Anda di halaman 1dari 10

KEUTUHAN DAKWAH KAMPUS

Revolusi Akademik! Menyeimbangkan Dawah Kampus Yang Belum Tuntas!


Oleh : Arie Wibowo S.T

Sejak masuk dan bergulirnya dawah Islam di kampus-kampus hingga saat ini, telah
banyak perkembangan dan perubahan serta hasil-hasil yang terlihat dari sepak terjang dan
formulasi yang dilakukan dalam mengarahkan dan pengelolaan dawah kampus. Bergulirnya
secara masif konsep dan format dawah kampus yang didasarkan pada tiga kompetensi peran
dan fungsi mahasiswa telah juga memperlihatkan capaiancapaian dan perkembangan yang
dapat dicermati. Mengacu pada konsep dan format dawah kampus yang telah digulirkan, yaitu
bahwa mahasiswa memilki setidaknya 3 peran dan fungsi besar diantaranya;
1. Peran dan fungsi dawiyah, sebagai benteng moral
Dimana seorang mahasiswa muslim dengan keIslamannya menjadi sesosok manusia
berkepribadian Islam yang hidup ditengah masyarakat kampus dan menyebarkannya kepada
yang lainnya. Dengan berpagar pada prinsip, nilai dan norma Islam, pribadipribadi ini hidup
bersama dan berjalan dalam lingkungan kampus, yang dikemudian hari diharapkan terbangun
sebuah komunitas mahasiswa sebagai sebuah entitas moral yang masif (moral credibility).
2. Peran dan fungsi intelektual, sebagai iron stock (cadangan keras)
Tak dapat dipungkiri, keberadaan mahasiswa di kampus pada dasarnya mereka adalah
orang-orang yang mencari tetes demi tetes tinta ilmu yang mengalir dalam bangku kuliah. Ini
adalah misi asasi ketika seseorang memasuki dunia kampus sebagai mahasiswa. Sehingga
budaya, kebiasaan dan cara berfikirnya pun di sinergikan dengan berbagai hal yang

melingkupinya sebagai intelektual. Cerdas, objektif ,argumentatif, ilmiah dan semangat


berprestasi. Itulah kira-kira serentetan sosok yang melekat pada dirinya.
Dan secara futuristik kelompok masyarakat terbatas inilah yang akan banyak berperan
dalam banyak partisipasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara langsung. Jumlahnya
memang terbatas dibandingkan orang kebanyakan. Karena memang kesempatan memperoleh
pendidikan yang layak di negeri ini masih terbatas. Inilah yang coba dikembangkan oleh dawah
kampus untuk membangun barisan intelektual yang cerdas, objektif, argumentatif, ilmiah dan
semangat berprestasi yang berafiliasi pada Islam. Sehingga komintas yang terbangun menjadi
sebuah entitas intelektual yang bervisi keummatan (Intelectual credibility).
3. Peran dan fungsi siyasiyah sebagai agent of change (agen perubahan).
Sudah menjadi tabiat sosial politik di dunia berkembang, dimana dalam proses
penyelenggaraan bernegara dan bermasyarakat acapkali terjadi ketimpangan sosial yang tak
terjembatani dan unbalancing power. Pada kondisi seperti ini biasanya, kampus dan mahasiswa
sebagai bagian dari gerakan pro-demokrasi dan perubahan, memainkan perannya secara
signifikan sebagai jembatan sosial dan balancing power. Tak pelak lagi, layaknya kekuatan
politik, gerakan mahasiswa mengambil perannya sebagai oposisi bagi kekuasaan dengan ciri
dan gayanya yang khas. Dalam kondisi yang demikian, dawah kampus mengambil bagian
perannya dalam menjembatani ketimpangan sosial tersebut, dan menjadi penyeimbang
kekuasaan melalui gerakan mahasiswanya, dan tentunya dengan visi mengarahkan itu semua
agar terjadi perubahan kearah yang lebih baik serta berpihak kepada ummat (Social Political
Crediblity).
Demikianlah peran dan fungsi mahasiswa muslim, seperti yang dirumuskan oleh para
muasis dawah kampus dengan kejelian bashirah dan keluasan wawasan yang jauh kedepan
serta bacaannya pada medan yang cukup tajam. Lalu pertanyaannya adalah: Sudah sejauh
apakah perjalanan dawah kampus yang sudah bergulir sedemikian lama dan penuh dinamika?
Juga seberapa pesat perkembangan dan capaian-capaian yang terjadi dari apa yang telah
digariskan dalam ketiga peran dan fungsi yang dirumuskan?
Dawah K ampus Mengevaluasi Diri
Pada mulanya dawah kampus memberikan fokus yang sangat besar hanya pada peran dan
fungsi dawiyah. Ini ditandai dengan banyaknya upaya perekrutan (tarbiyah) yang dilakukan oleh

aktifis dawahnya. Disamping syiar-syiar Islam yang terus dikembangkan. Hal ini terus
menerus dilakukan hingga saat ini. Bahkan, formulasi dan modifikasinya juga terus berkembang
lebih maju dan modern, sejalan dengan semakin menjamurnya lembaga dawah kampus di setiap
kampus yang ada, sebagai basis pergerakan, pemikiran dan konsolidasi kekuatan Dawah dalam
kelembagaan formal dan terlegitimasi.
Prestasi besar yang pernah tercatat dalam kaitan peran ini dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan adalah dengan diizinkannya pelajar dan mahasiswi muslimah mengenakan
jilbab sebagai tuntutan syariat dan indentitas muslimah. Selain itu kultur dan kebiasaan Islam
seperti pengucapan salam, pakaian Islami, penerbitan buku dan majalah Islam, dan lain-lain kini
marak ditemukan dalam suasana yang masif. Pengaruh ini juga membias di dalam kehidupan
masyarakat umum. Sampai saat ini, peran dan fungsi yang satu ini terus mengartikulasikan peran
dan fungsinya dalam skala kualitatif dan kuantitatif. Bisa dikatakan untuk peran dan fungsi yang
sudah cukup lama dilakukan ini, dawah kampus hanya melanjutkan apa yang sudah ada dan
menjadi nafas dawah, sambil mengoreksi dan memodifikasinya sesuai tuntutan zaman.
Pada perkembangannya kemudian, dawah kampus yang sebelumnya hanya memainkan
peran dan fungsi dawiyah serta berbasis di masjid dan musholla, dengan payung Lembaga
Dawah Kampus, dalam bentuk syiar dan mentoring keislaman, mengembangkan peran dan
fungsi siyasiyah sebagai agen perubahan, dengan mulai berpartisipasi dalam dunia
kemahasiswaan yang lebih umum. Dawah kampus bermetamorfosa dalam bentuknya yang
lebih umum dan partisipatip dengan terlibat dalam aktivitas kemahasiswaan di lembaga
kemahasiswaan umum, seperti Senat Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Jurusan, Koperasi
Mahasiswa, Kelompok Studi Mahasiswa dan lain-lain. Para aktifis dawah kampus merasa perlu
mengembangkan dan memperluas wilayah dawahnya ditempat lain, selain masjid dan musholla
dengan gaya serta cara yang berbeda.
Memang diawalnya ada kegamangan dari aktifis dawah kampus pada waktu itu. Baik
dalam sikap terhadap keputusan tersebut maupun cara dan gaya yang harus dikembangkan.
Cukup lama inkubasi dawah yang dihadapi pada waktu itu untuk bisa mendapatkan proporsi
dan posisi yang seimbang dalam kerangka dawah. Apalagi menanggulangi ekses negatif dari
sebuah konsekwensi ekspansi dawah. Seperti misalnya, terjadinya ketimpangan SDM antara
yang terlibat dalam menopang fungsi dan peran Dawiyah dengan Siyasiyah. Atau ekses, shock
culture yang terjadi dikalangan aktifis dawah kampus, dikarenakan ekslusivitas yang selama ini

terbangun baik sengaja atau tidak disengaja. Namun lambat laun sebagai The Fast Learner,
aktifis dawah kampus mampu menanganinya secara wajar dan seimbang hingga saat ini.
Mereka terus berinovasi dan mengembangkan model serta pendekatannya terhadap peran dan
fungsi siyasi ini.
Bahkan dikemudian hari, peran dan fungsi yang satu ini, menemukan momentum dan
sejarahnya yang pas pada kondisi sosial politik Indonesia mutakhir. Hal ini ditandai dengan
terlibat secara aktif dan berpengaruhnya aktifis dawah kampus memainkan peran dan fungsi
siyasi sebagai agen perubahan dalam peta demokrasi dan politik Indonesia. Tinta emas sejarah
mencatat dengan sangat kuat ketika pada tahun 1998, ketika gelombang Reformasi dinegeri ini
bergejolak dengan sangat kuat hingga melengserkan simbol orde baru dari kursi
kepemimpinannya. Dimana orde baru ini diyakini sebagai sumber pengekangan, otoriterianisme,
kediktatoran, anti demokrasi dan perubahan, pemasungan hakhak asasi manusia serta
penghalang kebangkitan dan kebebasan dawah Islam. Pada waktu itu elemen yang paling kritis
dan berani mengoreksinya adalah mahasiswa dengan payung kemahasiswaannya semisal Senat
Mahasiswa. Dimana pada saat itu Lembaga-lembaga Kemahasiswaan yang ada, dipimpin oleh
aktifis dawah kampus sebagai hasil dari investasi fungsi dan peran siyasi yang sejak lalu
dilakukan. Ditambah lagi dengan terkonsolidasinya kekuatan Lembaga Dawah Kampus dengan
payung Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang sangat memainkan peran
perubahan di negeri ini. Tercatatlah beberapa tokoh aktifis dawah sebagai pelopor bergulirnya
Gelombang reformasi, mereka menjadi tokoh nasional bahkan internasional karena dianggap
mempelopori dan menggerakan arus reformasi di negeri ini. Sejak saat itu hingga kini peran
siyasi dalam konteks perubahan yang dimainkan oleh aktifis dawah tetap berjalan disetiap rezim
yang ada di negara ini.
Ada satu sisi peran dan fungsi lain dari dawah kampus yang tertinggal dan belum
menampakan wujud dan pergerakannya secara konsolidatif dan jamai. Kalaupun ada
pertumbuhan dan perkembangan lebih banyak disebabkan oleh faktor pribadi dan pembawaan
sejak lahir. Yaitu peran dan fungsi intelektual sebagai iron stock. Memang sejak digulirkannya
dawah kampus hingga kini, laju peran dan fungsi intelektual sebagai iron stock ini jauh
tertinggal dibelakang peran dan fungsi daawi dan siyasi. Seolah-olah satu peran dan fungsi ini
diserahkan oleh dawah kampus sepenuhnya kepada tanggung jawab pribadi. Sehingga yang
terjadi cukup dramatis. Bahwa tradisi kejamaian aktifis dawah kampus hanya hadir pada

segmen kerja yang sifatnya syiar dan pembinaan atau dawah siyasi. Tetapi untuk masalah
akademis dan study masuk kewilayah privacy dan nafsi-nafsi.
Ekses yang terjadi akibat hal ini juga sangat dramatis, aktifis dawah kehilangan
kesempatan untuk berprestasi, menjalani tradisi intelektual yang dinamis dan berbobot,
membangun lingkar kerja dan dawah yang luas, serta berpartisipasi atas keilmuan yang
dimilikinya selain membiaskan masa depan yang dibangunnya. Memang membincangkan satu
hal ini sangat sensitif lantaran berkaitan dengan kemampuan intelegence dan kerajinan
seseorang. Tetapi bukan kemudian dawah tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap
permasalahan ini, apalagi melalaikannya secara sistemik dengan tidak adanya orang atau badan
yang berusaha mengelola dan menangani perkembangan serta pertumbuhan sisi tersebut.
Adakalanya memang seseorang memiliki kemampuan intelegensia yang biasa-biasa saja, tetapi
treatment yang wajar dan perhatian yang seimbang sebenarnya bisa sedikit mengatasi
permasalahan tersebut. Tetapi ada juga beberapa aktifis dawah yang memiliki prestasi yang
cukup baik dikampus lantaran kemampuan pribadi.
Pada realitas yang sebenarnya, terjadi gejala yang fenomenal, bahwa seolah-olah ada
keterpisahan jarak yang cukup dalam antara progresifitas dawiyah dan siyasiyah dengan
akademis. Siyasi dan Dawy di sebuah gunung yang sama, sementara akademik di sebuah
lembah yang lain, ironis! Ada beberapa kemungkinan faktor yang mempengaruhi mengapa laju
peran dan fungsi akademik (fanniyah) tidak begitu cepat progresnya dibandingkan peran dan
fungsi siyasi dan dawy, diantaranya :
1. Tidak seimbangnya para aktifis dawah kampus memahami manhaj dawah kampus. Hal ini
mudah terlihat dari tidak diberikannya perhatian yang cukup memadai terhadap fungsi dan peran
fanniyah (akademik)
2. Tidak seriusnya penataan dan penanganan seputar permasalahan akademik dikalangan aktifis
dawah kampus. Misalnya, minimnya konsolidasi yang dilakukan untuk mem-backup
permasalahan akademik seperti konsolidasi dosen aktivis, konsolidasi orang-orang pintar dll.
3. Cara pandang yang salah terhadap komunitas orang-orang pintar dikampus yang tidak terlibat
dalam kegiatan teknis dilapangan dawah kampus. Ada kesan bahwa komunitas orang-orang
pintar tersebut pragmatis dan egois, sehingga dijauhi dari perputaran dawah, padahal mereka
bisa diajak beramal islami dalam wilayah yang lain.

4. Paradigma terbalik yang sering menjadi kebiasan mahasiswa umum, bahwa menjadi aktifis harus
berantakan kuliahnya menyergap dan diamini secara diam-diam ataupun terang-terangan oleh
aktifis dawah juga.
5. Mentalitas terbelakang dan primitif tentang makna prestasi yang belum menjadi atmosfir dan
kebiasaan dikalangan ADK.
6. Tidak ada treatment yang seimbang terhadap pengembangan dan peningkatan permasalahan ini.
Kalau di kampus ada daurah/training tentang dawah ataupun siyasi mengapa tidak difasilitasi
daurah/training serupa untuk kebutuhan akademik, seperti training kecapakan akademik berupa,
kemampuan membaca dan menghapal cepat, cara belajar ffektif, atau asistensi dan mentoring
mata kuliah dengan pengajar dari komunitas orang-orang pintar, dll.
7. Sempitnya pemahaman amal jamaI. Seolah-olah amal jamai hanya milik kegiatan syiar atau
siyasi, tetapi untuk akademik nafsi-nafsi..
Padahal membicarakan peran dan fungsi intelektual ini, begitu penting dan urgentnya
sebagaimana peran dan fungsi lainnya. Seperti dikemukakan di awal, bahwa peran dan fungsi
yang berbasis kepada kemampuan dan penguasaan disiplin ilmu ini sangatlah investatif, karena
dengan penguasaan dan kemampuan tersebut, kekuatan kaum muslimin dapat memainkan
perannya secara langsung dalam berbagai peran kehidupan, disektor-sektor strategis dengan
kredibilitas intelektualnya. Dan tidak banyak orang yang mendapat kesempatan untuk mereguk
dan menguasai berbagai disiplin ilmu selain mahasiswa muslim yang study di kampus.
Merekalah cadangan masa depan yang siap menggantikan generasi yang rapuh dan tua dinegeri
ini. Lima, sepuluh, duapuluh tahun dan hari-hari kedepan adalah milik mereka yang memiliki
kompetensi keilmuan dan professional. Apalagi mencermati gejala globalisasi yang semakin
dahsyat dan akan mengancam, apabalia dawah tidak siap mengahadapinya. Ketika zaman
semakin meritokratif, the right man on the right place!
Peran dan fungsi fanniyah dari dawah kampus ini, sebenarnya lebih kedepan juga
merupakan anak tangga yang sangat diharapkan bisa mengisi diwilayah-wilayah dawah
profesionalitas berdasarkan pada kompetensi yang dibangunnya dikampus. Melihat peta dan
perkembangan amal dawah mihani (profesi) kekuatan ummat Islam masih belum cukup
memadai untuk hal tersebut. Siapa lagi yang paling mungkin memberikan raw material yang
mumpuni terhadap dawah profesi yang memiliki imbas dawah yang signifikan dalam
kehidupan nyata, kalau bukan support dari dawah kampus.

Dr. Musthafa Muhammad Thahhan mengatakan dalam bukunya Khuttah Amal Thullaby,
bahwa :
Amal Thullabi yang terefleksi pada buku, guru/dosen, sekolah, kampus,
tulisan ilmiah, lembaga kemahasiswaan, baik di tingkat fakultas atau
perguruan tinggi, adalah lingkaran awal masyarakat madani. Selanjutnya
diikuti oleh organisasi profesi yang mengembangkan amal thullabi di
berbagai spesialisasi profesi, diteruskan oleh partai yang menjaga iklim
kemerdekaan dan demokratisasi sebagai lingkaran akhir untuk membentuk
masyarakat dengan nilai-nilai Islam yang lurus. Dengan semua itu, ummat
akan mampu memperoleh tempatnya yang terhormat di tengah masyarakat
manusia
Simultansi antara dawah kampus, dawah profesi dan partai politik
merupakan sebuah estafeta yang berkelanjutan dalam membangun ummat
serta anak tangga yang harus dilalui. Sudah saatnya dawah kampus kini
menyeimbangkan kembali peran dan fungsinya secara proporsional agar
kerja-kerja dawahnya memberikan arti dan sumbangan yang bukan hanya
signifikan dalam akses dan ekses, tetapi dia juga bisa menjadi pijakan yang
kuat bagi keberlanjutan dawah pada anak tangga berikutnya. Sekarang
pertanyaannya kemudian, apa yang harus dilakukan untuk menyeimbangkan
fungsi dan peran yang sudah berjalan ini? Saat ini masanya dawah kampus
melakukan penataan ulang tawazunitas dan sinergisitas dakwah kampus,
terhadap sistem penataan dawah, paradigma, semangat (spirit), mentalitas,
perhatian (concern), kultur dan kebiasaan, serta perangkat pendukungnya,
baik secara individu maupun sistem yang bekerja didalamnya, agar dawah
yang sudah digariskan dapat berjalan secara seimbang, faktual dan kokoh
serta berkelanjutan dengan tetap komitmen merujuk pada trilogi dakwah
kampus, yakni:
Membangun kompetensi akademik dan persiapan profesi
Membangun pemahaman sosial dan politik
Melaksanakan tugas harokah dan dakwah
Ada beberapa konsideran penting dan mendesak yang bukan lagi untuk didiskusikan, tetapi
lebih kepada langkah taktis dan teknis yang harus dilakukan sehubungan dengan Revolusi
Akademik ini, diantaranya :

1. Secara manhaji fungsi dakwah kampus yang belum tertangani dengan sistemik adalah fungsi
akademik, selain yang telah mapan tarbiyah, dan yang nampak semakin mapan fungsi social
politik.
2. Tantangan perguruan tinggi yang semakin pragmatis menuju dunia kerja dan masa kuliah yang
semakin pendek dengan jadual yang padat, harus dijawab dengan amal khidamy di bidang
akademik. Lagi pula prestasi akademik adalah nilai tertinggi yang mengikat dan menjadi
kepentingan seluruh civitas akademika.
3. Tahap berikutnya pasca dakwah kampus adalah dakwah profesi baik itu sebagai akademisi,
entrepreneur maupun professional.
4. Selain fungsi dakwah kampus di bidang tarbiyah yang ditandai oleh terkelolanya lembagalembaga keagamaan di kampus, dan fungsi social politik yang ditandai oleh terkelolanya
BEM/Senat Mahasiswa, pada tahap berikutnya dakwah kampus harus merambah ke himpunanhimpunan mahasiswa jurusan untuk meningkatkan kompetensi dibidang ilmu yang digelutinya
dan membina jaringan profesinya sedini mungkin, selain meningkatkan skill dan kompetensi
ilmiah setiap individu..
5. Kebutuhan dakwah di mihwar muasasi dan persiapan ke arah mihwar dauliy kelak sangat
membutuhkan SDM, konsep, dan infrastruktur yang matang. Proses Islamisasi negara dan
sebuah peradaban pada umumnya membutuhkan proses Islamisasi mulai dari tingkat normative,
teory, hingga ke tingkat model-model aplikatif. Hal ini mau tidak mau, siap tidak siap, bisa tidak
bisa harus dimulai dari fungsi akademik dakwah kampus.
6. Jaringan di dunia akademik tanpa tapal batas. Apabila berkembang ikatan, asosiasi, atau
lembaga-lembaga atas dasar bidang akademik tertentu akan terjalin suatu benang hijau yang
menjadi infrastruktur dakwah ditingkat alamiy (internasional)
Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan secara seksama
dari para penyelenggara dawah kampus (semacam kaidah), agar Revolusi
Akademik ini berjalan secara efektif dan efesien serta meminimalisir ekses
yang mungkin terjadi dari sebuah perubahan dan reengineering dawah
kampus, diantara kaidah itu adalah :
1. Tidak Menjadi Bandul Pergerakan.
Belajar dari pengalaman yang pernah ada dan dilakukan dari proses dawah
kampus yang telah lampau, dimana menjadi kebiasan yang tidak baik dalam

pergerakan dawah kampus, selalu terjadi ketidakseimbangan sistem, baik


tingkat distribusi SDM maupun performance kerja, dalam setiap perubahan
dan ekspansi dawah ke wilayah garap yang baru. Ini pernah terjadi ketika
fungsi siyasi waktu itu baru dihembuskan urgensi dan kepentingannya. Maka
banyak kampus mengalami bandul pergerakan yang tak seimbang, dimana
para aktifis dawahnya berbondong-bondong aktif berpartisipasi dalam
aktifitas lembaga kemahasiswaan umum (bedol ikhwah) sehingga yang
menjaga gawang peran dan fungsi daawy tidak ada serta tidak menarik
lagi, sehingga pembinaan (tarbiyah) dan syiar tidak berjalan sebagaimana
mestinya. Walaupun kemudian recovery permasalahan ini cepat tertangani.
Hal ini terjadi lantaran aktifis dawah kampus terlalu kaget dengan kejutankejutan pergerakan yang memang sudah menjadi tabiatnya senantiasa
dinamis dan penuh pergerakan. Revolusi Akademik yang didengungkan nanti
tidak harus memunculkan kejutan-kejutan pergerakan yang akan
menyebabkan terganggunya sistem yang sudah berjalan. Disamping apa
yang selama ini sudah berjalan (dawiyah dan siyasiyah) tidak harus
terbengkalai dengan adanya peneguhan dan perbaikan fungsi yang lainnya
(fanniyah)
2. Spesialisasi Bukan Parsialisasi
Tiga peran dan fungsi yang telah digariskan dalam manhaj dawah kampus
sebenarnya hendak menjadikan mahasiswa dalam peran strategisnya itu
menjadi gerakan yang dinamis dan masif, bukan pada upaya
mengklasisfikasi, mengkotakkan peran dan fungsi apalagi kalau dipandang
sebagai sebuah parsialisasi peran dan fungsi. Ketiganya adalah peran dan
fungsi umum yang harus dimainkan dan dimasifkan secara bersamaan
sabagai sebuah komunitas dan indentitas. Walaupun pada kenyataannya
dilapangan masing-masing peran dan fungsi tersebut menemukan wilayah
dan kecenderungan yang berbeda terhadap berbagai jenis dan tipe orang.
Akhirnya yang ada adalah sebuah upaya memberi jalan bagi kecenderungan
yang lebih besar dari para aktifis dawah sebagai spesialisasi peran dan

fungsi yang dimilikinya. Tetapi ketiga tetap harus berjalan beriring


bersamaan, tidak saling mengeliminasi.
3. Dari dalam keluar dan dari luar ke dalam
Revolusi Akademik ini, harus mampu melakukan mobilisasi pergerakan atas
nama intelektualisme, kesegenap elemen dan masyarakat yang ada didalam
kampus.Dalam hal ini mahasiswa muslim secara umum. Ada proses timbal
balik antara aktifs dawah dan masyarakat kampus yang ammah baik dosen
maupun mahasiswanya. Misalnya, mentoring dan asistensi yang
diperuntukan mahasiswa muslim diisi oleh dosen / mahasiswa dengan
fasilitatornya aktifis dawah. Atau membuka networking kerja kerja ilmiah
dan akademis, seperti asisten lab, asdos, penelitian dll, dengan para dosen
potensial dsb.
Diantara ciri khas manhaj Islam adalah bersifat utuh dan menyeluruh serta meliputi
berbagai sistem yang dapat memenuhi beraneka kebutuhan manusia. Sedangkan
sektoralisasi (juziyah) sama ibaratnya seperti mempreteli sebuah alat yang
tersusun dari beberapa bagian yang saling menyempurnakan. Akibatnya alat
tersebut akan rusak dan tidak akan berfungsi lagi. Seperti itulah logika dakwah
kampus harus menjaga keutuhannya. Maka disini berlaku logika tawazun dalam
membangun dakwah kampus. Jika totalitas dan integralitas adalah suatu kewajiban
dalam dakwah, maka tawazunitas dakwah kampus tidak diragukan lagi merupakan
tuntutan yang harus dipenuhi. Jika setiap lini dakwah tidak mensinergikan dirinya
dalam mata rantai perjuangan dakwah kampus, niscaya kegiatan-kegiatan siyasi,
daawi maupun ilmi akan tetap merupakan aktivitas individu, sektoral, temporal,
terancam eksistensinya serta memperlambat kemenangan dakwah kampus. Sebab
dakwah yang syamil mensyaratkan keterlibatan seluruh potensi yang dimiliki oleh
para kadernya.

Diposkan oleh Arida Sahputra di 8:47 AM


Label: Cendikia, Halaqah