Anda di halaman 1dari 15

TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN FUEL CELL

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti matakuliah
Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu: Drs. Purwito Atmojo, M.Pd.

Disusun oleh:
Nama: Dedy Prasetiyo
NIM: 20140120173/kelas D

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Tahun Akademik 2014/2015

KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis mengucapkan terimakasih kepada Allah SWT atas


berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini
disusun oleh penulis dengan harapan dapat membantu menambah pengetahuan
pembaca tentang energi listrik, khususnya tentang bagaimana listrik dapat
dihasilkan melalui teknologi Fuel Cell.
Penulis yakin bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran untuk menjadi koreksi bagi makalah ini.
Akhir kata, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Yogyakarta, 15 Desember 2014


Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................. i

DAFTAR ISI.......................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................1
1.1

Latar Belakang Masalah................................................................1

1.2

Rumusan Masalah.........................................................................2

1.3

Tujuan........................................................................................ 2

1.4

Manfaat...................................................................................... 2

BAB II LANDASAN TEORI........................................................................3


2.1

Pengertian Listrik........................................................................3

2.2

Pengertian Fuel Cell.....................................................................3

2.3

Hidrogen.................................................................................... 4

2.4

Reaksi Reduksi-Oksidasi (redoks) dan Elektrolisis..............................5

BAB III PEMBAHASAN............................................................................ 6


3.1

Proses Pembuatan Hidrogen............................................................6

3.2

Proses Fuel Cell............................................................................. 6

3.2

Analisis........................................................................................ 9

3.3

Keunggulan dan kelemahan Fuel Cell................................................9

BAB IV PENUTUP.................................................................................. 11
4.1

Kesimpulan................................................................................ 11

4.2

Saran........................................................................................ 11

DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 12

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Dewasa ini energi listrik listrik telah menjadi bagian yang tidak

terpisahkan bagi kehidupan manusia. Energi listrik digunakan untuk berbagai


macam kebutuhan manusia seperti kebutuhan telekomunikasi, transportasi,
industri, dll. Energi listrik merupakan energi yang ramah lingkungan dan dapat
dihasilkan dengan jumlah yang banyak. Energi listrik juga berperan penting dalam
perkembangan teknologi. Berbagai macam teknologi saat ini hampir semuanya
menggunakan energi listrik sebagai sumber tenaga atau bahan bakarnya.
Misalnya saja alat transportasi saat ini yang telah diupayakan agar
menggunakan energi listrik agar tidak menimbulkan pencemaran udara dan
mengurangi masalah akan penggunaan bahan bakar minyak. Salah satu contohnya
yaitu motor atau mobil listrik yang bahan bakarnya menggunakan energi listrik.
Walaupun saat ini alat transportasi umumnya masih menggunakan bahan bakar
minyak seperti bensin, solar, biosolar, dll. Hal ini dikarenakan penggunaan bahan
bakar minyak yang lebih cepat dalam pengisian ulang pada sumber energinya dan
jarak tempuh yang lebih jauh. Dibandingkan dengan motor atau mobil listrik saat
ini yang masih memiliki kendala dalam pengisian ulang pada sumber energinya
serta jaraknya yang tidak terlalu jauh pada penggunaannya.
Namun, tidak menutup kemungkinan akan adanya penyempurnaan pada
teknologi ini agar energi listrik tersebut lebih maksimal dalam penggunaannya.
Bayangkan jika suatu saat motor atau mobil anda dapat menggunakan energi
listrik dengan jarak yang sama dengan menggunakan bahan bakar minyak. Atau
bahkan kendaraan anda dapat menggunakan energi listrik melalui bahan bakar
dari air. Hal ini dapat dilakukan melalui teknologi Fuel Cell (sel bahan bakar) dan
akan dijelaskan pada makalah ini.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar

belakang

diatas

maka

penulis

merumuskan

permasalahannya sebagai berikut:


1.2.1

Apa keunggulan dari Fuel Cell sebagai teknologi penghasil energi


listrik?

1.2.2

1.3

Bagaimana proses Fuel Cell mengubah air menjadi energi listrik?

Tujuan
Berdasarkan latar belakang yang diangkat maka makalah ini bertujuan:
1.3.1 Diharapkan para pelajar akan mengetahui bahwa listrik juga dapat
dihasilkan menggunakan bahan dasar air.
1.3.2 Mengurangi dampak krisis akan energi listrik di Indonesia dengan
inovasi teknologi Fuel Cell.

1.4

Manfaat
Berdasarkan latar belakang yang diambil maka makalah ini memiliki

manfaat sebagai berikut:


1.4.1 Pembaca akan lebih mengetahui bagaimana teknologi Fuel Cell
dapat menghasilkan listrik.
1.4.2 Krisis energi listrik di Indonesia akan berkurang jika inovasi
teknologi Fuel Cell dapat dikembangkan.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1

Pengertian Listrik
Listrik merupakan sebuah energi yang tercipta karena adanya pergerakan

atau aliran muatan-muatan negatif atau elektron. Muatan-muatan elektron ini


bergerak menuju muatan positif melalui medium seperti bahan konduktor. Namun,
listrik itu sendiri mengalir dari kutub positif menuju kutub negatif. Hal ini
dikarenakan perbedaan potensial yang disebabkan pergerakan muatan-muatan
tersebut. Energi potensial mengalir dari potensial tinggi menuju ke potensial
rendah.
Dengan listrik arus bolak-balik, listrik juga bias mengalir ke bumi (lantai
rumah). Hai ini disebabkan oleh sistem perlistrikan yang menggunakan bumi
sebagai acuan tegangan netral (ground). Acuan ini yang biasanya dipasang di dua
tempat, satu di ground tiang listrik dan satu lagi di ground rumah. Oleh karena itu
jika kita memegang sumber listrik dan kaki kita menginjak bumi atau tangan kita
menyentuh dinding, perbedaan tegangan antara kabel listrik ditangan dengan
tegangan dikaki (ground), membuat listik mengalir dari tangan ke kaki, sehingga
tubuh akan mengalami kejutan listrik (anonim, www.pengertianx.blogspot.com,
diakses tanggal 20 Nopember 2014, pukul 08.24 WIB).
2.2

Pengertian Fuel Cell


Fuel cell adalah alat atau teknologi seperti baterai yang mampu

menghasilkan listrik dengan menggunakan bahan bakar kimia seperti hidrogen.


Seperti pabrik, fuel cell akan terus mengeluarkan produk (listrik) selama bahan
yang rendah (BBM) diberikan. Persamaan antara sel bahan bakar dengan baterai
yaitu keduanya mengandalkan elektrokimia untuk proses pembakaran, tetapi Fuel
Cell tidak dikonsumsi ketika menghasilkan listrik. Ini benar-benar pabrik, yang
mengubah energi kimia yang tersimpan dalam bahan bakar menjadi energi listrik
(Hirschenhofer, 2009: 4).

Alat ini terdiri dari dua buah elektroda, yaitu anoda dan katoda yang
dipisahkan oleh sebuah membran polimer yang berfungsi sebagai elektrolit.
Membran ini sangat tipis, ketebalannya hanya beberapa mikrometer saja. sel
membentuk inti dari sebuah sel bahan bakar. Fuel cell mengubah energi kimia
yang terkandung dalam bahan bakar elektrokimia menjadi energi listrik (Barbir,
2012: 17).
Hidrogen dialirkan ke dalam fuel cell yaitu ke bagian anoda, sedang
oksigen atau udara dialirkan ke bagian katoda, dengan adanya membran, maka gas
hidrogen tidak akan bercampur dengan oksigen. Membran dilapisi oleh platina
tipis yang berfungsi sebagai katalisator yang mampu memecah atom hidrogen
menjadi elektron dan proton. Proton mengalir melalui membran, sedang elektron
tidak dapat menembus membran, sehingga elektron akan menumpuk pada anoda,
sedang pada katoda terjadi penumpukan ion bermuatan positif. Apabila anoda dan
katoda dihubungkan dengan sebuah penghantar listrik, maka akan terjadi
pengaliran elektron dari anoda ke katoda, sehingga terdapat arus listrik (Larmine,
2003: 5).
2.3

Hidrogen
Hidrogen (bahasa Latin: hydrogenium, dari bahasa Yunani: hydro: air,

genes: membentuk) adalah unsur kimia pada tabel periodik yang memiliki simbol
H dan nomor atom 1. Pada suhu dan tekanan standar, hidrogen tidak berwarna,
tidak berbau, bersifat non-logam, bervalensi tunggal, dan merupakan gas diatomik
yang sangat mudah terbakar. Dengan massa atom 1,00794 amu, hidrogen adalah
unsur teringan di dunia. Hidrogen juga adalah unsur paling melimpah dengan
persentase kira-kira 75% dari total massa unsur alam semesta. Hidrogen juga
dapat dihasilkan dari air melalui proses elektrolisis, namun proses ini secara
komersial lebih mahal daripada produksi hidrogen dari gas alam (Desmifianti
http://gitadesmafianti.blogspot.com/2013/03/pengertian-hidrogen_4023.html,
diakses tanggal 18 Desember 2014, pukul 10.45 WIB)

2.4

Reaksi Reduksi-Oksidasi (redoks) dan Elektrolisis

Reaksi redoks merupakan reaksi kimia dimana terjadi perubahan bilangan


oksidasi dan terjadi transfer elektron, serta terjadi pengikatan dan pelepasan
oksigen. Bilangan oksidasi berhubungan erat dengan muatan listrik yang dimiliki
atom-atom dalam suatu senyawa. Hal itu sangat jelas dalam senyawa ion.
Misalnya dalam NaCl, di mana natrium bermuatan positif (Na +) dan klorin
bermuatan negatif (Cl-) (prasetyo, 2009: 29).
Elektrolisis adalah dalam sel, reaksi redoks yang berlangsung secara
spontan, dan energi kimia yang menyertai reaksi kimia diubah menjadi energi
listrik. Apabila potensial diberikan pada sel dalam arah kebalikan dengan arah
potensial sel, maka reaksi sel yang berkaitan dengan potensial negatif akan
diinduksi. Reaksi elektrolisis merupakan proses kimia yang mengubah energi
listrik menjadi energi kimia. Komponen yang terpenting dari elektrolisis adalah
elektroda dan elektrolit (wibowo, 2011: 1).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Proses Pembuatan Hidrogen.


Hidrogen Hidrogen dapat dibuat melalui proses elektrolisis, dengan

menggunakan bahan dasar dari air. Sebuah tangki diisi dengan air yang dicampur
dengan suatu asam, sehingga air tersebut dapat bertindak sebagai konduktor untuk
menghantarkan aliran listrik, campuran ini dinamakan elektrolit. Dalam elektrolit
dipasang dua elektroda, anoda dihubungkan dengan sisi positif listrik dan katoda
5

pada sisi negatif. Inti dari proses elektrolisis yaitu memisahkan unsur H dengan
unsur O.
Jika arus searah mengalir maka terjadilah elektrolisis, sehingga atom
hidrogen kehilangan elektron dan menjadi ion H+, sementara atom oksigen
menjadi ion O-. Ion hidrogen akan tertarik pada katoda serta menerima elektron
dan menjadi sebuah atom H, sedangkan ion oksigen akan tertarik pada anoda serta
melepas elektron dan menjadi atom O. Atom-atom hidrogen akan bergabung
menjadi gas H2 dalam bentuk gelembung dan mengembang ke atas melalui
katoda untuk dikumpulkan melalui sebuah pipa. Hal ini juga terjadi pada atom O
(Haraldson, 2005: 8).
3.2 Proses Fuel Cell
Fuel Cell itu sendiri pada prinsipnya bekerja sebagai kebalikan dari proses
elektrolisis. Sel tersebut terdiri dari sebuah tangki yang di dalamnya terdapat dua
dinding berupa elektroda, dimana salah satu dinding sebagai elektroda bahan
bakar dan yang lain sebagai elektroda udara. Di tengah kedua dinding itu
terdapat elektrolit, yaitu air yang dicampur asam. Bahan bakar berupa H 2
memasuki sel bahan bakar, dan ditampung dalam dalam ruangan sebelah kiri.
Sedangkan O2 dalam bentuk udara memasuki sel bahan bakar dari sebelah kanan
dan ditampung dalam ruang sebelah kanan elektroda udara.
Kedua elektroda dihubungkan pada jaringan listrik melalui inverter. Diatur
bahwa elektroda bahan bakar disambung pada sisi negatif, sedangkan elektroda
udara pada sisi positif jaringan. Perlu dikemukakan bahwa elektroda udara adalah
katoda, sedangkan elektroda bahan bakar adalah anoda. Bilamana oksigen
memasuki sel bahan bakar, terdapat reaksi dan atom oksigen itu menerima dua
elektron dari elektroda. Kemudian oksigen ini memasuki elektrolit dan mencapai
tempat yang berdekatan dengan elektroda bahan bakar. Pertama oksigen tersebut
tergabung dengan hidrogen dan menjadi air (H2O) (Larmine, 2003: 10).
Oksigen melepaskan muatan negatifnya berupa dua elektron pada
elektroda bahan bakar. Bilamana elektron udara pada tiap atom oksigen
melepaskan dua elektron, elektron bahan bakar menerima dua elektron. Dengan
demikian elektron ini berpindah dari elektroda udara ke elektroda bahan bakar,
6

dan terjadi arus elektron yang merupakan energi listrik arus searah. Listrik arus
searah ini dibawa ke sebuah inverter untuk diubah menjadi arus bolak-balik dan
dihubungkan pada jaringan. Suatu kekhususan pada sel bahan bakar adalah
bahwa tidak terdapat bagian-bagian mekanis yang bergerak. Dengan demikian
pada perubahan energi ini terdapat potensial untuk mempunyai efisiensi tinggi.
Keuntungan lainnya adalah bahwa polusi terhadap lingkungan sangat rendah.
Selain itu bahwa ukuran sebuah sel bahan bakar dibanding dengan pusat-pusat

listrik lainnya relatif sangat kecil (Apriyani, 2013: 14).


Ramadoni Syahputra, S.T.,M.T.

Pada contoh di atas dipergunakan elektrolit asam, dimana ion pengantar


merupakan H+. Dalam hal ini reaksi-reaksi elektroda adalah:

Namun, jika yang dipergunakan adalah elektrolit alkalin, misalnya hidroksida


potasium, ion penghantar merupakan OH maka reaksi-reaksi elektroda adalah:

3.2
Analisis
Beberapa jenis Fuel Cell mempergunakan elektrolit berupa bahan padat
yang pada dasarnya merupakan suatu membran penukar ion. Membran demikian
harus fleksibel, memiliki kekuatan mekanikal yang besar, stabil secara kimiawi,
serta tahan terhadap berbagai jenis gas yang agresif. Sekalipun membran itu
tembus ion, ia memiliki tahanan listrik yang tinggi, walaupun tebalnya hanya kirakira 3 mm .Pada saat diberi beban, tegangan akan jatuh karena terjadi polarisasi
kimiawi, sehingga tegangan tanpa beban yang sebenarnya adalah di bawah nilai
V0. Jika ditingkatkan maka terjadi jatuh tegangan disebabkan kerugian tahanan
intern. Pada beban yang agak tinggi terjadi tambahan tegangan jatuh karena
terjadi

proses

polarisasi

konsentrasi

pada

elektrolit

(Liphman,

www.eere.energy.com, diakses tanggal 8 December 2014, pukul 06.37 WIB).


3.3 Keunggulan dan kelemahan Fuel Cell
Keunggulan sebuah sistem Fuel cell yaitu hanya akan mengeluarkan uap
air apabila memakai hidrogen murni. Tetapi ketika memakai hidrogen hasil dari
reforming hidrokarbon/fosil maka harus dilakukan uji emisi untuk menentukan
apakah sistem tersebut masih dapat dikategorikan zero emission. fuel cell tidak
menggunakan proses pembakaran dalam konversi energi, maka efisiensinya tidak
dibatasi oleh batas maksimum temperatur operasional (tidak dibatasi oleh efisiensi
siklus Carnot). Hasilnya, efisiensi konversi energi pada fuel cell melalui reaksi
elektrokimia lebih tinggi dibandingkan efisiensi konversi energi pada mesin kalor
(konvensional)

yang

melalui

reaksi

pembakaran

(Priyanto,

www.alpensteel.com/article/120-109-energi-fuel-cell--sel-bahan-bakar/2623--

pengenalan-tentang-fuel-cell, diakses tanggal 10 Desember 2014, pukul 13.24


WIB).

Namun, Hidrogen sulit untuk diproduksi dan disimpan. Saat ini proses
produksi hidrogen masih sangat mahal dan membutuhkan input energi yang besar
(artinya: efisiensi produksi hidrogen masih rendah). Fuel cell juga membutuhkan
hidrogen murni, bebas dari kontaminasi zat-asing. Zat-asing yang meliputi sulfur,
campuran senyawa karbon, dll dapat menonaktifkan katalisator dalam fuel cell
dan secara efektif akan menghancurkannya. katalisator Fuel Cell yang berupa
Platinum untuk membantu reaksi pembangkitan listrik merupakan logam yang
jarang ditemui dan sangat mahal. Selama beroperasi, sistem fuel cell
menghasilkan panas yang dapat berguna untuk mencegah pembekuan pada
temperatur normal lingkungan. Tetapi jika temperatur lingkungan terlampau
sangat dingin (-10 s/d -20 C) maka air murni yang dihasilkan akan membeku di
dalam fuel cell dan kondisi ini akan dapat merusak membranfuel cell (Keenan,
2004: 36)

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Fuel Cell merupakan teknologi yang ramah lingkungan karena tidak
menimbulkan pencemaran udara, sedangkan bahan bakar hidrogen cukup aman
dalam penggunaannya. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi bahan bakar
hidrogen dan Fuel Cell merupakan harapan yang besar untuk penyediaan energi
listrik di waktu yang akan datang. Dimana kebutuhan akan energi listrik yang
pastinya akan terus bertambah seiring bertambahnya populasi manusia serta
kemajuan dibidang teknologi.
4.2 Saran
Sudah seharusnya teknologi-teknologi yang dapat menghasilkan sumber
energi terbarukan bagi manusia dapat terus dikembangkan. Hal ini untuk
membantu mengurangi krisis akan energi bagi manusia, perlunya penelitianpenelitian serta dukungan dari semua pihak agar teknologi seperti ini dapat
dimanfaatkan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, http://pengertianx.blogspot.com,

diakses tanggal 20 Nopember

2014, pukul 08.24 WIB.


Barbir Richard, (2012). Fuel Cells: Theory and Practice, San Diego: Academic
Press.
Dwiliani Apriyani, (2010). Biolistrik dari Limbah Cair dengan Metode Fuel
Cell Satu Bejana, Bogor: Program Studi Teknologi Hasil Perairan
dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian.

10

Haraldson Christina, (2005). On Direct Hydrogen Fuel Cell Vehicles


Modelling and Demonstration,

Swedia: KTH Department of

Chemical Engineering and Technology Energy Processes, Royal


Institute of Technology.
http://gitadesmafianti.blogspot.com/2013/03/pengertian-hidrogen_4023.html,
diakses pada tanggal 18 Desember 2014, pukul 10.45 WIB.
http://pengertianx.blogspot.com, diakses tanggal 20 Nopember 2014, pukul
08.24 WIB).
James Larmine, (2003). Fuel Cell System Explained, New York: Universal
Publishers.
J.H. Hirschenhofer, (2009). Fuel Cell Handbook, USA: United State Dept. of
Energy.

Keenan, G., (2006). Validation of an Integrated Hydrogen Energy Station,


Arlington: Published by The Association of Official Analytical of
Chemical, Inc.
Liphman, www.eere.energy.com, diakses tanggal 8 December 2014, pukul
06.37 WIB.
Prasetyo Hernawan T, (2009). Efektivitas metode pembelajaran direct
instruction yang disertai dengan media computer terhadap prestasi
belajar siswa pada meteri reaksi redoks, Surakarta: Program Studi
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas

Sebelas

Maret

Surakarta.
Priyanto,

http://alpensteel.com/article/120-109-energi-fuel-cell--sel-bahan-

bakar/.html, diakses tanggal 10 Desember 2014, pukul 13.24 WIB

11

12