Anda di halaman 1dari 4

Nama: Sarah Permata Sari

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan


Faktor- faktor tersebut diantaranya:
1. Suhu
Kalian sudah mengetahui bahwa gula lebih cepat larut dalam air panas daripada dalam
air dingin, bukan? Kelarutan suatu zat berwujud padat semakin tinggi, jika suhunya
dinaikkan. Dengan naiknya suhu larutan, jarak antarmolekul zat padat menjadi renggang.
Hal ini menyebabkan ikatan antarzat padat mudah terlepas oleh gaya tarik molekul-molekul
air, sehingga zat tersebut mudah larut. Pemanasan pelarut dapat mempercepat larutnya zat
terlarut. Pelarut dengan suhu yang lebih tinggi akan lebih cepat melarutkan zat terlarut
dibandingkan pelarut dengan suhu lebih rendah.
Ketika pemanasan dilakukan, partikel pada suhu tinggi bergerak lebih cepat dibandingkan
pada suhu rendah. Akibatnya, kontak antara zat terlarut dengan zat pelarut menjadi lebih
efektif. Hal ini menyebabkan zat terlarut menjadi lebih mudah larut pada suhu tinggi.
Kebanyakan benda padat sulit larut bila suhu pelarutnya rendah. Sebaliknya, benda padat
lebih mudah larut bila suhu pelarutnya tinggi. Sifat ini membantu kita ketika membuat
minuman. Bila ingin membuat minuman dingin, kita harus melarutkan gula pasir terlebih
dahulu kedalam air panas, baru kemudian ditambahkan air dingin.
2. Ukuran zat terlarut
Zat terlarut dengan ukuran kecil (serbuk) lebih mudah melarut dibandingkan dengan zat
terlarut yang berukuran besar.
Pada zat terlarut berbentuk serbuk, permukaan sentuh antara zat terlarut dengan pelarut
semakin banyak. Akibatnya, zat terlarut berbentuk serbuk lebih cepat larut daripada zat
telarut berukuran besar.
3. Volume pelarut

Voleme pelarut yang besar akan lebih mudah melarutkan zat terlarut. Pengaruh Jumlah zat
terlarut dan pelarut pada kelarutan
Jika jumlah pelarut lebih banyak maka kelarutannya akan makin besar, sedangkan bila
jumlah pelarut lebih sedikit maka kelarutan akan semakin kecil.
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang
terlarut. Misal : terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut
yang saling bercampur. Karena molekul-molekul dalam pelarut terdispersi secara merata,
maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan, umumnya memberikan jaminan
keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan
atau dicampur.Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan menjadi tipe larutan
sebagai berikut:
1. Larutan encer, yaitu larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut.
2. Larutan, yaitu larutan yang mengandung sejumlah besar zat A yang terlarut.
3. Larutan jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat Larut
dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu.
4. Larutan lewat jenuh, yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi
batas kelarutannya didalam air pada temperature tertentu. Zat pelarut disebut juga solvent,
sedangkan zat yang terlarut disebut solute. Solvent yang biasa dipakai :
1. Air, untuk macam-macam garam.
2. Spirtus, misalnya untuk kamfer, iodium, menthol.
3. Gliserin, misalnya untuk tanin, zat samak, borax dan fenol.
4. Eter, misalnya untuk kamfer, fosfor dan sublimat.
5. Minyak, misalnya untuk kamfer dan menthol.
6. Parafin, liquidum, untuk cera, cetaceum, minyak-minyak, kamfer, menthol dan
klorbutanol.
7. Eter minyak tanah, untuk minyak-minyak lemak.

4. Pengadukan
Dari pengalaman sehari-hari, kita tahu bahwa gula lebih cepat larut dalam air jika
diaduk. Dengan diaduk, tumbukan antar partikel gula dengan pelarut akan semakin cepat,
sehingga

gula

mudah

larut

dalam

air.

Dalam suatu larutan, semua partikel (solut dan solven) berukuran sebesar molekul atau ionion. Partikel itu tersebar secara merata dalam larutan dan menghasilkan satu fase homogen.
Karena sedemikian menyatunya penyebaran solut dan solven dalam larutan, sifat fisik
larutan sedikit berbeda dengan solven murninya. Pengadukan menyebabkan partikelpartikel antara zat terlarut dengan pelarut akan semakin sering untuk bertabrakan. Hal ini
menyebabkan proses pelarutan menjadi semakin cepat.
5.

Daya Hantar Listrik


Dalam kehidupan sehari-hari mungkin Anda pernah menjumpai orang yang kurang
bertanggung jawab terhadap lingkungan, yaitu menangkap ikan dengan menggunakan strom
listrik. Dengan alat tersebut mereka memasukkan aliran listrik ke dalam air sungai atau air
laut. Mengapa air sungai tersebut dapat menghantarkan arus listrik dan ikan dapat tertraik
oleh aliran listrik tersebut? Dalam air sungai terdapat zat-zat terlarut dan ternyata sebagian
dari zat terlarut itu ada yang dapat menghantarkan arus listrik. Hal itu terbukti dengan adanya
ikan yang mati akibat sengatan arus listrik.
Air murni merupakan penghantar listrik yang buruk. Akan tetapi jika dalam air
tersebut ditambahkan zat terlarut maka sifat daya hantarnya akan berubah sesua dengan jenis
zat yang dilarutkan. Contoh, jika dalam air ditambahkan garam dapur, maka larutan ini akan
dapat menghantarkan listrik dengan baik. Tetapi jika dalam air ditambahkan gula pasir, maka
daya hantar listriknya tidak berbeda dengan air murni.

6. Jenis Pelarut
Pernahkan kalian mencampurkan minyak dengan air? Jika pernah, pasti kalian telah
mengetahui bahwa minyak dan air tidak dapat bercampur. Sebab, minyak merupakan

senyawa non polar, sedangkan air merupakan senyawa polar. Senyawa non polar tidak dapat
larut dalam senyawa polar, begitu juga sebaliknya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa kedua zat
bisa bercampur, asalkan keduanya memiliki jenis yang sama. Zat-zat dengan struktur kimia
yang mirip umumnya dapat saling bercampur dengan baik, sedangkan zat-zat yang struktur
kimianya berbeda umumnya kurang dapat saling bercampur (like dissolves like). Senyawa
yang bersifat polar akan mudah larut dalam pelarut polar, sedangkan senyawa nonpolar akan
mudah larut dalam pelarut nonpolar. Contohnya alkohol dan air bercampur sempurna
(completely miscible), air dan eter bercampur sebagian (partially miscible), sedangkan
minyak
7.

dan

air

tidak

bercampur

(completely

immiscible).

Pengaruh Temperatur pada Kelarutan


Kelarutan gas umumnya berkurang pada temperatur yang lebih tinggi. Misalnya jika
air dipanaskan, maka timbul gelembung-gelembung gas yang keluar dari dalam air, sehingga
gas yang terlarut dalam air tersebut menjadi berkurang. Kebanyakan zat padat kelarutannya
lebih besar pada temperatur yang lebih tinggi. Ada beberapa zat padat yang kelarutannya
berkurang pada temperatur yang lebih tinggi.

8. Pengaruh tekanan pada kelarutan


Perubahan tekanan pengaruhnya kecil terhadap kelarutan zat cair atau padat.
Kelarutan gas sebanding dengan tekanan partial gas itu. Menurut hukum Henry (William
Henry: 1774-1836) massa gas yang melarut dalam sejumlah tertentu cairan (pelarutnya)
berbanding lurus dengan tekanan yang dilakukan oleh gas itu (tekanan partial), yang berada
dalam kesetimbangan dengan larutan itu. Contohnya kelarutan oksigen dalam air bertambah
menjadi 5 kali jika tekanan partial-nya dinaikkan 5 kali. Hukum ini tidak berlaku untuk gas
yang bereaksi dengan pelarut, misalnya HCl atau NH3 dalam air.

Anda mungkin juga menyukai