Anda di halaman 1dari 2

Mencintai Rasulullah

Demi Allah, belum sempurna iman seseorang sampai aku lebih dicintai daripada bapak-ibunya,
keluarganya dan manusia seluruhnya (Al Hadist).
Sekarang ini Rasulullah telah tiada. Cara yang paling tepat untuk menunjukkan kecintaan kita adalah
mengikuti semua ajarannya, ajaran yang dibawa oleh Rasulullah yang bersumber dari wahyu Ilahi.
Mengikuti semua ajaran Nabi berarti juga mengikuti ajaran Allah SWT karena semua apa yang
disampaikannya bersumber dari wahyu Ilahi. Al Quran telah menegaskan hal ini, bahwa semua yang
dibawa oleh Rasulullah bukanlah berasal dari dirinya: Demi bintang ketika terbenam, kawanmu
(Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan
hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (QS. An
Najam 53:1-4)
Agama Islam ini, ajaran yang dibawa oleh Rasulullah yang berdasarkan wahyu Ilahi ini sudah
demikian paripurna, lengkap menyeluruh mengatur semua aspek kehidupan kita. Ia mengatur dari
mulai kita bangun tidur sampai tidur lagi. Bahkan seandainya pun di tengah-tengah tidur kita
terbangun, kita akan dapatkan pembahasan mengenai kegiatan di antara tidur ini baik itu aktivitas
rohani, misalnya mendekatkan diri dengan Ilahi melalui ibadah sholat tahajjud maupun aktivitas nonspiritual. Kesemuanya sudah tersusun lengkap di dalam Islam.
Persaudaraan, akhlak mulia, penghormatan terhadap kemanusiaan semua manusia dalam arti
persamaan derajat juga mendapatkan porsi yang besar dalam ajaran ini. Kasih sayang sesama manusia
tanpa memandang status keduniaan sangat jelas dalam Islam.
Pernah salah seorang sahabat terpandang tanpa sengaja melakukan penghinaan terhadap sahabat
Bilal dengan memanggilnya dengan sebutan putra budak hitam. Mendengar itu muka Rasulullah
merah padam, marah sampai keluar ucapan celaka, celaka, celaka tiga kali. Lanjutan hadis mengenai
hal ini menegaskan bahwa tidak ada kelebihan keturunan arab dan bukan arab. Yang membedakan
antara seorang hamba dengan hamba lainnya hanyalah derajat ketakwaan. Mendengar teguran keras
dari Rasulullah, sang sahabat bangsawan tersebut langsung menjatuhkan diri di hadapan Bilal, dengan
menempelkan pipinya di tanah meminta Bilal untuk menginjak mukanya sebagai balasan atas
penghinaan yang telah beliau lakukan. Subhanallah!
Bilal, salah seorang sahabat keturunan kulit hitam, yang dulunya seorang hamba sahaya kemudian
dibebaskan oleh Abu Bakar, yang bermuka buruk sampai kalau pun tersenyum anak kecil pun
menangis ketakutan, Bilal yang miskin dan hitam ini pun mendapatkan penghormatan yang sama
dengan sahabat-sahabat lain yang kebetulan mendapatkan anugerah kekayaan. Bahkan diceritakan
dalam sebuah hadis sewaktu melakukan Isra Mikraj, Rasulullah menemukan terompah Bilal sudah
lebih dahulu berada di surga. Jadi betul-betul hanyalah derajat ketakwaan yang membedakan, bukan
derajat lainnya. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling takwa.
Marilah sekarang kita tengok keseharian kita. Berapa sering kita nunduk-nunduk atau paling tidak
merasa lebih sreg bergaul dengan orang-orang perlente, golongan bos-bos; dan berapa sering kita
acuh tak acuh terhadap orang-orang yang di bawah kita, lebih rendah status keduniaannya daripada
kita. Ada dikotomi pergaulan staff nonstaff. Terkadang kita juga sering menerapkan persaudaraan
parsial. Terhadap orang-orang yang segolongan dengan kita, alangkah manis raut muka dan senyum
kita. Panggilan saudara, akhi dan jabat erat kita berikan kepada ikhwan-ikhwan yang sekelompok

dengan kita, sementara orang yang di luar kelompok kita, untuk tersenyum pun terasa berat. Dakwah
mengalir deras, persaudaraan terasa kental untuk ikhwan-ikhwan yang terbiasa bersama kita di jamaah
sholat, sedangkan orang yang baru datang, sambutan hangat hanya milik orang-orang ahli pengajian
yang bersama kita. Astaghfirullah!
Ini baru satu ajaran yang mestinya kita pegang erat-erat, kita terapkan tanpa membeda-bedakan status,
kedudukan dunia.
Mari kita renungkan hal ini.
Terakhir, saya ulangi hadis Rasulullah yang saya kutip di atas. Demi Allah, belum sempurna iman
seseorang sampai aku lebih dicintai daripada bapak-ibunya, keluarganya dan manusia seluruhnya
dengan harapan agar kita semua dapat membuktikan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dengan
melaksanakan semua ajarannya.
Wallahualam bishshowab
Sumbawa, 25 Februari 2002