Anda di halaman 1dari 2

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelainan fungsi tiroid adalah salah satu gangguan endokrin yang paling sering
ditemukan. Kelainan ini digolongkan ke dalam dua kategori utama, yaitu hipotiroid dan
hipertiroid, yang masing-masing mencerminkan defisiensi dan kelebihan sekresi hormon
tiroid.2
Penyebab tersering hipertiroidisme adalah penyakit Graves. Ini adalah suatu
penyakit autoimun dimana tubuh secara salah menghasilkan long-acting thyroid
stimulator (LATS), suatu antibodi yang sasarannya adalah reseptor TSH di sel tiroid.
LATS merangsang sekresi dan pertumbuhan tiroid mirip dengan yang dilakukan oleh
TSH. Namun, tidak seperti TSH, LATS tidak dipengaruhi oleh inhibisi umpan balik
hormon tiroid sehingga seksresi dan pertumbuhan tiroid berlanjut tanpa kendali.
Meskipun lebih jarang, hipertiroidisme dapat terjadi karena kelebihan TRH atau TSH
atau berkaitan dengan tumor tiroid dengan hiperseksresi.14
Sampai saat ini belum ada didapatkan angka yang pasti insidensi dan prevalensi
penyakit Graves di Indonesia. Sementara di Amerika Serikat Sebuah studi yang
dilakukan di Olmstead Country Minnesota diperkirakan kejadian kira-kira 30 kasus per
100.000 orang per tahun. Prevalensi tirotoksikosis pada ibu adalah sekitar 1 kasus per
500 orang. Di antara penyebab tirotoksikosis spontan, penyakit Graves adalah yang
paling umum. Penyakit Graves merupakan 60-90% dari semua penyebab tirotoksikosis
di berbagai daerah di dunia. Dalam Studi Wickham di Britania Raya, dilaporkan 100-200
kasus per 100.000 penduduk per tahun. Insidensi pada wanita di Inggris telah dilaporkan
80 kasus per 100.000 orang per tahun. Pada populasi umum prevalensi gangguan fungsi
hormon tiroid diperkirakan 6%.3
Pasien hipertiroid mengalami peningkatan laju metabolik basal. Meningkatnya
produksi panas menyebabkan keringat berlebihan dan intoleransi panas. Meskipun nafsu
makan dan asupan makanan meningkat yang terjadi sebagai respons terhadap
meningkatnya kebutuhan metabolik namun berat tubuh biasanya turun karena tubuh
menggunakan bahan bakar jauh lebih cepat. Pada kasus yang parah, jantung mungkin
tidak sanggup memeuhi keutuhan metabolik tubuh meskipun curah jantung meningkat.
Efek pada SSP ditandai oleh peningkatan berlebihan kewaspadaan mental hingga ke titik
dimana pasien mudah tersinggung, tegang, cemas, dan sangat emosional.13

Badai tiroid merupakan komplikasi tirotoksikosis yang jarang terjadi, tetapi


mengancam jiwa. Keadaan ini terjadi pada pasien tirotoksikosis yang tidak diobati atau
yang pengobatannya tidak tuntas. Gambaran klinisnya mirip dengan tirotoksikosis, tetapi
lebih berat. Thyroids-storm memiliki karakteristik muntah, diare, dan aritmia jantung.
Delirium adalah klinis pertama dan bisa berkembang menjadi koma. Koma dan kematian
dapat terjadi pada 20% pasien.55,7 Oleh karena tingginya insiden dan beratnya komplikasi
hipertiroid, maka diambillah referat yang berjudul Hipertiroid ini.