Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Petir adalah suatu fenomena alam, yang pembentukannya berasal dari
terpisahnya muatan di dalam awan cumulonimbus, yang terbentuk akibat adanya
pergerakan udara keatas akibat panas dari permukaan laut serta adanya udara yang
lembab. Umumnya muatan negatif terkumpul dibagian bawah dan ini
menyebabkan terinduksinya muatan positif di atas permukaan tanah, sehingga
membentuk medan listrik antara awan dan tanah. Jika muatan listrik cukup besar
dan kuat medan listrik di udara dilampaui, maka terjadi pelepasan muatan berupa
petir atau terjadi sambaran petir yang bergerak dengan kecepatan cahaya dengan
efek merusak yang sangat dahsyat karena kekuatannya.
Petir bagi masyarakat modern menjadi kendala yang serius karena
kemampuannya untuk merusak infrastruktur yang membutuhkan jaringan tenaga
listrik, telekomunikasi, proses data dan informasi melalui jaringan komputer serta
sistem instrumentasi. Infrastruktur tersebut banyak menggunakan komponen
elektronik yang sangat sensitif dan rentan terhadap pengaruh tegangan lebih
akibat sambaran petir. Tegangan lebih yang menjadi ancaman bagi peralatanperalatan elektronik bukanlah karena tegangan lebih akibat sambaran petir
langsung tetapi disebabkan tegangan lebih yang masuk ke sistem karena proses
tidak langsung.
Gedung PT Telekomunikasi Indonesia, Witel Jatim Selatan yang terletak di
Blimbing Malang merupakan kantor yang mengurusi seluruh kegiatan perusahaan
PT Telkom di wilayah Jawa Timur bagian Selatan. Dengan demikian, pada
gedung ini terdapat peralatan telekomunikasi dan instalasi sistem daya listrik dan
lain sebagainya, yang sangat penting. Peralatan tersebut sangat rentan
terhadap sambaran petir langsung maupun tegangan lebih yang timbul akibat
gelombang elektromagnetik.
Untuk menjamin kontinuitas pelayanan data, keamanan peralatan dan
instalasi, serta menghindari kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan akibat
sambaran petir baik langsung maupun tidak langsung, perlu adanya sistem
proteksi petir eksternal dan internal terpasang.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah pada laporan
ini, antara lain:
1.

Bagaimana prosedur pelaksanaan sistem grounding di Gedung Telkom


Malang?

2.

Bagaimana penggunaan alat untuk pengecekan dan perawatan sistem


grounding?

3.

Apa saja data lapangan yang didapatkan ketika dilakukan pengecekan sistem
grounding?

4.

Apa saja noise dan kendala yang didapatkan ketika pengecekan sistem
grounding dilakukan?

1.3 Tujuan
1.3.1

Tujuan Kuliah Kerja Lapang (KKL)

Adapun tujuan Kuliah Kerja Lapang (KKL), antara lain:


1.

Memenuhi beban SKS yang harus ditempuh sebagai persyaratan akademis di


Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya.

2.

Mendapatkan pengalaman dalam lingkungan kerja dan mendapat peluang


untuk berlatih menangani permasalahan dalam dunia kerja serta melaksanakan
studi perbandingan antara teori yang didapat di perkuliahan dengan
penerapannya di dunia kerja.

3.

Menyelaraskan ilmu dan teknologi yang didapat di perkuliahan dengan real di


lapangan.

1.3.2

Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian pada

laporan ini, antara lain:


1. Mengetahui prosedur pengamatan sistem grounding di Gedung Telkom
Malang.
2. Mengetahui penggunaan alat untuk pengecekan dan perawatan sistem
grounding.
3. Mengetahui data lapangan yang didapatkan ketika dilakukan pengecekan
sistem grounding.
4. Mengetahui noise dan kendala yang didapatkan ketika pengecekan sistem
grounding dilakukan.

1.4 Manfaat
1.4.1

Manfaat Kuliah Kerja Lapang

Adapun manfaat Kuliah Kerja Lapang (KKL), antara lain:


1.

Sebagai tambahan referensi khususnya mengenai pengetahuan tentang sistem


proteksi penyalur petir sehingga dapat digunakan oleh pihak yang
memerlukan.

2.

Dapat menerapkan ilmu yang telah didapat dalam dunia kerja.

3.

Dapat mensinkronkan dalam penyesuaian diri di lingkungan kerja mendatang.

4.

Sebagai tolak ukur kemampuan dalam bersosialisasi dan bekerja melalui suatu
lembaga/ instansi.

1.4.2

Manfaat penelitian

Adapun manfaat penelitian pada laporan ini, antara lain:


1.

Dapat mengetahui prosedur pelaksanaan sistem grounding di Gedung Telkom,


baik internal maupun eksternal.

2.

Dapat mengetahui penggunaan alat untuk pengecekan dan pengukuran besar


hambatan yang masuk dari air finial ke grounding.

3.

Dapat mengetahui besar hambatan yang masuk dari air finial ke grounding.

1.5 Batasan Masalah


Dalam laporan Kuliah Kerja Lapang ini, penulis membatasi masalah hanya
membahas tentang:
1. Prosedur pelaksanaan penyalur petir eksternal.
2. Pengecekan dan pengambilan data dilakukan di Gedung Telkom Blimbing.

BAB II
PROFIL INSTANSI
2.1 Data Instansi
Nama

: PT Graha Sarana Duta (Telkom Property)

Alamat

: Jl. Ahmad Yani No. 11 Blimbing, Malang, Jawa Timur,


65125

Telepon

: (0341) 499625

Fax

: 499253

Email

: area5@telkomproperty.com

Web

: www.telkomproperty.co.id

2.2 Awal Berdirinya PT Graha Sarana Duta


PT Graha Sarana Duta didirikan pada tanggal 30 September 1981, untuk
menyediakan Office Building, Jasa Pemeliharaan dan Perawatan Gedung Bank
Duta. Sejalan dengan perkembangan bisnis perusahaan, Perseroan kemudian
mengembangkan portofolio ke bidang Jasa Konstruksi dan dipercaya untuk
membangun beberapa kantor cabang Bank Duta dan Bank Bukopin serta sebuah
Gedung Kampus YAI di Jalan Salemba, Jakarta.
Pada tanggal 25 April 2001, kepemilikan Perseroan diambil alih
sepenuhnya oleh PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), Tbk. untuk mengelola
gedung-gedung kantor dan asset properti PT Telkom, Tbk., yang sebelumnya
dikelola oleh Divisi Properti Telkom. Di bawah kendali PT Telkom, Tbk.,
Perseroan terus berkembang menjadi perusahaan properti yang terpadu (integrated
property development) dan kini memiliki Empat portofolio bisnis yaitu :

Property Management (Cleaning Service, Security Service, Utilities


Management, Parking Management)

Property Facilities (Transport & Travel Management, Energy


Management, Retail (Office Supplies,Food Court/Caf, Minimarket),
Archiving Management, Services Offices

Property Lease (Office Building, Hotel & Resort), Service Apartment,


Malls, Industrial Estate, Advertising Space

Property Development (High Rise Building, Low Rise Building, Property


Fix & Improvement)
Selama tiga puluh tahun sejak didirikan oleh PT Bank Duta pada tahun

1981, Perseroan menggunakan nama belakang Duta yang diadopsi dari nama PT
Bank Duta dan menggunakan logo Perseroan yang diciptakan oleh PT Bank Duta.
Pada tahun 2011, manajemen Perseroan memutuskan untuk melakukan pencitraan
kembali perusahaan (corporate rebranding) dilatar belakangi oleh alasan alasan
sebagai berikut :
1.

Perubahan Visi dan Misi Perseroan pada tahun 2010;

2.

Perubahan Portofolio Perseroan menjadi Perusahaan Properti Terpadu


(Integrated Property Development);

3.

Pencitraan yang Ingin Dibangun Perseroan; bahwa manajemen Perseroan


berkomitmen untuk melakukan transformasi bisnis perusahaan dalam aspek
kinerja, kultur, dan kompetensi internal perusahaan, untuk dapat bersaing
dengan pelaku bisnis lainnya di industri properti Indonesia.
Tanggal atau Momen Tertentu; pada tahun 2011, Perseroan merayakan

ulang tahun ke-30 (ke tiga puluh) sejak tanggal pendirian perusahaan pada 30
September 1981; dan 10 (sepuluh) tahun kepemilikan PT Graha Sarana Duta oleh
PT Telkom, Tbk sejak tanggal 25 April 2001.
Dengan restu dari shareholder PT TELKOM Tbk., Perseroan kini menggunakan
nama brand Telkom Property sebagai brand baru (new corporate branding)
Perseroan.

2.3 Visi dan Misi


2.4.1 Visi
Menjadi Perusahaan Properti Terkemuka di Indonesia
2.4.2

Misi
Dalam rangka mewujudkan Visi PT Graha Sarana Duta, maka diperlukan

visi yang jelas yaitu berupa langkah-langkah PT GSD untuk mewujudkan Misi
yang telah ditetapkan yaitu:
1.

Memberikan produk dan layanan total properti dengan kualitas dan harga

2.

terbaik
Memberikan produk dan layanan properti berorientasi tekhnologi dan

3.

ramah lingkungan
Menjadikan perusahaan dengan pengelolaan terbaik

2.5 Struktur Organisasi


Fasility Manager
Amar Sigit

Chief General Affair


Lusi Sulistiyowardhani

Operatoion Building Spv


Indra Bayu Laksonon (Madiun)
Farid Vendi Purnomo (Ngawi Magetan)
Administration Staff
Jaenal Arifin (Ponorogo Pacitan)
Ika Destyarini
Muhammad Najih (Malang I)
Priadi Sinu Pambudi (Malang II)
Administration Staff
Imam Fatoni (Batu Malang)
Ika Destyarini
Deny Ashari Pamungkas (Kepanjen)
Putra Dharma Purnama (Kediri Nganjuk)
Enginner
Denny Wahyu Ghozali ( Tulungagung Trenggalek)
Ika Destyarini
Edy Kusnindar (Blitar)
Khusnul Nur Aisyah
Windu Murtyono (Mojokerto Jombang)
Dienul Wira Saka
M. Masykur El Asyadi (Pandaan)
Anggie Priyowinata
Dumadi Wijaya
Housekeeping Officer
Didik Wahyudi Permana

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1.

Teori Petir
Petir merupakan hasil pelepasan muatan listrik di awan. Energi yang

dilepaskan petir sangat besar sehingga menimbulkan cahaya panas dan bunyi
gelegar yang sangat keras (Kamajaya, 2008). Petir terjadi karena adanya benturan
antara awan yang bermuatan listrik positif di udara. Kilatan cahaya petir yang
mengandung arus listrik sangat kuat tersebut dapat merusak bangunan ataupun
peralatan elektronik.
Petir telah banyak membuat kerugian pada manusia dan kerusakan pada
peralatan sejak dulu. Semakin banyaknya pemakaian alat elektronik dan peralatan
tegangan rendah saat ini telah meningkatkan jumlah statistik kerusakan yang
ditimbulkan oleh pengaruh sambaran petir baik langsung maupun tidak langsung.
Upaya proteksi manusia dan peralatan telah dilakukan, namun dengan
semakin luas, semakin banyak dan semakin canggihnya peralatan listrik dan
elektronik yang digunakan menyebabkan semakin rumitnya sistem yang
diperlukan. Keadaan alam iklim tropis Indonesia pada umumnya termasuk daerah
dengan hari petir yang tinggi setiap tahun. Karena keterbatasan data besarnya hari
petir untuk setiap lokasi di Indonesia.
Pada saat ini diasumsikan bahwa di lokasi yang tinggi di atas gunung atau
menara dan degung yang menjulang tinggi ditengah-tengah area yang bebas atau
dilahan terbuka seperti sawah, ladang, mempunyai kemungkinan sambaran lebih
tinggi. Tempat-tempat dengan tingkat sambaran tinggi frekuensi maupun
intensitasnya mendapat prioritas pertama untuk penanggulangannya, sedangkan
tempat-tempat yang relatif kurang bahaya petirnya mendapat prioritas ke dua
dengan pemasangan protektor yang lebih sederhana.
Lokasi yang mempunyai nilai bisnis tinggi industri kimia, pemancar TV,
Telekomunikasi, gedung perkantoran dengan sistem perkantoran dan industri
strategis seperti hankam, bandara udara memerlukan proteksi yang dilakukan
seoptimal mungkin, sedangkan lokasi dengan nilai bisnis rendah mungkin makin
sederhana sistem protektor yang akan dipasang. Dengan berkembangnya

teknologi yang sangat pesat hingga kini, maka pelepasan muatan petir dapat
merusak jaringan listrik dan peralatan elektronik yang lebih sensitif.
Sambaran petir pada tempat yang jauh sudah mampu merusak sistem
elektronika

dan

peralatannya,

seperti

instalasi

komputer,

perangkat

telekomunikasi seperti PABX, sistem kontrol, alat-alat pemancar dan instrument


serta peralatan elektronik sensitif lainnya. Untuk mengatasi masalah ini maka
perlindungan yang sesuai harus diberikan dan dipasang pada peralatan atau
instalasi terhadap bahaya sambaran petir langsung maupun induksinya. Salah satu
penyebab semakin tingginya kerusakan peralatan elektronika karena induksi
sambaran petir tersebut adalah karena sangat sedikitnya informasi mengenai petir
dan masalah yang dapat ditimbulkannya.
3.1.1. Pembentukan Awan
Terbentuknya awan dengan adanya proses menguapnya air dan
terbawa oleh udara ke atas atmosfer. Pada daerah di dataran yang lebih
tinggi, tekanan atmosfer akan lebih rendah sehingga udara yang
mengandung uap air akan mengembang sehingga membentuk suhu udara
di sekitar dataran tinggi tersebut terasa lebih sejuk, dingin dan bersih.
Proses terjadinya awan bermuatan ini akan semakin sering jika semakin
dekat ke katulistiwa yang berudara lembab.
Semakin banyak terbentuknya awan bermuatan akan semakin
tinggi jumlah sambaran petir yang terjadi. Jumlah sambaran ini sering
disebut juga sebagai jumlah hari guruh per tahun thunder storm days.
Awan yang membentuk gumpalan atau awan kemawang, bentuk dasar
awan adalah datar dan batas bagian atasnya biasanya sangat tajam karena
petir yang mencakup pengertian kilat, guntur atau guruh selalu
mengikutinya yang berasal dari awan cummulonimbus yang berkembang
dari awan kumulus yang merupakan awan kemawang.
Pusat terbentuknya petir terjadi di dalam awan guntur atau di sebut
juga awan cummulonimbus. Cummulonimbus adalah awan yang
membentuk gumpalan, yang berukuran vertikal lebih besar dari pada
ukuran horizontalnya dan bagian atasnya tajam dan dasar dari awan
tersebut rata. Yang memilki ukuran tinggi dapat mencapai -/+14 Km dan

memiliki ukuran lebar dapat mencapai /+1,57,5 Km. Awan ini terbentuk
didalam atmosfir dengan kondisi tidak setabil.
Di dalam awan guntur ini terdapat arus vertikal keatas yang kuat
dan mengakibatkan terjadinya pemisahan muatan setelah melewati
pembentukan kristal es. Dimana muatan listrik positif terdapat dibagian
atas dan muatan listrik negatif terdapat dibagian bawahnya. Disamping itu
terdapat juga muatan listrik positif yang lebih kecil didekat awan
cummulonimbus yang berhubungan dengan terbentuknya hujan deras.
3.1.2. Pembentukan Sambaran Petir
Petir merupakan kejadian alam di mana terjadi loncatan muatan
listrik antara awan dengan bumi. Loncatan muatan listrik tersebut diawali
dengan mengumpulnya uap air di dalam awan. Ketinggian antara
permukaan atas dan permukaan bawah pada awan dapat mencapai jarak
sekitar 8 km dengan temperatur bagian bawah sekitar 0oF dan temperatur
bagian atas sekitar -60oF. Akibatnya, di dalam awan tersebut akan terjadi
kristal-kristal es.
Karena di dalam awan terdapat angin ke segala arah, maka kristalkristal es tersebut akan saling bertumbukan dan bergesekan sehingga
terpisahkan antara muatan positif dan muatan negatif. Pemisahan muatan
inilah yang menjadi sebab utama terjadinya sambaran petir. Pelepasan
muatan listrik dapat terjadi di dalam awan, antara awan dengan awan, dan
antara awan dengan bumi tergantung dari kemampuan udara dalam
menahan beda potensial yang terjadi.
Petir yang kita kenal sekarang ini terjadi akibat awan dengan
muatan tertentu menginduksi muatan yang ada di bumi. Bila muatan di
dalam awan bertambah besar, maka muatan induksi pun makin besar pula
sehingga beda potensial antara awan dengan bumi juga makin besar.
Kejadian ini diikuti pelopor menurun dari awan dan diikuti pula dengan
adanya pelopor menaik dari bumi yang mendekati pelopor menurun.
Pada saat itulah terjadi apa yang dinamakan petir. Panjang kanal
petir bisa mencapai beberapa kilometer, dengan rata-rata 5 km. Kecepatan
pelopor menurun dari awan bisa mencapai 3% dari kecepatan cahaya
sedangkan kecepatan pelepasan muatan balik mencapai 10% dari
kecepatan cahaya. Sambaran pelopor ini menuju ke tanah di bumi dengan

10

kecepatan rata-rata 10 Cm/Detik melalui lintasan zig-zag bercabang


mengarah ke bawah. Sambaran petir ini juga membawa muatan listrik
negatif sepanjang lintasannya ini menciptakan medan listrik dalam ruang
antar ujung sambaran pelopor menuju ke tanah.
3.1.3. Pembentukan Guntur
Guntur adalah suatu bunyi menggemuruh yang biasnya terdengar
pada saat hujan, bunyi terjadi karena adanya gerakan listrik di dalam awan
yang menyebabkan terjadinya petir. Gerakan itu menekan dan menabrak
udara disekitarnya sehingga menimbulkan bunyi. Udara yang terkena
gerakan listrik lalu menabrak udara di dekatnya, dan begitu selanjutnya.
Inilah yang menimbulkan bunyi menggemuruh.
Jika petir sangat dekat, bunyi guntur akan terdengar hampir
bersamaan petirnya. Tetapi jika petirnya jauh, bunyi guntur akan terdengar
beberapa saat kemudian. Sebabnya ialah karena cahaya jauh lebih cepat
rambat gelombangnya di dalam udara daripada bunyi. Dalam waktu satu
detik, cahaya dapat mengelilingi bumi sebanyak 7,5 kali, tetapi bunyi
hanya menempuh jarak 330 meter. Itulah sebabnya mengapa kilatan petir
terlihat sebelum bunyinya terdengar.
3.1.4. Mekanisme Pembentukan Petir
Petir atau halilintar merupakan gejala alam yang biasanya muncul
pada musim hujan di mana di langit muncul kilatan cahaya sesaat yang
menyilaukan yang beberapa saat kemudian disusul dengan suara
menggelegar. Perbedaan waktu kemunculan ini disebabkan adanya
perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan cahaya. Petir adalah
gejala alam yang bisa kita analogikan dengan sebuah kapasitor raksasa, di
mana lempeng pertama adalah awan bisa lempeng negatif atau lempeng
positif dan lempeng kedua adalah bumi dianggap netral.
Seperti yang sudah diketahui kapasitor adalah sebuah komponen
pasif pada rangkaian listrik yang bisa menyimpan energi sesaat energy
storage. Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan
bumi. Proses terjadinya muatan pada awan karena dia bergerak terus
menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi
dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah
satu sisi atas atau bawah, sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi

11

sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar,
maka akan terjadi pembuangan muatan negatif elektron dari awan ke bumi
atau sebaliknya untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses pembuangan
muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron
mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara.
Petir lebih sering terjadi pada musim hujan, karena ada keadaan tersebut
udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya
turun dan arus lebih mudah mengalir.
Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif,
maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan. Petir
merupakan hasil pemisahan muatan listrik secara alami di dalam awanawan badai. Di dalam awan terjadi pemisahan muatan dimana beberapa
teori menyatakan bahwasanya didalam awan, kristal es bermuatan positif,
sedangkan titik-titik air bermuatan negatif.

Gambar 3.1. Lidah petir pelopor tanpa pukulan balik

12

Gambar 3.2. Lidah petir pelopor dengan pukulan balik


Mekanisme selanjutnya adalah peluahan petir yang diawali dengan
pengembangan sambaran pelopor stepped downward leader. Gerakan
kebawah ini bertahap sampai dekat ke tanah, sehingga muatan negatif
yang dibawa oleh stepped leader tersebut memperbesar induksi muatan
positif di permukaan tanah, akibatnya gradien tegangan antara dasarawan
dengan tanah semakin besar.
Apabila kedua akumulasi muatan ini saling tarik, maka muatan
positif dalam jumlah yang besar akan bergerak ke atas menyambut
gerakan stepped leader yang bergerak kebawah, akhirnya terjadi kontak
pertemuan antara keduanya. Gerakan ke atas muatan positif tersebut
membentuk suatu streamer yang bergerak ke atas upward movingstreamer,
atau yang lebih dikenal dengan sambaran balik return stroke yang
menyamakan perbedaan potensial.
3.2.

Kerusakan Akibat Sambaran Petir


Keadaan alam iklim tropis Indonesia pada umumnya termasuk daerah

dengan hari petir yang tinggi setiap tahun. Karena keterbatasan data besarnya hari
petir untuk setiap lokasi di Indonesia, pada saat ini diasumsikan bahwa lokasilokasi yang tinggi di atas gunung atau menara yang menonjol ditengah-tengah
area yang bebas seperti sawah ladang mempunyai kemungkinan sambaran lebih
tinggi dari pada tempat-tempat di tengah kota yang dikelilingi bangunan tinggi
lainnya.
Tempat-tempat dengan tingkat sambaran tinggi frekuensi maupun
intensitasnya mendapat prioritas pertama untuk penanggulangannya, sedangkan
tempat-tempat yang relatif kurang bahaya petirnya mendapat prioritas ke dua
dengan pemasangan protektor yang lebih sederhana. Lokasi yang mempunyai
nilai bisnis tinggi industri kimia, pemancar TV, Telkom, gedung perkantoran
dengan sistem perkantoran dan industri strategis seperti hankam, pelabuhan udara
memerlukan proteksi yang dilakukan seoptimal mungkin, sedangkan lokasi
dengan nilai bisnis rendah mungkin makin sederhana sistem protektor yang akan
di pasang. Sambaran petir memiliki kemampuan merusak yang sangat hebat dan
merugikan bagi obyek-obyek di bumi antara lain :

13

1. Beban termal (terjadi panas pada bagian-bagian yang dialiri oleh arus
petir)
2. Beban mekanis karena timbulnya gaya elektodinamis sebagai akibat
tingginya puncak arus.
3. Beban gerak mekanis karena guntur.
4. Beban tegangan lebih karena adanya induksi dan pergeseran-pergeseran
potensial di dalam bangunan.
3.2.1. Kerusakan Akibat Sambaran Langsung
Kerusakan ini biasanya langsung mudah diketahui sebabnya,
karena jelas petir menyambar sebuah gedung dan sekaligus peralatan
listrik atau elektronik yang ada di dalamnya ikut rusak kemungkinan
mengakibatkan kebakaran gedung, dan kerusakan yang parah pada
peralatan PABX, kontrol AC, komputer, alat pemancar yang akan hancur
total.
3.2.2. Kerusakan Akibat Sambaran Tidak Langsung
Kerusakan ini sulit diidentifikasi dengan jelas karena petir yang
menyambar pada satu titik lokasi sehingga hantaran induksi melalui aliran
listrik atau kabel PLN, telekomunikasi, pipa pam dan peralatan besi
lainnya dapat mencapai 1 km dari tempat petir tadi terjadi. Sehingga tanpa
disadari dengan tibatiba peralatan komputer, pemancar TV, radio, PABX
terbakar dan rusak.
Misalkan Petir menyambar tiang PLN lokasi A sehingga tegangan
atau arusnya mencapai dan merusak peralatan rumah sakit dan peralatan
telekomunikasi di lokasi B karena jarak tiang PLN (A) ke rumah sakit dan
peralatan telekomunikasi tersebut (B) adalah kurang atau sama dengan 1
km. Dengan berkembangnya teknologi yang sangat pesat hingga kini,
maka pelepasan muatan petir dapat merusak jaringan listrik dan peralatan
elektronik yang lebih senditif.
Sambaran petir pada tempat yang jauh sudah mampu merusak
sistem elektronika dan peralatannya, seperti instalasi komputer, perangkat
telekomunikasi seperti PABX, sistem kontrol, alat-alat pemancar dan
instrument serta peralatan elektronik sensitif lainnya. Untuk mengatasi
masalah ini maka perlindungan yang sesuai harus diberikan dan dipasang
pada peralatan atau instalasi terhadap bahaya sambaran petir langsung
maupun induksinya. Salah satu penyebab semakin tingginya kerusakan

14

peralatan elektronika karena induksi sambaran petir tersebut adalah karena


sangat sedikitnya informasi mengenai petir dan masalah yang dapat
ditimbulkannya.
3.2.3. Bahaya Loncatan Bunga Api dari Konduktor Pentanahan
Apabila bangunan tersambar petir arus petir akan mengalir menuju
tanah melalui konduktor pentanahan Bila arus petir ini cukup besar maka
potensial terhadap tanah pada konduktor pentanahan tidak bisa mencapai
harga yang tinggi karena tahanan pentanahan di usahakan sekecil mungkin
(<5). Potensial yang tinggi bisa menyebabkan loncatan bunga api pada
bagian metal yang berhubungan dengan tanah di sekitar konduktor
tersebut. Loncatan bunga api yang timbul bisa membahayakan manusia
dan bisa menimbulkan ledakan ataupun kebakaran. Pencegahan dapat di
lakukan dengan menjauhkan bagian-bagian yang metal dari konduktor
pentanahan.
Menurut R.H.Golde perkiraan jarak D (cm) minimal yang di
perlukan untuk mengisolasi bagian-bagian metal tersebut terhadap
konduktor pentanahan supaya tidak terjadi loncatan bunga api, adalah :
h
D=0,3 R+
15 n ....................................(3.1)
Dimana : D = jarak aman minimum
R = tahanan dari seluruh sistem pentanahan
h = tinggi bangunan
n = jumlah konduktor penahanan
Rumus ini digunakan untuk menghitung benda-benda yang berada
di sekitar konduktor pentanahan dari sistem pengamanan petir.
3.2.4. Gradien Tegangan di Dalam Tanah
Bila arus petir mengalir ke bumi melalui elektroda pentanahan dari
sistem penangkal petir maka di sekitar elektrode pentanahan itu dan
mempunyai rapat muatan listrik yang amat besar. Muatan itu kemudian
akan menyebar dengan arah radial keluar. Aliran muatan ini mempunyai
nilai yang cukup besar pada radius yang cukup kecil, sehingga untuk
beban-beban misalnya pondasi bangunan yang berada di dekat elektroda
tersebut dapat mengakibatkan kerusakan akibat muatan tersebut.
3.3.

Parameter-Parameter Petir

15

Parameter petir menyatakan karakteristik atau penggambaran petir itu


sendiri. Parameter-parameter petir cukup banyak, terutama yang berkaitan dengan
usahausaha proteksi petir. Selain itu, parameter petir ini juga berguna dalam studi
efek perusakan akibat sambaran petir dan kemungkinan pemanfaatannya.
Parameter-parameter tersebut antara lain: bentuk gelombang petir, kerapatan
sambaran (Ng), arus puncak (Imax), kecuraman gelombang atau steepness (di/dt).
Bentuk Gelombang Arus Petir
Bentuk gelombang arus petir ini menggambarkan besar arus, kecuraman
(kenaikan arus), serta lamanya kejadian (durasi gelombang), dinyatakan oleh
waktu ekor. Pada kenyataannya, bentuk gelombang arus petir tidak sama persis
antara satu dengan yang lainnya. Bukan saja antara satu kejadian dengan kejadian
lainnya, akan tetapi pada satu kejadian kilat dengan sambaran ganda, bentuk
gelombang arus petirnya bias berbeda cukup lumayan, antara sambaran
ertamadengan sambaran susulan. Kejadian terutama pada petir negatif yang
sebagian besar selalu ada subsequent stroke-nya.

(a)

(b)

Gambar 3.3. Osilogram Bentuk Gelombang Arus Petir


(a) Petir positif (b) Petir negatif
Karena ada perbedaan tersebut, maka bentuk standar gelombang arus petir
berbeda-berbeda untuk suatu negara atau lembaga, misalnya standar Jepang (JIS),
atau Jerman (VDE), Inggris (BS) dan sebagainya. Untuk internasional biasanya
mengacu pada IEC.
Bentuk gelombang arus petir dinyatakan dalam dua besaran yakni, waktu
muka (Tf) yang menyatakan lamanya muka gelombang (front duration) dan
kecuraman arus, serata waktu ekor ( Tt ).

16

Gambar 3.4. Bentuk gelombang impuls petir standard


3.4.

Sistem Proteksi Petir


Proteksi petir merupakan suatu usaha untuk melindungi suatu objek dari

bahaya yang diakibatkan petir, baik itu secara langsung maupun tak langsung.
Didasarkan pada tujuan atau sifat dari proteksi itu sendiri, proteksi petir terdiri
dari dua jenis yaitu proteksi sambaran petir, dan proteksi tegangan lebih petir.
Prinsip kerja antara kedua jenis proteksi tersebut di atas tentu saja berbeda.
Proteksi sambaran petir lebih bersifat pencegahan ( preventif ), sedang proteksi
tegangan lebih petir sifatnya tidak lagi mencegah tetapi mengurangi akibat yang
ditimbulkan oeh sambaran petir, dalam hal ini apabila jenis poteksi yang pertama
gagal melaksanakan fungsinya.
Berdasarkan cara kerjanya, sistem proteksi petir dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
A. Sistem dengan Penangkap Petir
Prinsip kerja sistem ini adalah:
Harus menyediakan titik pada ujung bangunan yang diamankan untuk
sasaran sambaran petir, dengan harapan petir akan menyambar titik itu

terlebih dahulu.
Harus menyediakan saluran untuk menyalurkan arus petir ke tanah
Harus menyediakan sistem pembumian untuk mendistribusikan arus petir
yang masuk ke tanah dengan merata agar tidak menimbulkan kerusakan
atau bahaya pada bagian dari bangunan atau pada manusia yang sedang

berada di sekitarnya.
B. Sistem Disipasi ( Dissipation Array System )
Pada prinsipnya, DAS (Dissipation Array System) tidak bertujuan untuk
mengundang arus petir agar menyambar terminasi udara yang sudah

17

disediakan, melainkan membuyarkan arus petir agar tidak mangalir kedaerah


yang dilindungi. Gambar berikut (Gambar 3.5.) menggambarkan konsep dari
proteksi petir sistem disipasi (DAS).

Gambar 3.5. konsep Dissipation Array System


Apabila awan bermuatan bergerak ke suatu daerah, maka akan menginduksi
muatan listrik diatas permukaan tanah ataupun bangunan di bawah awan petir
tersebut. Muatan yang terinduksi ini selanjutnya dikumplkan oleh sistem
pembumian DAS yang kemudian di angkut ke bentuk ion (ionizer) dengan
fenomena yang di sebut point discharge, yaitu setiap bagian benda yang
runcing akan memindahkan muatan listrik hasil induksi ke molekul udara
disekitarnya bilamana titik temunya erada pada medan elektrostatik. Ionizer
akan menghimpun ribuan titik-titik bermuatan secara individu dan sanggup
untuk melepaskan muatan-muatan listrik hasil induksi tadi secara optimal,
dimana pada akhirnya dapat mengurangi beda potensial antara awan dan
udara disekitar ionizer. Dengan kata lain medan listrik yang dihasilkan akan
semakin kecil, sehingga memperkecil kemungkinan udara untuk tembus
listrik, sehingga terjadinya petir dapat dihindari.
Berdasarkan tempatnya, sistem proteksi petir dapat dibagi menjadi dua
bagian, yaitu:

18

1. Proteksi Eksternal
Proteksi eksternal adalah instalasi dan alat-alat diluar suatu struktur untuk
menangkap dan menghantarkan arus surja petir ke sistem pembumian.
Proteksi eksternal petir berfungsi sebagai proteksi terhadap tegangan
lebih petir jika terjadi sambaran langsung ke sistem atau bangunan yang
dilindungi. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan didala merencanakan
sistem proteksi petir eksternal adalah:
Macam, fungsi, dan bagan dari bangunan, ukuran denah bangunan,

bentuk, dan kemiringan atap.


Terminasi udara (air terminal) dimana jumlahnya haruslah cukup

untuk memberikan daerah proteksi yang diinginkan


Konduktor penyalur (down conductor) haruslah mampu manyalurkan
arus petir yang diterima dari terminasi udara menuju bumi.

Pembumian (grounding) dimana resistensi pembumian <10 Ohm.


2. Proteksi Internal
Proteksi petir internal merupakan perlindungan terhadap sistem
elektronika didalam bangunan / gedung akibat tegangan lebih yang
ditimbulkan oleh induksi elektromagnetik akibat sambaran petir tak
langsung. Walaupun bangunan sudah dilindungi terhadap sambaran petir,
beberapa kerusakan pada peralatan listrik khususnya peralatan elektronika
dapat disebabkan karena masuknya surja imbas petir melalui kabel listrik
dan kabel komunikasi atau masuknya arus petir pada waktu terjadi
sambaran langsung.
Sistem proteksi petir internal dapat terdiri dari satu jenis ataupun
beberapa alat-alat proteksi petir, antara lain:
Arrester : alat potong tegangan lebih pada peralatan
Shielding : konstruksi dinding dan lantai secara khusus untuk

menghilangkan induksi elektromagnetik


One point earthing system : pemasangan potensial aqualization busbar

yang berfungsi sebagai terminal pembumian


Penggunaan kabel optic sebagai pengganti kabel tembaga pada
instalasi listrik. Kabel optic tidak menyebabkan percikan antar kabel

dan tidak terinduksi elektromagnetik


Penggunaan trafo isolasi untuk mentransformasikan arus besar yang
terjadi akibat sambaran petir ke jala-jala menjadi arus yang sangat
kecil

19

Oleh karena desain proteksi internal sangat bergantung pada instalasi


listrik / elektronika maka arsitektur dalam bangunan serta perencanaan
awal penggunaan bangunan harus diperhatikan.
3.5.

Proteksi Terhadap Sambaran Petir


Usaha pertama yang dilakukan dalam proteksi petir adalah mencegah agar

petir tidak menyambar objek yang dilindungi. Untuk itu dapat dilakukan dengan
dua cara atau prinsip; perama membentuk semacam tameng atau perisai bagi
objek yang dilindungi sehingga diharapkan nantinya bila ada petir tidak
menyambar objek melainkan menyambar tameng atau perisai tersebut. Kedua,
memperkecil kemungkinan terjadinya sambaran petir.
3.5.1. Penangkal Petir Konvensional
Teknik penangkal petir yang sederhana dan pertama kali dikenal
menggunakan prinsip yang pertama, yaitu dengan membentuk semacam
tameng atau perisai berupa konduktor yang akan mengambil alih sambaran
petir. Penangkal petir semacam ini biasanya disebut groundwires (kawat
tanah) pada jaringan hantaran udara, sedangkan pada bangunan-bangunan
dan

perlindungan

terhadap

struktur,

Benjamin

Franklin

memperkenalkannya dengan sebutan lightning rod. Istilah ini tetap


digunakan sampai sekarang di Amerika. Di Inggris dan beberapa Negara
di Eropa menggunakan istilah lightning conductor sedang di Rusia disebut
lightning mast. Istilah yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah
lightning conductor. Contoh konstruksi penangkal petir konvensional jenis
lightning conductor ditunjukkan pada Gambar 3.6.

Gambar 3.6. penangkal petir konvensional

20

Penangkal petir konvensional sifatnya pasif, menunggu petir


untuk menyambar dengan mengandalkan posisinya yang lebih tinggi dari
objek sekitar serta ujung runcingnya agar pada saat step leader mendekat
dan kuat medan semakin besar maka upward streamer dapat lebih cepat
terbentuk mendahului objek di sekitarnya.
3.5.2. Penangkal Petir Elektrostatik
Penangkal petir elektrostatik merupakan pengembangan terhadap
penangkal petir konvensional (lightning conductor). Prinsipnya sama,
yaitu sebagai tameng atau perisai yang mengambil alih sambaran petir.
Perbedaannya terletak pada bagaimana cara mengalihkan sambaran petir
tersebut. Contoh konstruksi penangkal petir elektrostatik diperlihatkan
pada Gambar 3.3.

Gambar 3.6. konstruksi salah satu dari jenis Elektrostatis


Prinsip penangkal petir elektrostatik didasarkan pada ion-ion yang
dihasilkan oleh dua elektroda pada ujung penangkal petir. Di bawah
pengaruh medan listrik antara awan dengan bumi, akan ada beda
potensial di antara kedua elektroda. Tegangan antara kedua elektroda ini
dapat menyebabkan percikan peluahan listrik membuat molekul-molekul
udara di sekitar kedua elektroda mengalalmi ionisasi sehingga
mempercepat proses terbentuknya upward streamer dari penangkal petir.
Proses pembetukan upward streamer yang lebih awal menyebabkan
upward streamer yang terbentuk menjadi lebih tinggi dari kondisi biasa
pada penangkal petir konvensional. Oleh karena itu, penangkal petir

21

elektrostatik seolah-olah memiliki tinggi efektif perlindungan yang lebih


tinggi dari penangkal petir yang sebenarnya.

22

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan Kuliah Kerja Lapang (KKL) ini dilaksanakan pada tanggal 3
Agustus 2015 sampai dengan 28 Agustus 2015 di PT Telekomunikasi Indonesia
Blimbing, Malang.
4.2 Metode Pelaksanaan
Metode yang dilakukan dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Lapang ini antara
lain:
1. Metode Observasi
Metode ini dilakukan dengan pengamatan secara langsung pada peralatan dan
fasilitas yang ada di Gedung Telkom Blimbing, sehingga mengetahui secara
langsung perlengkapan dan peralatan yang digunakan selama KKL.
2. Metode Interview
Metode wawancara dengan cara melakukan tanya jawab secara langsung
kepada pembimbing dan teknisi berkaitan dengan hal-hal yang sekiranya
belum jelas pada metode observasi.
3. Studi Literatur
Pengambilan data dengan mempelajari literatur, yang berupa buku-buku,
diktat, jurnal, internet ataupun bentuk lain yang berhubungan dengan sistem
proteksi penyalur petir guna mendukung penyelesaian KKL sampai dengan
penyusunan laporan.
4. Metode Bimbingan
Melakukan konsultasi dan bimbingan dalam mendokumentasikan bidang
keilmuan yang diperoleh selama Kuliah Kerja Lapang, pembimbingan ini
dilakukan oleh pembimbing lapangan di PT Telkom Blimbing.

23

4.3 Peralatan
Peralatan yang digunakan untuk pengambilan data sistem grounding di
gedung Telkom Blimbing, antara lain:
1. Digital Earth Tester

Gambar 4.1. Digital Earth Tester


Digital Earth Tester merupakan alat untuk mengukur nilai resistansi dari
grounding. Dengan alat ini, kita bisa mengetahui berapa ukuran yang harus
dicapai atau nilai yang baik untuk pembumian.
2. Earth Spikes

Gambar 4.2. Earth Spikes


Earth Spikes adalah alat bantu untuk membumikan kabel test lead (kabel merah
dan kuning).
3. Alat tulis

24

Alat tulis yang terdiri dari kertas berisi hasil pengamatan, pena dan papan
dada digunakan untuk mempermudah pencatatan hasil pengambilan data
mikrozonasi.
4.4 Prosedur Pelaksanaan
4.4.1 Pembuatan Desain Survei
1. Menentukan daerah yang akan digunakan untuk pengambilan data, daerah
yang digunakan kali ini adalah sejumlah titik sekitar gedung Telkom.
2. Membuat desain survei untuk menentukan titik-titik pengambilan data
resistansi dari grounding.
3. Pembuatan desain survey dilakukan dengan plotting di sejumlah titik.

4
2

10

Sketsa Gedung
witel Malang
tampak dari atas

11
1

12

Gambar 4.3 Desain Survei Pengamatan Grounding Gedung Telkom


Keterangan:

= Bak Pentahanan

= Air Finial Kondisi Bengkok

= Air Finial Kondisi Baik

= Down Conductor

4.4.2 Pengambilan Data


1. Sebelum melakukan pengambilan data, diperlukan pengecekan alat-alat yang
digunakan untuk melakukan pengambilan data di lapangan.

25

2. Periksa kondisi kabel grounding BC yang akan diukur. Bila kotor bersihkan
dahulu permukaan kabel tersebut dengan lap bersih / kertas amplas, agar
jepitan kabel probe dapat menyentuh langsung bagian permukaan tembaga
yang sudah bersih dan untuk mencegah terjadinya kesalahan pembacaan pada
alat ukur.
3. Earth Tester mempunyai tiga kabel diantaranya adalah kebel merah, kuning
dan hijau.
4. Kabel-kabel tersebut dihubungkan ke Earth Tester dengan warna yang sudah
di tentukan pada alat ukur.
5. Hubungkan kabel merah setra kuning ke tanah dengan masing-masing jarak
kurag lebih 5-10 meter dari pentanahan atau grounding.
6. Hubungkan juga kabel hijau ke grounding yang sudah terpasang.
7. Lakukan pengukuran grounding (tahanan pentanahan) dengan memutar knob
alat ukur pada poisisi 200 ohm atau 2000 ohm tergantung dari kondisi tanah
pada area setempat yang akan diukur.
8. Kemudian tekan tombol tester untuk mengetahui resistansi grounding, pada
displai alat ukur akan muncul nilai tahanan pentanahan.
4.5 Diagram Alir
Mulai
Studi Literatur
Pembuatan Desain Survei
Pengambilan Data
Gambar 4.4 Diagram Alir
Pengamatan
Sistem Pentanahan
Hasil
Pengambilan
Data (Grounding) Gedung
Telkom Blimbing
Selesai

26

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Kondisi Umum Tempat Pengamatan Sistem Grounding
Pengamatan sistem grounding dilaksanakan di gedung Telkom Witel
Malang yang berada di daerah Blimbing, Malang. Gedung tersebut memiliki 8
lantai serta basement untuk tempat parkir. Pada gedung ini terdapat 14 bak
pentanahan, yang digunakan untuk pengecekan resistansi grounding. Namun, tiga
diantara 14 bak pentanahan tersebut tidak bisa digunakan karena tertimbun oleh
material lain, yakni jalan paving.
5.2 Desain Survei
Pada pengamatan grounding gedung Telkom Blimbing digunakan desain
survei yang telah dibuat sebelumnya. Desain survei yang dibuat mempunyai 14
titik pengamatan (bak konduktor).

4
2

10

Sketsa Gedung
witel Malang
tampak dari atas

11
1

12

27

Gambar 5.1 Desain Survei Pengamatan Grounding Gedung Telkom


Bak pentanahan dari no 1 sampai 12 saling terintegrasi (menyambung satu
sama lain) namun tidak terintegrasi dengan bak pentanahan A dan B yang berasal
dari ruangan genset dan Trafo, akan tetapi, bak A dan B terintegrasi satu sama
lain.
5.3 Pemasangan peralatan
Sebelum melakukan pemasangan alat, diperlukan pengecekan alat-alat
yang digunakan untuk melakukan pengambilan data di lapangan. Periksa kondisi
kabel grounding BC yang akan diukur. Bila kotor bersihkan dahulu permukaan
kabel tersebut dengan lap bersih / kertas amplas, agar jepitan kabel probe dapat
menyentuh langsung bagian permukaan tembaga yang sudah bersih dan untuk
mencegah terjadinya kesalahan pembacaan pada alat ukur.

Gambar 5.2. Sketsa Pengukuran tahanan grounding dengan Digital Earth Tester
Pada alat Digital Earth Tester terdapat tiga kabel diantaranya adalah kebel
berwarna merah, kuning dan hijau. Kabel-kabel tersebut dihubungkan ke Earth
Tester dengan warna yang sudah di tentukan pada alat ukur tersebut. Kabel merah
dan kuning dihubungkan ke tanah dengan masing-masing jarak kurag lebih 5-10
meter dari pentanahan atau grounding (bak konduktor). kabel hijau juga
dihubungkan ke grounding yang sudah terpasang. Setelah semua kabel sudah
terpasang, pengambilan data sudah dapat dilakukan.
5.4 Pengambilan data

28

Pada pengamatan grounding gedung Telkom Blimbing, disiapkan terlebih


dahulu alat tulis pengamatan. Kemudian dibuat tabel hasil pengamatan seperti
pada tabel berikut.
Tabel 5.1 Tabel Pengamatan grounding
No. Titik
Pengamata

Nilai Resistansi

Setelah tabel pengamatan sudah siap, catat nomor titik ketika pengambilan
data. Selanjutnya catat pula nilai resistansi yang tampil pada display alat ukur
grounding.
5.5 Data Hasil Pengamatan
Berikut merupakan data hasil pengamatan groungding gedung Telkom
Blimbing yang dilakukan pada tanggal 3 28 Agustus 2015.
Tabel 5.3 Data Titik Pengamatan Groundung Gedung Telkom Blimbing
No. Titik
Pengamata
n
A
B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nilai Resistansi
0,1 ohm
0,08 ohm
0,17 ohm
0,16 ohm
0,04 ohm
0,18 ohm
Tidak Bisa dilakukan Pengukuran
Tidak Bisa dilakukan Pengukuran
0,08 ohm
0,01 ohm
0,01 ohm
Tidak Bisa dilakukan Pengukuran
0,04 ohm
0,18 ohm

5.6 Analisa Hasil


Pada kegiatan praktek kerja lapang yang dilakukan di gedung Telkom
Blimbing Malang ini dilakukan pengamatan untuk mengetahui prosedur serta nilai
dari resistivitas sistem grounding. Pada pengamatan ini dilakukan di 14 titik di

29

sekitar gedung Telkom. Dari 14 titik tersebut, terdapat 12 titik bak konduktor yang
saling terintegrasi, dan dua bak konduktor lainnya hanya terintegrasi keduanya.
Dari hasil pengamatan didapatkan data berupa nilai resistivitas untuk
setiap titik. Untuk nilainya dapat dilihat pada tabel 5.3. Pada tabel tersebut terlihat
bahwa ada 3 titik yang tidak bisa dilakukan pengukuran yakni pada titik nomor 5,
6 dan 10, dikarenakan tertimbun oleh jalan paving dan penutup bak konduktor
yang ridak bisa dibuka. Dari data tersebut terlihat bahwa pada titik nomor 4 dan
12 memiliki nilai resistivitas grounding yang paling besar yakni 0,18 ohm,
sedangkan titik nomor 8 dan 9 adalah yang terendah yakni 0,01 ohm.
Dalam sistem pentanahan semakin kecil nilai tahanan maka semakin baik
terutama untuk pengamanan personal dan peralatan. Beberapa patokan standart
yang telah disepakati adalah bahwa saluran tranmisi substasion harus
direncanakan sedemikian rupa sehingga nilai tahanan pentanahan tidak melebihi 1
ohm untuk digunakan pada aplikasi data dan maksimum harga tahanan yang
diijinkan 5 ohm pada gedung. Dengan demikian, untuk keamanan gedung Telkom
akibat sambaran listrik dapat dikatakan aman karena nilai tahanan atau resistivitas
grounding di area gedung di bawah angka 1, bahkan tidak ada satu pun yang
nilainya melebihi angka 0,2.
Kisi-kisi pentanahan tergantung pada kerja ganda dan pasak yang
terhubung. Dari segi besarnya nilai tahanan bahan yang dipakai pasak tidak
mengurangi besar tahanan pentanahan sistem namun mempunyai fungsi tersendiri
yang penting. Bahannya sendiri mempunyai harga impedansi awal beberapa kali
lebih tinggi daripada harga tahanannya terhadap tanah pada frekuensi rendah.
Bahan pentanahan dimaksudkan untuk mengontrol dalam batas aman sesuai
peralatan yang digunakan, sedangkan pasak adalah batang sederhana, hal ini
penyebab utama jatuhnya tahanan tanah dalam gradient tegangan yang tinggi pada
permukaan pasak.
5.7 Kendala Pengamatan
Pada pengamatan grounding terdapat beberapa kendala yang dapat
mempengaruhi hasil. Kendala-kendala yang didapat antara lain, kesulitan saat
memaku Earth Spikes karena di sekitar titik pengamatan (bak konduktor) sudah
terpasang paving jalan, beberapa titik tidak bisa diamati karena bagian penutup
bak konduktor tidak bisa dibuka.

30

31

BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Dengan melakukan pengamatan sistem pentanahan yakni dengan
mengukur besar resistivitas grounding di area gedung Telkom Blimbing dapat
ditarik kesimpulan bahwa prosedur pelaksanaan sistem grounding antara lain
pembuatan desain survei, penentuan titik pengamatan dan pengambilan data.
Digital Earth Tester digunakan dalam pengamatan ini untuk mengukur resistivitas
grounding. Data yang didapatkan ketika pengamatan sistem grounding di gedung
Telkom yaitu nilai resistivitas di 14 titik pengamatan. Dari data resistivitas
tersebut dapat disimpulkan bahwa gedung Telkom Blimbing dikategorikan sangat
aman dari sambaran petir. Kendala yang terjadi ketika pengamatan, antara lain
kesulitan saat memaku Earth Spikes karena di sekitar titik pengamatan (bak
konduktor) sudah terpasang paving jalan, beberapa titik tidak bisa diamati karena
bagian penutup bak konduktor tidak bisa dibuka.

6.2 Saran
Perlu dilakukan pengecekan dan perawatan bak konduktor agar dapat
dengan lancar saat melakukan pengukuran resistivitas grounding.

32

DAFTAR PUSTAKA

Munandar, Aris. 1991. Buku Pegangan Teknik Tenaga Listrik Gardu Induk.
Jakarta: Pradnya Paramita.
Hutauruk, T.S 1987. Pentanahan Netral Sistem Tenaga dan Pentanahan
Peralatan. Jakarta: Erlangga.
Hutauruk, T.S. 1991. Gelombang Berjalan dan Proteksi Surja. Jakarta: Erlangga.
Kamajaya. 2008. Fisika. Bandung: Grafindo Media Pratama.
Tobing, Bonggas L. 2003. Peralatan Tegangan Tinggi. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Razevig, D.V. 1972. High Voltage Engineering. New Delhi: Khanna Publishers.
Hasse, P. 1988. Overvoltage Prptection of Low Voltage System. England: Short
Run Press Ltd.
SNI 03-7015-2004. 2004. Sistem Proteksi Petir Pada Bangunan. Jakarta: Standar
Nasional Indonesia.

33

Lampiran 1

Dokumentasi Pengamatan Sistem Grounding Gedung Telkom


Blimbing

34

35

36

37