Anda di halaman 1dari 15

PENGELOLAAN PENDIDIKAN

Pengelolaan Peserta Didik

OLEH:
KELOMPOK 4
ASTI ARIANI

(06081381419049)

SUCI AGUSTINA

(06081381419051)

SRI UTAMI

(06081381419058)
Dosen Pembimbing:

1. Dr. Nyimas Aisyah, M.Pd


2. Meryansumayeka, S.Pd,. M.Sc
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA
2016

PENGELOLAAN PESERTA DIDIK


A.

Pengertian
1. Pengertian Peserta Didik
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
sebagaimana yang dikutip oleh Murip Yahya (2008:113), dijelaskan bahwa yang
dimaksud peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan
tertentu.
Dalam pengertian umum, anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh
dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan.
Sedangkan dalam arti sempit, anak didik adalah anak (pribadi yang belum dewasa) yang
diserahkan kepada tanggung jawab pendidik (Yusrina, 2006).
Menurut Suharsimi Arikunto (1986:12) bahwa peserta didik adalah siapa saja yang
terdaftar sebagai objek didik di suatu lembaga pendidikan. Menurut UU Sisdiknas
bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi
dirinya melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis
pendidikan tertentu. Jadi bisa diartikan bahwa peserta didik adalah seseorang yang
terdaftar dalam suatu jalur, jenjang, dan jenis lembaga pendidikan tertentu, yang selalu
ingin mengembangkan potensi dirinya baik pada aspek akademik maupun non
akademik melalui proses pembelajaran yang diselenggarakan.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah
setiap orang yang berusaha mengembangan potensi dirinya baik pada aspek akademik
maupun non akademik melalui proses pembelajaran yang ada pada lembaga
pendidikan.
2. Pengertian Pengelolaan Peserta Didik
Dalam hal ini pengelolaan peserta didik menurut Hendayat Soetopo dan Wasty
Soemanto (1982) adalah merupakan suatu penataan atau pengaturan segala aktivitas
yang berkaitan dengan peserta didik, yaitu dari mulai masuknya peserta didik sampai
dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah atau suatu lembaga.

Menurut Kenezevich (1961) mengartikan bahwa pengelolaan peserta didik adalah


suatu layanan yang memusatkan perhatian, pengaturan, pengawasan, dan layanan siswa
dikelas di luar kelas, seperti pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti
pengembangan keseluruhan kemampuan minat, keburuhan sampai matang disekolah.
Dengan demikian pengelolaan peserta didik itu bukanlah dalam bentuk
pencatatan/pengelolaan data peserta didik saja, melainkan meliputi aspek yang lebih
luas, yang secara operasional dapat dipergunakan untuk membantu kelancaran upaya
pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.
Dalam makalah ini akan dibahas aspek-aspek sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Penerimaan peserta didik baru;


Orientasi peserta didik baru;
Penempatan peserta didik baru;
Layanan bimbingan dan konseling peserta didik;
Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler;
Pembinaan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
Dasar Pengelolaan Peserta Didik

Dasar hukum pengelolaan peserta didik adalah sebagai berikut:


a. Pertumbuhan UUD 1945 alinea ke empat yang mengamatkan mencerdaskan
kehidupan bangsa.
b. Batang tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat 1sampai ayat 5
c. UU No. 20tahun 2003 yang berisi tentang sistem pendidikan nasional, sebagai
berikut:
1. Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan
yang bermutu (pasal 5 ayat 1)
2. Setiap warga Negara yang berusia tujuh sampai lima belas tahun wajib mengikuti
pendidikan dasar (pasal 6 ayat 1)
3. Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pengawasan, dan dan
evaluasi program pendidikan (pasal 8)
4. Warga Negara yang berlainan fisik atau mental berhak memperoleh pendidikan luar
biasa (pasal 8 ayat 1)
5. Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan
pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya (pasal 12 ayat 6)
A. Tujuan
Tujuan umum pengolaan peserta didik adalah mengatur kegiatan peserta
didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar

disekolah, lebih lanjut proses belajar mengajar disekolah berjalan dengan lancar,
tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontirbusi bagi pencapaian tujuan
sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan. (Ali Imron.2003)
B. Fungsi
Fungsi pengelolaan kelas peserta didik adalah sebagai wahana bagi
peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang
berkaitan secara individualnya, sosial, aspirasinya, segi kebutuhan dan potensi
peserta didik.
C. Aspek-aspek Perencanaan, Pelaksanaan, Pengawasan
(Monitoring), dan Evaluasi dalam Pengelolaan Peserta
Didik
1. Perencanaan Pengelolaan Peserta Didik
Menurut LPPKS Indonesia Perencanaan peserta didik adalah suatu aktivitas
memikirkan hal-hal yang harus dilakukan berkenaan dengan peserta didik di
sekolah, baik sejak peserta didik akan memasuki sekolah, selama di sekolah,
maupun ketika mereka akan lulus dari sekolah. Jadi, yang direncanakan adalah
hal-hal yang harus dikerjakan berkenaan dengan penerimaan peserta didik
sampai dengan pelulusan peserta didik.
Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam perencanaan peserta
didik. Langkah-langkah tersebut meliputi : perkiraan, perumusan tujuan,
kebijakan, pemograman, penyusuan langkah-langkah, penjadwalan, dan
pembiayaan.
Secara lebih rinci, langkah-langkah perencanaan peserta didik dapat
diuraikan sebagai berikut.
1) Perkiraan
Yang dimaksud dengan perkiraan (forcasting) adalah menyusun suatu
perkiraan kasar dengan mengantisipasi ke depan. Ada tiga dimensi waktu
yang disertakan dalam hal ini, ialah dimensi kelampauan, dimensi terkini,
dan dimensi yang akan datang
a. Dimensi kelampauan berkenaan dengan pengalaman-pengalaman
masa lampau penanganan peserta didik. Kesuksesan-kesuksesan
penanganan peserta didik pada masa lampau harus selalu diingatkan
dan diulang kembali, sementara kegagalan penanganan peserta didik
pada masa lampau hendaknya selalu diingat dan dijadikan pelajaran.

b. Dimensi kekinian berkaitan erat dengan faktor kondisional dan


situasional peserta didik di masa sekarang ini. Keadaan peserta didik
yang senyatanya sekarang ini haruslah diketahui dalam perencanaan
peserta didik. Semua keterangan, informasi dan data mengenai
peserta

didik

haruslah

dikumpulkan,

agar

dapat

ditetapkan

kegiatannya, dan konsekuensi dari kegiatan tersebut: biayanya,


tenaganya, dan sarana prasarananya.
c. Dimensi yang akan datang berkenaan dengan antisipasi ke depan
peserta didik. Hal-hal yang diidealkan dari peserta didik di masa
depan,

haruslah dapat dijangkau seberapapun jangkauannya.

Pemikiran mengenai peserta didik dalam perkiraan ini, tidak saja


untuk hal-hal yang sekarang saja, melainkan yang juga tak kalah
pentingnya adalah kaitannya dengan peserta didik di masa depan.
Jangkauan ke depan ini juga mengandung arti bahwa semua layanan
yang dipikirkan haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik di
masa depan.
2) Perumusan Tujuan
Supaya tujuan dapat dicapai, umumnya tujuan tersebut dijabarkan ke
dalam bentuk target-target. Oleh karena itu, tujuan lazimnya bersifat umum
dan abstrak, tidak jelas kriteria ketercapaiannya; sedangkan target
dirumuskan secara jelas, dapat diukur pencapaiannya
3) Kebijakan
Yang dimaksud dengan kebijakan adalah mengidentifikasi aktivitasaktivitas yang dapat dipergunakan untuk mencapai target atau tujuan di atas.
Kegiatan-kegiatan demikian harus diidentifikasi, karena tidak ada tujuan
atau target yang dapat dicapai tanpa kegiatan.
4) Penyusunan Program
Penyusunan program adalah suatu aktivitas yang bermaksud memilih
kegiatan-kegiatan yang sudah diidentifiksi dalam langkah kebijakan.
Pemilihan demikian harus dilakukan, karena tidak semua kegiatan yang
diidentifikasi tersebut nantinya dapat dilaksanakan. Dengan perkataan lain,
penyusunan program berarti seleksi atas kegiatan-kegiatan yang sudah
diidentifikasi dalam kebijakan.
5) Penyusunan Kegiatan

Ada tiga aktivitas dalam kegiatan ini, yaitu aktivitas pembuatan skala
prioritas, aktivitas pengurutan dan aktivitas menyusun langkah-langkah
kegiatan. Faktor-faktor yang harus dijadikan penentu dalam membuat skala
prioritas ini adalah sebagai berikut :
a) Seberapa jauh kegiatan tersebut memberikan kontribusi bagi pencapaian
targetnya?
b) Seberapa jauh kegiatan tersebut mendesak untuk dilaksanakan dilihat dari
segi kebutuhan?
c) Apakah kegiatan tersebut mengikuti periode waktu tertentu, misalnya saja
periode bulan dan tanggal?
d) Apakah dukungan tenaga, biaya, prasarana dan sarananya bagi kegiatan
tersebut cocok dengan waktunya?
Pengurutan

kegiatan

dilakukan

dengan

mengulang

apa

yang

diprioritaskan.
6) Penjadwalan
Kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan prioritasnya, urut-urutan dan
langkah-langkahnya perlu dijadwalkan agar jelas siapa pelaksananya, dan di
mana hal tersebut dilaksanakan. Yang tercantum dalam jadwal adalah jenisjenis kegiatannya secara urut, kapan dilaksanakan, siapa yang bertanggung
jawab untuk melaksanakan dan kalau perlu di mana kegiatan tersebut harus
dilaksanakan.
7) Pembiayaan
Ada dua hal yang harus dilakukan dalam pembiayaan. Pertama,
mengalokasikan biaya. Yang dimaksud dengan alokasi di sini adalah
perincian mengenai biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan-kegiatan yang
sudah dijadwalkan. Kedua, menentukan sumber biaya. Sumber biaya
demikian perlu disebutkan secara jelas, agar mudah menggalinya.
2. Pelaksanaan Pengelolaan Peserta Didik
a. Penerimaan Peserta Didik Baru
Kepala Sekolah terlebih dahulu membentuk panitia yang berdasarkan
pedoman dari Kanwil untuk tingkat SLTP/SLTA yang terdiri dari :
Ketua

: Kepala Sekolah

Sekertaris

: Salah seorang guru

Bendahara

: Bendaharawan UUDP Sekolah yang bersangkutan

Seksi Pendaftaran: Maksimum 3 (tiga) orang guru


Kebijakan penerimaan peserta didik baru, hendaknya memperhatikan
hal-hal sebagai berikut.
1) Kenyataan yang ada di sekolah: daya tampung kelas baru, kriteria
mengenai peserta didik yang dapat diterima, anggaran yang tersedia,
prasarana dan sarana yang ada, tenaga kependidikan yang tersedia,
jumlah peserta didik yang tinggal di kelas sebelumnya.
2) Sistem pendaftaran dan seleksi atau penyaringan yang akan
diberlakukan untuk peserta didik: sistem promosi dan sistem seleksi.
Prosedur penerimaan peserta didik baru adalah:
1). Pembentukan panitia penerimaan peserta didik baru,
2). Rapat penetapan kuota peserta didik baru,
3). Pembuatan, pemasangan atau pengiriman pengumuman,
4). Pendaftaran peserta didik baru,
5). Seleksi penerimaan peserta didik baru,
6). Penentuan peserta didik yang diterima,
7). Pengumuman peserta didik yang diterima, dan
8). Registrasi peserta didik yang diterima
Setelah peserta didik diterima perlu pengadministrasian karena
dalam bidang pendidikan sangat diperlukan sistem pengelolaan informasi
yang tertib dan teratur. Pencatatan dan pelaporan peserta didik dimulai
sejak peserta didik diterima di sekolah sampai dengan tamat atau
meninggalkan sekolah. Tujuan pencatatan tentang kondisi peserta didik
dilakukan agar lembaga mampu melakukan bimbingan yang optimal
pada peserta didik. Sedangkan pelaporan dilakukan sebagai bentuk
tanggung jawab lembaga dalam perkembangan peserta didik di sebuah
lembaga.
Berdasarkan kalender akademik, pencatatan data berasal dari
beberapa sumber yang diambil dari kegiatan pencatatan selama program
pendidikan berlangsung, berikut ini administrasi pengelolaan peserta
didik di sekolah/madrasah dapat dijelaskan sebagaimana di bawah ini.

1. Awal tahun pelajaran


Penerimaan peserta didik baru

2.

Surat Pendaftaran Peserta didik Baru


Daftar Calon Peserta didik Baru
Daftar Peserta didik Baru
Selama tahun pelajaran
Penyusunan data peserta didik
Buku induk peserta didik
Buku klaper

Kehadiran peserta didik

Buku absensi peserta didik (harian, bulanan, tahunan

Mutasi peserta didik

Surat permohonan pindah sekolah


Surat keterangan pindah sekolah

3. Akhir Tahun Pelajaran


Pelaksanaan Ujian akhir

Mendata dan melaporkan calon peserta UAS/UAN


Menyiapkan tanda peserta UAS/UAN
Mendata dan mengarsipkan tabel peserta dalam prestasi UAS/UAN
Pendaftaran masuk ke jenjang yang lebih tinggi

Kenaikkan kelas

Daftar naik kelas/tidak naik kelas


Rekapitulasi berhasil tidaknya peserta didik
Raport

b. Orientasi Peserta Didik


Pada orientasi di lingkungan sekolah yang diperkenalkan adalah:
peraturan dan tata tertib sekolah, guru dan personalia sekolah,
perpustakaan sekolah, laboratorium sekolah, bengkel sekolah,
kafetaria sekolah, bimbingan dan konseling sekolah, layanan
kesehatan sekolah, layanan asrama sekolah, orientasi program studi,
cara belajar yang efektif dan efisien di sekolah dan organisasi peserta

didik. Pada masa orientasi peserta didik yang melaksanakan bisa


guru dan dibantu oleh pengurus OSIS.
c. Penempatan Peserta Didik
`

Sebelum peserta didik yang telah diterima mengikuti kegiatan


belajar, terlebih dahulu perlu ditempatkan dan dikelompokkan dalam
kelompok belajarnya.
Dasar-dasar pengelompokkan peserta didik ada lima macam, yaitu :

Friendship Grouping. Pengelompokkan peserta didik berdasarkan


kesukaan di dalam memilih teman diantaranya peserta didik itu
sendiri.

Achievement Grouping. Pengelompokkan belajar dalam hal ini


adalah cam

puran antara peserta didik yang berprestasi tinggi dan peserta didik
yang berprestasi rendah.

Aptitude Grouping. Pengelompokkan peserta didik berdasarkan atas


kemampuan dan bakat yang sesuai dengan apa yang dimiliki oleh
peserta didik itu sendiri.

Attention or Interest Grouping. Pengelompokkan peserta didik


berdasarkan atas perhatian atau minat yang didasari oleh kesenangan
peserta didik itu sendiri.

Intelligence Grouping. Pengelompokkan yang didasarkan atas hasil


test intelegensi yang diberikan kepada peserta didik.

d. Layanan Bimbingan dan Konseling Peserta Didik


Pengertian bimbingan menurut PP. No. 29 tahun 1990 Bab X
pasal 27, yaitu bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya
menemukan pribadi, mengenai lingkungan, dan merencanakan masa
depan. Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing. Menurut kurikulum
Sekolah menengah 1988, bimbingan adalah bantuan yang diberikan
kepada individu agar dengan potensinya yang dimiliki mampu
mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri,

mengenal lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana


masa depan yang lebih baik.
Fungsi bimbingan di sini adalah membantu peserta didik dalam
memilih jenis sekolah lanjutannya, memilih program, lapangan pekerjaan
sesuai bakat, minat, dan kemampuan. Selain itu bimbingan dan konseling
juga membantu guru dalam menyesuaikan program pengajaran yang
disesuaikan dengan bakat minat peserta didik, serta membantu peserta
didik dalam menyesuaikan diri dengan bakat dan minat peserta didik
untuk mencapai perkembangan yang optimal
e. Pembinaan Kegiatan Ekstrakurikuler
Pengembangan bakat di sekolah ditempuh dengan dua cara, yaitu
dengan kurikuler dan ekstrakurikuler. Pengembangan yang secara
kurikuler dilakukan secara konvensional dalam tatap muka di dalam
kelas. Pelajaran menyanyi, menari, musik, atau olahraga maupun
berbagai jenis keterampilan yang berperan untuk mengembangkan
potensi

dasar

peserta

didik

diberikan

dalam

bentuk

kegiatan

pembelajaran secara formal. Pengertian formal dalam hal ini adalah


terstruktur, pelaksanaannya berlangsung pada jam-jam efektif belajar.
Kegiatan ekstrakurikuler pada dasarnya mengembangkan bakat, minat,
kreativitas, dan kemampuan peserta didik, yakni potensi besar yang
harus difasilitasi dengan baik oleh sekolah. Beberapa wahana yang bisa
diselenggarakan oleh sekolah antara lain meliputi bidang-bidang olah
raga, kesenian, dan keterampilan.
f. Pembinaan Organisasi Peserta didik Intra Sekolah (OSIS)
Peserta didik dapat berlatih berorganisasi, kepemimpinan dan
menggerakkan orang lain dan juga dapat berlatih merencanakan
kegiatan, mengorganisasikan kegiatan, mengkooordinasi kegiatan,
menggerakkan SDM dan mengendalikan kegiatan secara bersamasama dengan peer group-nya. Bagi sekolah sendiri, keberadaan
organisasi peserta didik ini juga sangat berguna untuk mencari bibitbibit unggul di bidang organisasi dan kepemimpinan, agar dapat

diasah dan disalurkan sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh


masing-masing pesereta didik.
Berdasarkan struktur organisasi OSIS, lazimnya disusun deskripsi
tugas dan tanggung jawab masing-masing organ atau unit yang ada
dalam struktur organisasi, yaitu:
1. Majelis Pembimbing Osis (MBO) terdiri atas Kepala Sekolah dan
Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan, beserta dengan guru-guru
yang ditunjuk untuk melakukan pembimbingan secara operasional
kepada pengurus OSIS. Tugas MBO ini adalah memberikan
pengarahan dan bimbingan secara umum dan teknis kepada pengurus
OSIS dalam berorganisasi, merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi kegiatan peserta didik.
2. Ketua OSIS, yang dibantu oleh Wakil Ketua, bertangung jawab
untuk memimpin OSIS, yang selain bertanggung jawab kepada
Kepala Sekolah, juga bertanggung jawab kepada para anggotanya,
melalui saluran Musyawarah Perakilan Kelas (MPK). Ketua dan
wakil Ketua, juga bertanggung jawab dalam menyusun rencana
kegiatan, pelaksanaan kegiatan, koordinasi kegiatan, pemantauan
kegiatan dan pelaporan kegiatan OSIS.
3. Musyawarah Perwakilan Kelas , sebagai wakil dari masing-masing
jenjang kelas, beratanggung jawab untuk menyampaikan aspirasi
kelasnya kepada OSIS, dan sekaligus sebagai saluran sosialisasi
program OSIS kepada peserta didik yang berada di kelasnya.
4. Sekretaris OSIS, bertanggung jawab atas kesekretariatan OSIS,
dan memberikan layanan informasi kepada Ketua OSIS ketika
dibutuhkan.

Kesekretariatan

tersebut

meliputi

pencatatan

(inventarisasi), penyimpanan informasi, pencarian kembali informasi,


dan penyajian kembali sehingga mudah dipahami oleh pengurus dan
anggota OSIS yang lain.
5.

Bendahara

OSIS,

bertanggung

jawab

atas

perencanaan

penganggaran, realisasi anggaran, pelapotran anggaran dengan


sepengetahuan Ketua OSIS.

6. Wakil-wakil Kelas, terdiri atas peserta didik yang diplih oleh Kelas
(bisa ketua kelas dan bisa juga bukan), guna duduk di dalam MPK,
dengan tugas meneruskan aspirasi kelas dan menjadi saluran pagi
program-program OSIS pada kelas yang diwakilinya
3. Pengawasan
Pengawasan (Mulyana, 2014) adalah fungsi pengelolaan yang
berhubungan dengan usaha pemantauan kinerja agar supaya kinerja
tersebut terarah dan tidak melenceng dari aturan yang sudah
ditetapkan dan pemantauan berfungsi sebagai media agar kinerja
tersebut terarah dan tersampaikan secara tepat.
Pengawasan atau pemantauan pada pengelolaan peserta didik
berupa upaya untuk mengetahui, berperan untuk ceking apakah
kemampuan seseorang peserta didik dalam berbagai bidang
sebagaimana yang telah dilayani penyalurannya oleh sekolah berjalan
lancar. Hasil pantauan adalah catatan-catatan penting mengenai
pelaksanaan berbagai kegiatan tentang seluruh individu peserta didik.
Catatan itu secara garis besar mengenai hal-hal:
1) Bagaimana kondisi umum kemampuan peserta didik
2) Kendala apa yang terjadi pada masing-masing bidang
3) Adakah kemampuan yang menonjol pada masing-masing bidang
4. Evaluasi
Menurut Wand dan Brown (dalam Syaiful Bahri Djamarah dan
Aswan Zain, 2002:57), evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses
untuk menentukan nilai dari sesuatu. Evaluasi hasil belajar peserta didik
berarti kegiatan menilai proses dan hasil belajar siswa baik yang berupa
kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstra-kurikuler. Penilaian hasil
belajar bertujuan untuk melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal
penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Pasaribu dan Simanjuntak (dalam
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2002:58), menyatakan bahwa:
1. Tujuan umum dari evaluasi peserta didik adalah :
a. Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan
peserta didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan
b. Memungkinkan pendidik/guru menilai aktifitas/pengalaman yang
didapat
c. Menilai metode mengajar yang digunakan
2. Tujuan khusus dari evaluasi peserta didik adalah :

a. merangsang kegiatan peserta didik


b. menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan belajar peserta
didik
c. memberikan
perkembangan

bimbingan
dan

yang

bakat

sesuai

siswa

yang

dengan

kebutuhan,

bersangkutanuntuk

memperbaiki mutu pembelajaran/cara belajar dan metode


mengajar Berdasarkan tujuan penilaian hasil belajar tersebut, ada
beberapa fungsi penilaian yang dapat dikemukakan antara lain:
1. Fungsi Selektif
2. Fungsi diagnostic
3. Fungsi penempatan
4. Fungsi pengukur keberhasilan program
Dalam suatu kelas, tes mempunyai fungsi ganda, yaitu untuk
mengukur keberhasilan peserta didik dan untuk mengukur keberhasilan
program pengajaran. Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur
keberhasilan peserta didik, ada tiga jenis tes, yaitu:
1. Tes diagnostic
Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui
kelemahan-kelemahan peserta didik sehingga berdasarkan kelemahan
tersebut dapat dilakukan pemberianperlakuan yang tepat. Kedudukan
diagnosis adalah dalam menemukan letak kesulitan belajar peserta
didik dan menentukan kemungkinan cara mengatasinya dengan
memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar.
2. Tes Formatif
Tes formatif atau evaluasi formatifdimaksudkan untuk mengetahui
sejauhmana peserta didik telah terbentuk setelah mengikuti suatu
program tertentu. Jenis penilaian ini juga berfungsi untuk
memperbaiki proses belajar mengajar.
3. Tes sumatif
Tes sumatif atau evaluasi sumatif dilaksanakan setelah berakhir
pemberian sekelompok program atau pokok bahasan.Jenis penilaian
ini berfungsi untuk menentukan angka kemajuan hasil belajar peserta
didik.
Hasil evaluasi terhadap peserta didik tersebut selanjutnya
ditindaklanjuti dengan memberikan umpan balik. Ada dua kegiatan
dalam menindaklanjuti hasil penilaian peserta didik, antara lain:

1. Program remedial
Pengajaran remedial mempunyai arti terapeutik, maksudnya dalam
proses pengajaran remedial secara lansung maupun tidak langsung
juga menyembuhkan beberapa gangguan atau hambatan yang
berkaitan dengan kesulitan belajar. Pengajaran remedial adalah suatu
bentuk khusus pengajaran yang ditujukan untuk menyembuhkan atau
memperbaiki sebagian atau keseluruhan kesulitan belajar yang
dihadapi oleh peserta didik. Perbaikan diarahkan kepada pencapaian
hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan masing-masing
melalui perbaikan keseluruhan proses belajar mengajar dan
keseluruhan kepribadian peserta didik.
2. Program pengayaan
Kegiatan pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada
peserta didik kelompok cepat sehingga peserta didik tersebut menjadi
lebih kaya pengetahuan dan keterampilannya atau lebih mendalami
bahan pelajaran yang sedang mereka pelajari. Tujuan dari kegiatan
pengayaan adalah agar peserta didik yang sudah menguasai bahan
pelajaran

lebih

dahulu

dari

teman-temannya

tidak

berehnti

perkembangannya, dengan mengisi waktu kelebihannya dengan


melakukan kegiatan lain.

DAFTAR PUSTAKA
Afid Burhanuddin. 2014. Pengelolaan Peserta Didik. Diakses pada
tanggal 2 Februari 2016
https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/01/22/pengelolaanpeserta-didik/
LPPKS Indonesia. 2014. Pengelolaan Peserta Didik.
https://ktresna72.files.wordpress.com//2011/06/7-pengelolaanpeserta-didik.pdf. Diakses 25 Februari 2016.
Suharsimi Arikunto. 1986. Pengelolaan Kelas dan Siswa: Sebuah
Pendekatan
Evaluatif. Jakarta: Rajawali.
Tim Dosen MPKK. 2008. Pengelolaan Pendidikan. Tasikmalaya: UPI
Kampus Tasikmalaya
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003
tentang SIstem
Pendidikan Nasional.
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/19570704198
1031MUHDAR_MAHMUD/Power_Point/PENGELOLAAN_PESERTA_DIDIK.pdf
Diakses pada tanggal 24 Februari 2016.