Anda di halaman 1dari 9

Fakultas Kedokteran

Universitas Alkhairaat

Laporan Tutorial Individu


Palu, 26 Maret 2015

SISTEM FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


MODUL 1 LUKA/TRAUMA

Disusun Oleh:
Nama

: Rahmatia Anwar

Stambuk

: 12 777 014

Kelompok

: III (Tiga)

Pembimbing

: dr. Annisa Anwar, Sp.F, M.Kes, SH.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Skenario
Seorang wanita 58 tahun dibawa ke Puskesmas dan diantar Polisi. Ia
ditemukan tidak sadar disebuah taman umum dengan luka pada bagian depan
kepalanya. Tidak ditemukan adanya fraktur pada tulang tengkorak, dan tidak ada
luka signifikan lain yang ditemukan pada bagian tubuhnya yang lain. Barangbarang pribadinya masih berada ditempat yang seharusnya.

B. Kata kunci
1. Wanita 58 tahun
2. Tidak sadar
3. Luka pada bagian depan kepalanya
4. Tidak ada fraktur pada tulang tengkorak
5. Tidak ada luka signifikan lain pada bagian tubuh yang lain
C. Pertanyaan
1. Menjelaskan patomekanisme luka/trauma menggunakan pengetahuannya
tentang histologi, anatomi, dan fisiologi tubuh manusia.?
2. Mendeskripsikan karakteristik luka.?
3. Menjelaskan karakteristik kemungkinan agen penyebab luka?
4. Menjelaskan keparahan/derajat luka sesuai dengan hukum yang berlaku?
5. Menetapkan MCODamage menggunakan pendekatan PMA?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Patomekanisme luka/trauma bedasarkan pengetahuan tentang histologi,
anatomi, dan fisiologi tubuh manusia
a. Anatomi dan histologi
1) Palpebra

Kelopak mata mengandung tiga otot utama diinervasi oleh tiga


jaringan saraf yang berbeda. Nervus oculomotor memberikan persarafan
pada palpebra levator superioris otot yang membuat kelopak mata terbuka,
fungsi ini dibantu oleh otot Muller yang dipersarafi oleh sistem saraf
simpatik. Penutupan kelopak Mata melalui kontraksi oto oculi orbicularis
yang dipersarafi oleh saraf wajah. Fisura palpebra, membatasi antara
kelopak mata atas dan bawah, merupakan pintu masuk ke dalam kantung
konjungtiva.
Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang
dapat menutup dan melindungi bola mata bagian anterior dan juga
berkedip untuk melindungi kornea dan konjungtiva dari dehidrasi.
Palpebral superior berakhir pada alis mata sedangkan palpebral inferior
menyatu dengan pipi.
Palpebra terdiri atas 5 bidang jaringan utama, dari superfisial ke
dalam terdapat lapisan kulit, lapisan otot rangka (orbicularis okuli),

jaringan areolar, jaringan fibrosa (tarsus) dan lapisan membrane mukosa


(konjungtiva palpebral).
a) Kulit :Kulit pada palpebra berbeda dengan kulit bagian tubuh lain
karena kulit palpebral yaitu tipis, longgar dan elastis dengan sedikit
folikel rambut dan tanpa lemak subcutan
b) M. orbicularis okuli : untuk menutup palpebral dengan serat ototnya
mengelilingi fisura palpebral secara konsentris dan meluas sedikit
melewati tepian orbita. Sebgaian serat berjalan ke pipi dan dahi.
Orbicularis okuli dipersarafi oleh N. facialis.
c) Jaringan areolar : terdapat dibawah m. orbicularis okuli.
d) Tarsus, adalah penyokong utama dari palpebral
e) Konjungtiva palpebral : bagian posterior palpebral dilapisi selapis
membrane mukosa yaitu konjungtiva palpebral yang melekat erat
pada tarsus.
2) Kulit

Kulit terdiri dari tiga lapisan utama yaitu epidermis,dermis dan


subkutis. Epidermis tersusun dari beberapa lapisan tipis yang
mengalami tahap diferensiasi pematangan. Kulit ini melapisi dan
melindungi organ di bawahnya terhadap kehilangan air, cedera
mekanik atau kimia dan mencegah masuknya mikroorganisme
penyebab penyakit. Lapisan paling dalam epidermis membentuk selsel baru yang bermigrasi kearah permukaan luar kulit.
a) Epidermis terdiri dari 5 lapisan yaitu :
1. Stratum korneum, selnya sudah mati, tidak mempunyai intisel,
intiselnya sudah mati dan mengandung zat keratin
2. Stratum lucidum, selnya pipih, bedanya dengan stratum
granulosum ialah sel-sel sudah banyak yang kehilangan inti dan
butir-butir sel telah menjadi jernih sekali dan tembus
sinar.Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan
telapak kaki.
3. Stratum granulosum, stratum ini terdiri dari sel-sel pipih.Dalam
sitoplasma terdapat butir -butir yang disebut keratohialin yang
merupakan fase dalam pembentukan keratin.
4. Stratum spinosum, stratum ini terdiri dari sel-sel bentuk
polygonal dan mengalami mitosis. Lapisan inilah yang paling
tebal
5. Stratum basalis, stratum germinativum menggantikan sel-sel
yang diatasnya dan merupakan sel-sel induk.
b) Dermis terdiri dari dua lapisan:
1. Bagian atas, papilaris (stratum papilaris)
2. Bagian bawah, retikularis (stratum retikularis)
Kedua jaringan tersebut terdiri jaringan ikat longgar yang
tersusun dari serabut-serabut kolagen, serabut elastis dan serabut
retikulus.Serabut

kolagen

untuk

memberikan

kekuatan

pada

kulit.Serabut elastis memberikan kelunturan pada kulit.Retikularis


terdapat terutama di sekitar kelenjar dan folikel rambut dan
memberikan kekuatan pada alat tersebut.
c) Subkutis

Terdiri dari kumpulan-kumpulan sel-sel lemak dan diantara


gerombolan ini berjalan serabut-serabut jaringan ikat dermis.
2. Fisiologi
Saat terjadi trauma atau robekan pada pembuluh darah maka akan
berlangsung proses hemostatis tubuh
1) Spasme Pembuluh Darah
Berfungsi mengurangi aliran darah yang keluar dari pembuluh
darah.
2) Agregasi Trombosit
Rusaknya pembuluh darah akan menyebabkan trombosit yang
tersebar di dalam darah menjadi aktif dan melekat pada kolagen tempat
terjadinya trauma (sumbat trombosit). Trombosit yang aktif ini
mengeluarkan bahan-bahan kimia termasuk ADP. ADP merangsang
permukaan trombosit untuk saling lekat sehingga akan banyak agregat
trombosit yang menumpuk di area defek. Selain itu ADP juga
merangsang pelepasan nitrit oxide dan prostasiklin pada endotel
normal yang berfungsi menghambat agregasi trombosit pada area
normal ini.
3) Pembentukan Bekuan Darah (koagulasi)
Dimulai dengan berubahnya fibrinogen menjadi fibrin dengan
bantuan enzim thrombin. Fibrin melekat pada defek membentuk jalajala dan menjerat sel-sel darah termasuk trombosit sehingga akan
nampak masa atau bekuan berwarna merah karena banyak terdapat sel
darah merah
Setelah proses hemostasis berlangsung bekuan darah harus
dihancurkan oleh enzim fibrinolitik yang disebut plasmin, jika tidak
maka bekuan ini akan menyumbat pembuluh darah kecil yang ada
disekitarnya.

Patomekanisme luka memar


Luka memar terjadi oleh karena adanya trauma akibat benda tumpul yang
mengakibatkan kerusakan pada jaringan dan pembuluh darah. Kerusakan pada

pembuluh darah dapat mengakibatkan ruptur sehingga eritrosit ekstravasasi ke


jaringan intertisial dan berkumpul pada jaringan tersebut.
3. Deskripsi karakteristik luka
Tampak satu luka memar berwarna merah keunguan di daerah kelopak
mata sebelah kanan dengan bentuk yang tidak teratur, ukurannya tidak dapat
ditentukan, sifat luka tidak berbatas tegas, dan sekitar luka tampak bersih.
4. Karakteristik kemungkinan agen penyebab luka
Kemungkinan agen penyebab luka pada kasus ini yaitu oleh karena adanya
trauma tumpul pada mata sehingga terjadi memar yang ditandai dengan adanya
gambaran merah keunguan. Karena pada mata pasien tdk ada petunjuk luka
terbuka. Kemudian tidak beraturan pada permukaan.
5. Keparahan/derajat luka sesuai dengan hukum yang berlaku

Berdasarkan

Kitab

Undang-undang

Hukum

Pidana,

keparahan/derajat luka telah di atur berdasarkan pasal 90, 351,


dan 352 KUHP yang berbunyi sebagaimana berikut :
a. Pasal 352 (1)
Penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai
penganiayaan ringan.
b. Pasal 351 (2)
Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
c. Pasal 90
Luka berat berarti:
jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh
sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut;
tidak mampu terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau
pekerjaan pencarian;
kehilangan salah satu pancaindera;
mendapat cacat berat;
menderita sakit lumpuh;
terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih;
gugur atau matinya kendungan seorang perempuan
6. Multiple Cause of Damage (MCOD) pada korban:

MCOD (multiple cause of damage) dengan menggunakan pendekatan


proximus morbus adalah luka memar.
Dari kasus di atas, terjadinya kerusakan pada korban disebabkan terjadinya
luka memar pada mata sebelah kanan akibat kerusakan pada jaringan. Hal ini
disebabkan karena adanya cidera pada mata akibat benda tumpul.
MCOD
Damage

: Luka memar

A1

: Kerusakan jaringan

A2

: Trauma tumpul

:-

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer A, Suprohaita, wardhani, Wahyu ika dkk. Kapita Selekta


Kedokteran edisi ketiga Jilid 2. Media Aeusculapius FKUI. Jakarta ;

2000.
Idries Abdul M. Pedoman Ilmu kedokteran Forensik edisi

pertama. Binarupa Aksara. Jakarta barat ; 1997.


Budiyanto A, Widiatmaka W, Siswandi S, dkk. ILMU KEDOKTERAN

FORENSIK. Bagian Kedokteran Forensik FKUI.Jakarta : 1997.

Anthony

L.

Mescher,

Histologi

Dasar

Junqueira

Edisi

12.

Jakarta:EGC:2011.hlm. 309-316
Laurale Sherwood, Fisiologi Manusia Edisi 6. Jakarta:EGC:2011. hlm.

434-439
Sugiharto L, Hartanto H, Listiawati E, Susilawati, Suyono J, Mahatmi T,
dkk,(penerjemah). Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6.

Jakarta:EGC: 2006. hlm. 740-59


Guyton AC, Hall JE. 2006. Textbook of Medical Physiology. 11th
ed.Elsevier Saunders. 685-97.