Anda di halaman 1dari 19

Fakultas Kedokteran

Universitas Alkhairaat

Laporan Tutorial Individu


Palu, 4 Mei 2015

SISTEM TUMBUH KEMBANG ANAK


MODUL 1

Disusun Oleh:
Nama

: Rahmatia Anwar

Stambuk

: 12 777 014

Kelompok

: II (Dua)

Pembimbing

: dr. Nasrun,SH

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Skenario
Ibu Maryam membawa anak A laki-laki ke Puskesmas tanggal 5 Oktober
2014, karena pemeriksaan rutin dan melanjutkan vaksinasi. Identitas A lahir
tanggal 17 Desember 2013, ditolong oleh bidan, BB lahir 3200 gram, PB 50 cm,
LK 32 cm, segera menangis, menurut ibu kepala bayi sejak lahir ada bengkak di
puncak kepala dan menghilang 3 hari kemudian, anomali lainnya tak ditemukan.
Usia 4 hari kulit bayi tampak kuning seluruh tubuh, dan kejang 1 kali. Anak
mendapat ASI hingga sampai saat ini dan bubur susu, riwayat vaksinasi waktu
lahir dapat Hep B0, polio saat pulang RS, BCG usia 2 bulan, DPT1/Hep B 2
bulan, DPT2/Hep B 3 bulan.
Pada pemeriksaan : BB 7000 gram (2 bulan lau berturut-turut 6700 gram,
6900 gram), PB 67 cm, 2 bulan lalu 60 cm (TB ayah 160 cm, ibu 152 cm), LK 42
cm. kepala sudah bisa tegak, anak belum bisa duduk, mengoceh dan ucapan
papapapa, mammamama. Anak bisa senyum spontan dan bisa menoleh ke arah
sumber suara. Di rumah ada baby walker dan mainan kerincingan.
B. Kata kunci
1. Anak laki-laki
2. Ke Puskesmas 5 Oktober 2014
3. Pemeriksaan rutin dan melanjutkan vaksinasi
4. Riwayat lahir:
a. BBL
: 3200 gram (normal)
b. PB
: 50 cm (normal)
c. LK
: 32 cm (normal)
d. Trauma lahir
e. Ikterus fisiologis
f. Kejang 1 kali
5. Riwayat imunisasi tidak lengkap
6. Riwayat pertumbuhan:
a. BB 10 bulan tidak sesuai
b. PB 10 bulan
c. 160+152+13 8,5 =
171 cm (maks)
2
154 cm (min)
7. Riwayat perkembangan:
a. Perkembangan motorik kasar lambat
b. Perkembangan motorik halus lambat
c. Perkembangan bahasa lambat
8. Riwayat ASI eksklusif
C. Pertanyaan

1. Sebutkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan


perkembangan anak!
2. Bagaimana status pertumbuhan, status perkembangan dan status gizi?
3. Apakah ikterus pada bayi termasuk fisiologis atau patologis? Jelaskan!
4. Apa penyebab dan dampak kejang terhadap pertumbuhan dan
perkembangan anak?
5. Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan/perilaku anak normal sesuai
dengan usia pada skenario?
6. Bagaimana mekanisme bengkak di kepala serta hubungannya dengan
gejala-gejala pada skenario?
7. Apa saja jenis imunisasi dan kapan seharusnya diberikan?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
A. FAKTOR GENETIK
Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir
proses tumbuh kembang anak. Melalui instruksi genetik yang terkandung
di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan
kuantitas pertumbuhan
B. FAKTOR LINGKUNGAN
1) Lingkungan Pranatal
Gizi ibu pada waktu hamil
Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu
sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi dengan BBLR (Berat
Badan Lahir Rendah) atau lahir mati.
Mekanis
Trauma dan cairan ketuban yang kurang dapat menyebabkan kelainan
bawaan pada bayi yang dilahirkan.
Toksin/ zat kimia
Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka terhadap zat-zat
teratogen. Misalnya obat-obatan anti kanker dsb dapat menyebabkan
kelainan bawaan.
Endokrin
Hormone-hormon yang mungkin berperan dalam pertumbuhan janin
adalah somatotropin, hormon plasenta, hormon tiroid dan insulin.
Radiasi
Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat
menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali atau cacat
bawaan lainnya.
Infeksi
Infeksi intrauterine yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah
TORCH>
Stress
Stress yang dialami ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi
tumbuh kembang janin antara lain: cacat bawaan dan kelainan
kejiwaan.
Imunitas
Rhesus ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops
fetalis atau lahir mati.
Anoksia Embrio
Menurunnya oksigenasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali
pusat, menyebabkan BBLR (Berat badan Lahir Rendah)

2) Lingkungan Post-natal
Lingkungan biologis
Ras/ suku bangsa
Pertubuhan somatic juga dipengaruhi oleh ras/ suku bangsa.
Jenis kelamin
Dikatakan anak laki-laki lebih sering sakit dibandingkan anak
perempuan.
Umur
Umur yang paling rawan adalah masa balita, oleh karena pada masa
itu anak mudah sakit dan mudah terjadi kekurangan gizi.
Gizi
Makanan memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak,
dimana kebutuhan anak berbeda dengan dewasa, karena makanan bagi
anak dibutuhkan juga untuk pertumbuhan, diman dipengaruhi oleh
ketahanan makanan keluarga.
Perawatan kesehatan
Perawatan kesehatan yang teratur, tidak saja kalau anak sakit, tetapi
pemeriksaan kesehatan dan menimbang anak secara rutin setiap bulan,
akan menunjang pada tumbuh kembang anak.
Kepekaan terhadap penyakit
Dengan memberikan imunisasi, maka diharapkan anak terhindar dari
penyakit-penyakit yang sering menyebabkan cacat atau kematian.
Faktor fisik
Cuaca, musim dan keadaan geografis suatu daerah
Musim kemarau yang panjang/ adanya bencana alam, dapat
berdampak pada tumbuh kembang anak, antara lain : akibat gagalnya
panen, sehngga banyak anak yang kekurangan gizi.
Sanitasi
Sanitasi lingkungan memiliki peranan penting yang cukup dominan
dalam penyediaan lingkungan yang mendukung kesehatan anak dan
tumbuh kembangnya.
Keadaan rumah
Keadaan perumahan yang layak dengan konstruksi bangunan yang
tidak membahayakan penghuninya, serta tidak penuh sesak akan
menjamin kesehatan penghuninya.
Faktor psikososial
Stimulasi
Anak yang mendapat stimulasi terarah dan teratur akan lebih cepat
berkembang dibandingkan anak yang kurang/ tidak mendapat
stimulus.
Stress

Stress pada anak akan berpengaruh pada anak berpengaruh pada


tumbuh kembangnya.
Cinta dan kasih sayang
Salah satu hak anak adalah hak untuk dicintai dan dilindungi. Anak
memerlukan kasih sayang dan perlakuan yang adil dari orang tuanya.
Kualitas interaksi anak dan orang tua
Interaksi timbale balik antara anak dan orang tua, akan menimbulkan
keakraban dalam keluarga.
Faktor keluarga
Pekerjaan dan pendapatan keluarga
Pendapatan keluarga yang baik akan menunjang tumbuh kembang
anak karena orang tua akan menyediakan segala kebutuhan anak.
Pendidikan orang tua.
Merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang
anak.
Jumlah saudara
Jumlah anak yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial
ekonominya cukup akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan
kasih saying yang diterima anak.
Stabilitas rumah tangga
Tumbuh kembang anak akan berbeda pada keluarga yang harmonis
dibandingkan dengan mereka yang kurang harmonis.
Kepribadian orang tua
Kepribadian orang tua yang terbuka tentunya berpengaruh berbeda
tehadap tumbuh kembang anak, bila dibandingkan dengan mereka
yang yang kepribadiannya tertutup.

2. Status pertumbuhan dan perkembangan


A. pertumbuhan
a.Berat badan berdasarkan umur

b.

Panjang badan berdasarkan umur

c.Berat badan terhadap panjang badan

Interpretasi

Catatan :
1. Anak dalam kelompok ini berperawakan tubuh tinggi. Hal ini tidak masih
normal. Singkirkan kelainan hormonal sebagai penyebab perawakan
tinggi.

2. Anak dalam kelompok ini mungkin memiliki masalah pertumbuhan tapi


lebih baik jika diukur menggunakan perbandingan beratbadan terhadap
panjang / tinggi atau IMT terhadap umur.
3. Titik plot yang berada di atas angka 1 menunjukan berisiko gizi lebih. Jika
makin mengarah ke garis Z-skor 2 resiko gizi lebih makin meningkat.
4. Mungkin untuk anak dengan perawakan pendek atau sangat pendek
memiliki gizi lebih.
5. Hal ini merujuk pada gizi sangat kurang dalam modul pelatihan IMCI
(Integrated Management of Childhood Illness in-service training. WHO,
Geneva, 1997).
d. Lingkar kepala

Lingkar kepala berada dibawah -2 SD : mikrosefal

B. Perkembangan
DENVER II

Usia 10 bulan
-

GERAKAN
KASAR

Kepala tegak
Belum bisa duduk

Umur
perkembangan

Seharusnya

8,5 bulan

berdiri
berpegangan

dengan

BAHASA

Sudah bisa mengoceh

4,3 bulan

Berteriak, mengoceh

PERSONAL
SOSIAL

Bisa senyum spontan

6,5 bulan

Memasukan
kue ke mulut

GERAKAN
HALUS

10,9 bulan

memasukan mainan dlm


cangkir)

mainan/

3. Ikterus pada bayi


Ikterus pada bayi dalam skenario dikatakan patologis karena sudah
mengenai seluruh tubuh (mencapai derajat kremer 5)
I

H
k

I
P
K
I

M
T
C
p

e
o

u
r

t
t

e
m
e

e
n
n
e
m

b
u
m

r
i
s
r

u
u
p
a

u
e
u

n
l
t

n
s

c
u

a
r

t
a

a
s

4. Penyebab dan dampak kejang


Etiologi
1. Intrakranial
Asfiksia : Ensefalitis, hipoksia iskemik
Trauma (perdarahan) : Perdarahan sub araknoid, sub dural atau intra
ventricular
Infeksi : Bakteri virus dan parasit
Kelainan bawaan : Disgenesis, korteks serebri

n
i

2. Ekstra cranial

Gangguan
metabolic
:Hipoglikemia,
hipokalsemia,
hipomagnesimia, gangguan elektrolit

(Na dan K)

Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat

Kelainan yang diturunkan: Gangguan metabolism asam amino,


ketergantungan dan

kekurangan asam amino

3. Idiopatik

Kejang neonates, fanciliel benigna, kejang hari ke 5


Dampak : - Kerusakan Ajringan Otak Akibat Kurangnya Suplai Oksigen ke otak.
5. pertumbuhan dan perkembangan/perilaku anak normal sesuai dengan usia pada
scenario
LAHIR-3 BULAN
- Belajar angkat kepala & mengikuti objek
- Tersenyum
- Bereaksi dengan suara
- Mengenal pengasuhnya
- Mengoceh spontan
3-6 BULAN
Mengangkat kepala 90 derajat & mengangkat dada dengan bertopang dagu
Belajar meraih benda disekitarnya
Menaruh benda di mulutnya
Memperluas lapangan pandang
Tertawa
6-9 BULAN
Dapat duduk tanpa dibantu
Dapat tengkurap bolak balik
Merangkak meraih benda, mendekati seseorang
Memindahkan benda dari tangan yang satu ke tangan yang lain
Memegang benda kecil dengan ibu jari & telunjuk
Bergembira melempar suatu benda
Mengenal wajah keluarga, takut dengan orang asing
Berpartisipasi dalam gerak tepuk tangan
9-12 BULAN

Dapat berdiri sendiri tanpa dibantu, berjalan dengan dituntun


Menirukan suara
Mengulang bunyi yang didengar
Belajar satu atau dua kata
Mengerti perintah/larangan yang sederhana
Berpartisipasi dalam permainan

BERAT BADAN
Penambahan berat badan bayi pada tahun pertama berkisar antara:
700 1000 gr/bln pd triwulan I
500 600 gr/bln pd triwulan II
350 450 gr/bln pd triwulan III
250 350 gr/bln pd triwulan IV
PANJANG BADAN
Penambahan panjang badan bayi pada tahun pertama berkisar antara:
Trimester I : 2,8 4,4 cm / bulan
Trimester II : 1,9 2,6 cm / bulan
Trimester III : 1,3 1,6 cm / bulan
Trimester IV : 1,2 1,3 cm / bulan
LINGKAR KEPALA
Penambahan ukuran lingkar kepala bayi pada tahun pertama berkisar antara:
0 - 3 bln = 2 cm/bln
4 - 6 bln = 1 cm/bln
6 12 bln = 0,5 cm/bln

6. Mekanisme bengkak di kepala


Trauma capitis pada bayi baru lahir
N
O

CAPUT
SUCCADENEUM

HEMATOM
SEFAL

HEMATON
SUBGALEAL

1.

Pembengkakan
eksternal

Lunak , ada lekukan Padat dan tegang


(tampak )

2.

Peningkatan
setelah lahir

Setelah lahir ada , Meningkat


tidak meningkat
lahir

3.

Melintasi
sutura

4.

Meningkatkan
Tidak ada
kehilangan darah
akut

Padat , berair

setelah Meningkat
setelah lahir

garis Melewati garis sutura Tidak


melewati Melewati garis
garis sutura
sutura
Tidak ada

iya

CAPUT SUCCADENEUM:
Benjolan yang membulat disebabkan kepala tertekan leher rahim yang
pada saat itu belum terbuka penuh dan akan menghilang dalam waktu 2 - 4
hari setelah lahir.
7. Jenis imunisasi dan waktu pemberian
Sesuai dengan program pemerintah, anak-anak wajib mendapatkan
imunisasi dasar terhadap tujuh macam penyakit yaitu TBC, difteria, tetanus, batuk
rejan (pertusis), polio, campak (measles, morbili) dan hepatitis B.Sedangkan
imunisasi terhadap penyakit lain seperti gondongan (mumps), campak Jerman
(rubella), tifus, radang selaput otak (meningitis) Hib, hepatitis A,cacar air (chicken
pox, varicella) dan rabies tidak diwajibkan, tetapi dianjurkan.Berikut ini
penjelasan mengenai beberapa vaksin yang sering diberikan pada anak:
1. Vaksin BCG
Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena
terhirupnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. Kuman ini dapat
menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru-paru (paling sering terjadi),kelenjar
getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak (yangterberat).
Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang barulahir sampai
usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum,bayi berumur 2
bulan. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja.Bila pemberian imunisasi ini
"berhasil," maka setelah beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul
benjolan kecil. Karena luka suntikan meninggalkan bekas, maka pada bayi

perempuan, suntikan sebaiknya dilakukan dipaha kanan atas. Biasanya setelah


suntikan BCG diberikan, bayi tidak menderita demam.
2. Vaksin DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus)
Kuman difteri sangat ganas dan mudah menular. Gejalanya adalah
demam tinggi dan tampak adanya selaput putih kotor pada tonsil (amandel) yang
dengan cepat meluas dan menutupi jalan napas. Selain itu racun yang dihasilkan
kuman difteri dapat menyerang otot jantung, ginjal, dan beberapa serabutsaraf.
Racun dari kuman tetanus merusak sel saraf pusat tulang belakang,mengakibatkan
kejang dan kaku seluruh tubuh. Pertusis (batuk 100 hari) cukupparah bila
menyerang anak balita, bahkan penyakit ini dapat menyebabkan kematian.Di
Indonesia vaksin terhadap difteri, pertusis, dan tetanus terdapat dalam 3jenis
kemasan, yaitu: kemasan tunggal khusus untuk tetanus, bentuk kombinasi DT, dan
kombinasi DPT. Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali, yaitu sejakbayi berumur 2
bulan dengan selang waktu penyuntikan minimal selama 4minggu. Suntikan
pertama tidak memberikan perlindungan apa-apa, itu sebabnya suntikan ini harus
diberikan sebanyak 3 kali. Imunisasi ulang pertama dilakukan pada usia 1 _ - 2
tahun atau kurang lebih 1 tahun setelah suntikan imunisasi dasar ke-3. Imunisasi
ulang berikutnya dilakukan pada usia 6 tahun atau kelas 1 SD. Pada saat kelas 6
SD diberikan lagi imunisasi ulang dengan vaksin DT (tanpa P). Reaksi yang
terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan nyeri di tempat suntikan
selama 1-2 hari. Imunisasi ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah
dan yang menderita kejang demam kompleks.
3. Vaksin Polio
Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak
mendadak lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah demam selama 2-5
hari.Terdapat 2 jenis vaksin yang beredar, dan di Indonesia yang umum diberikan
adalah vaksin Sabin (kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya melalui
mulut.Di beberapa negara dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan
polio.Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari
dan selanjutnya diberikan setiap 4-6 minggu. Pemberian vaksin polio dapat
dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT. Imunisasi
ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT.
4. Vaksin Campak (Morbili, Measles)
Penyakit ini sangat mudah menular. Gejala yang khas adalah timbulnya
bercak-bercak merah di kulit setelah 3-5 hari anak menderita demam, batuk,atau
pilek. Bercak merah ini mula-mula timbul di pipi yang menjalar ke muka,tubuh,
dan anggota badan. Bercak merah ini akan menjadi coklat kehitaman dan
menghilang dalam waktu 7-10 hari.Pada stadium demam, penyakit campak sangat

mudah menular. Sedangkan pada anak yang kurang gizi, penyakit ini dapat diikuti
oleh komplikasi yang cukup berat seperti radang otak (encephalitis), radang paru,
atau radang saluran kencing. Bayi baru lahir biasanya telah mendapat kekebalan
pasif dari ibunya ketika dalam kandungan dan kekebalan ini bertahan hingga usia
bayi mencapai 6 bulan.Imunisasi campak diberikan kepada anak usia 9 bulan.
Biasanya tidak terdapatreaksi akibat imunisasi. Namun adakalanya terjadi demam
ringan atau sedikitbercak merah pada pipi di bawah telinga, atau pembengkakan
pada tempat suntikan.
5. Vaksin Hepatitis B
Cara penularan hepatitis B dapat terjadi melalui mulut, transfusi darah,
dan jarum suntik. Pada bayi, hepatitis B dapat tertular dari ibu melalui plasenta
semasa bayi dalam kandungan atau pada saat kelahiran. Virus ini menyerang hati
dan dapat menjadi kronik/menahun yang mungkin berkembang menjadi cirrhosis
(pengerasan) hati dan kanker hati di kemudian hari.Imunisasi dasar hepatitis B
diberikan 3 kali dengan tenggang waktu 1 bulan antara suntikan pertama dan
kedua, dan tenggang waktu 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga. Imunisasi
ulang diberikan 5 tahun setelah pemberian imunisasi dasar.
6. Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella)
Vaksin ini masih diimpor dan harganya cukup mahal. Penyakit gondonga
sebenarnya tidak berbahaya, tetapi bisa mengakibatkan komplikasi yang serius
seperti radang otak dan radang buah pelir (pada pria) atau kandung telur (pada
wanita) dan dapat mengakibatkan kemandulan. Penyakit rubella sebenarnya
ringan, tetapi dapat membahayakan karena dapat merusak janin dalam kandungan
pada masa kehamilan muda. Imunisasi MMR diberikan satu kali setelah anak
berumur 15 bulan. Imunisasi ulang dilakukan setelah anak berusia 12 tahun.
7. Vaksin Tifus/ Demam Tifoid
Vaksin ini tidak diwajibkan dengan pertimbangan bahwa penyakit tifus
tidak berbahaya pada anak dan jarang menimbulkan komplikasi. Gejala penyakit
yang khas adalah demam tinggi yang dapat berlangsung lebih dari 1 minggu
disertai dengan lidah yang tampak kotor, sakit kepala, mulut kering, rasa mual,
lesu,dan kadang-kadang disertai sembelit atau mencret. Ada 2 jenis vaksin demam
tifoid, yaitu vaksin oral (Vivotif) dan vaksin suntikan (TyphimVi). Vaksin suntikan
diberikan sekali pada anak umur 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun.Vaksin oral
diberikan pada anak umur 6 tahun atau lebih. Kemasan vaksin oral terdiri dari 3
kapsul yang diminum sekali sehari dengan selang waktu 1 hari.
8. Vaksin Hib

Selaput Otak Haemophilus influenzae tipe B (Hib) Penyakit ini


berbahaya dan paling sering menyerang anak usia 6-12 bulan.Radang selaput otak
Hib sering mengakibatkan cacat saraf atau kematian. DiIndonesia telah beredar 2
jenis vaksin Hib, yaitu ActHIB buatan Perancis dan PedvaxHIB buatan
USA.PedvaxHIB: Imunisasi dasar diberikan 2 kali pada usia 2-14 bulan dengan
selang waktu 2 bulan. Bila dosis kedua diberikan pada usia di bawah 12 bulan,
maka imunisasi ulangan harus diberikan paling cepat 2 bulan setelah suntikan
kedua. Untuk anak yang baru mendapat imunisasi setelah berusia lebih dari 15
bulan, maka imunisasi cukup diberikan satu kali tanpa ulangan. ActHIB:
Imunisasi dasar diberikan pada usia 2-6 bulan sebanyak 3 kali dengan jarak waktu
1-2 bulan. Imunisasi ulangan diberikan 12 bulan setelah imunisasi terakhir. Bila
imunisasi diberikan pada usia 1-5 tahun maka cukup diberikan satu kali tanpa
ulangan.
9. Vaksin Hepatitis A
Walaupun gejalanya lebih nyata dan lebih berat dari hepatitis B,
penyakit ini jarang menyebabkan komplikasi atau kematian. Tanda-tandanya
adalah demam, mual, lesu, mata dan kulit kekuningan disertai warna kencing
seperti air teh. Biasanya akan sembuh dalam waktu 2-3 minggu. Imunisasi dasar
dengan vaksin Havrix diberikan 2 kali dengan selang waktu 2-4 minggu. Dosis
ke-3 diberikan 6 bulan setelah suntikan pertama.
10. Vaksin Cacar Air (Varicella)
Cacar air merupakan penyakit yang sangat menular, tetapi ringan.
Gejalanya khas, mula-mula timbul bintik kemerahan yang makin membesar
membentuk gelembung berisi air dan akhirnya mengering dalam waktu 1 minggu.
Gejala ini mula-mula muncul di daerah perut, dada dan punggung, kemudian
menyebar ke muka, kepala dan anggota badan. Komplikasi yang mungkin timbul
adalah radang kulit, radang paru (pneumonia), radang otak (encephalitis), atau
varicella kongenital bila ibu menderita varicella pada kehamilan muda. Harga
vaksin (Varillix) masih mahal, karena itu direkomendasikan diberikan pada anak
berusia di atas 12 tahun yang belum pernah terkena varicella dan diulang 6-8
minggu kemudian.
Jadwal Pemberian Imunisasi Wajib
1 bulan : Hepatitis B-1, BCG, OPV-1 (oral polio vaccine)
2 bulan : Hepatitis B-2, DPT-1, OPV-2
3 bulan : DPT-2, OPV-3
4 bulan : DPT-3, OPV-4
7 bulan : Hepatitis B-3

9 bulan : Campak

DAFTAR PUSTAKA
1. Baratawidjaja,Karnen Garna. 2006. Imunologi Dasar Edisi Ke 7 Cetakan ke
5. Jakarta : FK UI.
2. Narendra, Moersintowati B, et all. 2002. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja
Edisi Pertama. Jakarta : IDAI, Sagung Seto.
3. Soetjiningsih, IG N Gde Ranuh. 2013. Tumbuh Kembang Anak Edisi 2
Jakarta:EGC.