Anda di halaman 1dari 27

PERTUMBUHAN BAYI

OLEH :
Dra. Nurhaedar Jafar, Apt, M.Kes

PROGRAM STUDI ILMU GIZI


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2005

SURAT KETERANGAN
Ketua Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Hasanuddin Menyatakan telah menerima makalah ilmiah
atas nama :

Nama

: Dra. Nurhaedar Jafar, Apt,M.Kes

NIP

: 131 876 925

Pangkat/ Gol

: Penata tkt I/III d

Judul

: Pertumbuhan Bayi

Makalah ilmiah tersebut telah dipresentasikan dalam acara seminar


ilmiah pada Jurusan Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat pada
tanggal 10 Januari 2005

Demikian Surat Keterangan ini diberikan kepada yang bersangkutan


untuk dipergunakan sebagaimana mestinya

Makassar, 16 Januari 2005


Mengetahui :
Dekan FKM Unhas

Prof. Dr. dr. A. Razak Thaha, MSc


NIP: 130 609 949

Ketua Jurusan Gizi

dr. Citrakesumasari, M.Kes


NIP:131 876 958

DAFTAR ISI

Hal

HALAMAN JUDUL
.....................................................................................................
.....................................................................................................
i
SURAT KETERANGAN
.....................................................................................................
.....................................................................................................
ii
DAFTAR ISI
.....................................................................................................
.....................................................................................................
iii
A. Pengertian

Pertumbuhan

1
B. Teori
Pertumbuhan
...............................................................................................
...............................................................................................
2
C. Determinan
3
D. Instrumen/
7

Pertumbuhan

Penilaian

Pertumbuhan

E. Istilah

Dalam

15
F. Evaluasi

Pertumbuhan

Pertumbuhan

17
G. Tahap-tahap

Pertumbuhan

Bayi

24
DAFTAR PUSTAKA

Pertumbuhan Bayi
A. Pengertian Pertumbuhan
Istilah tumbuh kembang terdiri atas dua peristiwa yang sifatnya berbeda
tetapi saling berkaitan dan sulit untuk dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan
perkembangan. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan
ukuran, besar, jumlah atau dimensi pada tingkat sel, organ maupun individu.
Pertumbuhan bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dengan satuan berat
(gram, kilogram), satuan panjang (cm, m), umur tulang, dan keseimbangan

metabolik (retensi kalsium dan nitrogen dalam tubuh). Pengertian pertumbuhan


anak (child growth) dibatasi pada suatu proses perubahan jasmaniyah
kuantitatif pada tubuh seorang anak sejak pembuahan, berupa pertambahan
ukuran dan struktur tubuh jasmaninya (Satoto, 1997; Kania, 2006).
Perkembangan (development) adalah pertambahan kemampuan struktur
dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan menyangkut adanya
proses diferensiasi sel-sel, jaringan, organ, dan sistem organ yang berkembang
sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya.
(Soetjiningsih, 1998; Tanuwijaya, 2003 dalam Chamidah, 2008).
Pertumbuhan mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu perubahan ukuran,
perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama, serta munculnya ciri-ciri baru.
Keunikan pertumbuhan adalah mempunyai kecepatan yang berbeda-beda di
setiap kelompok umur dan masing-masing organ juga mempunyai pola
pertumbuhan yang berbeda (Chamidah, 2008).
B. Teori pertumbuhan
Bertumpu pada berbagai kajian yang ada, Margen (1984) menjelaskan
rentang teori-teori pertumbuhan anak. Dalam penjelasan tersebut ia
mengemukakan bahwa setidak-tidaknya ada dua determinan utama yang saling
berintekrasi dalam mempengaruhi pertumbuhan anak, ialah faktor bawaan
(genetic factor atau nature) dan faktor lingkungan (environmental factors atau
nurture). Faktor bawaan mengacu pada faktor statik yang menyertai anak sejak
pembuahan, sedang faktor lingkungan lebih banyak terfokus pada kecukupan
gizi dan kesehatan anak (Satoto, 1997). Teori-teori pertumbuhan pada

hakekatnya adalah upaya untuk menjelaskan paradigma hubungan interaktif


antara kcdua determinan terscbut. Secara garis besar, ia memilah berbagai teori
pertumbuhan anak menjadi tiga kelompok, ialah: .
1. Teori Deprivasi Pertumbuhan (Konvensional). yang mendeskripsikan
pertumbuhan sebagai suatu patokan yang pasti; seorang anak telah
mcmiliki patokan tersebut sejak lahir, yang bersifat tunggal ia akan tetap
berada pada kurva pertumbuhan tersebut selama hidupnya; dan ia akan
'jatuh' ke keadaan terganggu hanya manakala faktor lingkungannya tidak
mendukung.
2. Teori Homeostatik Pertumbuhan, yang menjelaskan bahwa faktor genetik
berperan dalam memberikan 'ruang pertumbuhan potensial', suatu kawasan
berspektrum luas. Faktor lingkungan membentuk kurva pertumbuhan
dalam kawasan tersebut. dikontrol oleh mekanisme homeostatik.
3. Teori Potensi Pertumbuhan Optimal, yang mendeskripsikan bahwa faktor
genetik menyediakan batas atas kurva pertumbuhan, yang apabila faktor
lingkungan seorang anak mendukung pertumbuhannya, titik maksimal
pertumbuhannya akan tercapai; sebaliknya kelemahan faktor lingkungan
dapat menyebabkan tidak tercapainya kurva pertumbuhan maksimalnya.
C. Determinan pertumbuhan
Menurut Soetjiningsih (1995), tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh
dua faktor utama, yaitu :
a. Faktor genetik
Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir
proses tumbuh kembang anak. Didalam sel telur yang telah dibuahi terjadi
instruksi

genetik

yang

dapat

menentukan

kualitas

dan

kuantitas

pertumbuhan yang ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan,


derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan
berhentinya pertumbuhan tulang. Potensi genetik yang bermutu diharapkan
dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil
akhir yang optimal.Gangguan pertumbuhan di negara maju lebih sering
karena faktor genetik ini, sedang di negara berkembang, gangguan
pertumbuhan dapat diakibatkan oleh faktor genetik dan lingkungan yang
kurang memadai guna tumbuh kembang anak secara optimal.
b. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau
tidaknya potensi bawaan. Lingkungan tumbuh bagi anak yang cukup
memadai

memungkinkan

tercapainya

potensi

bawaan,

sedangkan

lingkungan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan ini


merupakan lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial yang mempengaruhi
individu setiap hari mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.
Secara garis besar, faktor lingkungan dibagi atas dua, yakni :
a) Faktor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih di dalam
kandungan (faktor pranatal)
b) Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah
lahir (faktor postnatal)
Dalam tumbuh kembangnya, anak membutuhkan 3 kebutuhan dasar,
yaitu :
a) Kebutuhan Fisik Biomedis (ASUH) meliputi pangan, perawatan
kesehatan dasar, pemukiman yang layak, higiene perorangan dan sanitasi
lingkungan, sandang, kesegaran jasmani, rekreasi, dan lain lain.

b) Kebutuhan emosi/kasih sayang (ASIH)


c) Kebutuhan stimulasi mental (ASAH) meliputi perkembangan mental
psikososial, kecerdasan, keteram-pilan, kemandirian, kreativitas, agama,
kepribadian, moral - etika, produktivitas, dan lain-lain.
Ketiga kebutuhan dasar tersebut ditentukan oleh keadaan lingkungan
yaitu lingkungan mikro (ibu), lingkungan mini (keluarga), lingkungan meso
(luar rumah) dan lingkungan makro (kebijakan). Selanjutnya disajikan pada
gambar di bawah ini.
GENETIK
TUMBUH KEMBANG ANAK
ASUH

ASIH

ASAH

LINGKUNGAN
MIKRO
(Ibu)

MINI
(Keluarga)

MESO
(Luar
Rumah)

MAKRO
(Kebijakan)

Gambar 1. Diagram kerangka konseptual proses tumbuh kembang anak


Selain faktror genetik, faktor internal lainnya yang juga berpengaruh
terdiri dari perbedaan ras/etnik atau bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, ,
dan kelainan kromosom. Anak yang terlahir dari suatu ras tertentu, misalnya
ras Eropa mempunyai ukuran tungkai yang lebih panjang daripada ras
Mongol. Wanita lebih cepat dewasa dibanding laki-laki. Pada masa pubertas
wanita umumnya tumbuh lebih cepat daripada laki-laki, kemudian setelah
melewati masa pubertas sebalinya laki-laki akan tumbuh lebih cepat.
Adanya suatu kelainan genetik dan kromosom dapat mempengaruhi

pertumbuhan dan perkembangan anak, seperti yang terlihat pada anak yang
menderita

Sindroma

Down.

Selain

faktor

internal,

faktor

eksternal/lingkungan juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan


anak. Contoh faktor lingkungan yang banyak mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan anak adalah gizi, stimulasi, psikologis, dan sosial
ekonomi.
Faktor herediter merupakan factor yang dapat diturunkan sebagai
dasar dalam mencapai tumbuh kembang anak, factor herditer meliputi factor
bawaan, jenis kelamin, ras, dan suku bangsa. Pertumbuhan dan
perkembangan anak dengan jenis kelamin laki-laki setelah lahir akan
cenderung cepat dibandingkan dengan anak perempuan serta akan bertahan
sampai usia tertentu. Baik anak laki-laki atau anak perempuan akan
mengalami pertumbuhan yang lebih cpat ketika mereka mencapai masa
pubertas. (Alimul, 2008 dalam Suparyanto, 2010).
Faktor lingkungan dibagi menjadi 2 yaitu pranatal (Gizi waktu hamil,
hormonal dan toksin), sedangkan faktor lingkungan postnatal meliputi
budaya lingkungan, status sosial ekonomi (anak dengan keluarga yang
memiliki sosial ekonomi tinggi umumnya pemenuhan gizinya cukup baik),
nutrisi, iklim dan cuaca, olahraga atau latihan fisik dan faktor hormonal
(Suparyanto, 2010).
Gizi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses
tumbuh kembang anak. Sebelum lahir, anak tergantung pada zat gizi yang
terdapat dalam darah ibu. Setelah lahir, anak tergantung pada tersedianya
bahan makanan dan kemampuan saluran cerna. Hasil penelitian tentang
pertumbuhan anak Indonesia (Sunawang (2002) dalam Chamidah, 2008)

menunjukkan bahwa kegagalan pertumbuhan paling gawat terjadi pada usia


6-18 bulan. Penyebab gagal tumbuh tersebut adalah keadaan gizi ibu selama
hamil, pola makan bayi yang salah, dan penyakit infeksi.
Faktor lain yang tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan
perkembangan anak adalah faktor sosial ekonomi. Kemiskinan selalu
berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan lingkungan yang jelek,
serta kurangnya pengetahuan. (Tanuwijaya, 2003).
D. Instrumen/penilaian pertumbuhan
Penilaian pertumbuhan anak mencakup penimbangan berat badan dan
pengukuran panjang atau tinggi badan dan dibandingkan dengan standar
pertumbuhan. Tujuan penilaian pertumbuhan adalah menentukan apakah anak
tumbuh secara normal atau mempunyai masalah pertumbuhan atau ada
kecenderungan masalah pertumbuhan yang perlu ditangani.

Penilaian pertumbuhan dan perkembangan dapat dilakukan sedini


mungkin sejak anak dilahirkan. Deteksi dini merupakan upaya penjaringan
yang dilaksanakan secara komprehensif untuk menemukan penyimpangan
tumbuh kembang dan mengetahui serta mengenal faktor resiko pada balita,
yang disebut juga anak usia dini. Melalui deteksi dini dapat diketahui
penyimpangan tumbuh kembang anak secara dini, sehingga upaya pencegahan,
stimulasi, penyembuhan serta pemulihan dapat diberikan dengan indikasi yang
jelas pada masa-masa kritis proses tumbuh kembang.
Dasar utama dalam menilai pertumbuhan fisik anak adalah penilaian
menggunakan alat baku (standar). Untuk menjamin ketepatan dan keakuratan
penilaian harus dilakukan dengan teliti dan rinci. Pengukuran perlu dilakukan
dalam kurun waktu tertentu untuk menilai kecepatan pertumbuhan.

Parameter ukuran antropometrik yang dipakai dalam penilaian


pertumbuhan fisik adalah tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, lipatan
kulit, lingkar lengan atas, panjang lengan, proporsi tubuh, dan panjang tungkai.
Menurut Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita (Tim Dirjen
Pembinaan Kesmas, 1997) dan Narendra (2003) macam-macam penilaian
pertumbuhan fisik yang dapat digunakan adalah:
1. Pengukuran Berat badan (BB)
Pengukuran ini dilakukan secara teratur untuk memantau
pertumbuhan dan keadaan gizi balita. Balita ditimbang setiap bulan dan
dicatat dalam Kartu Menuju Sehat Balita (KMS Balita) sehingga dapat
dilihat grafik pertumbuhannya dan dilakukan interfensi jika terjadi
penyimpangan. Pada bayi, pengukuran berat badan dengan menggunakan
baby scale. Namun jika tidak ada, berat badan bayi dapat diketahui dengan
cara menimbang bayi bersama dengan ibunya, kemudian hasilnya
dikurangi dengan berat badan ibunya.

Gambar 2. Timbangan berat badan bayi

Prosedur penimbangan bayi yaitu:


a. Letakkan timbangan di tempat yang rata dan datar
b. Pastikan jarum timbangan menunjuk angka nol

c. Timbang bayi telanjang, anak yang lebih besar dengan pakaian minimal
d. Baca dan catat berat badan sesuai dengan angka yang ditunjuk oleh
jarum timbangan
2. Pengukuran Panjang Badan/tinggi badan
Mengukur panjang atau tinggi anak tergantung dari umur dan
kemampuan anak untuk berdiri. Mengukur panjang dilakukan dengan cara
anak telentang. Sedangkan mengukur tinggi anak berdiri tegak.
a. Anak berumur kurang dari 2 tahun, pengukuran dilakukan dengan
telentang
b. Anak berusia 2 tahun atau lebih dan anak sudah mampu berdiri,
pengukuran dilakukan dengan berdiri tegak
Pada penelitian MGRS/WHO 2005, tinggi badan lebih pendek
sekitar 0,7 cm dibandingkan dengan panjang badan. Perbedaan ini telah
dipertimbangkan dalam menyusun standar pertumbuhan oleh WHO yang
digunakan dalam membuat grafik di Buku Grafik Pertumbuhan Anak.
Oleh karena itu, penting untuk mengkoreksi hasil bila pengukuran tidak
dilakukan dengan cara yang sesuai untuk kelompok umur.
a. Jika seorang anak berumur kurang dari 2 tahun diukur tingginya
(berdiri) maka ditambahkan 0,7 cm untuk mengkonversi menjadi
panjang badan
b. Jika seorang anak berumur 2 tahun atau lebih dan dan diukur
panjangnya (telentang) maka dikurangi 0,7 cm untuk mengkonversi
menjadi tinggi badan.
Peralatan yang diperlukan untuk mengukur panjang badan adalah
papan ukur panjang badan (infantometer). papan ukur panjang badan yang

harus ditempatkan di atas permukaan yang rata, misalnya di meja. Berikut


gambar pengukuran panjang badan anak.

Gambar 3. Pengukuran panjang badan


Hal yang perlu di ingat dalam mengukur pajang anak yaitu pastikan
sepatu anak, kaus kaki, dan hiasan rambut sudah dilepas. Jika bayi diukur
telanjang, alasi papan pengukur dengan menggunakan kain kering untuk
menghindari cedera. Jika ruang tempat pengukuran dalam keadaan dingin
maka selimuti anak agar tetap hangat sambil menunggu pengukuran.
Dalam pengukuran panjang atau tinggi anak, ibu harus membantu proses
pengukuran dengan tujuan untuk menenangkan serta menghibur anak
3. Pengukuran Lingkar Kepala Anak (PLKA)
PLKA adalah cara yang biasa dipakai untuk mengetahui
pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Biasanya ukuran pertumbuhan
tengkorak mengikuti perkembangan otak, sehingga bila ada hambatan
pada pertumbuhan tengkorak maka perkembangan otak anak juga
terhambat. Pengukuran dilakukan pada diameter occipitofrontal dengan
mengambil rerata 3 kali pengukuran sebagai standar.
Tabel 1. Berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala berdasarkan
kurva WHO 2005 untuk anak laki-laki

Usia

Berat

Tinggi

Lingkar Kepala

1 bulan

3.3-6.0 kg

51.0-57.5 cm

34.5-39 cm

2 bulan

4.3-7.2 kg

54.5-62.5 cm

36-41 cm

3 bulan

5.1-8.0 kg

57.5-65.0 cm

37-43 cm

4 bulan

5.7-8.6 kg

60.0-68.0 cm

38.5-44 cm

5 bulan

6.0-9.2 kg

62.0-70.0 cm

40-45 cm

6 bulan

6.4-9.7 kg

63.5-72.5 cm

40.5-46 cm

7 bulan

6.8-10.2 kg

65.0-73.5 cm

41-47 cm

8 bulan

7.0-10.6 kg

66.5-75.0 cm

42-48 cm

9 bulan

7.2-10.6 kg

68.0-76.0 cm

42.5-48.5 cm

10 bulan

7.4-11.3 kg

69.0-78.0 cm

43-49 cm

11 bulan

7.6-11.6 kg

70.0-79.0 cm

43.5-49.5 cm

12 bulan

7.8-11.8 kg

71.0-80.5 cm

45-50.5 cm

15 bulan

8.4-12.7 kg

74.5-84.0 cm

45-50.5 cm

18 bulan

8.9-13.5 kg

77.3-88.5 cm

45.5-51.5 cm

2 tahun

9.9-15.0 kg

81.5-93.0 cm

46-52 cm

2.5 tahun

10.7-16.7 kg

85.5-98.0 cm

47-52.5 cm

3 tahun

11.4-18.0 kg

89.0-103.0 cm

48-53 cm

3.5 tahun

12.2-19.5 kg

97.5-107.0 cm

48-53 cm

4 tahun

12.9-20.9 kg

95.5-111.0 cm

48-53 cm

4.5 tahun

13.6-22.3 kg

98.0-114.0 cm

48.5-53 cm

5 tahun

14.3-23.8 kg

101.0-119.0 cm

48.5-53.5 cm

Tabel 2. Berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala berdasarkan


kurva WHO 2005 untuk anak perempuan
Usia

Berat

Tinggi

Lingkar Kepala

1 bulan

3.2-5.6 kg

50.0-58.0 cm

33-39 cm

2 bulan

4.0-6.6 kg

53.0-61.5 cm

35-40 cm

3 bulan

4.6-7.5 kg

56.0-64.0 cm

36-42 cm

4 bulan

5.1-8.2 kg

58.0-66.5 cm

37.5-43 cm

5 bulan

5.5-8.2 kg

62.0-70.0 cm

39-44 cm

6 bulan

5.8-9.2 kg

61.5-70.0 cm

39.5-45 cm

7 bulan

6.1-9.6 kg

63.0-72.0 cm

40-46 cm

8 bulan

6.3-10.0 kg

64.5-73.5 cm

41-46.5 cm

9 bulan

6.5-10.4 kg

65.5-75.0 cm

41.5-47 cm

10 bulan

6.8-10.8 kg

67.0-76.5 cm

42-47.5 cm

11 bulan

7.0-11.0 kg

68.0-78.0 cm

42.5-48 cm

12 bulan

7.2-11.3 kg

69.0-79.0 cm

43-48.5 cm

15 bulan

7.6-12.2 kg

72.0-83.0 cm

44-49.5 cm

18 bulan

8.2-13.0 kg

75.0-86.0 cm

44.5-50 cm

2 tahun

9.2-14.6 kg

80.0-92.0 cm

45-50.5 cm

2.5 tahun

10.1-16.3 kg

84.0-97.0 cm

45.5-51 cm

3 tahun

11.0-17.8 kg

88.0-102.0 cm

46-51.5 cm

3.5 tahun

11.8-19.5 kg

91.5-107.0 cm

46.5-52 cm

4 tahun

12.5-21.1 kg

94.5-111.0 cm

47-52.6 cm

4.5 tahun

13.2-22.8 kg

97.5-115.0 cm

47.5-53 cm

5 tahun

14.0-24.3 kg

100.5-119.0 cm

47.5-53 cm

Sumber : Anonim, 2010


Selain parameter tersebut di atas, untuk menilai pertumbuhan anak
dibutuhkan pula KMS (Kartu Menuju Sehat), yaitu kartu yang memuat
data serta grafik pertumbuhan anak serta indikator perkembangan yang
bermanfaat untuk mencatat dan memantau tumbuh kembang balita setiap
bulannya dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun (Nursalam, 2005).
Adapun fungsi/manfaat KMS yaitu (Permenkes, 2010) :
1. Sebagai alat untuk memantau pertumbuhan anak. Pada KMS dicantumkan
grafik pertumbuhan normal anak, yang dapat digunakan untuk menentukan
seorang anak tumbuh normal atau mengalami gangguan pertumbuhan. Bila

grafik berat badan anak mengikuti grafik pertumbuhan pada KMS, artinya
anak

tumbuh

normal,

kecil

resiko

anak

mengalami

gangguan

pertumbuhan. Sebaliknya bila grafik berat badan tidak sesuai dengan


grafik pertumbuhan, anak kemungkinan beresiko mengalami gangguan
pertumbuhan.
2. Sebagai catatan pelayanan kesehatan anak. Di dalam KMS dicatat riwayat
pelayanan kesehatan dasar anak terutama berat badan anak, pemberian
kapsul vitamin A, pemberian ASI pada bayi 0-6 bulan dan imunisasi.
3. Sebagai alat edukasi. Di dalam KMS dicantumkan pesan-pesan dasar
perawatan anak seperti pemberian makanan anak, perawatan anak bila
diare
Untuk pemantauan pertumbuhan balita di masyarakat telah dikembangkan
Kartu Menuju Sehat (KMS) balita laki-laki dan perempuan berdasarkan standar
pertumbuhan WHO 2005. rujukan pertumbuhan dikembangkan menggunakan data
dari satu negara dengan mengukur contoh anak-anak yang dianggap sehat, tanpa
memperhatikan cara hidup dan lingkungan mereka. WHO Multicentre Growth
Reference Study (MGRS)3 telah dirancang untuk menyediakan data yang
menggambarkan bagaimana anak-anak harus tumbuh, dengan cara memasukkan
kriteria tertentu (misalnya: menyusui, pemeriksaan kesehatan, dan tidak merokok).
MGRS menghasilkan standar pertumbuhan yang bersifat preskriptif (bagaimana
anak seharusnya tumbuh optimal), berbeda dengan acuan/rujukan (reference)
sebelumnya yang bersifat deskriptif (gambaran bagaimana anak tumbuh). Pada
KMS baru telah dirancang ulang untuk anak Indonesia yang dibedakan menurut

jenis kelamin, dicantumkan 12 tahapan perkembangan motorik berdasarkan


kesepakan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Gambar 4. KMS dan Grafik pertumbuhan Anak Laki-laki dan perempuan 024 bulan
E. Istilah dalam pertumbuhan
Istilah-istilah yang sering digunakan dalam menilai pertumbuhan bayi
antara lain :
1. Growth Spurts
Yaitu berubahnya pola tidur dan pola menyusui bayi akibat adanya
perkembangan yang signifikan baik pada jasmani, otak maupun pada
gerakan motoriknya seperti akan mulai membalik (tengkurap), merangkak,

a.

berjalan dll. Biasanya terjadi ketika bayi berusia 10-13 hari, 2-3 minggu, 46 minggu, 3 bulan, 4 bulan,6 bulan dan 9 bulan (Sutanto, 2009).
2. Plateu
Yaitu masa tidak terjadi pertumbuhan/perkembangan. Masa ini dimulai
sejak bayi lahir sampai berumur kira-kira 10 atau 15 hari. Ciri2 yg penting :
a. Periode ini merupakan masa perkembangan tersingkat dari seluruh
periode perkembangan
b. Periode ini merupakan saat penyesuaian diri untuk kelangsungan
hidup/perkembangan janin
c. Ditandai dengan terhentinya perkembangan
d. Di akhir periode ini bila bayi selamat maka merupakan awal
perkembangan lebih lanjut
3. Gagal Tumbuh
Yaitu kegagalan mencapai pertambahan massa tubuh atau gagal mencapai
berat normal/pertumbuhan fisik dibawah sebayanya. Merupakan suatu
kondisi dimana pertumbuhan tidak berjalan sesuai dengan bertambahnya
usia; bisa disebabkan oleh banyak faktor.antara lain :
a. Non organik (terdapat masalah dalam asupan makanan namun tidak ada
penyakit atau kondisi medis yang mendasari terjadinya gagal tumbuh
ini):
a.

Asupan makanan dibatasi

b.

Cara pemberian makan yang kurang/tidak


tepat

c.

Kurang perhatian terhadap makanan anak

d.

Neglected (anak terabaikan)

e.

Kemiskinan

b. Organik (ada penyakit atau kondisi medis yang mendasari)


Kelainan fungsi ginjal

b.

Kelainan hormonal (endokrin)

c.

Kelainan metabolisme

d.

Kelainan pencernaan (fibrosis kistik)

e.

Kelainan kromosom

f.

Gastroesphageal reflux disease

g.

Tuberkulosis
c. Mixed: gagal tumbuh akibat malnutrisi dan juga akibat adanya gangguan
medis yang kronis

Infeksi kronis;
Sering infeksi

Semakin
sering
Infeksi
Pemulihan lambat

Pemberian
makan - buruk

GAGAL
TUMBUH

Berat badan
kurang
Berat badan
semakin berkurang

Penyakit lebih
berat

Kekurangan gizi
yang parah

KEMATIAN
Gambar 5. Penyebab terjadinya gagal tumbuh
F. Evaluasi pertumbuhan

Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil


penimbangan dicatat di KMS, dan antara titik berat badan KMS dari hasil
penimbangan bulan lalu dan hasil penimbangan bulan ini dihubungkan dengan
sebuah garis. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak tersebut membentuk
grafik pertumbuhan anak. Pada balita yang sehat, berat badannya akan selalu
naik, mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya. Grafik pertumbuhan
dalam KMS terdiri dari garis merah, pita warna kuning, hijau tua dan hijau
muda. (Depkes RI, 2000).
1. Balita tidak naik berat badannya bila :
a.
Garis pertumbuhannya turun, atau
b. Garis pertumbuhannya mendatar, atau
c. Garis pertumbuhannya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya
d. Atau kenaikan berat badan kurang dari kenaikan berat badan minimal
(KBM)
2. Balita naik berat badannya bila:
a.
Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna
b. Garis pertumbuhannya naik dan pindah ke pita warna atasnya
c. Kenaikan berat badan sama dengan kenaikan berat badan minimal atau
lebih (KBM)
3. Berat badan balita di bawah garis merah artinya balita mengalami gangguan
pertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga harus langsung dirujuk
ke puskesmas/rumah sakit
4. Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak naik (3T), artinya balita
mengalami

gangguan

puskesmas/rumah sakit

pertumbuhan Keterangan
sehingga
:
a.

b.

c.
d.
e.

harus

dirujuk

TIDAK NAIK (T); grafik BB


memotong garis pertumbuhan
dibawahnya; kenaikan BB < KBM
(<800 g)
NAIK (N), grafik BB memotong
garis pertumbuh an diatasnya;
kenaikan BB > KBM (>900 g)
NAIK (N), grafik BB meng ikuti
garis pertumbuhannya; kenaikan BB
> KBM (>500 g)
TIDAK NAIK (T), grafik berat
badan mendatar; kenaikan BB <
KBM (<400 g)
TIDAK NAIK (T), grafik BB
menurun; grafik BB < KBM (<300
g)

ke

Gambar 6. Pemantauan pertumbuhan anak


Interpretasi pertumbuhan :
1. Pertumbuhan yang diharapkan pada anak dengan statu awal Berat Badan
Idealnya baik (normal) dengan Tinggi Badanya Normal, akan terlihat
proporsi (keseimbangan) berat badan dan tinggi badanya normal, maka
pola pertumbuhan berat badan pada anak akan terlihat pada grafik
pertumbuhan adalah standar seperti terlihat pada gambar
2. Pertumbuhan yang diharapkan pada anak dengan status Berat Badan
awalnya Kurang dan Tinggi Badannya Pendek, akan terlihat proporsi
(keseimbangan) Berat Badan dan Tinggi adalah Normal, maka pola
pertumbuhan anak pada KMS akan berada dibawah standar, pola
tersebutlah yang diharapkan, karena jika mengikuti Pola Pertumbuhan
Standar, anak akan terlihat kegemukan (obesitas). Seperti terlihat pada
gambar
3. Jika pertumbuhan pada anak dengan status awal Berat Badannya Kurang,
sedangkan Tinggi Badannya normal, akan terlihat proporsi (keseimbangan)
Berat Badan dan Tinggi Badan anak adalah kurus, maka pola pertumbuhan
anak yang diharapkan adalah harus berada pada pola standar. Jadi anak
harus terus dinaikan berat badannya sampai berada pada pola standar,
tetapi pola ini tidak boleh dipaksakan bila anak tersebut sejak awal

memang sudah mempunyai Tinggi Badan Pendek. Seperti terlihat pada


gambar

(1)

(2)

(3)

Gambar 7. Interpretasi pertumbuhan


Contoh evaluasi pertumbuhan bayi:
Shifa Triaulia, pada tanggal 2 Juli 2011 berumur 6 bulan dengan BB 6,1 Kg dan
PB 62 cm, pada penimbangan 2 Agustus 2011 BB 6,1 dan PB 62 cm.

Gambar 8. Grafik BB/U Pada Penimbangan 2 Juli 2011

Gambar 9. Grafik BB/U Pada Penimbangan 2 Agustus 2011

Gambar 10. Grafik PB/U Pada Penimbangan 2 Juli 2011

Gambar 11. Grafik PB/U Pada Penimbangan 2 Agustus 2011

Analisis kasus:
Pada kasus di atas terlihat bahwa berat badan anak tidak naik, anak
mengalami gizi kurang (BB/U -2 SD) dan pendek (PB/U -3 SD). Sehingga
perlu mewancarai dan mengidentifikasi penyebab masalahnya.
Banyak faktor sosial dan lingkungan yang bisa mempengaruhi pemberian
makanan, pola asuh dan pertumbuhan anak. Maka sangat perlu untuk
menentukan penyebab timbulnya masalah pada anak sebelum memberikan
konseling. Misalnya, seorang anak kurus karena keluarganya kekurangan
bahan makan, sehingga tidak akan menolong jika menasihati ibu untuk
memberi makan anak lebih sering.
Pada tahun 1990 UNICEF mengembangkan diagram berikut, untuk
menunjukkan kemungkinan penyebab kurang gizi (under nutrition).

Statu
s Gizi

Penyak
it
Pola Infeksi
Yanke
diaan
Asuh
s
dan
Pola Beli, Akses Pangan,
Daya
Konsu
Informasi, Akses
msi RT
Kemiskinan,
Ketahanan
Pelayanan
Pangan dan Gizi,
Pendidikan,Kesehatan,
Ekonomi, politik
Kependudukan
dan Sosial

Intak
e
Keterse

Manifest
asi

Penyeb
ab
Langsu
Penyeb
ng
ab
Tidak
Langsu
ng

Akar
Masala
h

Gambar 12. Penyebab masalah Gizi (UNICEF, 1990)


Anak dengan salah satu masalah pertumbuhan serius berikut ini harus
segera dirujuk untuk mendapatkan perawatan khusus:
a. Sangat kurus (di bawah -3 SD untuk BB/PB, BB/TB atau IMT/U)
b. Ada tanda klinis marasmus (misalnya tampak benar-benar kurus, seperti
tulang terbungkus kulit)
c. Ada tanda klinis kwashiorkor (misalnya edema seluruh tubuh; rambut tipis
dan jarang; kulit terkelupas)
d. Edema pada kedua punggung kaki
G. Tahap-tahap pertumbuhan Bayi
Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan, dan
berkesinambungan dimulai sejak pembuahan sampai dewasa. Walaupun
terdapat variasi, namun setiap anak akan melewati suatu pola tertentu.
Tanuwijaya (2003) memaparkan tentang tahapan tumbuh kembang anak yang
terbagi menjadi dua, yaitu masa pranatal dan masa postnatal. Setiap masa
tersebut memiliki ciri khas dan perbedaan dalam anatomi, fisiologi, biokimia,
dan karakternya. Tahap-tahap pertumbuhan pada bayi dibagi menjadi 2 tahap
yaitu :
1. Masa neonatal (0-28 hari)
Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terJadi perubahan
sirkulasi darah, serta mulai berfungsinya organ-organ tubuh lainnya
2. Masa Bayi (1-12 bulan)
Pertumbuhan yang sangat pesat dan proses pematangan berlangsung secara
kontinyu, terutama meningkatnya fungsi sistem saraf.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010. Tahapan tumbuh kembang pada anak. Online. www.inspirasi
sehat.com

Chamidah, AN. 2008. Deteksi dini gangguan pertumbuhan dan perkembangan


anak.
Depkes, RI. (2000). Referensi Kesehatan. http://creasoft.wordpress.com. Diakses
pada tanggal 14 juni 2010
Kania, N. 2006. Stimulasi tumbuh kembang anak untuk mencapai tumbuh
kembang yang optimal. Disampaikan pada seminar Stimulasi
Tumbuh Kembang Anak Bandung, 11 Maret 2006.
Nursalam. (2005). Ilmu kesehatan anak. Jakarta : Salemba Medika
Satoto, 1997. Fitrah dan Tumbuh kembang anak. Dibawakan pada pidato
pengukuhan guru besar ilmu gizi Universitas Diponegoro.
Semarang
Soetjiningsih.Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC; 1995
Suparyanto, 2010. Deteksi dini tumbuh kembang anak balita melalui KMS.
Online.www.suparyanto.blogspot.com
Sutanto,M. 2009. Bayi sering menangis- apakah ini tandanya ASI tidak cukup?.
Online www, aimi-asi.org
Syamsir. 2010. Monitoring pertumbuhan anak sejak bayi sering diabaikan. Online.
www.
Tanuwijaya, S. 2003. Konsep Umum Tumbuh dan Kembang. Jakarta: EGC
WHO. Modul Pelatihan penilaian pertumbuhan anak D. Koseling pertumbuhan
dan pemberian makan.
WHO. Modul Pelatihan penilaian pertumbuhan anak B. Mengukur pertumbuhan
anak