Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1. Ketuban Pecah Dini


Definisi(8)

Ketuban pecah dini (Premature Rupture of the Membran/PROM) adalah


ruptur spontan selaput ketuban sebelum inpartu dan dapat terjadi pada semua
umur kehamilan .Ketuban pecah dini (KPD) prematur mengarah pada KPD yang
terjadi sebelum umur kehamilan 37 minggu.

Gambar 1. Ketuban Pecah

1
Gambar 2. Inkompetensi leher Rahim

Etiologi (7,8)

Berbagai faktor yang dihubungkan dengan Ketuban Pecah Dini :

- Infeksi (amnionitis, servisitis, dan vaginosis bakterial yang lain)


- Peningkatan volume uterus (polihidramnion dan kehamilan multiple)

- Perdarahan subchorionic

- Koitus

- Cervical conization or cerclage

- Anomali fetus

- Anomali uterus

- Status sosio-ekonomi yang rendah

- Abnormalitas dalam struktur biokimiawi (Ehlers-Danlos syndrome)

- Trauma maternal

2
- Substansi berbahaya termasuk rokok.

- Terapi steroid dalam waktu lama

Gejala

1. Air ketuban mengalir ke luar, uterus lebih kecil serta konsistensinya lebih
keras.
2. Biasanya diikuti dengan persalinan.

3. Cairan yang keluar dari jalan lahir disebut hydrorrhea amniotica. Untuk
mengetahui apakah cairan yang keluar betul air ketuban atau bukan, dapat
ditentukan dengan tes lakmus atau nitrazin, atau dapat juga dengan
pemeriksaan USG.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan secara langsung cairan yang merembes tersebut dapat


dilakukan dengan kertas lakmus, kertas ini mengukur pH (asam-basa). pH normal
dari vagina adalah 4-4,7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7,1-7,3 sehingga
didapati kertas lakmus yang berwarna merah berubah menjadi warna biru. Tes
tersebut dapat memiliki hasil positif yang salah apabila terdapat keterlibatan
trikomonas, darah, semen, lendir leher rahim, dan air seni. Pemeriksaan melalui
ultrasonografi (USG) dapat digunakan untuk mengkonfirmasi jumlah air ketuban
yang terdapat di dalam rahim.

Komplikasi KPD

Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37


minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru
lahir. Risiko infeksi meningkat pada kejadian KPD. Semua ibu hamil dengan
KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya

3
korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu kejadian prolaps atau
keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.

Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm.


Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm. 
Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD preterm ini terjadi pada usia
kehamilan kurang dari 23 minggu.

Gambar 3. Keluarnya Tali Pusat

Penanganan

1. Kalau kehamilan sudah cukup bulan dilakukan induksi.


2. Kalau preterm diusahakan kehamilan dapat berlanjut, dengan istirahat dan
pemberian progestron.

3. Bila kehamilan di bawah 28 minggu dilakukan terminasi.

Pencegahan

4
Beberapa pencegahan dapat dilakukan namun belum ada yang terbukti
cukup efektif. Mengurangi aktivitas atau istirahat pada akhir triwulan kedua atau
awal triwulan ketiga dapat dianjurkan.Selain itu perlu diperhatikan pencegahan
terhadap infeksi selain pada ibu, juga pada suaminya.

2. Seksio Sesarea (3,4,5,6)


Seksio sesaria adalah pembedahan untuk mengeluarkan janin dengan membuka
dinding perut dan dinding uterus. (Sarwono, 2007)

Indikasi seksio sesarea

Ibu Anak

 Disproporsi kepala panggul/CPD//FPD  Janin besar


 Disfungsi uterus  Gawat janin
 Distosia jaringan lunak  Letak lintang
 Plasenta previa

Kontra indikasi seksio sesarea: pada umumnya seksio sesarea tidak dilakukan
pada janin mati, syok, anemi berat, sebelum diatasi, kelainan kongenital berat (monster).

Seksio sesarea abdominalis

1. Seksio sesarea transperitonealis profunda

Pembedahan yang dewasa ini banyak dilakukan adalah seksio sesarea


transperitonealis profunda dengan insisi di segmen bawah uterus.

Keunggulan :

- perdarahan luka insisi tidak seberapa banyak.

5
- bahaya peritonitis tidak besar.

- parut pada uterus umumnya kuat, sehingga bahaya ruptura uteri di kemudian hari
tidak besar karena dalam masa nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak
mengalami kontraksi seperti korpus uteri, sehingga luka dapat sembuh lebih
sempurna.

2. Seksio sesarea klasik atau seksio sesarea korporal

Pada seksio sesarea klasik insisi dibuat pada korpus uteri. Pembedahan ini yang
agak lebih mudah dilakukan, hanya diselenggarakan apabila ada halangan untuk
melakukan seksio sesarea transperitonealis profunda ( misalnya melekat-eratnya uterus
pada dinding perut karena seksio sesarea yang sudah-sudah; insisi di segmen bawah
uterus mengandung bahaya perdarahan banyak berhubungan dengan letaknya plasenta
pada plasenta previa), atau apabila bermaksud untuk melakukan histerektomi setelah
janin dilahirkan.

Kurang Disukai karena :

- lebih besarnya bahaya peritonitis.

-4 kali lebih besar bahaya ruptura uteri pada kehamilan yang akan datang.

SESUDAH SEKSIO SESAREA KLASIK SEBAIKNYA DILAKUKAN STERILISASI


ATAU HISTEREKTOMI.

3. Seksio sesarea ekstraperitoneal

Seksio sesarea ekstraperitoneal dahulu dilakukan untuk mengurangi bahaya infeksi


puerpural, akan tetapi dengan kemajuan pengobatan terhadap infeksi pembedahan ini
sekarang tidak banyak lagi dilakukan. Pembedahan ini sulit dalam tekniknya dan
seringkali terjadi sobekan peritoneum.

TINDAKAN INI KINI DALAM PRAKTEK JARANG DILAKUKAN

6
BAB II

LAPORAN KASUS

IDENTITAS

Nama : Ny. JB Nama Suami : Tn. IZ

Umur : 20 tahun Umur : 31 tahun

Pendidikan : SD Pendidikan : SMP

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Nelayan

Alamat : Gangga II Kec.Likupang Barat

Bangsa : Indonesia

Agama : Islam

MRS : 11 Maret 2010

No. CM : 23.66.25

1. ANAMNESIS

Keluhan Utama : Nyeri perut bagian bawah ingin melahirkan.


- Pasien dirujuk dari puskesmas Likupang dengan diagnosis G1P0A0 20
tahun hamil 40 minggu, janin intrauterin tunggal hidup, letak kepala
dengan KPD 14 jam + mekonium.
- Nyeri perut dirasakan teratur sejak pukul 15.00.
- Pelepasan air dari jalan lahir dirasakan sejak satu hari yang lalu.
- Pergerakan janin dirasakan saat MRS.
- Pelepasan lendir campur darah dirasakan sejak 1 hari yang lalu.
- Riwayat penyakit dahulu jantung (-), paru (-), hati (-), ginjal (-), darah
tinggi (-), kencing manis (-).
- BAB dan BAK biasa
2. ANAMNESIS KEBIDANAN

7
Riwayat penyakit sekarang
Muntah (-), bengkak(-), penglihatan kabur (-), sakit kepala (-), poliuria (-), BAB
tidak teratur (-), keluar darah (+), kejang (-). Waktu hamil tidak merokok.

Pemeriksaan antenatal
3 kali oleh bidan di Posyandu Likupang.

Riwayat Haid

HPHT : 01 Juni 2009

TTP : 08 Maret 2010

Riwayat Keluarga

Kawin 1 kali dengan suami sekarang, sudah selama 9 bulan.

PEMERIKSAAN FISIK

Status Praesens:

KU : cukup Kesadaran : CM

TD : 120/80 mmHg Nadi : 108x/menit

RR : 28x/menit Suhu : 38,0 ºC

BB : 42 Kg TB : 148 cm

Gizi : cukup Kulit : turgor baik, sianosis (-)

Kepala : Benjolan (-),simetris Leher : trakea di tengah,KGB (-)

8
Makula hiperpigmentasi

Eritem minimal

Batas jelas

Ukuran numular

Skuama negatif

Mata : an (-), ict (-) bulat isokor Ө 3mm Telinga : sekret (-), NT (-)

Hidung: sekret (-) Mulut : karies (-)

Jantung: BJ I-II (N), Gallop (-), Murmur (-) Paru :sp.vesikuler , wh (-/-)

Rh(-/-)

Hati : ttb Limpa : ttb

Kelamin : dbn Ekstremitas : t.a.k

Varises : (-) Refleks : fisiologis (+)

Status Obstetric

Pemeriksaan Luar

TFU : 29 cm

Letak janin : letak kepala _U _ ,punggung kiri

BJJ : (+) 15-16-15

HIS : 7’-8’ // 15”-20”

Pemeriksaan Dalam

9
Eff 90%, pembukaan 2-3cm, ketuban (-), mekonium, PP kepala Hodge I-II, SS
melintang foetor (+).

Pemeriksaan Panggul

Pintu atas panggul : promontorium tidak teraba, linea inominata teraba

1/3 – 1/3, side wall lurus

Bidang Tengah Panggul : sacrum konkaf

Pintu Bawah Panggul : spina ischiadika tidak menonjol, arkus pubis >900

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium

Hb : 10,3 gr/dl Leukosit : 33600/mm3

GDS : 87 mg/dl, Trombosit : 230.000 gr/dl

Malaria : (-)

KESIMPULAN SEMENTARA

G1P0A0, 20 tahun, MRS tanggal 11 – 03 – 2010 jam 20.08 wita dirujuk dari
puskesmas Likupang dengan diagnosis G1P0A0 20 tahun hamil 40 minggu, janin
intra uterin tunggal hidup, letak kepala dengan KPD 14 jam + mekonium. Tanda-
tanda inpartu (+) pelepasan air dari jalan lahir sejak satu hari yang lalu pelepasan
lendir campur darah (+) RPD disangkal. BAB / BAK biasa. HPHT 01 Juni 2009
TTP 08 Maret 2010. PAN 3kali di posyandu, riwayat gemeli (-) kawin 1 kali
selama 9 bulan.

Status praesens :

10
KU : cukup Kesadaran : CM

TD :120/80mmHg Nadi : 108x/menit

RR : 28x/menit Suhu : 380C

Status obstetric :

TFU : 29 cm Letak janin : letak kepala dengan


punggung kiri,

BJJ : (+) 15-16-15 His : 7’-8’/ 15”.

PD : Eff: 90% pembukaan 2-3 cm, ketuban (-), mekonium, PD kepala HI-II,

SS melintang, fetor (+).

DIAGNOSIS

G1P0A0, 20 tahun, hamil 40-41 minggu,inpartu kala I + riwayat KPD 1 hari +


infeksi intrapartum + suspek Morbus Hansen.

Janin intrauterine tunggal hidup letak kepala + gawat janin

SIKAP

- Resusitasi intrauterin

- Antibiotika injeksi

- Seksio sesarea

- Konseling

- Sedia donor, setuju operasi

11
- Konsul kulit dan kelamin

11/3/2010

Jam 20.00

Periksa Dalam : Eff : 90%, Pembukaan 2-3 cm, Ketuban (-), Mekonium, PP
kepala H I-II, SS melintang, Fetor (+).

Diagnosa

G1P0A0, 20 tahun, hamil 40-41 minggu,inpartu kala I + riwayat KPD 1 hari +


infeksi intrapartum + suspek Morbus Hansen.

Janin intrauterine tunggal hidup letak kepala + gawat janin

Sikap :

- Resusitasi intrauterin

- Antibiotika injeksi

- Seksio sesarea cito

- Konseling

- Sedia donor setuju operasi

- Lapor konsulen

Observasi

Jam 20.00 – 20.30

12
HIS : Interval 7 ’ - 8’, Lama 19” – 20”, Frekuensi BJJ 15 – 16 - 15

Jam 20.30 – 21.00

HIS : Interval 7 ’ - 8’, Lama 19” – 20”, Frekuensi BJJ 15 -15-16

Jam 21.00 – 21.30

HIS : Interval 7 ’ - 8’, Lama 19” – 20”, Frekuensi BJJ 16 – 15 - 15

Jam 21.30 – 22.00

HIS : Interval 7 ’ - 8’, Lama 19” – 20”, Frekuensi BJJ 15 – 16 - 16

Jam 22.00 – 22.30

HIS : Interval 7 ’ - 8’, Lama 19” – 20”, Frekuensi BJJ 15 – 14 – 14

Jam 22.30 – 22.45

HIS : Interval 7 ’ - 8’, Lama 15” – 20”, Frekuensi BJJ 14 – 14 - 14

Jam 22.45 : Pasien didorong ke OK cito.

Jam 23.17 : Operasi dimulai dilakukan SCTP.

Jam 23.22 : Lahir bayi ♂, BBL 3100 gram, PBL 49 cm, AS 3-5-7 dengan

kelainan kongenital Labiopalatoschiziz.

13
Jam 00.30 : Operasi selesai.

Perdarahan : ± 700cc

Diuresis : ± 300cc

Laporan Operasi

Penderita dibaringkan terlentang di atas meja operasi, dilakukan tindakan septik


dan antiseptic dan antiseptik pada abdomen dan sekitarnya dengan povidon
iodine. Abdomen ditutup dengan doek steril kecuali lapangan operasi. Dalam
General Anestesi dilakukan insisi linea mediana inferior, yang diperdalam secara
tajam dan tumpul sampai fasia, diinsisi kecil diperlebar ke atas dan ke bawah, otot
disisihkan secara tumpul lateral. Tampak peritoneum. Peritonium dijepit dengan
dua pinset. Setelah yakin tidak ada jaringan usus di bawahnya, digunting kecil dan
diperlebar keatas dan ke bawah. Tampak uterus gravidarum. Identifikasikan plika
vesicouterina. Plika dijepit dengan pinset, digunting kecil diperlebar ke kanan dan
ke kiri. Identifikasikan SBR. SBR diinsisi semilunar, insisi diperdalam secara
tajam dan tumpul sampai kavum uteri. Keluar mekonium sedikit. Identifikasikan
bayi. Letak kepala bayi dilahirkan dengan cara meluksir kepala. Jam 23.22
lahirlah ♂ BBL 3100 gr, PBL 49 cm, AS 3-5-7 dengan kelainan kongenital
labiopalatoshiziz. Sementara jalan nafas bayi dibersihkan tali pusat diklem dengan
dua klem kocher. Kemudian digunting di antaranya. Bayi diserahkan ke teman
sejawat neonati untuk perawatan selanjutnya. Plasenta dilahirkan dengan tarikan
ringan. Luka pada SBR dijepit dengan beberapa ringtang. Kavum uteri
dibersihkan dari sisa selaput ketuban. Luka SBR dijahit dua lapis secara jelujur.
Kontrol perdarahan negatif. Dilakukan retroperitonealisasi, kontrol perdarahan
negatif. Kavum abdomen dibersihkan dari sisa darah dan bekuan darah.
Identifikasikan uterus bentuk normal dan kedua tuba dan ovarium baik.
Selanjutnya abdomen, dipasang drain abdomen. Kemudian abdomen ditutup lapis
demi lapis. Peritonium dijahit jelujur dengan plain catgut, otot dijahit simpul
dengan plain catgut. Fascia dijahit jelujur dengan optime I. Lemak dijahit simpul
14
dengan chromic catgut. Kulit dijahit subkutikuler. Luka operasi ditutup dengan
kasa betadine, jalan lahir dibersihkan. Operasi selesai.

15
BAB III

PEMBAHASAN

1. DASAR DIAGNOSIS

Untuk menegakkan suatu diagnosis, maka langkah yang harus ditempuh


yaitu anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Dalam kasus ini, berdasarkan anamnesis, pasien didiagnosis dengan


G1P0A0, 20 tahun dengan umur kehamilan 40 – 41 minggu, inpartu kala I + riwayat
KPD 1 hari + infeksi intrapartum + suspek Morbus Hansen. Janin intrauterine
tunggal hidup, letak kepala + gawat janin

Berdasarkan HPHT ibu yaitu tanggal 01 juni 2009, maka taksiran tanggal
persalinan dapat ditentukan yaitu dengan menggunakan Rumus Naeggle (H+7, B-
3, T+1). Maka hasil TTP yang didapat adalah 08 maret 2010. Ibu sudah inpartu
yang diketahui dengan adanya nyeri perut ingin melahirkan yang teratur,
pelepasan lendir campur darah (+), dan berdasarkan PD pembukaan 2-3 cm.
Pasien didiagnosa dengan infeksi intrapartum berdasarkan pemeriksaan fisik yaitu
suhu 38ºC dan nadi 108x/menit, pada pemeriksaan dalam ditemukan foetor (+),
dan pada pemeriksaan penunjang didapatkan kadar leukosit 33600/mm3. Untuk
diagnosis gawat janin ditegakkan dengan bunyi jantung janin > 160 x/menit dan
irreguler.

Diagnosa suspek Morbus Hansen ditegakkan berdasarkan pemeriksaan


fisik dimana ditemukan makula hiperpigmentasi dan hipopigmentasi pada kulit
wajah.

16
2. PENANGANAN KASUS

Setelah didiagnosa gawat janin, penderita diresusitasi intra uterin dan diberi
antibiotika injeksi, sebagai usaha pencegahan terhadap adanya infeksi.

Lalu diputuskan untuk melakukan SC Cito untuk melahirkan janin secepat


mungkin karena sudah terjadi gawat janin, riwayat ketuban pecah dini sejak 1
hari yang lalu, dan infeksi intrapartum.

Pasien dirawat selama 5 hari sampai keadaan pasien baik dan dapat melakukan
aktifitas serta luka operasi terawat baik. Sebelum pulang pasien dikonseling
KB untuk menunda kehamilan kemudian pasien setuju dilakukan KB suntik 3
bulan.

3. PROGNOSIS

a. Ibu : Dubia ad bonam

Ibu dengan infeksi intrapartum sudah dilakukan pemberian antibiotik yang


adekuat dan tindakan operasi secara lege artis, maka prognosisnya ke arah
baik. Setelah 5 hari dirawat, pasien pulang dalam keadaan baik.

Prognosis terhadap persalinan berikutnya, jika tidak ada indikasi obstetric


maka persalinan berikutnya dapat dilakukan secara pervaginam.

b. Bayi : Dubia ad bonam

Meskipun pada awalnya ada gawat janin tetapi karena dilakukan


penanganan secara cepat (seksio sesarea) dan bayi ditangani secara
langsung oleh bagian neonati, maka prognosisnya ke arah baik.

Setelah 2 hari dirawat di NICU, bayi dirawat gabung bersama ibu.

17
BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

 Ketuban pecah dini dapat menyebabkan infeksi intrapartum yang


mengakibatkan gawat janin sehingga dapat meningkatkan morbiditas dan
mortalitas baik pada ibu maupun pada janin.

 Penanganan pada kasus ini sudah cukup baik, namun masih ada tenggang
waktu selama 3 jam dar i pasien masuk sampai dilakukan tindakan operasi.

Pada kasus gawat janin, seharusnya segera mungkin dilakukan tindakan


operasi.

Saran :

 Sebaiknya pada semua ibu hamil, dilakukan ANC dengan baik agar risiko-
risiko yang dapat terjadi sehubungan dengan kehamilannya dapat diketahui
secara dini sehingga dapat dicegah.

 Semua ibu hamil bekas seksio sesarea harus dilakukan ANC di RS dan
melahirkan di RS yang memilikki fasilitas kamar operasi.

 Pada pasien ini diberikan konseling agar merencanakan kehamilan berikutnya


dalam jangka waktu ± 2 tahun

 Untuk menunda kehamilan selama ± 2 tahun, pasien disarankan untuk


mengikuti KB secara teratur.

18
19
DAFTAR PUSTAKA

1. Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Obstetri Patologi: Ilmu


Kesehatan Reproduksi Edisi 2. Jakarta: EGC 2005

2. http://www.klikdokter.com/illness/detail/134

3. Sarwono Prawirohardjo. Ilmu Bedah Kebidanan edisi I. Jakarta: Yayasan


Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2007

4. Sarwono Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan edisi III. Jakarta: Yayasan Bina


Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2007

5. http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/26/askep-sectio-caesaria/

6. http://intelhealth.com/IH/ihTH/WSIHW000/3460/3460.html

7. Evans, Arthur T. Manual of Obstetrics 7th Edition. Philadelphia : Lippincott


Williams & Wilkins 2007

8. Norwitz,Errol R. Oxford American Handbook of Obstetrics and


Gynecology. New York : Oxford University Press Inc. 2007.

20