Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Ketergantungan terhadap sumber daya alam minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari menyebabkan semakin menipisnya cadangan minyak bumi. Berbagai macam penelitian
telah dilakukan untuk mengembangkan sumber energi alternatif dari sumber daya alam yang dapat
diperbarui dan limbah-limbah industri yang masih dapat diolah untuk menggantikan minyak bumi.
Etanol merupakan salah satu sumber energi alternatif yang mempunyai prospek yang sangat
bagus sebagai pengganti bahan bakar cair dan gasohol. Etanol dapat diproduksi dengan sintesis
kimia atau metode fermentasi. Tahun 1968 lebih dari 90% etanol diproduksi dengan metode sintesis
kimia dari etilen. Namun, kenaikan harga minyak mentah yang menjadi sumber dari etilen,
menyebabkan perhatian dunia beralih untuk memproduksi etanol dengan metode fermentasi.
Produksi etanol dengan metode fermentasi memiliki potensi menggantikan dua kebutuhan penting,
yaitu penyediaan bahan bakar dan bahan baku di industri kimia. Produksi etanol dengan metode
fermentasi dapat dilakukan dengan berbagai macam bahan baku yang mengandung gula reduksi.
Salah satu bahan baku yang digunakan untuk fermentasi memproduksi etanol adalah kulit nanas.
Nanas (Ananas comosus L. Merr) adalah salah satu jenis buah yang terdapat di Indonesia yang
pemasarannya cukup merata di daerah-daerah Indonesia. Berdasarkan hasil studi kasus di lapangan,
beberapa usaha olahan keripik nanas di Kualu Nanas, Pekanbaru, Riau memiliki kapasitas rata-rata
12-15 kg/hari, dengan jumlah buah nanas yang digunakan sebagai bahan baku sekitar 200 kg/hari.
Tahir (2008) menyatakan limbah kulit nanas yang dihasilkan dari satu buah nanas berkisar 21,73
24,48 %, sehingga limbah kulit nanas yang dihasilkan dapat mencapai 40-50 kg/hari.
Ada banyak metode yang digunakan dalam pembuatan bioethanol dari kulit nanas ini. Namun
yang paling sering digunakan yaitu dengan metode fermentasi, yaitu denngan menggunakan ragi.
Dalam proses ini juga terdapat beberapa faktor yang menjadi penentu besarnya konsentrasi ethanol
yang dihasilkan. Mulai dari metode, jenis ragi, banyaknya penambahan ragi sampai jangka waktu
melakukan fermentasi akan sangat mempengaruhi produk yang dihasilkan.
Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk menghasilkan (bio)etanol mengingat
bahan bakar nabati ini dapat memanfaatkan kondisi geografis dan sumber bahan baku minyak nabati
dari berbagai tanaman yang tersedia di Indonesia.
B. Rumusan masalah
1. Apa Definisi Buah Nanas ?
2. Apa Manfaat Limbah Kulit Nanas ?
3. Bagaimana Pembuatan Biortanol dari Kulit Nanas ?
C. Tujuan
1. Mengetahui Definisi Buah Nanas
2. Mengetahui Manfaat Limbah Kulit nanas
3. Mengetahui Pembuatan Biortanol dari Kulit Nanas

iii

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Buah Nanas


Buah nanas (Ananas comosus L. Merr) merupakan salah satu jenis buah yang terdapat di Indonesia,
mempunyai penyebaran yang merata. Selain dikonsumsi sebagai buah segar, nanas juga banyak
digunakan sebagai bahan baku industri pertanian. Dari berbagai macam pengolahana nanas seperti
selai, manisan, sirup, dan lain-lain maka akan didapatkan kulit yang cukup banyak sebagai hasil
sampingan.

Gambar 1. Nanas (Ananas Comocus L. Mer)


Klasifikasi
Divisio
: Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Sub Divisio : Angiospermae (berbiji tertutup)
Classis
: Monocotyledoneae
Ordo
: Bromeliales
Familia
: Bromeliaceae
Genus
: Ananas
Spesies
: Ananas comosus L.
Bagian utama yang bernilai ekonomi penting dari tanaman nanas adalah buahnya. Buah nanas selain
dikonsumsi segar juga diolah menjadi berbagai macam makanan dan minuman, seperti selai, buah
dalam sirop, bahan baku industri pertanian dan lain-lain. Rasa buah nanas manis sampai agak masam
segar, sehingga disukai masyarakat luas. Disamping itu, buah nanas mengandung gizi cukup tinggi dan
lengkap. Buah nanas mengandung enzim bromelain, (enzim protease yang dapat menghidrolisa
protein, protease atau peptide), sehingga dapat digunakan untuk melunakkan daging. Enzim ini sering
pula dimanfaatkan sebagai alat kontrasepsi keluarga berencana (Anonim, 2008).
Selama ini masyarakat Indonesia memanfaatkan nanas terbatas pada daging buahnya saja atau
sebatas tanaman konsumsi saja, sementara kulit dibuang tidak dimanfaatkan atau diolah lebih lanjut
karena struktur fisik kulitnya yang kasar dan keras. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa
kulit nanas mengandung 81,72 % air; 20,87 % serat kasar; 17,53 % karbohidrat; 4,41 % protein dan
13,65 % gula reduksi. Mengingat kandungan karbohidrat dan gula yang cukup tinggi tersebut maka kulit
nanas memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bahan kimia, salah satunya
etanol melalui proses fermentasi.
Tanaman nanas merupakan salah satu tanaman komoditi yang banyak ditanam di Indonesia. Prospek
agrobisnis tanaman nanas sangat cerah, cenderung semakin meningkat baik untuk kebutuhan buah
segar maupun sebagai bahan olahan. Bagian utama yang bernilai ekonomi penting dari tanaman nanas
adalah buahnya, memiliki rasa manis sampai agak asam menyegarkan, sehingga disukai oleh
masyarakat luas.
Di samping itu buah nanas mengandung gizi yang cukup tinggi dan lengkap. Permintaan nanas sebagai
bahan baku industri pengolahan buah-buahan juga semakin meningkat misal untuk sirup, keripik, dan
berbagai produk olahan nanas seperti nata (Rukmana, 1996). Untuk pemanfaatan nanas hanya
terbatas pada daging buahnya saja, sementara kulit dan bonggolnya dibuang. Padahal kulit dan
bonggol nanas tersebut masih memiliki manfaat.
Bagian utama yang bernilai ekonomis dari nanas adalah buahnya. Buah nanas selain dikonsumsi segar
juga diolah menjadi berbagai macam makanan dan minuman, seperti selai, buah dalam sirup dan lainiii

lain. Selain buahnya, bagian lain nanas dapat dimanfaatkan seperti kulit buah. Kulit buah nanas dapat
dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak yang disebut silase. Selama periode 2000 2005
produksi nanas Indonesia rata-rata sebesar 6.145.382 ton(www.agribisnis.deptan.go.id). Dengan
semakin meningkatnya produksi nanas, maka limbah yang dihasilkan akan semakin meningkat pula.
Menurut analisa komponen terbesar dalam kulit nanas adalah air (86,7%) dan karbohidrat (10,54%).
Karbohidrat terbagi menjadi tiga yaitu : monosakarida (glukosa dan fruktosa), disakarida (sukrosa,
maltosa dan laktosa) dan polisakarida (amilum, glikogen dan selulosa). Menurut Hasnely dan Dewi
(1997) kandungan gula reduksi pada filtrat kulit nanas sebesar 11,40 %. Mengingat kandungan gula
yang cukup tinggi tersebut maka kulit nanas memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku
pembuatan bioetanol melalui proses fermentasi. Nanas (Ananas comosus) bukan tanaman asli
Indonesia melainkan tanaman ini berasal dari Brazilia (Amerika Selatan).Tanaman ini diperkirakan
masuk ke Indonesia tahun 1599, dibawa oleh para pelaut Spanyol dan Portugis.
Sejarah juga menyebutkan bahwa pulau Jawa merupakan tempat yang penduduknya pertama kali
mengembangkan tanaman nanas.Selama ini masyarakat Indonesia memanfaatkan nanas terbatas
pada daging buahnya saja atau sebatas tanaman konsumsi saja, sementara kulit dibuang tidak
dimanfaatkan atau diolah lebih lanjut karena struktur fisik kulitnya yang kasar dan keras. Seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya bahwa kulit nanas mengandung 81,72 % air; 20,87 % serat kasar; 17,53 %
karbohidrat; 4,41 % protein dan 13,65 % gula reduksi. Mengingat kandungan karbohidrat dan gula yang
cukup tinggi tersebut maka kulit nanas memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku
pembuatan bahan kimia, salah satunya etanol melalui proses fermentasi.
B. Limbah Kulit Nanas
Limbah merupakan sisa pembuangan dari suatu proses kegiatan manusia dapat berbentuk padat, cair
dan gas, dari segi estetika sangat kotor, tidak enak dipandang dan juga dari segi bau sangat
menggangu. Dengan demikian secara langsung maupun tidak langsung limbah menimbulkan
ketidaknyamanan di sekitarnya sebab pembuangan limbah ke lingkungan umumnya tidak diikuti dengan
upaya penanganan dan pengolahan limbah yang baik, karena selalu dikaitkan dengan teknologi dan
pengolahan yang relatif mahal. Menurut Nigam, (1999) saat ini banyak industri yang memanfaatkan
limbah untuk pembuatan produk baru yang bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya seperti kulit buah
nanas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan etanol, dimana dengan
memanfaatkan kulit buah nanas dapat mengurangi pencemaran terhadap lingkungan.
Pembuatan etanol diperlukan bahan baku dengan kadar gula yang cukup tinggi. Kulit buah nanas
diketahui cukup banyak mengandung gula, sehingga bisa digunakan sebagai bahan baku dalam
pembuatan (bio)etanol. Menurut Wijana et al., (1991) dalam Attayaya (2008) kandungan gizi kulit buah
nanas dapat dilihat pada Tabel 1. dan hasil analisis proksimat kulit buah nanas berdasarkan berat
basah dapat dilihat pada Tabel 2. (Sidharta, 1989 dalam Attayaya, 2008) :
Tabel. Kandungan Gizi Kulit Buah Nanas
Kandungan gizi
Jumlah (%)
Karbohidrat
17,53
Protein
4,41
Gula reduksi
13,65
Kadar air
81,72
Serat kasar
20,87
(Sumber: Wijana, et al., 1991 dalam Attayaya, 2008
Menurut analisa diatas komponen terbesar dalam kulit nanas adalah air (86,7%) dan karbohidrat
(10,54%). Karbohidrat terbagi menjadi tiga yaitu : monosakarida (glukosa dan fruktosa), disakarida
(sukrosa, maltosa dan laktosa) dan polisakarida (amilum, glikogen dan selulosa). Menurut Hasnely dan
Dewi (1997) kandungan gula reduksi pada filtrat kulit nanas sebesar 11,40 %. Mengingat kandungan
gula yang cukup tinggi tersebut maka kulit nanas memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan
baku pembuatan bioetanol melalui proses fermentasi.
iii

C. Pembuatan Bioetanol dari kulit nanas


Bioetanol adalah cairan biokimia pada proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat dengan
menggunakan bantuan mikroorganisme dilanjutkan dengan proses destilasi. Sebagai bahan baku
digunakan tanaman yang mengandung pati, selulosa dan sukrosa. Dalam perkembangannya produksi
bioetanol yang paling banyak digunakan adalah metode fermentasi dan destilasi. Bioetanol dapat
digunakan sebagai pengganti bahan bakar minyak tergantung dari tingkat kemurniannya.
Bioetanol dengan kadar 95-99% dapat dipakai sebagai bahan substitusi premium (bensin), sedangkan
kadar 40% dipakai sebagai bahan substitusi minyak tanah (Nurianti, 2007). Etanol adalah senyawa
organik yang terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen, sehingga dapat dilihat sebagai derivat senyawa
hidrokarbon yang mempunyai gugus hidroksil dengan rumus C 2H5OH.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang karakterisasi sifat fisika dan kimia bioetanol, proses
pembuatan bioethanol serta perhitungan neraca massa dari hasil olah produk yang dihasilkan .
Pembahasan lebih fokus pada proses pembuatan bioetanol dari mulai penyediaan bahan baku, proses,
aspek fermentasi sampai pada pengawasan mutunya. Bahan baku meliputi bahan baku sumber gula
diantaranya adalah molases dan nira, bahan baku sumber pati yaitu ubikayu, jagung serta ubi-ubian
lain, serta bahan baku sumber serat (lignoselulosa) diantaranya tongkol jagung, sekam dan
sebagainya. bahan baku juga dibahas bahan pembantu untuk produksi bioetanol. Proses pembuatan
bioetanol dibedakan menjadi tiga berdasarkan bahan bakunya yaitu bahan baku sumber gula, pati dan
serat. Proses pembuatan bioetanol meliputi aspek fermentasi dan destilasinya.
Bioetanol adalah cairan biokimia pada proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat dengan
menggunakan bantuan mikroorganisme dilanjutkan dengan proses destilasi. Sebagai bahan baku
digunakan tanaman yang mengandung pati, ligno selulosa dan sukrosa. Dalam perkembangannya
produksi bioetanol yang paling banyak digunakan adalah metode fermentasi dan destilasi (Rizani,
2000). Etanol atau etil alkohol yang dipasaran lebih dikenal sebagai alkohol merupakan senyawa
organik dengan rumus kimia C2H5OH. Dalam kondisi kamar, etanol berwujud cairan yang tidak
berwarna, mudah menguap, mudah terbakar, mudah larut dalam air dan tembus cahaya. Etanol adalah
senyawa organik golongan alkohol primer. Sifat fisik dan kimia etanol bergantung pada gugus hidroksil
(Rizani, 2000).
Pembuatan Bioetanol dari kulit Nanas
1. Material pembuatan Bioetanol
o Kulit Nanas
o Air
o Mikroorganisme
Langkah langkah dalam produksi bioetanol berbahan dasar limbah kulit nanas. adalah :
Persiapan Bahan Baku. Disiapkan limbah kulit kulit nanas. Dicuci bersih dan ditunggu agak kering agar
air bekas cucian mengering. Kemudian diblender dan disaring sehingga diperoleh pati limbah kulit
nanas. Pati dikonversi menjadi gula melalui proses pemecahan menjadi gula kompleks (liquefaction)
dan pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana (sakarifikasi).
Proses liquefaction, pati yang didapat dimasukkan ke dalam wadah besar lalu ditambahkan air dan
diaduk sambil dipanasi menggunakan kompor listrik hingga 100 0C selama seperempat jam. Aduk
rebusan sampai mendidih. Dinginkan selama 1 jam, lalu dimasukkan ke dalam tempat sakarifikasi.
Sakarifikasi adalah proses penguraian pati menjadi glukosa.
Dimasukkan Aspergillus niger yang akan memecah pati menjadi glukosa. Untuk menguraikan bubur
pati limbah kulit nanas diperlukan 10% larutan Aspergillus niger dari total larutan. Setelah proses ini
dilakukan perhitungan jumlahAspergillus niger (Lampiran 2). Aspergillus niger berkembang biak dan
bekerja mengurai pati. Ditunggu dua jam bubur akan berubah menjadi 2 lapisan air dan endapan gula.
Diaduk pati yang sudah menjadi gula.

iii

2. Fermentasi. Selanjutnya difermentasikan dengan menggunakan yeast (ragi)Saccharomyces


cerevisiae. Dimasukkan ragi ke dalam bubur, kemudian diukur nilai pH (lampiran 3). Ditutup wadah
fermentasi untuk mencegah kontaminasi danSaccharomyces bekerja mengurai glukosa lebih optimal.
Fermentasi berlangsung anaerob (tidak membutuhkan oksigen). Fermentasi optimal pada suhu pada 28
320C dan pH 4,55,5.
3. Destilasi Ditunggu selama 7 hari, larutan pati berubah menjadi 3 lapisan. Lapisan terbawah berupa
endapan protein, di atasnya air, dan etanol. Untuk proses pemisahkan dilakukan destilasi. Sebelumnya
diukur nilai pH (Lampiran 3) dan disaring dengan kertas saring untuk menyaring endapan protein.
Etanol yang disaring masih bercampur air. Kemudian dipisahkan dengan destilasi atau penyulingan.
Campuran air dan etanol dipanaskan pada suhu 78 0C atau setara titik didih etanol. Pada suhu itu etanol
lebih dahulu menguap dan dialirkan melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan
kembali menjadi etanol cair dan diukur.
4. Analisis
Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis varian (ANAVA) untuk mengetahui
perbedaan hasil etanol dengan bahan limbah kulit nanas,. Uji lanjut menggunakan uji Duncans Range
Test (DMRT) pada taraf uji 5% untuk mengetahui beda nyata di antara perlakuan.
Proses fermentasi dilakukan selama 7 hari karena menurut peneliti sebelumnya (Hartatik,
2008), kadar bioetanol yang tertinggi pada lama fermentasi 7 hari. Pada lama 7 hari adanya aktifitas
khamir Saccharomyces cerevisiae yang bekerja secara optimal dengan substrat gula yang difermentasi
serta kegiatan enzimatis yang tidak terhambat. Kadar bioetanol yang terendah pada lama fermentasi 5
hari karena glukosa belum dipecah menjadi etanol. Sedangkan pada fermentasi 10 hari kadar bioetanol
menurun karena aktivitas khamir dan kapang sudah habis.

iii

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Buah nanas (Ananas comosus L. Merr) merupakan salah satu jenis buah yang terdapat di Indonesia,
mempunyai penyebaran yang merata. Selain dikonsumsi sebagai buah segar, nanas juga banyak
digunakan sebagai bahan baku industri pertanian. Dari berbagai macam pengolahana nanas seperti
selai, manisan, sirup, dan lain-lain maka akan didapatkan kulit yang cukup banyak sebagai hasil
sampingan.
Pembuatan etanol diperlukan bahan baku dengan kadar gula yang cukup tinggi. Kulit buah nanas
diketahui cukup banyak mengandung gula, sehingga bisa digunakan sebagai bahan baku dalam
pembuatan (bio)etanol
B. Saran
Kami mengharapkan saran yang sifatnya membangun dari pembaca agar terciptanya makalah yang
lebih baik dan berguna bagi kita semua.

iii

DAFTAR PUSTAKA

http://teti-haryati.blogspot.com/2011/12/makalah-disakarida.html
http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2009/0606811/disakarida.html
id.wikipedia.org/wiki/Polisakarida
repository.unri.ac.id/bitstream/123456789/3167/1/E17.pdf
ejournal.upnjatim.ac.id/index.php/tekkim/article/download/76/60
manfaatdankandungan.blogspot.com/ 2012/11/manfaat-buah-nanas.html
manfaatdankandungan.blogspot.com/2012/11/manfaat-buah-nanas.html
Ahmad Tabah, Antonius Priyo U, 2010, Pembuatan Bioetanol dari Sari
Kulit Nanas . Program Studi DIII Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret Surakarta.pdf.

iii

LEMBAR PENGESAHAN
Makalah ini disetujui dan disahkan oleh :

Surade ,29 Pebruari 2016


Menyetujui,
GMP Fiska,

Staff Perpustakaan,

SUGENG NURYANTO, S.Pd

NURLAELI, A.Md
Kepala Sekolah,

Drs. H. ROSIM, M.Pd

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji syukur atas keridhoan Allah SWT karena berkat limpahan rahmat, taufiq, hidayah
serta inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul SUMBER ENERGI
BIOETANOL DARI KULIT NANAS dengan berbagai pembahasan di dalamnya.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Demikian pengantar yang dapat penulis sampaikan dimana penulis pun sadar bawasannya penulis
hanyalah seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, sedangkan kesempurnaan
hanya milik Allah SWT hingga dalam penulisan dan penyusununnya masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang konstruktif akan senantiasa penulis nanti dalam upaya evaluasi diri.

iii

Semoga penyusunan makalah ini adalah dapat memberikan manfaat atau bahkan hikmah bagi
penulis, pembaca, dan masyarakat.

Surade, 29 Pebruari 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ...................................................................................................................i


Kata Pengantar ...........................................................................................................................ii
Daftar Isi ......................................................................................................................................iii

iii

BAB I PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang ...............................................................................................................1

B.

Rumusan Masalah .........................................................................................................1

C.

Tujuan .............................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Buah Nanas ............................................................................................2
B. Manfaat Limbah Kulit Nanas ...............................................................................3
C. Pembuatan Bioetanol dari kulit Nanas .................................................................4
BAB III PENUTUP
A.

Kesimpulan .....................................................................................................................6

B.

Saran ...............................................................................................................................6

Daftar Pustaka ............................................................................................................................7

iii