Anda di halaman 1dari 60

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Low back pain atau LBP merupakan sindroma klinik yang ditandai dengan

gejala utama nyeri di daerah punggung bawah dan menjadi salah satu keluhan
utama yang membawa pasien berkunjung ke praktek dokter.1,2 Biasanya nyeri ini
mulai dirasakan pada kelompok usia dekade kedua dan insiden tinggi dijumpai
pada dekade kelima.3 Low back pain merupakan fenomena yang paling sering
dijumpai pada setiap pekerjaan dan merupakan work related musculoskeletal
disorders.3,4 Insiden dan beratnya gangguan low back pain lebih sering dijumpai
pada pekerja wanita dibanding laki laki.5 Salah satu hasil penelitian mengatakan
bahwa pekerja laki-laki berusia 35-44 tahun dan wanita antara 45-54 tahun
memiliki prevalensi tertinggi dari semua kategori usia dalam kasus nyeri
punggung bawah.6 Hampir dari 80 % penduduk Indonesia pernah mengalami low
back pain dalam siklus kehidupannya.7
Prevalensi low back pain yang diambil dari sampel pedesaan Cina sebesar
64%.8 Di Amerika Serikat low back pain telah mencapai proporsi endemik.9
Survei di Inggris melaporkan bahwa 17,3 juta orang Inggris pernah mengalami
nyeri punggung bawah dan sekitar 6% pegawai di Inggris akan kehilangan paling
sedikit 1 hari kerja akibat low back pain dalam 4 minggu.9 Hasil penelitian secara
Nasional yang dilakukan di 14 kota di Indonesia oleh kelompok studi PERDOSSI
(Persatuan Dokter Saraf Seluruh Indonesia) di Poliklinik Neurologi Rumah Sakit
Cipto Mangukusumo (RSCM), ditemukan prevalensi nyeri punggung bawah
sebanyak 15,6%. Angka ini berada pada urutan kedua tertinggi setelah sefalgia
dan migren yang mencapai 34,8%.20
Faktor risiko yang dapat menyebabkan low back pain antara lain faktor
pekerjaan, seperti sikap, cara kerja, stres kerja, shift kerja, dan masa kerja, serta
faktor individu antara lain, merokok, olahraga, IMT dan stres keluarga.10 Selain
itu, terdapat hubungan yang signifikan antara lama duduk dengan low back pain.

Faktor risiko low back pain lain juga diketahui meningkat seiring dengan
bertambahnya usia, kurangnya aktivitas fisik dan berat badan yang dinilai dengan
menggunakan indeks massa tubuh dengan membandingkan berat badan dan tinggi
badan.11
Menurut beberapa penelitian menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang
sangat signifikan antara low back pain dengan IMT berlebih/tinggi yang
diakibatkan beban berlebih pada tulang punggung terutama bagian bawah. Berat
badan juga merupakan salah satu faktor ekspresi dari gaya hidup, semakin tidak
teratur gaya hidup dengan tidak mengontrol pola makan, semakin tinggi risiko
terkena obesitas. Hal ini membawa konsekuensi akan meningkatnya risiko terkena
penyakit-penyakit lain salah satunya adalah low back pain.11. Namun, ada pula
penelitian yang mengatakan bahwa terdapat hubungan antara IMT rendah
(underweight) dengan low back pain dan beberapa penelitian juga mengatakan
bahwa tidak ada hubungan antara IMT dengan kejadian low back pain. Karena
perbedaan hasil beberapa penelitian ini, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai hubungan antara IMT dengan kejadian low back pain pada
pegawai PT.Chevron Pacific Indonesia di Rumbai, Pekanbaru dengan tujuan
untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan kejadian low back pain pada
pegawai PT.Chevron Pacific Indonesia di Rumbai, Pekanbaru.

1.2

1.3
1.3.1

Perumusan Masalah
1. Masih banyaknya angka kejadian low back pain di dunia terutama di
Indonesia
2. Belum jelasnya hubungan antara IMT dengan kejadian low back pain
Tujuan
Tujuan umum :
Untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan kejadian low back pain

pada pegawai
1.3.2 Tujuan khusus :
1. Untuk mengetahui derajat low back pain pada pegawai PT.Chevron
Pacific Indonesia, Rumbai Pekanbaru
2. Untuk mengetahui hubungan antara indeks massa tubuh dengan
kejadian low back pain pada pegawai PT.Chevron Pacific Indonesia di
Rumbai, Pekanbaru
3. Untuk mengetahui hubungan antara durasi lama duduk statis per hari
dengan kejadian low back pain pada pegawai PT.Chevron Pacific
Indonesia di Rumbai, Pekanbaru
4. Untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian low
back pain pada pegawai PT.Chevron Pacific Indonesia di Rumbai,
Pekanbaru
5. Untuk mengetahui hubungana antara usia dengan kejadian low back
pain pada pegawai PT.Chevron Pacific Indonesia di Rumbai, Pekanbaru
1.4

Hipotesis

Ada hubungan antara IMT dengan kejadian low back pain pada pegawai
PT.Chevron Pacific Indoensia di Rumbai, Pekanbaru

1.5

Manfaat

Dengan penelitian ini maka akan didapatkan berbagai macam manfaat,


antara lain:
3

1. Bagi Ilmu Pengetahuan


Diharapkan dengan penelitian ini dapat memberikan pengetahuan
dan referensi bagi pengembangan ilmu kedokteran dan bidang-bidang
lainnya khususnya mengenai hubungan IMT dengan kejadiaan low back
pain.
2. Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan peneliti tentang hubungan IMT dengan
kejadian low back pain sehingga nantinya dapat mengurangi angka
kejadian low back pain. Serta menambah wawasan dan pengalaman
peneliti dalam pembuatan karya ilmiah.
3. Bagi Profesi
Memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan dalam penelitian serta
dapat memberikan masukan dalam menyelesaikan masalah hubungan
IMT dengan kejadian low back pain di Indonesia
4. Bagi Masyarakat
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan dan menambah
wawasan serta pengetahuan tentang IMT dan faktor lain yang
mempengaruhi kejadian low back pain, sehingga dapat mengurangi
angka kejadian di masyarakat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Low Back Pain

Low back pain atau LBP adalah nyeri yang dirasakan di daerah punggung
bawah dapat berupa nyeri lokal ataupun disertai nyeri radikuler atau keduanya
yang disebabkan oleh iritasi atau kompresi radiks pada satu atau beberapa radiks
lumbosakral yang dapat disertai dengan kelemahan motorik, gangguan sensorik
dan menurunnya refleks fisiologik. Nyeri punggung bawah sering dirasakan
disekitar L4-L5 dan L5-S1 yang biasanya akan membaik dalam waktu sekitar 6
minggu. Serangan nyeri sering terjadi bersifat akut yang menjalar pada bokong
dan salah satu paha. Saat serangan terjadi, daerah punggung bawah dapat juga
terasa kaku dan sakit.12 Hal ini sering disebabkan oleh terlalu sering menggunakan
otot dan regangan berulang atau cedera berkelanjutan selama periode waktu
tertentu.12
Nyeri pada low back pain dapat terasa panas, gemetar, kesemutan seperti
terbakar, tertusuk atau ditikam. Nyeri menjadi suatu masalah bila nyeri
mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Hal ini biasa terjadi karena nyeri berlangsung
dalam waktu lama atau menjadi kronik. Low back pain diklasifikasikan ke dalam
dua kelompok yaitu kronik dan akut.

13

Nyeri akut atau singkat merupakan nyeri

yang terjadi selama kurang dari 3 bulan, dan nyeri kronik umumnya terjadi selama
atau lebih dari 3 bulan.12 Keluhan nyeri dapat beragam dan diklasifikasikan
sebagai nyeri yang bersifat lokal, radikular, menjalar (refferad pan) atau
spasmodik.12
a. Nyeri lokal
Nyeri lokal berasal dari proses patolgik yang merangsang ujung
saraf sensorik, umumnya menetap, namun dapat pula intermiten, nyeri
dapat dipengaruhi perubahan posisi, bersifat nyeri tajam atau tumpul.
Biasanya dapat dijumpai spasme paravertebral.
b. Nyeri alih atau menjalar
Nyeri alih atau menjalar dari pelvis atau visera umumnya
mengenai dermatom tertentu, bersifat tumpul dan terasa lebih dalam.
Nyeri alih yang berasal dari spinal lebih dirasakan didaerah sakroiliak,
gluteus atau tungkai atas sebelah belakang. Dan nyeri alih tersebut

berasal dari jaringan mesodermal yang sama dalam perkembangan


embrioniknya.
c. Nyeri radikular
Nyeri radikular berkaitan erat dengan distribusi radiks saraf spinal
(spinal nerve root), dan keluhan ini lebih berat dirasakan pada posisi
yang mengakibatkan tarikan seperti membungkuk, serta berkurang
dengan istirahat. Salah satu penyebab yang perlu diperhatikan adalah
tumor pada korda spinalis yang ditandai oleh tidak berkurangnya nyeri
dengan istirahat atau lebih memburuk terutama pada malam hari.
Karakteristik lain yang dapat ditentukan adalah perubahan neurologis
seperti parestesia dan baal serta dapat disertai oleh kelemahan motorik.
Diperlukan suatu analisis hubungan antara faktor mekanik dengan nyeri punggung
bawah. Faktor mekanik ini mencerminkan patofosiologi sumber nyeri. Nyeri
punggung bawah akibat herniasi diskus cenderung memburuk pada posisi postural
yang lama.12 Pemahaman terhadap ragam jaringan yang dapat merupakan sumber
nyeri punggung bawah akan mempermudah pendekatan penanggulangan nyeri.
Antara lain perlu diketahui bahwa ligamen longitudinal posterior atau inferior,
anulus fibrosus, ligamen interspinosum, ligamen flavum, foramen intervertebral
dalam dimana berjalan radiks saraf, dapat merupakan sumber nyeri yang
memerlukan pendekatan diagnosis maupun penanganan yang seksama.12

2.2

Epidemiologi Low Back Pain


Low back pain sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, terutama di

negara-negara industri.14 Diperkirakan 70-85% penduduk Amerika dari seluruh


populasi pernah mengalami episode ini selama hidupnya. Prevalensi tahunannya
bervariasi dari 15-45%, dengan rata-rata 30%.13 Nyeri pada punggung bawah ini
merupakan penyebab dengan urutan paling sering dari pembatasan aktivitas pada
penduduk Amerika, dengan usia <45 tahun, merupakan urutan kedua untuk alasan
paling sering berkunjung ke praktek dokter, urutan kelima untuk alasan perawatan

di rumah sakit, dan alasan penyebab yang paling sering untuk tindakan operasi. 13
Dalam suatu penelitian menyatakan lebih dari 15.000 operasi tingkat bedah yang
paling umum adalah pada L4-L5 dengan prevalensi (49,8%), diikuti dengan
operasi pada L5-S1 (46,9%).14
Data epidemiologi mengenai low back pain di Indonesia diperkirakan
sekitar 40% penduduk Jawa Tengah berusia 65 tahun pernah menderita low back
pain.15 Prevalensi ini meningkat sesuia dengan meningkatnya usia.11 Dari hasil
penelitian secara Nasional dilakukan di 14 kota di Indonesia oleh kelompok studi
nyeri PERDOSSI (Persatuan Dokter Saraf Seluruh Indonesia) di poliklinik
Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangukusumo (RSCM), prevalensi low back pain
sebanyak 15,6%. Angka ini berada pada urutan kedua tertinggi setelah sefalgia
dan migren yang mencapai 34,8%. Di rumah sakit Jakarta, Yogyakarta dan
Semarang ditemukan insidensinya sekitar 5,4 5,8% dengan frekuensi terbanyak
pada usia 45-65 tahun.20
2.3

Patofisiologi Nyeri pada Low Back Pain


Kolumna vertebralis dapat dianggap sebagai batang elastis terdiri atas

banyak unit rigit (vertebrae) dan unit flexibel (diskus intervertebralis) yang diikat
satu sama lain oleh kompleks sendi faset, berbagai ligamen dan otot
paravertebralis.16 Diskus intervertebralis merupakan penghubung korpus vertebra
yang tersusun atas 2 bagian utama, yaitu anulus fibrosus dan nukleus pulposus.
Diskus ini berfungsi sebagai penyangga beban dan peredam kejut (shock
absorber) dan akan menyerap goncangan vertikal pada saat berlari dan melompat
yang akan dibantu oleh batang tubuh untuk menstabilkannya. Pada bagian anterior
serat anulus terdapat ligamen anterior yang kuat sehingga diskus intervertebralis
tidak mudah menerobos daerah ini. Sementara pada bagian posterior serat serat
anulus paling luar, tengah dan ligamen posterior kurang kuat sehingga mudah
rusak. Mulai dari daerah L1 ligamentum longitudinal posterior makin mengecil
hingga pada ruang L5-S1 tinggal separuh dari lebar semula sehingga
mengakibatkan mudah terjadinya kelainan pada daerah ini. Nukleus pulposus
adalah suatu gel yang viskus terdiri dari proteoglykan mengandung kadar air

tinggi (80%) yang berfungsi sebagai bantalan dan berperan menahan


tekanan/beban. Namun, kemampuan menahan air dari nucleus pulposus berkurang
progresif dengan bertambahnya usia. Mulai dari usia 20 tahun terjadi perubahan
degenerasi yang ditandai dengan penurunan vaskularisasi ke dalam diskus
intervertebralis disertai berkurangnya kadar air dalam nukleus sehingga diskus
mengkerut, sebagai akibatnya diskus menjadi kurang elastis.12
Pada siklus yang sehat, bila mendapat tekanan maka nukleus pulposus akan
menyalurkan gaya tekan ke segala arah dengan sama besar. Apabila terjadi
penurunan kadar air nukleus akan mengurangi fungsinya sebagai bantalan,
sehingga bila ada gaya tekan makan akan disalurkan ke anulus secara asimetris
akibatnya bisa terjadi cedera atau robekan pada anulus yang akan menimbulkan
nyeri.12 Otot-otot abdominal dan toraks sangat penting pada aktifitas mengangkat
beban. Bila tidak pernah dipakai akan melemahkan struktur pendukung ini.
Mengangkat

beban

berat

pada

posisi

membungkuk

dan

menyamping

menyebabkan otot tidak mampu mempertahankan posisi tulang belakang thorakal


dan lumbal, sehingga pada saat facet joint lepas dan disertai tarikan dari samping,
terjadi gesekan pada kedua permukaan faset sendi menyebabkan ketegangan otot
di daerah tersebut yang akhirnya menimbulkan keterbatasan gerakan pada tulang
belakang.12

2.4

Klasifikasi Low Back Pain


Low back pain disebabkan oleh berbagai kelainan atau perubahan

patalogik yang mengenai berbagai macam organ atau jaringan tubuh. Oleh karena
itu beberapa ahli membuat klasifikasi yang berbeda atas dasar kelainannya atau
jaringan yang mengalami kelainan tersebut. LBP diklasifikasikan ke dalam dua
kelompok yaitu kronik dan akut. 12
2.4.1

Low Back Pain Akut

Low back pain akut terjadi dalam waktu kurang dari 12 minggu ditandai
dengan rasa nyeri yang menyerang secara tiba-tiba. Rasa nyeri ini dapat hilang
atau sembuh. Low back pain akut dapat disebabkan karena luka traumatik seperti
kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa nyeri dapat hilang sesaat kemudian. Kejadian
tersebut selain dapat merusak jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen dan
tendon. Pada kecelakaan yang lebih serius, fraktur tulang pada daerah lumbal dan
spinal masih dapat sembuh. Sampai saat ini penatalaksanan awal nyeri punggung
akut terfokus pada istirahat dan pemakaian analgesik.12
2.4.2

Low Back Pain Kronis


Low back pain kronis terjadi dalam waktu lebih dari 3 bulan. Rasa nyeri

dapat berulang-ulang atau kambuh kembali. Pada fase ini biasanya sembuh pada
waktu yang lama. Low back pain kronik dapat terjadi karena osteoarthritis,
rheumatoidarthritis, proses degenerasi discus intervertebralis dan tumor.16
2.5

Etiologi Low Back Pain

Beberapa faktor yang menyebabakan terjadinya low back pain, antara lain:
a. Kelainan Tulang Punggung Sejak Lahir (Kongenital)
Keadaan ini lebih dikenal dengan istilah Hemi Vertebrae. Kelainan-kelainan
kondisi tulang vertebra tersebut dapat berupa tulang vertebra yang hanya setengah
bagian karena tidak lengkap pada saat lahir. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya
low back pain yang disertai dengan skoliosis ringan. Terdapat lubang ditulang
vertebra dibagian bawah karena tidak melekatnya lamina dan keadaan ini dikenal
dengan Spina Bifida. Penyakit spina bifida dapat menyebabkan gejala-gejala berat
seperti club foot, rudimentair foot, kelayuan pada kaki, dan sebagainya. Stenosis
Kanalis Vertebralis juga merupakan salah satu penyakit kongenital yang dapat
menyebabkan low back pain. Diagnosa penyakit ini detegakkan secara radiologis.
Walaupun penyakit telah ada semenjak lahir, namun gejala-gejalanya baru tampak
saat penderita berumur 35 tahun. Gejala yang tampak adalah timbulnya nyeri
radikular bila penderita berjalan dengan sikap tegak. Nyeri akan hilang ketika
penderita berhenti berjalan atau duduk. Untuk menghilangkan nyerinya maka
penderita berjalan sambil membungkuk.16
9

b. Low Back Pain Akibat Trauma


Trauma dan gangguan mekanis merupakan penyebab utama low back pain. Pada
orang-orang yang tidak biasa melakukan pekerjaan otot atau melakukan aktivitas
dengan beban yang berat dapat menderita nyeri punggung bawah yang akut.
Gerakan bagian punggung belakang yang kurang baik dapat menyebabkan
kekakuan dan spasme yang tiba-tiba pada otot punggung, mengakibatkan
terjadinya trauma punggung sehingga menimbulkan nyeri.16
c. Low Back Pain Akibat Perubahan Jaringan
Kelompok penyakit ini disebabkan karena terdapat perubahan jaringan pada
tempat yang mengalami sakit. Perubahan jaringan tersebut tidak hanya pada
daerah punggung bagian bawah, tetapi terdapat juga disepanjang punggung dan
anggota bagian tubuh lain seperti osteoarthritis, penyakit fibrosisti dan infeksi.16
d. Low Back Pain Akibat Pengaruh Gaya Berat
Gaya berat tubuh, terutama dalam posisi berdiri, duduk dan berjalan dapat
mengakibatkan rasa nyeri pada punggung bawah dan dapat menimbulkan
komplikasi pada bagian tubuh yang lain, misalnya genu valgum, genu varum,
coxa valgum dan sebagainya. Beberapa pekerjaan yang mengaharuskan berdiri
dan duduk dalam waktu yang lama juga dapat mengakibatkan terjadinya low back
pain. Kehamilan dan obesitas merupakan salah satu faktor yang menyebabkan
terjadinya low back pain akibat pengaruh gaya berat. Hal ini disebabkan
terjadinya penekanan pada tulang belakang akibat penumpukan lemak, kelainan
postur tubuh dan kelemahan otot.16,17
2.6

Faktor Risiko Low Back Pain


Faktor risiko terjadinya low back pain dapat dikelompokkan berdasarkan

faktor pekerjaan dan individu . Faktor pekerjaan antara lain pekerjaan (sikap dan
cara kerja), stres kerja, shift kerja, dan masa kerja. Faktor individu antara lain
umur, indeks masa tubuh (IMT), merokok, olahraga, dan stres keluarga. 3
Tegangnya postur tubuh, obesitas, kehamilan, usia, faktor psikologi dan beberapa
aktivitas yang dilakukan dengan tidak benar seperti mengangkat barang yang

10

berat dan duduk yang lama juga menjadi faktor timbunlnya keluhan low back
pain.4 Seringnya mendorong atau menarik beban berat kurang 1 kali / jam atau
lebih 1 kali / jam meningkatkan kemungkinan untuk low back pain.18 Sering atau
lamanya membengkokkan badan, membungkuk, duduk dan berdiri lama atau
postur batang badan lainnya yang tidak normal juga menjadi factor risiko low
back pain.10 Pada suatu penelitian mengatakan bahwa

jenis kelamin

seseorang dapat mempengaruhi timbulnya keluhan low back pain. Keluhan ini
biasanya terjadi pada wanita yang sedang mengalami proses menopause yang
dapat

menyebabkan

kepadatan

tulang berkurang

akibat

penurunan

hormon estrogen sehingga memungkinkan terjadinya low back pain.11


Usia merupakan faktor yang memperberat terjadinya low back pain dimana
berhubungan dengan penurunan fungsi-fungsi tubuh terutama tulang sehingga
tidak lagi elastis seperti saat muda. Dalam suatu penelitian didapatkan hasil
keluhan nyeri punggung ini semakin lama semakin meningkat hingga umur
sekitar 55 tahun. Hal ini mungkin berhubungan dengan beberapa faktor etiologi
tertentu yang lebih sering dijumpai pada umur yang lebih tua. Sejalan dengan
meningkatnya usia akan terjadi degenerasi pada tulang dan keadaan ini mulai
terjadi di saat seseorang berusia 30 tahun. Diskus vertebra akan kehilangan cairan
dan kelenturannya sehingga menurunkan kemampuan untuk melindungi tulang
belakang.19
Orang yang bekerja dengan posisi duduk selama setengah hari waktu kerja
atau lebih memiliki risiko untuk terjadinya nyeri punggung bawah. 21 Hal ini
disebabkan semakin lama seseorang duduk maka ketegangan otot dan keregangan
ligamentum khususnya ligamentum longitudinalis posterior semakin bertambah,
khususnya

dengan

membungkuk.

Sebagaimana

diketahui

ligamentum

longitudinalis posterior memiliki lapisan paling tipis setinggi L5-S1. Keadaan ini
mengakibatkan daerah tersebut lebih sering terjadi gangguan. Jika saat duduk juga
dilakukan aktifitas mengangkat dan membungkuk, maka pembebanan pada tulang
belakang akan semakin besar. Gerakan flexi, extensi dan rotasi punggung pada
saat duduk menyebabkan lemahnya otot perut sehingga terjadi lordosis yang
berlebihan. Secara anatomis, lordosis yang berlebihan pada lumbal menyebabkan
11

penyempitan saluran atau menekan saraf tulang belakang dan penonjolan ke


belakang dari ruas tulang rawan (diskus intervertebralis). Hal inilah yang
kemudian menyebabkan gangguan nyeri punggung bawah.5
Telah dicatat dalam sebuah penelitian bahwa obesitas berhubungan dengan
perubahan dalam vertebral, perubahan degeneratif dalam intervertebralis dan
penurunan mobilitas tulang belakang.22 Kelebihan berat badan dengan skor BMI
yang tinggi (>25 kg/m2) memiliki tingkat beban yang lebih besar sehingga
meningkatkan beban pada tulang belakang dan tekanan pada diskus serta struktur
tulang belakang yang kemudian diperburuk oleh low back pain.11
Faktor psikologis juga sangat berpengaruh terhadap nyeri punggung
bawah. Ketidakpuasan dengan situasi kerja, atasan, dan kebosanan berkontribusi
besar terhadap timbulnya nyeri punggung bawah. Sebagaimana dinyatakan,
ketidakpuasan kerja tampaknya menjadi faktor penting.23 Data epidemiologi
menyatakan faktor risiko memegang peranan penting pada low back pain.24
Dibawah ini adalah gambaran tulang belakang mulai dari normal dan tidak normal
yang menunjukkan berbagai masalah yang terjadi pada tulang belakang sehingga
dapat menyebabkan terjadinya nyeri punggung bawah.

Gambar 1. Intervertebral disc yang normal dan tidak normal

12

Pemeriksaan Low Back Pain

2.7

Pemeriksaan yang sering dilakukan pada pasien Low Back Pain Tes untuk
merenggangkan saraf iskhiadikus12
-

Tes Laseque (Straight Leg Raising = SLR)

Caranya adalah dengan melakukan flexi pada sendi panggul dengan sendi lutut
tetap lurus. Dengan cara ini saraf iskhiadikus akan tertarik. Pada keadaan normal
tungkai bias diflexikan hingga 90 derajat. Hasil dikatakan positif bila timbul rasa
nyeri sepanjang perjalanan saraf iskhidikus pada sudut kurang dari 90 derajat dari
bidang horizontal. Bila tes ini positif berarti besar kemungkinan peenekanan pada
akar saraf. Sebaliknya bila tes ini negatif kemungkinan penekanan akar saraf
kecil.
-

Tes Laseque Silang

Caranya sama dengan tes Laseque hanya yang diangkat adalah tungkai yang
sehat. Tes ini dinyaakan positif apabila timbul nyeri disepanjang saraf iskhiadikus
tungkai yang sehat dan spesifik untuk HNP. Bila tes negative bukan berarti tidak
ada penekanan pada radiks saraf.
-

Tes Bragard

Merupakan modifikasi dari tes Laseque dan lebih sensitiv dari pada tes Laseque.
Caranya sama seperti tes Laseque hanya pada waktu mengangkat tungkai disetai
dorsoflexi kaki. Interprestasinya sama dengan tes Laseque.
-

Tes Sicard

Seperti tes Laseque, hanya pada waktu mengangkat tungkai


disertai dorsoflexi ibu jari kaki. Interprestasinya sama dengan Laseque.
2.8

Indeks Massa Tubuh


13

Indeks massa tubuh (IMT) adalah nilai yang diambil dari perhitungan
antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang. 25 IMT dipercayai dapat
menjadi indikator atau mengambarkan kadar adipositas dalam tubuh seseorang.
IMT tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi penelitian menunjukkan
bahwa IMT berkorelasi dengan pengukuran secara langsung lemak tubuh seperti
underwater weighing dan dual energi X-ray absorbtiometry.26 IMT merupakan
altenatif untuk tindakan pengukuran lemak tubuh karena murah serta metode
skrining kategori berat badan yang mudah dilakukan.27 Cara penghitungan Indeks
Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) adalah pengukuran dengan
perhitungan mudah menggunakan data berat badan (BB) dan tinggi badan (TB).28
Metode

ini

telah

diakui

sebagai

mengklasifikasikan berat badan,

metode

yang

paling

praktis

untuk

kelebihan berat badan dan obesitas pada

populasi dewasa atau individual.28 Perhitungan digunakan dengan membagi BB


dalam kilogram dengan TB yang dikuadratkan dalam meter (kg/m2 ).29,30
BMI = Berat Badan (dalam kg) / Tinggi Badan (TB x TB dalam m2).
BMI menyediakan populasi yang paling berguna dengan perhitungan level
dari kelebihan berat badan dan obesitas yang sama pada kedua jenis kelamin dan
untuk segala usia. Bagaimanapun juga, hal ini harus dipertimbangkan sebagai
panduan karena perhitungan ini kemungkinan menyampaikan tingkat kegemukan
yang sama pada individu berbeda.31
2.9

Klasifikasi Indeks Massa Tubuh


WHO (World Health Organization) menyatakan normal dibagian populasi

Asia , dengan BMI underweight dibawah 18,5, normal 18,5-22,99, overweight


sama dengan atau lebih dari 23, dan obesitas sama dengan atau lebih dari 25.
Pembagian perhitungan ini menyediakan penilaian tersendiri terhadap masingmasing individu, tetapi terdapat kejadian risiko penyakit kronik pada populasi
yang meningkat BMInya secara progresif . Dapat dilihat perbandingan obesitas
menurut WHO untuk populasi Eropa pada Tabel 1 dan populasi Asia,
pada Tabel 2.32
Tabel 1. Klasifkasi IMT menurut WHO:

14

Interprestasi
Underweight
Normal
Dewasa overweight
Pre-obese
Obese I
Obese II
Obese III/Morbid

BMI
<18,5 kg/m2
18,5 kg/m2
18,5-24,9 kg/m2
25,00-29,99 kg/m2
30,00-34.99 kg/m2
35,00-39,00 kg/m2
>40,00 kg/m2

Tabel 2. Klasifikasi IMT populasi asia menurut WHO :


Interprestasi
Underweight
Normal
Dewasa overweight
Pre-obese
Obese I
Obese II

BMI
<18,5 kg/m2
18,5-22,99 kg/m2
23,0 kg/m2
23,00-24,99 kg/m2
25.00-29.99 kg/m2
30 kg/m2`

4.1 Pengaruh IMT Terhadap Low Back Pain


Tejadinya peningkatan insidensi low back pain seiring dengan peningkatan
BMI (Indeks masa tubuh). Peningkatan ini

terjadi disebabkan terjadinya

peningkatan beban pada mereka yang obesitas. Pada penderita obesitas ditemukan
kelemahan otot abdominal. Keadaan ini mengubah garis gravitasi ke depan
sehingga beban axial hanya terjadi pada kolumna vertebralis saja terutama terberat
terjadi pada L5-S1, dimana pada keadaaan normal beban axial diterima bersamasama antara otot abdominal dan kolumna vertebra, yang akan mengakibatkan
moment force yang berlebihan dan meningkatkan kurva lordosis yang
menghasilkan kurva abnormal pada daerah lumbosakralis. Area lumbosakralis
merupakan penyokong utama berat badan tubuh kita. Akibat pembentukan kurva
abnormal yang disebut kurva lordotik, maka akan terjadi kerusakan otot pada
sekitar area yang menghasilkan lesi kronik. Kerusakan ini berkaitan dengan beban
berlebihan yang merupakan nyeri dengan intensitas rendah. Nyeri dengan
intensitas rendah tetapi dengan waktu yang terus menerus akan menghasilkan
reaksi berlebihan pada saraf yang disebut hipersensitivitas. Hipersensitivitas pada
daerah lumbosakralis inilah yang biasa dikeluhkan pasien sebagai nyeri punggung
bawah. Namun, pada mereka yang mempunyai indeks massa tubuh normal dan
15

underweight juga tidak menutup kemungkinan terjadinya low back pain. Pada
beberapa penelitian mengatakan bahwa IMT normal atau underweight juga bisa
menyebabkan low back pain dengan berbagai faktor risiko, seperti duduk statis,
beban kerja yang terlalu berat, posisi kerja yang salah, latihan fisik terlalu berat
dan olahraga yang tidak teratur.30,31

16

2.11Ringkasan pustaka
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Septiawan H, pada bulan Juli 2012
di wilayah Kecamatan Mijen, Kabupaten Semarang, pada proyek pembangunan
perumahan Beranda Bali yang dikembangkan oleh PT Mikroland Property
Development mengenai faktor yang berhubungan dengan keluhan nyeri
punggung bawah pada pekerja bangunan di PT Mikroland Property Development
Semarang tahun 2012, didapatkan kesimpulan bahwa ada hubungan sikap kerja,
IMT dengan keluhan nyeri punggung bawah pada pekerja bangunan di PT.
Mikroland Property Development Semarang dan tidak ada hubungan antara
beban kerja, kebiasaan merokok dengan keluhan nyeri punggung bawah pada
pekerja bangunan di PT. Mikroland Property Development Semarang. Penelitian
tersebut dilakukan pada pekerja bangunan di PT. Mikroland Property
Development tahun 2012 dengan jumlah 99 orang dengan menggunakan survey
analitik rancangan cross sectional. Pada penelitian ini terdapat beberapa variabel
yang diteliti, yaitu IMT, beban kerja, sikap kerja, dan kebiasaan merokok.4
Penelitian lain yang dilakukan oleh Samara D, Basuki B, dan Jannis J pada
bulan Februari sampai Maret 2003 di Pabrik X mengenai duduk statis sebagai
faktor risiko terjadinya nyeri punggung bawah pada peremuan, ditemukan bahwa
pekerja yang duduk statis 91-300 menit mempunyai risiko timbulnya nyeri
punggung bawah 2,5 kali lebih besar bila dibandingkan dengan pekerja yang
duduk statis 5-90 menit {Rasio Odds suaian (RO)=2,35;9% Interval Keyakinan
(IK)=1,35-4,11} Indeks massa tubuh kurus juga terbukti merupakan faktor risiko
timbulnya nyeri punggung bawah (RO=2,2; IK 95%=1,20-4,00). Adapun
penelitian tersebut dilakukan terhadap pekerja perempuan yang pernah nyeri
punggung bawah atau sedang menderita nyeri punggung bawah akibat kerja
dalam kurun waktu 3 bulan terakir, nyeri bersifat intermitten dengan nyeri tekan
pada region paralumbal atau glutea dan tes Laseque dengan menggunakan
rancangan kasus-kontrol tidak berpadanan. Dalam penelitian tersebut terdapat
variabel bebas yaitu indeks massa tubuh, jenis pekerjaan sekarang, lama duduk
statis, dan relaksasi badan. Sedangkan 17variabel tergantung yaitu nyeri
punggung bawah. Selain itu terdapat beberapa 17variable yang diteliti pada

17

penelitian ini, yaitu umur, IMT, paritas, olahraga, jenis pekerjaan sekarang, jenis
pekerjaan dahulu, masa kerja sekarang, masa kerja dahulu, lama kerja perhari,
lama kerja per minggu, jabatan sekarang, kesempatan berelaksasi ketika bekerja,
lama duduk dan sikap duduk.5
Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian-penelitian tersebut
berkaitan dengan lama duduk statis dan indeks massa tubuh. Namun, pada
penelitian ini yang diteliti adalah lama duduk statis dan indeks massa tubuh
dengan subyek yang berbeda yaitu pegawai PT.Chevron Pacific Indonesia di
Rumbai, Pekanbaru.

18

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1

Kerangka Konsep
Dalam penelitian ini,19variable yang diteliti adalah variabel independen

dan variabel dependen. Variabel independen pada penelitian ini adalah IMT
(Indeks Massa Tubuh) terhadap individu dan variabel dependen, yaitu keluhan
low back pain pada pegawai PT.Chevron Pacific Indonesia di Rumbai, Pekanbaru.
Sehingga kerangka konsep dalam penelitian ini adalah seperti terlihat pada
Gambar 2.
Gambar 2.
Kerangka Konsep

Usia

Jenis Kelamin

Low Back Pain


Pada Pegawai

IMT
Durasi lama duduk statis
per hari
Keterangan :
= Variabel Bebas
= Variabel Terikat

19

No

Variabel

Definisi

1.

Pegawai

Pegawai

Alat Ukur
kantoran

Cara Pengukuran

PT.

HasilPengukuran

Skala

Referensi

Chevron Pacific Indonesia,


Rumbai Pekanbaru yang
2.

Low
Pain

duduk
Back Nyeri yang dirasakan dan di Kuesioner
keluhkan oleh pegawai di
daerah

punggung

bawah,

beserta

gejala

yang

Pengisian

sendiri

oleh responden

- 0-40%

(Minimal

Disability
Moderate

Disability)
- 41-100% (Severe

dirasakan. Nyeri ini terasa

Disability)

diantara sudut iga terbawah


sampai lipat bokong bawah
dan

JC,

Pynsent PB. The


Oswestry
Disability

Index.

Spine

2000

Nov;25(22):294052;

yaitu di daerah lumbal atau


lumbo-sakral

Fairbank

discussion 52

sering

disertai dengan penjalaran


nyeri ke arah
tungkai dan kaki.
3.

Usia

Jumlah tahun yang dihitung Kuesioner


mulai dari responden lahir

Pengisian

sendiri - 25-34 tahun


- 35-55 tahun
oleh responden

Ordinal Sari WN. Hubungan


Antara Sikap Kerja

20

sampai

saat

pengumpulan

Duduk

data dilakukan.

Dengan

Keluhan

Subyektif

Nyeri

Punggung

Bawah pada Pekerja


Pembuat

Terasi.

Unnes Journal of
Public

Health

2013;3(2):2
4.

Jenis Kelamin

Pertanda gender dari respon Kuesioner


den penelitian.

Pengisian

sendiri - Laki-laki
- Perempuan
oleh responden

Nominal

1. Purnawasari

H,
Gunarso
U,
Rujito
L.
Overweight
sebagai Faktor
Resiko
Low
Back Pain Pada
Pasien Poli Saraf
RSUD
Prof.
Margono
Soekarjo
Purwokerto.
Mandala
of
Health
2010;4(1):26-32.

21

5.

Indeks Massa IMT


Tubuh (IMT)

diambil

adalah
dari

nilai

yang alat

yang Penghitungan

perhitungan digunakan pada dengan

antara berat badan (BB) dan penelitian


tinggi badan (TB) seseorang

adalah

ini Indeks

- Underweight

mengukur
Massa

dengan Tubuh atau Body

menggunakan

Mass Index (BMI),

timbangan badan yaitu:

BB(kg)/

untuk mengukur [TB]2(m2)

Ordinal

World

Health

Normal

Organization 2013.

(IMT <18,5

Obesity: preventing

and managing the

22,9 kg/m2)

- Overweight

global epidemic.

Obesitas (IMT 23
30 kg/m2)

berat badan serta


mistar pengukur
tinggi

badan

untuk mengukur
tinggi

badan

pada pegawai.
6.

Lama Duduk Pegawai yang duduk secara Keusioner

Pengisian

Pada

statis selama bekerja tanpa

oleh responden

Pegawai/Hari

ada

waktu

merelaksasikan badan.

untuk

sendiri

- 590 menit
- 91300 menit

Ordinal

Samara D, Basuki B,
Jannis

J.

Statis

Duduk
Sebagtai

Faktor

Resiko

Terjadinya

Nyeri

Punggung

Bawah

22

Pada

Pekerja

Perempuan.
Universal Medicina
2005 Jun;24(2):74-9.
Tabel 3. Definisi Operasional

23

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1

Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional atau potong silang.

Penelitian ini menggunakan data primer yaitu dengan variabel independen


(variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen (variabel yang dipengaruhi)
yang diteliti pada saat yang bersamaan. Variabel independen pada penelitian ini
adalah IMT dan variabel dependen pada penelitian ini adalah tingkat kejadian low
back pain pada pegawai. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
hubungan antara IMT dengan kejadian low back pain pada pegawai.
4.2

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan di PT. Chevron Pacific Indonesia, Rumbai-

Pekanbaru pada bulan Oktober 2013.


4.3

Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi adalah sekelompok individu dengan ciri-ciri yang sama, yang

hidup menempati ruang yang sama pada waktu tertentu. Berdasarkan definisi
diatas, penelitian akan dilakukan kepada seluruh pegawai PT. Chevron Pacific
Indonesia, Rumbai-Pekanbaru dengan populasi sebanyak 650 orang dipilih
dengan teknik Consecutive Non Random Sampling yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi. Penghitungan sampel pada penelitian ini dengan
menggunakan rumus besaran sampel:

Populasi Infinit
n0 = z2 x p x q

n0 = (1,96)2 x 0,16 x 0,84

2
Keterangan : d

207

(0,05)2

n0 :Besar sampel optimal yang dibutuhkan


24

z : Pada tingkat kemaknaan 95% besarnya 1,96


p : Prevalensi / proporsi kelompok yang menderita low back pain20
q : Prevalensi / proporsi yang tidak menderita low back pain (1-p)
d : Akurasi dari ketetapan pengukuran, untuk p =>10% adalah 0,05
Populai Finit
n = no
______
(1+ n0/N)

n = 207
________

n = 157

(1+ 207/650)
Keterangan :

n = Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang finit


n0 = Besar sampel dari populasi infinit
N = Besar populasi finit
Untuk mencegah terjadinya drop out maka sampel ditambah 15 % dari
jumlah sampel, yaitu penghitungannya 157 + 15 % maka didapatkan hasil jumlah
sampel menjadi 180.
Dengan demikian, diperlukan 180 sampel minimal agar dicapai tingkat
kepercayaan 95 %.
Sampel yang diambil pada penelitian adalah subjek yang memenuhi
kriteria inklusi dan eklusi.

4.3.1

Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi pada penelitian adalah sebagai berikut :

25

1. Kesediaan pegawai PT.Chevron Pacific Indonesia, Rumbai menjadi


subyek penelitian
2. Adanya keluhan low back pain atau nyeri punggung bawah
3. Pegawai yang berumur 25-55 tahun
4.3.2

Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi pada penelitian adalah sebagai berikut :
1. Pegawai yang tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian
2. Adanya kehamilan pada pegawai
3. Adanya faktor mekanis (trauma)

4.4

Bahan dan Instrumen Penelitian


Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan berupa data primer. untuk

mendapatkan data tentang karakteristik responden dan anamnesa low back pain.
Pengumpulan data primer membutuhkan suatu alat atau instrumen yang akan
digunakan dalam penelitian ini. Alat yang digunakan peneliti untuk memperoleh
data dalam penelitian ini adalah kuesioner. Dan akan dilakukan pengukuran IMT
terhadap pegawai. Adapun alat yang digunakan pada penelitian ini dengan
menggunakan timbangan badan dan mistar pengukur tinggi badan untuk
mengukur tinggi badan pada pegawai. Data primer pada penelitian ini terdiri dari :
1. Data karakteristik responden, pekerjaan dan anamnesa low back pain.
2. Data penghitungan indeks massa tubuh (IMT)

4.5

Analisis Data
Tahapan pengolahan data dimulai dari pengkodean ( coding) , pemasukan

data ( entry) , pengecekan ulang ( cleaning) dan selanjutnya dianalisis. Setelah


dilakukan pengkodean ( coding ) kemudain data dimasukan kedalam tabel yang
telah ada ( entry) . Setelah itu dilakukan pengecekan ulang ( cleaning) untuk
memastikan tidak ada kesalahan dalam memasukkan data. Untuk tahap analisis ,

26

data diolah menggunakan program komputer Microsoft excell 2010 dan Statistical
Program for Social Science versi 17 for windows.
Data yang didapat dalam penelitian ini kemudian dianalisis menggunakan
analisis univariat dan bivariat.
4.5.1

Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk mendapat gambaran distribusi

responden atau variasi dari variabel yang diteliti. Analisis ini digunakan untuk
mendeskripsikan variabel dengan cara membuat tabel distribusi frekuensi, dan
dihitung dengan persentase memakai rumus sebagai berikut:
f= x

x 100%

Keterangan :
f = frekuensi
x = jumlah yang didapat
n = jumlah populasi

4.5.2 Analisis Bivariat


Analisis bivariat bertujuan melihat ada tidaknya hubungan antara variabel
tergantung dan variabel bebas seperti yang tampak dalam kerangka konsep.
Adapun rumus dari uji Chi Square ini adalah:
X2 = (O E)2
E

27

X2

= Kai Kuadrat

O (Observed) = Nilai observasi


E (Expected) = Nilai harapan
Untuk menguji kemaknaan, penulis menggunakan p-value dengan tingkat
kemaknaan 5% dan derajat kepercayaan 95%. Sehingga dapat diperoleh bahwa
jika p-value < 0,05 maka menunjukkan adanya hubungan antara variabel
tergantung dan variabel bebas, sedangkan jika p-value> 0,05 maka menunjukkan
tidak adanya hubungan antara variabel tergantung dan variabel bebas.
4.6

Alur Penelitian
Alur penelitian berisi gambar alur atau skema pelaksanaan penelitian dalam

pengambilan data terdapat pada Gambar 3.

Gambar 3. Alur Penelitian

Persiapan Penelitian

Informed consent
28

Bersedia

Tidak Bersedia

Memenuhi kriteria
inklusi

Termasuk kriteria esklusi

Tabel sampel

Eliminasi

Kuesioner

Pengukuran Indeks
Massa Tubuh

Analisis Data

4.7

Etika Penelitian
Penilitian yang dilakukan memberikan jaminan kerahasiaan data subjek

penelitian. Subjek penelitian yang menyetujui ikut dalam penelitian ini akan
diberikan penjelasan sebelum peneliti mendapatkan persetujuan subjek penelitian
(informed consent) dan subjek memberikan persetujuan keikutsertaan secara

29

sukarela. Penelitian yang akan dilakukan sudah melewati tahap penilaian lolos
kaji etik dari institusi terhadap materi penelitian yang dilaksanakan.

BAB V
HASIL PENELITIAN
Bab ini menguraikan tentang hasil penelitian, meliputi: 1) analisis
univariat dari masing-masing variabel; 2) analisis bivariat berupa korelasi antara
variabel bebas (usia, jenis kelamin, durasi lama duduk statis pada pegawai/hari

30

dan indeks massa tubuh) dengan variabel terikat (low back pain). Jumlah sampel
yang didapatkan dalam penelitian ini sesuai dengan besar sampel ditambah drop
out yaitu 180 orang. Pengumpulan data dilakukan pada 8 Oktober 2013 di PT.
Chevron Pacific Indonesia, Rumbai Pekanbaru.
5.1

Hasil Analisis Univariat

5.1.1

Karakteristik Responden
Jenis kelamin subyek penelitian terbanyak adalah laki laki, yaitu 103

orang (57.2%), sedangkan jenis kelamin perempuan hanya sebanyak 77 orang


(42.8%). Rata-rata usia responden adalah 37+10,5 tahun, dengan rentang usia 2555 tahun. Usia pegawai yang terbanyak adalah yang berusia antara 35-55 tahun
(51,1%), usia golongan 35 55 tahun lebih banyak pada laki-laki (51.1%), lama
duduk statis pegawai/hari paling banyak terdapat

pada durasi 91-300 menit

(71.1%), durasi lama duduk statis 91-300 menit terbanyak pada laki-laki (41.1%)
dan didominasi oleh golongan usia 35-55 tahun, IMT terbanyak pada kategori
overweight obesitas (58.3%) serta LBP kategori minimal moderate disability
(66.1%) lebih banyak dibandingkan dengan kategori severe disability (33.9%)
(Tabel 4).

Tabel 4. Karakterisktik responden


Variabel
Jenis Kelamin :
Perempuan
Laki-laki
Usia
:
25 - 34 tahun
35 - 55 tahun

Jumlah (n)

Persentase (%)

77
103

42.8%
57.2%

88
92

48.8%
51.1%

31

Durasi Lama Duduk Statis /Hari :


5-90 menit
91-300 menit
IMT
:
Underweight Normal
(<18,5 22,9 kg/m2)
Overweight Obesitas (23 30 kg/m2)
LBP
:
Minimal - Moderate Disability (0 - 40%)
Severe Disabiliity (41-100%)
5.2

52
128

28.9%
71.1%

75
105

41.7%
58.3%

119
61

66.1%
33.9%

Hasil Analisis Bivariat


Tabel 5 menampilkan hubungan faktor risiko yang tidak dapat dikontrol

dengan LBP. Berdasarkan hasil analisis hubungan antara jenis kelamin dan LBP,
diperoleh jumlah responden laki-laki (57.2%) lebih banyak daripada responden
perempuan (42.8%) yang mengalami keluhan LBP baik minimal-moderate disability
maupun severe disability. Tetapi perbedaan ini tidak bermakna karena nilai p sebesar
0.544 (p>0.05).
Tabel 5. Hubungan faktor-faktor risiko yang tidak dapat dikontrol dengan

LBP
Variabel
Jenis Kelamin :
Perempuan
Laki-laki
Usia (tahun)
:
25-34
35-55

Minimal-Moderate
Disability(0-40%)
n (%)

LBP
Severe Disability
Total
(41-100%)
n (%)
n (%)

p-Value

49 (27.2%)
70 (38.9%)

28 (15.5%)
33 (18.3%)

77 (42.8%)
103 (57.2%)

0.544*

62 (34.4%)
57 (31.7%)

26 (14.4%)
35 (19.4%)

88 (48.8%)
92 (51.1%)

0.229*

n= jumlah; %= persentase
*: Uji Chi-square

Responden yang termasuk dalam golongan usia 35-55 tahun lebih banyak yang
terkena LBP (51.1%) dibandingkan dengan responden golongan usia 25-34 tahun
(48.8%). Responden dengan rentang usia antara 25-34 tahun lebih banyak yang
mengalami minimal-moderate disability (34.4%) sedangkan responden yang mengalami
severe disability lebih banyak pada usia tua (19.4%).

Tetapi perbedaan ini tidak

bermakna karena nilai p sebesar 0.229 (p>0.05).


Tabel 6. Hubungan faktor-faktor risiko yang dapat dikontrol dengan LBP
Variabel

LBP

p-Value

32

Minimal-Moderate
Disability(0-40%)
n (%)
Durasi lama duduk
(menit/hari)
:
5-90
91-300
IMT (kg/m2)
:
Underweight-Normal
(<18,5 22,9)
Overweight-Obesitas
(23 30)

Severe Disability
(41-100%)
n (%)

0 (0%)
119 (66.1%)

52 (28.9%)
9 (5%)

75 (41.7%)
44 (24.4%)

Total
n (%)

52 (28.9%)
128 (71.1%)

0.000*

0 (0%)

75 (41.7%)

0.000*

61 (33.9%)

105 (58.3%)

n= jumlah; %= persentase
*: Uji Chi-square

Tabel 6 menunjukkan hubungan faktor risiko yang dapat dikontrol dengan

LBP . Responden dengan durasi lama duduk statis/hari 91 300 menit/hari (71.1%) lebih
banyak yang mengalami LBP dibandingkan responden dengan durasi lama duduk
statis/hari 5 90 menit/hari (28.9%) (p=0.000)
Subyek penelitian yang termasuk dalam kategori overweight - obesitas (23 30
2

kg/m ) lebih banyak yang mengalami LBP (58.3%) dibandingkan dengan responden yang
memiliki IMT kurang atau normal (41.7%) (p=0.000). Responden yang memiliki IMT
kurang-normal lebih banyak mengalami minimal disability - moderate disability.
Sedangkan responden yang memiliki IMT overweight - obesitas lebih banyak yang
mengalami severe disability.

BAB VI
PEMBAHASAN
6.1

Karakteristik Responden
Subyek penelitian ini adalah 180 pegawai PT. Chevron Pacific Indonesia,

RumbaiPekanbaru yang berusia antara 25 sampai 55 Hal ini dikarenakan masa


usia pensiun yang ditetapkan oleh perusahaan adalah 56 tahun. Subyek penelitian

33

terdiri dari 57.2% laki-laki dan 42.8% perempuan. Dari data ini dapat dilihat
bahwa proporsi jenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir setara atau tidak
bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan sampel secara acak pada
pegawai yang memiliki keluhan LBP sudah baik.
Untuk memenuhi tujuan penelitian ini maka ditanyakan pada kuesioner
mengenai durasi lama duduk statis pada pegawai/hari dan juga dilakukan
pengukuran indeks massa tubuh.
6.2

Hubungan Jenis Kelamin dengan LBP


Hasil analisis hubungan antara jenis kelamin dengan LBP adalah Ho

diterima (p=0,544) yang berarti tidak ada hubungan bermakna antara jenis
kelamin dan LPB. Walaupun demikian, pada tabel 5 dapat dilihat bahwa laki-laki
cenderung mengalami LBP, baik yang minimal-moderate disability maupun yang
severe disability dibandingkan dengan perempuan. Hal ini kemungkinan
disebabkan karena laki-laki lebih banyak pada golongan usia tua, 35-55 tahun
(51.1%) dan memiliki durasi lama duduk statis yang besar, 91-300 menit/hari.
Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Himawan F et.al yang menyatakan
bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dan LBP.7 Padahal secara teori
menurut Hendy P et.al jenis kelamin dapat mempengaruhi timbulnya keluhan
LBP.11 LBP umumnya lebih sering terjadi pada pada wanita karena pengaruh
hormonal. Wanita yang mengalami siklus menstruasi dan yang sedang mengalami
proses

menopause dapat menyebabkan kepadatan tulang berkurang akibat

penurunan hormon estrogen sehingga memungkinkan terjadinya LBP. Pengaruh


berat badan juga memiliki hubungan, dimana biasanya wanita cenderung memiliki
berat badan yang berlebih dibanding laki laki. Berat badan berlebih dapat
meningkatkan beban pada tulang belakang terutama bagian bawah, sehingga dapat
mengakibatkan nyeri pada daerah tersebut.11
6.3.

Hubungan Usia dengan LBP


Analisis hubungan antara usia dengan LBP mendapatkan hasil bahwa tidak

ada hubungan antara keduanya (p=0,229). Proporsi terbesar usia responden dalam
penelitian ini adalah pada golongan usia 35-55 tahun (51.1%).

34

Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya oleh


Hendy P yang menyatakan bahwa keluhan LBP dipengaruhi oleh faktor usia yang
mulai dirasakan pada mereka yang berumur dekade kedua dan insiden tertinggi
dijumpai pada dekade kelima.11 Begitu juga dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Sari WN yang menyatakan bahwa ada hubungan antara usia
dengan LBP.3
Perbedaan hasil dengan penelitian-penelitian sebelumnya kemungkinan
disebabkan responden pada penelitian ini adalah orang-orang yang masih aktif
bekerja dan responden yang dipilih adalah responden yang memiliki keluhan LBP,
sehingga perbedaan usia tidak terlalu signifikan. Tetapi, dari tabel 5 dapat dilihat
bahwa responden yang berusia lebih muda lebih banyak mengalami minimalmoderate disability sedangkan responden yang cenderung mengalami LBP severe
disability lebih banyak pada usia yang lebih tua. Kemungkinan hal ini
dikarenakan responden yang berusia tua lebih banyak memiliki durasi lama duduk
91-300 menit/hari (71.1%). Hal ini tentu saja sejalan dengan teori yang
menyatakan bahwa seiring meningkatnya usia akan terjadi degenerasi pada tulang
dan keadaan ini mulai terjadi di saat seseorang berusia 30 tahun. Diskus vertebra
akan kehilangan cairan dan kelenturannya sehingga menurunkan kemampuan
untuk melindungi tulang belakang. Dengan kata lain, semakin tua seseorang,
semakin tinggi risiko orang tersebut mengalami penurunan elastisitas pada tulang
yang menjadi pemicu terjadinya LBP.3

6.4

Hubungan Durasi Lama Duduk Statis Pada Pegawai/Hari dengan LBP


Hasil analisis hubungan antara durasi lama duduk statis pada pegawai/hari

dengan LBP adalah Ho ditolak (p=0,000) yang berarti ada hubungannya. Proporsi
terbesar lama duduk statis pada pegawai adalah antara 91-300 menit/hari (71.1%).

35

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Diana S et.al
yang menyatakan bahwa ada hubungan antara durasi lama duduk statis dengan
LBP.10 Secara teori menurut Diana S et.al pekerja yang duduk statis 91-300 menit
mempunyai risiko timbulnya LBP 2,35 kali lebih besar bila dibandingkan dengan
pekerja yang duduk statis 5-90 menit, dengan kata lain semakin lama sesorang
duduk maka semakin besar risiko terjadinya LBP.10 Hal ini tentunya sejalan
dengan teori yang menyatakan bahwa dalam keadaan duduk yang lama akan
menyebabkan ketegangan otot otot dan keregangan ligamentum tulang belakang
terutama ligamentum longitudinal posterior yang makin bertambah, khususnya
dengan duduk membungkuk. Sebagaimana diketahui ligamentum longitudinalis
posterior memiliki lapisan paling tipis setinggi L2-L5. Keadaan yang demikian
mengakibatkan daerah tersebut lebih sering terjadi gangguan atau robekan
sehingga menyebabkan rasa nyeri.3,10
6.5

Hubungan IMT dengan LBP


Pada hasil analisis hubungan antara IMT dengan LBP adalah Ho ditolak

(p=0,000) yang berarti memiliki hubungan bermakna. Proporsi responden yang


mempunyai indeks massa tubuh terbesar pada penelitian ini adalah moderate
disability (41-60%), yaitu 58.3%.
Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Heru S yang menunjukkan
bahwa berat badan dan tinggi badan merupakan faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya keluhan LBP.4 Dari 23 responden yang diteliti memilki IMT berisiko,
terdapat 13 responden (56,6%) mengalami keluhan nyeri punggung bawah dan 10
responden tidak mengalami keluhan nyeri punggung bawah. Sedangkan dari 26
responden yang IMT tidak berisiko, terdapat 22 responden (84,7%) mengalami
keluhan nyeri punggung bawah dan 4 responden tidak mengalami keluhan nyeri
punggung bawah. Hal yang sama juga ditemukan pada penelitian Hedy P
yang menunjukkan faktor

IMT yang termasuk dalam golongan overweight

signifikan terhadap kejadian LBP. Hasil analisis penelitian tersebut menyatakan


bahwa seseorang

yang overweight lebih berisiko 5 kali menderita LBP

dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badan ideal.11

36

Penelitian lain oleh Heru S menunjukkan bahwa pasien obesitas


mempunyai risiko yang lebih besar untuk mengalami nyeri punggung bawah. 4 Hal
ini sesuai dengan teori yang menyatakan ketika seseorang mengalami kelebihan
berat badan maka kelebihan berat badan tersebut akan disalurkan pada daerah
perut yang berarti menambah kerja tulang lumbal yang menyebabkan tarikan pada
punggung bawah. Ketika berat badan bertambah, tulang belakang akan tertekan
untuk menerima beban yang membebani tersebut, sehingga mengakibatkan
mudahnya terjadi kerusakan pada struktur tulang punggung belakang khususnya
pada daerah vertebra lumbal. Dimana vertebra lumbalis memiliki saraf sensoris
sehingga mempunyai potensi untuk menimbulkan rasa nyeri. 4,7
6.8

Kekurangan dan Kelebihan Penelitian


Kelebihan dalam penelitian ini adalah belum pernah ada penelitian

sebelumnya pada perusahaan PT. Chevron Pacific Indonesia, Rumbai


Pekanbaru. Selain itu, sampel yang diteliti memiliki jumlah yang lebih banyak
dibandingkan penelitian yang pernah dilakukan sehingga hasil yang didapatkan
lebih mewakili prevalensi. Sedangkan kekurangan dalam penelitian ini adalah
terbatasnya waktu yang dimiliki peneliti untuk melakukan penelitian, sehingga
penelitian yang dilakukan memiliki skala yang tidak terlalu luas dan rumitnya
penjadwalan yang harus dilakukan peneliti untuk dapat melakukan penelitian
tanpa harus mengganggu waktu kerja para pegawai. Selain itu, pada penelitian ini
tidak memakai pemeriksaan neurologi, sehingga untuk menentukan derajat LBP
hanya dinilai dari kuesioner.

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1

Kesimpulan

37

Setelah dilakukan penelitian tentang hubungan Indeks Masa Tubuh (IMT)


dengan kejadian Low Back Pain (LBP) beserta beberapa variabel bebas, yaitu
jenis kelamin, usia dan durasi lama duduk statis pada pegawai/hari pada pegawai
di PT. Chevron Pcific Indonesia, Rumbai - Pekanbaru, maka dapat disimpulkan :
1. Jumlah pegawai yang memiliki keluhan low back pain dengan kategori
minimal disability moderate disability lebih banyak

(58.3%) dibandingkan

dengan kategori severe disability (41.7%)


2. Terdapat hubungan antara durasi lama duduk statis/hari dan indeks massa tubuh
dengan kejadian low back pain.
3. Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dan usia dengan kejadian low
back pain.
7.2

Saran
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, maka saran yang diberikan

oleh penulis adalah sebagai berikut:


1.

Perlu dilakukan penelitian pada populasi lain atau yang lebih luas untuk
memperluas generalisasi hasil penelitian dan dengan sampel yang lebih besar

untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan terpercaya.


2. Untuk para peneliti yang ingin melakukan penelitian yang serupa dengan
jumlah sampel yang banyak seperti pada penilitian yang telah dilakukan,
diharapkan bekerjasama dengan sejumlah rekan untuk mempermudah dalam
proses pengukuran berat badan dan tinggi badan responden.
3. Disarankan kepada para pegawai di PT. Chevron Pcific Indonesia, Rumbai Pekanbaru agar memperhatikan berat badan yang berlebihan. Para pekerja
dianjurkan untuk melakukan pola hidup yang sehat, dengan mengatur pola
makan dan di imbangi dengan olahraga.
4. Pada penelitian ini, faktor usia berpengaruh terhadap low back pain oleh
karena itu disarankan pada pegawai baik yang masih muda dan terutama yang
sudah tua harus rajin melakukan olahraga untuk memelihara kelenturan otot
sehingga dapat menghindari kejadian low back pain.

38

DAFTAR PUSTAKA
1. Medscape.
Low
Back
Pain
And
Sciantica.
Available
at:
http://emedicine.medscape.com/article/1144130-overview#showall. Updated
2013 Jan 8. Accessed on 2013 July.
2. Basuki K. Faktor Resiko Kejadian Low Back Pain Pada Operator Tambang
sebuah Perusahaan Tambang Nickel Di Sulawesi Selatan. Jurnal Promosi
Kesehatan Indonesia 2009 Agus;4(2):116-121.

39

3. Wahyu NS. Hubungan Antara Sikap Kerja Duduk Dengan Keluhan Subyektif
Nyeri Punggung Bawah pada Pekerja Pembuat Terasi. Unnes Journal of
Public Health 2013;3(2):2.
4. Septiawan H, Faktor Berhubungan Keluhan Nyeri Punggung Bawah Pada
Pekerja Bangunan. Unnes Journal of Public Health 2013;3(2):2-8.
5. Samara D, Basuki B, Jannis J. Duduk Statis Sebagtai Faktor Resiko Terjadinya
Nyeri Punggung Bawah Pada Pekerja Perempuan. Univ Med 2005
Jun;24(2):74-9.
6. H-R G. Working Hours Spent on Repeated Activities and Prevalence of Back
Pain. Occup Environ Med 2002 Oct;59(10):680-8.
7. Fathoni H, Handoyo, Swasti KG. Hubungan Sikap Dan Posisi Kerja dengan
Low Back Pain Pada Perawat Di RSUD Purbalingga. Jurnal Keperawatan
Soedirman 2009 Nov;4(3):131-39.
8. Piazza M, Di Cagno A, Cupisti A, Panicucci B, Santoro G. Prevalence of Low
back pain in former rhythmic gymnasts. J Sports Med Phys Fitness 2009
Sep;49(3):297-300.
9. Parthan A, Evans CJ, Le K. Chronic Low Back Pain: epidemiology, economic
burden and patient-reported outcomes in the USA. Expert Review of
Pharmacoeconomics & Outcomes Research 2006 Jun;6(3):359-69.
10. Samara D, Sulistio J, Harrianto R. Sikap Membungkuk Dan Memutar Selama
bekerja Sebagai Faktor Resiko Nyeri Punggung Bawah. Univ Med 2005
Sep;24(3):130-35.
11. Purnawasari H, Gunarso U, Rujito L. Overweight sebagai Faktor Resiko Low
Back Pain Pada Pasien Poli Saraf RSUD Prof. Margono Soekarjo Purwokerto.
Mandala of Health 2010;4(1):26-32.
12. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi. In: Hartwig MS, Wilson LM editors.
Nyeri. 6th ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003.p.1063-103.
13. Widodo WS, Wahyuni. Korelasi Antara Kegemukan Dengan Peningkatan
Kurva Lumbal Bidang Sagital. Jurnal Kesehatan 2008 Des;1(2):155-164.
14. Murtezani A, Ibraimi Z, Sllamniku S, Osmani T, Sherifi S. Prevalence And
Risk Factors For Low Back Pain In Industrial Workers. Folia Med 2011
Jul;53(3):68-74.
15. Susanto N, Wahyuni ISKM, Jayanti S. Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Keluhan Nyeri Pinggang Pada Buruh Gendong di Pasar Bandungan
Kabupaten Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat 2013 Apr;2(2).
16. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi A, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. In: Kasjmir YI, editors. Nyeri Spinal. 5th ed. Jakarta: Pusat
Penerbit Ilmu Penyakit dalam 2009. P. 2720-1.
17. Isnain M. Hubungan Antara Tinggi Hak Sepatu dan Indeks Massa Tubuh
(IMT) dengan Keluhan Nyeri Pinggang Bawah pada Sales Promotion Girl
(SPG) Ramayana Salatiga. Jurnal Kesehatan Masyaratkat 2013;2(3).
18. Manek, Nisha, Gregor M. Epydemiology of Back Disorder : Prevalence, Risk
Factors and Prognosis. Curr Opin Rheu 2005; 17(2): 134-40.
19. Rahayu WA. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Nyeri
Muskuloskeletal Pada Pekerja Angkat-Angkut Industri Pemecahan Batu di

40

Kecamatan Karangnongko Kabupaten Klaten. Jurnal Kesehatan Masyarakat


2012 Apr;1(2):836-44.
20. Universitas Sumatera Utara. Gambaran Umum Obesitas pada Penderita Nyeri
Punggung Bawah (NPB) di Poliklinik Saraf RSUP. H. Adam Malik. Available
at: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25619/5/Chapter%20I.pdf.
Accessed on 2013 July
21. Mummery KW, Schofield GM, Steele R, Eakin EG, Brown WJ. Occupational
Sitting Time and Overweight and Obesity in Australian Workers. AJPM
2005;29(1):91-7.
22. Shaw WS, Linton SJ, Pransky G. Reducing Sickness Absence from Work due
to Low Back Pain: How Well do Intervention Strategies Match Modifiable
Risk Factors?. J Occup Rehabil 2006 Des;16(4):591-605.
23. Ehrlich GE, Low back pain. Bulletin of The World Health organization
2003;81(9):671-76.
24. Tana L, Xaverius F, Halim S. Determinan Nyeri Pinggang Pada Tenaga Para
Medis di Beberapa Rumah Sakit di Jakarta. J Indon Med Assoc 2011
Apr;61(4):155-160
25. Lumoindong A, Umboh A, Musloman N. Hubungan Obesitas Dengan Profil
Tekanan Darah Pada Anak umur 10-12 Tahun di kota Manado. JurnalBiomedik 2013;1(1):147-53.
26. Retnaningsih E, Okatariza R. Pengaruh Aktifitas Fisik Terhadap Kejadian
Obesitas Pada Murid. Jurnal Pembangunan Manusia 2011;5(2).
27. Novianingsih E, Kartini A. Hubunga Antara Beberapa Indikator Status Gizi
Dengan Tekanan Darah Pada Remaja. J Nutr Coll 2012;1(1):169-75.
28. World Health Organization, 2010. Obesity and Overweight. Didapat dari:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs311/en/index.html. Accessed on
April 7, 2010.
29. Klein S, Allison D B, Heymsfield S B, Kelley D E, Leibel R L, Nonas S, Kahn
R. Waist circumference and cardiometabolic risk: a consensus statement from
Shaping Americas Health: Association for Weight Management and Obesity
Prevention; NAASO, The Obesity Society; the American Society for
Nutrition; and the American Diabetes Association 1 4. Am J Clin Nutr
2007;85:1197-202.
30. Soetiarto F, Roselinda, Suhardi. Hubungan Diabetes Melitus Dengan Obesitas
Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Dan Lingkar Pinggang Data Riskesdas
2007. Bul. Penelitian kesehatan 2010;38(1):36-42.
31. Cuesta-Vargas A, Gonzlez-Snchez M. Obesity effect on a multimodal
physiotherapy program for low back pain suffers: patient reported outcome. J
Occup Med Toxicol 2013;8(1).
32. Centre for Obesity Research and Education, 2007. Body Mass Index: BMI
Calculator. Didapat dari: http://www.core.monash.org/bmi.html. Accessed on
July 7, 2010.

41

Lampiran 1
Penjadwalan penelitian
Aktivitas penelitian ini secara keseluruhan dilaksanakan selama tujuh
bulan, sejak bulan Juli 2013 sampai dengan bulan Januari 2014.

42

No.

Tahapan

Waktu pelaksanaan

kegiatan
Jun
1

Persiapan

Observasi

Kuisioner

Pengolahan

Jul

Agus

Sept

Okt

Nov

Des

Jan

data

Konsultasi

Lampiran 2
FORMULIR PERSETUJUAN
Semua penjelasan di atas telah disampaikan kepada saya dan telah saya
pahami. Dengan menandatangani formulir ini saya SETUJU untuk ikut dalam
penelitian ini.

43

Nama peserta penelitian :


Tanda tangan :

Tanggal :

Lampiran 3
INFORMED CONSENT
Kepada Yth,
Bapak/ibu/saudara responden
Di Rumbai
Penelitian mengenai IMT(Indeks Massa Tubuh) dengan kejadian low back
pain pada pegawai PT.Chevron Pacific Indoensia di Rumbai, Pekanbaru. Hal ini

44

dapat memberikan pengetahuan mengenai apakah terdapat hubungan antara IMT


dengan kejadian low back pain.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan petunjuk kepada para
pegawai untuk melakukan tindakan pencegahan terhadap kejadian low back pain.
Oleh karena itu, kami mengharapkan bapak/ibu/saudara untuk ikut serta
dalam penelitian ini. Bila bersedia dan memenuhi persyaratan maka akan
dilakukan pemberian kuesioner dan pengukuran indeks massa tubuh dengan
pengukuran tinggi badan dan berat badan. Hasil pemeriksaan ini akan
diinformasikan kepada bapak/ibu/saudara dan semua hasil pemeriksaan akan
dirahasiakan.
Bila ada pertanyaan, bapak/ibu/saudara dapat menghubungi peneliti di
nomor telepon 085278382228.
Bapak/ ibu/saudara bebas untuk menolak ikut dalam penelitian ini. Bila
bapak/ibu/saudara bersedia ikut dalam penelitian ini kami mohon untuk
menandatangani formulir persetujuan dibawah ini.
Rumbai, ..... ........ 20.....

Responden

Peneliti

Lampiran 4
KUESIONER
Hubungan Antara IMT Dengan Kejadian Low Back Pain Pada Pegawai PT
X di Pekanbaru
Data Karakteristik Responden
Nama :
Jenis Kelamin :

45

Umur :
Pekerjaan :
PERTANYAAN
Data Pekerjaan
Lama duduk statis dalam jam kerja
per hari

0. 5-90 menit (1,5 jam)


1. 91-300 menit (1,5-5 jam)

Jawablah setiap bagian dengan melingkari SATU PILIHAN YANG PALING


ERAT menggambarkan masalah ANDA SEKARANG .
BAGIAN 1 - Intensitas Nyeri
A. Rasa sakit hilang timbul dan sangat ringan
B. Rasa sakit ringan
C. Rasa sakit hilang timbul dan terasa moderat(sedang)
D. Rasa sakit adalah moderat
E. Rasa sakit hilang timbul dan lebih parah
F. Rasa sakit lebih parah dan lebih sering
BAGIAN 2 - Personal Care
A. Saya tidak akan mengubah cara saya mencuci atau berpakaian dalam rangka
untuk menghindari rasa nyeri pada daerah punggung bawah
B. Saya biasanya tidak mengubah cara saya mencuci atau bahkan berpakaian
meskipun menyebabkan rasa nyeri pada daerah punggung bawah
C. Mencuci dan bepakaian meningkatkan rasa nyeri pada daerah punggung
bawah, tapi saya berhasil untuk tidak mengubah cara saya melakukannya
D. Mencuci dan berpakaian meningkat rasa nyeri pada daerah punggung bawah
dan saya merasa perlu untuk mengubah cara saya melakukannya
E. Karena rasa nyeri pada daerah punggung bawah, saya tidak dapat melakukan
beberapa hal seperti mencuci dan berpakaian tanpa bantuan
F. Karena rasa nyeri pada daerah punggung bawah, saya tidak dapat melakukan
beberapa hal seperti mencuci atau berpakaian tanpa bantuan
BAGIAN 3 Mengangkat beban
A. Saya bisa mengangkat beban berat tanpa rasa nyeri tambahan pada daerah
punggung bawah
B. Saya bisa mengangkat beban berat, tetapi itu menyebabkan rasa nyeri
tambahan pada daerah punggung bawah
C. Nyeri membuat saya kesulitan unutk mengangkat beban berat dari lantai
D. Nyeri membuat saya kesulitan untuk mengangkat beban berat dari lantai
tapi saya bisa membuat nyaman kembali jika diposisikan , misalnya
diletakkan di atas meja
E. Nyeri membuat saya kesulitan mengangkat beban berat , tapi saya bisa
mengatur untuk menjadi bobot menengah jika nyaman diposisikan

46

F. Saya hanya bisa mengangkat beban sangat ringan , untuk jumlah paling
banyak
BAGIAN 4 - Berjalan
A. Nyeri pada daerah punggung bawah tidak mencegah saya berjalan kaki
B. Nyeri pada daerah punggung bawah mencegah saya berjalan lebih dari satu
mil
C. Nyeri pada daerah punggung bawah mencegah saya berjalan lebih dari
mil
D. Nyeri pada daerah punggung bawah mencegah saya berjalan lebih dari
mil
E. Saya hanya bisa berjalan ketika menggunakan tongkat atau kruk
F. Sebagian besar wakru saya habiskan di tempat tidur dan harus merangkak ke
toilet
BAGIAN 5 - Duduk
A. Saya bisa duduk di kursi manapun selama saya inginkan tanpa rasa nyeri
pada daerah punggung bawah
B. Saya hanya bisa duduk di kursi favorit saya selama saya suka
C. Nyeri pada daerah punggung bawah mencegah saya duduk lebih dari satu
jam
D. Nyeri pada daerah punggung bawah mencegah saya duduk lebih dari jam
E. Nyeri pada daerah punggung bawah mencegah saya duduk lebih dari
sepuluh menit
F. Nyeri pada daerah punggung bawah mencegah saya duduk
BAGIAN 6 - Berdiri
A. Saya bisa berdiri selama saya inginkan tanpa rasa nyeri pada daerah
punggung bawah
B. Saya memiliki beberapa nyeri saat berdiri , tetapi tidak meningkat(berkaitan)
dengan berjalannya waktu
C. Saya tidak bisa berdiri selama lebih dari satu jam, yang dapat meningkatkan
rasa nyeri pada daerah punggung bawah
D. Saya tidak bisa berdiri selama lebih dari jam, yang dapat meningkatkan
rasa nyeri pada daerah punggung bawah
E. Saya tidak bisa berdiri selama lebih dari sepuluh menit yang dapat
meningkatkan rasa nyeri pada daerah punggung bawah
F. Saya menghindari berdiri , karena meningkatkan rasa nyeri pada daerah
punggung bawah secara langsung
BAGIAN 7 - Tidur
A. Saya tidak merasa nyeri pada daerah punggung bawah saat berada di tempat
tidur
B. Saya mendapatkan rasa nyeri pada daerah punggung bawah di tempat tidur ,
tapi itu tidak mencegah saya unutk tidur nyenyak
C. Karena nyeri pada daerah punggung bawah i, tidur malam saya berkurang
seperempat dari normal
D. Karena nyeri pada daerah punggung bawah, tidur malam saya berkurang
kurang satu setengah dari normal

47

E. Karena nyeri pada daerah punggung bawah, tidur malam saya berkurang
kurang tiga perempat dari normal
F. Nyeri pada daerah punggung bawah mebuat saya tidak bisa tidur
BAGIAN 8 - Kehidupan Sosial
A. Kehidupan sosial saya normal dan tidak ada rasa sakit atau nyeri pada
daerah punggung bawah.
B. Kehidupan sosial saya normal, tetapi derajat nyerinya tetap meningkat
C. Nyeri pada daerah punggung bawah tidak berpengaruh signifikan terhadap
kehidupan sosial saya dan tidak membatasi kegiatan saya yang memerlukan
energi lebih banyak, seperti menari , berolahraga dll
D. Nyeri pada daerah punggung bawah telah membatasi kehidupan sosial saya
sehingga saya jarang pergi keluar rumah
E. Nyeri pada daerah punggung bawah telah membatasi kehidupan sosial saya
dalam lingkungan rumah
F. Saya hampir tidak memiliki kehidupan sosial karena nyeri pada daerah
punggung bawah yang saya rasakan
BAGIAN 9 - Traveling
A. Saya tidak merasakan nyeri saat bepergian .
B. Saya mendapatkan beberapa rasa nyeri pada daerah punggung bawah saat
bepergian , namun tidak pernah satupun perjalanan itu yang memperburuk
rasa nyeri
C. Saya mendapatkan nyeri yang berlebihan saat bepergian , tapi tidak memaksa
saya untuk mencari bentuk-bentuk alternatif perjalanan
D. Saya mendapatkan nyeri yang berlebihan saat bepergian yang memaksa saya
untuk mencari alternative bentuk perjalanan
E. Nyeri pada punggung bawah membatasi segala bentuk perjalanan saya
F. Nyeri pada daerah punggung bawah mencegah segala bentuk perjalanan saya
kecuali dilakukan berbaring
BAGIAN 10 - Derajat nyeri
A. Nyeri yang saya rasakan pada daerah punggung bawah semakin membaik
B. Saya merasakan nyeri pada daerah punggung bawah , tapi secara
keseluruhan nyeri itu pasti akan semakin baik
C. Nyeri pada daerah punggung bawah saya tampaknya akan lebih baik, tapi
membutuhkan perawatan yang lebih lama
D. Nyeri pada daerah punggung bawah saya tidak semakin baik atau makin
memburuk
E. Nyeri pada daerah punggung bawah saya secara bertahap memburuk
F. Nyeri pada daerah punggung bawah saya dengan cepat memburuk
INTERPRESTASI SKOR LOW BACK PAIN :
Skor:
Untuk masing masing bagian total skor adalah 5, dengan skor 0 untuk jawaban
pertama dan skor 5 untuk jawaban terakhir. Jumlah semua skor dibagi dengan

48

kemungkinan nilai total dari skor (50) dan dikali dengan seratus untuk mengetahui
persentase skor.
Total skor/50 (kemungkinan skor total) 100 = %
Score

Disability Level

0% - 40%

Minimal - Moderate disability

41% - 100%

Severe disability

Lampiran 5
Surat Pengantar izin penelitian

49

Lampiran 6
Surat Komisi Etik Riset

50

Lampiran 7
Surat Penyelesaian Penelitian

51

Lampiran 8
Hasil SPSS
52

Frequencies
Statistics
Lama duduk
Jenis Kelamin
N

Valid

(menit)

IMT (kg/mm2) LBP (%)

Usia

180

180

180

180

180

Missing
Mean

1.5111

Median

2.0000

Variance

.251

Minimum

1.00

Maximum

2.00

Frequency Table
Jenis Kelamin
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

PR

77

42.8

42.8

42.8

LK

103

57.2

57.2

100.0

Total

180

100.0

100.0

Usia
Cumulative
Frequency Percent
Valid

Valid Percent

Percent

25-34 tahun

88

48.9

48.9

48.9

35-55 tahun

92

51.1

51.1

100.0

180

100.0

100.0

Total

53

Statistics
Usia (tahun)
N

Valid

180

Missing

Mean

36.98

Median

35.00

Std. Deviation

10.568

Minimum

25

Maximum

60
Lama duduk (menit)
Cumulative
Frequency

Valid

5-90 menit
91-300

Percent

Valid Percent

Percent

52

28.9

28.9

28.9

128

71.1

71.1

100.0

180

100.0

100.0

menit
Total

IMT (kg/mm2)
Cumulative
Frequency Percent
Valid

Underweight

Valid Percent

Percent

75

41.7

41.7

41.7

105

58.3

58.3

100.0

180

100.0

100.0

Normal
Overweight
Obesitas
Total

54

LBP (%)
Cumulative
Frequency
Valid

Minimal -

Percent

Valid Percent

Percent

119

66.1

66.1

66.1

61

33.9

33.9

100.0

180

100.0

100.0

Moderate
Disability
Severe
Disabiliity
Total
Crosstabs
Case Processing Summary
Cases
Valid
N
Jenis Kelamin * LBP (%)

Missing
Percent

180

100.0%

Total

Percent
0

.0%

Percent
180

100.0%

55

Jenis Kelamin * LBP (%) Crosstabulation


LBP (%)
Severe
Minimal - Moderate Disability
Jenis Kelamin

PR

Count

49

28

77

50.9

26.1

77.0

41.2%

45.9%

42.8%

70

33

103

68.1

34.9

103.0

58.8%

54.1%

57.2%

119

61

180

119.0

61.0

180.0

100.0%

100.0%

100.0%

Expected Count
% within LBP (%)
LK

Count
Expected Count
% within LBP (%)

Total

Count
Expected Count
% within LBP (%)

Total

Disabiliity

Chi-Square Tests

Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

df

.368a

.544

.200

.655

.367

.545

Fisher's Exact Test


N of Valid Cases

.633

.327

180

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 26.09.
b. Computed only for a 2x2 table

Case Processing Summary


Cases
Valid
N
golongan usia * LBP (%)

Missing
Percent

180

100.0%

Total

Percent
0

.0%

Percent
180

100.0%

56

golongan usia * LBP (%) Crosstabulation


LBP (%)
Minimal -

golongan usia

25-34
tahun

Count
Expected Count
% within LBP (%)

35-55
tahun

Count
Expected Count
% within LBP (%)

Total

Count
Expected Count
% within LBP (%)

Moderate

Severe

Disability

Disabiliity

Total

62

26

88

58.2

29.8

88.0

52.1%

42.6%

48.9%

57

35

92

60.8

31.2

92.0

47.9%

57.4%

51.1%

119

61

180

119.0

61.0

180.0

100.0%

100.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction

df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

1.450a

.229

1.095

.295

1.454

.228

Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
N of Valid Cases

.271

.148

180

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 29.82.
b. Computed only for a 2x2 table

57

Case Processing Summary


Cases
Valid
N
Lama duduk (menit) * LBP

Missing
Percent

180

100.0%

Total

Percent
0

.0%

Percent
180

100.0%

(%)
Lama duduk (menit) * LBP (%) Crosstabulation
LBP (%)
Total

Minimal - Moderate Disability Severe Disabiliity


Lama duduk (menit)

5-90
menit

Count

52

52

Expected Count

34.4

17.6

52.0

% within LBP (%)

.0%

85.2%

28.9%

119

128

84.6

43.4

128.0

100.0%

14.8%

71.1%

119

61

180

119.0

61.0

180.0

91-300 Count
menit

Expected Count
% within LBP (%)

Total

Count
Expected Count
% within LBP (%)

100.0%

100.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value

df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

Pearson Chi-Square

142.654a

.000

Continuity Correctionb

138.534

.000

Likelihood Ratio

165.368

.000

Fisher's Exact Test


N of Valid Cases

.000

.000

180

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 17.62.
b. Computed only for a 2x2 table

58

Case Processing Summary


Cases
Valid
N
IMT (kg/mm2) * LBP (%)

Missing
Percent

180

Total

Percent

100.0%

Percent

.0%

180

100.0%

IMT (kg/mm2) * LBP (%) Crosstabulation


LBP (%)
Minimal -

IMT (kg/mm2)

Moderate

Severe

Disability

Disabiliity

Underweight Count
Normal

Expected Count
% within LBP (%)

75

75

49.6

25.4

75.0

63.0%

.0%

41.7%

44

61

105

69.4

35.6

105.0

37.0%

100.0%

58.3%

119

61

180

119.0

61.0

180.0

100.0%

100.0%

100.0%

Overweight Count
Obesitas

Expected Count
% within LBP (%)

Total

Count
Expected Count
% within LBP (%)

Total

Chi-Square Tests

Value

df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

Pearson Chi-Square

65.906a

.000

Continuity Correctionb

63.339

.000

Likelihood Ratio

87.710

.000

Fisher's Exact Test


N of Valid Cases

.000

.000

180

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 25.42.
b. Computed only for a 2x2 table

59

60