Anda di halaman 1dari 7

OPERKULEKTOMI (PERICORONAL FLAP)

Alat dan Bahan :


1. Alat dasar : kaca mulut, sonde, pinset KG, dan
eskavator
2. Pinset chirurgis
3. Glass plate
4. Akuades steril dan spuit
5. Cotton roll dan tempat
6. Alkohol 70% dan tempat
7. Betadine antiseptik
8. Neir beiken

9. Semen spatel
10. Tampon dan tempat
11. Cotton pelet dan tempat
12. Periodontal probe
13. Periodontal pack (dressing)
14. Gunting
15. Scalpel

Operkulektomi atau pericoronal flap adalah pembuangan operkulum secara bedah.


Perawatan perikororonitis tergantung pada derajat keparahan inflamasinya. Komplikasi sistemik yang
ditimbulkan dan pertimbangan apakah gigi yang terlibat nantinya akan dicabut atau dipertahankan. Selain itu hal
yang perlu diperhatikan dan adalah faktor usia dan kapan dimulai adanya keluhan. Perlu adanya observasi
mengenai hal tersebut karena jika usia pasien adalah usia muda dimana gigi terakhir memang waktunya untuk
erupsi dan mulai keluhan baru saja terjadi, maka operkulektomi sebaiknya tidak dilakukan dulu.
Kondisi akut merupakan kontraindikasi dilakukannya operkulektomi, namun tindakan emergensi dapat dilakukan
hingga kondisi akut dapat ditanggulangi kemudian keadaan dievaluasi untuk dapat melakukan operkulektomi
Teknik :
1. Menentukan perluasan dan keparahan struktur jaringan yangterlibat serta komplikasi toksisitas sistemik yang
ditimbulkan.
2. Menghilangkan debris dan eksudat yang terdapat pada permukaan operkulum dengan aliran air hangat atau
aquades steril.
3. Usap dengan antiseptik.
4. Operkulum/pericoronal flap diangkat dari gigi dengan menggunakan scaler dan debris di bawah operkulum
dibersihkan.
5. Irigasi dengan air hangat/aquades steril.
Catatan :
Pada kondisi akut sebelum dilakukan pembersihan debris dapat diberikan anastesi topikal. Pada kondisi akut
juga tidak boleh dilakukan kuretase maupun surgikal.
Bila operkulum membengkak dan terdapat fluktuasi, lakukan insisi guna mendapatkan drainase. Bila perlu
pasang drain dan pasien diminya datang kembali setelah 24 jam guna melepas/mengganti drainnya.
Jika kondisi akut, maka perawatan selanjutnya diberikan di kunjungan kedua. Pasien diinstruksikan agar :
a. Kumur-kumur air hangat tiap 1 jam
b. Banyak istirahat
c. Makan yang banyak dan bergizi
d. Menjaga kebersihan mulutnya
Pemberian antibiotik dapat dilakukan jika diperlukan (bila ada gejala-gejala konstisional dan kemungkinan
adanya penyebaran infeksi). Demikian pula analgesik dapat diberikan kepada pasien jika diperlukan.
Kondisi pasien kemudian dievaluasi di kunjungan berikutnya dan dapat dilanjutkan ke tahap selanjutnya bila
kondisi pasien telah membaik dan keadaan akut telah reda.
6. Cek pocket periodontal yang ada untuk mengetahui apakah tipe pocket (false pocket atau true pocket).
Lakukan probing debt pada semua sisi.
7. Anastesi daerah yang ingin dilakukan operkulektomi. Anastesi tidak perlu mencapai sampai tulang, hanya
sampai periosteal.
8. Lakukan operkulektomi (eksisi periodontal flap) dengan memotong bagian distal M3.
Jaringan di bagian distal M3 (retromolar pad) perlu dipotong untuk menghindari terjadinya kekambuhan
perikoronitis. Ambil seadekuat mungkin. Penjahitan dilakukan jika trauma terlalu besar atau bleeding terlalu
banyak.
Teknik operkulektomi yang lain dapat dilakukan secara partial thickness mucogingival flap pada daerah lingual.
Untuk daerah bukal juga dibuat insisi partial thickness flap dengan meninggalkan selapis jaringan. Partial
thickness flap adalah flap yang dibuat dengan jalan menyingkap hanya sebagian ketebalan jaringan lunak yakni
epitel dan selapis jaringan ikat, tulang masih ditutupi jaringan ikat termasuk periosteum. Indikasi untuk
dilakukannya teknik ini adalah flap yang akan ditempatkan ke arah apikal atau operator tidak bermaksud
membuka tulang. Setelah dilakukan flap dapat dilakukan eksisi seluruh jaringan retromolar pad kemudian
menyatukan flap bukal dan lingual dengan melakukan penjahitan.
9. Bersihkan daerah operasi dengan air hangat/aquades steril.

10. Keringkan agar periodontal pack yang akan diaplikasikan tidak mudah lepas.
11. Aplikasikan periodontal pack.
Penggunaan periodontal pack bukan medikasi, namun menutupi luka (dressing) agar proses penyembuhan
tidak terganggu. Dressing periodontal dulu mengandung zinc-oxide eugenol, namun sekarang kurang disukai
karena dapat mengiritasi. Karena alasan itu, sekarang ini digunakan bahan dressing periodontal bebas eugenol.
Dalam mengaplikasikannya harus hati-hati sehingga dapat menutupi daerah luka dan mengisi seluruh ruang
interdental karena di situlah letak retensinya. Pada daerah apikal, periodontal pack diaplikasikan jangan melebihi
batas epitel bergerak dan epitel tak bergerak dan mengikuti kontur. Pada daerah koronal jangan sampai
mengganggu oklusi. Dengan demikian, retensi periodontal pack menjadi baik.
12. Instuksikan pada pasien agar datang kembali pada kunjungan berikutnya (kalau tidak ada keluhan, satu
minggu kemudian)
13. Pada kunjungan berikutnya, pack dibuka dan dievaluasi keadaannya.
Sumber :
http://toothportal.co.uk/page_attachments/0000/0267/Pericoronitis.jpg
http://www.smilesonunionsquare.com/initial_visit/images/initial_09_4.jpg
Manson, J.D dan B.M Eley. 1993. Buku Ajar Periodonti Edisi 2. Jakarta: Hipokrates
Tim Penyusun Periodonsia. Buku Praktikum Periodonsia FKG Unej

PENEGAKAN DIAGNOSA OPERKULEKTOMI


DAN PENATALAKSANAAN
BAB I
PENDAHULUAN
Perikoronitis adalah keradangan jaringan gingiva disekitar mahkota gigi yang erupsi sebagian, paling sering
terjadi pada gigi molar ketiga rahang bawah. Perikoronitis terjadi akibat penumpukan bakteri, plak, dan sisa makanan pada
rongga operkulum gusi dan gigi yang erupsi sebagian (Topazian, 2002). Sedangkan beberapa peneliti mengatakan bahwa
perikoronitis merupakan suatu proses infeksi. Pada gigi yang erupsi sebagian, mahkota gigi ditutupi oleh jaringan lunak
yang disebut dengan operkulum. Operkulum tidak dapat dibersihkan dengan sempurna sehingga sering mengalami infeksi
(Keys and Bartold, 2000).
Penyebab perikoronitis adalah terjebaknya makanan di bawah operkulum. Selama makan, debris makanan dapat
berkumpul pada pseudopoket antara operkulum dan gigi impaksi. Poket yang tidak bisa dibersihkan mengakibatkan bakteri
berkolonisasi dan menyebabkan perikoronitis (Hupp et al, 2008). Mikroflora pada perikoronitis didapatkan mirip dengan
mikroflora pada poket periodontal. Bakteri-bakteri tersebut memicu inflamasi pada daerah perikorona (Leung, 1993).
Perikoronitis juga diperparah dengan adanya trauma akibat gigi antagonis. Selain itu faktor emosi, merokok, dan infeksi
saluran respirasi juga memperparah perikoronitis (Topazian, 2002).
Gejala awal perikoronitis berupa nyeri dan pembengkakan lokal pada operkulum yang menutupi mahkota gigi. Pada
beberapa kasus yang lebih parah pasien dapat mengeluhkan keterbatasan membuka mulut (trismus) dan pembengkakan di
wajah. (Coulthard et al. 2008).
Terapi dari perikoronitis dapat dilakukan dengan irigasi di mukosa ruang perikorona menggunakan larutan
antimikroba, salin steril, atau larutan povidone iodine 10%. Kemudian pasien diinstruksikan untuk berkumur dengan air
hangat atau larutan salin. Setelah fase akut terlewati, maka dapat dilakukan terapi kuratif yaitu dengan operkulektomi atau
dengan odontektomi (Topazian, 2002).Operkulektomi atau pericoronal flap adalah pembuangan operkulum secara bedah.
Perawatan perikororonitis tergantung pada derajat keparahan inflamasinya. Komplikasi sistemik yang ditimbulkan dan
pertimbangan apakah gigi yang terlibat nantinya akan dicabut atau dipertahankan. Selain itu hal yang perlu
diperhatikan adalah faktor usia dan kapan dimulai adanya keluhan. Perlu adanya observasi mengenai hal tersebut karena
jika usia pasien adalah usia muda dimana gigi terakhir memang waktunya untuk erupsi dan mulai keluhan baru saja terjadi,
maka operkulektomi sebaiknya tidak dilakukan dulu. Kondisi akut merupakan kontraindikasi dilakukannya operkulektomi,
namun tindakan emergensi dapat dilakukan hingga kondisi akut dapat ditanggulangi kemudian keadaan dievaluasi untuk
dapat melakukan operkulektomi
Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang etiologi, penatalaksanaan dan terapi dari operkulitis, serta
penegakkan diagnose operkulektomi dan penatalaksanaanya.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Operkulektomi


Operkulektomi adalah pembuangan operkulum secara bedah. Operkulum ini sering terjadi keradangan, dan disebut
dengan perikoronitis. Gigi yang sering mengalami keradangan ini biasanya pada gigi molar ketiga rahang bawah.
Operkulektomi merupakan perawatan dari perikoronitis, namun tergantung dari tingkat keparahanya.
2.2 Definisi Perikoronitis
Perikoronitis adalah keradangan jaringan gingiva disekitar mahkota gigi yang erupsi sebagian. Gigi yang sering
mengalami perikoronitis adalah pada gigi molar ketiga rahang bawah. Proses inflamasi pada perikoronitis terjadi karena
terkumpulnya debris dan bakteri di poket perikorona gigi yang sedang erupsi atau impaksi (Mansour and Cox, 2006).
Faktor-faktor resiko yang dapat menimbulkan perikoronitis adalah mahkota gigi yang erupsi sebagian atau adanya
poket di sekeliling mahkota gigi tersebut, gigi antagonis yang supraposisi, dan oral hygiene yang buruk. (Meurman et al,
2003). Perikoronitis berhubungan dengan bakteri dan pertahanan tubuh. Jika pertahanan tubuh lemah seperti saat menderita
influenza atau infeksi pernafasan atas, atau karena penggunaan obat-obat imunosupresan maka pertahanan tubuh seorang
pasien akan lemah dan mempermudah timbulnya perikoronitis (Hupp et al, 2008).
2.2.1 Etiologi Perikoronitis
Etiologi utama perikoronitis adalah flora normal rongga mulut yang terdapat dalam sulkus gingiva. Flora normal yang
terlibat adalah polibakteri, meliputi bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif (Sixou et al, 2003). Mikroflora pada
perikoronitis didapatkan mirip dengan mikroflora pada poket periodontal. Bakteri-bakteri tersebut memicu inflamasi pada
daerah perikorona. Perikoronitis juga diperparah oleh trauma akibat gigi antagonis. Selain itu faktor emosi, merokok, dan
infeksi saluran respirasi juga memparah perikoronitis (Leung, 1993).
2.2.1.1 Mikroflora Pada Perikoronitis
Sixou et al (2003) menyatakan bahwa mikroorganisme yang ditemukan pada kasus-kasus perikoronitis adalah
bakteri aerob Gram positif coccusseperti Gamella, Lactococcus, Streptococcus, dan Staphylococcus, aerob Gram positif
bacillus seperti Actinomyces,Bacillus, Corynenebacterium, Lactobasillus, dan propionibacterium, aerob gram negative
bacillus seperti Capnocytophaga dan Pseudomonas,anaerob gram positif coccus seperti Peptostreptococcus, anaerob gram
positif bacillus seperti Bacteroides, Fusobacterium, Leptotrichia, Prevotella, dan Porphyromonas (Sixou et al, 2003).
Bakteri-bakteri tersebut memicu inflamasi pada daerah perikorona terutama bakteristreptococcus, actinomyces, dan
prevotella yang dominan, membuat penderita mengalami kondisi akut (Leung, 1993). Hal ini berkaitan erat dengan
patogenesis dimana peradangan terjadi akibat adanya celah pada perikorona yang menjadi media subur bagi koloni bakteri.
(Sixou et al, 2003).
1. Streptococcus mutans
Streptococcus mutans merupakan bakteri gram positif, bersifat nonmotil dan tergolong bakteri anaerob
fakultatif.Streptococcus mutans memiliki bentuk kokus yang berbentuk bulat atau bulat telur dan tersusun dalam bentuk
rantai. Bakteri ini tumbuh secara optimal pada suhu sekitar 180-40 oC. Streptococcus mutans biasanya ditemukan pada
rongga mulut manusia yang mengalami luka. (Livia C et al, 2012).
Streptococcus mutans dapat tumbuh subur dalam suasana asam dan menempel pada mukosa ruang perikorona
karena kemampuannya membuat polisakarida ekstra sel yang sangat lengket dari karbohidrat makanan. Polisakarida ini
mempunyai konsistensi seperti gelatin. Akibatnya, bakteri-bakteri terbantu untuk melekat pada mukosa serta saling melekat
satu sama lain. Dan setelah makin bertambahnya bakteri akan menghambat fungsi saliva dalam menetralkan suasana asam
dalam rongga mulut (Volk dan Wheeler, 1990).
Streptococcus mutans merupakan bakteri yang paling dominan peranannya dalam patogenesis perikoronitis.
2. Actinomyces
Actinomyces termasuk genus bakteri yang banyak ditemukan pada operkulum perikoronitis. Actinomyces
juga banyak ditemukan dalam gigi karies, pada poket gingiva dan kripta tonsil sebagai saprofit, actinomyces merupakan
bakteri yang cukup berperan dalam patogenesis penyakit periodontal (Lall, Shehab, Valenstein, 2010).
3.

Prevotella
Prevotella merupakan
genus
bakteri
yang
banyak
ditemukan
pada
operkulum
penderita
perikoronitis. Prevotella adalah organisme anaerobik yang umumnya ditemukan pada infeksi rongga mulut. Prevotella juga
termasuk jenis bakteri yang berperan dalam penyakit periodontal (Eduaro and Mario, 2005).

2.2.2 Patogenesis
Perikoronitis berawal dari gigi yang erupsi sebagian, mahkota gigi diliputi oleh jaringan lunak yang disebut dengan
operkulum. Antara operkulum dengan mahkota gigi yang erupsi sebagian terdapat spasia, bagian dari dental follicle, yang
berhubungan dengan rongga mulut melalui celah membentuk pseudopoket (Guiterrez and Perez, 2004). Selama makan,
debris makanan dapat berkumpul pada poket antara operkulum dan gigi impaksi. Operkulum tidak dapat dibersihkan dari
sisa makanan dengan sempurna sehingga sering mengalami infeksi oleh berbagai macam flora normal rongga mulut,
terutama mikroflora subgingiva yang membentuk koloni di celah tersebut. Kebersihan rongga mulut yang kurang, sehingga
terdapat akumulasi plak, dapat mendukung berkembangnya koloni bakteri (Bataineh et al, 2003). Menurut Keys dan Bartold
(2000) infeksi tersebut dapat bersifat lokal atau dapat meluas ke jaringan yang lebih dalam dan melibatkan spasia jaringan
lunak. Perikoronitis juga diperparah dengan adanya trauma akibat gigi antagonis. Selain itu faktor emosi, merokok, dan
infeksi saluran respirasi juga memperparah perikoronitis (Topazian, 2002).
2.2.3 Gejala Klinis
gingiva kemerahan dan bengkak di regio gigi yang erupsi sebagian, rasa sakit pada waktu mengunyah makanan,
merupakan gejala klinis yang sering ditemukan pada penderita perikoronitis (Samsudin dan Mason, 1994). Bau mulut yang
tidak enak akibat adanya pus dan meningkatnya suhu tubuh dapat menyertai gejala-gejala klinis yang tersebut di atas.
Pada beberapa kasus dapat ditemukan ulkus pada jaringan operkulum yang terinfeksi akibat kontak yang terus
menerus dengan gigi antagonis. Apabila perikoronitis tidak diterapi dengan adekuat sehingga infeksi menyebar ke jaringan
lunak, dapat timbul gejala klinis yang lebih serius berupa limfadenitis pada kelenjar limfe submandibularis, trismus, demam,
lemah, dan bengkak pada sisi yang terinfeksi (Laine et al, 2003).
2.2.4 Klasifikasi Perikoronitis
Perikoronitis secara klinis terbagi menjadi tiga, yaitu perikoronitis akut, perikoronitis subakut, dan perikoronitis
kronis (Topazian, 2002).
2.2.4.1 Perikoronitis Akut
Perikoronitis akut diawali dengan rasa sakit yang terlokalisir dan kemerahan pada gingiva. Rasa sakit dapat
menyebar ke leher, telinga, dan dasar mulut. Pada pemeriksaan klinis pada daerah yang terinfeksi, dapat terlihat gingiva
yang kemerahan dan bengkak, disertai eksudat, dan terasa sakit bila ditekan. Gejala meliputi limfadenitis pada kelenjar
limfe submandibularis, dan kelenjar limfe yang dalam, pembengkakan wajah, dan eritema, edema dan terasa keras selama
palpasi pada operkulum gigi molar, malaise, bau mulut, eksudat yang purulen selama palpasi. Demam akan terjadi apabila
tidak diobati. Umumnya serangan akut dapat menyebabkan demam dibawah 38,5C, selulitis, dan ketidaknyamanan. Pada
inspeksi biasanya ditemukan akumulasi plak dan debris akibat pembersihan yang sulit dilakukan pada pseudopoket sekitar
gigi yang erupsi sebagian. Trismus dapat terjadi pada perikoronitis akut. (Shepherd and Brickley, 1994).
2.2.4.2 Perikoronitis Subakut
Perikoronitis subakut ditandai dengan timbulnya rasa kemeng/nyeri terus menerus pada operkulum tetapi tidak ada
trismus ataupun gangguan sistemik. (Shepherd and Brickley,1994).
2.2.4.3 Perikoronitis Kronis
Perikoronitis kronis ditandai dengan rasa tidak enak yang timbul secara berkala. Rasa tidak nyaman dapat timbul
apabila operkulum ditekan. Tidak ada gejala klinis yang khas yang menyertai perikoronitis kronis. Pada gambaran radiologi
bisa didapatkan resorpsi tulang alveolar sehingga ruang folikel melebar, tulang interdental di antara gigi molar kedua dan
molar ketiga menjadi atrisi dan menghasilkan poket periodontal pada distal gigi molar kedua (Laine et al,2003).

2.2.5 Penatalaksanaan dan Terapi


Terapi dari perikoronitis bervariasi, tergantung dari keparahan, komplikasi sistemik, dan kondisi gigi yang terlibat.
Terapi umum dilakukan pada penderita perikoronitis adalah terapi simptomatis, antibiotika, dan bedah. Berkumur dengan air
garam hangat dan irigasi dengan larutan H2O23% di daerah pseudopoket merupakan terapi perikoronitis yang bersifat lokal.
Terapi simtomatis dilakukan dengan pemberian analgetik yang adekuat untuk mengurangi rasa sakit. Analgetik yang sering
diberikan adalah golongan anti inflamasi non steroidatau golongan opioid ringan apabila pasien mengeluh rasa sakit yang
berat (Soelistiono, 2005).
Terapi antibiotika dilakukan untuk mengeleminasi mikroflora penyebab perikoronitis. Antibiotika diberikan kepada
penderita pada fase akut yang supuratif apabila tindakan bedah harus ditunda (Martin, Kanatas, Hardy, 2005). Terapii bedah

meliputi operkulektomi dan odontektomi yang dilakukan setelah fase akut reda, tergantung dari derajat impaksi gigi
(Blakey, White, Ofenbacher, 1996). Prognosis dari perikoronitis baik apabila penderita dapat menjaga kebersihan rongga
mulutnya.
2.3 Teknik Operkulektomi
Operkulektomi atau pericoronal flap adalah pembuangan operkulum secara bedah.Perawatan perikororonitis
tergantung pada derajat keparahan inflamasinya. Komplikasisistemik yang ditimbulkan dan pertimbangan apakah gigi yang
terlibat nantinya akandicabut atau dipertahankan. Selain itu hal yang perlu diperhatikan adalah faktor usia dan kapan
dimulai adanya keluhan. Perlu adanya observasi mengenai hal tersebut karena jika usia pasien adalah usia muda dimana gigi
terakhir memang waktunya untuk erupsi dan mulai keluhan baru saja terjadi, maka operkulektomi sebaiknya tidak dilakukan
dulu. Kondisi akut merupakan kontra indikasi dilakukannya operkulektomi, namun tindakan emergensi dapat dilakukan
hingga kondisi akut dapat ditanggulangi kemudian keadaan dievaluasi untuk dapat melakukan operkulektomi..
Adapun teknik operkulektomi sebagai berikut (Bataineh,2003):
Kunjungan pertama
1. Menentukan perluasan dan keparahan struktur jaringan yang terlibat serta komplikasi toksisitas sistemik yang
ditimbulkan
2. Menghilangkan debris dan eksudat yang terdapat pada permukaan operculum dengan aliran air hangat atau aquades
steril
3. Usap dengan antiseptik.
4. Operkulum/pericoronal flap diangkat dari gigi dengan menggunakan scaler dan debrisdi bawah operkulum dibersihkan
5. rigasi dengan air hangat/aquades steril
Pada kondisi akut sebelum dilakukan pembersihan debris dapat diberikan anastesitopikal. Pada kondisi akut juga tidak boleh
dilakukan kuretase maupun surgikal.
6. Instruksi pada pasien agar:
Kumur-kumur air hangat tiap 1 jam
Banyak istirahat
Makan yang banyak dan bergizi
Menjaga kebersihan mulut
7. Pemberian antibiotic bila perlu diberikan, juga analgetik
8. Bila operkulum membengkak dan terdapat fluktuasi, lakukan insisi guna mendapatkan drainase. Bila perlu pasang drain
(bila dipakai drain sebaiknya pasien diminta datang kembali setelah 24 jam, guna melepas atau mengganti drain).
Kunjungan kedua
Bila kondisi pasien telah membaik dan keadaan akut telah reda:
1. Lakukan opperkulektomi atau eksisi perikoronal flap
2. Jaringan dibagian distal M3 perlu dipotong untuk menghindari terjadinya kekambuhan perikoronitis
3. Bersihkan daerah operasi dengan air hangat/aquades steril
4. Aplikasi periodontal pack
5. Instruksi pada pasien agar datang kembali pada kunjungan berikutnya (kalau tidak ada keluhan, 1 minggu kemudian).
Kunjungan ketiga
Pack dibuka , bila keadaan baik maka, menentukan apakah gigi yang terlibat (M3) akan dicabut atau dipertahankan,
keputusan ini didukung oleh pertimbangan apakah gigi tersebut nantinya akan berkembang atau tumbuh pada posisi
yang baik atau tidak.

DAFTAR PUSTAKA
o Bataineh QM et al. The Predisposing Factors of Pericoronitis of Mandibular Third
o Molars in a Jordania Population. J Oral Maxillofac surg. 2003.
o Blakey GH et al. Clinical Biological Outcomes of Treatment for Pericoronitis.J Oral Maxillofac surg.1996.
o Coulthard et al. 2008. Oral and Maxillofacial Surgery, Radiology, Pathology and
o Oral Medicine in Master Dentistry Volume One. 2ndedition. Churcill LivingstoneElsevier ; Philadelphia.
o Eduaro AP, Mario JAC. Prevotella Intermedia and Porphyromonas GingivaisIsolated from Osseointegrated Dental
Implants:Colonization and Antimicrobial Susceptibility. Brazilian J Microbiol. 2005.

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Guiterrez and Perez JL. 2004.Third Molar Infections. Med Oral Patol Oral Cir Bucal.
Hupp J, Ellis E, Tucker H. 2008.Contemporary Oral and Maxillofacial Surgery 5th edition. St. Louis Missouri.
Mosby Elsevier.
Keys D and Bartold M. 2000. Periodontal conditions of relevance to the Australian Defence Force. Australian
Defence Force Health.
Laine M, Venta I, Hyrkas T, Jian MA and Konttinen YT. 2003. Chronic Inflamation around painless partially
erupted third molars. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod.
Lall Thomas, Shehab Thomas, Valenstein Paul. Isolated Hepatic Actinomicosis.J Med Case Rep. 2010
Leung AKC and Robson WLM. 2004. Childhood Cervical Lymphadenopathy. Ped Health Care.
Livia C et al. 2012. Antimicrobial Activity of Essential Oils Againts Streptococcus and Thier Anti Proliferative
Effects. Evidence-Based Compl Alternat Med.
Mansour MH, Cox SC.. Patiens Presenting to the general practitioner with pain from dental origin. Australia Med J.
2006.
Martin MV, Kanatas AN, Hardy P. Antibiotic prophylaxis and third molar surgery. British Dent J.2005.
Meurman JH, Rajasuo A, Murtomaa H, Savoleinen S. Respiratory tract infections and contaminant pericoronitis of
the wisdom teeth. British Med J. 1995.
Samsudin AR and Mason DA. 1994. Symptons from impacted wisdom teeth. British J Oral Maxilofac surg.
Shepherd JP, Brickley M. Surgical removal of third molars. British Med J. 1994

Sixou JL, Magaud C, Jolived-Gougeon A, Cormier M, Bonnaure-Mallet M.Evaluation of the Mandibular


Third Molar Pericoronitis Flora and Its Susceptibility to Different Antibiotics Prescribed in France. J.
Clin. Micro. 2003.
o Soelistiono H. Analgesics in Dental Pain (Clinical Review). PABMI. 2005.
o Topazian RG, Goldberg MH, and Hupp JR. 2002. Oral and Maxillofacial Infection.4th
Edition. Philadhelphia: WB Saunders Company.
o

Volk WA dan Wheeler MF. 1984. Basic Microbiology. 5th Edition. Harper and Row, Publisher,
Inc. Diterjemahkan oleh Adisoemarto S, 1990. Mikrobiologi Dasar jilid 2; Erlangga; Jakarta.