Anda di halaman 1dari 15

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM

AKTIVITAS ANTIDIABETIKA NANOPARTIKEL EKSTRAK KUNYIT


(Curcuma longa L) SEBAGAI TERAPI PADA ANJING PENDERITA
DIABETES MELLITUS TIPE 1

BIDANG KEGIATAN:
PKM PENELITIAN

Diusulkan oleh:
Theodora Novenna Riyant Christy
(135130100111007/ 2013)
Moch. Dwiky Assyarofi
(135130100111020/ 2013)
Sylvia Dean Setiyolaras
(135130100111023/ 2013)

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

PENGESAHAN PROPOSAL PKM-PENELITIAN


1. Judul Kegiatan
:
AKTIVITAS
ANTIDIABETIKA
NANOPARTIKEL EKSTRAK KUNYIT
(Curcuma Longa L) SEBAGAI TERAPI
PADA
ANJING
PENDERITA
DIABETES MELLITUS TIPE 1
2. Bidang Kegiatan
: PKM-P
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap
: Theodora Novenna Riyant Christy
b. NIM
: 135130100111007
c. Jurusan
: Pendidikan Dokter Hewan
d. Universitas/Institut/Politeknik
: Universitas Brawijaya
e. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Jl. Flamboyan atas no:17 02/07 /
085755110669
f. Alamat email
: theodoranovenna@gmail.com
4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 orang
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar
: Dr. Drh. Sri Murwani, MP
b. NIDN
: 0001016340
c. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Dadaptulis dalam, Junrejo, Batu/
081334739117
6. Biaya Kegiatan Total
a. Dikti
: Rp 12.500.000,00
b. Sumber lain (Sebutkan...)
:7. Jangka Waktu Pelaksanaan
: 4 bulan
Malang, Juni 2015
Menyetujui,
Wakil dekan Bidang Kemahasiswaan

Ketua Pelaksana Kegiatan

(Dr. Ir. Edy Sudjarwo)


NIP. 19570629 198403 1 001)

(Theodora Novenna Riyant Christy)


NIM. 135130100111007)

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan

Dosen Pendamping

(Dr. Drh. Sri Murwani., MP)


NIDN. 0001016340
DAFTAR ISI
ii
2

HAL
HALAMAN SAMPUL..........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................ii
DAFTAR ISI .........................................................................................................iii
DAFTAR TABEL .................................................................................................iv
RINGKASAN........................................................................................................1
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................2
1.2 Perumusan Masalah.........................................................................................2
1.3 Tujuan..............................................................................................................3
1.4 Urgensi (Keutamaan) Penelitian......................................................................3
1.5 Temuan /Inovasi Yang Dapat Menunjang Pembangunan Dan Pengembangan
IPTEK-SOSBUD............................................................................................3
1.6 Luaran .............................................................................................................3
1.7 Manfaat............................................................................................................3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Diabetes mellitus.............................................................................................4
2.2 Kunyit (Curcuma longa L)..............................................................................5
2.3 Nanopartikel....................................................................................................5
BAB III. METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian......................................................................................6
3.2 Tempat Penelitian............................................................................................7
3.3 Sampel.............................................................................................................7
3.4 Variabel Penelitian...........................................................................................7
3.5 Tahapan Penelitian ..........................................................................................8
BAB IV. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1 Anggaran Biaya...............................................................................................9
4.2 Jadwal Kegiatan...............................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................11

DAFTAR TABEL
iii
3

HAL
Tabel 1. Kelompok Perlakuan ..............................................................................6

1
RINGKASAN
iv

Diabetes mellitus tipe 1 (DM tipe 1) atau Insulin Dependent Diabetes


Mellitus (IDDM) adalah salah satu tipe diabetes yang tergantung pada produksi
insulin atau terjadi karena adanya kerusakan pada sel - pankreas yang
memproduksi insulin. Kunyit (Curcuma longa L.) yang selama ini dijadikan
bumbu masak memiliki beberapa bahan aktif antara lain, minyak atsiri, kurkumin,
demetoksikurkiumin, bisdemetoksikurkumin, saponin, flavonoid, dan polifenol..
Ukuran nanopartikel yang berkisar 10-100 nm menjadi kelebihan sebagai terapi
untuk pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas terapi
nanopartikel ekstrak kunyit (Curcuma longa L) terhadap penyakit diabetes
mellitus tipe 1 pada anjing dan untuk menentukan dosis terapi nanopartikel
ekstrak kunyit (Curcuma longa L) terhadap penyakit diabetes mellitus tipe 1 pada
anjing.Penelitian dilaksanakan dengan melakukan eksperimen laboratorium secara
in vivo. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah hewan coba tikus Wistar tipe
bio-breeding (BB) yang diinduksi streptozotosin (STZ) untuk mendapatkan tikus
dengan penyakit diabetes mellitus tipe 1 dan dibagi secara acak menjadi 5
kelompok perlakuan dengan 4 ulangan. Kelompok P1: tanpa induksi
streptozotosin (STZ) dan dengan pemberian nanopartikel ekstrak kunyit, P2:
induksi streptozotosin (STZ) 20 mg/kg BB tanpa diberikan nanopartikel ekstrak
kunyit, P3: Tikus Wistar tipe bio-breeding (BB) dengan induksi streptozotosin
(STZ) 20 mg/kg BB dengan pemberian nanopartikel ekstrak kunyit sebesar 1,2
g/kgBB, P4 : Tikus Wistar tipe bio-breeding (BB) dengan induksi streptozotosin
(STZ) 20 mg/kg BB dengan pemberian nanopartikel ekstrak kunyit sebesar 1,8
g/kgBB, P5 : Tikus Wistar tipe bio-breeding (BB) dengan induksi streptozotosin
(STZ) 20 mg/kg BB dengan pemberian nanopartikel ekstrak kunyit sebesar 2,7
g/kgBB. Analisis ini menggunakan uji ANOVA (Analysis of Variance) satu arah
bertujuan untuk menganalisis perbedaan rata-rata kadar gula darah pada hewan
coba. Dosis ang sesuai dapat dilihat dari konsentrasi terendah yang
memungkinkan penurunan kadar gula darah. Apabila dalam suatu konsentrasi
terjadi penurunan kadar gula darah, maka disimpulkan konsentrasi tersebut
sebagai dosis yang sesuai.

Kata Kunci: Kunyit, Diabetes Mellitus Tipe 1, Nanopartikel

2
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolisme


karbohidrat yang gejala umumnya berupa hiperglikemia. Diabetes mellitus tipe 1
(DM tipe 1) atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) adalah salah satu
tipe diabetes yang tergantung pada produksi insulin atau terjadi karena adanya
kerusakan pada sel - pankreas yang memproduksi insulin (Mayfield,1998).
Faktor faktor yang dapat memicu terjadinya diabetes pada hewan, antara lain
umur, jenis kelamin, ras, dan lingkungan (Fall et al., 2007). Prevalensi kejadian
Diabetes mellitus pada manusia menurut International Diabetes Federasion adalah
8,39%. Diabetes mellitus pada hewan terjadi pada pet animal seperti anjing dan
kucing, hal ini disebabkan oleh pemberian pakan yang tinggi lemak maupun
pemberian pakan melebihi kebutuhan tubuhnya. Menurut Fall et al. (2007), terjadi
13 kasus DM per 10.000 anjing tiap tahunnya pada anjing umur lebih dari lima
tahun dan ras yang sering mengalami DM adalah Australian Terriers, Samoyeds,
Swedish Elkhounds dan Swedish Lapphunds. Pada kucing prevalensi kejadian
DM sebesar 0,5%, faktor yang mempengaruhi adalah obesitas, umur, jenis
kelamin, dan sterilisasi (Hoenig, 2002). Kunyit (Curcuma longa L.) yang selama
ini dijadikan bumbu masak memiliki beberapa bahan aktif antara lain, minyak
atsiri, kurkumin, demetoksikurkiumin, bisdemetoksikurkumin, saponin, flavonoid,
dan polifenol (Sabirosi, 2012). Senyawa kurkumin itulah yang akhir-akhir ini
banyak dikembangkan dalam pengobatan penyakir diabetes mellitus. Dalam
bidang farmasi pengembangan nanoteknologi memiliki keunggulan yaitu dapat
meningkatkan kelarutan senyawa, mengurangi dosis pengobatan, dan
meningkatkan absorbsi. Bahan nanopartikel saat ini banyak digunakan untuk
sistem penghantaran obat dalam berbagai bentuk sediaan kosmetik dan
dermatologikal. Berbagai keunggulan sifat pembawa bahan nanopartikel antara
lain mencegah hidrasi kulit, meningkatkan efek absorbsi, meningkatkan efek
penetrasi zat aktif, dan bersifat lepas kendali (Rismana, et al., 2014). Pemberian
nanopartikel ekstrak kunyit diharapkan mampu memberikan efek terapi pada
penyakit diabetes mellitus tipe 1 pada anjing.
1.2

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka perumusan masalah
adalah, apakah nanopartikel ekstrak kunyit dapat memberikan efek terapi pada
penyakit diabetes mellitus tipe 1 pada anjing secara efektif ?

1.3

Tujuan

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka tujuan dari penelitian
ini yakni:
1. Untuk mengetahui efektifitas terapi nanopartikel ekstrak kunyit (Curcuma
longa L) terhadap penyakit diabetes mellitus tipe 1 pada anjing.
2. Untuk menentukan dosis terapi nanopartikel ekstrak kunyit (Curcuma longa
L) terhadap penyakit diabetes mellitus tipe 1 pada anjing.
1.4

Urgensi (Keutamaan) Penelitian


Diabetes mellitus tipe 1 (DM tipe 1) atau Insulin Dependent Diabetes
Mellitus (IDDM) adalah salah satu tipe diabetes yang tergantung pada produksi
insulin atau terjadi karena adanya kerusakan pada sel - pankreas yang
memproduksi insulin dimana obat sistemik maupun topikal yang dijual saat ini
mengandung bahan utama zat kimia yang limbahnya mencemari lingkungan
karena sifatnya yang sulit terurai, serta residu obat tersebut yang apabila dijilat
oleh anjing akan menyebabkan gangguan pencernaan dan efek lainnya. Sehingga
perlu adanya pengganti obat berupa terapi herbal nanopartikel ekstrak kunyit
(Curcuma longa L) yang lebih reaktif, mempunyai efek samping rendah, ramah
lingkungan, dan mudah didapat.
1.5

Temuan/ Inovasi yang Dapat Menunjang Pembangunan dan


Pengembangan IPTEK-SOSBUD
Penanganan kesehatan hewan di Indonesia terutama untuk penyakit
herediter terutama Diabetes Mellitus tipe 1 masih belum maksimal. Pengobatan
yang dilakukan saat ini berupa zat kimia yang dapat memberikan efek samping
pada kesehatan. Belum adanya terapi herbal nanopartikel yang lebih reaktif dapat
memperbaiki tingkat kesehatan baik manusia maupun hewan serta dapat
memperbaiki sistem ekonomi dengan memanfaatkan sesuatu yang alami dan
tersebar di sekitar lingkungan.
1.6

Luaran
Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Menghasilkan kandidat obat herbal nanopartikel ekstrak pada hewan ataupun
manusia untuk terapi pengobatan diabetes mellitus tipe 1 yang belum
diproduksi oleh industri obat.
2. Menghasilkan artikel ilmiah yang dapat dijadikan sebagai dasar informasi
penelitian dan pengembangan selanjutnya.
1.7

Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

4
1. Mendapat bahan alternatif berupa produk herbal nanopartikel ekstrak kunyit
(Curcuma longa L) yang mudah didapat, lebih reaktif, dan efisien untuk terapi
diabetes mellitus tipe 1 pada anjing.
2. Menjadi dasar informasi penelitian dan pengembangan selanjutnya.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Diabetes Mellitus
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan
hiperglikemia dan intoleransi glukosa yang terjadi karena kelenjar pankreas tidak
dapat memproduksi insulinsecara adekuat atau karena tubuh tidak dapat
menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif atau kedua-duanya. Diabetes
Melitus diklasifikasikan menjadi DM tipe 1, yang dikenal sebagai insulindependent atau childhood onset diabetes, ditandai dengan kurangnya produksi
insulin dan DM tipe 2, yang dikenal dengan non-insulin-dependent atau adultonset diabetes,disebabkan ketidakmampuan tubuh menggunakan insulin secara
efektif yang kemudian mengakibatkan kelebihan berat badan dan kurang aktivitas
fisik. Sedangkan diabetes gestasional adalah hiperglikemia yang diketahui
pertama kali saat kehamilan (Putro, 2011)
Pada DM I, kadar glukosa darah sangat tinggi, tetapi tubuh tidak dapat
memanfaatkannya secara optimal untuk membentuk energi. Oleh karena itu,
energi diperoleh melalui peningkatan katabolisme protein dan lemak. Seiring
dengan kondisi tersebut, terjadi perangsangan lipolisis serta peningkatan kadar
asam lemak bebas dan gliserol darah. Dalam hal ini terjadi peningkatan produksi
asetil-KoA oleh hati, yang pada gilirannya diubah menjadi asam asetoasetat dan
pada akhirnya direduksi menjadi asam -hidroksibutirat atau mengalami
dekarboksilasi menjadi aseton. Pada kondisi normal, konsentrasi benda-benda
keton relatif rendah karena insulin dapat menstimulasi sintesis asam lemak dan
menghambat lipolisis. Hanya dibutuhkan kadar insulin yang kecil untuk
menghambat lipolisis. Patogenesis pada DM tipe 1 yaitu kerusakan spesifik pada
sel Langerhans yang mengakibatkan terjadinya penurunan drastis pada sekresi
insulin, biasanya kerusakan tersebut diperantarai imunologi. Senyawa toksin
seperti streptozotosin, aloksan, asam urat, asam dehidroaskorbat, asam dialurat,
asam ksanturenat dapat mengakibatkan kerusakan sel Langerhans. Oleh karena
itu, senyawa-senyawa tersebut dapat digunakan untuk membuat hewan uji DM
tipe 1 (Nugroho, 2006)
Diabetes mellitus pada hewan terjadi pada pet animal seperti anjing dan
kucing, hal ini disebabkan oleh pemberian pakan yang tinggi lemak maupun
pemberian pakan melebihi kebutuhan tubuhnya. Menurut Fall et al. (2007), terjadi
13 kasus DM per 10.000 anjing tiap tahunnya pada anjing umur lebih dari lima
tahun dan ras yang sering mengalami DM adalah Australian Terriers, Samoyeds,
Swedish Elkhounds dan Swedish Lapphunds. Pada kucing prevalensi kejadian

5
DM sebesar 0,5%, faktor yang mempengaruhi adalah obesitas, umur, jenis
kelamin, dan sterilisasi (Hoenig, 2002).
2.2

Kunyit (Curcuma longa L)


Senyawa utama yang terkandung dalam rimpang kunyit adalah
kurkuminoid dan minyak atsiri. Kandungan kurkuminoid berkisar antara 3,0 5,0% yang terdiri dari kurkumin dan turunannya yaitu demetoksikurkumin dan
bisdemetoksikurkumin. Kurkuminoid berbentuk kristal prisma atau batang
pendek, membentuk emulsi atau tidak larut dalam air, dan mudah larut dalam
aseton, etanol, metanol, bensen dan khloroform. Senyawa tersebut memberikan
fluoresensi warna kuning, jingga sampai jingga kemerahan yang kuat di bawah
sinar ultra violet yang tidak stabil jika kena sinar matahari dan menjadi stabil
apabila dipanaskan. Kandungan minyak atsiri rimpang kunyit berkisar antara 2,5 6,0% yang terdiri dari komponen artumeron, alfa dan beta tumeron, tumerol, alfa
atlanton, beta kariofilen, linalol, 1,8 sineol, zingiberen, dd felandren, d-sabinen,
dan borneol. Selain kurkuminoid dan minyak atsiri rimpang kunyit juga
mengandung senyawa lain seperti pati, lemak, protein, kamfer, resin, damar, gom,
kalsium, fosfor, dan zat besi (Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman
Industri, 2013).
2.3

Nanopartikel
Nanoteknologi adalah upaya pengembangan teknologi yang memungkinkan
suatu objek ke dalam ukuran nano. Pengembangan dari nanoteknologi diharapkan
dapat membantu dalam mempercepat proses penyembuhan dan mencegah
penyakit dengan menggunakan terapi dalam skala nano. Nanoteknologi digunakan
sebagai sensor mengantarkan obat pada target dan sebagai pengantar sistem gen
(Rosiyana, 2012). Dalam bidang farmasi pengembangan nanoteknologi memiliki
keunggulan yaitu dapat meningkatkan kelarutan senyawa, mengurangi dosis
pengobatan, dan meningkatkan absorbsi. Bahan nanopartikel saat ini banyak
digunakan untuk sistem penghantaran obat dalam berbagai bentuk sediaan
kosmetik dan dermatologikal. Berbagai keunggulan sifat pembawa bahan
nanopartikel antara lain mencegah hidrasi kulit, meningkatkan efek absorbsi,
meningkatkan efek penetrasi zat aktif, dan bersifat lepas kendali (Rismana, et al.,
2014). Dengan kemampuannya untuk menyiapkan bahan aktif obat dalam ukuran
nano (seperjuta meter) dan ketetapan lebih kecil kurang dari satu mikrometer
diharapkan terapi dapat bekerja dengan maksimal pada target. Efektifitas suatu
obat dapat tercapai melalui proses liberalisasi, absorbsi, distribusi, metabolisme,
dan ekskresi (Prasetyorini, et al, 2011). Ukuran partikel sangat mempengaruhi
proses kelarutan, absorbsi, dan distribusi obat oleh sebab itu penggunaan
nanoteknologi diharapkan mampu membantu proses terapi.
Kitosan adalah produk deasetilisasi kitin yang merupakan polimer rantai
panjang glukosamin dengan bobot molekul 2,5x 10-5 . Kitosan sedikit larut dalam

6
asam klorida, serta larut baik dalam asam lemah, seperti asam formiat, dan asam
asetat. Kitosan memiliki polikaton bermuatan positid yang mampu menekan
pertumbuhan bakteri dan kapang (Pebriani, et al., 2012).
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan melakukan eksperimen laboratorium secara
in vivo pada tikus Wistar tipe bio-breeding (BB). Rancangan penelitian
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL).

Sampel dibagi menjadi kelompok perlakuan 1/kontrol positif(P1), kelompok


perlakuan 2/ kontrol negatif(P2), kelompok perlakuan 3 (P3), kelompok perlakuan
4 (P4), dan kelompok perlakuan 5 (P5). Kelompok perlakuan dinyatakan dalam
Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Kelompok Perlakuan
Kelompok
Perlakuan
Kelompok
Perlakuan
1/ Tikus Wistar tipe bio-breeding (BB) tanpa
Kontrol Positif (P1)
induksi streptozotosin (STZ) dan dengan
pemberian nanopartikel ekstrak kunyit
Kelompok
Perlakuan
2 Tikus Wistar tipe bio-breeding (BB) dengan
/Kontrol Negatif (P2)
induksi streptozotosin (STZ) 20 mg/kg BB
tanpa diberikan nanopartikel ekstrak kunyit
Kelompok Perlakuan 3 (P3)
Tikus Wistar tipe bio-breeding (BB) dengan
induksi streptozotosin (STZ) 20 mg/kg BB
dengan pemberian nanopartikel ekstrak kunyit
sebesar 1,2 g/kgBB
Kelompok Perlakuan 4 (P4)
Tikus Wistar tipe bio-breeding (BB) dengan
induksi streptozotosin (STZ) 20 mg/kg BB
dengan pemberian nanopartikel ekstrak kunyit
sebesar 1,8 g/kgBB
Kelompok Perlakuan 5 (P5)
Tikus Wistar tipe bio-breeding (BB) dengan
induksi streptozotosin (STZ) 20 mg/kg BB
dengan pemberian nanopartikel ekstrak kunyit
sebesar 2,7 g/kgBB
(Sabirosi, 2012)

7
3.2

Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2016 dan akan
dilaksanakan di Laboratorium Biomolekuler Fakultas MIPA Universitas
Brawijaya, Laboratorium Biosains Universitas Brawijaya.
3.3 Sampel
3.3.1 Penentuan Jumlah Sampel
Banyaknya pengulangan yang diperlukan dalam penelitian dihitung dengan
menggunakan rumus p (n-1) 15 (Kusriningrum, 2008).
p (n-1) 15
5 (n-1) 15
5n 5 15
5n 20
n4
Keterangan :
p : Jumlah perlakuan
n : Jumlah minimal ulangan yang dibutuhkan
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, untuk lima perlakuan yaitu
perlakuan 1/kontrol positif (P1), perlakuan 2/kontrol negatif (P2), perlakuan 3
(P3), perlakuan 4 (P4), dan perlakuan 5 (P5) diperlukan jumlah ulangan minimal
empat kali dalam setiap kelompok. Penelitian ini menggunakan lima kelompok
perlakuan sehingga jumlah seluruh hewan coba yang akan digunakan sebanyak
20 ekor.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah hewan coba tikus Wistar
tipe bio-breeding (BB) yang diinduksi streptozotosin (STZ) untuk mendapatkan
tikus dengan penyakit diabetes mellitus tipe 1 dan dibagi secara acak menjadi 5
kelompok perlakuan dengan 4 ulangan. Kelompok P1: tanpa induksi
streptozotosin (STZ) dan dengan pemberian nanopartikel ekstrak kunyit, P2:
induksi streptozotosin (STZ) 20 mg/kg BB tanpa diberikan nanopartikel ekstrak
kunyit, P3: Tikus Wistar tipe bio-breeding (BB) dengan induksi streptozotosin
(STZ) 20 mg/kg BB dengan pemberian nanopartikel ekstrak kunyit sebesar 1,2
g/kgBB, P4 : Tikus Wistar tipe bio-breeding (BB) dengan induksi streptozotosin
(STZ) 20 mg/kg BB dengan pemberian nanopartikel ekstrak kunyit sebesar 1,8
g/kgBB, P5 : Tikus Wistar tipe bio-breeding (BB) dengan induksi streptozotosin
(STZ) 20 mg/kg BB dengan pemberian nanopartikel ekstrak kunyit sebesar 2,7
g/kgBB
3.4 Variabel Penelitian
Variabel bebas
: Dosis nanopartikel ekstrak kunyit
Variabel tergantung
: Kadar gula darah dari hewan coba

11

8
Variabel kendali

: Kunyit yang dijadikan sebagai nanopartikel ekstrak dan


hewan coba yang diinduksi STZ

3.5 Tahapan Penelitian


3.5.1 Pembuatan Hewan Coba Dengan Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 1
- Persiapan Hewan Coba
Hewan coba diadaptasi terhadap lingkungan selama tujuh hari dengan
pemberian pakan berupa pakan ayam buras dewasa dari Wonokoyo Jaya Corpindo
dan minum ad libitum pada semua tikus. Hewan model dibagi menjadi lima
kelompok perlakuan, yaitu : kelompok kontrol negatif (A), kelompok kontrol
positif diabetes mellitus tipe 1 (B), kelompok DM 1 yang diterapi nanopartikel
ekstrak kunyit 1,2 g/kgBB (C), kelompok DM 1 yang diterapi nanopartikel
ekstrak kunyit 1,8 g/kgBB (D), dan kelompok DM 1 yang diterapi nanopartikel
ekstrak kunyit 2,7 g/kgBB (E).
- Pembuatan Hewan Model Diabetes Mellitus Tipe 1
Seminggu pasca adaptasi, dilakukan pengukuran kadar gula darah dengan
menggunakan glucometer pada semua kelompok perlakuan. Pemberian injeksi
streptozotocin (STZ) pada kelompok B, C, D, dan E dengan dosis 20 mg/kgBB
selama lima hari berturut turut, injeksi dilakukan dengan rute intraperitoneal
(IP). Pada proses diabetes mellitus, dilakukan pengukuran kadar gula darah tiap
tujuh hari sekali untuk memastikan tikus telah mengalami kenaikan kadar gula
darah. Kadar gula darah normal 126 mg/dL (Barik et al.,pada tikus adalah
2008). Hasil pengukuran pada tikus model diabetes mellitus tipe 1 pada penelitian
ini terjadi kenaikan kadar gula darah > 600 mg/dL, maka dipastikan bahwa
sampel tikus tersebut telah menderita diabetes mellitus pada hari ke-14 setelah
pemberian STZ.
3.5.2 Pembuatan Ekstrak Kunyit
Pembuatan ekstrak kunyit ini dengan menggunakan metode maserasi,
tahapannya dimulai dengan mencuci bersih kunyit dan dipotong tipis tipis,
kemudian dimasukkan oven dengan suhu 40-60C hingga kunyit kering. Tahapan
selanjutnya yaitu proses ekstraksi, kunyit yang telah kering dihaluskan dengan
blender sampai halus, ditimbang sebanyak 100 gram dan dimasukkan ke dalam
gelas erlenmeyer ukuran 1 liter. Kunyit kering tersebut ditambahkan dengan
etanol 96% sampai menjadi 1 liter dan dikocok hingga benar benar tercampur.
Rendaman kunyit dan etanol didiamkan selama satu hari hingga mengendap,
kemudian diambil lapisan atas campuran etanol (pelarut) dengan zat aktif yang
sudah tercampur dengan penyaringan menggunakan kertas saring. Larutan
campuran etanol dan zat aktif kunyit tersebut kemudian dievaporasi menggunakan
penangas air dengan suhu 80C hingga ekstrak menjadi kental dan ditimbang
berat ekstraknya, kemudian di evaporasi kembali dengan menggunakan oven
untuk menghilangkan etanol yang tersisa. Evaporasi dengan oven dengan suhu

70C, setiap 15 menit ekstrak ditimbang hingga sebanyak tiga kali penimbangan
berat ekstrak sama. Ekstrak kunyit yang telah dievaporasi diencerkan dengan
akuades dan Na2CO3 agar mudah untuk disondekan.
3.5.3 Pembuatan Nanopartikel
Dibuat larutan kitosan, kitosan yang digunakan dengan konsentrasi 2%
sebanyak 100 ml, dilarutkan menggunakan asam asetat. Konsentrasi asam asetat
yang digunakan adalah 1,5 kali konsentrasi kitosan. Cara pembuatan asama asetat
3% adalah dengan mencampurkan 30 ml asam asetat glasial dalam aquades
hingga 1000 ml. Kitosan sebanyak 20 mg dilarutkan dalam larutan asam asetat
3% sampai 1000 ml. Kemudian diaduk dalam pengaduk magnetik. Preparasi NaTTP (Natrium Tripolifosfat) dengan cara natrium tripolifosfat sebanyak 1 mg
dilarutkan dalam aquades hingga 1000 ml menggunakan pengaduk magnetik,
sehingga didapatkan larutan Na-TTP 0,1%.
Pasta nanopartikel dibuat dengan cara ditimbang 2 gr ekstrak daun ketapang
dalam gelas kimia 100 ml kemudian bahan dilarutkan kedalam 50 ml etanol : air
(70 : 30) dan dicampurkan dengan larutan kitosan 2% sebanyak 100 ml dengan
menggunakan pengaduk magnetik pada suhu kamar (25oC). Selanjutnya secara
bertahap ditambahkan campuran tersebut dengan larutan Na-TTP 0,1% tetes demi
tetes dengan kecepatan tetap ( 0,75 ml/ menit) secara terus menerus dibawah
putaran pengaduk magnetik dengan kecepatan 400 rpm dalam temperatur kamar
(25oC) hingga semua larutan Na-TTP habis dan terbentuk suspensi nanopartikel.
Setelah itu dilakukan pemecahan sel dengan ditambahkan tween 80 1% sebanyak
5 ml menggunakan alat ultrasonikator dengan kuat getaran sebesar 16 mrs pada
frekuensi 20 kHz selama 15-20 menit. Prinsip alat ultrasonikator adalah
menggunakan getaran ultrasonifikasi untuk memecah sel. Selama proses ini
suspensi nanopartikel ekstrak daun ketapang harus diletakkan dalam beker glass
yang berisi air dingin, untuk menstabilkan suhu zat aktif saponin karena dalam
metode ini dapat menghasilkan panas yang dikhawatirkan akan merusak zat aktif.
Penambahan surfaktan (Tween 80 1%) berfungsi untuk menstabilkan emulsi
partikel dalam larutan dengan mencegah timbulnya aglomerasi (penggumpalan)
antar partikel, proses pemecahan partikel lebih efektif karena partikel-partikel
dalam larutan terselimuti dan terstabilkan satu sama lain. Lalu disentrifus dengan
kecepatan 3500 rpm selama 15 menit dengan suhu 10 oC. Hasil yang diperoleh
berupa filtrat supernatan (filtrat dan residu). Supernatan dipisahkan dengan cara
didekantasi. Setelah terbentuk suspensi nanopartikel, kemudian disimpan dalam
kulkas hingga dilakukan karakterisasi (Rismana, et al., 2014).
Karakterisasi dilakukan dengan analisis SEM (Scanning Electron
Microscopy) dengan perbesaran 20.000 kali pada morfologi permukaan nano.
Hasil karakterisasi SEM filtrat nanopartikel ekstrak daun ketapang menunjukkan
partikel yang berupa bulatan menyerupai bola (Spherical) dan berkerut dengan
ukuran yang cukup seragam. Rata-rata ukuran nanopartikel yang dihasilkan

13

10

melalui perlakuan magnetik stirer sekitar 400-450 nm. Sedangkan dengan


perlakuan ultrasonik didapatkan ukuran partikel rata-rata sebesar 1200-1600 nm
3.5.4 Uji Coba
Pemberian perlakuan terapi ekstrak etanol rimpang kunyit dimulai pada
hari ke- 15 setelah pemberian STZ. Terapi nanoparikel ekstrak kunyit (Curcuma
longa L.) diberikan pada kelompok B, kelompok C, dan kelompok D. Pemberian
terapi dilakukan secara per oral melalui sonde lambung dengan dosis nanoparikel
ekstrak kunyit (Curcuma longa L.) sesuai dengan kelompok. Pemberian terapi
rutin dilakukan sehari sekali selama 42 hari. Selama pemberian terapi, dilakukan
pengukuran kadar gula darah setiap tujuh hari sekali pada semua kelompok
perlakuan.
3.5.5 Analisa Data
Analisis ini menggunakan uji ANOVA (Analysis of Variance) satu arah
bertujuan untuk menganalisis perbedaan rata-rata kadar gula darah pada hewan
coba. Dosis ang sesuai dapat dilihat dari konsentrasi terendah yang
memungkinkan penurunan kadar gula darah. Apabila dalam suatu konsentrasi
terjadi penurunan kadar gula darah, maka disimpulkan konsentrasi tersebut
sebagai dosis yang sesuai.
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1 Anggaran Biaya
No
Jenis Pengeluaran
1. Peralatan penunjang (25%)
2. Bahan habis pakai (35%)
3. Perjalan (25%)
Lain-lain: administrasi, publikasi,
4.
seminar, laporan, lainnya (15%)
Jumlah

Biaya (Rp)
2.631.250
3.683.750
4.631.250
1.553.750
12.500.000

4.2 Jadwal Kegiatan


No
Jenis Kegiatan
.
1. Pembuatan proposal
2. Persiapan laboratorium,alat dan bahan
3. Adaptasi hewan coba
ekstrak
dan
pembuatan
4. Pembuatan
nanopartikel kunyi
5. Induksi hewan coba
6. Analisis dosis

Bulan
1

4
11

7.
8.
9.

Evaluasi hasil
Pengumpulan dan pengolahan data
Penarikan kesimpulan dan penyusunan
laporan kegiatan

DAFTAR PUSTAKA
Fall, T., H.H. Hamlin, A. Hedhammar, O. Kampe and A. Egenvall. 2007. Diabetes
Mellitus in a Population of 180.000 Insured Dogs: Incidence, Survival,
and Breed Distribution. J Vet Intern Med 21:1209-1216.
Hoenig, M. 2002. Comparative Aspects of Diabetes Mellitus in Dogs and Cats.
Molecular and Endocrinology 197 : 221-229.
Mayfield J. 1998. Diagnosis and classification of diabetes mellitus : new criteria.
American Family Phyician 58 (6) : 1-8
Nugroho, A.E. 2006. Hewan Percobaan Diabetes Mellitus : Patologi dan
Mekanisme Aksi Diabetogenik. Biodiversitas, 7(4) : 378-382.
Pebriani, R.H., Rilda,Y., dan Zulhadjri. 2012. Modifikasi Komposisi Kitosan Pada
Proses Sintesis Komposit TiO2 Kitosan. Jurnal Kimia Universitas Andalas
Vol.1 No.1.
Prasetyorini, Hasan, A.E.Z., dan Siregar, R. 2011. Penerapan Teknologi
Nanopartikel Propolis TrigonaSpp Antibakteri Eschericia colli secara In
Vitro. Jurnal Ekologia, Vol. 11 No.1.
Putro Wicaksono,Radio,2011,Faktor Faktor
yang Berhubungan Dengan
Kejadian Diabetes Melitus Type 2, Program Pendidikan Sarjana
Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro,Semarang.
Rismana E., Kusumaningrum S., Bunga O., Nizar, dan Marhanah. 2014.
Pengujian Aktivitas Antiacne Nanopartikel Kitosan-Ekstrak Kulit Buah
Manggis (Garcinia mangostana). Media Litbangkes Vol. 24, No.1 (1927). Serpong.
Rosiyana, A. 2012. Aktivitas Antioksidan dan Penghambatan -Glukosidase
Ekstrak dan Nanopartikel Ekstrak kulit Kayu Mahoni. Departemen
Biokimia, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sabirosi, berbadhita G. 2012. Ekspresi Tumor Necrosis Factor Alpha Dan
Jumlah Sperma Pada Tikus (Rattus Norvegicus) Model Diabetes Mellitus
Tipe 1 Hasil Induksi Streptozotocin Yang Diterapi Dengan Ekstrak
Etanol Rimpang Kunyit (Curcuma Longa L.). Malang : Universitas
brawijaya
Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. 2013. Khasiat Kunyit
sebagai Obat Tradisionl dan Manfaat Lainnya. Volume 19 Nomor 2,
Agustus 2013.

15