Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kesehatan merupakan hak individual maupun kolektif yang realisasinya
harus dijamin oleh negara. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan menyebutkan bahwa kesehatan merupakan hak
asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan
sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dapat terwujud apabila
diberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau.Pasal 4 Undangundang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
menyebutkan bahwa Rumah Sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan
kesehatan perorangan secara paripurna.
Pelayanan kesehatan berbeda dengan berbagai pelayanan lainnya. Hasil
pelayanan kesehatan tidaklah pernah bersifat pasti. Pelayanan kesehatan yang
sama yang diberikan kepada dua orang pasien yang sama dapat saja
memberikan hasil yang berbeda. Dengan karakteristik yang seperti ini, maka
pada pelayanan kesehatan yang dijanjikan bukanlah hasilnya, melainkan
upaya yang dilakukan, yang dalam hal ini kesesuaian dengan standar yang
telah ditetapkan.
Layaknya hubungan antar manusia maka didalam hubungan pelayanan
kesehatan selalu terdapat keuntungan dan kerugian yang timbul pada saat
pelaksanaan dari pelayanan tersebut. Pola ketergantungan inilah yang sering
menimbulkan pergesekan antara pemberi pelayanan kesehatan dan pasien
yang sering berujung pada persengketaan. Sengketa yang terjadi antara
pemakai jasa kesehatan, sebagai konsumen yang dirugikan, dengan dokter
maupun dengan pihak Rumah Sakit, membutuhkan alternatif penyelesaian

bagi pihak-pihak yang bersengketa untuk mendapatkan keadilan dan kepastian


hukum.
Secara etik dokter diharapkan untuk memberikan yang terbaik untuk
pasien. Apabila dalam suatu kasus ditemukan unsur kelalaian dari pihak
dokter, maka dokter tersebut harus mempertanggungjawabkan perbuatannya
itu. Begitu pula dari pihak pasien, mereka tidak bisa langsung menuntut
apabila terjadi hal hal diluar dugaan karena harus ada bukti bukti yang
menunjukkan adanya kelalaian. Oleh karena itu, untuk memperoleh
persetujuan dari pasien dan untuk menghindari adanya salah satu pihak yang
dirugikan, dokter wajib memberi penjelasan yang sejelas jelasnya agar pasien
dapat mempertimbangkan apa yang akan terjadi terhadap dirinya serta
memberi persetujuan atas tindakan medik yang akan dilakukan..
Ikhwal diperlukannya persetujuan pasien, adalah karena tindakan medik
hasilnya penuh ketidakpastian, serta tidak dapat diperhitungkan secara
matematik, karena dipengaruhi faktor-faktor lain diluar kekuasaan dokter,
seperti virulensi penyakit, daya tahan tubuh pasien, stadium penyakit, respon
individual, faktor genetik, kualitas obat, kepatuhan pasien dalam mengikuti
prosedur dan nasihat dokter, dan lain-lain. Selain itu tindakan medik
mengandung risiko, atau bahkan tindakan medik tertentu selalu diikuti oleh
akibat yang tidak menyenangkan. Risiko baik maupun buruk yang
menanggung adalah pasien. Atas dasar itulah maka persetujuan pasien bagi
setiap tindakan medik mutlak diperlukan, kecuali pasien dalam kondisi
emergensi. Mengingat pasien biasanya datang dalam keadaan yang tidak
sehat,

diharapkan

dokter

tidak

memberikan

informasi

yang

dapat

mempengaruhi keputusan pasien, karena dalam keadaan tersebut, pikiran


pasien mudah terpengaruh. Selain itu dokter juga harus dapat menyesuaikan
diri dengan tingkat pendidikan pasien, agar pasien bisa mengerti dan
memahami isi pembicaraan.
Dengan pemahaman yang relatif minimal, masyarakat awam sulit
membedakan antara risiko medik dengan malpraktek. Kecenderungan
masyarakat lebih melihat hasil pengobatan dan perawatan, padahal hasil dari
pengobatan dan perawatan tidak dapat diprediksi secara pasti. Petugas

kesehatan dalam praktiknya hanya boleh memberi jaminan bahwa proses akan
dilakukan dengan sebaik mungkin, dan sama sekali tidak boleh menjanjikan
hasil.
Sengketa yang terjadi antara pasien dan sarana pelayanan kesehatan /
dokter hampir selalu diawali oleh komunikasi yang buruk dan kurangnya rasa
percaya di antara keduanya. Kesalahpahaman semacam ini seringkali berujung
pada gugatan malpraktek. Untuk mencegah hal tersebut, pasien maupun sarana
pelayanan kesehatan/dokter harus saling terbuka dan mau menerima masukan
agar pengobatan dapat dilaksanakan dengan baik. Komunikasi yang baik
antara pasien dengan sarana pelayanan kesehatan/dokter bermuara kepada
kedua belah pihak saling mengerti hak dan kewajibannya.
Agar kasus seperti diatas tidak terjadi, masing-masing pihak harus
mengerti apa yang menjadi hak dan kewajibannya dalam pengobatan. Hal ini
telah diatur dalam pasal 50-53 UU nomer 29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran. Pasien sebaiknya mengerti bahwa haknya adalah mendapat
penjelasan secara lengkap mengenai penyakit, pemeriksaan, pengobatan, efek
samping, risiko, komplikasi, sampai alternatif pengobatannya. Pasien juga
berhak untuk menolak pemeriksaan/pengobatan dan meminta pendapat dokter
lain. Selain itu, pencatatan tentang perjalanan penyakit pasien yang di tulis
dalam rekam medis adalah milik pasien, sehingga berhak untuk meminta
salinannya untuk kebutuhan rujukan.
Pasien memiliki kewajiban untuk memberikan informasi selengkaplengkapnya, mematuhi nasihat/anjuran pengobatan, mematuhi peraturan yang
ada di sarana pelayanan kesehatan dan membayar semua biaya pelayanan
kesehatan yang telah diberikan. Sedangkan sarana pelayanan kesehatan/dokter
wajib untuk memberikan pelayanan sesuai standar dan kebutuhan medis
pasien, merujuk ke tempat yang lebih mampu jika tidak sanggup menangani
pasien, serta membuat dan merahasiakan rekam medis.
Dengan semakin berkembangnya dunia kesehatan di Indonesia, rekam
medis mempunyai peranan tidak kalah pentingnya dalam menunjang
pelaksanaan Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Rekam medis adalah berkas
berisi catatan dan dokumen tentang pasien yang berisi identitas, pemeriksaan,

pengobatan, tindakan medis lain pada sarana pelayanan kesehatan untuk rawat
jalan, rawat inap baik dikelola pemerintah maupun swasta. Setiap sarana
kesehatan wajib membuat rekam medis, dibuat oleh dokter dan atau tenaga
kesehatan lain yang terkait, harus dibuat segera dan dilengkapi setelah pasien
menerima pelayanan, dan harus dibubuhi tandatangan oleh yang memberikan
pelayanan.
Rekam medis sangat penting selain untuk diagnosis, pengobatan juga
untuk evaluasi pelayanan kesehatan, peningkatan efisiensi kerja melalui
penurunan mortalitas dan motilitas serta perawatan penderita yang lebih
sempurna. Disamping itu, rekam medis selalu menjadi obyek pertama yang
dilihat ketika terjadi permasalahan akibat pemberian pelayanan kesehatan dan
sengketa medis di rumah sakit. Untuk itu, rekam medis harus berisi informasi
lengkap perihal proses pelayanan medis di masa lalu, masa kini dan perkiraan
terjadi di masa yang akan datang.
Kepemilikan rekam medis sering menjadi perdebatan di kalangan
kesehatan, karena dokter beranggapan bahwa mereka berwenang penuh
terhadap

pasiennya

akan

tetapi

petugas

rekam

medis

bersikeras

mempertahankan berkas rekam medis di lingkungan kerjanya. Di lain pihak,


pasien sering memaksa untuk membawa atau membaca berkas yang memuat
riwayat penyakitnya. Dalam Permenkes No. 269/Menkes/Per/III/2008 tentang
Rekam Medis, pasal 12 ayat (1) menyatakan bahwa berkas rekam medis milik
sarana pelayanan kesehatan, sementaraayat (2) menyatakan bahwa isi rekam
medis merupakan milik pasien. Hal ini mengandung arti bahwa pasien berhak
tahu tentang isi rekam medis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN
1. Informed Consent/Persetujuan Tindakan
Istilah ini berasal dari bahasa latin concensio, consentio, kemudian
dalam bahas Inggris menjadi consent yang berarti persetujuan, ijin,
menyetujui, member ijin (persetujuan, wewenang) kepada seseorang untuk
melakukan sesuatu. (Guwandi, 2006). Informed consent atau persetujuan
tindakan kedokteran adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau
keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai
tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap
pasien. (Permenkes Nomor 290/2008)
Jadi, informed consent adalah atau persetujuan tindakan kedokteran
adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah
mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau
kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.
Manfaat Informed Consent: (Guwandi, 2006)
a. Promosi dari hak otonomi perorangan
b. Proteksi dari pasien dan subjek
c. Mencegah penipuan atau paksaan
d. Rangsangan kepada profesi medis intropeksi terhadap diri sediri (self
secrunity)
e. Promosi dari keputusankeputusan yang rasional
f. Keterlibatan masyarakat sebagai nilai sosial dan pengawasan
2. Rekam Medis
Rekam medis/kesehatan adalah rekaman dalam bentuk tulisan atau
gambaran aktivitas pelayanan yang diberikan oleh pemberi pelayanan
medis/kesehatan kepada seorang pasien. (Pernyataan Ikatan Dokter Indonesia
tentang Rekam Medis).
Rekam medis di rumah sakit adalah berkas yang berisikan catatan dan
dokumen tentang identitas, anamnesis, pemeriksaan, diagnosis pengobatan,
tindakan dan pelayanan lain yang diberikan kepada seorang pasien selama
dirawat di rumah sakit yang dilakuka di unit-unit rawat jalan termasuk unit
gawat darurat dan unit rawat nginap. (Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan
Medik Nomor: HK.00.06.2.3.730 tahun 1995).

Penjelasan pasal 46 ayat (1) Undang-Undang nomor 29 tahun 2004


tentang Praktik Kedokteran dan Permenkes No. 269 tahun 200 tentang
Rekam Medis menyatakan bahwa rekam medis adalah berkas yang berisikan
catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan,
tindak dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Tujuan diadakannya rekam medis menurut Permenkes No. 269 tahun
2008

pasal

13

ayat

(1)

adalah,

bahwa

rekam

medis

dapat

dimanfaatkan/digunakan sebagaipemeliharaan kesehatan dan pengobatan


pasien, alat bukti dalam proses penegakan hukum, disiplin kedokteran,
penegakan etika kedokteran dan kedokteran gigi bagi profesi kedokteran,
keperluan pendidikan dan penelitian, dasar pembiayaan biaya pelayanan
kesehatan, data statistic kesehatan.
Selain itu, kegunaan rekam medis dapat dilihat dari beberapa aspek antara
lain:
a. Aspek administrasi: Rekam medis mempunyai arti administrasi karena
isinya menyangkut tindakan berdasarkan wewenang & tanggung jawab
bagi tenaga kesehatan.
b. Aspek medis: Rekam medis mempunyai nilai medis karena catatan
tersebut dipakai sebagai dasar merencanakan pengobatan & perawatan
yang akan diberikan
c. Aspek hukum: Rekam medis mempunyai nilai hukum karena isinya
menyangkut masalah adanya jaminan kepastian hukum atas dasar
keadilan dalam usaha menegakkan hukum serta bukti untuk menegakkan
keadilan.
d. Aspek keuangan: Rekam medis dapat menjadi bahan untuk menetapkan
pembayaran biaya pelayanan kesehatan.
e. Aspek penelitian: Rekam medis mempunyai nilai penelitian karena
mengandung

data

atau

informasi

sebagai

aspek

penelitian

&

pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan.


f. Aspek pendidikan: Rekam medis mempunyai nilai pendidikan karena
menyangkut data informasi tentang perkembangan kronologis pelayanan
medik terhadap pasien yang dapat dipelajari.

g. Aspek dokumentasi: Rekam medis mempunyai nilai dekumentasi karena


merupakan sumber yang harus didokumentasikan yang dipakai sebagai
bahan pertanggungjawaban & laporan.
3. Sengketa Medik
Sengketa medik di rumah sakit merupakan pertentangan antara dokter /
RS di satu pihak dan pasien sebagai pihak lain, dapat berupa pelanggaran
kode etik kedokteran, pelanggaran hak orang lain (perdata) maupun
pelanggaran kepentingan masyarakat (pidana). (Agus Purwadianto, 2001).
Sengketa medik di rumah sakit dapat berwujud pengaduan, dapat disertai atau
tanpa malapraktik. Acapkali sengketa medik dipicu oleh modus operandi
pengacara, maupun persaingan antar dokter/rumah sakit.
Beberapa peristiwa (kejadian) di rumah sakit yang bersifat negatif dan
berpotensi menimbulkan kerugian pada rumah sakit dapat berasal dari:
pengaduan langsung, berita pada mass media, tulisan pada pikiran pembaca,
hasil evaluasi internal baik oleh pimpinan rumah sakit atau Komite Medik.
Soeraryo Darsono (2003) dalam Hartini menyebutkan bahwa alur
penyelesaian sengketa medik di rumah sakit adalah:
a. Bedakan antara masalah etik dan hukum (hukum pidana, hukum perdata
dan hukum administratif)
b. Cek semua peraturan yang terkait, termasuk Kode Etik Kedokteran, Kode
Etik Rumah Sakit
c. Analisa kasus dalam case review
d. Tentukan posisi dokter pasien
Terdapat dua cara penyelesaian sengketa medik yaitu melalui Jalur
hokum yang terdiri dari Hukum Pidana dan Perdata dan melalui Jalur Etika
Profesi Kedokteran Indonesia yaitu dengan MKEK dan P3EK. Putusan dari
pengadilan perdata berupa ganti rugi, putusan pengadilan pidana ditentukan
oleh pasal undang-undang sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan,
sedangkan saksi menurut Etika Profesi Kedokteran Indonesia hanya berupa
sanksi administratif saja yaitu berupa surat peringatan, skorsi sementara dari
keanggotaan, pemecatan keanggotaan atau pencabutan ijin praktek.
Penyelesaian sengketa medik melalui Jalur Etika Profesi Kedokteran
Indonesia kurang disenangi oleh pasien dan keluarganya karena putusan yang

dikeluarkan tidak berhubungan langsung dengan kerugian yang diderita


sedangkan penyelesaian dengan jalur hukum dihindari oleh dokter karena
penyelesaiannya

yang

bersifat

terbuka

dapat

mencemarkan nama baik dokter yang bersangkutan. (Halim, 2006).


B. DASAR HUKUM
1. Informed Concent
a. UU N0 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 56
1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh
tindakan pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah
menerima dan memahami informasi mengenai tindakan tersebut
secara lengkap
2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak berlaku pada:
a. Penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara
cepat menular ke dalam masyarakat yang lebih luas
b. Keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri; atau
c. Gangguan mental berat
3) Ketentuan mengenai hak menerima atau menolak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
b. UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit Pasal 32: Setiap
pasien mempunyai hak:

1) Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan


medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan
komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan
yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan;
2) Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan
dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya;
c. Pernyataan IDI Tentang Informed Consent
1) Manusia dewasa dan sehat rohaniah berhak sepenuhnya menentukan
apa yang hendak dilakukan terhadap tubuhnya.
2) Dokter tidak berhak melakukan tindakan medis yang bertentangan
dengan kemauan pasien, walaupun untuk kepentingan pasien itu
sendiri. Oleh karena itu, semua tindakan medis (diagnostik, terapeutik

maupun paliatif) memerlukan "Informed Consent" secara lisan


maupun tertulis.
3) Setiap tindakan medis yang mengandung risiko cukup besar,
mengharuskan adanya persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh
pasien, setelah sebelumnya pasien itu memperoleh informasi yang
adekuat tentang perlunya tindakan medis yang bersangkutan serta
risiko yang berkaitan dengannya ( "Informed Consent" ).
4) Untuk tindakan yang tidak termasuk dalam butir 3, hanya dibutuhkan
persetujuan lisan atau sikap diam.
5) Informasi tentang tindakan medis harus diberikan kepada pasien, baik
diminta oleh pasien maupun tidak. Menahan informasi tidak boleh,
kecuali bila dokter menilai bahwa informasi tersebut dapat merugikan
kepentingan kesehatan pasien. Dalam hal ini dokter dapat
memberikan informasi itu kepada keluarga terdekat. Dalam
memberikan informasi kepada keluarga terdekat pasien, kehadiran
seorang perawat / paramedik lain sebagai saksi adalah penting.
6) Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian tindakan medis
yang direncanakan, baik diagnostik, terapeutik maupun paliatif.
Informasi biasanya diberikan secara lisan, tetapi dapat pula secara
tertulis (berkaitan dengan informasi "Informed Consent"). Informasi
harus diberikan secara jujur dan benar, terkecuali bila dokter menilai
bahwa hal ini dapat merugikan kepentingan pasien. Dalam hal ini
dokter dapat memberikan informasi yang benar itu kepada keluarga
terdekat pasien.
7) Dalam hal tindakan bedah (operasi) dan tindakan invasif lainnya,
informasi harus diberikan oleh dokter yang bersangkutan sendiri.
Untuk tindakan yang bukan bedah (operasi) dan tindakan invasif,
informasi

dapat

diberikan

oleh

perawat

atau

dokter

lain,

sepengetahuan atau dengan petunjuk dokter yang merawat.


8) Perluasan operasi yang dapat diduga sebelum tindakan dilakukan,
tidak boleh dilakukan tanpa informasi sebelumnya kepada keluarga
yang terdekat atau yang menunggu. Perluasan yang tidak dapat
diduga sebelum tindakan dilakukan, boleh dilaksanakan tanpa

informasi sebelumnya bila perluasan operasi tersebut perlu untuk


menyelamatkan nyawa pasien pada waktu itu
9) Informed consent diberikan oleh pasien dewasa yang berada dalam
keadaan sehat rohaniah
10) Untuk orang dewasa yang berada dibawah pengampuan, Informed
consent diberikan oleh orangtua / kurator / wali. Untuk yang dibawah
umur dan tidak mempunyai orangtua/wali. "Informed Consent"
diberikan oleh keluarga terdekat
11) Dalam hal pasien tidak sadar/pingsan, serta tidak didampingi oleh
yang tersebut dalam butir 10, dan yang dinyatakan secara medis
berada dalam keadaan gawat dan/atau darurat, yang memerlukan
tindakan medis segera untuk kepentingan pasien, tidak diperlukan
Informed consent dari siapapun dan ini menjadi tanggung jawab
dokter.
12) Dalam pemberian persetujuan berdasarkan informasi untuk tindakan
medis di RS / Klinik, maka RS / Klinik yang bersangkutan ikut
bertanggung jawab.
d. UU RI No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasal 45
1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan
oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat
persetujuan.
2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah
pasien mendapat penjelasan secara lengkap.
3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya
mencakup:
a. Diagnosis dan tata cara tindakan medis
b. Tujuan tindakan medis yang dilakukan;
c. Alternative tindakan laindari risikonya;
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik
secara tertulis maupun lisan.
5) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung
risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang
ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan

10

6) Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau


kedokteran gigi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat
(3), ayat (4), dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.
e. Permenkes No.290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan
Kedokteran.
1) Pasal 2 ayat (1) menyatakan bahwa : semua tindakan kedokteran yang
akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
2) Pasal 7 ayat (1) menyatakan bahwa : penjelasan tentang tindakan
kedokteran harus diberikan langsung kepada pasien dan atau keluarga
terdekat, baik diminta maupun tidak diminta.
3) Pasal 7 ayat (3) menyatakan bahwa: penjelasan tentang tindakan
kedokteran dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya mencakup :
a) Diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran
b) Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan
c) Alternatif tindakan lain dan resikonya
d) Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
e) Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
f) Prakiraan pembiayaan
4) Pasal 13 ayat (1) menyatakan bahwa: persetujuan diberikan oleh
pasien yang kompeten atau keluarga terdekat.
f. KODERSI (Kode Etik RS Indonesia) tentang Kewajiban Rumah Sakit
Terhadap Pasien.
1) Pasal 10
Rumah sakit harus memberikan penjelasan apa yang diderita pasien,
dan tindakan apa yang hendak dilakukan.
2) Pasal 11
Rumah sakit harus meminta persetujuan pasien (informed consent)
sebelum melakukan tindakan medik.
2. Rekam Medik
1) UU RI Nomor 36 tentang Kesehatan Pasal 57:
(1) Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya yang
telah dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan kesehatan.
(2) Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi kesehatan pribadi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal:
a. Perintah undang-undang;
b. Perintah pengadilan;
c. Izin yang bersangkutan;
11

d. Kepentingan masyarakat; atau


e. Kepentingan orang tersebut.
2) UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit Pasal 29 ayat (1)
Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban:
a. menyelenggarakan rekam medis;

3) Permenkes No.269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam medis


1) Pasal 12 ayat (2) menyatakan bahwa: isi rekam medis merupakan
milik pasien.
2) Pasal 13 ayat (1) huruf a menyatakan bahwa: pemanfaatan rekam
medis dapat dipakai sebagai : pemeliharaan kesehatan

dan

pengobatan pasien.
4) UU RI No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasal 46 ayat
(1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik
kedokteran wajib membuat rekam medis.
5) Permenkes No.290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan
Kedokteran Pasal 9:
1) Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 harus diberikan
secara lengkap dengan bahasa yang mudah dimengerti atau cara
lain yang bertujuan untuk mempermudah pemahaman.
2) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat dan
didokumentasikan dalam berkas rekam medis oleh dokter atau
dokter gigi yang memberikan penjelasan dengan mencantumkan
tanggal, waktu, nama, dan tanda tangan pemberi penjelasan dan
penerima penjelasan.
C. PEDOMAN PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIK (INFORMENT
CONSENT)
1. UMUM
a. Bahwa masalah kesehatan seseorang (pasien) adalah tanggung jawab
seseorang (pasien) itu sendiri. Dengan demikian, sepanjang keadaan
kesehatan tersebut tidak sampai mengganggu orang lain, maka ketulusan
untuk mengobati atau tidaknya masalah kesehatan yang dimaksud,
sepenuhnya terpulang dan menjadi tanggung jawab yang bersangkutan.
b. Bahwa tindakan kedokteran yang dilakukan oleh dokter untuk
meningkatkan atau memulihkan kesehatan seseorang (pasien) hanya
merupakan suatu upaya yang tidak wajib diterima oleh seseorang (pasien)
12

yang bersangkutan. Karena sesungguhnya dalam pelayanan kedokteran


tidak

seorangpun

yang

dapat

memasukkan

hasil

akhir

dan

diselenggarakan oleh pelayanan kedokteran medis (uncertainly result),


dank arena itu tidak etis sifatnya jika penerimaannya dipaksakan. Jika
seseorang karena satu dan lain hal tidak dapat dan atau tidak bersedia
menerima tindakan kedoktena yang ditawarkan, maka sepanjang
penolakan tersebut tidak sampai membahayakan orang lain, harus
dihormati.
c. Bahwa hasi dari kedokteran akan lebih berdaya guna dan berhasil guna
apabila terjalin kerjasama yang baik antara dokter dan pasien, karena
dokter dan pasien dapat saling mengisi dan melengkapi. Dalam rangka
menjalin kerja sama yang baik ini perlu diadakan ketentuan yang
mengatur menolak, hak pribadinya dilanggar setelah dia mendapat
informasi sehubungan dengan pelayanan kedokteran yang akan diberikan
kepadanya.
d. Informed consent terdiri dari kata informed yang berarti telah mencapai
informasi dan consent berarti persetujuan (izin). Yang dimaksud dengan
informed consent dalam profesi kedokteran adalah pernyataan setuju
(consent) atau izin dari seseorang (pasien) yang diberikan dengan bebas,
rasional, tanpa paksaan (voluntary) tentang tindakan kedokteran yang
akan dilakukan terhadapnya sesudah mendapatkan informasi cukup
tentang tindakan kedokteran yang dimaksud.
e. Bahwa, untuk mengatur keserasian, keharmonisanm dan ketertiban
hubungan dokter dan pasien melalui pemberian informed consent harus
ada pedoman sebagai acuan bagi pemilik dan pengelola rumah sakit.
2. DASAR
Sebagai dasar dikeluarkannya edaran ini adalah ketentuan dalam bidang
kesehatan terutama yang menyangkut informed consent yaitu :
a. Undang-undang nomor 32 tahun 1992 tentang kesehatan.
b. Peraturan pemerintah nomor 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan.
c. Peraturan menteri kesehatan RI nomor 159/Menkes/SK/PER/11/1988
tentang rumah sakit.

13

d. Peraturan menteri kesehatan RI nomor 7498/Menkes/Per/IX/1989


tentang rekam medis atau medical record.
e. Peraturan menteri kesehatan RI nomor 585/Menkes/Per/IX/1989 tentang
persetujuan tindakan medis.
f. Keputusan menteri kesehatan RI nomor 486/Menkes/SK/VI/1996 tentang
berlakunya standar pelayanan rumah sakit dan standar pelayanan medis
di rumah sakit.

14

BAB III
PEMBAHASAN

Praktik kedokteran merupakan suatu praktik penuh risiko. Tindakan medik


diagnostik maupun terapetik tidak pernah lepas dari kemungkinan cedera, syok
sampai meninggal. Selain itu, pada umumnya hasil suatu pengobatan tidak dapat
diramalkan secara pasti.
Peningkatan taraf pendidikan, sosial-ekonomi, pengaruh media massa dan
alat-alat komunikasi tampaknya ikut berperan dalam ikut merubah paradigma
masyarakat tentang pelayanan kesehatan ke arah menjadi lebih kritis dan mulai
menyadari hak-haknya dan menuntut fasilitas kesehatan untuk melaksanakan
kewajibannya. Pada era sebelum tahun 90-an kita nyaris tidak pernah mendengar
adanya kasus malpraktek yang digugat atau dibawa pengadilan oleh korban dalam
hal ini pasien, sementara di era awal abad ke-21 ini hal tersebut sudah tidak
berlaku lagi yang ditandai dengan maraknya kasus malpraktek antara dokter
dengan pasien yang digugat atau diklaim dan menuntut penyelesaian baik secara
pidana maupun perdata.
Sengketa Medik di Rumah Sakit merupakan pertentangan antara dokter/ RS
di satu pihak dan pasien sebagai pihak lain yang dapat berupa pelanggaran kode
etik kedokteran, pelanggaran hak orang lain (perdata) maupun pelanggaran
kepentingan masyarakat (pidana). Sengketa medik di rumah sakit dapat berwujud
pengaduan, dapat disertai atau tanpa malapraktik.
Alur Penyelesaian Sengketa Medik di Rumah Sakit adalah dengan cara
membedakan antara masalah etik dan hukum (hukum pidana, hukum perdata dan
hukum administratif), mengecek semua peraturan yang terkait, (termasuk Kode
Etik Kedokteran dan Kode Etik Rumah Sakit), menganalisa kasus dalam case
review, serta menentukan posisi dokter pasien.
Rekam medis dan Informed consent sangatlah berperan dalam penyelesaian
sengketa medik di rumah sakit. Fungsi rekam medis sebagai alat bukti dalam

15

proses penegakan hukum, disiplin kedokteran, penegakan etika kedokteran dan


kedokteran gigi membantu penyelesaian sengketa medik dengan ikut menentukan,
apakah berdasarkan catatan tenaga kesehatan yang terdapat dalam rekam medis, di
sana terdapat kelalaian, kesengajaan, ketidakmampuan atau kesalahan dalam
prosedur tindakan yang dilakukan. Hal ini merupakan hal yang esensial sekali,
karena perikatan yang terjadi antara rumah sakit dengan pasien adalah perikatan
yang sifatnya ikhtiar, sehingga jika ada kerugian yang diakibatkan oleh pelayanan
atau tindakan tenaga kesehatan di rumah sakit maka rekam medis akan menjadi
rujukan pertama, karena disana tercatat semua pelayanan dan tindakan yang
diterima oleh pasien.
Salah satu dokumen yang dibuka pertama kali ketika terjadi sengketa medik
adalah lembar informed consent atau lembar persetujuan tindakan tindakan
kedokteran. Dari lembar informed consent, akan dilihat apakah sebelum tindakan
sudah diberikan penjelasan sekurang-kurangnya mencakup diagnosis dan tata cara
tindakan medis, tujuan tindakan medis yang dilakukan, alternative tindakan lain
dari risikonya, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis
terhadap tindakan yang dilakukan. Dari lembar informed consent juga akan
terlihat, apakah pasien sudah memberikan persetujuan untuk dilakukan tindakan
baik secara tertulis maupun lisan.

16

BAB IV
PENUTUPAN

A. Kesimpulan
Rekam medis sangatlah berperan dalam penyelesaian sengketa medik di
rumah sakit, karena rekam medis akan menjadi rujukan pertama jika terjadi
sengketa medik, dikarenakan pada rekam medik tercatat semua pelayanan dan
tindakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan diterima oleh pasien.
Perikatan yang terjadi antara rumah sakit dengan pasien adalah perikatan yang
sifatnya ikhtiar, sehingga jika ada sengketa medik karena kerugian yang
diakibatkan oleh pelayanan atau tindakan tenaga kesehatan di rumah sakit maka
rekam medis akan menjadi rujukan pertama, karena disana tercatat semua
pelayanan dan tindakan yang diterima oleh pasien.
Informed consentakan memperlihatkan apakah sebelum tindakan sudah
diberikan penjelasan, serta akan diketahui apakah pasien sudah memberikan
persetujuan untuk dilakukan tindakan baik secara tertulis maupun lisan. Peran
Informed consent dalamsengketa medik adalah sebagai jendela untuk melihat
salah satu prosedur yang harus dilewati ketika akan dilakukan tindakan
kedokteran.
B. Saran
1. Lakukan pencatatan dalam rekam medik secara benar dan jelas. Tulis apa
yang dikerjakan dan kerjakan apa yang ditulis.
2. Upayakan orang yang menandatangani informed consent adalah orangorang terdekat dengan pasien, sehingga akan terhindar dari masalah jika
ada hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

LAMPIRAN

17

DAFTAR PUSTAKA

1. Agus Purwadianto. op.cit. 2001 Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan


Medik Nomor: HK.00.06.2.3.730 tahun 1995
2. Halim, A. Ridwan, Penyelesaian Sengketa Medik Antara Dokter dan
Pasien Melalui Jalur Hukum dan Jalur Etika Profesi Kedokteran Indonesia
(Kasus Josua Situmorang); Fakultas Hukum Unika Atma Jaya; Jakarta,
2006
3. Guwandi, Informed Consent & Informed Refusal, 4th edition, Balai
Penerbit FkUI, Jakarta, 2006
4. Lampiran SKB IDI Nomor 319/P/BA./88
5. Permenkes Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam medis
6. Permenkes Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan
Kedokteran
7. Soeraryo Darsono:

Perlindungan

Hukum

bagi

Dokter

(makalah

disampaikan pada HUT RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro, Klaten 2003)


8. PEDOMAN TENTANG TINDAKAN MEDIK (INFORMENT CONSENT)

18