Anda di halaman 1dari 30

EVALUASI

PENDIDIKAN
PENGERTIAN EVALUASI PENDIDIKAN

Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa


Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M.
Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971)
mendefinisikan evaluasi sebagai the process of delineating,
obtaining, and providing useful information for judging decision
alternatives," Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan,
memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk
merumuskan suatu alternatif keputusan.

Sedangkan, Rooijackers Ad mendefinisikan evaluasi sebagai "setiap


usaha atau proses dalam menentukan nilai". Secara khusus evaluasi
atau penilaian juga diartikan sebagai proses pemberian nilai
berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan
pengambilan keputusan. Dan menurut Anne Anastasi (1978)
mengartikan evaluasi sebagai "a systematic process of determining
the extent to which instructional objective are achieved by pupils".
Evaluasi bukan sekadar menilai suatu aktivitas secara spontan dan
insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu
secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan tuiuan yang
jelas.

Evaluasi berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian yang


pada umumnya diartikan tidak berbeda (indifferent), walaupun pada
hakekatnya berbeda satu dengan yang lain. Pengukuran
(measurement) adalah proses membandingkan sesuatu melalui
suatu kriteria baku (meter, kilogram, takaran dan sebagainya),
pengukuran bersifat kuantitatif. Penilaian adalah suatu proses
transformasi dari hasil pengukuran menjadi suatu nilai. Evaluasi
meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai yang
digunakan dalam rangka pengambilan keputusan.

Evaluasi pendidikan memberikan manfaat baik bagi siswa/peserta


pendidikan, pengajar maupun manajemen. Dengan adanya
evaluasi, peserta didik dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan
yang telah digapai selama mengikuti pendidikan. Pada kondisi
dimana siswa mendapatkan nilai yang mernuaskan maka akan
memberikan dampak berupa suatu stimulus, motivator agar siswa
dapat lebih meningkatkan prestasi. Pada kondisi dimana hasil yang
dicapai tidlak mernuaskan maka siswa akan berusaha memperbaiki
kegiatan belajar, namun demikian sangat diperlukan pemberian
stimulus positif dari guru/pengajar agar siswa tidak putus asa. Dari
sisi pendidik, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik
untuk menetapkan upaya upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

RUANG LINGKUP

Evaluasi pendidikan mencakup dua sasaran pokok, yaitu : evaluasi


makro (program) dan evaluasi mikro (kelas). Secara umum, evaluasi
terbagi dalam tiga tahapan sesuai proses belajar mengajar yakni
dimulai dari evaluasi input, evaluasi proses dan evaluasi output.
Setiap jenis evaluasi memiliki fungsi yang berbeda satu dengan
yang lain. Evaluasi input mencakup fungsi kesiapan penempatan
dan seleksi. Evaluasi proses mencakup formatif, diagnostik dan
monitoring, sedangkan evaluasi output mencakup sumatif.

Fungsi kesiapan penempatan dan seleksi adalah penilaian yang


ditujukan untuk mengetahui ketrampilan prasyarat yang diperlukan
bagi suatu program belajar dan penguasaan belajar seperti yang
diprogramkan sebelum memulai kegiatan belajar untuk program
tersebut. Fungsi seleksi yaitu penilaian yang bertujuan untuk
keperluan seleksi, seperti ujian saringan masuk perguruan tinggi
tertentu dengan berdasarkan kriteria tertentu.
Fungsi formatif yaitu penilaian yang dilaksanakan pada akhir
program belajar mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan
proses belajar mengajar. Adapun fungsi diagnostik dan monitoring
adalah penilaian yang bertujuan untuk mengidentifikasi kelemahan
kelemahan siswa dan faktor yang menjadi penyebab serta
menetapkan cara untuk mengatasi kesulitan belajar tersebut.

Fungsi surnatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir unit


program, dengan tujuan untuk melihat hasil yang dicapai oleh para
siswa. Dengan kata lain berfungsi untuk mengetahui seberapa jauh
suatu proses pendidikan telah mencapai tujuan yang telah
ditentukan.

EVALUASI PROGRAM

Para ahli evaluasi telah mengembangkan beberapa jenis evaluasi


program. Jenis evaluasi program tersebut sangat beragarn dan
variatif, namun kesemuanya dapaat ditsimpulkan bahwa pada
akhirnya hasil dari evaluasi digunakan sebagai kepentingan
pengambilan keputusan. Berikut ini diuraikan berbagai jenis
evaluasi program yang samappai saat ini masih digunakan, sebagai
berikut:

CIPP (Context Input Process Product)

CIPP merupakan salah satu evaluasi program yang dapat dikatakan


cukup niemadai. Model ini telah dikembangkan oleh Daniel L.
Stufflebearn dkk (1967) di Ohio State University. CIPP merupakan
akronim, terdid dari : context evaluation, input evaluation, process
evaluation dan product evaluation dan setiap tipe evaluasi terikat
pada perangkat pengambilan keputusan yang menyangkut
perencanaan dan operasi sebuah program.

Evaluasi Konteks

Meliputi analisis masalah yang berhubungan dengan lingkungan


program yang dilaksanakan, yang secara khusus berpengaruh pada
konteks masalah yang menjadi komponen dalam piogram. Evaluasi
konteks menjelaskan atau
menggambarkan secara jelas tentang tujuan program yang akan
dicapai. Secara singkat dapat dikatakan evaluasi konteks;
merupakan evaluasi terhadap kebutuhan, yaitu memperkecil
kesenjangan antara kondisi aktual dengan kondisi yang diharapkan.

Dapat disimpulkan bahwa evaluasi konteks adalah evaluasi


terhadap kebutuhan, tujuan pernenuhan dan karakteristik individu
yang menangani. Seorang evaluator harus sanggup menentukan
prioritas kebutuhan dan memilih tujuan yang paling menunjang
kesuksesan program. Menurut Gilbert Sax, evaluasi konteks
merupakan pengambaran dan spesifikasi tentang lingkungan
program. Evaluasi konteks terutama berhubungan dengan
intervensi yang dilakukan dalam program.

Untuk memudahkan memahami evaluasi konteks, evaluator dapat


menjawab pertanyaan pertanyaan sebagai berikut :

1) Kebutuhan kebutuhan apa saja yang belum terpenuhi oleh


kegiatan program ?
2) Tujuan program apa saja yang menjadi prioritas pencapaiannya ?
3) Tujuan pengembangan manakah yang berhubungan dengan
pemenuhan kebutuhan ?
4) Tujuan tujuan manakah yang paling mudah dilaksanakan ?
5) Tujuan tujuan program manakah yang benar benar sangat
diinginkan masyarakat ?

Dalam menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut, stufflebleam


memberikan saran sebagai berikut, misalnya dalam menentukan
kebutuhan yang belum terpenuhi dengan meninjau kembali tujuan
program kemudian menilai pelaksanaan program. Dan kedua hal ini
diketahui kesenjangannya. Hal itulah yang menjadi kebutuhan yang
belum terpenuhi.

Evaluasi Masukan

Meliputi pertimbangan tentang sumber dan strategi yang akan


digunakan dalam upaya mencapai suatu program. Informasi
informasi yang terkumpul selama tahap evaluasi hendaknya dapat
digunakan oleh pengambil keputusan untuk menentukan sumber
dan strategi analisis masalah yang berhubungan dengan lingkungan
program yang di dalam keterbatasan dan hambatan yang ada.

Penilai masukan boleh rnempertimbangkan sumber tertentu apabila


sumber-sumber tersebut terlalu mahal untuk dibeli atau tidak
tersedia, dan pada pihak lain terdapat alternatif yang dapat
digunakan untuk mencapai tujuan program. Demikian juga
berkaitan dengan tenaga tenaga yang dapat melaksanakan
program dapat diperhitungkan sebagai sumber masukan.

Evaluasi masukan membutuhkan evaluator yang memiliki


pengetahuan luas dan berbagai ketrampilan tentang berbagai
kemungkinan sumber dan strategi yang akan digunakan mencapai
tujuan program. Pengetahuan tersebut bukan hanya tentang
evaluasi saja tetapi juga dalam efektifitas program dan
pengetahuan subtansi program itu sendiri dan berbagai bentuk
dalam pengeluaran program yang akan dicapai.

Menurut Stufflebean evaluasi masukan dilakukan untuk menjawab


pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

1) Apakah strategi yang digunakan oleh program sudah sesuai


dengan pencapaian tujuan?
2) Apakah sumber sumber termasuk (SDM) yang ada sudah sesuai
dengan beban program yang akan dijalankan?
3) Apakah strategi yang diambil ini merupakan strategi yang benar
benar sudah disepakati bersama oleh pengelola program?
4) Strategi yang manakah yang sudah ada sebelumnya dan sudah
cocok untuk pencapaian tujuan yang lalu?
5) Sumber sumber daya manakah yang benar benar mempunyai
kontribusi yang paling dominan?
6) Prosedur dan jadwal khusus manakah yang digunakan untuk
melaksanakan strategi tersebut?
7) Apakah yang dapat dikatakan sebagai ciri khusus dari kegiatan
yang dilaksanakan di dalam program dan apa pula akibat yang
ditimbulkannya.
8) Bagaimanakah urutan prioritas sumber daya dan strategi yang
paling mempunyai kontribusi terhadap pencapaian program?

Evaluasi Proses

Meliputi evaluasi yang telah ditentukan (dirancang) dan diterapkan


di dalam pratek (proses). Seorang penilai proses mungkin disebut
sebagai pemonitor sistern pengumpulan data dari pelaksanaan
program sehari hari. Misalnya saja evaluator harus mencatat secara
detail apa saja yang terjadi dalam pelaksanaan program. Pemonitor
harus mempunyai catatan harian dan perkembangan setiap langkah
dalarn pelaksanaan program. Tanpa mengetahui catatan tentang
data pelaksanaan program tidaklah rnungkin pengambil keputusan
menentukan tindak lanjut program apabila waktu berakhir telah
tiba. Tugas lain dari penilai proses adalah melihat catatan kejadian
kejadian yang muncul selama program tersebut berlangsung dari
waktu ke waktu. Catatan catatan semacam itu barangkali akan
sangat berguna dalam menentukan kelemahan dan kekuatan atau
faktor pendukung serta faktor penghambat program jika dikaitkan
dengan keluaran yang ditemukan.

Suatu program yang baik (yang pantas untuk dinilai) tentu sudah
dirancang mengenai siapa diberi tanggung jawab dalam kegiatan
apa, apa bentuk kegiatannya, dan kapan kegiatan tersebut sudlah
terlaksana. Tujuannya adalah membantu penanggung jawab
pemantau (monitor) agar lebih mudah mengetahui kelemahan
kelemahan program dari berbagai aspek untuk kemudian dapat
dengan mudah melakukan remedial atau perbaikan di dalam proses
pelaksanaan program.
Stufflebean mengemukakan pertanyaan pertanyaan sehubungan
dengan evaluasi proses ini, yaitu :
1) Apakah kegiatan program sudah sesuai dengan jadwal yang
ditentukan ?
2) Apakah pelaksana sudah melakukan tugasnya sesuai dengan job-
nya ?
3) Komponen apa saja yang belum sesuai dengan rancangan yang
telah dibuat ?
4) Target komponen apa saja yang kiranya sulit dicapai dalam
pelaksanaan program ? mengapa ? dan bagaimana solusinya ?
5) Perlukah para staf pelaksana diberi orientasi kembali mengenai
mekanisme kegiatan program ?
6) Apakah fasilitas yang telah disediakan oleh pengelola telah
sesuai dengan kegunaan fungsinya ? kalau tidak mengapa ?
7) Apakah fasilitas dan bahan penunjang lain telah digunakan
secara tepat ?
8) Hambatan hambatan penting apakah yang dijumpai selama
pelaksanaan program berlangsung dan perlu diatasi ?

Untuk membantu menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut,


Stufflebeam mengajukan saran kepada penanggung jawab program
agar setiap kali diadakan diskusi yang diikuti oleh para staf
pelaksana agar para staf tersebut selalu sadar akan mekanisme
program. Disamping itu hambatan hambatan yang timbul selama
dalam proses, segera dapat diidentifikasi, dan sambil jalan dapat
diatasi dan diperbaiki.
Evaluasi Hasil

Adalah evaluasi yang dilakukan oleh penilai di dalam mengukur


keberhasilan pencapaian tujuan tersebut dikembangkan dan
diadministrasikan. Data yang dihasilkan akan sangat berguna bagi
pengambil keputusan dalam menentukan apakah program
diteruskan dimodifikasi atau dihentikan.

Pengembangan jenis evaluasi program model CIPP telah


menekankan kerjasama dan keakraban antara tim penilai, pengelola
dengan pengambil keputusan tentang program. Setiap bentuk
evaluasi yang dijelaskan di atas telah menekankan tiga tugas pokok
yang dilakukan yaitu :

1) Membeberkan semua jenis informasi yang diperlukan oleh


pengambil keputusan.
2) Memperoleh informasi.
3) Mensintesakan informasi informasi sedemikian rupa sehingga
secara maksimal dapat dimanfaatkan oleh para pengambil
keputusan.

Evaluasi hasil merupakan tahap terakhir di dalam jenis CIPP yang


dikembangkan oleh Stufflebeam. Fungsinya adalah membantu
penanggung jawab program dalam mengambil keputusan :
meneruskan, memodifikasi atau menghentikan program. Evaluasi
hasil mernerlukan perbandingan antara tujuan yang ditetapkan
dalarn rancangan dengan hasil program dicapai. Hasil yang dinilai
dapat berupa skor tes, data observasi, diagram data, sosiometri dan
lain sebagainya, yang masing masing dapat ditelusuri kaitannya
dengan tujuan tujuan yang lebih rinci. Kita dapat
memperbandingkan pencapaian tujuan dengan hasil yang dicapai
rnelalui presentase tiap tiap komponen program. Kemudian
membuat analisis kualitatif mengapa sekian persen dicapai dan
mengapa hal itu terjadi.

Stufflebeam telah menyarankan beberapa pertanyaan berkenaan


dengan evaluasi hasil, sebagai berikut:

1) Tujuan tujuan manakah yang sudah dicapai ?


2) Pertanyaan pertanyaan seperti apakah yang dapat dibuat yang
menunjukkan hubungan antara spesifilkasi prosedur dengan hasil
nyata dari kegiatan program?
3) Kebutuhan individu manakah yang telah terpenuhi sebagai
akibat dari kegiatan program ?
4) Hasil jangka panjang yang nampak sebagai akibat dan kegiatan
program ?

Apabila tujuan yang ditetapkan program telah tercapai maka


ukurannya tergantung dari kriteria yang telah ditetapkan. Ada
kriteria (tolak ukur) yang menggunakan 100% sebagai standar, ada
pula yang hanya 80%. Hal itu tergantung dari kepentingan setiap
aspek yang diukur misalnya kesulitan pencapaian, kesederhanaan
aspek bagi program dan sebagainya.

Eksperimen tentang perlakuan ada kalanya dinilai dengan


membandingkan keberhasilannya melalui dua program atau lebih.
Berhasil tidaknya variabel eksperimen dilihat pada akhir pemberian
eksperimen tersebut. Efektifitas perlakuan yang diterapkan pada
satu program dapat dilihat dengan cara membandingkan rerata
(mean) skor akhir kedua program yang satu merupakan kelompok
eksperimen dengan yang bukan. Tidak jarang terjadi bahwa
pimpinan yang berstatus sebagai pengambil keputusan, tidak begitu
memaharni tentang strategi eksperimen. Dalam hal seperti ini
mereka disarankan bertanya kepada ahli yang rnemahami atau
pada para pakar di perguruan tinggi.

Walaupun hasil eksperimen menunjukkan adanya perbedaan antara


kedua kelompok (yang dikenal eksperimen dan yang bukan) namun
pengambil keputusan tidak dapat begitu cepat mernutuskan untuk
meneruskan, memodifikasi atau menghentikan perlakuan tersebut.
Faktor faktor fain yang harus diikutsertakan sebagai bahan
pertimbangan misainya biaya yang harus dipikul oleh individu atau
masyarakat. Kemanfaatan (benefit) program yang nampaknya baru
dapat dilihat atau dinikmati setelah jangka waktu lama. Perlu
dipertimbangkan pengambilan kaputusannya dalam jangka waktu
yang relatif lama pula.

Model Kesenjangan (Discrepancy)

Evaluasi kesenjangan program, begitu orang menyebutnya.


Kesenjangan program adalah sebagai suatu keadaan antara yang
diharapkan dalam rencana dengan yang dihasilkan dalam
pelaksanaan program. Evaluasi kesenjangan dimaksudkan untuk
mengetahui tingkat kesesuaian antara standard yang sudah
ditentukan dalam program dengan penampilan aktual dari program
tersebut.

Standar adalah: kriteria yang telah dikembangkan dan ditetapkan


dengan hasil yang efektif. Penampilan adalah: sumber, prosedur,
manajemen dan hasil nyata yang tampak ketika program
dilaksanakan.
Langkah Langkah dalam Evaluasi Kesenjangan

Langkah langkah atau tahap tahap yang dilalui dalam mengevaluasi


kesenjangan adalah sebagai berikut:

1. Pertama : Tahap Penyusunan Desain.


Dalam tahap ini dilakukan kegiatan
a. Merumuskan tujuan program
b. Menyiapkan murid, staf dan kelengkapan lain
c. Merumuskan standar dalam bentuk rumusan yang
menunjuk pada suatu yang dapat diukur, biasa di dalam
langkah ini evaluator berkonsultasi dengan pengembangan
program.

Contoh rumusan standar:


"Keberhasilan Program KPSM yang distandarkan adalah 70 %
Warga Belajar meningkat pendapatannya dan ketrampilannya.
2. Kedua : Tahap Penetapan Kelengkapan Program Yaitu melihat
apakah kelengkapan yang tersedia sudah sesuai dengan yang
diperlukan atau belum. Dalam tahap ini dilakukan kegiatan
a. Meninjau kembali penetapan standar
b. Meninjau program yang sedang berjalan
c. Meneliti kesenjangan antara yang direncanakan dengan yang
sudah dicapai.
3. Ketiga : Tahap Proses (Process)
Dalam tahap ketiga dari evaluasi kesenjangan ini adalah
mengadakan evaluasi, tujuan tujuan manakah yang sudah
dicapai. Tahap ini juga disebut tahap “mengumpulkan data dari
pelaksanaan program”.
4. Keempat : Tahap Pengukuran Tujuan (Product)
Yakni tahap mengadakan analisis data dan menetapkan tingkat
output yang diperoleh. Pertanyaan yang diajukan dalam tahap ini
adalah .apakah program sudah mencapai tujuan terminalnya?"
5. Kelima : Tahap Pembandingan (Programe Comparison)
Yaitu tahap membandingkan hasil yang telah dicapai dengan
tujuan yang telah ditetapkan. Dalam tahap ini evaluator
menuliskan semua penemuan kesenjangan untuk disajikan
kepada para pengambil keputusan, agar mereka (ia) dapat
memutuskan kelanjutan dari program tersebut. Kemungkinannya
adalah a. Menghentikan program b. Mengganti atau
merevisi c. Meneruskan d, Memodifikasi

tujuannya (?)

Kunci dari evaluasi discrepancy adalah dalam hal


membandingkan penampilan dengan tujuan yang telah
ditetapkan.

DESAIN EVALUASI
Sebelum melakukan desain evaluasi maka terlebih dahulu harus
dilakukan fokus evaluasi yaitu mengkhususkan apa dan bagaimana
evaluasi akan dilakukan. Bila evaluasi sudah terfokus, maka ini
berarti proses dan desain dimulai. Ada tiga elernen dalam proses
pemfokusan, yaitu : mempertemukan pengetahuan dan harapan,
mengumpulkan informasi, dan merumuskan rencana evaluasi.

Penyusunan desain evaluasi program merupakan langkah pertama


dan menyangkut aspek perencanaan. Di dalam tahap perencanaan
ini diuraikan garis garis besar mengenai hal hal lain yang berkaitan
dengan kegiatan evaluasi tersebut. Evaluasi program merupakan
pelayanan bantuan kepada pelaksana program untuk memberikan
input bagi pengambilan keputusan tentang kelangsungan program
tersebut. Oleh karena itu, maka pelaksana evaluasi program harus
memahami seluk beluk program yang dinilai.

1. Pengambilan keputusan mengeluarkan kebijakan mengenai


pelaksanaan suatu program.
2. Kepala Sekolah menunjuk evaluator program (dapat dari bagian
dalam pengelola ataupun orang luar dari program) untuk
melaksanakan evaluasi program setelah melaksanakan selama
jangka waktu tertentu.
3. Penilai program melaksanakan kegiatan penilaiannya,
mengumpulkan data, menganalisis dan menyusun laporan.
4. Penilai program menyampaikan penernuannya kepada pengelola
program.

Adapun komponen komponen evaluasi program, sebagai berikut:

1. Tujuan yang ditetapkan oleh pengambil keputusan dan


diberitahukan kepada pelaksana program.
2. Kegiatan semua aktifitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan.
Oleh karena itu, kegiatan harus relevan benar dengan tujuan
3. Sarana fasilitas penunjang kegiatan
4. Person pelaksana kegiatan
5. Hasil keluaran sebagai akibat dari kegiatan,

Efektifitas program ditentukan oleh sejauh mana hasil ini telah


mendekati tujuan. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut
diperlukan seorang evaluator dalam penyusunan desain evaluasi
program. Sebelum evaluator menyusun desain terlebih dahulu
harus mengetahui betul apa tugasnya. Secara garis besar terdapat
tiga hal yang harus ditangani oleh seorang evaluator, yaitu :

1. Keberhasilan pencapaian tujuan:


Hubungan antara tujuan dengan hasil merupakan hal utama yang
harus ditangani oleh seorang evaluator. Mereka harus memusatkan
perhatiannya terhadap keberhasilan ini. Namun, evaluator tidak
boleh terpaku terlalu erat dengan tujuan. Hal ini disebabkan, ada
beberapa program mencanturnkan dengan jelas apa yang ingin
dicapai dengan kegiatannya akan tetapi ada pula yang ticlak
merumuskannya sama sekali. Pada kondisi ini, evaluator harus
mencari informasi mengenai tujuan program tersebut karena ticlak
mungkin seorang evaluator bekerja tanpa mengetahui tujuan apa
yang ingin dicapai.

2. Tujuan program, yang dirumuskan oleh pengembang program.


Tujuan umum suatu program akan dijadikan titik awal kegiatan
evaluator dalam menyusun desain evaluasi.

3. Proses yang terjadi dalam program, meliputi kegiatan, sarana


penunjang dan personil pelaksana program.
Dalam hal ini, kegiatan merupakan aktualisasi yang ditentukan oleh
para pengembang program. Kegiatan menunjukkan pada aktivitas
yang diperhitungkan dari prosedur, teknik dan proses lain yang
berkaitan dengan sumber pencapaian tujuan. Banyak evaluator
program hanya terpaku pada hasil pencapaian dan kurang
memperhatikan kegiatan yang menghasilkan pencapaian tujuan
tersebut. Sarana biasanya terwujud

pada peralatan, ruangan, biaya dan hal hal lain yang diperhitungkan
antara lain: Apakah sarana yang digunakan sudah tepat ? Apakah
program itu mahal ? Apakah ada biaya yang belum
diperhitungkan ?; sedangkan Person adalah pelaksana program baik
yang tergolong sebagai tenaga edukatif, administratif maupun
pengelola.

Langkah Penyusunan Desain

Sesudah memahami tentang isi yang terdapat di dalam program


yang merupakan objek evaluasi, maka langkah selanjutnya adalah
melakukan penyusunan desain. Adapun hal hal yang perlu
dilaksanakan, antara lain:

1 . Latar belakang.
2. Problematika (yang akan dicari jawabannya).
3. Tujuan evaluasi.
4. Populasi dan sampel
5. Instrumen dan sumber data
6.Teknik analisis data.
Langkah Penyusunan Instrumen

Adapun langkah langkah yang harus dilalui dalam menyusun


instrumen, adalah :
1. Merurnuskan tujuan yang akan dicapai dengan instrumen yang
akan disusun. Bagi para peneliti pemula, merumuskan tujuan
seperti ini tidak lazim. Padahal sebenarnya langkah ini sangat
perlu. Ticlak mungkin kiranya, atau apabila mungkin akan sukar
sekali dilakukan, menyusun instrumen tanpa tahu untuk apa data
terkumpul, apa yang harus dilakukan sesudah itu, apa fungsi
setiap jawab dalam setiap butir bagi jawaban problematika dan
sebagainya.
2. Membuat kisi kisi yang mencanangkan tentang perincian variabel
dan jenis instrumen yang akan digunakan untuk mengukur
bagian variabel yang bersangkutan.
3. Membuat butir butir instrumen.
Sesudah memiliki kisi kisi seperti contoh di atas, langkah penilai
berikutnya adalah membuat butir butir instrumen.

Menyusun instrumen bukanlah pekerjaan yang mudah. Bagi peneliti


pemula atau orang yang kurang tertarik pada pekerjaan evaluasi,
tugas menyusun instrumen merupakan pekerjaan yang
membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang tinggi.

Kriteria Evaluator

Untuk memperoleh hasil evaluasi yang akurat, maka diperlukan


kriteria keberhasilan dan kriteria tertentu terutama bagi evaluator
program, di bawah ini diuraikan kriteria tersebut
Memahami mated

Memahami mated yaitu memahami tentang seluk beluk program


yang dievaluasi, antara lain :

1 . Tujuan program yang telah ditentukan sebelum dimulai kegiatan


2. Komponen komponen program
3. Variabel yang akan diujicobakan atau dilaksanakan
4. Jangka waktu dan penjadualan kegiatan
5. Mekanisme pelaksanaan program
6. Pelaksanaan program
7. Sistem monitoring kegiatan program

Kriteria keberhasilan yang ditetapkan adalah dilihat dari mated,


maka Evaluator membuat format pencapaian materi program yang
direncanakan
dibandingkan dengan yang telah digapai berdasarkan penjabaran
point 1 sampai dengan 7.

Menguasai Teknik

Menguasai teknik yaitu menguasai cara cara atau teknik yang


digunakan di dalarn melaksanakan evaluasi program. Karena
kegiatan evaluasi program mengenai sejumlah evaluasi, maka
evaluator program dituntut agar menguasai metodologi evaluasi,
yang meliputi

1. Cara membuat perencanaan evaluasi


2. Teknik menentukan populasi dan sampel
3. Teknik menyusun instrumen
4. Prosedur dan teknik pengumpulan data
5. Penguasaan teknik pengolahan data
6. Cara menyusun laporan evaluasi

Untuk metodologi yang terakhir ini evaluator program harus


menguasai sesuatu yang lebih dibandingkan dengan peneliti karena
apa yang disampaikan akan sangat menentukan kebijaksanaan
yang terkadang memiliki resiko lebih besar.

Kriteria keberhasilannya adalah seorang evaluator harus dapat


membuat point 1 sampai dengan 6 secara opersional.

Objektif dan Cermat

Tim evaluator adalah sekelompok orang yang mengemban tugas


mengevaluasi program serta ditopang oleh data yang dikumpulkan
secara cermat dan objektif. Atas dasar tersebut mereka diharapkan,
mengklasifikasikan, mentabulasikan, mengolah dan sebagainya
secara cermat dan objektif pula. Khususnya di dalam menentukan
pengambilan strategi penyusunan laporan, evaluator tidak boleh
memandang satu atau dua aspek sebagai hal yang istimewa dan
tidak boleh pula memihak. Kriteria keberhasilan yang dipakai adalah
apabila hasil penilaian dari evaluator dapat menunjukkan hasil yang
objektif dengan alasan rasional dan didukung oleh data data yang
akurat.

Jujur dan Dapat Dipercaya


Evaluator adalah orang yang dipercaya oleh pengelola dan
pengambil keputusan, oleh karena itu mereka harus jujur dan dapat
dipercaya. Mereka harus dapat memberikan penilaian yang jujur,
tidak membuat baik dan jelek, menyajikan data apa adanya.
Dengan demikian pengelola dan pengambil keputusan tidalk salah
membuat treatment akan programnya.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang


evaluator agar dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
secara tepat, yaitu :

1. Evaluator hendaknya merupakan evaluator yang otonom artinya


orang luar yang sama sekali tidak ada ikatan dengan
pengambilan kebijaksanaan maupun pengelola dan pelaksanaan
program.
2. Ada hubungan baik dengan responden dalam arti dapat
memahami sedalam dalamnya watak, kebiasaan dan cara hidup
klien yang akan dijadikan sumber data evaluasi.
3. Tanggap akan masalah politik dan sosial karena tujuan evaluasi
adalah pengembangan program.
4. Evaluator berkualitas tinggi, dalarn arti jauh dari biasa. Evaluator
adalah orang yang mempunyai self concept yang tinggi, tidak
mudah terombang-ambing.
5. Menguasai teknik untuk membuat desain dan metodologi
penelitian yang tepat untuk program yang dievaluasi.
6. Bersikap terbuka terhadap kritik. Untuk mengurangi dan
menahan diri dari bias, maka evaluator memberi peluang kepada
orang luar untuk melihat apa yang sedang dan telah dilakukan
7. Menyadari kekurangan dan keterbatasannya serta bersikap jujur,
menyampaikan (menerangkan) kelemahan dan keterbatasan
tentang evaluasi yang dilakukan.
8. Bersikap pasrah kepada umum mengenai penemuan positif dan
negatif. Evaluator harus berpandangan luas dan bersikap tenang
apabila menemukan data yang tidak mendukung program dan
berpendapat bahwa penemuan negatif sama pentingnya dengan
penemuan positif.
9. Bersedia menyebarluaskan hasil evaluasi. Untuk program
kegiatain yang penting dan menentukan, hasil evaluasi hanya
pantas dilaporkan kepada pengambil keputusan dalam sidang
tertutup atau pertemuan khusus. Namun untuk program yang
biasa dan dipandang bahwa masyarakat dapat menarik manfaat
dari evailuasinya, sebaiknya hasil evaluasi disebarluaskan,
khususnya bagi pihak pihak yang membutuhkan.
10. Tidak mudah membuat kontrak. Evaluasi yang tidak
memenuhi persyaratan persyaratan yang telah disebutkan
sebaiknya tidak dengan mudah menyanggupi menerima tugas
karena secara etis dan moral akan merupakan sesuatu yang
kurang dapat dibenarkan.

CONTOH DESAIN EVALUASI

Latar belakang :

Dari pengamatan beberapa tahun diketahui bahwa program


program peningkatan pendapatan dan ketrampilan ternyata kurang
berhasil dari yang diharapkan. Dit. Diktentis sebagai lembaga yang
menangani pembinaan teknis edukatif ingin mencoba program baru
EMPE di SKB. Pedoman disusun oleh tim Dit. Diktentis yang
dikoordinasikan oleh Direktur Diktentis dan dikirim langsung ke SKB
dalam bentuk jadi, disertai dengan biaya penunjang.
Setelah program tersebut berlangsung beberapa bulan, Balitbang
Dikbud ingin mengetahui efektifitas modul, untuk menentulkan
kebijaksanaan selanjutnya: karena dipikirkan kelangsungan dan
penyebarannya untuk sekolah sekolah lain.

Problematika :

Sebagai problematika umum yang akan dicari jawabannya adalah


"apakah program EMPE dapat meningkatkan ketrampilan dan
pendapatan anggotanya dalarn kurun waktu tertentu ? untuk
mempermudah mencari jawaban, maka dirinci sebagai berikut:

1. Aspek Warga Belajar, antara lain


a. Apakah warga belajar aktif dalam kegiatan EMPE ?
b, Apakah tiap warga belajar mempunyai peran aktif ?
2. Aspek kegiatan EMPE, antara lain :
a. Apakah kegiatan EMPE berjalan sesuai rencana ?
b. Apakah fasilitator dan pengelola aktif dalam kegiatan EMPE ?
c. Apakah kegiatan EMPE dapat dilaksanakan secara lancar ? Bila
tidak apa
sebabnya ?
d. Bagaimanakah kegiatan pemasaran hasil EMPE ?
e. Bagaimanakah manajemen EMPE ?
f. Hambatan apa dalam kegiatan EMPE ?

3. Aspek sarana, antara lain :


a. Sesuaikah dan kurangkah sarana/alat yang disediakan untuk
keperluan kegiatan
EMPE ?
b. Apakah warga belajar tidak mengalami kesulitan dalam
menggunakan sarana / alat
tersebut ?
4. Aspek Fasilitator dan pengelola, antara lain
a. Apakah fasilitator dan pengelola, tidak mengalami kesulitan
dalam membina dan
mengelola EMPE ?
b. Bagaimana hubungan antara Fasilitator dan Pengelola dengan
warga belajar
dalam kegiatan EMPE ?
5. Aspek Hasil Belajar, antara lain :
a. Secara keseluruhan apakah kegiatan EMPE dapat
meningkatkan ketrampilan dan
pendapatan warga belajar ?
b. Kalau dapat berapa prosen kenaikan tersebut ? dan kalau tidak
apa sebabnya ?
berapa prosen ketidakmeningkatan tersebut ?
6. Aspek Tujuan Evaluasi :

Tujuan umum: tujuan evaluasi program adalah mengumpulkan


informasi mengenai efektifitas pelaksanaan kegiatan EMPE.

Tujuan khusus : dari tujuan umum tersebut dapat dirinci atas


tujuan-tujuan khusus sebagai berikut :
a) Untuk mengetahui tanggapan warga belajar, pengelola, tutor,
fasilitator dan penanggung jawab program terhadap kegiatan
EMPE.
b) Untuk mengetahui hal hal yang berhubungan dengan kegiatan
EMPE.
c) Untuk mengetahui ketepatan sarana dalam menunjang
pelaksanaan kegiatan EMPE.
d) Untuk mengetahui kesulitan yang dihadapi pengelola, fasilitator,
penanggung jawab dan orang yang terlibat dalam kegiatan
EMPE.
e) Untuk mengetahui prosentase peningkatan ketrampilan dan
pendapat warga belajar.

7. Populasi dan sampel


Evaluasi dilakukan pada SKB yang dilaksanakan EMPE. SKB yang
akan dijadikan tempat evaluasi dilakukan terhadap populasi
maupun sampel, menurut variabel yang dinilai.
8. Instrumen dan sumber data :
Khusus evalusi program ini cukup banyak dan komprehensif, oleh
karena itu instrumen untuk rnengumpulkan data perlu bervariasi.
a. Untuk rnengetahui tanggapan warga belajar tentang kegiatan
EMPE dengan modul digunakan wawancara dan pengamatan
dengan sumber data para warga belajar yang aktif dalam
kelompok.
b. Untuk mengetahui hal hal yang berhubungan dengan kegiatan
pengelola digunakan :
1. Pengamatan di dalam kelompok dengan sumber data
kegiatan langsung dari aktifitas yang diamati.
2. Wawancara dengan sumber data yaitu : pengelola, tutor dan
orang orang yang terlibat aktif.
3. Dokumentasi tentang pelaksanaan kegiatan EMPE dengan
sumber data buku pengelolaan, buku kerja, buku laporan
tugas, dan catatan catatan lain (paper).
4. Angket tentang pengelolaan sarana / alat kepada pengelola.
5. Untuk mengetahui ketetapan sarana yang digunakan dalam
kegiatan, data dikumpulkan melalui pengamatan, wawancara,
dan dokumentasi, sumber data dapat laboratorium, kegiatan
praktikum warga belajar dan pengelola.
6. Untuk mengetahui kesulitan yang dihadapi dalam
pelaksanaan sistem EMPE data dikumpulkan melalui
wawancara dengan fasilitator, warga belajar pengelola dan
tanggung jawab.
7. Untuk mengetahui peningkatan ketrampilan dan pendapatan
warga belajar, datanya dikumpulkan melalui : dokumentasi
pembukuan, pengamatan terhadap kegiatan warga belajar,
wawancara kepada warga belajar mengenai hasilnya.
Sedangkan untuk mengetahui pengelolaan sistem EMPE,
datanya dikumpulkan melalui wawancara dengan para
pengelola kelompok.

9. Teknik analisis data


Teknik yang digunakan untuk menganafisis data disesuaikan
dengan bentuk problematika dan jenis data.
a. Problematika yang mengandung variabel tunggal, dianalisis
secara diskriptif kualitatif.
b. Problematika komparasi atau korelasi dijawab dengan jawaban
dari data yang diolah
dengan teknik statistik korelasi, t-test, ANAVA.
BENEFIT MONITORING AND EVALUATION (BME)

Sistem Evaluasi dan Monitoring Benefit atau biasa disebut sebagai


Benefit Monitoring and Evaluation (BME) adalah kegiatan monitoring
dan evaluasi terhadap suatu program atau proyek dalarn rangka
mengetahui sejauh mana program atau proyek tersebut
memberikan manfaat sesuai dengan tujuan yang telah
direncanakan.

Salah satu pihak yang mempromosikannya adalah ADB (ASIAN


DEVELOPMENT BANK). BME dirnaksudkan untuk menghimpun
berbagai informasi berkaitan dengan impact sebuah proyek dan
atau nilai guna (benefit).

Pengertian tentang benefit ini sendiri sangat beragam, ada yang


mengartikannya sebagai keuntungan/laba/profit (berkaitan dengan
uang), adapula yang memberi arti lebih fieksibel yaitu nilai
manibatinilai guna (tidak harus berupa uang), dari sebuah hasil
produksi (barang, jasa, tenaga manusia). Kegunaannya antara lain,
untuk meningkatkan kebijakan tentang efektifitas dari sebuah
proses produksi.

Monitoring dan evaluasi dinilai sebagai himpunan kegiatan penting


yang memungkinkan para pihak (stakeholders) untuk
mernperkirakan perkembangan sebuah proyek selarna kegiatannya
termasuk di dalarnnya adalah intervensi intervensi tentang
keberhasilan atau kegagalan. Monitoring meliputi pengurnpulan
data selarna pengernbangan bila intervensi diberlakukan. Adapun
evaluasi biasanya terkait dengan impact yang meliputi lingkungan
hidup, misalnya peningkatan akses kepada sumber daya dan asset
untuk kelornpok khusus kaum miskin, perubahan tentang
kerniskinan dan kesejahteraan atau tentang kapasitas tertentu
(latihan, skill, pengetahuan). Evaluasi biasanya dilakukan pada
pertengahan proyek berjalan (melalui intervensi), pada akhir
proyek, ataupun setelah proyek dinyatakan selesai. Evaluasi yang
dilakukan dapat berbentuk formative atau summative.

Evaluasi formative digunakan untuk membantu peserta dalam


belajar dari pengalaman dan perubahan tindakan yang terjadi.
Adapun evaluasi summative digunakan untuk mengembangkan
gagasan dari keseluruhan impact yang timbul dalam mencapai
keputusan tertentu.
Evaluasi yang dilakukan juga dapat dipandang secara subyektif atau
obyektif, dapat pula menggunakan indikator kualitatif atau
kuantitatif. Indikator kualitatif misalnya persepsi tentang inequality,
derajat ketidakamanan pangan/food insecurity, persepsi tentang
kekuatan dan kelemahan. Adapun Indikator kuantitatif misalnya
pendapatan, belanja dan tabungan, tingkat produksi pertanian, stok
populasi ternak.

Dengan kata lain, kegiatan evaluasi dan monitoring benefit


terhadap suatu program atau proyek dilakukan secara komprehensif
dan dinamis, mencakup pengkajian berbagai komponen input,
process, output (hasil) dan outcome (dampak) dari program atau
proyek yang dilaksanakan. Dari hasil pengkajian terhadap seluruh
kornponen tersebut diharapkan dapat diketahui seberapa jauh
manfaat suatu program atau proyek, dibandingkan dengan tujuan
yang telah direncanakan sebelumnya.

Namun, terdapat tiga area kesulitan yang menurut Eric Diggest


sering terjadi dalam supervisi dan pengendalian pada pendidikan
tinggi, yaitu :

1. Ukuran, pengalaman inventory, chek list, hasil riset yang tak


sepadan dapat melernahkan reliabilitas dan validitas.
2. Trainee bidang konseling bebas untuk mengembangkan
kernampuan konseling tetapi tidak mendapat gelar akadernik.
3. Para supervisor tidak dapat mengartikulasikan sasaran supervisi
yang diinginkan oleh administratur pendidikan tinggi karena
kurang menguasai teori supervisi.
Hal yang menjadi penyebab di atas, dikarenakan BME itu sendiri
terdiri dari tiga kegiatan yang berbeda, yaitu:

1. Persiapan dan analisis benchmark (baseline) informasi.


Benchmark informasi meliputi info yang bersifat kualitatif dan
kuantitatif tentang arti pentingnya karakter sosial ekonomi
individu dan atau kelompok yang terkait dengan proyek.
Informasi ini bermanfaat untuk merancang sebuah proyek agar
sesuai dengan kebutuhan dan kemanfatannya bagi
user/customer.

2. Monitoring benefit rneliputi penyampaian pelayanan, kapan dan


bagaimana pelanggan memanfaatkannya, efek segera dari
pelayanan yang disediakan melalui proyek.

3. Tiga Iangkah utama evaluasi benefit meliputi penyiapan TOR


(terms of reference) untuk organisasi evaluasi, seleksi organisasi
dan supervisi selama evaluasi beriangsung.

Dalam bidang pendidikan, kegiatan benefit monitoring and


evaluating telah banyak dilakukan di Indonesia, terutama terhadap
program atau proyek yang selama ini sudah dilaksanakan seperti
proyek pendidikan dasar atau Basic Education Project (BEP), baik di
lingkungan Departemen Pendidikan Nasional untuk tingkat sekolah
dasar dan sekolah menengah, dan di Iingkungan Departemen
Agama untuk tingkat madrasah lbtidaiyah dan Tsanawiyah.

Sebagai contoh, untuk kegiatan BME BEP di Iingkungan Departemen


Agama telah dilakukan sejak tahun 2000 sampai tahun 2002 untuk
mengkaji proyek BEP yang sudah dijalankan pada madrasah
Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Proyek BEP itu sendiri telah berlangsung
mulai tahun 1995/1996 sampai tahun 2001. Melalui kegiatan BME,
dilakukan pengkajian apakah proyek BEP di Departemen Agama
tersebut dapat memberikan manfaat bagi peningkatan mutu
pendidikan dasar khususnya di madrasah Ibtidaiyah dan
Tsanawiyah. Pengkajian dalam hal ini mencakup kelancaran
distribusi bantuan yang disampaikan dan manfaat bantuan proyek
BEP bagi sekolah, pembelajar, tenaga pendidik, kepala madrasah,
pengelola madrasah, yayasan, pengelola proyek, lembaga
pelatihan, dan masyarakat pada umumnya.

Dirangkum dari berbagai sumber


www.sudartokarim.blogspot.com
also can be seen at Mixing Blogging