Anda di halaman 1dari 24

Pengangguran Tertinggi Lulusan SMK, Ini

Penjelasan BPS
Jumlah penganggur bertambah sebanyak 320 ribu dibanding tahun lalu.
Kamis, 5 November 2015 | 16:43 WIB
Oleh : Rochimawati, Fikri Halim

Ilustrasi wawancara kerja (Pixabay)

VIVA.co.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada Agustus 2015, tingkat
pengangguran terbuka (TPT) tertinggi ada pada jenjang pendidikan sekolah
menengah kejuruan (SMK), yakni sebesar 12,65 persen. Sementara itu, TPT
terendah ada pada penduduk berpendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah yaitu
sebesar 2,74 persen.
Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS, Razali Ritonga,
mengatakan, alasan banyaknya pengangguran dari tingkat SMK, karena sulitnya
mereka untuk pindah ke sektor lain yang tidak sesuai dengan keahliannya.
"Kalau sekolah jurusan kan dia spesialis. Nah, ketika lapangan kerja yang sesuai
dengan keahlian dia tidak ada, maka sulit untuk cari kerja ke sektor lain. Dia tidak
fleksibel," ujar Razali di Kantor Pusat BPS, Kamis 5 November 2015.
Ia menjelaskan, dari 122,4 juta angkatan kerja per Agustus 2015, ada sekitar 114,8
juta orang di antaranya bekerja (diserap pasar kerja), sedang sisanya tidak bekerja.

Razali menjelaskan, TPT pada Agustus 2015 sebanyak 6,18 persen atau setara 7,56
juta orang. Artinya, meningkat secara tahunan dibanding Agustus 2014 sebanyak
7,24 juta orang atau 5,94 persen.
"Artinya bahwa jumlah penganggur bertambah sebanyak 320 ribu jiwa dibanding
tahun lalu," kata dia.
Ia menjelaskan, kebanyakan pengangguran disebabkan oleh salah satu faktor, yaitu
pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurut dia, PHK banyak terjadi di industri yang
bergantung kepada impor.
"Karena terjadi penghematan ongkos produksi, salah satu caranya juga adalah
mengurangi tenaga kerja," tuturnya.
(Sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/695983-penganggurantertinggi-lulusan-smk--ini-penjelasan-bps)

Kamis, 05 November 2015, 14:11 WIB

Lulusan SMK Mendominasi


Pengangguran di Indonesia
Rep: Satria Kartika Yudha/ Red: Nidia Zuraya

Salah satu ketrampilan yang dimiliki lulusan SMK

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan


tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2015 mencapai 7,56
juta orang atau bertambah 320 ribu orang terhadap Agustus 2014.
Pengangguran paling banyak terjadi pada lulusan sekolah menengah
kejuruan (SMK).
Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran terbuka (TPT) SMK

mencapai 12,65 persen dari total jumlah pengangguran. Jumlah


pengangguran SMK bahkan terus meningkat jika dibandingkan dengan
periode Agustus 2014 yang sebesar 11,24 persen dan Februari 2015 9,05
persen.
Sedangkan di urutan kedua, jumlah pengangguran paling banyak
ditempati lulusan sekolah menengah atas (SMA) sebesar 10,32 persen.
Kemudian secara berturut-turut diikuti lulusan diploma I/III 7,54 persen,
universitas 6,40 persen, sekolah menengah pertama 6,22 persen dan
sekolah dasar ke bawah 2,74 persen.
"Tingkat pengangguran yang mengalami penurunan hanya terjadi pada
lulusan SD ke bawah," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik
BPS Kecuk Suhariyanto, Kamis (5/11).
Jumlah pengangguran lulusan SD ke bawah sebesar 2,74 persen lebih
kecil bila dibandingkan dengan periode Agustus 2014 yang sebesar 3,04
persen dan Februari 2015 3,61 persen.
(Sumber: http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/11/05/nxbymj383lulusan-smk-mendominasi-pengangguran-di-indonesia)

7,45 Juta Penduduk RI Menganggur,


Terbanyak Lulusan SMK
By Fiki Ariyanti
on 05 Mei 2015 at 14:01 WIB

163Shares

Facebook

Twitter

Google+

Email

Copy Link

Ilustrasi Penggangguran

Liputan6.com, Jakarta - Perlambatan ekonomi mengakibatkan jumlah


pengangguran di negara ini kian bertambah. Dalam catatan Badan Pusat Statistik
(BPS), angka pengangguran di Indonesia meningkat 300 ribu orang selama setahun
dari Februari 2014 sampai Februari 2015.
Kepala BPS Suryamin mengungkapkan, angkatan kerja Indonesia pada bulan kedua
ini sebanyak 128,3 juta orang atau meningkat 6,4 juta orang dibanding Agustus
2014. Sedangkan dibanding Februari tahun lalu, bertambah sebanyak 3 juta orang.
"Sayangnya angka pengangguran bertambah 300 ribu orang menjadi 7,45 juta
orang pada Februari 2015 dari realisasi periode sama tahun lalu sebanyak 7,15 juta
orang," terang dia saat Konferensi Pers Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I di
kantornya, Jakarta, Selasa (5/5/2015).
Penyebabnya, Suryamin mengaku karena perlambatan ekonomi Indonesia sehingga
terjadi peningkatan pengangguran. BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada kuartal I tahun ini sebesar 4,71 persen atau melambat dibanding
triwulan I 2014.
Dari data BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) didominasi penduduk
berpendidikan Sekolah Menengah Atas (SMK) sebesar 9,05 persen, lalu disusul
pada jenjang Sekolah Menengah Atas 8,17 persen, dan Diploma I/II/III sebesar 7,49
persen. Sedangkan TPT terendah ada pada penduduk berpendidikan SD ke bawah
dengan prosentase 3,61 persen di periode Februari 2015.
Selama setahun terakhir TPT yang mengalami peningkatan yakni penduduk dengan
pendidikan SMK 1,84 poin, Diploma I/II dan III sebesar 1,62 poin dan Universitas
1,03 poin. (Fik/Ndw)
(Sumber: http://bisnis.liputan6.com/read/2226109/745-juta-penduduk-rimenganggur-terbanyak-lulusan-smk)

BPS: Pengangguran Terbanyak Lulusan SMK


Maikel Jefriando - detikfinance
Selasa, 05/05/2015 14:53 WIB

Jakarta -Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat


angka pengangguran bertambah 300.000 orang
menjadi 7,45 juta orang per Februari 2015. Kondisi
ini seiring dengan perlambatan ekonomi yang
terjadi pada kuartal I-2015 hanya 4,71%.
Pengangguran paling besar terjadi pada
masyarakat berpendidikan dengan lulusan Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK), yaitu sebesar 9,05%.
Dibandingkan dengan Februari 2014, juga ada
kenaikan 1,84 poin.
"Terbesar pengangguran ada di lulusan SMK,"
ungkap Kepala BPS Suryamin di Kantornya,
Jakarta, Selasa (5/5/2015)
Selanjutnya, pengangguran terbesar adalah lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan porsi
8,17%. Untuk Diploma I/II/III porsi pengangguran adalah sebesar 7,49%.
"Pengangguran lulusan diploma naik 1,62 poin dari Februari 2014," jelasnya.
Sementara itu lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) menganggur sebanyak 7,14%, Universitas
5,34% dan Sekolah Dasar (SD) ke bawah 3,61%.
"Pengangguran dari lulusan universitas ikut naik seperti SMK dan Diploma, yaitu sebesar 1,03 poin,"
imbuhnya.
Bila melihat secara sektoral, lapangan pekerjaan dari sektor pertanian turun paling besar dengan nilai
710.000 orang. Kemudian transportasi pergudangan dan komunikasi 140.000 orang dan sektor
lainnya berkurang 200.000 orang.
"Sektor pertanian berkurang karena ada beralih ke sektor lain dan ada juga yang memang tidak
bekerja lagi," kata Suryamin.
(mkl/hen)

(Sumber: http://finance.detik.com/read/2015/05/05/145320/2906162/4/bpspengangguran-terbanyak-lulusan-smk)

JUMLAH PENGANGGURAN LULUSAN SMK TERTINGGI


TELINGAMATA.COM, JAKARTA Badan Pusat Statistik (BPS)
mencatat, pada Agustus 2015 angka pengangguran lulusan Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) tertinggi, yakni sebesar 12,65%.
06 Nov 2015 0 comment Maryadi

Dalam laporan terakhirnya pada Agustus 2015, BPS mencatat angka pengangguran Indonesia
mencapai 7,56 juta orang, atau meningkat 320 ribu orang dari periode yang sama tahun
sebelumnya sebesar 7,24 juta orang.
Deputi Neraca dan Analisis Statistik BPS Suhariyanto membeberkan, sebanyak 6,4 persen dari
total pengangguran merupakan lulusan universitas, dan 7,54 persen adalah lulusan diploma
(I,II,III). Angka tersebut meningkat dari periode tahun sebelumnya. Namun angka pengangguran
tertinggi berasal dari lulusan SMK dengan 12,65 persen. Kemudian untuk pendidikan SD tercatat
sebesar 2,74 persen, SMP (6,22 persen), dan SMA (10,32).
Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan, ada
beberapa penyebab masih relatif tingginya tingkat pengangguran untuk tingkat pendidikan SMK,
antara lain karena di pengumuman kelulusannya di bulan Agustus.

Anies sendiri mengaku mengikuti perkembangan ketenagakerjaan pada Agustus 2015 yang
merujuk pada berita resmi yang dikeluarkan BPS Nomor No. 103/11/Th. XVIII. Data
menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2015 tercatat sebesar 6,18
persen.
"Data BPS menunjukkan bahwa kualitas penduduk bekerja semakin membaik," tuturnya.
Hal itu menurutnya bisa dilihat dari dua hal. Pertama, makin meningkatnya proporsi penduduk
bekerja berpendidikan tinggi (meningkat dari 9,79 persen pada Agustus 2014 menjadi 11,01
persen pada Agustus 2015). Kedua, semakin menurunnya penduduk yang bekerja dengan
tingkat pendidikan SMP ke bawah (menurun dari 64,8 persen pada Agustus 2014 menjadi 62,30
persen pada Agustus 2015).
Sementara, tambah Anies, secara umum pola data TPT selama 2013-2015 menunjukkan bahwa
TPT pada bulan Agustus cenderung jauh lebih tinggi (Agustus 2014 sebesar 5,94 persen dan
Agustus 2015 sebesar 6,81 persen) dibandingkan dengan TPT pada bulan Februari (Februari
2014 sebesar 5,70 persen dan Februari 2015 sebesar 5,81 persen).
Pola ini menurutnya juga dialami oleh TPT untuk penduduk dengan tingkat pendidikan jenjang
pendidikan tinggi dan menengah, termasuk sekolah menengah kejuruan (Agustus 2015 sebesar
12,65 persen dan Februari 2015 sebesar 9,05 persen).

(Sumber: http://www.telingamata.com/component/k2/item/761-jumlahpengangguran-lulusan-smk-tertinggi)

Kamis, 5 November 2015 - 14:27 wib

Pengangguran Paling
Banyak Lulusan SMK

Ilustrasi: Okezone

Kurniasih Miftakhul Jannah

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat


jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2015 mengalami
peningkatan dibanding Februari 2015. Pada Agustus 2015 jumlah
pengangguran di Indonesia naik 110 ribu orang menjadi 7,56 juta
orang dari sebelumnya 7,45 juta orang pada Februari 2015.
Dari jumlah tersebut, pengangguran di dominasi oleh lulusan
Sekolah Menengah Kejuruan. BPS menyebutkan Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) untuk pendidikan SMK menempati
posisi tertinggi yaitu sebesar 12,65 persen.
Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS Razali
Ritonga menjelaskan, lulusan SMK mendominasi lantaran lapangan
pekerjaan yang sesuai dengan keahlian belum banyak.

"Kalau sekolah jurusan kan dia spesialis. Nah, ketika lapangan kerja
sesuai keahlian dia tidak ada, maka dia sulit untuk cari kerja ke
sektor lain. Dia tidak fleksibel," jelasnya di Gedung BPS, Kamis
(5/11/2015).
Di posisi kedua menyusul lulusan SMK adalah Sekolah Menengah
Atas (SMA) yang sebesar 10,32 persen. Jumlah TPT SMA mengalami
kenaikan dibandingkan periode Februari 2015 yang sebesar 8,17
persen.
Sementara itu, TPT lulusan Diploma I-III sebesar 7,54 persen, lulusan
Universitas 6,4 persen, lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP)
6,22 persen. TPT terendah terdapat pada tingkat pendidikan Sekolah
Dasar (SD) ke bawah yaitu sebesar 2,74 persen.
(rzk)
(Sumber:
http://economy.okezone.com/read/2015/11/05/320/1244188/pengangguranpaling-banyak-lulusan-smk)

BPS: Lulusan SMK Dominasi Pengangguran


Selain lulusan SMK, pengangguran di Indonesia juga didominasi oleh lulusan
Sekolah Menengah Atas.
Siswanto, Dian Kusumo Hapsari : 05 May 2015 | 18:15

Suara.com - Badan Pusat Statistik mencatat angka pengangguran pada Febuari 2015
bertambah mencapai 300 ribu jiwa menjadi 7,45 juta jiwa.
Dari total pengangguran tersebut, pengangguran paling besar didominasi oleh
masyarakat dengan latar belakang pendidikan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan, yaitu
sebesar 9,05 persen. Dibandingkan dengan periode yang sama, jumlah ini mengalami
kenaikan 1,84 poin.
Paling banyak didominasi lulusan SMK, kata Suryamin saat ditemui di kantornya,
Selasa (5/5/2015).
Selain lulusan SMK, pengangguran di Indonesia juga didominasi oleh lulusan Sekolah
Menengah Atas dengan porsi 8,17 persen. Untuk Diploma I/II/III porsi pengangguran
adalah sebesar 7,49 persen.
Pengangguran lulusan diploma naik 1,62 poin dari Februari 2014," katanya.
Sementara itu lulusan Sekolah Menengah Pertama yang menganggur sebanyak 7,14
persen, universitas 5,34 persen, dan Sekolah Dasar ke bawah 3,61 persen.
Pengangguran dari lulusan universitas ikut naik seperti SMK dan Diploma, yaitu sebesar
1,03 poin," katanya.
Suryamin menjelaskan meningkatnya angka pengangguran disebabkan oleh perlambatan
ekonomi Indonesia belakangan ini. BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia
pada kuartal I tahun 2015 sebesar 4,71 persen atau melambat dibanding triwulan I 2014.
Dari data BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka didominasi penduduk berpendidikan
Sekolah Menengah Atas sebesar 9,05 persen, lalu disusul pada jenjang Sekolah
Menengah Atas 8,17 persen, dan Diploma I/II/III sebesar 7,49 persen. Sedangkan TPT
terendah ada pada penduduk berpendidikan SD ke bawah dengan prosentase 3,61
persen di periode Februari 2015.

(Sumber: http://www.suara.com/bisnis/2015/05/05/181550/bps-lulusan-smkdominasi-pengangguran)

Senin, 17 November 2014, 17:27 WIB

Kompetensi Rendah Jadi


Penyebab Pengangguran SMK
Meningkat
Red: Taufik Rachman
Antara/Fahrul Jayadiputra

Some students of a vocational school in Bogor, SMK Bina Warga 1, put their own assembled motorcycle on display in a
exhibition Bandung, West Java. (illustration)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Larso


Marbun menilai kompetensi yang masih rendah menjadi alasan
bertambahnya pengangguran lulusan dari sekolah menengah kejuruan
(SMK) pada tahun ini.

"Kualitas lulusan SMK banyak yang tidak sesuai dengan permintaan pasar
tenaga kerja saat ini, akhirnya banyak yang menganggur," ujar Larso di
Jakarta, Senin.
Menurut ia, terdapat tiga masalah utama yang belum dapat diselesaikan
pemerintah maupun instansi pendidikan terkait rendahnya kualitas
lulusan yang dihasilkan sekolah kejuruan tersebut.
Sarana penunjang kegiatan belajar di SMK yang jumlahnya masih kurang,
dikatakan Larso menjadi masalah yang menghinggapi sebagian besar
sekolah kejuruan.
Anggaran dengan jumlah tertentu memang telah disiapkan pemerintah
untuk subsidi pendidikan, kendati demikian terdapat kebijakan keuangan
dan pendidikan yang masih membatasi bantuan negara kepada sekolah
kejuruan swasta.
"Kalau peraturan pembatasan penyaluran dana tersebut belum diubah,
penyediaan sarana pada sekolah swasta menjadi sulit, sehingga tidak
merata,"katanya.
Selain itu, waktu praktik yang hanya memakan waktu sedikit juga
menghambat peningkatan keahlian para siswa SMK untuk mendalami
kompetensi yang akan menjadi bekal mereka dalam bekerja.
Dalam hal ini, Larso mengatakan bahwa SMK, sekolah yang memang
sudah mengarahkan para siswanya pada bidang-bidang tertentu,
sebaiknya mengurangi pengajaran yang dilakukan secara teori dan mulai
beralih memperbanyak kegiatan praktik.
Masalah yang tidak kalah penting adalah terdapatnya ketidaksesuaian
antara tenaga pengajar dengan bidang kejuruan yang dibebankan
padanya di sekolah.

"Kompetensi pengajar pada ilmu yang disampaikannya kepada para siswa


juga berpengaruh pada proses pembentukan lulusan sebuah sekolah,"
ungkapnya.
Oleh karena itu, Larso menuturkan bahwa para pengajar di sekolah
kejuruan maupun di setiap instansi pendidikan juga berkewajiban untuk
terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya pada studi-studi
yang diajarkan.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik telah mengeluarkan data pada awal
November tahun ini, yang menyatakan jumlah pengangguran sampai
dengan Agustus 2014 mencapai 7,2 juta orang dan 11,24 persen di
antaranya merupakan lulusan SMK.

Sumber : antara
(Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/14/11/17/nf6id6kompetensi-rendah-jadi-penyebab-pengangguran-smk-meningkat)

Jumat 06 Nov 2015, 10:28 WIB

Lulusan SMK Paling Banyak Menganggur, Kenapa?


Herianto Batubara - detikNews

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus 2015 angka pengangguran
lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tertinggi, yakni sebesar 12,65%. Kenapa ini bisa
terjadi?
Dalam laporan terakhirnya pada Agustus 2015, BPS mencatat angka pengangguran
Indonesia mencapai 7,56 juta orang, atau meningkat 320.000 orang dari periode yang sama
tahun sebelumnya sebesar 7,24 juta orang.
Suhariyanto, Deputi Neraca dan Analisis Statistik BPS menyampaikan, sebanyak 6,4% dari
total pengangguran merupakan lulusan universitas, dan 7,54% adalah lulusan diploma
(I,II,III). Angka tersebut meningkat dari periode tahun sebelumnya. Namun angka
pengangguran tertinggi berasal dari lulusan SMK dengan 12,65 persen. Kemudian untuk
pendidikan Sekolah Dasar (SD) tercatat sebesar 2,74%, Sekolah Menengah Pertama (SMP)
sebesar 6,22%, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 10,32%.
"Tingkat pengangguran terendah ada pada penduduk berpendidikan SD ke bawah,
sementara untuk tertinggi pada jenjang pendidikan SMK," ujar Suhariyanto.
Kenapa ini bisa terjadi? Mendikbud Anies Baswedan menjelaskan, ada beberapa penyebab
masih relatif tingginya tingkat pengangguran untuk penduduk dengan tingkat pendidikan
SMK. Antara lain karena di Agustus umumnya siswa SMK baru saja lulus.
"Selama 3 bulan pertama setelah kelulusan, para lulusan SMK baru dalam proses mencari
kerja," kata Anies lewat pesan singkatnya kepada detikcom, Kamis (5/11/2015) malam. Dia
tengah berada di sidang UNESCO di Paris.
Anies menambahkan, dirinya mengikuti perkembangan ketenagakerjaan pada Agustus 2015
yang merujuk pada berita resmi yang dikeluarkan BPS Nomor No. 103/11/Th. XVIII. Data
menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2015 tercatat sebesar
6,18 persen.
"Data BPS menunjukkan bahwa kualitas penduduk bekerja semakin membaik," sebut
Anies.
Hal itu menurutnya bisa dilihat dari dua hal. Pertama, makin meningkatnya proporsi

penduduk bekerja berpendidikan tinggi (meningkat dari 9,79% pada Agustus 2014 menjadi
11,01% pada Agustus 2015). Kedua, semakin menurunnya penduduk yang bekerja dengan
tingkat pendidikan SMP ke bawah (menurun dari 64,8% pada Agustus 2014 menjadi 62,30%
pada Agustus 2015).
Sementara itu, tambah Anies, secara umum pola data TPT selama 2013-2015 menunjukkan
bahwa TPT pada bulan Agustus cenderung jauh lebih tinggi (Agustus 2014 sebesar 5,94%
dan Agustus 2015 sebesar 6,81%) dibandingkan dengan TPT pada bulan Februari (Februari
2014 sebesar 5,70% dan Februari 2015 sebesar 5,81 %).
Pola ini menurutnya juga dialami oleh TPT untuk penduduk dengan tingkat pendidikan
jenjang pendidikan tinggi dan menengah, termasuk sekolah menengah kejuruan (Agustus
2015 sebesar 12,65% dan Februari 2015 sebesar 9,05%).
(bar/mad)
(Sumber: http://news.detik.com/berita/3063722/lulusan-smk-paling-banyakmenganggur-kenapa)

Banyak Lulusan SMK Menganggur, Menteri


Hanif: Ada Dua Penyebabnya
Post by Hakun Marta

2015-11-09 06:48:22

Terkait pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengatakan jumlah


pengangguran lulusan SMK tertinggi daripada jenjang pendidikan lainnya yakni
12,5% dari 7,56 juta orang, Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri, menilai ada dua
penyebab kenapa ini bisa terjadi."Ya memang secara keseluruhan kalau kita lihat
dari profil pengangguran kita ini, memang pendidikannya masih relatif rendah," kata
Hanif seperti dilansir detik.com pada hari Jumat 6 November 2015.

Terkait banyaknya lulusan SMK yang masih menganggur, menurut Hanif ada dua
kemungkinan yaitu yang pertama ketersediaan lapangan kerja yang makin

berkurang dan yang kedua kompetensi kejuruan yang dimiliki lulusan SMK belum
cocok dengan lapangan kerja yang tersedia."Menganggurnya ini ada dua
kemungkinan. Mungkin kompetensi belum mix dengan industri atau kemampuan dia
(lulusan SMK) yang tidak pas. Jadi satunya terkait lapangan kerja (ketersediaan),
satunya terkait dengan ketidakadanya hubungan antara keahlian dan lapangan
kerjanya. Intinya ke depan kompetensi harus digenjot," jelas Hanif.

Banyaknya jumlah pengangguran lulusan SMK ini jelas harus menjadi perhatian kita
bersama, apalagi pemerintah terus mensosialisasikan potensi lulusan SMK."Itu
artinya harus menjadi perhatian kita semua. Semua itu pemerintah, dunia usaha,
masyarakat pada umumnya untuk memastikan kompetensi mereka. Nah,
kompetensi ini menjadi orientasi dasar pengembangan tenaga kerja kita," tegas
Menaker."Pemerintah sudah mempunyai fasilitas BLK untuk mendorong agar
angkatan kerja yang belum bekerja agar bisa meningkatkan kemampuan dan
kompetensi untuk industri atau wirausaha mandiri," imbuhnya.

Seperti pengumuman BPS lengkapnya dimana 6,4% dari total pengangguran


merupakan lulusan Universitas dan 7,54% lulusan diploma. Untuk pendidikan SD
tercatat 2,74%, SMP 6,22%, SMA 10,32%, dan tertinggi lulusan SMK yaitu 12,65%.
Semoga pemerintah segera bisa mengantisipasi hal ini agar kepercayaan
masyarakat terhadap program pemerintah bisa meningkat mengingat SMK adalah
progra yang digencarkan pemerintah untuk mengatasi pengangguran di usia
produktif.

(Sumber: http://www.indosuara.com/news/read_news.php?id=4893)

Daya Saing Lulusan SMK Rendah. Ini


Penyebabnya
Yulianisa Sulistyoningrum Senin, 28/09/2015 09:12 WIB

Ilustrasi: Siswa merangkai alat penghemat bahan bakar untuk sepeda motor dalam Gelar Teknologi Sekolah
Menengah Kejuruan 2015 di Denpasar, Bali, Jumat (8/5).
Antara/Nyoman Budhiana

Kabar24.com, JAKARTA Lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) disiapkan


untuk bisa berkompetisi di dunia kerja.
Namun faktanya, sejumlah lulusan SMK masih belum mendapat pekerjaan. Hal
tersebut dikarenakan tidak adanya kecocokan antara kurikulum yang diajarkan di
SMK dengan kemampuan yang dibutuhkan di dunia kerja.

"Misalnya ada perkembangan teknologi. Sementara yang diajarkan itu teknologi


lama. Ada jugamissmatch akan informasi. Misalnya, sekarang dibuka mengenai
teknologi kereta api yang begitu canggih, sementara yang dipelajari masih lama,"
ungkap Direktur SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud),
Mustaghfirin Amin di Jakarta, Senin (28/9/2015).
Penyebab lain, tambah Mustaghfirin, adalah perubahan gaya hidup. Salah satu
contohnya bidang pertanian yang saat ini sepi peminat.
"Sebetulnya masih sangat dibutuhkan, tapi anak mudanya sudah mau gaya hidup
yang baru," ujar dia.
Adanya ketersediaan lapangan kerja dengan jurusan yang ada di SMK yang tidak
cocok, menyebabkan lulusan SMK sulit terserap di dunia kerja.
Mustaghfirin mengatakan, tidak adanya dukungan dari masyarakat serta lingkungan
dalam penyesuaian lapangan pekerjaan juga merupakan salah satu penghambat.
Mustaghfirin mencontohkan, saat ini lulusan SMK di bidang kelautan sangat
diperlukan, namun para anak nelayan tidak didorong untuk mendalami ilmu
kelautan.
Atau anaknya petani malah tidak dianjurkan untuk belajar di pertanian. Ini kan juga
merupakan bagian dari kultur yang juga ikut menentukan," tuturnya.
Ke depan, pembangunan SMK akan didorong berdasarkan lapangan pekerjaan
yang tersedia dan dibutuhkan di daerah sekitar. Sehingga tidak ada lagi lulusan SMK
yang menjadi pengangguran.
"Kita juga akan kerjasamakan dengan industri untuk menyerap tenaga kerja dari
SMK sesuai skill yang dibutuhkan di industri," pungkasnya.
(Sumber: http://kabar24.bisnis.com/read/20150928/255/476490/daya-sainglulusan-smk-rendah.-ini-penyebabnya)

Pengangguran SMK Tinggi, Ironi Slogan "SMK Bisa!"


Giri Lukmanto
06 November 2013 15:59:02 Diperbarui: 24 Juni 2015 05:31:24 Dibaca : 1,924 Komentar : 4 Nilai : 4

Slogan SMK yang santer terdengar "SMK Bisa!" mulai nampak loyo dan kuyu melihat fakta BPS
menyoal jumlah pengangguran. SMK yang sejatinya mempersiapkan generasi sekolah
menengah untuk siap terjun ke dunia kerja nampaknya ironi semata. Sloga diatas sepertinya
hanya membara saat generasi muda menempuh di jenjang sekolah. Sedang di dunia kerja,
penyerapan baik yang diharapkan nampak belum optimal. Melihat rilisan BPS tentang jumlah
pengangguran di Indonesia, lulusan SMK masih menjadi nomor wahid penyumbang
pengangguran. Sekitar 11,19% dari total tersebut atau sekitar 814 ribu orang, merupakan
tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kepala BPS Suryamin, mengatakan angka
tersebut meningkat dibanding Agustus 2012 yang sebesar 9,87%. Artinya tamatan SMK lebih
banyak menjadi pengangguran dibanding yang lainnya. "Tingkat penggangguran terbuka pada
Agustus 2013 untuk pendidikan, SMK menempati posisi tertinggi, yaitu sebesar 11,19%,"
ungkapnya di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (6/11/2013). Sementara posisi kedua terbanyak
adalah tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan 9,74% dari total pengangguran.
Pengangguran dari tamatan ini terus meningkat dibandingkan Agustus 2012 yang sebesar 9,6%.
(berita: finance. detik.com) Apa Yang Terjadi? Seperti termaktub dalam salah satu poin Sekolah
Menengah Kejuruan dalam website ditpsmk.net yaitu Mendidik Sumber Daya Manusia yang
mempunyai etos kerja dan kompetensi berstandar internasional belum terwujud. Etos kerja yang
digadang-gadang mampu mempersiapkan siswa di dunia kerja nampaknya belum optimal. Hal
ini terkendala pengelolaan setengah hati SMK. Pemerintah memberikan keleluasaan dalam
pengembangan sekolah menengah kejuruan atau SMK. Namun, saat ini belum ada peningkatan
mutu pendidikan SMK dan pemetaan mobilisasi lulusan SMK. Kebijakan pemerintah ini justru
ditanggapi dengan euforia, yaitu munculnya SMK-SMK baru. Apabila tidak ada peningkatan
kualitas SMK, maka industri akan kesulitan menyerap lulusan SMK yang jumlahnya cukup besar.
Tutur Samsudi di UNNES Semarang (berita: kompas.com) Proyek Negri Awung-Awung Mobnas
Esemka Esemka adalah produk mobil nasional hasil rakitan siswa-siswa Sekolah Menengah
Kejuruan yang bekerja sama dengan institusi dalam negeri dan beberapa perusahaan lokal dan
nasional. Kandungan komponen lokal (dalam negeri) berkisar antara 50%-90%. Namun
faktanya, mobnas Esemka terengah-engah mencoba menghirup nafas dalam gempuran mobil
Jepang. Esemka yang digadang-gdang oleh Jokowi menjadi serupa Timor nampak mangkrak.
Lebih lagi pemerintah nampak masa bodoh. Dengan dikeluarkannya kebijakan mobil murah,
seperti menikam mati produksi hasil tangan-tangan siswa SMK. Sudah empat hari mobil Esemka
buatan PT Solo Manufaktur Kreasi dipamerkan di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan,
Jakarta Pusat. Hingga hari ini baru 3 unit mobil Esemka yang berhasil terjual di acara Pameran
Produk Dalam Negeri 2013. Marketing PT Solo Manufaktur Kreasi Tri Yuli Puspitarini
mengatakan sejak mengikuti pameran di JCC, 4 hari lalu sampai saat ini baru 3 unit mobil
Esemka yang laku terjual. "Sudah ada 3 orang pesan, mereka sudah mau, sudah nanya nomor
rekening dan sudah DP (uang muka)," kata Rini saat ditemui di acara Pameran Produk Dalam
Negeri 2013, di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Minggu (6/10/2013). (berita: finance.detik.com)

Salam, Solo, 06 November 2013 03:55 pm


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/girilu/pengangguran-smk-tinggi-ironi-slogan-smkbisa_5530128d6ea834fb1b8b4577

Ini Penyebab Pengangguran Lulusan SMK


Tinggi
Direktur Pengembangan SMK Kemdikbud Mustaghfirin mengungkapkan penyebab cukup tingginya
angka penggangguran lulusan SMK berdasarkan lansiran BPS Agustus 2013 lalu,
dikarenakan mereka masih menunggu ijazah yang dikeluarkan dari pihak sekolah.

Mustaghfirin menuturkan, umumnya lulusan SMK menganggur karena menunggu ijazahnya keluar.
Mereka menunggu sekitar 2 hingga 6 bulan. Selama itu, jika ada tawaran bekerja, para lulusan SMK
belum dapat mengisi lowongan pekerjaan tersebut.

Lebih lanjut Mustaghfirin menilai tingginya pengangguran lulusan SMK bukan dikarenakan tidak
memiliki ketrampilan atau tidak adanya lowongan pekerjaan di perusahaan. Setiap tahunnya terdapat
1,1 juta lulusan SMK. 10 persen dari jumlah tersebut memilih untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi,
2-5 persen berwirausaha, dan 70-75 persen sudah bekerja.
sumber : Republika

- See more at: http://kantorberitapendidikan.net/ini-penyebab-pengangguran-lulusan-smktinggi/#sthash.KKFQow8y.dpuf