Anda di halaman 1dari 30

GANGGUAN ELEKTROLIT

Dr. Valencia Imelda Triastuti


Rumah Sakit Khusus Daerah Duren
Sawit
2015

Pendahuluan
Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan
Pada bayi normal sebesar 70-75% dari berat badan
pada orang dewasa sebesar 50-60% dari berat

badan
Cairan dalam tubuh dibagi menjadi dua
kompartemen :
- cairan ekstrasel
- cairan intrasel
Cairan ekstrasel dibagi menjadi :
- Cairan interstisium (interstitial fluid)
- Cairan intravaskular (palsma)

Dalam

dua kompartemen cairan tubuh ini


terdapat beberapa kation dan anion (elektrolit)
yang penting dalam tubuh untuk mengatur
keseimbangan cairan dan fungsi sel.
Ada dua kation yang penting, yaitu natrium
dan kalium
Kation dalam cairan ekstrasel adalah natrium
(kation utama) dan kalium, kalsium ,
magnesium. Untuk menjaga netralitas didalam
cairan ekstrasel terdapat anion-anion seperti
klorida, bikarbonat, dan albumin.
Kation utama dalam cairan intrasel adalah
kalium dan sebagai anion adalah fosfat.

Gangguan

keseimbangan
air
adalah
ketidakseimbangan antara air yang masuk kedalam
dan air yang keluar dari tubuh, ketidakseimbangan
antara cairan intra dan ekstrasel serta antara
cairan interstisium dan cairan intravascular
Ketidakseimbangan ini sangat dipengaruhi oleh
osmolalitas atau tekanan osmotik
Kondisi
seperti
penyakit,
trauma,
stress,
pembedahan dan sebagainya dapat meningkatkan
kehilangan cairan, mengganggu intake, dan juga
mengganggu mekanisme yang mengatur volume,
komposisi, dan distribusi cairan tubuh

Gangguan Keseimbangan
Elektrolit
HIPONATREMIA

- Didefinisikan sebagai kadar natrium serum

dibawah normal (< 135 mEq/L)


Hiponatremia terjadi bila:
1.Jumlah asupan cairan melebihi kemampuan
ekskresi.
2.Ketidakmampuan menekan sekresi ADH,
misalnya pada kehilangan cairan melalui
saluran cerna, gagal jantung dan sirosis hati,
atau pada SIADH (syndrome of inappropriate
ADH-secretion).

Menurut

waktu terjadinya, hiponatremia


dapat dibagi dalam:
1.Hiponatremia akut : kejadian hiponatremi
yang berlangsung cepat yaitu kurang dari
48 jam
Pada keadaan ini akan terjadi gejala yang
berat seperti penurunan kesadaran dan
kejang.
Hal ini terjadi akibat edema sel otak
Kelompok ini disebut juga hiponatremia
simptomatik atau hiponatremia berat.

2.
Hiponatremia
Kronik
:
kejadian
hiponatremia yang
berlangsung lambat
yaitu lebih dari 48 jam.
Pada keadaan ini tidak ada urgensi
melakukan koreksi konsentrasi natrium,
terapi dilakukan dalam beberapa hari
Gejala yang timbul hanya ringan seperti
lemas atau mengantuk.
Kelompok
ini
disebut
juga
sebagai
hiponatremia asimptomatik

Tabel 1 Tingkat derajat hipontremi dan gejala

Penatalaksanaan
Perlu membedakan apakah kejadian

hiponatremia akut atau kronik


Hindari koreksi berlebihan, karena dapat
mencetuskan central pontine myelinolysis.
Pada hiponatremia akut, koreksi na dilakukan
secara cepat dengan pemberian larutan natrium
hipertonik intravena.
Kadar natrium plasma dinaikkan sebanyak 5
meq/L dari kadar natrium awal dalam waktu 1
jam. Setelah itu, kadar natrium plasma dinaikkan
sebesar 1 meq/L setiap 1 jam sampai kadar Na
darah mencapai 130 meq/L.

Hiponatremia kronik, koreksi Na dilakukan

secara perlahan yaitu sebesar 0,5 meq/L


setiap 1 jam, maksimal 10 meq/L dalam 24
jam. Bila delta Na sebesar 8 meq
dibutuhkan waktu pemberian selama 16
jam.
Larutan pengganti bisa NaCl 3% atau 5%

NaCl (masing-masing mengandung


513meq/L dan 855 mEq/L) atau natrium
oral.

Hipernatremia
Hipernatremia

didefinisikan sebagai kadar


natrium serum diatas normal (> 145 mEq/L).
Penyebab hypernatremia :
1.Defisit cairan tubuh akibat ekskresi air melebihi
ekskresi natrium atau asupan air yang kurang,
misalnya pada pengeluaran air tanpa elektrolit
melalui insensible water loss atau keringat,
osmotik diare akibat pemberian laktulosa atau
sorbitol, diabetes insipidus sentral maupun
nefrogenik, diuresis osmotik akibat glukosa atau
mannitol, gangguan pusat rasa haus di
hipotalamus akibat tumor atau gangguan
vaskuler.

Penambahan natrium yang melebihi jumlah cairan


dalam
tubuh,
misalnya
koreksi
bikarbonat
berlebihan pada asidosis metabolik.
3. Masuknya air tanpa elektrolit ke dalam sel,
misalnya pada latihan olahraga yang berat
2.

Gejala Klinis
Timbul pada keadaan peningkatan natrium plasma
secara akut hingga diatas 158 meq/L.
Gejala
yang ditimbulkan akibat mengecilnya
volume otak
Gejala dimulai dari letargi, lemas, twitching,kejang
dan akhirnya koma.
Kenaikan
akut di atas 180 meq/L dapat
menimbulkan kematian.

Penatalaksanaan
Koreksi

hipernatremia
tergantung
pada
penyebabnya menurunnya nilai natrium
Bila
kelebiahan Natrium disebabkan karena
pemberian natrium, terapinya adalah restriksi
intake sodium.
Kelebihan
sodium
yang
dihasilkan
karena
kehilangan cairan mengharuskan restorasi dari
volume cairan baik melalui oral ataupun intravena.
Hipernatremia dengan deplesi volume harus
diatasi dengan pemberian normal saline sampai
hemodinamik stabil. Selanjutnya defisit air bisa
dikoreksi dengan Dekstrosa 5% atau NaCl
hipotonik

Defisit air tubuh ditaksir sbb:


Defisit Cairan = 0,4 x BB (Na Plasma /
140 -1)
Separuh dari defisit air yang dihitung harus
diberikan dalam 24 jam pertama, dan sisa
defisit dikoreksi dalam 1 atau 2 hari untuk
menghindari edema serebral.
Cara menghitung laju koreksi hipernatremia :
Perubahan serum Na+/L = (Infusat Na+

Serum Na+)/ (TBW)+1

Hipokalemi
Hipokalemia

didefinisikan sebagai kadar


serum dibawah normal (< 3,5

kalium
mEq/L).
Kalium yang masuk ke dalam tubuh dalam
keadaan fungsi ginjal yang normal akan
diekskresikan melalui ginjal.
Asupan kalium normal berkisar antara 40120 mEq perhari, dengan ekskresi kalium
melalui ginjal dapat minimal sampai 5 mEq
perhari untuk mempertahankan kadar
kalium normal di dalam darah

Penyebab
Penyebab hypokalemia dapat dibagi sebagai
berikut :
1. Asupan kalium yang kurang
2. Pengeluaran kalium yang berlebihan melalui
saluran cerna atau ginjal atau keringat
3. Kalium masuk ke dalam sel
Yang paling sering adalah akibat penggunaan obat

diuretik tertentu yang menyebabkan ginjal


membuang natrium, air dan kalium dalam jumlah
yang berlebihan.

Gambaran klinik
Hipokalemia ringan biasanya tidak
menyebabkan gejala sama sekali.
Hipokalemia yang lebih berat (kurang dari
3 mEq/L darah) bisa menyebabkan
kelemahan otot, kejang otot dan bahkan
kelumpuhan, serta Irama jantung menjadi
tidak normal (aritmia)

Penatalaksanaan
Tingkat-tingkat serum kalium diatas 3.0 mEq/liter

tidak dipertimbangkan bahaya atau sangat


mengkhawatirkan; mereka dapat dirawat dengan
penggantian potassium melalui mulut (oral)
Tingkat-tingkat yang lebih rendah dari 3.0 mEq/liter
memerlukan penggantian intravena.
Suplemen-suplemen oral mungkin dalam bentuk pil
atau cairan, dan dosis-dosisnya diukur dalam mEq.
Pemberian kalium 40-60 meq dapat menaikkan
kadar kalium sebesar 1-1,5 mq/L, sedaangkan
pemberian 135-160meq dapat menaikkan kadar
kalium sebesar 2,5-3,5 meq/L.

Secara alternatif, konsumsi dari makanan-

makanan yang tinggi dalam potassium


mungkin disarankan untuk penggantian
seperti pisang-pisang, apricot-aprocit,
jeruk-jeruk, dan tomat-tomat
Pemberian kalium intravena dalam bentuk
larutan KCl disarankan melalui vena yang
besar dengan kecepatan 10-20 meq/jam.
Pada keadaan aritmia atau kelumpuhan
otot pernapasan, dapat diberikan dengan
kecepatan 40-100 meq/jam.

KCl dilarutkan sebanyak 20 meq dalam 100

cc NaCl isotonik.
Bila melalui vena perifer, KCl maksimal 60
meq dilarutkan dalam NaCl isotonik 1000cc,
sebab bila melebihi ini dapat menimbulkan
rasa nyeri dan dapat meyebabkan sklerosis
vena.
Jika kadar kalium serum >2.4 mEq/L dan tak
ada kelainan EKG, K+ bisa diberikan dengan
kecepatan 10 sampai 20 mEq/jam dengan
pemberian maksimum 200 mEq per hari

Tatalaksana cepat dibutuhkan jika kadar

K+<2 mEq/L dengan kelainan EKG sampai


40 mEq/jam
Kadar kalium serum harus diukur setiap 4
sampai 6 jam dan EKG pasien dipantau
kontinyu sampai ada perbaikan.

Hiperkalemia
Hiperkalemia didefinisikan sebagai kadar kalium

serum di atas normal (> 5 mEq/L)


Penyebab hiperkalemiadapat disebabkan oleh :

1. Keluarnya kalium dari intrasel ke ekstrasel.


2. Berkurangnya ekskresi kalium melalui ginjal.
Hiperkalemia dapat menjadi asymptomatic,

yang berarti bahwa ia tidak menyebabkan


gejala-gejala.

Adakalanya, pasien-pasien dengan hyperkalemia

melaporkan gejala-gejala yang samar-samar


termasuk:
mual,
lelah,
kelemahan otot, atau
perasaan-perasaan kesemutan.
Gejala-gejala hyperkalemia yang lebih serius

termasuk denyut jantung yang perlahan dan nadi


yang lemah. Hyperkalemia yang parah dapat
berakibat pada berhentinya jantung yang fatal.

Penatalaksanaan
Mengatasi pengaruh hiperkalemia pada

membrane sel
Kalsium glukonat 10 ml diberikan intravena dalam
waktu 2-3 menit dengan monitor EKG.
Bila perubahan EKG akibat hiperkalemia masih ada,
pemberian kalsium glukonat dapat diulang setelah 5
menit.
Memacu masuknya kembali kalium dari ekstrasel

ke intrasel
Pemberian insulin 10 unit dalam glukosa 40 %, 50 ml
bolus intravena, lalu diikuti dengan infuse dekstrosa 5
% utuk mencegah terjadinya hipoglikemi.

Pemberian

Natrium
bikabonat
yang
akan
meningkatkan pH sistemik.
Dalam keadaan tanpa asidosis metabolic, Natrium
bikarbonat diberikan 50 meq i.v selama 10 menit.
Bila ada asidosis metabolic, disesuaikan dengan
keadaan asidosis metabolic yang ada.
Pemberian 2 agonist baik secara inhalasi
maupun tetesan intravena. Albuterol diberikan 1020 mg.
Mengeluarkan kelebihan kalium dari tubuh
Pemberian diuretic-loop (furosemid) dan tiasid.

Kesimpulan
Keseimbangan

cairan dan elektrolit sangat


dibutuhkan
untuk menjaga hemostasis dan
kelangsungan reaksi kimia yang terjai di dalam
tubuh.
Berbagai
kondisi
dan
penyakit
dapat
menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit yang memberikan gambaran klinis
bervariasi mulai dari tanpa gejala sampai dengan
gejala kritis yang dapat menyebabkan kematian.
Penatalaksanaan yang tepat dan cepat akan dapat
mencegah
pasien
menjadi
lebih
buruk,
menurunkan morbiditas dan mortalitas.