Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

EKOSISTEM LAUT

Disusun Oleh : Aditya Setiawan


Kelas : XI. IPA . 2

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 SURADE


Jl. Raya Cikaso Km. 1 Kecamatan Surade Kab. Sukabumi
2016

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT, atas rahmat dan karuniaNya,
penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul KEBUDAYAAN SUKU BADUY,
makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Produktif.
Makalah

disusun berdasarkan hasil observasi yang diharapkan berguna untuk

mengembangkan kreatif, daya pikir dan untuk menambah pengetahuan tentang


kebudayaan.
Segala petunjuk, arahan dan bantuan dari berbagai pihak yang penulis terima dalam
menyusun maklah ini sangatlah besar artinya. Untuk itu, dalam kesempatan ini kami
menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Surade, 7 Februari 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...............................................................................................

DAFTAR ISI .............................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................


A. Latar belakang ...............................................................................................

B. Rumusan masalah .........................................................................................

C. Tujuan ...........................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................................


A. Latar belakang suku baduy............................................................................

B. Kelompok suku baduy ..................................................................................

C. Unsur kebudayaan suku baduy .....................................................................

D. Mata pencaharian suku baduy .......................................................................

E. Bahasa suku baduy ........................................................................................

BAB III PENUTUP ..................................................................................................


A. Kesimpulan ...................................................................................................

B. Saran .............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam bahasa inggris , kebudayaan disebut culture , yang berasal dari kata latin
colere , diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani . Kata culture juga kadang
diterjemahkan sebagai kultur dalam bahasa IndonesiaBudaya adalah suatu cara hidup
yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan
dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk
sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan
karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari
diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara
genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada
budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu
dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan
luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosiobudaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Buddayh atau
kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddayah, yang merupakan bentuk
jamak dari buddhi yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal
manusia.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana latarbelakang suku baduy
2. Apa saja kelompok suku baduy
3. Bagaimana unsur kebudayaan suku baduy
4. Bagaimana kehidupan suku baduy
C. Tujuan
1. Agar dapat mengetahui bagaimana latarbelakang suku baduy
2. Agar dapat mengetahui apa saja kelompok suku baduy
3. Agar dapat mengetahui bagaimana unsur kebudayaan suku baduy
4. Agar dapat mengetahui bagaimana kehidupan suku baduy
1

BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Suku Baduy
Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi
yaitu suku baduy yang tinggal di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten
Lebak. Perkampungan masyarakat baduy pada umumnya terletak pada daerah.Sebutan
"Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok
masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belandayang agaknya
mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat
yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai
Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri
lebih suka menyebut diri sebagaiurang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama
wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang
Cibeo.Desa Kanekes adalah salah satu desa di Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak
Propinsi Banten, seluas 5.101,85 hektar, sebagian besar tanahnya merupakan dataran
tinggi yang bergunung dengan lembah-lembah yang merupakan daerah aliran sungai dan
hulu-hulu sungai yang mengalir ke sebelah utara. Bagian tengah dan selatan desa
merupakan hutan lindung atau Orang Baduy sering menyebutnya hutan tutupan.
B. Kelompok Suku Baduy
Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu,
panamping, dan dangka.
1. Kelompok Tangtu (Badui Dalam)
Suku Baduy Dalam tinggal di pedalaman hutan yang terisolir. Selain itu orang baduy
dalam merupakan yang paling patuh kepada seluruh ketentuan atau aturan yang telah
ditetapkan oleh Puun (Kepala Adat).Orang Baduy dalam tinggal di 3 kampung,yaitu
Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas Baduy Dalam adalah pakaiannya berwarna
putih dan biru tua, tidak berkerah dan berkancing, memakai ikat kepala putih membawa
golok tidak beralas kaki dan tidak membawa uang. mereka tidak mengenal sekolah, huruf
yang mereka kenal adalah Aksara Hanacara dan bahasanya Sunda. Mereka tidak boleh
mempergunakan peralatan atau sarana dari luar. Jadi bisa di bayangkan mereka hidup
tanpa menggunakan listrik, uang, dan mereka tidak mengenal sekolahan. Salah satu contoh
sarana yang mereka buat tanpa bantuan dari peralatan luar adalah Jembatan Bambu.
2

Mereka membuat sebuah Jembatan tanpa menggunakan paku, untuk mengikat batang
bambu mereka menggunakan ijuk, dan untuk menopang pondasi jembatan digunakan
pohon-pohon besar yang tumbuh di tepi sungai.
2. Kelompok Masyarakat Penamping (Baduy Luar)
Mereka tinggal di desa Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, yang
mengelilingi wilayah baduy dalam. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan
pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. suku Baduy Luar biasanya sudah banyak berbaur
dengan masyarakat Sunda lainnya. selain itu mereka juga sudah mengenal kebudayaan
luar, seperti bersekolah.
3. Kelompok Baduy Dangka
Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh
(Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas
pengaruh dari luar
C. Unsur Kebudayaan Suku Baduy
1. Bahasa
Mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek SundaBanten. Untuk berkomunikasi
dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka
tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes 'dalam' tidak
mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek
moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.
2. Peralatan Hidup Suku Baduy

Peralatan dan Teknologi Kehidupan orang Baduy berpusat pada pertanian yang
diolah dengan menggunakan peralatan yang masih sangat sederhana.

Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik. Mereka


menggunakan peralatan tersebut dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak
ketahuan pengawas dari Kanekes Dalam

Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah menggunakan alat-alat


bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Kanekes
Dalam.

Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki),
yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian
modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
3

Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring & gelas
kaca & plastik.

Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam

3. Mata Pencaharian
Mata pencarian masyarakat Baduy yang paling utama adalah bercocok tanam padi huma
dan berkebun serta membuat kerajinan koja atau tas dari kulit kayu, mengolah gula aren,
tenun dan sebagian kecil telah mengenal berdagang.
4. Hukum di didalam Masyarakat Baduy
Hukuman disesuaikan dengan kategori pelanggaran, yang terdiri atas pelanggaran berat
dan pelanggaran ringan. Hukuman ringan biasanya dalam bentuk pemanggilan sipelanggar
aturan oleh Puun untuk diberikan peringatan. Contohnya: beradu-mulut antara dua atau
lebih warga Baduy.Hukuman Berat diperuntukkan bagi mereka yang melakukan
pelanggaran berat. Pelaku pelanggaran yang mendapatkan hukuman ini dipanggil oleh
Jaro setempat dan diberi peringatan.
5. Sistem Kekerabatan
Suku baduy memakai system bilineal, yaitu mereka mengikuti garis keturunan dari ayah
dan ibu. Di dalam proses pernikahan pasangan yang akan menikah selalu dijodohkan .
Orang tua laki-laki akan bersilaturahmi kepada orang tua perempuan dan memperkenalkan
kedua anak mereka masing-masing.
6. Kesenian
Dalam melaksanakan upacara tertentu, masyarakat Baduy menggunakan kesenian untuk
memeriahkannya. Adapun keseniannya yaitu:

Seni Musik (Lagu daerah yaitu Cikarileu dan Kidung ( pantun) yang digunakan
dalam acara pernikahan).

Alat musik (Angklung Buhun dalam acara menanan padi dan alat musik kecapi)

Seni Ukir Batik.

7. Sistem Religi
Suku Baduy yang merupakan suku tradisional di Provinsi Banten hampir mayoritasnya
mengakui kepercayaan sunda wiwitan. Yang mana kepercayaan ini meyakini akan adanya
Allah sebagai Guriang Mangtua atau disebut pencipta alam semesta dan melaksanakan
kehidupan sesuai ajaran Nabi Adam sebagai leluhur yang mewarisi kepercayaan turunan
ini.

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Baduy menurut kepercayaan
sunda wiwitan:

Upacara Kawalu yaitu upacara yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan
kawalu yang dianggap suci dimana pada bulan kawalu masyarakat baduy
melaksanakan ibadah puasa selama 3 bulan yaitu bulan Kasa,Karo, dan Katiga.

Upacara ngalaksa yaitu upacara besar yang dilakukan sebagain uacapan syukur
atas terlewatinya bulan-bulan kawalu, setelah melaksanakan puasa selama 3 bulan.
Ngalaksa atau yang bsering disebut lebaran.

Seba yaitu berkunjung ke pemerintahan daerah atau pusat yang bertujuan


merapatkan tali silaturahmi antara masyarakat baduy dengan pemerintah, dan
merupakan bentuk penghargaan dari masyarakat baduy

Upacara menanam padi dilakukan dengan diiringi angklung buhun sebagai


penghormatan kepada dewi sri lambing kemakmuran.

D. Mata Pencaharian Suku Baduy


Mata pencarian masyarakat Baduy yang paling utama adalah bercocok tanam padi huma
dan berkebun serta membuat kerajinan koja atau tas dari kulit kayu, mengolah gula aren,
tenun dan sebagian kecil telah mengenal berdagang. Hasil pertanian mereka berupa beras
bisanya mereka simpan di lumbung padinya yang ada di setiap desa. Selain beras meraka
juga memabuat kerajinan tangan seperti tas koja yang bahannya terbuat dari kulit kayu
yang di anyam. Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata
pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma dan berkebun,
mengolah gula aren dan tenun. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan
dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji,
serta madu hutan.
E. Bahasa Suku Baduy
Bahasa Baduy adalah bahasa yang digunakan suku Baduy. Penuturnya tersebar di gunung
Kendeng, Rangkasbitung, Lebak; Pandeglang; dan Sukabumi. Dari segi linguistik, bahasa
Baduy bukan dialek dari bahasa Sunda, tapi dimasukkan ke dalam suatu rumpun bahasa
Sunda, yang sendirinya merupakan kelompok dalam rumpun bahasa Melayu-Sumbawa di
cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia.Untuk berkomunikasi dengan
penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak
mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Suku baduy merupakan suku asli yang mendiami tanah banten, kehidupan suku baduy
masih mempertahankan adat istiadat dan budaya leluhur mereka hingga saat ini. mereka
percaya terhadap kepercayaan / keyakinan yang terus diturunkan turun temurun hingga
sekarang dan dijaga sedemikian ketatnya supaya kepercayaan mereka tidak tersisihkan
oleh agama-agama yang begitu banyak mempengaruhi kehidupan dunia modern, dengan
kedisiplinan dan keteguhan mereka semuanya dapat terjaga dengan baik.
Kepercayaan Suku Baduy atau masyarakat kanekes sendiri sering disebut dengan Sunda
Wiwitan yang berdasarkan pada pemujaan nenek moyang (animisme), namun semakin
berkembang dan dipengaruhi oleh agama lainnya seperti agama Islam, Budha dan Hindu.
B. Saran-Saran
Kebudayaan masyarakat baduy merupakan kebudayaan yang khas oleh karena itu,
pemerintah harus memperhatikan Kebudayaan masyarakat baduy agar kebudayaan mereka
tetap lestari. Sebaiknya pemerintah daerah kabupaten Lebak tetap memberikan kebebasan
bagi suku baduy untuk mengatur masyarakatnya dengan kebudayaan asli mereka.
Maka kebudayaan suku baduy akan menjadi salah satu kekayaan budaya bangsa kita yang
memiliki bermacam-macam kebudayaan dan adat istiadat yang beragam. Namun
walaupun memiliki keanekaragaman adat istiadat, bangsa kita tetap mempunyai jiwa
persatuan yang kuat seperti yang tercantum dalam semboyan bangsa kita Bhineka Tunggal
Ika.
Penulis yakin dalam pembelajaran dan pembuatan Makalah ini masih banyak
kekurangannya. Sebagai bahan untuk kemajuan penulis dalam Pembuatan makalah ini,
penulis mohon untuk kritik dan sarannya. Karena kesempurnaan hanya milik Allah Yang
Maha Esa.

DAFTAR PUSTAKA
Yani.Ahmad, dkk.2008. Etnografi suku Baduy: panduan pramuwisata Indonesia.
Marcus.A.S. 1986. Kehidupan suku baduy.Books.google.co.id
http://ekspresi-diri.blogspot.com
Koentjaraningrat. Manusia Dan Beberapa Kebudayaan Di Indonesia. Djakarta : Penerbit
Djambatan, 1971
Selo Soemarjan-Soelaeman Soemardi. Setangkai Bunga Sosiologi. Djakarta : Yayasan
Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1964.
Soekarto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : CV. Rajawali, 1985