Anda di halaman 1dari 11

6

Candidiasis Oral
Kandidiasis oral merupakan suatu penyakit jaringan rongga mulut yang berup lesi
merah dan lesi putih yang disebabkan oleh jamur jenis andda sp.
Patogenesis Kandidiasis Oral
Kandida

merupakan

mikroflora normal dalam rongga mulut, dimana

mikroorganisme ini jumlahnya mencapai 40 60 % dari populasi. Jamur ini dapat


menjadi patogen dalam kondisi tertentu atau pada orang orang yang mengalami
penurunan sistem imun tubuh. Spesies kandida dalam rongga mulut bermacammacam, yakni: Candida albican, Candida parapsilosis, Candida tropicalis, Candida
glabrata, dan Candida guillermondii. Kandida albikan merupakan organisme
komensal dan merupakan bagian dari flora mulut, serta mampu menghasilkan infeksiinfeksi oportunis dalam rongga mulut jika ada faktor-faktor predisposisi yang
mendukung. Kandida albikan merupakan jamur dimorfik karena mempunyai
kemampuan untuk tumbuh dalam dua bentuk yang berbeda, yaitu sebagai sel tunas
yang akan berkembang menjadi blastospora dan menghasilkan kecambah yang akan
membentuk hifa semu, baik dalam tubuh maupun dalam biakan (Herawati, 2008).
Kandidiasis rongga mulut merupakan salah satu penyakit infeksi yang
disebabkan oleh jamur dalam rongga mulut, terutama oleh kandida albikan. Kandida
albikan merupakan jamur yang pada keadaan normal merupakan kelompok
organisme komensal yang berada dalam rongga mulut. Ketika seseorang mengalami
gangguan imun, jamur ini akan bersifat patogen. Bila terjadi infeksi, filamen dari
jamur ini akan berkembang dan meluas ke daerah apikal, dimana bentuk cabang
lateral mulai terlihat pada hifa dan mycelium, dan devisi sel tunggal yang
dihubungkan dengan bentuk yeast. Adhesi kandida pada dinding sel epitelial yang
merupakan langkah penting pada infeksi awal ditingkatkan oleh komponen dinding
sel jamur seperti mannose , reseptor Cd3, manoprotein, dan sakarin. Proses ini akan
diperberat dengan faktor-faktor predisposisinya dan terus berlanjut sehubungan
dengan imunodefisiensi yang dialami oleh pasien (Herawati, 2008).

Terjadinya kandidiasis pada rongga mulut di awali dengan adanya


kemampuan kandida untuk melekat pada mukosa mulut, hal ini yang menyebabkan
awal terjadinya infeksi. Sel ragi atau jamur tidak melekat apabila mekanisme
pembersihan oleh saliva, pengunyahan dan penghancuran oleh asam lambung
berjalan normal. Perlekatan jamur pada mukosa mulut mengakibatkan proliferasi,
kolonisasi tanpa atau dengan gejala infeksi (Mc Farlane et al., 2002). Bahan bahan
polimerik ekstra selular (mannoprotein) yang menutupi permukaan kandida albikan
merupakan komponen penting untuk perlekatan pada mukosa mulut. Kandida albikan
menghasilkan proteinnase yang dapat mengdegradasi protein saliva termasuk
sekretori imunoglobulin A, laktoferin, musin dan keratin juga sitotoksis terhadap sel
host (Mc Farlane et al., 2002).
Kandidiasis oral sering dikelompokkann menjadi empat kelompok, yaitu
(Lewis, 1998):
1) Pseudomembran akut (trush)
Kandidiasis oral jenis ini dikarakteristikkan oleh bercak-bercak kuning krem
yang lunak, yang mengenai daerah mukosa mulut yang luas. Plak ini tidak
melekat dan biasanya mudah dikelupas untuk memperlihatkan mukosa
eritematus dibawahnya.
Penatalaksanaan. Terapi polyenen secara topical harus membawa
kesembuhan dalam 7-10 hari. Pengobatan harus dilanjutkan selama 2 minggu
setelah penyembuhan klinis yang dalam istilah klinis berarti selama 4
minggu.
2) Atrofik akut
Mukosa oral pada bentuk kandidiasis ini bersifat eritematus. Faktor
predisposisi yang mengakibatkannya dalah pengobatan dengan antibiotic,
pengobatan dengan streroid serta infeksi HIV. Beda dengan bentuk-bentuk
kandidiasi oral lain, kandidiasis eritamtus akut seringkali menimbulkan rasa
sakit.
Penatalaksanaan. Terapi polyene secara topical harus diberikan selama 4
minggu. Terapi antibiotic harus dihindari. Penderita dengan terapi steroid
secara inhalasi harus dianjurkan untuk berkumur-kumur dengan air setelah
terapi inhalasi untuk mengurangi jumlah steroid di dalam rongga mulut.

3) Hiperplastik kronis
Infeksi Candida kronis dapat menimbulkan perubahan hiperplastik dari epitel
yang secar klinis berupa bercak-bercak putih.
Penatalaksanaan. Terapi antijamur jangka panjang (sampai 3 bulan) harus
diberikan dalam bentuk polyene secara topical. Akhir-akhir ini telah
ditemukan bahan antijamur sistemik yang dapat menghasilkan kesembuhan
klinis dalam 2-3 minggu. Setiap defisiensi zat besi serta penyakit yang
mendasarinya harus disembuhkan.
4) Atrofik kronis
Ini merupakan jenis kandidiasis yang paling sering dijumpai dan menyerang
seperempat sampai dua pertiga penderita yang memakai gigi palsu.
Penatalaksanaan. Pengobatan dilakukan dengan bahn polyene antijamur secar
topical, diberikan tiap 6 jam selama 4 minggu. Pada kasus ini kebersihan geligi tiruan
merupakan hal yang penting. Oleh karena itu penderita dianjurkan untuk merendam
gigi palsunya dalam larutan hipoklorit semalaman untuk menghindari setiap
kemungkinan pertumbuhan jamur.

Diagnosa Banding
Beberapa diagnosa banding dari kandidiasis pseudomembran akut adalah sbb:
a. Leukoplakia
Leukoplkia adalah lesi putih berbintik atau berupa plak, kaku, melekat pada
mukosa tidak dapat di kerok. Predileksi : buccal mucosa, tongue, floor of the
mouth, gingiva, and lower lip. Leukoplakia merupakan lesi prekanker, dapat
berkembang menjadi keganasan, disebabkan karena mengkonsumsi tembakau,
alkohol, gesekan lokal kronis, candida albican, HPV. Pemeriksaan lab dengan
histopatological examination.

b. Hairy Leukoplakia
Hairy leukoplakia adalah lesi yang sering dijumpai pada HIV, dan kadang juga
pada orang dengan keadaan imunokompresif. Peyebabnya adalah epstein-barr
virus. Klinisnya berwarna putih asimptomatik, tidak dapat dikerok, ditemukan
bilateral atau unilateral pada lidah dan dapat menyebar hingga dorsum dan
ventral. Karakteristiknya permukaan lesi yang bergelombang dengan orientasi
vertikal, namun lembut dan datar. Bukan merupakan lesi prakanker.
Pemeriksaan lab : histological examination, in situ hybridization, poly-merase
chain reaction (PCR) and electron microscopy.

c. Lichen planus
Lichen planus adalah penyakit umum relatif keradangan kronis pada oral
mukosa dan kulit. Penyebab belum diketahui, kemungkinan autoimun Sel-T.

10

Kliinisnya plak putih, dengan wickmans striae. Predileksi buccal mucosa,


tongue, and gingiva. Terdapat lesi pada kulit berupa lesi ungu bersudut papula
pruritic di daerah fleksor extrimitas. Tedapat juga lesi pada gland penis dan
vagina.

3.6 Terapi Kandidiasis


Kandidiasis

pada

rongga

mulut

umumnya

ditanggulangi

dengan

menggunakan obat antijamur,dengan memperhatikan factor predisposisinya atau


penyakit yang menyertainya, hal tersebut berpengaruh terhadap keberhasilan
pengobatan atau penyembuhan (Lewis, 1998).
Obat-obat antijamur diklasifikasikan menjadi beberapa golongan yaitu
(Lewis, 1998):
1) Antibiotik
a. Polyenes :amfotericin B, Nystatin, Hamycin, Nalamycin
b. Heterocyclicbenzofuran : griseofulvin
2) Antimetabolite: Flucytosine (5 Fe)
3) Azoles
a. Imidazole (topical): clotrimazol, Econazol, miconazol (sistemik) :
ketokonazole
b. Triazoles (sistemik) : Flukonazole, Itrakonazole
4) Allylamine Terbinafine
5) Antijamur lainnya : tolnaftate, benzoic acid, sodiumtiosulfat.

11

Dari beberapa golongan antijamur tersebut diatas, yang efektif untuk kasus
kasus pada rongga mulut, sering digunakan antara lain amfotericine B, nystatin,
miconazole, clotrimazole, ketokonazole, itrakonazole dan flukonazole (Lewis, 1998).
a. Amfoterisin B
Amfoterisin B dihasilkan oleh Streptomyces nodusum, mekanisme kerja obat
ini yaitu dengan cara merusak membran sel jamur. Efek samping terhadap
ginjal seringkali menimbulkan nefrositik. Sediaan berupa lozenges (10 ml )
dapat digunakan sebanyak 4 kali /hari (Lewis, 1998).
b. Nystatin
Nystatin dihasilkan oleh streptomyces noursei,mekanisme kerja obat ini
dengan cara merusak membran sel yaitu terjadi perubahan permeabilitas
membran sel. Sediaan berupa suspensi oral 100.000 U / 5ml dan bentuk cream
100.000 U/g, digunakan untuk kasus denture stomatitis (Lewis, 1998).
c. Miconazole
Miconazole mekanisme kerjanya dengan cara menghambat enzim cytochrome
P 450 sel jamur, lanosterol 14 demethylase sehingga terjadi kerusakan sintesa
ergosterol dan selanjutnya terjadi ketidak normalan membrane sel. Sediaan
dalam bentuk gel oral (20 mg/ml), digunakan 4 kali /hari setengah sendok
makan, ditaruh diatas lidah kemudian dikumurkan dahulu sebelum ditelan
(Lewis, 1998).
d. Clotrimazole
Clotrimazole mekanisme kerja sama dengan miconazole, bentuk sediaannya
berupa troche 10 mg, sehari 3 4 kali (Lewis, 1998).
e. Ketokonazole (ktz)
Ketokonazole adalah antijamur broad spectrum. Mekanisme kerjanya dengan
cara menghambat cytochrome P450 sel jamur, sehingga terjadi perubahan
permeabilitas membran sel, Obat ini dimetabolisme di hepar.Efek sampingnya
berupa mual / muntah, sakit kepala,parestesia dan rontok. Sediaan dalam
bentuk tablet 200mg Dosis satu kali /hari dikonsumsi pada waktu makan
(Lewis, 1998).
f. Itrakonazole
Itrakonazole
efektif

untuk

pengobatan

kandidiasis

penderita

immunocompromised. Sediaan dalam bentuk tablet ,dosis 200mg/hari. selama


3 hari.,bentuk suspensi (100-200 mg) / hari,selama 2 minggu. (Greenberg,

12

2003) Efek samping obat berupa gatal-gatal,pusing, sakit kepala, sakit di


bagian perut (abdomen),dan hypokalemi (Lewis, 1998).
g. Flukonazole
Flukonazole dapat digunakan pada seluruh penderita kandidiasis termasuk
pada penderita immunosupresiv. Efek samping mual, sakit di bagian perut,
sakit kepala, eritme pada kulit. Mekanisme kerjanya dengan cara
mempengaruhi Cytochrome P 450 sel jamur, sehingga terjadi perubahan
membran sel . Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan. Sediaan dalam
bentuk capsul 50,mg, 100mg, 150mg dan 200mg single dose dan intra vena.
Kontra indikasi pada wanita hamil dan menyusui (Lewis, 1998).
Walaupun kandidiasis oral tergantung pada tipe kandidiasis, penting untuk
memencilkan setiap factor predisposisi. Terapi dilakukan berdasarkan pada
penggunaan zat polyene misalnya amfoterisin atau nistatin, keduanya tersedia dalam
berbagai formulasi untuk penggunaan secara topical. Juga terdapat zat imidazole.
Generasi baru dari derivate imidazole diantaranya adalah fluconazole dan
itaconazole, keduanya ternyata sangat efektif.
Bahan-bahan antijamur yang digunakan untuk pengobatan kandidiasis oral dan
perioral adlah:
Obat
Amfoterisin
Nistatin

Fluconazole
Itraconazole

Pemeriksaan Obyektif
Secara umum pemeriksaan ini meliputi :
a. Perubahan warna, apakah mukosa

Format
Suspensi oral 100 mg/ml
Salep 3%
Tablet 100 mg
Krem 100 000 unit/gram
Salep 100 000 unit/gram
Pastiles 100 000 unit/gram
Suspensi oral 100 000 unit/gram
Kapsul 50 mg dan 150 mg
Kapsul 100 mg

mulut

berwarna

abnormal,

misalnya putih, merah atau hitam. Konsistensi, apakah jaringan keras,


kenyal, lunak, fIuktuan atau nodular.

13

b. Kontur, apakah permukaan mukosa kasar, ulserasi, asimetri atau


pembengkakan.
c. Temperatur.
d. Fungsi, apakah pasien dapat membuka mulut dengan sempurna.
e. Lymphnode servikal.
Metode Pemeriksaan ada 4 yaitu (Fragiskos, 2007).
1. Inspeksi
2. Palpasi
3. Perkusi
4. Auskultasi
Inspeksi yaitu melihat secara umum diperoleh gambaran menyeluruh dan kesan
umum tentang penderita (Fragiskos, 2007).
1. Pengamatan secara visual pada berbagai bagian tubuh pasien, yang dapat
memberikan informasi kelainan.
2. Memakai indera mata, bagian yang diperiksa harus terbuka.
3. Memerlukan cahaya yang terang.
4. Hasil observasi dinyatakan dalam ukuran (jika mungkin), kemudian
dibandingkan dengan yang normal.
Pada inspeksi kita harus memperhatikan (Fragiskos, 2007).:
1. normal/abnormal
2. ukuran / diameter
3. perubahan warna: pucat,hiperemis
4. Bentuk, simetris/asimetris
5. batas jelas/tidak jelas
6. ada/tidaknya lesi (ulkus,tumor)
7. Single/multiple.
8. unilateral/bilateral.
Palpasi yaitu pemeriksaan yang dinilai dengan sentuhan , raba pada daerah yang
dicurigai serta daerah yang bersangkutan dengan kelainan utama (Fragiskos, 2007).
1. Harus dilakukan hati hati.

14

2. Tindakan meraba dgn 1 atau 2 tangan atau jari tangan


3. Usaha untuk menegaskan yang dilihat, disamping untuk menemukan yang
tidak terlihat.
4. Penilaian: Permukaan halus /kasar, Batas (Jelas /Diffuse), Diameter metrik,
unilateral/ bilateral, bertangkai/tidak.
Pada palpasi dapat ditentukan (Fragiskos, 2007).
1. Massa
2. Ukuran
3. Warna
4. Mengetahui bentuk dan struktur suatu organ permukaan licin, berbenjol, kasar
5. Perubahan tahanan kesan konsistensi struktur (lunak, kenyak,keras), dapat
bermakna untuk menetapkan keadaan patologis suatu organ atau sistem.
6. Hubungan suatu struktur dengan struktur sekitar dengan cara menentukan
batasnya atau mobilitasnya terhadap struktur lain disekitarnya.
7. Batas: difuse, tegas
8. Fluktuasi : berpindahnya cairan di dalam suatu rongga yang tertutup.
9. Suhu dan perbedaan suhu (terutama pada infeksi).
10. Rasa nyeri (terutama pada tumor).
Pemeriksaan Penunjang Lesi Rongga Mulut
3.3.3.1 Pemeriksaan Radiologi
Untuk lesi jaringan lunak mulut, jenis pemeriksaan radiologi yang sering
diperlukan adalah occlusal foto. Teknik ini dapat digunakan untuk mengetahui letak
dari batu kelenjar liur yang biasanya ditemukan pada saluran kelenjar liur
submandibula.
Pemeriksaan Biopsi
1. Biopsi eksisi
Biopsi eksisi adalah pengambilan jaringan yang dilakukan untuk pemeriksaan
histopatologi lebih lanjut. Biopsi dilakukan bila ditemukan lesi yang mencurigakan
atau bila diagnosis tetap belum dapat ditentukan. Biasanya tindakan ini dilakukan

15

pada lesi yang berdiri sendiri, dan spesimen harus cukup besar (lebih dari 1 x 0,5 cm)
untuk keperluan pemeriksaan histopatologi. Cara ini dilakukan bila operator yakin
bahwa lesi tersebut jinak. Ada risiko terlepasnya sel ganas bila diagnosis kerja berupa
lesi jinak ternyata salah.
2. Biopsi insisi
Cara ini memiliki risiko berupa terlepasnya sel ganas. Biopsi insisi tidak
dilakukan pada lesi pigmentasi ataupun vaskular, karena melanoma sangat metastatik
dan lesi vaskular akan menimbulkan perdarahan berlebihan. Di dalam status pasien
sebaiknya dicatat letak lesi, ukurannya dan bentuknya.
Pada biopsi insisi ini hanya sebagian kecil dari lesi yang diambil beserta jaringan
sehat di dekatnya. Pengambilan lesi dapat dilakukan dengan menggunakan scalpel,
menggunakan alat punch (punchbiopsy), menggunakan jarum suntik (needle biopsy),
dan biopsi aspirasi.
Pemeriksaan sitologi (oral cytological smear)
Pemeriksaan sitologi adalah suatu pemeriksaan mikroskopik pada sel-sel yang
dilepaskan atau dikerok di permukaan lesi. Cara ini merupakan pemeriksaan
tambahan untuk biopsi, bukan pengganti biopsi. Pemeriksaan ini dilakukan bila
biopsi tidak dapat dilaksanakan, pasien menolak biopsi, ada lesi multipel yang harus
diperiksa. Permukaan lesi tidak perlu dikeringkan, kecuali untuk melepaskan jaringan
nekrotik. Permukaan lesi dibiarkan agar tetap basah, lalu dikerok dengan tepi plastic
instrument yang steril atau spatel lidah yang basah. Kerokan dilakukan beberapa kali
dalam arah yang sama. Slide spesimen yang sudah diberi label disiapkan, hasil
kerokan diletakkan di atas slide, kemudian disebarkan ke samping menggunakan slide
lain. Spesimen difiksasi dengan formalin (formol saline) 10% dalam botol tertutup
(Birnbaum dan Dunne, 2000).
1.3.3.4 Pemeriksaan Mikrobiologi

16

Dua jenis pemeriksan mikrobiologi yang sering dilakukan untuk lesi jaringan
lunak mulut adalah: oral mycological smear dan oral bacteriological smear, yaitu
(Marwani, 2009):
a. Oral Mycological Smear
Oral mycological smear dilakukan untuk membuktikan adanya infeksi jamur pada
lesi yang ditemukan. Pemeriksaan ini diawali dengan melakukan swab pada mukosa
mulut yang dicurigai, dengan menggunakan cotton swab. Kemudian dengan cotton
swab dan spesimen yang didapat, dilakukan streaking pada permukaan media
Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dalam cawan petri. Ada beberapa spesies Candida
yang dapat ditemukan pada manusia, yaitu Candida albicans, Candidastellatoidea,
Candida tropicalis, Candida pseudotropicalis, Candida krusei, Candida parapsilosis,
Candida guilliermondii.
b. Oral Bacteriological Smear
Bahan yang akan diperiksa diambil dari permukaan gigi, kemudian dioleskan di
atas slide spesimen. Kemudian difiksasi di atas nyala api spiritus. Berikutnya dituangi
dengan pewarna carbol fuchsin, dibiarkan 10 menit. Lalu dituangi dengan pewarna
methylene blue, biarkan 10 menit.