P. 1
Nk Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perataan Laba (Income Smoothing) Pada an Yang Listing Di Bej

Nk Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perataan Laba (Income Smoothing) Pada an Yang Listing Di Bej

|Views: 1,636|Likes:
Dipublikasikan oleh okindr

More info:

Published by: okindr on Apr 17, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2013

pdf

text

original

Adapun sistematika penulisan dapat dibagi dalam lima bab, yaitu:

BAB I

Bab ini berisi pendahuluan yang terdiri atas latar belakang

masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian

dan sistematika penulisan.

BAB II

Bab ini megemukakan tentang teori-teori yang ada hubungannya

dengan permasalahan yang terangkum dalam tinjauan pustaka dan

juga mengemukakan hipotesis yang ada.

BAB III

Bab ini menguraikan metodologi penelitian yang meliputi jenis

penelitian, populasi, sampel dan pengambilan sampel, definisi dan

pengukuran operasional variabel, sumber data dan teknik

pengumpulan data, serta teknik analisis.

15

BAB II

TELAAH TEORITIS

A.

TINJAUAN PUSTAKA

1. Laporan keuangan

Menurut pedoman etika akuntansi IAI, laporan keuangan adalah satu

penyajian data keuangan termasuk catatan yang menyertainya, bila ada,

yang dimaksud untuk mengkomunikasikan sumberdaya ekonomi (aktiva)

dan atau kewajiban satu entitaas pada saat tertentu atau perubahan atas

aktiva dan atau kewajiban selama satu periode tertentu sesuai denga

prinsip akuntansi yang berlaku umum atau basis akuntansi koprehensif

selain prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan menurut APB statement digolongkan sebagai

berikut (harahap, 2001:42):

1.

Tujuan Khusus

Tujuan khusus laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan posisi

keuangn. Hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan lainnya secara wajar

dan sesuai denga GAAP (Generally Accepted Accounting Principle).

2.

Tujuan Umum

Adapun tujuan umum laporan keuangan adalah sebagai berikut:

16

a.

Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber-

sumber ekonomi, dan kewajiban perusahaan.

b.

Memberikan informasi yang terpercya tentang suber

kekayaan bersih yang berasal dari kegiatan usaha dala

mencari laba.

c.

Menaksir informasi keuangan yang dapat digunakan untuk

menaksir potensi-potensi perusahan dalam menghasilkan

laba.

d.

Memberikan informasi yang diperlukan lainya tentang

perubahan harta dan kewajiban.

e.

Menggunakan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan

para pemakai laporan.

3.

Tujuan Kualitatif

Tujuan kualitatif yang dirumuskan APB statements No. 4 adalah

sebagai berikut:

a.

Relevan

b.

Dapat dimengerti

c.

Dapat dicek kebernarannya

d.

Netral

e.

Tepat waktu & dapat diperbandingkan

f.

Legkap

17

Jenis Laporan Keuangan

Sedangakan dalam definisi laporan keuangan menurut peraturan

BAPEPAM Nomor: VIIIG.7 tendang pedoman penyajian laporan

keuangan dijelaskan bahwa laporan keuangan terdiri dari:

1.

Neraca

2.

Laporan Perubahan Ekuitas

3.

Laporan Arus Kas

4.

Catatan Atas Laporan Keuangan

2. Income smoothing (Perataan Laba)

Koch dalam Suwito (2005) menyatakan perataan laba dapat didefenisikan

sebagai cara yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi fluktuasi

laba yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan baik

secara artifisial melalui metode akuntansi, maupun secara riil melalui

transaksi.

Menurut Atmini dalam Suwito (2005) tindakan perataan laba mempunyai

dua tipe yaitu perataan laba yang dilakukan secara sengaja oleh

manajemen dan perataan laba yang terjadi secara alami. Perataan laba

secara alami terjadi sebagai akibat dari proses menghasilkan suatu aliran

18

laba yang merata, sementara perataan laba yang disengaja dapat terjadi

akibat teknik perataan laba riil atau teknik perataan laba atifisial.

Perataan laba riil adalah perataan laba yang terjadi apabila manajemen

mengambil tindakan untuk menyusun kejadian-kejadian ekonomi sehingga

menghasilkan aliran laba yang rata. Perataan laba artifisial adalah perataan

laba yang terjadi apabila manajemen memanipulasi saat pencatatan

akuntansi untuk menghasilkan aliran laba yang rata (Suwito, 2005 dikutip

dari Ekcel, 1981 dalam Atmini, 2000).

Perataan laba dapat dipandang sebagai upaya yang secara sengaja

dimaksudkan untuk menormalkan income dalam rangka mencapai

kecenderungan atau tingkat yang diinginkan. Perataan income/laba

menurut Beidleman (1973) sebagai berikut:

³Meratakan earnings yang dilaporkan sebagai pengurangan secara sengaja

fluktuasi di sekitar tingkat earnings tertentu yang dianggap normal bagi

sebuah perusahaan´

Dalam pengertian ini perataan merepresentasikan sebuah upaya yang

dilakukan oleh manajemen perusahaan untuk mengurangi variasi tidak

normal dalam earnings sepanjang diijinkan oleh prinsip akuntansi dan

manajemen yang sehat.

Jenis perataan laba

ada dua jenis perataan laba, yaitu(Riahi- Belkaoui,2004)

19

1.

intentional atau designed smoothing

intentional atau designed smoothing ialah keputusan atau pilihan yang

dibuat untuk mengukur fluktuasi earning pada level yang diinginkan.

2.

Natural smoothing

Natural smoothing adalah incme generating process yang natural, bukan

hasil dari tindakan yang di ambil manajemen.

Faktor Pendorong Perataan Laba

Tidak semua negara melanggar perataan laba(Harahap,2005). Seperti

Swedia misalnya, dinegara ini perataan laba diperbolehkah, asalkan

perataan laba ini dilakukan dengan transparan.

Beberapa fokus yang mendorong manajemen melakukan perataan laba

adalah (sugiarto,2003)

1.

Kompensasi bonus

Pada penelitiannya, Healy menemukan bukti bahwa manajer yang tidak

dapat memenuhi targe laba yang ditentukan akan memanipulasi laba agar

dapat mentransfer laba masakini menjadi laba masadepan. Selain itu

menurut Harahap(2005), pentingnya laporan keuangan mengundang

manajemen untuk meratakan laba demi mendapatkan bonus yang tinggi

2.

Kontarak utang

Defond dan Jimblvo (1994) dengan menggunakan model jones,

mengevaluasi tingkat akrual perusahaan yang tidak dapat memenuhi target

20

laba. Mereka menemukan bahwa perusahaan melanggar perjanjian utang

telah merekayasa laba, satu periode sebelum perjanjian utang itu dibuat.

3.

Faktor Politik

Jones (1991) meneliti perusahaan yang desang diinvestigasi oleh

International Trade Commision(ITC). Ia menemukan bukti bahwa

produsen domestic cederung menurunkan laba dengan teknik accral untuk

mempengaruhi keputusan regulasi impor. Naim dan Hartono(1996)

meneliti perusahaan yang diduga melakukan monopoli dan menemukan

bahwa manajer perusahaan melakukan perataan laba untuk menghindari

UU Anti-Trust.

4.

Pengurangan Pajak

Perusahaan melakukan perataan laba untuk mengurangi jumlah pajak yang

harus dibayarkan kepada pemerintah(Arens,Elder,Beasly,2005).

5.

Perubahan CEO

Pourciao(1993) menemukan bukti bawa perekayasaan laba dilakukan

dengan meningkatkan unexpected accruals pada periode satu tahun

sebelum penggantian exsekutif tak rutin.

6.

Peawaran saham perdana

Clarkson et al (1992) menyatakan ada reaksi positif dari penggunaan

earning forefast yang ada di prospectus dengan tingkat penjualan pada

regulator. Banyak perusahaan yang melakukan perataan laba demi

mendapatkan dan mepetahankan investor(Jones,2005)

21

Faktor yang diasumsikan menebabakan manajer melakukan perataan laba

menurut Accounting Theory(Raiai-Belkoui, 2004:451). Ialah:

i. Mekanisme pasar kopetitif, yang mengurang pilihan-pilihanyang

tersedia untuk manajemen.

ii. Skema kopensasi manajemen, yang terkait langsung dengan

kinerja perusahaan.

iii. Ancaman pergantian manajemen.

Teknik Perataan laba

Berbagai teknik yang dilakukan dalam perataan laba, diantaranya

ialah(sugiarto,2003):

i.

Perataan melalui wakut terjadinya treansaksi atau pengakuan

transaksi. Pihak manajemen dapat menentukan atau

mengendalaikan waktu transaksi melalui kebijakan manajemen

sendiri(accruals) misalnya: pengeluaran biaya riset dan

pengembangan. Selain itu banyak juga perusahan yang

menggunakan kebijakan diskon dan kredit, sehingga hal ini dapat

menyebabkan meningkatnya jumlah piutang dan penjualan bulan

terakhir tapi kuarter dan laba kelihatan stabil pada periode tertentu.

ii.

Perataan melalui alikasi untuk beberapa periode tertentu. Manajer

mempunyai wewenant untuk mengalokasikan pendapatan atau

beban untuk periode tertentu. Misalnya: jika penjualan meningkat,

22

maka manajemen dapat membebankan biaya riset dan

pengembangan serta amortisasi goodwill pada pada periode itu

untuk menstabilkan laba.

iii.

Perataan melaui klasifikasi. Manajemen memiliki kewenangan

untuk mengklasifikasikan pos-pos rugi laba dalam kategori yang

berbeda. Misalnya: jika pendapatan non-operasi sulit untuk

didefinisikan,maka manajer dapat mengkasifikasikan pos itu pada

pendapatan operasi atau pendapatan non-operasi.

3.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perataan Laba

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->