Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN PADA PASCA KEGUGURAN

Oleh:
NADIAH FADHILAH
RAHMA YUNI EFENDI
RIRIN FEBRIANDES
SUCI OKTARIA

DOSEN PEMBIMBING : MUTIA FELINA,S.SiT

PRODI D-IV BIDAN PENDIDIK


STIKes PRIMA NUSANTARA
BUKITTINGGI
2014/2015

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum,wr.wb
Puji Syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan taufik dan
hidayah-Nya, sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini dengan judul ASUHAN
PADA PASCA KEGUGURAN
Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam pembuatan makalah ini sehingga makalah ini dapat selasai tepat
pada waktunya.
Penulis juga menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna. Maka dari itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun sehingga
kesempurnaan makalah itu tercapai dalam penulisan makalah berikutnya.
Semoga makalah ini dapat berguna bagi pembaca semua khususnya mahasiswa
kebidanan.

Padang, September 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................


DAFTAR ISI ...................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................
1.2 Tujuan.........................................................................................................
BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.1 Elemen-elemen asuhan pada pasca keguguran ..........................................
2.2 Pelayanan gawat darurat pada pasca keguguran ........................................
2.3 Pentingnya konseling asuhan pasca keguguran ........................................
2.4 Faktor-faktor penghambat pelayanan KB pasca keguguran ......................
2.5 Kontrasepsi pasca keguguran ...................................................................
2.6 Jalinan kerja sama dengan fasilitas kesehatan pasca keguguran ..............
2.7 Metode AVM pasca keguguran .................................................................

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan.................................................................................................
3.2 Saran ..........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Keadaan kandungan pada masa kehamilan ditentukan oleh keadaan fisiologis ibu dan
keadaan psikologik ibu. Salah satu keberhasilan dalam persalinan ditentukan oleh baik atau
buruknya keadaan kandungan dan keadaan umum ibu.
Kehamilan merupakan suatu proses fisiologis yang terjadi pada wanita di mana masa
kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Berdasarkan penelitian WHO di seluruh
dunia terdapat kematian sebesar 500.000 jiwa pertahun saat hamil atau bersalin dan kematian
bayi khususnya neonatal sebesar 10.000.000 jiwa pertahun saat hamil atau bersalin per tahun. Di
negara berkembang antara 750-100 per 100.000 kelahiran hidup dan kematian maternal sebesar
99%. Tingginya AKI di Indonesia yaitu 390 per 100.000 kelahiran hidup tertinggi di ASEAN
dan penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi, eklamsi, partus
lama dan komplikasi abortus (Ebdomosa.2009)
Mengingat pentingnya peningkatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, tanggal 12 oktober
2000 pemerintah telah mencanangkan gerakan nasional kehamilan aman atau making pregnancy
safer (MPS) sebagai strategi pembangunan kesehatan masyarakat menuju Indonesia sehat 2010.
Diharapkan di Indonesia AKI menurun sebesar 75% pada tahun 2010 dari tahun 1990. Di
Indonesia pada tahun 2010 nanti seperti disebutkan dalam kontes pembangunan kesehatan
menuju indonesia sehat 2010 yaitu visinya adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia
berlangsung aman dapat terwujud dan standar pelayanan dapat ditingkatkan serta dimiliki oleh
setiap pelaksanaan pelayanan kesehatan.
Pada pembelajaran KBK-PBL (Kurikulum Berbasis KompetensiProblem Based
Learning), skenario dalam tutorial diharapkan dapat menjadi trigger atau pemicu untuk
mempelajari ilmu-ilmu dasar biomedis dan klinik sesuai dengan sasaran pembelajaran yang
sudah ditetapkan. Sasaran pembelajaran yang telah ditentukan antara lain: fisiologis proses
kehamilan, fisiologis menstruasi, abortus, alat kontrasepsi, pathogenesis dan patofisiologi gejala
dan tanda penderita, penegakan diagnosis pada penderita, dan penatalaksanaan penderita pada
skenario.

Berdasarkan hal di atas, penulis berusaha untuk mencapai dan memenuhi sasaran
pembelajaran tersebut selain melalui tutorial tetapi juga melalui penulisan laporan ini. Penulisan
laporan ini diharapkan dapat dijadikan bahan pembelajaran mahasiswa yang bersangkutan dan
bahan evaluasi sejauh mana pencapaian sasaran pembelajaran yang sudah didapatkan.
1.2 TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui Elemen-elemen asuhan pada pasca keguguran
2. Untuk mengetahui Pelayanan gawat darurat pada pasca keguguran
3. Untuk mengetahui Pentingnya konseling asuhan pasca keguguran
4. Untuk mengetahui Faktor-faktor penghambat pelayanan KB pasca keguguran
5. Untuk mengetahui Kontrasepsi pasca keguguran
6. Untuk mengetahui Jalinan kerja sama dengan fasilitas kesehatan pasca keguguran
7. Untuk mengetahui Metode AVM pasca keguguran

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Elemen-elemen Asuhan pada Pasca keguguran

Menurut Azhari (2002 : 7) ada tiga (3) elemen dasar dalam Asuhan Pasca keguguran yaitu:
1) Penatalaksanaan komplikasi abortus.
Pemeriksaan lanjut untuk mencari penyebab abortus. Perhatikan juga involusi uterus dan
kadar B-hCG 1-2 bulan kemudian. Pasien dianjurkan jangan hamil dulu selama 3 bulan
kemudian (jika perlu, anjurkan pemakaian kontrasepsi kondom atau pil).
2) Pelayanan KB pascakeguguran termasuk konseling dan pelayanan kontrasepsi.
3) Asuhan pasca keguguran terintegrasi dengan pelayanan kegawatdaruratan dan kesehatan
reproduksi termasuk KIE
2.2 Pelayanan gawat darurat pada pasca keguguran
Dua masalah yang paling berbahaya yang dapat dialami oleh wanita setelah keguguran
adtau abortus adalah perdarahan dan infeksi.
Infeksi terjadi jika :
1. Jaringan dari kehamilan masih tertinggal didalam rahim wanita setelah keguguran
atau aborsi ( lihat pembahasan berikutnya)
2. Kuman masuk kedalam rahim selama prosedur aborsi, saat instrmen yang tidak steril
didalam rahin.
Lihat informasi lebih lanjut mengenai infeksi
Perdarahan hebat dapat terjadi jika :
1. Jaringan dari kehamilan masih tertinggal di dalam rahim wanita setelah keguguran
atau aborsi
2. Rahim atau vagina dahsyat menggunakan instrumen selama prosedur operasi
3. Rahim menglami infeksi
Peringatan :
Jika mengalami perdarahan hebat atau infeksi serius, wanita dapat mengalami syock atau
bahkan meninggal . segera cari pertolongan medis.
Jika sudah terlatih menolong wanita setelah aborsi yang tidak aman atau setelah
keguguran. Anda dapat menolong wanita tersebut.

Abortus incompletus ( jaringan tertinggal di dalam rahim)


Abortus inkompletus merupakan penyebab umum perdarahan atau infeksi perdarahan
atau infeksi tidak akan berhenti hingga jaringan yang teringgal dalam rahim diangkat dari rahim.
Cari tahu bagaimna kehamilan berakhir
Jika wanita mengalami aborsi atau jika wanita mengalami keguguran atau jika aborsi
yang ia jalani dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih yang menggunakan instrumen steril,
wanita tersebut cenderung tidak mengalami infeksi serius atau cidera dibanding dengan wanita
yang menjalani aborsi dengan dibantu oleh seseorang yang menggunakan instrumen yang tidak
aman.sebagai contoh jika wanita mengatakan kepada anda seseorang menggunakan kawat tajam
untuk mengaborsi bayinya, anda harus mencari tanda cidera didalam tubuhnya.
Beritahu mereka cara merawat dirinya
Wanita harus merawat dirinya dengan sebaik-baiknya selama beberapa hari setelah aborsi
atau keguguran. Hal tersebut dapat mencegah wanita mendapat infeksi dan membantu tubuh
mereka untuk lebih cepat pulih. Wanita harus :
1.
2.
3.
4.

Banyak minum dan memakan makanan bergizi


Banyak istirahat
Menghindari kerja berat selama seminggu
Mandi secara teratur tetapi tidak boleh melakukan douching atau berendam dalam bak

mandi hingga beberapa hari setelah perdarahasn berhenti.


5. Menggunakan kain bersih dan pembalut untuk menampung darah dan mengganti
pembalut tersebut dengan sering.
Selain itu, wanitatidak boleh memasukkan benda apapun kedalam vagina. Wanita juga tidak
boleh melakukan hubungan seksual minimal selama setidaknya 2 minggu dan hingga beberapa
hari setelah ia berhenti mengalami perdarahan.
PERAWATAN FISIK SETELAH KEHAMILAN BERAKHIR
Ukur tanda fisik wanita seprti, suhu, nadi, dan jumlah perdarahan. Data tersebut akan
memberi anda informasi tentang jenis pertolongan medis yang ia butuhkan.
Tanda Sehat

1. Nyeri ringan atau kram ringan pada abdomen bawah selama beberapa hari.
2. Perdarahan ringan ( jumlah sama dengan menstruasi) selama beberapa hari atau
perdarahan bercak yang sangat ringan hingga 2 minggu
Tanda peringatan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kram kuat pada abdomen bagian bawah


Abdomen bawah bengkak atau keras
Perdarahan hebat, bekuan darah besar, atau perdarahan selama lebih dari satu minggu.
Bau tak sedap dari vagina
Suhu tinggi, 380C atau lebih
Nadi cepat lebih dari 100 kali per menit
Merasa sangat mual
Merasa ingin pingsan atau pening

anda juga harus bertanya tentang kehamilan ini.


Indentifikasi usia kehamilan wanita
Wanita yang mengalami keguguran atau aborsi di awal kehamilan lebih mudah ditolong
dibanding wanita yang mengalami keguguran atau aborsi pada kehamilan lanjut. Jika wanita
sudah hamil selama lebih dari 3 bulan dan saat ini mengalami masalah carilah bantuan medis.
Beberapa bidan tidak ingin merawat wanita setelah wanita tersebut melakukan aborsi
yang tidak aman karena percaya aborsi adalah salah. Akan tetapi merawat wanita yang berada
dalam bahaya setelah aborsi yang tidak aman, wanita dapat meninggal jika ia tidak memperoleh
pertolongan. Saat wanita sakit dengan alasan apapun bidan harus membantu mereka.
Dukungan emosional setelah kehamilan berakhir
Wanita yang mengalami keguguran atau aborsi dapat merasa takut, sedih atau marah,
terutama jika mereka mengalami masalah kesehatan yang diakibatkan oleh keguguran atau
aborsi tersebut. Nyeri emosional tersebut sama pentingnya dengan nyeri fisik yang dialami oleh
wanita nya. Anda dapat membantu wanita mengatasi nyeri emosional tersebut, selama dan
setelah merawat masalah medis wanita. Saat mengalami keguguran, wanita sangat kecewa
karena kehamilannya berakhir. Wanita tersebut dapat merasa bersalah dan secara salah berpikir
bahwa keguguran tersebut disebabkan oleh kesalahannya. Lihat informasi lebih lanjut mengenai
penyebab keguguran dan cara merawat serta mendukung wanita setelah keguguran.

Biasanya, wanita yang mengalami masalah kesehatan serius akibar aborsi tidak mendapat
asuhan yang adekuat. Penyedia layanan aborsi yang tidak melakukan aborsi yang aman juga
dapat tidak baik dan menghargai wanita. Aborsi dapat sangat nyeri atau menakutkan bagi wanita.
Apabila aborsi dilakukan secara ilegal wanita dapat merasa takut dihukum. Pastikan untuk
memberi perhatian ekstra pada wanita tersebut.
Bidan dapat membantu wanita mengatasi nyeri emosional
a. Berbagi informasi
Jelaskan penyebab penyakit atau perdarahan
Jelakan tindakan anda untuk membantu wanita
Jika wanita tidak ingin hamil lagi, bantu ia memilih metode KB yang tepat
untuknya
b. Dengarkan dan beri dukungan
Tanyakan apakah wanita ingin membicarakan
Wanita mungkin tidak akan mengatakan kepada anda, kecuali anda bertanya.
Dengarkan wanita jika ia ingin berbicara atau menagis
Tenangkan wanita dengan cara yang sama ketika anda menenangkan taman
atau orang yang anda cintai.
2.3 Pentingnya konseling asuhan pasca keguguran
Sindrom pasca abortus berada dalam kategori kekacauan akibat stress
pasca-trauma The American Psychiatric Association (APA) menjelaskan bahwa
kekacuan akibat setres pasca-trauma terjadi apabila orang mengalami suatu
peristiwa yang melampaui batas pengalaman manusia biasa, dimana pengalaman
ini hampir dipastikan akan mengguncangkan jiwa siapa saja. Sindrom pasca abortus
ditangani

dengan

konseling

kejiwaan

dan

psikologis,

namun

demikian

menyembuhkan secara rohani juga diperlukan. Pada dasarnya, terapi konseling


untuk wanita post-aborsi tidak jauh berbeda dengan konseling karena kehilangan,
dimana dalam konseling ini harus memperhatikan setiap fase dalam penerapannya.

2.4 Faktor-faktor penghambat pelayanan KB pasca keguguran


1. Faktor individual
Faktor fisik
Sudut pandang terhadap nilai-nilai
Faktor sosial
Bahasa
2. Faktor yang berkaitan dengan interaksi

3.

Tujuan dan harapan terhadap komunikasi


Sikap terhadap interaksi
Pembawaan diri terhadap orang lain
Sejarah hubungan
Faktor situasional
Kegagalan informasi penting
Perpindahan topik bicara
Tidak lancar
Salah pengertian

2.5 Konrasepsi pasca keguguran


Metode
Kontrsepsi
- Pil kombinasi
- Kontrasepsi

Waktu Mulai
Penggunaan
Segera mulai

progestin
- Suntikan

Ciri-ciri Khusus
-

kombinasi
- implant

Dapat segera

informasi belum cukup,

terdapat infeksi
Sangat efektif
Langsung efektif
Mengurangi

tunda suntikan pertama

darah/anemia
Trimester I
- AKDR dapat
langsung
dipasang jika
tidak ada infeksi
- Tunda
pemasangan

- Jika konseling dan

dimulai walaupun

kehilangan

AKDR

Catatan

atau pemasangan
implant. Berikan metode
sementara.
- Untuk implant,perlu
tenaga terlatih
- Jika konseling dan
informasi belum cukup,
tunda pemasangan
- Perlu tenaga terlatih
untuk pemasangan
AKDR
- Pada trimester II

sampai luka atau

kemungkinan resiko

infeksi sembuh,

perforasi sewaktu

perdarahan

pemasangan lebih besar.

diatasi,dan
anemia
diperbaiki
Trimester II

-Tunda
pemasangan 4-6
minggu
pascakeguguran
kecuali jika
tenaga terlatih
dan peralatan
untuk insersi
pasca keguguran
tersedia.
- Yakinkan tidak
ada infeksi. Jika
ternyata ada
infeksi, tunda
pemasangan
sampai infeksi
Kondom/spermisi

teratasi 3 bulan
Mulai
segera Metode

sementara

da

sewaktu

menunggu

KB alami

hubungan seksual
Tidak dianjurkan

Tubektomi

Secara
tubektomi

mulai sambil

teknis,
dapat

metode lain

-Minilaparotomi
sesudah

langsung

trimester

dikerjakan

dengan

sewaktu

terapi

keguguran kecuali
jika

ada

perdarahan banyak
atau infeksi

dengan

ovulasi

pertama

pasca

keguguran

sulit

diperkirakan
Perlu
konseling

dan

keguguran informasi yang cukup.


I

sama
waktu

interval
- Sesudah keguguran
trimester

Waktu

II

sama

prosedur

pascapersalinan

2.6 Jalinan Kerjasama Dengan Vasilitas Kesehatan Pasca Keguguran


Dalam melaksanakan asuhan kebidanan maupun persalinan kita harus mempunyai jalinan
kerjasama agar jika terjadi komplikasi ataupun tanda-tanda keguguran kita dapat melakukan
rujukan ataupun kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang lebih dari kita seperti jika di
kebidanan SPOG.
Tujuan sistem rujukan disini adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan dan efisiensi
pelaksanaan pelayanan metode kontrasepsi secara terpadu. Perhatian khusus terutama ditujukan
untuk menunjang upaya penurunan angka kejadian efek samping, komplikasi dan kegagalan
penggunaan kontrasepsi.
Sistem rujukan upaya kesehatan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang
memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas masalah yang
timbul, baik secara vertikal maupun secara horizontal kepada fasilitas pelayanan yang lebih
kompeten, terjangkau, dan rasional. Tidak dibatasi oleh wilayah administrasi. Dengan pengertian
tersebut, maka merujuk berarti meminta pertolongan secara timbal balik kepada fasilitasn
pelayanan yang lebih kompeten untuk penanggulangan masalah yang sedang dihadapi.
Tata laksana
Rujukan medik dapat berlangsung:
1.
2.
3.
4.
5.

Internal antar petugas di satu Puskesmas


Antara puskesmas pembantu dan puskesmas
Antara masyarakat dan puskesmas
Antara satu puskesmas dan puskesmas yang lain.
Antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan kesehatan

lainnya.
6. Internal antara bagian/unit pelayanan di dalam satu rumah sakit.
7. Antar rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan lain dan rumah sakit,
laboratorium atau fasilitas pelayanan yang lain.
Rangkaian jaringan fasilitas pelayanan kesehatan dalam sistem rujukan tersebut berjenjang dari
yang paling sederhana di tingkat keluarga sampai satuan fasilitas pelayanan kesehatan nasional
dengan dasar pemikiran rujukan ditunjukkan secara timbal balik kesatuan fasilitas pelayanan
yang lebih kompeten, terjangkau dan nasional serta tanpa dibatasi oleh wilayah admintrasi.

Rujukan bukan berati melepaskan tanggung jawab dengan menyerahkan klien ke fsilitas
pelayanan kesehatan lainnya, akan tetapi dengan kondisi klien yang mengharuskan pemberian
pelayanan yang lebih kompeten dan bermutu melalui upaya rujukan. Untuk itu dalam
melaksanakan rujukan pasca keguguran harus telah pula diberikan :
1.
2.
3.
4.

Konseling tentang kondisi klien yang menyebabkan perlu dirujuk.


Konseling tentang kondisi yang diharapkan diperoleh di tempat rujukan
Infoemasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan yang di tuju.
Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju mengenai kondisi klien saat ini

dan riwayat sebelumnya serta upaya atau tindakan yang telah diberikan.
5. Bila perlu berikan upaya mempertahankan keadaan umum klien
6. Bila perlu kerena kondisi klien dalam menuju ketempat rujukan harus didampingi
perawat atau bidan.
7. Menghubungi fasilitas pelayanan tempat rujukan dituju agar memungkinkan segera
menerima rujukan klien
Fasilitas pelayanan kesehatan yang menerima rujukan, setelah memberikan upaya
penanggulangan dan kondisi klien telah memungkinkan, harus segera mengembalikan klien
ke tempat fasilitas pelayanan asalnya dengan terlebih dahulu memberikan :
1. Konseling tentang kondisi klien sebelum dan sesudah diberi upaya penanggulangan
2. Nasehat yang perlu diperhatikan klien mengenai kelanjutan penggunaan kontrasepsi
3. Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang merujuk mengenai kondisi klien
berikut upaya penanggulangan yang telah diberikan serta saran-saran upaya pelayanan
lanjutan yang harus dilaksanakan, terutama tentang [penggunaan kontrasepsi,
2.7 Metode Aspirasi Vakum Manual (AVM) Pasca keguguran
Aspirasi vakum atau suction aspiration adalah teknik aspirasi untuk mengeluarkan isi uterus
melalui servik. Tehnik ini biasanya digunakan pada:
1. kasus abortus provokatus
2. Prosedur terapi pada abortus inkompletus
3. Pengambilan sediaan endometrium ( endometrial biopsy )

Keuntungan dibandingkan dilatasi dan kuretase konvensional

Dilation and curettage dikenal pula sebagai tindakan kuretase tajam sebagai standard
tindakan evakuasi uterus. Namun terdapat sejumlah keuntungan atas penggunaan vakum aspirasi
sebagai alternatif dari kuretase tajam Aspirasi vakum sebelumnya dikenal dalam lingkup
persalinan sebelum digunakan untuk maksud kuratase. Tindakan aspirasi vakum manual
dilakukan pada kehamilan kurang dari 6 minggu dengan komplikasi yang lebih rendah
dibandingkan tindakan dilatasi dan kuretase umumnya. Aspirasi vakum, khususnya aspirasi
vakum manual peralatan yang digunakan jauh lebih murah dibandingkan peralatan untuk
tindakan D&C . Tindakan dapat dilakukan tanpa anestesi dan secara poliklinis tanpa rawat inap.
Tindakan aspirasi vakum manual dapat dikerjakan oleh dokter, bidan dan tidak perlu seorang ahli
obstetri ginekologi. Aspirasi manual vakum tidak memerlukan tenaga listrik sehingga dapat
digunakan di tempat terpencil sekalipun.
Komplikasi :
Perforasi
Perdarahan
Infeksi
Anjurkan pasien segera kembali ke dokter bila ditemukan:
Nyeri perut lebih dari beberapa hari
Pingsan
Perdarahan berlanjut >2 minggu
Perdarahan lebih dari haid
Demam
Menggigil
Prosedur tindakan aspirasi vakum manual :
Lakukan konseling dan lengkapi persetujuan tindakan medis
Persiapkan alat, pasien, dan pencegahan infeksi sebelum tindakan.
Minta pasien berkemih.

Baringkan pasien dalam posisi litotomi dan pasang kain alas bokong dan penutup perut
bawah.
Pastikan alur cairan dan darah masuk pada tempatnya.
Pasang tensimenter, infus set, dan cairannya, kemudian beri analgetika (parasetamol) 30
menit sebelum tindakan
Suntikkan 10 unit oksitosin IM atau 0,2 mg ergometrin IM
Siapkan AVM Kit dan instrumen. Pasang adaptor pada 3 kanula dengan ukuran yang berbeda
Dekatkan dan uji fungsi serta kelengkapan alat resusitasi
Cuci tangan dan lengan, keringkan, lalu kenakan sarung tangan DTT
Siapkan tekanan negatif dalam tabung AVM
Beritahukan pasien bahwa tindakan akan dimulai
Bersihkan daerah vulva dan sekitarnya, kemudian lakukan pengosongan kandung kemih
dengan kateter apabila pasien belum berkemih
Cabut dan masukkan kateter ke dalam wadah dekontaminasi
Pasang spekulum Sims bawah dan atas, minta asisten mempertahankan posisi kedua
spekulum dengan baik
Oleskan larutan antiseptik pada serviks dan vagina
Nilai bukaan serviks, perdarahan, jaringan, atau trauma. Bersihkan serviks dan vagina
dengan larutan antiseptik
Periksa apakah ada robekan serviks atau hasil konsepsi di kanalis servikalis. Jika ada,
keluarkan dengan forsep ovum

Jepit bibir atas serviks di arah jam 11 dan jam 1 dengan tenakulum (atau klem ovum atau
Fensteruntuk abortus inkomplit) kemudian pegang gagang tenakulum dengan tangan kiri
Lakukan
pemeriksaan
kedalaman
lengkung

dan
uterus

dengan
penera kavum uteri.
Tentukan

ukuran

kanula yang sesuai


dengan bukaan ostium
Pasang kanula yang sesuai dan lakukan dekontaminasi pada kanula yang tidak terpakai.
Tarik tenakulum hingga serviks dan uterus berada pada posisi yang sesuai, kemudian dorong
kanula hingga mencapai fundus tetapi tidak lebih dari 10 cm
Pegang kanula dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, tarik sedikit ujung kanula dari
fundus, lalu hubungkan adaptor dan kanula dengan tabung AVM
Pegang kanula dan topangkan tabung pada telapak tangan dan lengan bawah kanan, buka
pengatur klep agar tekanan negatif bekerja
Dorong kembali kanula hingga menyentuh fundus kemudian lakukan evakuasi massa
kehamilan dengan gerakan rotasi dari dalam ke luar atau gerakan maju mundur sambil
dirotasikan dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Lakukan hingga semua permukaan dinding
depan terasa bersih
Putar lubang kanula ke belakang, lakukan gerakan rotasi atau maju mundur secara sistematis
pada dinding belakang.

Lakukan

berulang-

ulang gerakan rotasi


dan

kraniokaudal

hingga
meliputi semua
permukaan dinding
uterus
Jagalah agar selama evakuasi, kanula tidak keluar melewati ostium
Bila tidak dijumpai massa kehamilan, lakukan evaluasi ulangan
Evakuasi selesai bila ditemukan tanda-tanda berikut:
o

Busa kemerahan tanpa jaringan dalam kanula

Terasa mulut kanula mengenai permukaan yang kasar seperti sabut

Uterus berkontraksi seperti menjepit kanula

Apabila hasil evakuasi telah mengisi lebih dari setengah isi tabung namun evakuasi belum
selesai, hentikan tindakan, tutup katup pengatur tekanan dan lepaskan tabung dari adaptor
Buka kembali katup, tekan pendorong untuk mengeluarkan hasil evakuasi ke dalam wadah
khusus, untuk pemeriksaan patologi anatomi.
Siapkan lagi tekanan vakum dan ulangi evakuasi
Bila evakuasi telah selesai, lepaskan sambungan adaptor dengan kanula. Bila masih terjadi
perdarahan, lakukan evaluasi untuk evakuasi ulangan atau adanya gangguan/penyulit lain
Masukkan tabung, adaptor, dan kanula ke dalam larutan klorin 0,5%, kemudian lepaskan
tenakulum, spekulum, bersihkan serviks dan vagina dengan larutan antiseptik

Beritahukan evakuasi telah selesai tetapi masih diperlukan pemeriksaan bimanual ulangan
Lakukan pemeriksaan bimanual untuk menilai besar dan konsistensi uterus
Jika perdarahan masih berlanjut dan uterus masih lunak dan besar, lakukan evakuasi ulang
Nilai hasil evakuasi dan pikirkan kemungkinan adanya kelainan di luar uterus
Lakukan pemeriksaan hasil evakuasi untuk memastikan bahwa jaringan yang keluar adalah
jaringan hasil konsepsi dengan cara :
o

Merendam hasil evakuasi di dalam mangkok yang berisi air bersih dan kasa
saringan

Jaringan vili korialis tampak keabu-abuan dan mengambang; sementara jaringan


endometrium tampak massa lunak, licin, butiran putih tanpa juluran halus, dan
tenggelam

Beritahukan pemeriksaan dan tindakan telah selesai serta masih diperlukan pemantauan dan
perawatan lanjutan
Kumpulkan instrumen dan bahan habis pakai, masukkan ke tempat yang telah disediakan
Pergunakan cunam tampon dan kapas dengan larutan klorin 0,5%, usapkan larutan tersebut
pada benda atau bagian-bagian di sekitar tempat tindakan yang tercemar darah atau sekret
pasien
Bersihkan darah atau sekret pasien yang melekat pada sarung tangan kemudian lepaskan dan
rendam dalam wadah yang berisi larutan klorin 0,5%
Cuci tangan dan lengan, kemudian keringkan dengan handuk bersih dan kering
Bantu ibu ke ruang pulih

Pantau tanda vital, keluhan atau perdarahan ulang, tiap 10 menit dalam jam pertama
pascatindakan. Tuliskan diagnosis, instruksi, pemantauan pascatindakan
Berikan parasetamol 500 mg jika perlu, serta antibiotika profilaksis dan tetanus profilaksis
Catat keadaan umum pascatindakan dan hasil evakuasi
Lakukan konseling pascatindakan dan konseling KB
Pasien boleh pulang 1-2 jam setelah tindakan jika tidak terdapat tanda komplikasi.
Pasca Pembedahan :
1. Bercak perdarahan sekitar 2 minggu
2. Nyeri mengejang beberapa jam pasca tindakan
3. Reaksi emosional
Tindakan pasca operasi :
1. Antibiotika
2. Isitrahat satu hari
3. Asetaminofen atau ibuprofen
4. Hindari sexual intercourse satu minggu
5. Segera awali dengan kontrasepsi

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Elemen-elemen Asuhan pada Pasca keguguran : Penatalaksanaan komplikasi abortus,


Pelayanan KB pasca keguguran termasuk konseling dan pelayanan kontrasepsi serta Asuhan
pasca keguguran terintegrasi dengan pelayanan kegawatdaruratan dan kesehatan reproduksi
termasuk KIE
Faktor-faktor penghambat pelayanan KB pasca keguguran : Faktor individual, Faktor
yang berkaitan dengan evaluasi dan Faktor situasional
Kontrasepsi

pasca keguguran : Pil kombinasi, Kontrasepsi progestin, Suntikan

kombinasi, implant, AKDR, Kondom, Kb alami, Tubektomi


Aspirasi vakum atau suction aspiration adalah teknik aspirasi untuk mengeluarkan isi
uterus melalui servik
3.2 Saran
Setelah memahami makalah ini dharapkan kepada pembaca agar lebih meningkatkan
kemampuan dan pengetahuannya dalam memberikan asuhan pasca keguguran.

DAFTAR PUSTAKA

BKKBN. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : yayasan bina pustaka
sarwono prawirohardjo
Glasier,anna dkk. 2005. Keluarga berencana & kesehatan reproduksi. Jakarta : EGC
Rahmawati,eni nur. 2011. Ilmu praktis kebidanan. Surabaya : Victory inti cipta
Saifuddin, abdul bari dkk. 2006. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Jakarta : yayasan
bina pustaka sarwono prawirohardjo
Santoso,budi iman dkk. 2007. Pelatihan pertolongan pertama gawatdarurat obstetri dan neonatal.
Jakarta : JNPK-KR
Ebdosama. 2009. http://ebdosama.blogspot.com/2009/03/hiperemesisgravidarum.html di unduh

tanggal 12 September 2014

Widjanarko, Bambang. 2009. http://obfkumj.blogspot.com/2009/07/aspirasi-vakummanual.html


di unduh tanggal 12 September 2014