Anda di halaman 1dari 15

ENERGI POTENSIAL

Energi potensial adalah energi yang dimiliki suatu benda akibat adanya
pengaruh tempat atau kedudukan dari benda tersebut. Energi potensial
disebut juga dengan energi diam karena benda yang dalam keaadaan
diam dapat memiliki energi. Jika benda tersebut bergerak, maka benda itu
mengalami perubahan energi potensial menjadi energi gerak. Contoh
misalnya seperti buah kelapa yang siap jatuh dari pohonnya, cicak di
plafon rumah, dan lain sebagainya. Rumus atau persamaan energi
potential :
Ep=m . g . h
m
g
h

keterangan

Ep

= massa dari benda


= percepatan gravitasi
= tinggi benda dari tanah

PENGERTIAN GAYA

= energi potensial

Gaya adalah tarikan atau dorongan yang terjadi terhadap suatu benda. Gaya dapat
menimbulkan perubahan posisi, gerak atau perubahan bentuk pada benda. Gaya termasuk ke
dalam besaran Vektor, karena memiliki nilai dan arah. Sebuah Gaya disimbolkan dengan
huruf F (Force) dan Satuan Gaya dalam SI (Satuan Internasional) adalah Newton, disingkat
dengan N. Pengukuran gaya dapat dilakukan dengan alat yang disebut dinamometer atau
neraca pegas. Untuk melakukan sebuah gaya diperlukan usaha (Tenaga), semakin besar gaya
yang hendak dilakukan, maka semakin besar pula Usaha (tenaga) yang harus dikeluarkan.

SIFAT SIFAT GAYA


Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa gaya memiliki beberapa sifat
berikut :

Gaya dapat mengubah arah gerak benda

Gaya dapat mengubah bentuk benda

Gaya dapat mengubah posisi benda dengan cara menggerakkan atau memindahkannya

RUMUS DAN SATUAN GAYA


Gaya dirumuskan dengan tiga rumusan dasar yang menjelaskan kaitan gaya dengan gerak
benda. Tiga Rumusan dasar ini adalah HUKUM NEWTON 1, 2, dan 3.
a. Hukum Newton 1
Jika Resultan (Penjumlahan atau pengurangan gaya) yang bekerja pada benda sama dengan
nol, maka benda yang semula diam akan tetap diam, dan benda yang bergerak lurus beraturan
akan tetap bergerak lurus beraturan.
Jadi Rumus Hukum Newton 1 adalah :
F=0
Keterangan :
F = resultan gaya (Kg m/s2)

b. Hukum Newton 2

Percepatan (Perubahan dari kecepatan) gerak benda selalu berbanding lurus dengan resultan
gaya yang bekerja pada suatu benda dan selalu berbanding terbalik dengan massa benda.
Jadi Rumus Hukum Newton 2 adalah :
F=m. a
Keterangan :
F

= resultan gaya (Kg m/s2)

= Massa Benda (Kg)

= percepatan (m/s2)

c. Hukum Newton 3
Setiap Aksi akan menimbulkan reaksi, artinya Jika Suatu benda mengerjakan gaya terhadap
benda kedua maka, benda kedua akan membalas gaya dari benda pertama dengan arah yang
berlawanan.
Jadi Rumus Hukum Newton 3 adalah :
FAKSI =FREAKSI

ENERGI POTENSIAL GRAVITASI

Energi potensial gravitasi adalah energi yang dimiliki oleh benda karena kedudukan
ketinggiannya dari benda lain. Apabila percepatan gravitasi bumi g, maka gaya yang
diperlukan untuk mengangkat benda adalah F = w = mg. Jadi, usaha yang diperlukan untuk
mengangkat benda setinggi h adalah:
W =F . h
W =m. g .h

Dengan demikian, benda yang berada pada ketinggian h mempunyai potensi untuk
melakukan usaha sebesar W = m.g.h. Dikatakan benda tersebut mempunyai energi potensial
gravitasi, yang besarnya:
Ep=m . g . h
Keterangan :
Ep
= energi potensial gravitasi ( J)
m
= massa benda (kg)
g
= percepatan gravitasi (m/s2)
h
= ketinggian benda (m)
Besar usaha ini ternyata sama dengan perubahan energi potensialnya. E PA = m g h dan E PB =
0. Berarti berlaku konsep pada benda yang bergerak dan berubah ketinggiannya akan
melakukan usaha sebesar perubahan energi potensialnya.
W = Ep

Tiga hal yang harus diketahui dalam energi potensial gravitasi yaitu:
1. Jika benda berpindah sejauh h vertikal ke atas, maka besarnya usaha gaya gravitasi adalah W
= - (m g h).
2. Jika benda berpindah sejauh h vertikal ke bawah, maka besarnya usaha gaya gravitasi adalah
W = m g h.
3. Jika benda berpindah sejauh h mendatar, maka besarnya usaha gravitasi adalah W = 0.

ENERGI POTENSIAL ELASTIS


Energi potensial elastis adalah energi potensial dari sebuah benda elastis (contohnya adalah
busur panah) yang mengalami perubahan bentuk karena adanya tekanan atau kompresi.
Akibatnya adalah akan ditimbulkannya gaya yang akan berusaha untuk mengembalikan
bentuk benda tersebut ke bentuk awalnya. Jika tekanan/renggangan ini dilepas, maka energi
ini akan berpindah menjadi energi kinetik.
Berkenaan dengan sifat elastis pada pegas, gaya pemulih pada pegas akan berbanding lurus
dengan pertambahan panjangnya. Pegas yang berada dalam keadaan tertekan atau teregang
dikatakan memiliki energi potensial elastis karena pegas tidak berada dalam keadaan posisi
setimbang.
Perhatikanlah gambar di bawah. Gambar tersebut menunjukkan kurva hubungan antara gaya
dan pertambahan panjang pegas yang memenuhi Hukum Hooke. Jika pada saat pegas di tarik
dengan gaya sebesar F1, pegas itu bertambah panjang sebesar x1. Demikian pula, jika pegas
ditarik dengan gaya sebesar F2, pegas akan bertambah panjang sebesar x2. Begitu
seterusnya.

Dengan demikian, usaha total yang diberikan untuk meregangkan pegas adalah
W =F 1 x 1+ F 2 x 2+

Besarnya usaha total ini sama dengan luas segitiga di bawah kurva F terhadap x sehingga
dapat dituliskan
W = F x
W =(k x x)

W = k x 2
Oleh karena usaha yang diberikan pada pegas ini akan tersimpan sebagai energi potensial,
dapat dituliskan persamaan energi potensial pegas adalah sebagai berikut.
EP= k x

contoh:
Sebuah pegas diberi beban 2 kg dan digantung vertikal pada sebuah statif. Jika pegas
bertambah panjang 4 cm maka perubahan energi potensial elastis pegas tersebut adalah
g = 10 m/s2
Jawab!
Diketahui :
Massa beban (m)
Percepatan gravitasi (g)
Berat beban (w)
Pertambahan panjang pegas (x)

= 2 kg
= 10 m/s2
= m . g = (2)(10) = 20 Newton
= 4 cm = 0,04 meter

Pembahasan:
Rumus hukum Hooke adalah F = k . x, di mana F = gaya, k = konstanta pegas dan x =
pertambahan panjang pegas. Jika disesuaikan dengan soal ini maka rumus hukum Hooke
diubah menjadi w = k . x, di mana w = gaya berat. Untuk menghitung konstanta pegas adalah
k = w / x = 20 / 0,04 = 500 Newton/meter.
Perubahan energi potensial elastis pegas adalah :
EP= k x 2
(500)(0,04)

(250)(0,0016)=0,4 Joule
Perubahan energi potensial elastis pegas juga dapat dihitung menggunakan sebuah rumus
tunggal :
EP= k x 2=( w/ x )x

w. x
m. g . x

Keterangan :
w
= gaya berat beban,
m
= massa beban,
x
= perubahan panjang pegas.
EP = (2)(10)(0,04) = (10)(0,04) = 0,4 Joule.

GAYA KONSERVATIF
Apabila usaha yang dilakukan oleh sebuah gaya ketika benda mulai bergerak dari posisi awal
hingga benda kembali lagi ke posisi awal sama dengan nol maka gaya tersebut disebut
sebagai gaya konservatif. Berikut ini contoh beberapa gaya konservatif.
1. Gaya berat
sebuah benda yang bergerak vertikal ke atas hingga mencapai ketinggian maksimum lalu
bergerak ke bawah menuju posisi semula. Ketika bergerak vertikal ke atas sejauh h, gaya
berat berlawanan arah dengan perpindahan benda. Karena berlawanan arah dengan
perpindahan benda maka gaya berat melakukan usaha negatif pada benda.
W =w . h .cos ( 180o ) = w . h= m . g . h
Setelah mencapai ketinggian maksimum, benda
bergerak ke bawah menuju posisi semula sejauh h.
Ketika bergerak ke bawah, gaya berat searah dengan
perpindahan benda. Karena searah dengan perpindahan
maka gaya berat melakukan usaha positif.
W =w . h .cos ( 0o ) = w h= m. g . h
Massa benda (m), percepatan gravitasi (g) dan ketinggian (h) sama karenanya usaha yang
dilakukan oleh gaya berat ketika benda mulai bergerak vertikal ke atas hingga kembali ke
posisinya semula sama dengan nol.
W =m g h m g h

W=0

2. Gaya pegas
Jika ujung kanan pegas didorong atau ditekan ke kirioleh sebuah benda maka pegas juga
memberikan gaya dorong ke kanan. Karena berlawanan arah maka gaya pegas melakukan
usaha negatif.
W = k x 2
Ketika benda bergerak ke kanan, arah gerakan atau perpindahan benda sama dengan arah
gaya pegas. Karena searah maka gaya pegas melakukan usaha positif.
W = k x 2

GAYA NON KONSERVATIV


Apabila usaha yang dilakukan oleh sebuah gaya ketika benda mulai bergerak dari posisi awal
hingga kembali lagi ke posisi semula tidak sama dengan nol maka gaya tersebut dijuluki gaya
tak konservatif. Berikut ini beberapa contoh gaya non konservatif.

1. Gaya dorong dan gaya gesek kinetis


sebuah benda yang didorong ke kanan lalu didorong lagi ke kiri.
Ketika bergerak atau berpindah ke kanan, arah perpindahan benda
sama dengan arah gaya dorong (F) dan berlawanan arah dengan gaya
gesek kinetis (fk). Karena searah dengan perpindahan maka gaya
dorong melakukan usaha positif pada benda.
W =F . s

Sebaliknya gaya gesek kinetis melakukan usaha negatif pada benda.


W = f k . s

PENGERTIAN TERMODINAMIKA
Termodinamika adalah cabang dari ilmu fisika yang mempelajari tentang proses perpindahan
energi sebagai kalor dan usaha antara sistem dan lingkungan. Kalor diartikan sebagai

perpindahan energi yang disebabkan oleh perbedaan suhu, sedangkan usaha merupakan
perubahan energi melalui cara-cara mekanis yang tidak disebabkan oleh perubahan suhu.
Proses perpindahan energi pada termodinamika berdasarkan atas dua hukum, yaitu Hukum 1
Termodinamika yang merupakan persyaratan hukum kekekalan energi, dan Hukum 2
Termodinamika yang memberikan batasan tentang arah perpindahan kalor yang dapat terjadi.
Dalam pembahasan kita kali ini, kita akan mengacu pada sistem tertentu, yaitu Sistem
Terbuka dan Sitem Tertutup. Sistem terbuka adalah sistem dimana antara sistem dan
lingkungan memungkinkan terjadinya pertukaran materi dan energi. Apabila hanya terjadi
pertukaran energi tanpa pertukaran materi, sistem disebut Sistem tertutup. Adapun sistem
terisolasi adalah jika antara sistem dan lingkungan tidak terjadi pertukaran materi dan energi.

Usaha Sistem pada Lingkungan, yaitu Usaha yang dilakukan sistem pada lingkungannya
merupakan ukuran energi yang dipindahkan dari sistem ke lingkungan.
Usaha pada Beberapa Proses Termodinamika, yaitu dalam termidinamika terdapat
berbagai proses perubahan keadaan sistem, yaitu proses isotermal, isobarik, isokhorik,
dan adiabatik.

HUKUM PERTAMA TERMODINAMIKA


Pada dasarnya merupakan hukum konservasi energi, yaitu:
Energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan; energi hanya dapat diubah dari
satubentuk menjadi bentuk yang lain.
Pengertian yang lebih hakiki tentang hukum pertama termodinamika menyatakan bahwa jika
satu sistem mengalami serangkaian perubahan yang tidak terbatas kembali kekeadaan
semula, maka total perubahan energi adalah nol.

Hal ini menerangkan pada kita bahwa energi merupakan fungsi keadaan. persamaannya dapat
dinyatakan sebagai berikut:
E=q +w
Keterangan :
E
= perubahan energi internal.
q
= panas (kalor)
w
= kerja (usaha)
Jika sistem menyerap panas, maka energi sistem bertambah (q > 0)
Jika sistem melepas panas, maka energi sistem berkurang (q < 0)
Jika sistem melakukan kerja, maka energi sistem berkurang (w < 0 > 0)
Jika E akhir awal sama, maka DE = 0

SISTEM TERMODINAMIKA

Dalam termodinamika dikenal istilah sistem dan lingkungan. Sistem adalah benda atau
sekumpulan apa saja yang akan diteliti atau diamati dan menjadi pusat perhatian. Sedangkan
lingkungan adalah benda-benda yang berada diluar dari sistem tersebut. Sistem bersama
dengan lingkungannya disebut dengan semesta atau universal. Batas adalah perantara dari
sistem dan lingkungan. Contohnya adalah pada saat mengamati sebuah bejana yang berisi
gas, yang dimaksud dengan sistem dari peninjauan itu adalah gas tersebut sedangkan
lingkungannya adalah bejana itu sendiri.

JENIS_JENIS SISTEM TERMODINAMIKA


Klasifikasi sistem termodinamika berdasarkan sifat dari batasan dan arus benda, energi dan
materi yang melaluinya. Ada tiga jenis sistem berdasarkan jenis pertukaran yang terjadi
antara sistem dan lingkungannya, yaitu :
1. Sistem terbuka
Sistem yang mengakibatkan terjadinya pertukaran energi (panas dan kerja) dan benda
(materi) dengan lingkungannya. Sistem terbuka ini meliputi peralatan yang melibatkan
adanya aliran massa kedalam atau keluar sistem seperti pada kompresor, turbin, nozel dan
motor bakar. Sistem mesin motor bakar adalah ruang didalam silinder mesin, dimana
campuran bahan bahan bakar dan udara masuk kedalam silinder, dan gas buang keluar sistem.
Pada sistem terbuka ini, baik massa maupun energi dapat melintasi batas sistem yang bersifat

permeabel. Dengan demikian, pada sistem ini volume dari sistem tidak berubah sehingga
disebut juga dengan control volume. Perjanjian yang kita gunakan untuk menganalisis sistem
adalah

Untuk panas (Q) bernilai positif bila diberikan kepada sistem dan bernilai negatif bila
keluar dari sistem
Untuk usaha (W) bernilai positif apabila keluar dari sistem dan bernilai negatif bila
diberikan (masuk) kedalam sistem.
2. Sistem tertutup
Sistem yang mengakibatkan terjadinya pertukaran energi (panas dan kerja) tetapi tidak terjadi
pertukaran zat dengan lingkungan. Sistem tertutup terdiri atas suatu jumlah massa yang
tertentu dimana massa ini tidak dapat melintasi lapis batas sistem. Tetapi, energi baik dalam
bentuk panas (heat) maupun usaha (work) dapat melintasi lapis batas sistem tersebut. Dalam
sistem tertutup, meskipun massa tidak dapat berubah selama proses berlangsung, namun
volume dapat saja berubah disebabkan adanya lapis batas yang dapat bergerak (moving
boundary) pada salah satu bagian dari lapis batas sistem tersebut. Contoh sistem tertutup
adalah suatu balon udara yang dipanaskan, dimana massa udara didalam balon tetap, tetapi
volumenya berubah dan energi panas masuk kedalam masa udara didalam balon.
Sebagaimana gambar sistem tertutup dibawah ini, apabila panas diberikan kepada sistem
(Qin), maka akan terjadi pengembangan pada zat yang berada didalam sistem.
Pengembangan ini akan menyebabkan piston akan terdorong ke atas (terjadi Wout). Karena
sistem ini tidak mengizinkan adanya keluar masuk massa kedalam sistem (massa selalu
konstan) maka sistem ini disebut control mass.
Suatu sistem dapat mengalami pertukaran panas atau kerja atau keduanya, biasanya
dipertimbangkan sebagai sifat pembatasnya:

Pembatas adiabatik: tidak memperbolehkan pertukaran panas.


Pembatas rigid: tidak memperbolehkan pertukaran kerja.

Dikenal juga istilah dinding, ada dua jenis dinding yaitu dinding adiabatik dan dinding
diatermik. Dinding adiabatik adalah dinding yang mengakibatkan kedua zat mencapai suhu
yang sama dalam waktu yang lama (lambat). Untuk dinding adiabatik sempurna tidak
memungkinkan terjadinya pertukaran kalor antara dua zat. Sedangkan dinding diatermik
adalah dinding yang memungkinkan kedua zat mencapai suhu yang sama dalam waktu yang
singkat (cepat).
3. Sistem terisolasi
Sistem yang mengakibatkan tidak terjadinya pertukaran panas, zat atau kerja dengan
lingkungannya. Contohnya : air yang disimpan dalam termos dan tabung gas yang terisolasi.
Dalam kenyataan, sebuah sistem tidak dapat terisolasi sepenuhnya dari lingkungan, karena
pasti ada terjadi sedikit pencampuran, meskipun hanya penerimaan sedikit penarikan
gravitasi. Dalam analisis sistem terisolasi, energi yang masuk ke sistem sama dengan energi
yang keluar dari sistem.
Karakteristik yang menentukan sifat dari sistem disebut property (koordinat sistem/variabel
keadaan sistem), seperti tekanan (p), temperatur (T), volume (v), masa (m), viskositas,
konduksi panas dan lain-lain. Selain itu ada juga koordinat sistem yang didefinisikan dari
koordinat sistem yang lainnya seperti, berat jenis, volume spesifik, panas jenis dan lain-lain.
Suatu sistem dapat berada pada suatu kondisi yang tidak berubah, apabila masing-masing
jenis koordinat sistem tersebut dapat diukur pada semua bagiannya dan tidak berbeda
nilainya. Kondisi tersebut disebut sebagai keadaan (state) tertentu dari sistem, dimana sistem
mempunyai nilai koordinat yang tetap. Apabila koordinatnya berubah, maka keadaan sistem
tersebut disebut mengalami perubahan keadaan. Suatu sistem yang tidak mengalami
perubahan keadaan disebut sistem dalam keadaan seimbang (equilibrium).