Anda di halaman 1dari 17

Fakultas Kedokteran

Universitas Alkhairaat

Laporan Tutorial Kelompok


Palu, 17 Februari 2016

SISTEM GERIATRI
MODUL 2
INKONTINENSIA URIN

Disusun Oleh
Kelompok : IV (Empat)
1. Rahmatia Anwar
2. Nadia H Djibran
3. Gita Regina
4. M.Sayyid Ridho
5. Nadhillah Alkatiri
6. Hardianti

(12777014)
(12777008)
(12777063)
(12777041)
(12777062)
(12777038)

Pembimbing

7. Grace Febrianti
8. Inayah Nafis Z
9. Moh.Abd Rifai
10. M Ichfan Nabiu
11. Moh Aswandi

(12777035)
(12777013)
(12777064)
(12777016)
(12777057)

: dr. Maria Rosa Da Lima Rupa

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Skenario 2
Perempuan 68 tahun dibawa ke Rumah Sakit oleh keluarganya dengan
keluhan selalu mengompol. Keadaan ini dialami sudah sejak 3 bulan lalu dimana
penderita sama sekali tidak dapat menahan bila ingin buang air kecil, sehingga
kadang air seninya berceceran dilantai. Tidak ada keluhan sakit saat berkemih.
Sejak seminggu yang lalu penderita terdengar batuk-batuk dan agak sesak
napas, serta nafsu makannya sangat berkurang, tetapi tidak demam. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 160/70 mmHg, nadi 92x/menit, suhu
aksiler 37oC, pernapasan 24x/menit. Pada paru-paru ditemukan adanya ronkhi
basah kasar pada bagian medial. Jantung, hati, dan limpa kesan dalam batas
normal. Pada pemeriksaan laboratorium GDS 209 mg/dl. Penderita sejak 6 tahun
terakhir ini mengidap dan berobat teratur penyakit kencing manis dan tekanan
darah tinggi.
B. Kata kunci
1. Perempuan 68 tahun
2. Selalu mengompol sejak 3 bulan
3. Tidak dapat menahan BAK
4. Tidak ada keluhan saat berkemih
5. Sejak 1 minggu batuk2, agak sesak, nafsu makan berkurang
6. Pemeriksaan fisik:
a. Tekanan darah : 160/70 mmHg
b. nadi 92x/menit
c. suhu aksiler 37oC
d. pernapasan 24x/menit
e. Auskultasi paru: ronkhi basah kasar pada bagian medial
f. Jantung, hati, limpa dalam batas normal
7. Pemeriksaan laboratorium: GDS 209 mg/dl
8. 6 tahun terakhir mengidap dan berobat DM & Hipertensi
C. Daftar Masalah
1. Inkontinensia Urin tipe Campuran
2. Pneumonia Lobaris
3. Innation
4. Diabetes Melitus
5. Hipertensi

BAB II
PEMBAHASAN

1. Proses Diuresis Normal


Proses berkemih berlangsung dibawah control dan koordinasi sistem saraf
pusat (SSP) dan sistem saraf tepi di daerah sakrum. Sensasi pertama ingin
berkemih timbul saat volume kandung kemih atau vesica urinaria (VU) mencapai
antara 150-350 ml. Kapasitas VU normal bervariasi sekitar 300-600 ml (Pranarka,
2000). Bila proses berkemih terjadi, otot-otot detrusor VU berkontraksi, diikuti
relaksasi dari sfingter dan uretra. Tekanan dari otot detrusor meningkat melebihi
tahanan dari muara uretra dan urin akan memancar keluar. Sfingter uretra
eksternal dan otot dasar panggul berada di bawah control volunter dan disuplai
oleh saraf pudendal, sedangkan otot detrusor kandung kemih dan sfingter uretra
internal berada di bawah kontrol sistem saraf otonom, yang mungkin dimodulasi
oleh korteks otak.
Proses berkemih diatur oleh pusat refleks kemih di daerah sakrum. Jaras
aferen lewat persarafan somatik dan otonom membawa informasi tentang isi VU
ke medulla spinalis sesuai pengisian VU.Ketika VU mulai terisi urin, rangsang
saraf diteruskan melalui saraf pelvis dan medulla spinalis ke pusat saraf kortikal
dan subkortikal.Pusat subkortikal (pada ganglia basal dan cerebellum)
menyebabkan VU relaksasi sehingga dapat mengisi tanpa menyebabkan seseorang
mengalami desakan untuk berkemih.Ketika pengisian VU berlanjut, rasa
penggembungan VU disadari, dan pusat kortikal (pada lobus frontalis) bekerja
menghambat pengeluaran urin.Gangguan pada pusat kortikal dan subkortikal
karena obat atau penyakit dapat mengurangi kemampuan menunda pengeluaran
urin.
Ketika terjadi desakan berkemih, rangsang dari korteks disalurkan melalui
medulla spinalis dan saraf pelvis ke otot detrusor.Aksi kolinergik dari saraf pelvis
kemudian menyebabkan otot detrusor berkontraksi.Kontraksi otot detrusor tidak
hanya tergantung pada inervasi kolinergik, namun juga mengandung reseptor
prostaglandin.Karena itu, prostaglandin-inhibiting drugs dapat mengganggu
kontraksi detrusor.Kontraksi VU juga calcium-channel dependent, karena
itu calcium-channel blockers dapat mengganggu kontraksi VU. Interferensi
aktivitas kolinergik saraf pelvis menyebabkan pengurangan kontraktilitas otot.
Aktivitas adrenergik-alfa menyebabkan sfingter uretra berkontraksi.
Karena itu, pengobatan dengan agonis adrenergik-alfa (pseudoefedrin) dapat
memperkuat kontraksi sfingter, sedangkan zat alpha-blocking dapat mengganggu
penutupan sfingter. Inervasi adrenergik-beta merelaksasi sfingter uretra. Karena
itu zat beta-adrenergic blocking (propanolol) dapat mengganggu dengan
menyebabkan relaksasi uretra dan melepaskan aktifitas kontraktil adrenergicalpha.
Mekanisme sfingter berkemih memerlukan angulasi yang tepat antara
uretra dan VU.Fungsi sfingter uretra normal juga tergantung pada posisi yang

tepat dari uretra sehingga dapat meningkatkan tekanan intra-abdomen secara


efektif ditransmisikan ke uretra. Bila uretra di posisi yang tepat, urin tidak akan
pada saat terdapat tekanan atau batuk yang meningkatkan tekanan intra-abdomen.
Mekanisme dasar proses berkemih diatur oleh berbagai refleks pada pusat
berkemih. Pada fase pengisian, terjadi peningkatan aktivitas saraf otonom
simpatis yang mengakibatkan penutupan leher VU, relaksasi dinding VU, serta
penghambatan aktivitas parasimpatis dan mempertahankan inervasi somatik pada
otot dasar panggul. Pada fase pengosongan, aktivitas simpatis dan somatik
menurun, sedangkan parasimpatis meningkat sehingga terjadi kontraksi otot
detrusor dan pembukaan leher VU. Proses refleks ini dipengaruhi oleh sistem
saraf yang lebih tinggi yaitu batang otak, korteks serebri dan serebelum. Peranan
korteks serebri adalah menghambat, sedangkan batak otak dan supra spinal
memfalisitasi.
2. Perubahan anatomi fisiologi system urogenital pada lanjut usia
Proses menua baik pada laki-laki maupun perempuan telah diketahui
mengakibatkan perubahan-perubahan anatomis dan fisiologis pada system
urogenital bagian bawah. Perubahan-perubahan tersebut berkaitan dengan
menurunnya kadar estrogen pada perempuan dan hormone androgen pada lakilaki. Secara singkat perubahan anatomik dan fisiologik saluran urogenital bagian
bawah dapat dilihat pada tabel berikut:
Kandung Kemih
Perubahan Morfologis
Trabekulasi
Fibrosis
Saraf autonom
Pembentukan divertikula
Perubahan Fisiologis
Kapasitas
Kemampuan menahan kencing
Kontraksi involunter
Volume residu pasca berkemih
Uretra
Perubahan Morfologis
Komponen seluler
Deposit Kolagen

Prostat

Perubahan Fisiologis
Tekanan penutupan
Tekanan akhiran keluar
Hiperplasi dan membesar

Vagina

Komponen selular
Mukosa atrofi
Dasar Panggul
Deposit kolagen
Rasio jaringan ikat-otot
Otot melemah
Tabel Perubahan-perubahan Fisiologik Terkait Proses Menua pada Saluran Kemih
Bawah.
Pada dinding kandung kemih terjadi peningkatan fibrosis dan kandungan
kolagen sehingga mengakibatkan fungsi kontraktil tidak efektif lagi, dan mudah
terbentuk trabekulasi sampai divertikel. Atrofi mukosa, perubahan vaskularisasi
submukosa, dan menipisnya lapisan otot uretra mengakibatkan menurunnya
tekanan outflow. Pada laki-laki terjadi pengecilan testis dan pembesaran kelenjar
prostat sedangkan pada perempuan terjadi penipisan dinding vagina dengan
timbulnya eritema atau petekie, pemendekan dan penyempitan ruang vagina serta
berkurangnya lubrikasi dengan akibat meningkatnya PH lingkungan vagina. Telah
diketahui dengan baik bahwa dasar panggul mempunyai peran penting dalam
dinamika miksi dan mempertahankan kondisi kontinen.
3. Definisi Inkontinensia Urin
Inkontinensia urin adalah keluarnya urin yg tdk terkendali dan tidak
diinginkan dalam jumlah dan frekuensi tertentu sehingga menimbulkan masalah
sosial dan/atau kesehatan.
4. Penyebab Inkontinensia Urin
Penyebab inkontinensia urin dibedakan menjadi
a. Kelainan urologik; misalnya radang, batu, tumor, divertikel.
b. Kelainan neurologik; misalnya stroke, trauma pada medulla spinalis,
demensia dan lain-lain.
c. Lain-lain; misalnya hambatan motilitas, situasi tempat berkemih yang
tidak memadai/jauh, dan sebagainya.
5. Faktor Resiko Inkontinensia Urin
Di bawah ini adalah faktor resiko yang berperan memicu inkontinensia
urin:
a. Umur
Prevalensi inkontinensia urin meningkat dengan bertambahnya usia.
Banyak wanita tua sebenarnya menganggap gejala berkemih mereka merupakan
bagian normal dari proses penuaan daripada manifestasi penyakit. Lebih dari 50%
pasien selama 75 tahun menganggap sejala berkemih mereka normal untuk orang
tua.

b. Hormon sex
Memburuknya fungsi ovarium yang berhubungan menopause dimana
terjadi penurunan produksi estrogen endogen dan peningkatan insidensi gejala
urin, termasuk dysuria, frekuensi, urgensi, nokturia dan inkontinensia.
c. Faktor kehamilan dan persalinan
Efek kehamilan pada inkontinensia urin tampaknya bukan sekedar proses
mekanik. Inkontinensia urin pada perempuan hamil dapat terjadi dari awal
kehamilan hingga masa nifas, jadi tidak berhubungan dnegan penekanan
kandung kemih oleh besarnya uterus.
Prevalensi inkontinensia urin meningkat selama kehamilan dan beberapa
minggu setelah persalinan.
Pemakaian forceps selama kehamilan dapat memicu inkontinensia urin.
Bila timbul inkontinensia urin lebih dari tiga bulan pascasalin (post-partum)
maka ini dapat dipandang sebagai indicator prognostic untuk masalah
kontinensia di masa depan.
Tingginya usia, paritas, dan berat badan bayi tampaknya berhubungan dengan
inkontinensia urin.
d. Merokok, obesitas, dan konstipasi kronik.
Setiap kondisi yang mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdominal
kronis cenderung meningkatkan risiko berkembang atau memburuknya
inkontinensia stress. Obesitas, konstipasi kronis, dan merokok telah diusulkan
sebagai faktor predisposisi penting penyebab dari GSI, meskipun data yang ada
tidak cukup untuk membantah atau mengkonfirmasi asumsi ini.
6. Patofisiologi Inkontinensia Urin
Pada usia lanjut inkontinensia urin berkaitan dengan fungsi fisiologis,
psikologis dan lingkungan. Proses miksi sendiri diatur di sakrum.jalur aferen
membawa informasi mengenai volume vesika urinaria di medula spinalis.
Pengisian vesika urinaria dilakukan dengan cara merelaksasi vesika urinaria
melalui penghambatan saraf simpatis serta somatik yang mempersarafi otot dasar
panggul. Pada orang orang dengan usia lanjut terjadi degenerasi neurogenik yang
menyebabkan berkurangnya fungsi dari penghambat kontraksi dari vesica urinaria
sehingga akhirnya urin keluar secara involunter atau tanpa disadari.
7. Klasifikasi Inkontinensia Urin
a. Inkontinensia Urin Sementara/Akut
Tabel Inkontinensia Urin Sementara/Akut
D
Delirium or acute confusional state
I
Infection, urinary

A
P

P
E
R
S

Atrophic vaginitis or urethritis


Pharmaceutical
Sedative hypnotic
Loop diuretics
Anti-cholinergic agents
Alpa-adrenergic agonist and antagonist
Calcium channel blockers
Psychologic disorders : depression
Endocrine disorders
Restricted Mobility
Stool impaction

b. Inkontinensia Urin Kronik/Persisten


1)
Inkontinensia Stres
Inkontinensia merupakan penyebab inkontinensia urin tersering kedua
pada wanita usia lanjut. Kondisi ini terjadi pada pria hanya bila mekanisme
sfingter dirusak oleh reseksi prostat yang luas.Gejala klinisnya antara lain
kebocoran urin segera setelah meningkatnya tekanan intra abdomen (stress
maneuvers), misalnya oleh karena batuk, tertawa atau latihan/aktivitas, dan
disebabkan oleh kelemahan otot-otot dasar panggul, bagian luar kandung kemih,
atau sfingter uretra. Pada pria, inkontinensia menyerupai leaky tap, tetesan urin
terus-menerus yang dieksaserbasi oleh posisi berdiri atau ketegangan. Pada
overaktivitas detrusor dengan inkontinensia stress, kebocoran pada umumnya
memburuk pada siang hari. Inkontinensia stress yang terjadi bersamaan dengan
inkontinensia urgensi akibat overaktivitas detrusor disebut inkontinensia
campuran (mixed incontinence).
2)
Inkontinensia Urgensi
Inkontinensia urgency merupakan penyebab yang paling banyak dijumpai
pada usila. Ditandai dengan kontraksi kandung kemih involunter dan dikaitkan
dengan aktivitas otot polos spontan yang meningkat dan perubahan spesifik pada
tingkat selular.Ketidak stabilan sistem sensorik dan motorik detrusor dapat
disebabkan oleh kelainan lokal seperti sistitis, tumor, batu, atau obstruksi outflow
kandung kemih, ataupun oleh karena kelainan saraf sentral seperti pada strok,
demensia, atau parkinsonisme.Gejala klinis dari overaktivitas detrusor adalah
keinginan berkemih yang mendadak dan terburu-buru (urgensi).Kebocoran urin
terjadi secara episodik tetapi sering, volume kebocoran biasanya sedang sampai
banyak, nokturia dan inkontinensi urin biasa terjadi.Sensasi dan refleks sakral
tetap terpelihara, dan bila tidak ada gangguan kontraktilitas kandung kemih,
volume residu pasca berkemih umumnya sedikit.

3)
Inkontinensia Overflow
Pada keadaan ini pengeluaran urin terjadi akibat overflow (luber),
biasanya sedikit-sedikit. Tipe ini merupakan penyebab kedua yang paling banyak
dijumpai pada usia lanjut pria, akibat kandung kemih yang terlalu meregang
disebabkan oleh sumbatan (obstruksi) akibat pembesaran prostat, striktur uretra,
dll. Pada diabetes mellitus atau cedera medulla spinalis dapat terjadi overflow
oleh karena kandung kemih tidak berkontraksi, atau neurogenic bladder. Pada
wanita umumnya hanya dijumpai pada wanita yang telah menjalani bladder neck
suspension atau yang telah menderita prolaps berat dengan kinking uretra.
Aktivitas yang berkurang dari detrusor, yang biasanya idiopatik, ditandai dengan
perubahan degeneratif pada sel-sel otot dan akson secara luas. Kondisi ini muncul
sebagai inkontinensia overflow dengan gejala sering berkemih, nokturia, dan
kebocoran urin dalam jumlah yang sedikit namun sering.
4)
Inkontinensia Fungsional
Inkontinensia fungsional adalah kebocoran urin berkaitan dengan
ketidakmampuan pasien untuk mencapai toilet pada waktunya karena gangguan
fisik atau kognitif. Hal ini disebabkan antara lain oleh demensia berat, kelainan
neurologik, maupun oleh faktor psikologis seperti; depresi, regresi, marah dan
hostility. Istilah inkontinensia fungsional sebetulnya menunjukkan bahwa fungsi
saluran kemih normal padahal banyak penelitian saat ini menunjukkan bahwa
pada tipe ini fungsi saluran kemih yang normal sulit dijumpai, bahkan pada usia
lanjut yang kontinen sekalipun. Karena usia lanjut yang terganggu status
fungsionalnya lebih mungkin mengalami faktor-faktor yang menyebabkan
inkontinensia urin sementara, penyebab inkontinensia urin yang reversibel
mungkin terabaikan/terlupakan sehingga tidak ditangani dengan baik.

8. Hubungan Inkontinensia Urin dengan gejala batuk


Inkontinensia stress biasanya disebabkan oleh lemahnya mekanisme
penutup. Keluhan khas yaitu mengeluarkan urine sewaktu batuk, bersin, menaiki
tangga atau melakukan gerakan mendadak, berdiri sesudah berbaring atau duduk.
Gerakan semacam itu dapat meningkatkan tekanandalam abdomen dan karena itu
juga di dalam kandung kemih. Otot uretra tidak dapat melawan tekanan ini dan
keluarlah urine. Kebanyakan keluhan ini progresif perlahan-lahan; kadang terjadi
sesudah melahirkan. Akibatnya penderita harus sering mengganti pakaian dalam
dan bila perlu juga pembalut wanita. Frekuensi berganti pakaian, dan juga jumlah
pembalut wanita yang diperlukan setiaphari, merupakan ukuran kegawatan
keluhan inkontinensia ini.
9. Hubungan Inkontinensia Urin dengan Diabetes Mellitus
Pada pasien DM terjadi peningkatan kadar glukosa (hiperglikemi), pada
kondisi ini glukosa yang difiltrasi di ginjal melebihi kapasitas selsel tubulus yang
melakukan reabsobsisehingga glukosa akan timbul dalam urine (glukosuria) yang
menimbulkan efek osmotic yang menrik air bersamanya sehingga menyebabkan
diuresis osmotic yang ditandai dengan poliuria (sering berkemih).
10. Hubungan Inkontinensia Urin dengan Penggunaan Obat
Dalam skenario pasien mengalami Hipertensi dan Diabetes Melitus,
adapun beberapa obat yang digunakan dalam penanganan kondisi tersebut seperti:
a) Diuretik
Obat-obatan golongan diuretik berperan dalam menurunkan curah jantung
dan tekanan darah serta menurunkan resistensi perifer pembuluh darah dengan
cara meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida yang akan menurunkan
volume darah dan cairan ekstraseluler. Karena tubuh memproduksi banyak urin,
maka akan mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan pada kandung kemih
yang menyebabkan terjadinya inkontinensia urin. Contoh obat diuretik yaitu
hidroklorotiazid, furosemid, amilorid, spironolakton,dll
b) Penghambat Adrenoreseptor Alfa Bloker
Hanya alfa-bloker yang selektif menghambat reseptor alfa-1 yang
digunakan sebagai anti hipertensi. Reseptor adrenergic alfa-1 pada trigonum
vesicae dan sfingter bersifat meningkatkan kontraksi dari kedua struktur tersebut,
dengan pemberian obat alfa bloker maka akan menghambat efek simpatis pada
kedua struktur tersebut yang mengakibatkan melemah/mengendurnya kantong
kemih. Selainitu, reseptor adrenergic alfa-1 juga berperan dalam meningkatkan
motilitas dan tonus dari ureter sehingga pemberian obat alfa-bloker juga akan
menganggu kerja dari ureter sehingga akan menyebabkan stress inkontinensia.
Contoh obat alfa-bloker adalah prazosin, terazosin, bunazosin dan doksazosin.

c) Penghambat Angiotensin Converting Enzyme (Ace-Inhibitor)


ACE-inhibitor menghambat perubahan A1 dan AII sehingga terjadi
vasodilatasi dan penurunan sekresi aldosteron. Berkurangnya sekresi aldosteron
ini akan menyebabkan eksresi air dan natrium sehingga dapat menyebabkan efek
diuretik yang berlebihan. Selain itu pemberian obat ACE-inhibitor memberikan
efek samping peningkatan kadar bradikinin dan substansi P dan atau prostaglandin
sehingga dapat menyebabkan batuk kering yang akan menyebabkan relaksasi
dariotot panggul dan menyebabkan stress inkontinensia. Contoh obatnya yaitu
kaptopril, benazepril, enalapril, dll
d) Calcium Channel Blocker
CCB menghambat influx kalsium pada sel otot polos pembuluh darah dan
miokard sehingga menimbulkan relaksasi arteriol. Tidak hanya otot polos
pembuluh darah, tapi juga obat-obatan CCB akan menurunkan kontraktilitas dari
otot detrusor vesicae yang akan menyebabkan retensi urin dan overflow
inkontinensia. Contoh: nifedipin
11. Pendekatan Diagnostik Inkontinensia Urin
Langkah pertama proses diagnosis adalah identifikasi inkontinensia urin
melalui observasi langsung atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Untuk
mencapai tujuan diagnosis dilakukan pendekatan yang komprehensif beberaa
aspek seperti riwayat penyakit, pemeriksaan fisik terarah, urinalisis,, volume
residu urin pasca berkemih dan pemeriksaan penunjang khusus:
a. Anamnesis
Seringkali anamnesis pasien digunakan untuk mendiagnosis tipe
inkontinensia. Peran anamnesis dalam mendiagnosis tipe inkontinensia pada
wanita: dapat sangat meleset dan tidak membentuk dasar ilmiah untuk
penanganan. Tanpa suatu investigasi yang objektif, ahli ginekologi yang
mengandalkan pada gejala klinis dapat memberikan terapi bedah yang tidak
efektif atau yang tidak diperlukan pada pasien mereka. Anamnesis sendiri
merupakan indikator yang buruk untuk tipe inkontinensia dan tidak ada
pertanyaan yang dapat membedakan secara jelas antara berbagai tipe
inkontinensia.
Anamnesis uroginekologi yang lengkap harus meliputi frekuensi, durasi,
dan karakter episode inkontinensia, penggunaan alat proteksi, terapi sebelumnya,
dan kondisi lainnya yang dapat menyebabkan inkontinensia. Anamnesis terinci
merupakan hal yang penting untuk menentukan keparahan gejala. Dengan
anamnesia yang tepat, dapat membantu untuk menentukan terapi selanjutnya,
dengan gejala yang lebih parah mendapat pilihan terapi yang lebih agresif dan
gejala yang lebih ringan mendaoat pilihan terapi yang kurang invasif. Stress

emosional seringkali tidak dihubungkan dengan jumlah pengeluaran urin yang


dapat ditunjukkan.
b. Pemeriksaan Fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah mengenali pemicu inkontinensia urin dan
membantu menetapkan patofisiologinya.Selain pemeriksaan fisik umum yang
selalu harus dilakukan, pemeriksaan terhadap abdomen, genitalia, rectum, fungsi
neurologis, dan pelvis (pada wanita) sangat diperlukan.

Pemeriksaan abdomen harus mengenali adanya kandung kemih yang


penuh, rasa nyeri, massa, atau riwayat pembedahan.

Kondisi kulit dan abnormalitas anatomis harus diidentifikasi ketika


memeriksa genitalia.

Pemeriksaan rectum terutama dilakukan untuk medapatkan adanya


obstipasi atau skibala, dan evaluasi tonus sfingter, sensasi perineal, dan
refleks bulbokavernosus. Nodul prostat dapat dikenali pada saat pemeriksaan
rectum.

Pemeriksaan pelvis mengevaluasi adanya atrofi mukosa, vaginitis atrofi,


massa, tonus otot, prolaps pelvis, dan adanya sistokel atau rektokel.

Evaluasi neurologis sebagian diperoleh saat pemeriksaan rectum ketika


pemeriksan sensasi perineum, tonus anus, dan refles bulbokavernosus.
Pemeriksaan neurologis juga perlu mengevaluasi penyakit-penyakit yang
dapat diobati seperti kompresi medula spinalis dan penyakit parkinson.
Pemeriksaan fisik seyogyanya juga meliputi pengkajian tehadap status
fungsional dan kognitif, memperhatikan apakah pasien menyadari keinginan
untuk berkemih dan mengunakan toilet.
c. Pemeriksaan Diagnostik Pada Inkontinensia Urin
Menurut Ouslander, tes diagnostik pada inkontinensia perlu dilakukan
untuk mengidentifikasi faktor yang potensial mengakibatkan inkontinensia,
mengidentifikasi kebutuhan klien dan menentukan tipe inkontinensia.
1) Mengukur sisa urin setelah berkemih, dilakukan dengan cara :
Setelah buang air kecil, pasang kateter, urin yang keluar melalui kateter
diukur atau menggunakan pemeriksaan ultrasonik pelvis, bila sisa urin > 100 cc
berarti pengosongan kandung kemih tidak adekuat.

2) Urinalisis
Dilakukan terhadap spesimen urin yang bersih untuk mendeteksi adanya
faktor yang berperan terhadap terjadinya inkontinensia urin seperti hematuri,
piouri, bakteriuri, glukosuria, dan proteinuria.Tes diagnostik lanjutan perlu
dilanjutkan bila evaluasi awal didiagnosis belum jelas. Tes lanjutan tersebut
adalah :
Tes laboratorium tambahan seperti kultur urin, blood urea nitrogen,
creatinin, kalsium glukosa sitologi.
Tes urodinamik untuk mengetahui anatomi dan fungsi saluran kemih
bagian bawah
Tes tekanan urethra mengukur tekanan di dalam urethra saat istirahat
dan saat dianmis.
Imaging tes terhadap saluran perkemihan bagian atas dan bawah.
3) Pemeriksaan penunjang
Uji urodinamik sederhana dapat dilakukan tanpa menggunakan alat-alat
mahal. Sisa-sisa urin pasca berkemih perlu diperkirakan pada pemeriksaan fisis.
Pengukuran yang spesifik dapat dilakukan dengan ultrasound atau kateterisasi
urin. Merembesnya urin pada saat dilakukan penekanan dapat juga dilakukan.
Evaluasi tersebut juga harus dikerjakan ketika kandung kemih penuh dan ada
desakan keinginan untuk berkemih. Diminta untuk batuk ketika sedang diperiksa
dalam posisi litotomi atau berdiri. Merembesnya urin seringkali dapat dilihat.
Informasi yang dapat diperoleh antara lain saat pertama ada keinginan berkemih,
ada atau tidak adanya kontraksi kandung kemih tak terkendali, dan kapasitas
kandung kemih.
4) Laboratorium
Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa, dan kalsium serum dikaji untuk
menentukan fungsi ginjal dan kondisi yang menyebabkan poliuria.
5) Catatan berkemih (voiding record)
Catatan berkemih dilakukan untuk mengetahui pola berkemih. Catatan ini
digunakan untuk mencatat waktu dan jumlah urin saat mengalami inkontinensia
urin dan tidak inkontinensia urin, dan gejala berkaitan dengan inkontinensia urin.
Pencatatan pola berkemih tersebut dilakukan selama 1-3 hari. Catatan tersebut
dapat digunakan untuk memantau respon terapi dan juga dapat dipakai sebagai
intervensi terapeutik karena dapat menyadarkan pasien faktor-faktor yang memicu
terjadinya inkontinensia urin pada dirinya.

12. Penatalaksanaan Inkontinensia Urin


Pada umumnya terapi inkontinensia urine adalah dengan cara operasi.
Akan tetapi pada kasus ringan ataupun sedang, bisa dicoba dengan terapi
konservatif. Latihan otot dasar panggul adalah terapi non operatif yang paling
populer, selain itu juga dipakai obat-obatan, stimulasi dan pemakaian alat
mekanis.
Penatalaksanaan inkontinensia urin menurut Muller adalah mengurangi
faktor resiko, mempertahankan homeostasis, mengontrol inkontinensia urin,
modifikasi lingkungan, medikasi, latihan otot pelvis dan pembedahan.
Sejauh ini, penatalaksanaan inkontinensia urine terdiri atas tiga kategori
utama,yaitu terapi nonfarmakologis (intervensi perilaku), farmakologis,dan
pembedahan. Di bawah ini akan diuraikan penatalaksanaan inkontinensia urin.
1) Terapi non farmakologi
Terapi yang sebaiknya pertama kali dilakukan untuk mengatasi
inkontinensiaurin adalah terapi nonfarmakologis sebelum menetapkan
menggunakan terapifarmakologis.
a) Behavioral Oriented / Pengaturan Diet
Intervensi ini digunakan untuk mengatasi gejala ringan dariinkontinensia
stress. Mengurangi pemasukan cairan (tidak lebih dari 8 gelasdalam 24 jam), dan
menghindari makanan/minuman yang mempengaruhipola berkemih (seperti
cafein, dan alkohol). Kafein dan alkohol bersifat mengiritasi kandung kemih.
Selain dapat mengiritasi otot kandung kemihkafein juga bersifat diuretik dan akan
meningkatkan frekuensi berkemih.Selain itu alkohol akan menghambat hormon
antidiuretik sehingga produksiurin meningkat.
Makanan dan minuman dapat menyebabkan inkontinensia seperti kafein
(ditemukan dalam kopi,teh, soda,soft drink dan coklat), dan alkohol. Dengan
membatasi makanan dan minuman tersebut dapat mengurangi inkontinensia. Hal
yang sama yang menyatakan bahwa penelitian membuktikan bahwa inkontinensia
urin dapat diatasi dengan mengurangikonsumsi kafein.
Pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan inkontinensia urin dan
overactive bladder menunjukkan ada hubungan antara gejalainkontinensia urin
dengan konsumsi kafein sehingga pasien dengan inkontinensia urin dan
overactive bladder direkomendasikan untuk mengurangi konsumsi kafein tidak
lebih dari 200 mg/dl atau tidak lebih 2 gelas perhari.
Kafein dan alcohol yang terdapat dalam makanan dan minuman dapat
menyebabkandiuresis atau iritasi kandung kemih yang berkontribusi terhadap
overactive bladder dan gejala inkontinensia urin. Alkohol dapat menghambat
sekresihormon oleh kelenjar pituitary sehingga pengeluaran urin
menjadiberlebihan dan frekuensi berkemih dapat meningkat. Alkohol dapat
mengganggu sistem saraf pada kandung kemih dan menurunkan

sensitivitaskandung kemih dan kadang kadang menyebabkan kandung kemih


terlalu aktif yang dapat menyebabkan urge incontinence.
b) Bladder Training
Bladder training adalah salah satu upaya untuk menanganiinkontinensia
urin dengan cara mengembalikan fungsi kandung kemih yangmengalami
gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi optimal.Bladder training umumnya
digunakan untuk mengatasi stress incontinence, urge incontinence dan mixed
incontinence. Bladder training dilakukan dengan cara sebagaiberikut : Saat ada
rangsangan ingin berkemih cobalah untuk mulai menahan urin selama 5 menit,
bila mampu menahan selama 5 menit tingkatkan samapi 10 menit dan seterusnya
sehingga jarak berkemih 2-3 jam. Lakukan bladder training 3-12 minggu.
c) Kegels Excercise
Kegel adalah nama dari latihan untuk menguatkan otot dasar
panggul.Latihan Kegel merupakan suatu upaya untuk mencegah timbulnya
inkontinensia urin. Mekanisme kontraksi dan meningkatnya tonus otot dapat
terjadi karena adanya rangsangan sebagai dampak dari latihan. Otot dapat
dipandang sebagai suatu motor yang bekerja dengan jalan mengubah energi kimia
menjadi tenaga mekanik berupa kontraksi danpergerakan untuk menggerakkan
serat otot yang terletak pada interaksi aktin dan miosin. Proses interaksi tersebut
diaktifkan oleh ion kalsium danadenotrifosfat (ATP), yang kemudian dipecah
menjadi adenodifosfat (ADP) untuk memberikan energi bagi kontraksi otot
detrusor.
Cara latihan Kegel adalah dengan melakukan kontraksi pada otot
puboccygeus dan menahan kontraksi tersebut dalam hitungan 10 detik, kemudian
kontraksi dilepaskan.Pada tahap awal bisa dimulai dengan menahan kontraksi
selama 3 hingga 5detik. Dengan melakukan secara bertahap otot ini semakin kuat,
latihan ini diulang 10 kali setelah itu mencoba berkemih dan menghentikan urin.

2) Terapi farmakologi
Terapi farmakologis digunakan jika behavioral oriented atau terapi lain
tidak memperbaiki kondisi inkontinensia urin. Terapi farmakologis umumnya
memakai obat-obatan dengan efektivitas dan efek samping yang berbeda. Obatobatan yang sering digunakan untuk mengatasi inkontinensia urin antara lain:
a) Anti muscarinic yang berfungsi untuk mencegah kontraksi dan
pengosongan kandung kemih sebelum mencapai volume yang dapat
merangsang mikturisi.
b) Alpha-adrenergic agonist seperti phenyl propanolamine dan pseudo
ephedrine yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot spingter.

Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu


pseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra.
c) Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen adalah
antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine, flavoxate,
Imipramine, tricyclic antidepressant.
d) Terapi estrogen dapat digunakan untuk mengatasi inkontinensia pada
wanita menopause. Estrogen berfungsi untuk meningkatkan tonus,
danaliran darah ke otot spingter uretra

3) Terapi pembedahan
Terapi ini dapat dipertimbangkan pada inkontinensia tipe stress dan
urgensi, bila terapi non farmakologis dan farmakologis tidak berhasil.
Inkontinensia tipe overflow umumnya memerlukan tindakan pembedahan untuk
menghilangkan retensi urin. Terapi ini dilakukan terhadap tumor, batu,
divertikulum, hiperplasia prostat, dan prolaps pelvic (pada wanita). Tindakan
pembedahan dilakukan bila penyebab inkontinensia sudah teridentifikasi dengan
tepat. Tujuan pembedahan adalah untuk menaikkan danmenyokong leher kandung
kemih agar dapat kembali ke posisi normalnya yaitu diatas otot dasar pelvis.
Tindakan operatif dilakukan atas pertimbangan yang matang dan diahului
dengan evaluasi uridinamik. Pada perempuan dengan prolaps pelvik yang
signikan dan inkontinensia tipe stres yang tidak membaik dengan penanganan
konservatif harus dilakukan upaya operatif. Pada laki-laki dengan tanda obstruksi
saluran kemih akibat hipertrofi prostat dapat dilakukan operasi sebagai upaya
pencegahan inkontinensia tipe overflow di kemudian hari. Beberapa cara untuk
melemahkan detrusor dilakukan dengan menggunakan pendekatan postsakral atau
paravaginal.
Teknik pembedahan yang bertujuan untuk merusak struktur dan kekuatan
detrusor seperti transesksi terbuka kandung kemih, transeksi endoskopik,injeksi
penol periureter dan sistolisis telah banyak dugynakan. Teknik pembedahan yang
paling sering digunakan adalah ileosistoplasti dan miektomi destrusor. Teknik
pembedahan untuk inkontinensia tipe stres adalah injecctable intraurethral
bulking agents, suspensi leher kandun gkemih, urethral slings, dan artificial
urinary sphincters. Teknik pembedahan untuk inkontinensia tipe urgensi adalah
augmentation cystoplasty, dan stimulasi elektrik.
Salah satu modalitas terapi yang perlu mendapat perhatian bagi tenaga
kesehatan adalah pemakaian kateter dan perawatannya. Dalam praktek klinik,
katerisisasi sering merupakan tindakan pertama yang dilaukan untuk penderita
inkontinesia urin akut. Data-data yang ada menunjukkn pemakaian kateter.

Terdapat 3 cara atau prosedur pemakaian kateter yaitu: kateter eksternal (kateter
kondom), katerisasi intermitten, dan katerisisai kronik atau menetap. Kateter
eksternal hanya dipakai pada inkontinensia inractable tanpa retensi urin yang
secara fisik dependen. Bahaya pemakaian kateter tersebut adalah risiko infeksi
dan iritasi kulit.
Katerisisai intermiten dipakai untuk mengatasi retensi urin dan
inkontinensia tipe overflow akibat kandung kemih yang akontraktil atau Detrussor
hiperactivity with impaired contractility (DHIC). Prosedur ini dapat dilakukan 2-4
kali perhari oleh pasien atau tenaga kesehatan. Biasanya teknik ini dilakukan apda
pasien dengan inkontinesia urin akut. Risiko infeksi sering terjadi pada prosedur
ini, oleh karenanya harus dicegah dengan melakukan teknik aseptik. Sedangkan
katerisasi harus dicegah dengan melakukan teknik aseptik. Sedangkan katerisisai
menetap harus dilakukan secara selektif oleh karena risiko bakteria kronik, batu
kandung kemih, abses periuretral, dan bahkan kanker kandung kemih. Induksi
pemakaian kateter kronik adalah retensi urin akibat inkontinensia overflow
ppresisten, tak layak operasi, tidak efektif dilakukan katerisasi intermiten, ada
dalam perawatan dekubitus, dan perawatan terminal dengan demensia berat.
13. Pencegahan Inkontinensia Urin
a. Dekatkan kamar mandi
b. Batasi asupan alkohol dan minuman berkafein
c. Sertakan cukup cairan dan serat dalam diet dan berolahraga secara teratur
untuk mencegah konstipasi yang dapat menyebabkan kontrol kandung
kemih yang buruk.
d. Penggunaan pampers
e. Latihan perilaku berkemih
f. Membuat catatan berkemih
g. Lakukan latihan dasar panggul secara teratur

DAFTAR PUSTAKA
1. Andrianto, P. Urologi Untuk Praktek Umum. EGC. Jakarta, 1991
2. Purnomo. Dasar-dasar Urologi. FK Brawijaya, Malang 2003
3. Sudoyo, A, et.al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi IV. UI.
Jakarta, 2006
4. Santoso, Budi Imam. Inkontinensia Urin pada Perempuan. Majalah
Kedokteran Indonesia, Volume 58, Nomor 7. Jakarta, 2008.
5. Hall, E John. Guyton and Hall Textbook Medical Physiology.Urinary
Tract.Elsevier Health Sciences:2010.
6. Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson, Patofisiologi, KonsepKlinis ProsesProses Penyakit, edisi 6, Jakarta: EGC, 2006.
7. Setiati Siti, Dewa I Putu P. Inkontinensia Urin dan Kandung Kemih
Hiperaktif.Sudoyo Aru W,dkk. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid
III Edisi V.Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2009
8. B, Pribakti, Dr. Sp.OG(K)., Dasar-Dasar Uroginekologi. Sagung Seto.
Jakarta, 2011.
9. N, Errol,. S, John. At A Glance: Obstetri & Ginekologi Ed.2. EMS, 2009
10. Robinson K., Cardozo L. 2007., Urinary Incontinence. In: Dewhursts
Textbook of Obstetrics and Gynaecology. 7 th edition. London: Queen
Charlotte and ChelseHospital.
11. Victor W. Nitti MJGB, MD, editor :Saunders 2007. Urinary Incontinence:
Epidemiology, Pathophysiology, Evaluation, and Management Overview. In:
Campbell-Walsh Urology. 9th, An Imprint of Elsevier; 2007.7.
12. Ocallaghan CA.2006 The renal system at a glance. 2nd ed. Jakarta:
Erlangga.
13. Darmojo B. 2009. Geriatri ilmu kesehatan usia lanjut. Edisi keempat. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.