Anda di halaman 1dari 20

Minanda Fachladelcada Primara

240210130056
IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Pengemasan pada bahan pangan sebenarnya sudah berlangsung sejak

manusia

sudah

mengenal

sistem

penyimpanan

bahan

pangan.

Sistem

penyimpanan bahan makanan secara tradisional diawali dengan memasukkan


bahan makanan ke dalam suatu wadah yang ditemuinya, dalam perkembangannya
di bidang pascapanen, sudah banyak inovasi dalam bentuk maupun bahan
pengemas produk pertanian (Fellows, 2000). Temuan kemasan baru dan berbagai
inovasi selalu dikedepankan oleh para produsen produk-produk pertanian, dan hal
ini secara pasti menggeser metode pengemasan tradisional yang sudah ada sejak
lama di Indonesia (Tjahjadi, 2008).
Plastik merupakan senyawa polimer tinggi yang dicetak dalam lembaranlembaran yang mempunyai ketebalan-ketebalan yang berbeda-beda. Plastik
banyak digunakan untuk mengemas bahan pangan karena kemudahan dibentuk,
mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap produk, tidak korosif, dan mudah
dalam penanganannya (Herudiyanto,M.S. 2008). Komponen utama plastik
sebelum membentuk polimer adalah monomer, yaitu rantai yang paling pendek.
Polimer merupakan gabungan dari beberapa monomer yang akan membentuk
rantai yang sangat panjang, bila rantai tersebut dikelompokkan bersama-sama
dalam suatu pola acak, menyerupai tumpukan jerami maka disebut amorp, jika
teratur hampir sejajar disebut kristalin dengan sifat yang lebih keras dan tegar
(Syarief, et al., 1988).
Kemasan plastik saat ini memegang peranan penting dalam industri
pengemasan. Sifat-sifat plastik antara lain tembus pandang (clarity), kaku
(stiffness), permeabel terhadap gas, tahan terhadap benturan atau gesekan (Marrresistance), dapat dilengkungkan atau dibengkokkan, tahan terhadap benturan,
tahan terhadap sobekan, dan tahan terhadap tegangan (Syarief, 1989).
Kelemahan bahan kemasan plastik ini adalah adanya zat-zat monomer dan
molekul kecil lain yang terkandung dalam plastik yang dapat melakukan migrasi
ke dalam bahan makanan yang dikemas. Berbagai jenis bahan kemasan lemas
seperti misalnya polietilen, polipropilen, nilon poliester dan film vinil dapat
digunakan secara tunggal untuk membungkus makanan atau dalam bentuk lapisan
dengan bahan lain yang direkatkan bersama. Kombinasi ini disebut laminasi.

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Sifat-sifat yang dihasilkan oleh kemasan laminasi dari dua atau lebih film dapat
memiliki sifat yang unik (Winarno, 1989).
Miltz (1992) mengatakan klasifikasi plastik menurut struktur kimianya
terbagi atas dua macam yaitu :
1. Linear, bila monomer membentuk rantai polimer yang lurus (linear) maka
akan terbentuk plastik thermoplastik yang mempunyai sifat meleleh pada suhu
tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan sifatnya dapat balik
(reversible) kepada sifatnya yakni kembali mengeras bila didinginkan.
2. Jaringan tiga dimensi, bila monomer berbentuk tiga dimensi akibat
polimerisasi berantai, akan terbentuk plastik thermosetting dengan sifat tidak
dapat mengikuti perubahan suhu (irreversible), bila sekali pengerasan telah
terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali.
Sifat terpenting bahan kemasan yang digunakan meliputi permeabilitas gas
dan uap air, bentuk dan permukaannya. Permeabilitas uap air dan gas, serta luas
permukaan kemasan mempengaruhi jumlah gas yang baik dan luas permukaan
yang kecil menyebabkan masa simpan produk lebih lama.
Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas mempunyai keunggulan
dibanding bahan pengemas lain karena sifatnya yang ringan, transparan, kuat,
termoplatis dan selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap air, O 2, CO2. Sifat
permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan plastik mampu
berperan memodifikasi ruang kemas selama penyimpanan (Winarno, 1987).
Praktikum kali ini akan diidentifikasi berbagai macam kemasan plastik
yang biasa digunakan untuk mengemas bahan pangan dengan karakteristik yang
berbeda-beda sesuai dengan

sifat pengemas plastik tersebut. Sampel yang

digunakan diberikan kode yaitu P1, P2, P3, P4, P5, dan P6. Plastik sampel yang
telah diberi kode kemudian diamati untuk mengetahui jenis plastik apa yang
sedang diamati. Identifikasi dilakukan dengan cara mengetahui karakter fisik dari
plastik seperti kekakuan, ketebalan, tekstur, kilap, dan deskriptif. Ketebalan
kemasan plastik juga diukur untuk mengetahui kemampuan plastik sesuai dengan
tingkat ketebalannya. Massa jenis kemasan plastik kemudian diukur untuk
mengetahui kemampuan plastik mengemas bahan pangan sesuai dengan tingkat

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
densitas (massa jenis) dan selanjutnya yaitu mengidentifikasi jenis plastik dengan
uji nyala (burning test).
4.1

Pengenalan Berbagai Jenis Kemasan Plastik


Kemasan plastik diamati secara fisik dan dapat dideskripsikan sesuai

dengan karakteristiknya. Pengenalan dimulai dengan mengamati warna, tekstur,


kelenturan

dan

bentuk

permukaan

dari

masing-masing

plastik,

selain

mendeskripsikan jenis-jenis plastik kita juga membandingkan secara visual atau


sifat fisik dari masing-masing plastik. Hasil pengamatan pengenalan berbagai
jenis kemasan plastik dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1. Deskripsi Berbagai Jenis Plastik
Sampel
Deskripsi
P1
Buram, lentur, tidak mengkilap, halus
P2
Transparan, lentur, mengkilap, halus
P3
Transparan, lentur, mengkilap, agak halus
P4
Transparan, kaku, mengkilap, sangat halus
P5
Tidak transparan, kaku, mengkilap, agak halus
P6
Transparan, kaku, mengkilap, sangat halus
(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015)
Tabel 2. Perbedaan Secara Visual atau Sifat Fisik
Sampel
P1
P2
P3
P4
Indikator
Tebal
+++
++
+
+++++
Transparan

++

+++

+++++

Kekakuan

++

+++

Kehalusan

+++++

+++++

++

Kilap

++

++++

+++++

+++++
+
+++++
+++++
+
+++++
+

P5

P6

+++++
+
+

++++

+++++
+
+

+++

+++

++++

+++

(Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015)


Hasil pengamatan menunjukkan karakteristik pengemas plastik yang
dijadikan sampel berbeda-beda, hal ini menandakan kemasan plastik dibuat untuk
mengemas bahan pangan dengan jenis yang berbeda-beda. Kemasan memiliki
kekakuan dari yang paling kaku hingga yang tidak, perbedaan kekakuan dari
kemasan terjadi ketika pembuatan kemasan plastik yang menggunakan bahan
pembuat plastik yang tidak kaku, bahan plastik yang kaku cocok digunakan untuk

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
melindungi bahan pangan yang mudah rusak akibat benturan sehingga dengan
plastik yang kaku bahan pangan akan bebas dari benturan. Kilap juga terjadi
perbedaan antara satu sampel dengan yang lain, kilap mengakibatkan sinar
matahari dapat kembali terpantul sehingga kandungan bahan pangan di dalam
kemasan ini menjadi aman dari sinar matahari langsung.
Tekstur dari sampel juga berbeda-beda, hal ini dikarenakan pada beberapa
bahan pengemas plastik ada yang diberikan ukiran dan hiasan sehingga tekstur
dari bahan pengemas plastik tersebut menjadi lebih tidak halus. Ketebalan dari
setiap bahan pengemas plastik juga berbeda tergantung dari jenis plastik yang
membentuknya, semakin tebal bahan pengemas plastik maka akan semakin aman
menjaga bahan pangan di dalamnya.
Sampel P1 dapat diidentifikasi sebagai kemasan High density polyethylene
(HDPE). HDPE mempunyai jumlah rantai cabang yang lebih sedikit dibanding
jenis low density. HDPE memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan
lebih tahan terhadap suhu tinggi. Ikatan hidrogen antar molekul juga berperan
dalam menentukan titik leleh plastik (Harper, 1975). HDPE dapat digunakan
untuk kemasan susu dan bahan pembersih.

Gambar 1. HDPE
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)

Sampel kemasan P2 dapat diidentifikasikan sebagai Polyprophylene (PP).


Polipropilen sangat mirip dengan polietilen dan sifat-sifat penggunaannya juga
serupa (Brody, 1972). Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap
yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan
cukup mengkilap (Winarno dan Jenie, 1983). Monomer polypropilen diperoleh
dengan pemecahan secara thermal naphtha (distalasi minyak kasar) etilen,
propylene dan homologues yang lebih tinggi dipisahkan dengan distilasi pada

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
temperatur rendah, dengan menggunakan katalis Natta-Ziegler polypropilen dapat
diperoleh dari propilen (Birley, et al., 1988).

Gambar 2. PP
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)

Sampel kemasan P3 dapat diidentifikasikan sebagai Polyethylene (PE).


Polietilen merupakan film yang lunak, transparan dan fleksibel, mempunyai
kekuatan benturan serta kekuatan sobek yang baik, dengan pemanasan akan
menjadi lunak dan mencair pada suhu 110 OC. Berdasarkan sifat permeabilitasnya
yang rendah serta sifat-sifat mekaniknya yang baik, polietilen mempunyai
ketebalan 0,001 sampai 0,01 inchi, yang banyak digunakan sebagai pengemas
makanan, karena sifatnya yang thermoplastik, polietilen mudah dibuat kantung
dengan derajat kerapatan yang baik (Sacharow dan Griffin, 1970).
Polietilen dibuat dengan proses polimerisasi adisi dari gas etilen yang
diperoleh dari hasil samping dari industri minyak dan batubara. Proses
polimerisasi yang dilakukan ada dua macam, yakni pertama dengan polimerisasi
yang dijalankan dalam bejana bertekanan tinggi (1000-3000 atm) menghasilkan
molekul makro dengan banyak percabangan yakni campuran dari rantai lurus dan
bercabang. Cara kedua, polimerisasi dalam bejana bertekanan rendah (10-40 atm)
menghasilkan molekul makro berantai lurus dan tersusun paralel.

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056

Gambar 3. Kemasan PE
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)
Sampel kemasan P4 dapat diidentifikasi sebagai Poly Ethylene
Terephterate (PET). PET adalah hasil kondensasi polimer etilen glikol dan asam
treptalat,dan dikenal dengan nama dagang mylar. Biasa dipakai untuk botol plastik
yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan
hampir semua botol minuman lainnya. Sifat-sifat plastik PET adalah :
-

tembus pandang (transparan), bersih dan jernih


tahan terhadap suhu tinggi (300oC)
permeabilitasnya terhadap uap air dan gas rendah
tahan terhadap pelarut organik seperti asam-asam organik dari buah-

buahan,
sehingga dapat digunakan untuk mengemas minuman sari buah.
tidak tahan terhadap asam kuat, fenol dan benzil alkohol.
kuat dan tidak mudah sobek
tidak mudah dikelim dengan pelarut

Gambar 4. Kemasan PET


(Sumber : Thomasnet, 2010)
Sampel kemasan P5 dapat diidentifikasikan sebagai Styrofoam atau

Polystyrene. Polistirena merupakan salah satu polimer yang ditemukan pada


sekitar tahun 1930, dibuat melalui proses polimerisasi adisi dengan cara suspensi.
Stirena dapat diperoleh dari sumber alam yaitu petroleum. Sifat-sifat umum
polistiren adalah :
- kekuatan tariknya tinggi dan tidak mudah sobek
- titik leburnya rendah (88oC), lunak pada suhu 90-95oC
- tahan terhadap asam dan basa kecuali asam pengoksidasi
- terurai dengan alkohol pada konsnetrasi tinggi, ester, keton, hidrokarbon
-

aromatik dan klorin


permeabilitas uap air dan gas sangat tinggi, baik untuk kemasan bahan
segar

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
-

permukaan licin, jernih dan mengkilap serta mudah dicetak


bila kontak dengan pelarut akan keruh
mudah menyerap pemlastis, jika ditempatkan bersama-sama dengan

plastik lain
menyebabkan penyimpangan warna
mempunyai afinitas yang tinggi terhadap debu dan kotoran
baik untuk bahan dasar laminasi dengan logam (aluminium)

Gambar 5. Stryrofoam
(Sumber : Kompasiana, 2012)

Sampel kemasan P6 dapat diidentifikasikan sebagai Polyvinyl Chloride


(PVC). Sifat-sifat umum kemasan PVC adalah sebagai berikut :
- tembus pandang, ada juga yang keruh
- permeabilitas terhadap uap air dan gas rendah
- tahan minyak, alkohol dan pelarut petrolium, sehingga dapat digunakan
-

untuk
kemasan, mentega, margarin dan minyak goreng
kekuatan tarik tinggi dan tidak mudah sobek
dipengaruhi oleh hidrokarbon aromatik, keton, aldehida, ester, eter

aromatik,
anhidrat dan molekul-molekul yang mengandung belerang, nitrogen dan

fosfor.
tidak terpengaruh oleh asam dan basa, kecuali asam pengoksidasi, akan

tetapi pemlastis akan terhidrolisa oleh asam dan basa pekat.


densitas 1.35-1.4 g/cm3

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056

Gambar 6. PVC
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)
Ketebalan yang paling tinggi yaitu pada Styrofoam, dan yang terendah
pada plastik PE. Plastik yang memiliki sifat transparan paling tinggi ada pada
plastik PET, sedangkan yang paling rendah ada pada Styrofoam. Kekakuan yang
paling kaku ada pada Styrofoam, sedangkan yang paling lentur ada pada Plastik
PE. Kehalusan yang paling tinggi yaitu pada plastik PET dan paling rendah pada
Styrofoam. Plastik yang paling kilap ada pada plastik PET, sedangkan yang paling
tidak kilap pada Styrofoam.
Tingkat ketebalan bila diurutkan dengan tingkat ketebalan tinggi hingga
tingkat ketebalan rendah adalah Styrofoam, PET, PVC, HDPE, PP, dan PE.
Tingkat transparasi bila diurutkan dengan tingkat tranparan tinggi hingga tingkat
transparan rendah adalah PET, PE, PVC, PP, HDPE dan Styrofoam. Tingkat
kekakuan bila diurutkan dari yang paling tinggi hingga rendah adalah Styrofoam,
PET, PVC, PP, HDPE, dan PE. Tingkat kehalusan dari kemasan plastik bila
diurutkan dari yang paling tinggi ke yang paling kecil adalah PET, HDPE, PP,
PVC, PE, dan Styrofoam. Tingkat kilap bila diurutkan tertinggi dimiliki oleh PET,
PE, PP, PVC, HDPE dan Styrofoam.
4.2

Pengukuran Ketebalan Berbagai Jenis Kemasan Plastik


Ketebalan kemasan plastik mempengaruhi tingkat kemudahan plastik

dibentuk sebelum digunakan. Ketebalan juga dapat mempengaruhi kekuatan


pengemas plastik untuk mengemas bahan pangan, semakin tebal suatu pengemas
maka akan lebih kuat dalam melindungi bahan pangan di dalamnya (Miltz, 1992).

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Pengukuran ketebalan berbagai jenis kemasan plastik dilakukan pengukuran
dengan menggunakan jangka sorong dan mikrometer sekrup. Penggunaan kedua
alat ini dimaksudkan untuk membandingkan ketelitian pengukuran yang
dilakukan dengan kedua alat tersebut. Pengamatan ketebalan dilakukan dengan
cara mengamati 5 titik pada plastik yang sudah dipotong menjadi 5 persegi yang
berukuran 5x5 cm, pengukuran ketebalan pada 5 titik bertujuan agar didapatkan
ketebalan rata-rata dari plastik tersebut. Ketebalan setiap titik dapat saja berbeda
diakibatkan tekanan saat dilakukan pengguntingan yang menyebabkan tebal
menjadi berbeda. Hasil pengamatan dari pengukuran ketebalan dapat dilihat pada
Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Pengamatan Pengukuran Ketebalan Kemasan Plastik
Kel
PVC
PP
PE
HDPE
PET
Styrofoam
J
M
J
M
J
M
J
M
J
M
J
M
6
0,02 0,23 0,0 0,1 0,0 0,0 0,0 0,1 0,2 0,67 0,25 0,28
5
85 5
42 5
5
6
7
0,05 0,07 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,1 0,15 0,24 0,26
3
5
13 5
8
5
15 6
3
2
8
0,05 0,07 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,1 0,18 0,25 1,96
3
5
28 5
12 5
3
64 2
2
5
9
0,09 0,14 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,1 0,28 0,29 0,03
9
4
5
86 5
70 5
91 95
8
8
10
0,01 0,08 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,17 0,15 1,84
1
8
5
4
5
26 5
38 11 8
6
8
x
0,04 0,12 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,1 0,29 0,23 0,87
6
16
5
70 5
46 5
65 58 3
9
9
Min 0,01 0,08 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,15 0,15 0,26
1
8
5
13 5
12 5
15 11 3
6
2
Max 0,09 0,23 0,0 0,1 0,0 0,0 0,0 0,1 0,2 0,67 0,29 1,96
9
5
85 5
8
5
5
6
8
5
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)
Dari hasil pengukuran tersebut diketahui bahwa penggunaan mikrometer
sekrup dalam pengukuran ketebalan plastik lebih akurat dibandingkan dengan
jangka sorong. Hal ini terlihat dari hasil maksimal, minimal, dan rata-rata yang
didapat dari pengukuran, dimana pengukuran pada jangka sorong agak sulit dalam
pembacaan skala dikarenakan ketebalan plastik yang sangat tipis.
Hasil pengamatan menunjukkan ketebalan dari setiap pengemas plastik
berbeda-beda, ketebalan setiap titik dalam sampel yang sama juga memiliki
perbedaan namun tidak signifikan. Perbedaan di setiap titik diakibatkan oleh

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
tekanan saat dilakukan pengguntingan pada bahan plastik yang mengakibatkan
permukaan plastik ketebalannya menjadi tidak sama, oleh karena itu diambil
ketebalan rata-rata. Ketebalan kemasan plastik yang paling tinggi adalah
ketebalan dari styrofoam karena biasanya kemasan styrofoam digunakan untuk
mengemas pangan siap saji, segar, maupun yang memerlukan proses lebih lanjut
maka memiliki ketebalan yang lebih tinggi untuk melindungi bahan yang
disimpan di dalamnya. Ketebalan pengemas plastik yang paling rendah adalah
kemasan PE, kemasan PE merupakan plastik yang biasa digunakan untuk
mengemas buah-buahan, sayursayuran segar, roti, produk pangan beku dan tekstil.
Ketebalan berpengaruh terhadap kualitas pengemas plastik, yaitu
ketahanan plastik tersebut terhadap lemak dan minyak, pelarut organik, air, asam
dan basa. PET memiliki permeabilitas terhadap uap air yang rendah, transmisi
CO2 rendah, tahan terhadap pelarut organik, dapat digunakan untuk kemasan
beku, tidak tahan terhadap asam kuat, tahan terhadap bahan baku organik
sehingga cocok untuk sari buah dan bahan bahan cair lainnya (Herudiyanto,
2008). PVC dapat bereaksi pada bahan pangan berbahan lemak dan bersuhu tinggi
sehingga memunculkan zat yang bersifat toksik bagi tubuh. Penggunaan PVC
harusnya digunakan pada sayuran dan buah buahan segar (Miltz, 1992).
Polipropilen lebih kaku, kuat, dan ringan daripada polietilen dengan daya
tembus uap air yang rendah, ketahan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap
suhu tinggi dan cukup mengkilap. Plastik tipis yang tidak mengkilap mempunyai
daya tahan yang cukup rendah terhadap suhu tetapi bukan penahan gas yang baik
(Herudiyanto, 2008).
4.3

Pengukuran Berat Kemasan Plastik


Pengukuran berat pada masing-masing sampel plastik sangatlah penting.

Hal ini erat kaitannya dalam perhitungan densitas atau massa jenis dari masingmasing kemasan plastik. Gramatur adalah nilai yang menunjukkan bobot bahan
per satuan luas bahan (g/m2), sedangkan densitas atau bobot jenis adalah nilai
yang menunjukkan bobot bahan per satuan volume (g/m3). Berat jenis plastik
dapat ditentukan dengan cara menimbang terlebih dahulu plastik yang digunakan
dengan neraca analitik. Berat dari sampel yang sudah didapat kemudian dibagi

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
dengan volume plastik, dimana volume plastik didapatkan dengan cara
mengalikan luas permukaan dan tebal bahan plastik. Hasil pengamatan berat per
satuan volume dapat dilihat pada Tabel 4 dan 5.
Tabel 4. Pengukuran Berat Berbagai jenis Kemasan Plastik
Jenis Plastik
Kel
Berat (gram)
Plastik PET
6
0,6324
7
0,7027
8
0,6783
9
0,6078
10
0,6129
Rata rata
0,6468
Maks
0,7027
Min
0,6078
Plastik PVC
6
0,3275
7
0,3247
8
0,2539
9
0,0296
10
0,2430
Rata rata
0,23574
Maks
0,3275
Min
0,0296
Plastik PP
6
0,2673
7
0,2862
8
0,2836
9
0,2635
10
0,2763
Rata rata
0,2753
Maks
0,2862
Min
0,2673
Plastik PE
6
0,1348
7
0,1693
8
0,1628
9
0,1580
10
0,1628
Rata rata
0,1575
Maks
0,1693
Min
0,1348
Plastik HDPE
6
0,2577
7
0,3406
8
0,3389
9
0,2969
10
0,2829
Rata rata
0,3034

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Maks
Min
Styrofoam

6
7
8
9
10

Rata rata
Maks
Min
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)

0,3406
0,2577
0,1452
0,1484
0,1510
0,1596
0,1298
0,1468
0,1596
0,1298

Tabel 5. Konversi Berat Kemasan Plastik Kelompok 9


Berat Kertas
Jenis Kertas
2
g/cm
lb/ft2
-3
HDPE
2,969 x 10
6,0623 x 10-7
PP
2,635 x 10-3
5,3969 x 10-7
PE
1,580 x 10-3
3,2361 x 10-7
PET
0,0243
4,9795 x 10-6
Styrofoam
6,276 x 10-3
1,2854 x 10-6
PVC
0,0119
2,4308 x 10-6
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)
Hasil pengamatan menunjukkan nilai berat per satuan luas yang berbedabeda, hal ini dikarenakan jenis monomer plastik yang digunakan berbeda dan
jumlah monomer yang digunakan untuk membuat plastik per satuan luas juga
berbeda. Nilai dengan satuan g/m3 dikonversikan ke PSF, nilai PSF umum
digunakan untuk megidentifikasi plastik. Nilai PSF tertinggi adalah plastik HDPE
yaitu 4,9795 x 10-6, sedangkan nilai PSF terendah adalah plastik PE yaitu 3,2361 x
10-7.
Penentuan berat per satuan luas kemudian dapat digunakan untuk
mengetahui berat jenis dari plastik. Berat jenis plastik merupakan perbandingan
massa per volume, volume plastik didapatkan dengan mengalikan luas permukaan
dengan tebal plastik. Hasil perhitungan densitas berbagai jenis kemasan plastik
dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Densitas Berbagai jenis Kemasan Plastik
Jenis Plastik
Kel
Densitas (g/cm3)
Plastik PET
6
0,194
7
0,459
8
1,4908
9
0,8683

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
10
Rata rata
Maks
Min
Plastik PVC

Rata rata
Maks
Min
Plastik PP

Rata rata
Maks
Min
Plastik PE

Rata rata
Maks
Min
Plastik HDPE

Rata rata
Maks
Min
Styrofoam

Rata rata
Maks
Min

6
7
8
9
10

6
7
8
9
10

6
7
8
9
10

6
7
8
9
10

6
7
8
9
10

1,3773
0,8778
1,4908
0,194
0,057
0,445
1,3874
0,8242
0,1105
0,5648
1,3874
0,057
0,0144
2,201
1,0128
0,3036
0,6907
0,8445
2,201
0,0144
0,032
2,116
1,3567
0,2244
0,6262
0,8711
2,116
0,032
0,017
0,227
1,1297
0,3263
0,7443
0,4888
1,1297
0,017
0,021
0,057
0,0308
0,1667
0,0281
0,0607
0,1667
0,021

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)
Hasil perhitungan di Tabel 6 didapatkan hasil perhitungan nilai densitas
yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh pengukuran ketebalan sebelumnya
yang berbeda hasil antara jangka sorong dan mikrometer sekrup, tetapi karena
mikrometer sekrup memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi, maka
perhitungan densitas dilakukan dengan menggunakan ketebalan yang diukur
dengan mikrometer sekrup.
Nilai densitas mempengaruhi kualitas dari bahan pengemas. Densitas atau
kerapatan suatu bahan pangan juga dapat menentukan kemampuan plastik
pengemas tersebut dalam menjaga

agar bahan pangan tersebut tidak

terkontaminasi dari lingkungan, seperti oksigen, belerang dioksida, nitrogen, uap


air, dan lain-lain. Densitas ini juga akan mempengaruhi sifat permeabilitas dari
kemasan plastik tersebut. Berdasarkan data yang diperoleh, besar kecilnya
densitas suatu plastik, dijadikan ukuran seberapa besar daya tembus plastik
tersebut terhadap gas-gas seperti N2, O2, CO2, H2O, dan SO2. Hal ini berarti
semakin rendah densitas suatu plastik, makin besar daya tembus terhadap gas-gas
tersebut. (Syarief, 1989).
Nilai densitas paling tinggi adalah PET yaitu 0,8683 g/cm3 dan yang
paling rendah adalah styrofoam yaitu 0,0607 g/cm3. PET dengan nilai densitas
tinggi mengakibatkan plastik ini sulit tembus gas, sedangkan styrofoam mudah
tembus gas.
4.4

Identifikasi Jenis Plastik dengan Uji Nyala (Burning Test)


Identifikasi jenis plastik dengan uji nyala (burning test) dilakukan untuk

mengidentifikasi jenis plastik dengan membakarnya, setelah berbagi jenis plastik


dibakar, kita harus mengamati kemudahan menyala api, kemampuan api untuk
padam, bau yang tercium setelah pembakaran, serta warna nyala api. Data yang
sudah didapatkan dapat dibandingkan dengan tabel identifikasi polimer dengan
cara pembakaran (burning), dengan demikian dapat diketahui jenis polimer apa
yang terdapat pada masing-masing sampel.
Tabel 5. Hasil Pengamatan Uji Nyala Kemasan Plastik
Jenis
Plastik

Kemudaha

Sifat-Sifat Plastik dalam uji nyala


Padam
Bau
Warna Kelakua

Menetes

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
n Menyala

Sendiri

Bau
terbakar
Sedikit

PP
Mudah
bau
terbakar
Sangat

PE
Mudah
bau
terbakar
Sedikit

PET
Sulit
bau
terbakar
Sangat
Styrofoa
Sangat

bau
m
mudah
terbakar
Sangat
Sangat

PVC
bau
mudah
terbakar
(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)
HDPE

Mudah

Nyala
Api

n Bahan

/
Meleleh

Biru

Ada asap
putih

Menetes

Biru

Ada asap
hitam

Menetes
&
Meleleh

Biru
orange

Ada asap
putih

Menetes

Biru
orange

Ada asap
putih

Menetes
&
Meleleh

Orange

Ada asap
hitam

Meleleh

Orange

Ada asap
hitam

Meleleh

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan ketika dibandingkan


dengan yang seharusnya terjadi terjadi perbedaan dalam bau dan warna nyala api.
Hal ini disebabkan karena ketidaktelitian yang dilakukan oleh praktikan selama
praktikum. Kesulitan lain adalah untuk mengetahui bau dari plastik yang terbakar
ketika dibandingkan dengan parafin, fenol atau asam hidroklorit karena belum
pernah dicium sebelumnya. Bau yang tajam dan bau yang samar semakin
menyulitkan untuk menentukan bau dari plastik tersebut sehingga terjadi kesulitan
untuk menentukan baunya. Kemudahan nyala dan kemudahan padam sesuai
dengan literatur dan semua cocok dengan tabel ciri-ciri identifikasi kemasan
plastik.
V.

KESIMPULAN

Tingkat ketebalan dari tingkat ketebalan tinggi hingga tingkat ketebalan

rendah adalah Styrofoam, PET, PVC, HDPE, PP, dan PE.


Tingkat transparasi dari tingkat tranparan tinggi hingga tingkat transparan

rendah adalah PET, PE, PVC, PP, HDPE dan Styrofoam.


Tingkat kekakuan dari yang paling tinggi hingga rendah adalah Styrofoam,
PET, PVC, PP, HDPE, dan PE.

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056

Tingkat kehalusan dari yang paling tinggi ke yang paling rendah adalah

PET, HDPE, PP, PVC, PE, dan Styrofoam.


Tingkat kilap dari yang paling tinggi ke yang paling rendah adalah PET,

PE, PP, PVC, HDPE dan Styrofoam.


Ketebalan paling tebal adalah Styrofoam yaitu 0,239 mm menggunakan

jangka sorong dan 0,879 menggunakan micrometer sekrup.


Ketebalan paling tipis adalah PE yaitu 0,05 mm menggunakan jangka

sorong dan 0,046 menggunakan micrometer sekrup.


Berat paling berat adalah kemasan plastik PET yaitu 0,6468 g.
Berat paling ringan adalah kemasan Styrofoam yaitu 0,1468 g.
Densitas paling tinggi adalah kemasan plastik PET yaitu 0,8778 g/cm3.
Densitas paling rendah adalah kemasan Styrofoam yaitu 0,0607 g/cm3.

Plastik PP, PE dan HDPE memiliki sifat mudah terbakar, Styrofoam dan
PVC sangat mudah terbakar sedangkan plastik PET tidak mudah terbakar.

Api pada plastik PP, PE, dan PET bisa langsung padam sendiri sedangkan
HDPE, Styrofoam, dan PVC tidak.

Warna nyala api pada plastik PP dan HDPE biru, pada plastik PE dan PET
biru kemudian merah, dan pada plastik Styrofoam dan PVC jingga.

Plastik HPDE dan PE dibakar menetes, Styrofoam dan PVC dibakar


meleleh, PP dan PET dibakar menetes dan meleleh.

DAFTAR PUSTAKA
Bierley, A.W., R.J. Heat and M.J. Scott. 1988. Plastic Materials Properties and
Aplications. Chapman and Hall Publishing, New York.
Fellows,P.J. 2000. Food Processing Technology. Principles and Practice. 2nd Ed.
Woodhead Publishing Ltd., Cambridge, England.
Harper. 1975. Handbook of Plastic and Elastomer. Westing House Electric
Corporation. Baltimore. Maryland.

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
Herudiyanto, Marleen S., Ir., MS. 2008. Teknologi Pengemasan Pangan. Widya
Padjadjaran, Bandung.
Miltz, J., 1992. Food Packaging. In : Handbook of Food Engineering,
D.R.Heldman and D.B.Lund (Ed). Marcel Dekker, Inc., New York.
Sacharow. S. and R.C. Griffin. 1980. Principles of Food Packaging. The AVI
Publishing. Co. Inc. Westport. Connecticut.
Syarief, R., S.Santausa, St.Ismayana B. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan.
Laboratorium Rekayasa Proses Pangan, PAU Pangan dan Gizi, IPB, Bogor.
Tjahjadi, C. dan Herlina Marta. 2008. Pengantar Teknologi Pangan : Volume 2.
Jurusan Teknologi Industri Pangan Fakultas Teknologi Industri pertanian
Universitas padjajaran, Jatinangor.
Winarno, F.G. dan Jennie. 1982. Kerusakan Bahan Pangan dan Cara
Pencegahannya. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Winarno, F.G. 1983. Gizi Pangan, Teknologi dan Konsumsi. Penerbit Gramedia.
Jakarta.

JAWABAN PERTANYAAN
1. Adakah perbedaan hasil yang mencolok sesama contoh? Jika ya, terangkan
sebabnya!
Jawab:
Tidak ada perbedaan mencolok antara sesama sampel yang digunakan,
perbedaan memang terjadi, namun perbedaan yang terjadi tidak mecolok dan
perbedaan yang sedikit. Misalnya saat melakukan pengukuran ketebalan, dimana

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
setiap titik memiliki ketebalan yang berbeda, hal ini dikarenakan perbedaan
tekanan akibat proses pengguntingan yang dilakukan terhadap plastik. Jika terjadi
perbedaan yang mencolok, hal ini dapat disebabkan karena beberapa faktor, antara
lain:

Ketebalan
Sifat daya tahan terhadap air
Udara
Radiasi UV
Densitas
Fleksibilitas
Komposisi kimia

2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan perbedaan karakteristik di antara


jenis-jenis kemasan plastik yang diamati saat praktikum?
Jawab:
Ketebalan
Sifat daya tahan terhadap air
Udara
Radiasi UV
Densitas
Fleksibilitas
Komposisi kimia
3. Karakteristik apa sajakah yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi
kemasan plastik?
Jawab:

Densitas
Fleksibilitas
Tekstur
Ketebalan
Burning Test
Dan lain-lain

4. Faktor-faktor apakah yang memengaruhi pemilihan jenis plastik untuk


mengemas produk pangan?
Jawab:
Pertimbangan-pertimbangan yang perlu diperhatikan sebelum memilih satu
jenis kemasan adalah :

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056

kemasan tersebut harus dapat melindungi produk dari kerusakan fisik

dan mekanis
mempunyai daya lindung yang baik terhadap gas dan uap air
harus dapat melindungi dari sinar ultra violet
tahan terhadap bahan kimia

5. Jelaskan syarat- syarat

kemasan plastik yang dapat digunakan untuk

mengemas pangan secara langsung!


Jawab:

Tahan terhadap bahan kimia


Tidak mengandung unsur senyawa aktif yang berbahaya
Tidak berasa, tidak berbau dan tidak beracun
Tahan terhadap suhu tinggi

6. Sebutkan karakteristik plastik berdasarkan uji burning test!


Jawab:
Burning test adalah suatu bentuk pengujian yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi suatu polimer dari plastik dengan membakar plastik tersebut
pada nyala api. Yang termasuk dalam uji nyala adalah kemudahan nyala,
waktu padam sendiri, bau atau aroma, warna nyala api, kelakuan bahan dan
kemudian ditentukan jenis polimer dengan melihat tabel standar tentang
pengujian nyala api.
7. Sebutkan kelebihan dan kelemahan penggunaan kemasan plastik untuk
mengemas produk pangan!
Jawab:

kelebihan :
- kuat
- ringan
- fleksibel
- tahan karat
- tidak mudah pecah
- Isolator panas/listrik yang baik
- Mudah dibentuk untuk berbagai fungsi
kelemahan :
- Beberapa jenis plastik tidak tahan panas
- Beberapa jenis plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan
tahun untuk terurai secara alami (non-biodegradable)

Minanda Fachladelcada Primara


240210130056
-

Jika tidak digunakan sesuai fungsinya, bahan-bahan kimia yang


terkandung dalam plastik dapat membahayakan kesehatan