Anda di halaman 1dari 12

Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri dan Pengukuran Sel Bakteri

Tanggal : 9 Februari 2016


A. Tujuan
1. Untuk mempelajari morfologi koloni bakteri
2. Untuk memperoleh ketrampilan menera skala micrometer okuler
3. Untuk mengukur sel bakteri
B. Dasar Teori
Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil (Kusnadi,
dkk, 2003). Bakteri dapat diperoleh hampir disetiap tempat, misalnya: di udara, di antara helaian
rambut, di sela-sela gigi, di dalam tanah dan sebagainya. Bakteri tersusun atas dinding sel dan isi
sel. Disebelah luar dinding sel terdapat selubung atau kapsul.
Bakteri merupakan organisme prokariot. Umumnya ukuran bakteri sangat kecil, bentuk
tubuh bakteri baru dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 1.000 X
atau lebih (Waluyo, 2004). Sel bakteri memiliki panjang yang beragam, sel beberapa spesies
dapat berukuran 100 kali lebih panjang daripada sel spesies yang lain. Bakteri merupakan
makhluk hidup dengan ukuran antara 0,1 sampai 0,3 m. Bentuk bakteri bermacam macam
yaitu elips, bulat, batang dan spiral. Bakteri lebih sering diamati dalam olesan terwarnai dengan
suatu zat pewarna kimia agar mudah diamati atau dilihat dengan jelas dalam hal ukuran, bentuk,
susunan dan keadaan struktur internal dan butiran. Sel sel individu bakteri dapat berbentuk
seperti bola/elips, batang (silindris), atau spiral (heliks) (Pelczar & Chan, 2007).
Sel-sel individu bakteri dapat berbentuk seperti elips, bola, batang, atau spiral. Masingmasing ciri ini penting dalam mencirikan morfologi suatu spesies. Sel bakteri yang berbentuk
seperti bola atau elips dinamakan kokus. Sel berbentuk silindris atau batang dinamakan basilus.
(Funke dkk, 2004). Bakteri berbentuk spiral terutama dijumpai sebagai individu-individu sel
yang tidak saling melekat tercakup di dalam kelompok morfologis ini adalah spiroketa, beberapa
diantaranya menyebabkan penyakit yang berbahaya bagi manusia.Individu-individu sel dari
spesies yang berbeda-beda menunjukkan perbedaan-perbedaan yang mencolok dalam hal
panjang, jumlah, dan amplitudo spiralnya serta kekakuan dinding selnya. (Holt dan Bergey,
1994).
Penampakan suatu koloni sel bakteri dapat dilihat langsung oleh mata telanjang. Bentuk
dan ukuran koloni dalam medium agar juga memperlihatkan bentuk dan ukuran koloni yang
berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat dari bentuk keseluruhan penampakan koloni, tepi dan

permukaan koloni. Koloni bakteri dapat berbentuk bulat, tak beraturan dengan permukaan
cembung, cekung atau datar serta tepi koloni rata atau bergelombang dan sebagainya. Pada
medium agar miring penampakan koloni bakteri ada yang serupa benang (filamen), menyebar,
serupa akar dan sebagainya. Penampakan suatu koloni bakteri dapat dilihat dalam gambar
berikut :

Gambar .1 Penampakan koloni bakteri pada cawan agar dan agar miring Sumber : Cappucino,
1987

Gambar 2 Bentuk umum sel dan rangkaian sel bakteri (Sumber:Milton R.J. Salton dan KwangShin Kim, 2001)

C. Alat dan Bahan


1. Alat dan bahan pengamatan morfologi Koloni bakteri

Alat
Incubator
Loupe

Bahan
2 buah medium lempeng NA

2. Alat dan bahan pengukuran sel bakteri

Mikroskop
Micrometer okuler
Micrometer meja

D. Cara Kerja
1. Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri

Bahan

Sediaan bakteri yang sudah diwarnai


Kertas hisap
Kertas lensa
Alcohol 70%
Lisol
sabun cuci
lap

membawa 2 cawan petri


yang berisi medium agar

dilakukan pengamatan
pada morfologi koloni
bakteri

ditandai dri berbeda


dipilih dan diamatiengan
bentuk seperti :

ke tempat yang banyak


dilalui orang

selama 1-2 x 24 jam

lendir, tetsan mentega,


tetesan sari buah

tangga gedung biologi


lantai 1

kedua biakan diinkubasi


pada suhu 37 c

dua koloni bakteri dipilih


dan diamati

tutup cawan petri dibuka


10-15 min

ditutup kembali

warna, bentuk, tipe,


elevasi, kepekatan,
diamater.

2. Pengukuran Sel Bakteri


micrometer meja
dilepaskan dari meja
benda mikroskop

dipilih 3 sel untuk


diukur

rerata dihitung

sediaan bakteri
dipasang

pengukuran dilakukan
pada sel bakteri

kokus hanya
dihitung diameter
saja

posisi sel bakteri


diatur

berdasarkan harga
tiap skala yang ditera

basil diukur panjang


dan diameter

sehingga berada di
bidang skala okuler

panjang sel dan


diameter diukur (mm)

E. Data Pengamatan
1. Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
No
1.
2.
3.
4.

Ciri yang diamati


Warna koloni
Bentuk koloni
Tipe koloni
Elevasi koloni

Koloni 1
Putih
Bundar
Licin
Cembung

Koloni 2
Kuning pucat
Bundar
Licin
Cembung

5.
6.
7.
8.
9.
10.

Mengkilap/suram
Diameter koloni
Kepekatan koloni
Jumlah koloni
Cirri lainya
Asal bakteri

2. Pengukuran sel Bakteri


Skala : 1, 25 mikron
No
1
2
3
X
X

Perhitungan
Perhitungan 1
Perhitungan 2
Perhitungan 3

Mengkilap
0,32 mm
Pekat
15
Gedung bio lantai 1

Mengkilap
2 mm
Pekat
5
Gedung bio lantai 2

perbesaran 400 x
Koloni 1
2,5 mikron
3,75 mikron
3,75 mikron
10 mikron
3,33 mikron

Koloni 2
5 mikron
3,75 mikron
2,5 mikron
11,25 mikron
3,25 mikron

F. Analisis Data
1. Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui morfologi bakteri pada medium.
Pada medium datar dapat diketahui ciri morfologi koloni bakteri baik koloni I maupun
koloni II, yang keduanya berasal dari gedung biologi lantai 1 dan lantai 2.
Morfologi koloni bakteri I menampakkan warna putih, bentuk koloninya bundar,
tepi koloni licin, elevasi koloni cembung dan tampak mengkilat. Koloni II menampakkan
warna kuning pucat, bentuk koloninya bundar, tepi koloni licin, elevasi koloni cembung
dan tampak mengkilat.
Pada pengukuran diameter koloni didapatkan pada koloni 1 diameternya adalah 0,32
mikron. Sedangkan pada koloni 2 adalah 2 mikron. Kedua koloni memiliki jenis koloni
yang pekat. Jumlah koloni 1 pada media biakan bakteri lebih banyak dari pada koloni 1,
yaitu sebanyak 15 dan koloni 1 hanya sebanyak 5 koloni. Pada kedua koloni tidak
ditemukanya cirri-ciri lain, dan bakteri diambil di gedung biologi lantai 1 dan 2.
2. Pengukuran Sel Bakteri
Dalam pengukuran sel bakteri, mikrometer okuler yang akan digunakan harus
ditera terlebih dahulu. Karena harga skala ini tidak sama antara mikroskop yang satu
dengan mikroskop yang lain. Dan dapat menggunakan 2 perbesaran yang berbeda yakni
perbesaran 400x dan perbesaran 1000x. Namun perbesaran yang akan digunakan untuk
pengukuran sel bakteri kali ini hanya perbesaran 400 x saja, karena pada perbesaran 1000 x
tidak dapat digunakan akibat rusaknya lensa objektif pada mikrosko. Dalam praktikum kali

ini dipilih 2 sel bakteri yang berbeda dan masing-masing sel bakteri diukur sebanyak 3 kali
ulangan kemudian di rata-rata. Untuk bakteri basil yang diukur panjang dan diameternya,
jika bentuk bakteri streptococcus/coccus hanya diameternya saja yang diukur. Pada
perhitungan ini digunakan perbesaran 400 x, 1 skala micrometer okuler sama dengan 1,25
m. Hasil pengukuran diameter bakteri dari koloni 1 untuk 3 sel yang dipilih adalah 2,5
m, 3,75 m, dan 3,75 m. Dan rata-rata = 3,35 m yang diperoleh dari:
Perhitungannya antara lain :
Perhitungan 1
: 2 x 1,25 = 2,5 m
Perhitungan 2
: 3 x 1,25 = 3,75 m
Perhitungan 3
: 3 x 1,25 = 3,75 m
Dan rata-rata
= jumlah perhitungan : banyaknya perhitungan
= 10 : 3 = 3,33 m
Hasil pengkuran pada koloni 2 untuk 3 sel yang dipilih adalah : 5 m, 3,75 m, dan
2,5 m. Dan rata-rata = 3,75 m yang diperoleh dari:
Perhitungan 1
: 4 x 1,25 = 5 m
Perhitungan 2
: 3 x 1,25 = 3,75 m
Perhitungan 3
: 2 x 1,25 = 2,5 m
Dan rata-rata
= jumlah perhitungan : banyaknya perhitungan
= 11,25 : 3 = 3,75 m
G. Pembahasan
1. Pengamatan Morfologi Bakteri
Bakteri yang telah ditangkap pada suatu medium dapat dikembangbiakan dan akan
membentuk suatu penampakan berupa koloni. Koloni sel bakteri merupakan sekelompok
masa sel yang dapat dilihat dengan mata langsung. Semua sel yang terdapat pada satu koloni
tersebut dianggap progeny satu organisme yang merupakan suatu keturunan. Menurut Dewi
(2008), isolasi bakteri

merupakan pengambilan atau memindahkan

mikroba dari

lingkungannya di alam dan menumbuhkannya sebagai biakan murni dalam medium buatan.
Suatu bakteri yang telah ditumbuhkan dapat dimurnikan agar didapatkan 1 jenis bakteri saja.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Lay (1994) menyatakan bahwa biakan murni merupakan
biakan yang hanya mengandung satu jenis bakteri.
Bakteri dapat diperoleh hampir disetiap tempat, misalnya: di udara, diantara helaian
rambut, disela-sela gigi, di dalam tanah dan sebagainya. Untuk mempelajari morfologi koloni
bakteri, kita perlu menangkap dan munumbuhkan pada medium lempeng terlebih dahulu.
Pada umumnya koloni bakteri yang tertangkap pada medium lempeng ini akan tumbuh

setelah lebih kurang 1x24 jam. Bakteri yang akan kita pelajar lebih lanjut sebaikanya juga
buat biakan murni (Hastuti, 2012)
Pada penamatan koloni bakteri I menunjukkan warna putih sedangkan pada koloni
bakteri II menunjukkan warna kuning pucat. Perbedaan warna tiap koloni tersebut
dikarenakan perbedaan gizi dan kondisi lingkungan dari tempat bakteri tersebut
dikembangkan. Hal ini dinyatakan oleh Waluyo (2007) bahwa populasi bakteri tumbuh
sangat cepat ketika mereka disertakan dengan gizi dan kondisi lingkungan yang
memungkinkan mereka untuk berkembang. Melalui pertumbuhan ini, berbagai jenis bakteri
kadang-kadang akan menghasilkan koloni yang khas dalam penampilan. Beberapa koloni
mungkin akan berwarna, ada yang berbentuk lingkaran, sementara yang lain tidak teratur.
Karakteristik koloni (bentuk, ukuran, warna, dll) yang diistilahkan sebagai "koloni
morfologi" khas bagi tiap jenis bakteri.
Koloni bakteri mempunyai bermacam-macam bentuk, diantaranya adalah berbentuk
bundar, bundar dengan tepian kerang, bundar dengan tepian timbul, keriput, konsentris, tak
beraturan dan menyebar, berbenang-benang, bentuk L, bundar dengan tepian menyebar,
filliform, rizoid dan kompleks. Tepian koloni bakteri ada yang licin, berombak, berlekuk, tak
beraturan, sikat, bercabang, seperti wol, seperti benang dan dan seperti ikat rambut.
Sedangkan elevasinya ada yang datar, timbul, cembung, seperti tombol, berbukit-bukit,
tumbuh ke dalam medium dan seperti kawah (Hadioetomo, 1985).
Pada koloni bakteri I menampakkan bentuk koloni bundar, tepi koloni licin, elevasi
koloni cembung dan tampak mengkilat. Koloni II menampakkan bentuk koloninya bundar,
tepi koloni licin, elevasi koloni cembung dan tampak mengkilat. Seperti halnya warna,
bentuk, tepi, elevasi dari suatu koloni bakteri juga menunjukkan cirikhas dan perbedaan
fungsi dari bakteri tersebut seperti halnya perbedaan ciri morfologi yang ditunjukkan oleh
koloni bakteri I dan koloni bakteri II.
Pada pengukuran diameter koloni bakteri, didapatkan hasil yang berbeda.
penampakan suatu koloni bakteri dapat hanya berupa satu titik sampai ada yang menutupi
permukaan medium. Menurut Dwidjoseputro (2005) menjelaskan bahwa, besar ke kecilnya
koloni dapat hanya serupa suatu titik, adapula yang sampai menutup permukaan medium dari
hasil pengamatan morfologi koloni satu maka di dapatkan diameter koloni 1 adalah 0,32mm
dan pada koloni 2 adalah 5 mm. jumlah koloni dari masing-masing medium juga berbeda,

pada koloni 1 jumlah koloniya adalah 15 sedangkan pada koloni 2 hanya ditemukan 5 koloni.
Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa kedua koloni dapat tumbuh dengan baik, Karena
pada koloni 1, ukuran koloninya kecil tetapi tiga kali lebih banyak dari koloni 2 yang
bentuknya lebih besar. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuahan bakteri
diantaranya adalah :
Menurut Dakurni (2014) beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
mikroba yang didalamnya termasuk bakteri sebagai berikut :
(1) Konsentrasi nutrient, makin banyak bahan nutrisi yang diperlukan makin cepat
pertumbuhan mikroba
(2) pH (keasaman dan kebasaan), beberapa mikroba Konsentrasi nutrient, makin banyak
bahan nutrisi yang diperlukan makin cepat pertumbuhan mikroba mempunyai sifat pH
yang berbeda-beda untuk menunjang pertumbuhannya
(3) konsentrasi air, untuk pertumbuhan mikroba memerlukan konsentrasi yang cukup dan
sangat spesifik
(4) bahan alami, bahan alami tertentu bersifat antimikrobia, yaitu sifat menghambat
pertumbuhan mikrobia, misalnya golongan rempah-rempah
(5) suhu, mikrobia mempunyai sifat spesifi terhadap suhu untuk pertumbuhannya
(6) tekanan osmosis, mempengaruhi kestabilan dari dinding dan membrane sel mikroba
kedua koloni mempunyai sifat yang pekat, hal ini dapat dilihat ketika kita menyentunya
dengan jarum inokulasi.
Ukuran sel-sel mikroorganisme sangat kecil sekali dan tidak dapat diamati dengan
mata tanpa memakai atau menggunakan alat pembesar (Tarigan, 1988). Untuk itu saat
pengamatan bakteri ini kami menggunakan alat bantu berupa mikroskop. Mikroskop yang
digunakan berupa mikroskop cahaya. Pada saat pengukuran sel bakteri di laboratorium,
mikroskop yang kami gunakan adalah mikroskop nomor 10 yang telah kami tera
sebelumnya. Mikroskop cahaya merupakan mikroskop yang umum digunakan di
laboratorium untuk mengamati berbagai jenis mikroba. Mikroskop ini mempunyai 2
perangkat lensa yaitu lensa okuler dan lensa obyektif dan menggunakan cahaya sebagai
sumber iluminasi. Dengan mikroskop cahaya bayangan benda dapat diperbesar sampai 1000
kali dan dapat digunakan untuk memeriksa benda-benda atau bagian-bagian dari sel yang
berukuran lebih dari 200nm. Prinsip umum mikroskop adalah bahwa makin pendek
gelombang cahaya yang digunakan, maka resoluinya makin leih besar (Tarigan, 1988).

Ukuran besar bacteria bervariasi, tergantung dari spesiesnya. Rata-rata ukuran


diameter dan panjang bakteri pathogen yang berbentuk batang kira-kira 0,5 m dan 2 m,
sedangkan bakteri non pathogen yang berbentuk batang dapat mencapai diameter 4 m dan
panjangnya 20 m (Tarigan, 1988). Sedangkan menurut Kusnadi (2003), bentuk dan ukuran
sel bakteri bervariasi, ukurannya berkisar 0,4 2,0 mm. Bentuk sel bakteri dapat terlihat di
bawah mikroskop cahaya, dapat berbentuk kokus (bulat), basil (batang), dan spiral. Hal ini
sesuai dengan hasil pengukuran sel bakteri yang telah dilakukan. Bentuk bakteri pada koloni
1 maupun koloni 2 sama-sama berbentuk kokus. Pada koloni bakteri 1 rata-rata diameter sel
bakteri 3,33 m. Pada koloni bakteri 2 rata-rata diameter sel bakteri tersebut adalah 3,75m.
Rata-rata diameter dan panjang sel bakteri didapat dari tiga kali pengukuran.
H. Diskusi
1. Fajktor-faktor apakah yang mempengaruhi jumlah dan jumlah macam bakteri pada
suatu tempat ? jelaskan
2. Apakah kegunaan biakan murni bakteri ?
3. Tulislah perhitungan peneraan harga skala micrometer okuler pada perbesaran 400x
dan 1000x. mengapa perlu dilakukan peneraan pada kedua macam perbesaran
tersebut ?
4. Tulislah hasil pengukuran sel bakteri yang diamati dalam 3 ulangan. Lalu hitung nilai
reratanya. Mengapa sel bakteri yang berbentu basil hrus diukur panjang dan diameter
sel-nya? Sedang bakteri yang berbetuk kokus hanya diukur diameter saja?
Jawaban :
1. Keberadaan nutrien :Agar dapat bertahan di alam mikroba (termasuk bakteri)
harus mampu tumbuh dan berkembang biak dengan cepat, hal ini mungkin
dicapai jika bakteri tersebut dapat melakukan pengambilan nutrient secara efisien
sebab di alam terjadi persaingan memperebutkan nutrien yang jumlahnya terbatas.
Kondisi lingkungan : Kondisi lingkungan yang berbeda menyebabkan tumbuhnya
koloni bakteri yang berbeda pula.
2. biakan murni digunakan untuk memisahkan berbagai macam bakteri tersebut,
agar didapatkan 1 macam bakteri saja. Biakan murni digunakan pada saat
praktikum pengamatan koloni bakteri pada medium miring dan untuk mengetahui
bentuk koloni dari biakan murni tersebut.
3. 40 Skala pada mikroskop okuler berhimpit dengan 5 skala mikroskop objective,
jadi perhitunganya sebagai berikut :
40 skala m okuler = 5 skala m objective

= 5 x 0,01 mm
= 0,05 mm
1 skala m okuler = 0,05 / 40
= 0,00125 = 1,25 mikron, perbesaran 400 x
(perbesaran 1000x tidak dapat digunakan)
Peneraan pada mikroskop itu perlu karena harga skala ini tidak sama antara mikroskop yang
satu dengan mikroskop yang lain.
4. Hasil pengukuran pada 2 koloni bakteri adalah sebagai berikut :
Perhitungan 1 : 2 x 1,25 = 2,5 m
Perhitungan 2 : 3 x 1,25 = 3,75 m
Perhitungan 3 : 3 x 1,25 = 3,75 m
Dan rata-rata = jumlah perhitungan : banyaknya perhitungan
= 10 : 3 = 3,33 m
Hasil pengkuran pada koloni 2 untuk 3 sel yang dipilih adalah : 5 m, 3,75 m,
dan 2,5 m. Dan rata-rata = 3,75 m yang diperoleh dari:
Perhitungan 1 : 4 x 1,25 = 5 m
Perhitungan 2 : 3 x 1,25 = 3,75 m
Perhitungan 3 : 2 x 1,25 = 2,5 m
Dan rata-rata = jumlah perhitungan : banyaknya perhitungan
= 11,25 : 3 = 3,75 m
Sel bakteri berbentuk basil harus diukur panjang dan diameter selnya sedangkan sel
bakteri yang berbentuk kokus hanya diukur diameter sel saja karena pada sel bakteri dengan
bentuk basil atau batang memiliki ukuran yang berbeda antara panjang dan lebarnya.
Sedangkan pada kokus dari semua bidang pengukuran menunjukkan diameter yang sama
sehingga cukup dilakukan pengukuran pada diameternya saja.

I. Kesimpulan
1. Penampakan koloni bakteri dalam media lempeng agar menunjukkan bentuk dan ukuran
koloni yang khas, dapat dilihat dari bentuk keseluruhan penampakan koloni, tepi dan
permukaan koloni. Pada koloni 1, warna koloni putih, bentuk koloni bundar, tepi koloni
licin, elevasi koloni cembung, mengkilap, diameter koloni 0,32 mm, pekat jumlah koloni
15. Sedangkan pada koloni 2, warna koloni kuning pucat, bentuk koloni bundar, tepi
koloni licin, elevasi koloni cembung, mengkilap, diameter koloni 2 mm, jumlah koloni 5
2. Pada mikroskop yang digunakan no 5, pada perbesaran 400x didapatkan peneraan untuk
1 skala mikroskop okuler sebesar 1,25 m dan pada perbesaran 1000x tidak digunakan

kerena pada lensa mikroskop yang 1000x rusak. Jadi pada perbesaran 400x yang kita
pakai dalam mengukur sel bakteri.
3. Bentuk bakteri yang kita peroleh dari gedung biologi lantai 1 adalah berbentuk kokus.
Pada koloni bakteri 1 (kokus), rata-rata diameter selnya 3,33 m. Pada koloni 2 rata-rata
diameter sel bakteri adalah 3,75 m yang didapat dari tiga kali pengukuran.

DAFTAR RUJUKAN
Dewi, I.M. 2008. Isolasi Bakteri dan Uji Aktifitas Kitinase Termofilik Kasar dari
Sumber Air Panas Tinggi Raja, Simalungun, Sumatera Utara. Tesis.
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan.
Funke BR, Tortora GJ, Case CL. 2004. Microbiology: an introduction (edisi ke-8th ed,).
San Francisco: Benjamin Cummings
Hadiotomo, Ratna Siri., 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta : Pt Gramedia.
Hastuti, Utami Sri. 2012. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: UMMPress.
Holt, J.G., Krieg, N.R., Sneath, P.H.A., Staley, J.T. dan Williams, S.T. (1994),
Bergeys Manual of Determinative Bacteriology, Ninth Edition, Lippincot
Kusnadi, dkk. 2003. Mikrobiologi. JICA. Bandung: FMIPA UPI
Lay, W. B. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Pelczar, Michael J. dan E.C.S. Chan. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 2. Jakarta: UIPress.
Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Depertemen Pendidikan dan
Kebudayaan- Proyek pengembangan lembaga pendidikan tenaga kependidikan.