monokuler misalnya larutan bahan obat dapat
menyebabkan terlampauinya produk kelarutan, dengan demikian terjadi pemisahan
(pengendapan) dari bahan terlarut melampaui perubahan konsentrasi yang disebabkan
oleh penguapan bahan pelarut atau melalui perubahan suhu.
e. Perubahan perbandingan hidratasi
Melalui pengambilan atau pelepasan dari cairan perbandingan hidratasi
senyawa dipengaruhi dan denggan demikian menentukan sifat. Contoh yang jelas
nyata

adalah

pencairan

atau

menjadi

kotornya

ekstrak

disebabkan

oleh

higroskopisitas yang besar dari sediaan ini (Ansel, 1985).

4.

Alat dan Bahan


4.1. Alat :
Spektrofotometri Uv/Vis
Gelas Ukur
Labu Ukur
Vial
Incubator/ oven
6

4.2. Bahan
Aquadest
KMnO4
5. Prosedur
5.1. Pembuatan spectrum absorpsi
Dibuat larutan induk zat aktif dengan konsentrasi yang telah ditentukan
terlebih dahulu (A=0,2-0,8) kemudian diukur panjangan gelombang maksimum zat
aktif menggunakan spektrofotometer UV/Vis
5.2. Pembuatan kurva baku
Dibuat 8 seri larutan dengan variasi konsentrasi dari larutan induk yang telah
dibuat, kemudian dihitung absorbansi masing-masing larutan pada panjang
gelombang maksimumnya, kemudian dibuat kurva antara absorbansi terhadap
konsentrasi
5.3. Penentuan kinetika
Laju uji stabilitas dipercepat pada suhu 70, 80,90C, disiapkan 16 vial
untuk masing masing suhu, diisi tiap vial dengan larutan induk zat aktif sebanyak
5mL, kemudian dipanaskan 16 vial tersebut pada suhu yang telah ditetapkan, diambil
2 vial masing masing suhu setelah 10 menit pemanasan, kemudin dilakukan
pengukuran absorbansi pada panjang gelombang maksimum dan ditentukan
konsentrasinya, konsentrasi ini merupakan awal tiap tiap suhu.dilakukan pengukuran
diatas pasa (t) = 1,2,3,4,5,6, dan 7 jam, waktu dihitung setelah pengambilan awal.
Ditentukn konsentrasi masing-masing waktu (t) dengan mamasukan harga absorbansi
kedalam persamaan kurva kalibrasi. Dibuat kurva konsentrasi terhadap waktu
padamasing masing suhu.
5.4. Penentuan waktu kadaluarsa
Ditentukan tingkat reaksi pengurainberdasarkan kurva konsentrasi terhadap
waktu, kemudian dihitung besar energy aktivasi dengan persamaan Arrhenius,
kemudian ditentukan waktu kadaluarsa pada suhu kamar.
6. Data Pengamatan
6.1. Tabel kurva baku

Konsentrasi

Konsentrasi dalam ppm

uji
1
2
3
4
5
6
7
8

(Sumbu X)
9
12
15
18
21
24
27
30

Absorbansi (Sumbu Y)
0.167
0.215
0.258
0.293
0.341
0.387
0.424
0.452

6.2. Grafik Kurva Baku

6.3 Tabel Pengamatan Konsentrasi KMnO4


Konstanta Suhu 70 (K40)
waktu menit
ke- (Sumbu X)
0
10
20
30
40

Absorbansi
0.452
0.401
0.4
0.384
0.333

Konsentrasi
dalam ppm (C)
29.26
25.565
25.492
24.333
20.637

Cuji/Co
1
0.873718387
0.871223513
0.831613124
0.705297334

Ln C/Co
(Sumbu Y)
0
-0.134997167
-0.1378567188
-0.184387942
-0.349135814

Konstanta Suhu 80 (K50)

waktu
menit ke(Sumbu X)
0
10
20
30
40

Absorbansi
0.452
0.385
0.395
0.314
0.337

Konsentrasi
dalam ppm
(C)
29.26
24.405
25.13
19.26
20.92

C/Co

Ln C/Co
(Sumbu Y)

1
0.834073821
0.858851675
0.6582365
0.714969241

0
-0.181433366
-0.152159044
-0.418190989
-0.335515756

Konstanta Suhu 90 (K60)

waktu menit
ke- (Sumbu Absorbansi
X)
0
0.452
10
0.117
20
0.195
30
0.082
40
0.167
Konstanta suhu 70 (K40)

Konsentrasi
dalam ppm
(C)
29.26
4.985
10.637
2.449
8.608

C/Co

Ln C/Co (Sumbu
Y)

1
0.170369105
0.363533835
0.083697881
0.294190021

0
-1.769787992
-1.011882906
-2.480541618
-1.223529392

Konstanta suhu 80 (K50)

Konstanta suhu 90 (K60)

*
Ea = 17.666,7987
**

Log A = 9,0539

10

=
= 1.132.139.648
***

Log K25 = (Ea/2,303 R) (1/T) + log A


= - 3860,7 . 1/298 + 9,0539
= 12,955 + 9,0539
= 22,0089

****

K25 =
=

t 90 =
= 1,028 x 10- 23 menit

7. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, dilakukan percobaan kinetika obat. Tujuan dari
praktikum yaitu mampu memperkirakan masa kadaluarsa zat aktif yang diberikan.
Hal ini dilakukan berdasarkan penguraian obat dengan bertambahnya suhu dan
waktu. Zat yang digunakan sebagai percobaan yaitu Kalium Permanganat (KMnO4).
Kalium permanganat merupakan senyawa kimia anorganik dengan rumus KMnO4.
Garam yang terdiri dari K+ dan MnO4- ion. Sifat fisik dan kimia dari kalium
permanganat yaitu memiliki penampilan ungu-perunggu kristal, tidak berbau
memiliki kelarutan 7 g dalam 100 g air dengan density 2,7 serta stabil dibawah
kondisi biasa penggunaan dan penyimpanan (stabil dibawah suhu kamar).
Pertama dipanaskan air dalam beaker glass beralas bulat di atas mantel.
Dipanaskan air pada suhu 70C, 80C dan 90C. Suhu pada mantel dapat diatur
sehingga dapat menjaga stabilitas suhu yaitu untuk mengetahui kemampuan suatu
produk untuk bertahan dalam batas yang di tetapkan sepanjang periode penyimpanan
11

dan penggunan. Jadi, untuk maksud dari stabilitas di percepat yaitu dilakukannya
pengujian di mana suatu obat di simpan pada kondisi ekstrim di suatu lemari,
Disiapkan 4 vial untuk masing-masing suhu. Vial tersebut di isi dengan KMnO4 30
ppm, kemudian dibungkus dengan plastik hitam. Fungsi dari pembungkusan ini untuk
mencegah terjadinya fotolisis atau penguraian zat dan oksidasi dari KMnO4 karena
KMnO4 mudah teroksidasi dengan cahaya membentuk MnO2. Berikut sesuai dengan
reaksi yang terjadi pada kalium permanganat terurai saat terkena sinar :
2 KMnO4(s) K2MnO4(s) + MnO2 + O2(g)
Selanjutnya vial dimasukkan pada masing-masing suhu, penggunaan suhu yang
berbeda ini untuk membandingkan kecepatan terurainya KMnO4 yaitu apabila suhu
tinggi maka kecepatan terurainya akan menjadi tinggi. Maka dari itu pada suhu 90C
KMnO4 akan rusak dan teroksidasi, berubah warna. Setelah 10 menit pertama
diambil 1 vial dari masing-masing suhu sampai menit ke 40. Dari hasil yang didapat
nilai absorbansi dari suhu 70C pada menit ke 10 sampai menit ke 40 hasilnya
absorbansinya membentuk garis linear turun atau semakin kecil nilai absorbansinya.
Hal ini sesuai dengan litelatur yaitu apabila suatu senyawa dipanaskan maka akan
mengalami penguraian sehingga konsentrasinya semakin kecil. Namun hasil yang
didapat berbeda pada suhu 80C dan 90C, nilai absorbansinya membentuk garis naik
turun atau tidak stabil. Hal ini dikarenakan beberapa vial mengalami oksidasi oleh
tingginya suhu.
Pengaruh Suhu Terhadap Harga k, semakin tinggi suhu maka semakin tinggi
harga k yang diperoleh, hal ini sesuai dengan persamaan Arrchenius :
k = A e(-Ea/RT)
dimana :
T = Suhu absolut ( C)
R = Konstanta gas umum (cal/gmol K)
E = Tenaga aktivasi (cal/gmol)
A = Faktor tumbukan
k = konstanta kinetika reaksi

12

Dari persamaan diatas di dapat k (konstanta kinetika reaksi) berbanding lurus


dengan suhu (T). Semakin lama waktu reaksi maka harga k semakin berkurang, hal
ini menunjukkan reaksi dalam kondisi mendekati kesetimbangan. Pengaruh
penambahan katalis terhadap harga k Dari tabel diatas menunjukkan semakin banyak
katalis yang digunakan maka harga k yang diperoleh semakin besar, hal ini
menunjukkan bahwa jumlah katalis mempengaruhi terbentuknya metal ester. Sesuai
dengan mekanisme reaksi esterifikasi dengan katalis asam. Semakin banyak H+
(katalis) semakin cepat reaksi dapat di arahkan ke produk.
Dengan naiknya suhu pereaksi, maka suplai energi untuk mengaktifkan pereaksi
dan tumbukan antar pereaksi untuk menghasilkan reaksi juga akan bertambah,
sehingga produk yang dihasillkan menjadi lebih banyak. Nilai konstanta kecepatan
reaksi (K) naik dengan kenaikan suhu reaksi. Hal ini sesuai dengan teori Arrhenius
dan pernyataan Westerterp (1984), bahwa kenaikan suhu akan menaikkan nilai
konstanta kecepatan reaksi, di mana kenaikan 10C suhu reaksi menaikan konstanta
kecepatan reaksi sebanyak 2 kali dari nilai awal.
Pada tahun 1889 Arrhenius mengusulkan sebuah persamaan empirik yang
menggambarkan pengaruh suhu terhadap konstanta laju reaksi. Persamaan yang
diusulkan adalah :
K = konstanta laju reaksi
A = faktor frekuensi
Ea = energi aktivasi
Persamaan tersebut dalam bentuk logaritma dapat ditulis :

Persamaan tersebut analog dengan persamaaan garis lurus, yang sering


disimbolkan dengan y = mx +c, maka hubungan antara energi aktivasi suhu dan laju
reaksi dapat dianalisis dalam bentuk grafik ln k vs 1/T dengan gradien (Ea/RT) dan
intersep ln A. Jika suatu reaksi memiliki reaktan dengan konsentrasi awal adalah a,
dan pada konsentrasi pada waktu t adalah a-x, maka dapat ditulis dalam persamaan :

13

Setelah reaksi berlangsung 1/n bagian dari sempurna, x=a/n dan

Beberapa faktor yang mempengaruhi energi aktivasi adalah sebagai berikut :


1. Suhu
Fraksi molekul-molekul mampu untuk bereaksi dua kali lipat dengan peningkatan
suhu sebesar 10oC . hal ini menyebabkan laju reaksi berlipat ganda.
2. Faktor frekuensi
Dalam persamaan ini kurang lebih konstan untuk perubahan suhu yang kecil. Perlu
dilihat bagaimana perubahan energi dari fraksi molekul sama atau lebih dari energi
aktivasi
3. Katalis
Katalis akan menyediakan rute agar reaksi berlangsung dengan energi aktivasi
yang lebih rendah.
(Atkins PW. 1999)
Setelah itu hasil absorbansi tersebut dilakukan perhitungan, didapat hasil kurva
yang linear pada suhu 70oC, dan kurva yang naik turun pada suhu 80oC dan 90oC.
Dibuatnya kurva baku pada percobaan kinetika obat tersebut bertujuan untuk
memperoleh persamaan larutan baku dalam penentuan kadar sampel yaitu kalium
permanganat juga sebagai perbandingan terhadap setiap pengujian pada senyawa
rsebut. Absorbansi yang dilakukan harus berada pada enam titik yaitu pada rentang
0,2-0,8. Hal ini dilakukan agar didapat kurva yang berbentuk linear.
8. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa pada percobaan kinetika obat pada senyawa Kalium
Permanganat sesuai dengan percobaan stabilitas obat pada suhu 70 oC didapat kurva
yang linear menandakan bahwa obat dapat stabil pada suhu tersebut dan pada suhu
80oC dan 90oC didapat kurva yang tidak linear yang artinya obat tidak dapat stabil
pada suhu tersebut. Dan didapat hasil kadaluarsa Kalium Permanganat yaitu 1,028 x
10- 23 menit.

14

LAMPIRAN
1.

Apa yang di maksud dengan stabilitas di percepat ?


Jawab : Stabilitas adalah kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas
yang di tetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunan. Jadi, untuk
maksud dari stabilitas di percepat yaitu dilakukannya pengujian di mana suatu
obat di simpan pada kondisi ekstrim di suatu lemari, atau biasanya disebut
climatic chamber dan suatu obat dalam kemasan aslinya di paparkan pada suhu
40-200 C. dan pada kelembaban 75 5%. Pada bulan-bulan tertentu, obat yang
di simpan dalam lemari climatic chamber, akan di uji kualitas fisika, kimia
maupun mikrobiologinya. Data hasil pengujian tersebut akan di olah secara
statistika, sampai akhirnya menemukan tanggal kadaluarsa (masa edar) secara
kuantitatif, dan tanggal tersebutlah yang akan di jadikan patokan kadaluarsa obat

2.

yang nantinya harus di cantumkan dalam kemasan obat.


Jelaskan mengenai pengaruh suhu terhadap stabilitas suatu obat ?
Jawab : Suhu adalah salah satu faktor yang mempengaruhi stabilitas obat,
dengan mempercepat adanya reaksi. Kestabilan suatu obat dapat di percepat
dengan meningkatkan suhunya, dengan demikian batas waktu kadaluarsa dari

3.

suatu obat dapat di ketahui dengan tepat.


Faktor faktor apa saja yang mempengaruhi stabilitas obat selain suhu dan
cahaya ?

15

Jawab : Berikut faktor-faktor yang dapat mempengaruhi stabilitas obat:


1) Oksigen (terutama oksigen dan karbon dioksida dari uap air
2) Ph
3) Kelembaban
4) Ukuran Partikel
5) Sifat kimia yang terkontaminasi
6) Pencampuran berbeda secara tidak sadar
7) Sifat air dan pelarut yang di gunakan

DAFTAR PUSTAKA

Ansel, Howard C. 1985. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi IV. Jakarta: UI
Press
Lachman, L., Lieberman, H. A., Kanig, J. L. 1986. Teori dan Praktek Farmasi
Industri.

Edisi ketiga. Diterjemahkan oleh Suyatmi. S. Penerbit

Universitas Indonesia:Jakarta
Martin. A, 1993. Farmasi Fisika. Edisi III. Jilid II. Indonesia University Press.
Moechtar, 1989. Farmasi Fisika : Bagian Larutan dan Sistem Dispersi. Gadjah Mada
University Press:Jogjakarta.
Voight, R., 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gadjah Mada University Press:
Jogjakarta.

16

Anda mungkin juga menyukai