Anda di halaman 1dari 77

PT PLN (Persero)

Pusat Pendidikan dan Pelatihan

MATERI
I
SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

I.4.
I.4.1.B.

PROTEKSI SISTEM DISTRIBUSI


PENGAMAN SISTEM DISTRIBUSI

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

I.4.1.B.

PENGAMAN SISTEM DISTRIBUSI

1. Pendahuluan
Jaringan distribusi berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik ke pihak pelanggan. Karena
fungsinya tersebut maka keandalan menjadi sangat penting dan untuk itu jaringan distribusi
perlu dilengkapi dengan alat pengaman
Ada tiga fungsi sistem pengaman dalam jaringan distribusi
1. Mencegah atau membatasi kerusakan pada jaringan beserta peralatannya dari akibat
adanya gangguan listrik
2. Menjaga keselamatan umum dari akibat gangguan listrik
3. Meningkatkan kelangsungan pelayanan tenaga listrik kepada konsumen
Sistem pengaman yang baik harus mampu :
1. Melakukan koordinasi dengan sistim pengaman yang lain GI
2. Mengamankan peralatan dari kerusakan yang lebih luas akibat gangguan
3. Membatasi kemungkinan terjadinya kecelakaaan
4. Secepatnya membebaskan pemadaman karena gangguan
5. Membatasi daerah pemadaman akibat gangguan
6. Mengurangi frekuensi pemutusan permanen karena gangguan
Persyaratan yang harus dimiliki oleh alat pengaman atau sistem pengaman
1. Sensitifitas (kepekaan)
Suatu pengaman bertugas mengamankan suatu alat atau bagian tertentu dari sistem tenaga
listrik termasuk dalam jangkauan pengamanannnya merupakan daerah pengaman tugas
suatu pengaman mendeteksi adanya gangguan yang terjadi didaerah pengamanannya harus
cukup sensitif untuk mendeteksi dengan nilai minimum dan bila perlu mentripkan PMT
atau Pelebur untuk memisahkan bagian yang terganggu dengan bagian yang sehat
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. Selektifitas (ketelitian)
Selektifitas dari pengaman adalah kwalitas kecermatan dalam mengadakan pengamanan
bagian yang terbuka dari suatu sistem oleh karena terjadinya gangguan diusahakan
seminimal mungkin jika dapat tercapai maka pengamanan demikian disebut pengamanan
selektif.
3. Keandalan ( Realibilitas)
Dalam keadaan normal pengaman tidak boleh bekerja, tetapi harus pasti dapat bekerja bila
diperlukan. Pengaman tidak boleh salah bekerja, jadi susunan alat-alat penga,man harus
dapat diandalkan. Keandalan keamanan tergantung kepada desain, pengerjaan dan
perawatannya
4. Kecepatan. (Speed)
Makin cepat pengaman bekerja tidak hanya dapat memperkecil kerusakan tetapi juga dapat
memperkecil kemungkinan meluasnya akibat-akibat yang ditimbulkan oleh gangguan
2. Pengaman Arus lebih
2.1. Fuse Cut Out
2.1.1 Pengertian Fuse Cut Out ( F C O )
Fuse Cut Out merupakan sebuah alat pemutus rangkaian listrik yang berbeban pada jaringan
distribusi yang bekerja dengan cara meleburkan bagian dari komponennya (fuse link) yang
telah dirancang khusus dan disesuaikan ukurannya untuk itu. Perlengkapan fuse ini terdiri dari
sebuah rumah fuse (fuse support), pemegang fuse (fuse holder) dan fuse link sebagai pisau
pemisahnya dan dapat diindetifikasi dengan hal-hal seperti berikut
a. Tegangan Isolasi Dasar ( TID ) pada tingkat distribusi
b. Utamanya digunakan untuk penyulang (feeders) TM dan proteksi trafo
c. Konstruksi mekanis didasarkan pemasangan pada tiang atau pada crossarm
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

d. Dihubungkan ke sistim distribusi dengan batas-batas tegangan operasinya

2.1.2 Klasifikasi Fuse Cut Out


Jenis-jenis Fuse yang dirancang untuk penggunaan pada tegangan tinggi dapat dibedakan
dalam 2 ( dua ) macam yaitu Cutout Distribusi (Distribution Cutouts), dilapangan sering
disebut: Fuse Cut Out disingkat FCO dan Fuse TM
(Power Fuse ) yang sering disebut MV Fuse atau Fuse pembatas arus. Dilapangan keperluan
dan cara pemasangan kedua jenis fuse ini berbeda. Fuse cut out banyak dipergunakan pada
saluran saluran percabangan dengan konstruksi saluran udara terbuka sedangkan MV fuse
banyak dipergunakan pada panel panel cubicle dengan saluran kabel atau campuran .
Fuse cutout distribusi diklasifikasi dalam 2 macam fuse yaitu : Fuse letupan (Expulsion Fuse)
dan Fuse Liquid (Liquid Filled Fuse) Namun pada kenyataannya dilapangan fuse cutout
letupan (expulsion) lebih banyak dipakai untuk jaringan distribusi dibanding dengan power
fuse, istilah letupan (expulsi) merupakan suatu tanda yang dipergunakan fuse sebagai tanda
adanya busur listrik yang melintas didalam tabung fuse yang kemudian dipadamkannya.
Peristiwa yang terjadi pada bagian dalam tabung fuse ini adalah peristiwa penguraian panas
secara partial akibat busur dan timbulnya gas yang di deionisasi pada celah busurnya sehingga
busur api segera menjadi padam pada saat arus menjadi nol. Tekanan gas yang timbul pada
tabung akibat naiknya temperatur dan pembentukan gas menimbulkan terjadinya pusaran gas
didalam tabung dan ini membantu deionisasi lintasan busur api. Tekanan yang semakin besar
pada tabung membantu proses pembukaan rangkaian, setelah busur api padam partikel-partikel
yang dionisasi akan tertekan keluar dari ujung tabung yang terbuka.
Klasifikasi fuse cutout yang kedua adalah fuse cutout liquid, fuse jenis ini tidak dikenal di
wilayah PT PLN . Namun menurut referensi Fuse Cut Out semacam ini dapat digunakan
untuk jaringan distribusi dengan saluran kabel udara .

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2.1.3. Fuse Cut-Out Letupan Bertabung Fiber


Ada 2 jenis fuse letupan (expulsion) yang diklasifikasi sebagai Fuse Cut-Out (FCO) distribusi
yaitu
a. Fuse cutout bertabung fiber (Fibre tube fuse)
b. Fuse link terbuka (Open link fuse)
Fuse

cut-out

bertabung

fiber

mempunyai

fuse

link

yang

dapat

diganti-ganti

(interchangeability) dan terpasang didalam pemegang fuse (fuse holder) berbentuk tabung
yang terbuat dari bahan serat selulosa. Fuse ini dapat dipergunakan baik untuk Fuse Cut-Out
terbuka (open fuse cut-out) atau Fuse Cut-Out tertutup (enclosed fuse cutout), fuse cut-out
terbuka dapat dilihat pada gambar 2.Pada gambar ini terlihat fuse bertabung fiber dipasang
diantara 2 (dua) isolator dan jaringan listrik dihubungkan pada kedua ujung fuse holdernya
pada fuse cutout tertutup, tabung fuse terpasang disebelah dalam pintu fuse cutout dan seluruh
kontak listriknya terpasangkan pada rumah fuse yang terbuat dari porselain seperti terlihat
pada gambar 3
Kedua Fuse Cutout ini dapat dipergunakan pada jaringan-jaringan dengan sistim delta atau
jaringan dengan sistim bintang tanpa pentanahan demikian juga pada jaringan - jaringan yang
menggunakan sistim netral ditanahkan apabila tegangan pemutusan fuse cutout secara
individual tidak melebihi tegangan maksimum pengenal rancangan dan tahanan isolasi ketanah
sesuai dengan kebutuhan operasinya

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan
Gambar 2

Gambar 2.

Fuse Cutout terbuka

Fuse Cutout tertutup

2.1.4 Fuse Cut-Out Link Terbuka (Open Link)


Fuse cutout link terbuka terdiri dari sebuah fuse link yang tertutup didalam sebuah tabung
fiber yang relatif kecil dengan dilengkapi kabel penghubung tambahan pada fuse link-nya
untuk memperpanjang kedua ujung tabungnya.terlihat pada gambar 4

Gambar. 4

Fuse Cutout tipe Open Link

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Kabel penghubung tambahan ini kemudian dihubungkan ke pegas kontak beban pada
rumah fuse (fuse support) untuk kerja secara mekanik. Kerja pegas ini dimaksudkan untuk
menjamin pemisahan agar kedua ujung dari fuse terbuka pada saat fuse bekerja dan ini
dipakai karena kemampuan pemutusan pada tabung fiber yang kecil relatif terbatas. Fuse
cutout ini dirancang untuk dipakai pada tegangan 17 kV, selain itu fuse ini mempunyai
arus pengenal pemutusan yang lebih rendah dari pada fuse cutout bertabung fiber

2.2 Standar Fuse link


Ada sejumlah standar yang dianut fuse link, salah satu standar pengenal fuse link yang
terdahulu dikenal dengan sebutan pengenal N. Pengenal N dispesifikasi fuse link tersebut
mampu untuk disalurkan arus listrik sebesar 100 % secara kontinue dan akan melebur
pada nilai tidak lebih dari 230 % dari angka pengenalnya dalam waktu 5 menit [1]. Pada
praktek dilapangan ketentuan tersebut kurang memuaskan penggunanya karena hanya satu
titik yang dispesifikasi pada kerakteristik arus-waktu sehingga fuse link yang dibuat oleh
sejumlah pabrik yang berbeda mempunyai keterbatasan dalam memberikan jaminan
koordinasi antar fuse link. Setelah fuse link dengan pengenal N kemudian muncul standar
industri fuse link dengen pengenal K dan pengenal T pada tahun 1951
Pengenal K untuk menyatakan fuse link dapat bekerja memutus jaringan listrik yang
berbeban dengan waktu kerja lebih cepat dan pengenal T untuk menyatakan fuse link
bekerja memutus jaringan listrik yang berbeban dengan waktu kerja lebih lambat. Fuse
link tipe T dan tipe K ini merupakan rancangan yang universal karena fuse link ini bisa
ditukar tukar (interchangeability) kemampuan elektris dan mekanisnya yang dispesifikasi
dalam standar.
Fuse link tipe K dan tipe T yang diproduksi suatu pabrik secara mekanis akan sama
dengan fuse link tipe K dan tipe T yang diproduksi pabrik lain.
Karakteristik listrik link tipe K dan fuse link tipe T sudah distandarisasi dan sebagai titik
temu nilai arus maksimum dan minimum yang diperlukan untuk melelehkan fuse link
ditetapkan pada 3 titik waktu dalam kurva karakteristik Kondisi ini lebih menjamin

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

koordinasi antara fuse link yang dibuat oleh beberapa pabrik menjadi lebih baik dari pada
yang dimiliki fuse link N.
Tabel 1. Arus Leleh Fuse Link Tipe K

Arus pengenal (rating) Fuse yang disarankan / disukai


Arus
Pengenal
fuse link

Arus leleh
Arus leleh
Arus leleh
300 600 detik1
10 detik1
0,1 detik1
Minimum Maksimum Minimum Maksimum Minimum Maksimum
Arus Pengenal yang disarankan / disukai

Rasio
Kecepatan

6
10
15
25
40
65
100

12. 0
19. 5
31. 0
50
80
128
200

14. 4
23. 4
37..2
60
96
153
240

13. 5
22. 5
37
60
98
159
258

20. 5
34
55
90
146
237
388

72
128
215
350
565
918
1520

86
154
258
420
680
1100
1820

6. 0
6. 6
6. 9
7. 0
7. 1
7. 2
7. 6

140
200

310
480

372
576

430
760

650
1150

2470
3880

2970
4650

8. 0
8. 1

Tabel 2.. Arus Leleh Fuse Link Tipe K

Arus pengenal (rating) Fuse yang tidak disarankan / disukai - intermediate

Arus
Pengenal
fuse link

Arus leleh
Arus leleh
Arus leleh
300 600 detik 1
10 detik1
0,1 detik1
Minimum Maksimum Minimum Maksimum Minimum Maksimum
Arus Pengenal yang tidak disarankan / tidak disukai / Intermediate

8
12
20
30
50
80

15
25
39
63
101
160

18
30
47
76
121
192

2
4

2. 4
4. 8

7. 2

2
3

18
29. 5
48
77. 5
126
205

27
44
71
115
188
307

Arus Pengenal dibawah 6 Amper


.(2)
10
.(2)
10
.(2)

10

Rasio
Kecepatan

97
166
273
447
719
1180

116
199
328
546
862
1420

6. 5
6. 6
7. 0
7. 1
7. 1
7. 4

.(2)
.(2)

58
58

.(2)

58

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Tabel 3. Arus Leleh Fuse Link Tipe T


Arus pengenal (rating) Fuse yang disarankan / disukai
Arus
Pengenal
fuse link

Arus leleh
Arus leleh
Arus leleh
300 600 detik1
10 detik1
0,1 detik 1
Minimum Maksimum Minimum Maksimum Minimum Maksimum
Arus Pengenal yang tidak disarankan / tidak disukai / Intermediate

8
12
20
30
50
80

15
25
39
63
101
160

18
30
47
76
121
192

1
2
3

2
4
6

2. 4
4. 8
7. 2

20. 5
31
166
34. 5
52
296
57. 0
85
496
93. 0
138
812
152
226
1310
248
370
2080
Arus Pengenal dibawah 6 Amper
.(2)
11
.(2)
.(2)
11
.(2)
.(2)
11
.(2)

199
355
595
975
1570
2500

Rasio
Kecepatan

11.1
11. 8
12. 7
12. 9
13. 0
13. 0

100
100
`

Tabel 4 Arus Leleh Fuse Link Tipe T Intermediate Tidak disarankan. [1]
Arus
Pengenal
fuse link

6
10
15
25
40
65
100
140
200

Arus leleh
Arus leleh
Arus leleh
300 600 detik1
10 detik1
0,1 detik 1
Minimum Maksimum Minimum Maksimum Minimum Maksimum
Arus Pengenal yang disarankan / disukai
12. 0
19. 5
31. 0
50
80
128
200
310
480

14. 4
23. 4
37..2
60
96
153
240
372
576

15. 3
26. 5
44. 5
73. 5
120
195
319
520
850

23
40
67
109
178
291
475
775
1275

120
224
388
635
1010
1650
2620
4000
6250

144
269
466
762
1240
1975
3150
4800
7470

Rasio
Kecepatan

10
11. 5
12. 5
12. 7
13
12. 9
13. 1
12. 9
13. 0

Tiga titik operasi fuse link untuk tipe K dan tipe T yang distandarkan dalam karakteristik
arus waktu adalah :
a. 300 detik untuk fuse link 100 amper dan dibawahnya , 600 detik untuk fuse link 140
amper dan 200 amper
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

b. 10 detik
c. 0.1 detik seperti yang dirancang pada tabel 1 dan tabel 2. untuk fuse link tipe K dan
tabel tabel 3 dan tabel 4 untuk fuse link tipe T
Karakteristik arus waktu lebur minimum fuse link tipe K dan T yang dibuat semestinya
tidak kurang dari nilai-nilai minimum yang ditampilkan dan karakteristik lebur minimum
fuse link ini ditambah dengan toleransi dari pabrikan seharusnya tidak lebih besar dari nilai
maksimum seperti pada tabel 1 dan tabel 2. untuk fuse link tipe K dan tabel 3 dan tabel 4
untuk fuse link tipe T
Untuk memperoleh kerja yang selektif dapat dipergunakan sederetan fuse link dengan nilai
arus pengenal yang disarankan (prefered continues rating) :
6 - 10 15 25 40 65 100 140 dan 200 amper., nilai arus pengenal kontinyu 8 12
20 30 50 dan 80 amper merupakan nilai arus pengenal yang tidak disarankan (non
prefered countinues rating).sebagai standar intermediate.
Nilai-nilai arus pengenal fuse ini disediakan dengan maksud agar setiap nilai arus penganal
fuse link yang disarankan dapat diproteksi oleh nilai arus pengenal fuse link yang disarankan
dengan nilai arus pengenal yang lebih besar dan setiap nilai arus pengenal fuse link yang
tidak disarankan akan diproteksi oleh nilai arus pengenal fuse link yang tidak di sarankan
dengan nilai arus pengenal yang lebih besar dalam beberapa kasus kerja selektif dapat juga
diperoleh antara fuse link yang disarankan dengan fuse link yang tidak disarankan
Nilai arus pengenal fuse link di bawah 6 amper : 1, 2 dan 3 sudah distandarisasi, nilai-nilai
arus pengenal yang rendah ini tidak dimaksudkan untuk berkordinasi satu dengan yang lain
namun koordinasi lebih baik dengan nilai arus pengenal 6 ampere atau diatasnya
Karakteristik kerja fuse link fuse cutout type K , T dan H masing masing dapat dilihat pada
gambar 5 , gambar 6 dan pada gambar 7 seperti berikut :

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

10

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Kurva Leleh Minimum


Kurva Leleh Maksimu
Pemutusan Rampung

Gambar 5 Kurva Karakteristik Arus Waktu Fuse link tipe K ( kerja cepat )

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

11

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Gambar 6 Fuse link tipe T (kerja lebih lambat)

Kurva Leleh Minimum


Kurva Leleh Maksimu
Pemutusan Rampung

Gambar 7 Fuse link tipe H ( Tahan Surja )

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

12

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Dari kedua Karakteristik kerja fuse ini masing-masing memiliki


a. Kurva waktu leleh minimum ( minimum melting time )
Yaitu kurva yang menunjukkan waktu yang dibutuhkan mulai dari saat terjadinya arus
lebih sampai dengan mulai meleburnya pelebur untuk harga arus tertentu.
b. Waktu busur
Waktu antara saat timbulnya busur permulaam sampai saat pemadaman
c. Kurva waktu pembebasan maksimum ( maximum clearing time )
Yaitu kurva yang menunjukkan waktu yang dibutuhkan dari saat terjadinya arus lebih
sampai dengan padamnya bunga api untuk harga arus tertentu
2.1.6 Ketersediaan Tipe Dan Angka Pengenal Fuse Link
Seiring dengan perubahan teknologi dan kebutuhan dalam peningkatan mutu pelayanan
tenaga listrik. beragam tipe dan angka pengenal fuse cutout letupan (expulsion) yang
diproduksi dan dijual dipasaran pada masa kini. Salah satu perusahaan pembuat fuse link
menyediakan beberapa tipe yang diantaranya adalah tipe K, T, H, N, D, S untuk sistim
distribusi dengan tegangan sampai 27 kV dan tipe EK, ET dan EH untuk sistem distribusi
dengan tegangan sampai 38 kV dengan pengenal seperti terlihat pada tabel 5
Tabel 5
Ketersediaan tipe dan rating fuse link yang diproduksi pabrik

Tipe Fuse Link


H
( Tahan Surja )
D - Timah
(Tahan Surja )
K Timah
( Cepat )
K Perak
( Cepat )
N Timah
( Cepat )
T Timah
( Lambat )
S Tembaga
( Sangat Lambat )
EK
( Cepat )
ET
( Lambat )
EH
(Sangat Lambat)

Arus kontinyu yang di


ijinkan
( % Pengenal )

Jenis waktu
kerja

1-2-3-5-8

100

Sangat lambat

1-1,5-2-3-4-5-7-10-15-20

100

Sangat lambat

1 s/d 200

150

Cepat

6 s/d 8,1

6 s/d 100

100

Cepat

6 s/d 8,1

5 s/d 200

100

Cepat

6 s/d 11

1 s/d 200

150

Lambat

10 s/d 13.1

3 s/d 200

150

Sangat lambat

15 s/d 20

6 s/d 100

150

Cepat

6 s/d 100

150

Lambat

Arus Pengenal
(A)

Rasio Kecepatan
Kerja
6 s/d 18
7

s/d

46

s/d

8.1

10

s/d

13.1

100
Sangat lambat
13
Berbagi dan menyebarkan ilmu 1,2,3,5
pengetahuan serta
nilai-nilai
perusahaan

s/d 22

13

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

2.7. Standar PLN : SPLN 64 1985


Untuk keperluan peningkatan efisiensi dan tingkat keandalan pelayanan sistem di PT PLN
(Persero), jenis,tipe dan karakteristik perlu dipilih Fuse Cut out yang sesuai dengan sistem
dan kondisi yang ada di lingkungan PT PLN (Persero) sebagai perusahaan yang mengelola
distribusi tenaga listrik. Untuk keperluan ini PLN merumuskan kebijaksanaanya dalam
standar PLN : SPLN 64 : 1985 mengenai Petunjuk dan Penggunaan Pelebur Pada Sistem
Tegangan Menengah dengan spesifikasinya adalah sebagai berikut:
1. Ketentuan Umum
1. Frekwensi kerja

: 50 Hz

2. Tegangan pengenal : 20 kV, 24 kV untuk sistim 20 KV 3 fasa dengan netral


ditanahkan
3. Tingkat isolasi pengenal :
a. Tegangan ketahanan impulse : polaritas positif dan negatif

Antara kutub - tanah dan kutub kutub ( TID ) 125 kV (puncak)

Antara jarak isolasi dari rumah fuse 60 kV ( efektif )

b. Tegangan ketahanan sistim 50 Hz ( kering/ basah selama 1 menit )

Antara kutub - tanah dan kutub kutub ( TID ) 50 kV (efektif)

Antara jarak isolasi dari rumah fuse 60 kV ( efektif )

Kondisi standar suhu, tekanan dan kelembaban 20 0 C, 760 mmHg


dan 11 g /m3 Air
4.

Suhu : suhu udara maksimum 40

C suhu udara rata-rata 24 jam

maks 37 0 C
5.

Arus pengenal dalam amper dan arus pemutusan dalam kilo amper : fuse link
Arus pengenal dan arus pemutusan pengenal fuse link dipilih dari seri R10 Bagi
jenis pembatas arus dalam keadaan khusus bila diperlukan tambahan boleh
diambil dari seri R 20
Seri R 10. : 1 - 1,25 1,6 2 2,5 3,15 4 6,3 8 dan kelipatan 10 nya

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

14

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Seri R 20 : 1 1,12 1,25 1,4 1,6 1,8 2 2,24 2,5 2,8 3.15 3,55
4 4,5 5 5,6 6,3 7,1- 8 9
6.

dan kelipatan 10 nya

Batas kenaikan suhu


Fuse link dan rumah fuse (fuse support) harus dapat dilewati arus pengenalnya
secara terus menerus tanpa melewati batas kenaikan suhunya seperti tertera pada
tabel 4

7.

Untuk pasangan luar tekanan angin tidak melebihi 700 N / m 2

8.

Udara sekitar tidak tercemar oleh debu, asap, gas korosif, gas mudah terbakar uap
atau garam

9.

Ketinggian dari permukaan laut tidak melebihi 1000 m

2. Spesifikasi Fuse Cutout Jenis Letupan ( Expulsion Fuse )


1. Macam macam angka pengenal
a. Pengenal fuse

Tegangan pengenal : 24 KV

Arus pengenal fuse dalam amper


Seri R 10. ( A ) :
1 - 1,25 1,6 2 2,5 3,15 4 6,3 8 dan kelipatan 10 nya
Seri R 20. ( A ) :
1 1,12 1,25 1,4 1,6 1,8 2 2,24 2,5 2,8 3.15 3,55 4
4,5 5 5,6 6,3 7,1- 8 9

dan kelipatan 10 nya

Kemampuan pemutusan pengenal dalam kilo ampere


Seri R 10. ( kA ) :
1 - 1,25 1,6 2 2,5 3,15 4 6,3 8 dan kelipatan 10 nya
Seri R 20. ( kA ) :
1 1,12 1,25 1,4 1,6 1,8 2 2,24 2,5 2,8 3.15 3,55 4
4,5 5 5,6 6,3 7,1- 8 9

dan kelipatan 10 nya

Frequensi pengenal : 50 Hz

b. Pengenal rumah fuse ( Fuse Support )


Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

15

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Tegangan pengenal : 24 KV

Arus maksimum pengenal :


Nilai-nilai standar dari arus pengenal rumah fuse adalah :
50 A, 100 A, 200A, 400A.

Tingkat isolasi pengenal


1. Tegangan Ketahanan Impulse : Polaritas positif dan negatif

Antara kutub - tanah dan kutub kutub ( TID ) 125 kV (puncak)

Antara jarak isolasi dari rumah fuse 145 kV ( puncak )

2. Tegangan Ketahanan sitim 50 Hz ( kering / basah selama 1 menit )

Antara kutub - tanah dan kutub kutub ( TID ) 50 kV (puncak)

Antara jarak isolasi dari rumah pelebur 60 kV ( efektif )

c. Pengenal pemikul batang pelebur ( fuse holder )

Tegangan pengenal : 24 KV

Arus maksimum
Seri R 10. ( A ) :
1 - 1,25 1,6 2 2,5 3,15 4 6,3 8 dan kelipatan 10 nya
Seri R 20. ( A ) :
1 1,12 1,25 1,4 1,6 1,8 2 2,24 2,5 2,8 3.15 3,55 4
4,5 5 5,6 6,3 7,1- 8 9

dan kelipatan 10 nya

Kemampuan pemutusan pengenal dalam KA


Seri R 10. ( kA ) :
1 - 1,25 1,6 2 2,5 3,15 4 6,3 8 dan kelipatan 10 nya
Seri R 20. ( kA ) :
1 1,12 1,25 1,4 1,6 1,8 2 2,24 2,5 2,8 3.15 3,55 4
4,5 5 5,6 6,3 7,1- 8 9

dan kelipatan 10 nya

d. Pengenal fuse link

Arus pengenal

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

16

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Seri R 10. ( A ) :
1 - 1,25 1,6 2 2,5 3,15 4 6,3 8 dan kelipatan 10 nya
Seri R 20. ( A ) :
1 1,12 1,25 1,4 1,6 1,8 2 2,24 2,5 2,8 3.15 3,55 4
4,5 5 5,6 6,3 7,1- 8 9

dan kelipatan 10 nya

Tegangan maksimum : 24 kV

e. Karakteristik pelebur

Batas kenaikan suhu


Anak dan rumah pelebur ( Fuse link dan Fuse holder ) harus dapat dilewati
arus pengenalnya secara terus menerus tanpa melewati batas kenaikan
suhunya seperti tertera pada tabel Batas Suhu dan Kenaikan Suhu berbagai
komponen

Kelas pelebur jenis letupan dibagi dalam dua kelas yaitu :


1. Fuse letupan (expulsion ) kelas 1 dipergunakan untuk proteksi
sekelompok trafo berkapasitas besar
2. Fuse letupan (eexpulsion ) kelas 2 dipergunakan untuk proteksi trafotrafo kecil untuk proteksi kapasitor atau untuk keperluan seksionalisasi
jaringan distribusi tegangan menengah dengan saluran udara

f. Karakteristik waktuarus fuse link


Pabrik harus menyediakan kurva-kurva yang diperoleh dari pengujian jenis
karakteristik waktu sesuai yang ditentukan pada publikasi IEC 282-2 1974 .
g. Konstruksi

Pelebur yang dipilih pada umumnya tipe buka-jatuh (drop out) dimana
tabung, fuse holder dan fuse linknya akan jatuh dan menggantung bila fuse
linknya telah bekerja (putus)

Pembukaan tanpa pemadaman dapat dilakukan dengan tambahan alat kerja


kerja keadaan bertegangan (hot stick) yang dilengkapi dengan alat
pemadam busur atau dengan dengan lengan pemutus pelebur.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

17

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

2.8. Pemasangan FCO


FCO pada jaringan distribusi tegangan menengah biasanya dipergunakan pada saluran
saluran percabangan untuk mengamankan saluran percabngan dari adanya gangguan
hubung singkat dan untuk mengamankan sistim dari gangguan hubung singkat pada trafo
distribusi .
Konstruksi Pemasangan dari Fuse Cut Out ini dapat dilihat seperti gambar gambar berikut

Gambar 8 bagian bagian dari konstruksi FCO

A.
B.

Porcelain insulator with higher Creepage distance and


greater insulation properties.
Upper eye bolt connector in Tin plated brass.

G.
H.

Crank shaft support / lower housing in Brass.


Trigger in stainless steel.
Stainless steel spring provides toggle action for
fuse link ejector.

Upper contact - silver plated ETP Copper.

I.

D.

Galvanized steel hooks for load break tools & guiding


the fuse tube during closure.

J. Lower eye bolt connector in Tin plated Brass.

E.

Fuse tube holder coated with UV resistant paint,


impervious to water & constructed in Epoxy resin with
special arc quenching liner.

K. Crank shaft.

F.

Lower contact in ETP grade copper duly silver plated.

L. Galvanized mounting Brackets.

C.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

18

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Gambar 9

Pemasangan FCO untuk Proteksi Saluran

A 36 AD

A 36 AD

A 12 AD

A 12 AD

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

19

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Gambar 11. Pelepasan / Pemasukan Fuse Holder FCO


Dengan Load Buster

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

20

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Gambar 12 Load Buster alat untuk membuka Fuse


Holder Cut Out pada kondisi berbeban dengan peredam
busur api

2.8. Cara Pemilihan Arus Pengenal ( Rating ) Fuse Link FCO


a.

Pemilihan Arus Pengenal Fuse link FCO


untuk Proteksi Percabangan
Pemilihan arus pengenal (Rating) fuse link Cut Out ( FCO ) untuk saluran cabang
sangat penting untuk dilakukan dengan sebaik baiknya dalam rangka koordinasi sistem
untuk memperoleh penampilan sistem yang optimal dengan harapan target perusahaan
dalam pencapaian kepuasan pelanggan dan peningkatan penjualan KWh dengan
mengecilkan tingkat SAIDI dan SAIFI di harapkan dapat terpenuhi
Salah satu metode pemutusan arus hubung singkat permanen (persistant) yang
efektif adalah dengan memasang fuse pada tiap tiap percabangan atau anak cabangnya (
sub branch )

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

21

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Kesalahan dalam menentukan pilihan rating fuse link tentu akan memupus harapan
perusahaan. Sering kerjanya (Trip) PMT Penyulang di Gardu Induk oleh karena sering
terjadi gangguan di saluran saluran cabang atau terutama saluran saluran anak cabang
perlu dipertimbangkan untuk penempatan FCO yang sesuai dengan kebutuhan
Salah satu yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan arus pengenal FCO untuk
proteksi saluran cabang atau saluran anak cabang adalah besarnya nilai arus beban
maksimum yang akan atau dapat mengalir pada saluran cabang atau anak cabang yang
dimaksud .
Sesuai dengan Standard kemampuan dari fuse link Cut out (FCO) yang diproduksi
oleh sejumlah pabrik yang telah dikemukakan di fuse cut out dan pada pemilihan arus
pengenal fuse link FCO. Untuk menentukan arus pengenal (rating) fuse link yang
dipilih dapat dilakukan sebagai berikut :
1.

Pilih fuse link Cut Out ( FCO ) yang sesuai dengan standar dalam hal ini PLN dalam
SPLN 64 :1985 menentukan pilihan type K T dan H

2.

Bagilah Arus beban maksimum yang sudah ditentukan dengan kemampuan arus
kontinue fuse link

3.

Koordinasi yang sebaik baiknya dengan alat proteksi yang lain (PMT, PBO dan Fuse
Cut out ) baik yang berada di sisi sebelah hulu (sumber) dan sebelah hilirnya (beban)

4.

Perhatikan Batas ketahanan penghantar terhadap arus hubung singkat

5.

Perhatikan pula kemampuan pemutusan dari Fuse Cut Out khususnya bagi FCO yang
terpasang dekat dengan sumber tenaga
Dengan demikian fuse link cutout yang dipilih selain harus tahan terhadap arus beban,

juga harus bisa dikoordinasikan dengan alat proteksi yang lain dan mempunyai
kemampuan pemutusan terhadap arus hubung singkat yang mungkin terjadi dan dapat
melindungi penghantar yang diamankan dari kerusakan akibat arus lebih.
Pemilihan rating arus fuse link yang benar adalah tidak akan lebur atau terjadi
kerusakan oleh gangguan sesaat (no-persistant) yang terjadi disebelah hilirnya karena
recloser yang akan membuka rangkaian dengan operasi instantaneous tanpa memutuskan
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

22

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

fuse link Pada saat gangguan tetap fuse link pertama pada sebelah sumber dari gangguan
akan melebur dan membuka rangkaian setelah operasi recloser
2.9.

Koordinasi Proteksi Antar Fuse Cut-0ut


Penggunaan fuse link yang benar membutuhkan sejumlah informasi tentang
karakteristik sistim dan karakteristik peralatan yang akan diproteksi seperti yang telah
dituliskan mengenai dasar pemilihan fuse link dengan definisi : Bila dua atau lebih fuse
link atau alat proteksi lain digunakan pada suatu sistim alat proteksi yang paling dekat
dengan titik gangguan dari arah sumber disebut peralatan pemproteksi dan yang paling
dekat selanjutnya disebut : backup atau diproteksi seperti digambarkan pada gambar 12
dibawah ini
Gardu Induk

Protected
(Back up)
Fuse Link

Protecting
Fuse Link

Protecting
Fuse Link

Gambar 12

Koordinasi Fuse Dengan Fuse


Salah satu aturan yang sangat penting dalam aturan penggunaan fuse link adalah :
Clearing time maksimum dari fuse link pemroteksi tidak lebih dari 75 % waktu leleh
minimum dari fuse link diproteksi.
Prinsip ini untuk menjamin Fuse link pemroteksi akan memutuskan dan menghilangkan
gangguan sebelum fuse link diproteksi rusak. Aturan lain yang harus dipegang adalah arus
beban pada suatu titik pemakaian semestinya tidak lebih besar dari kapasitas arus kontinyu
yang dimiliki fuse link nya. Apabila arus melebihi kapasitasnya maka semestinya fuse link
akan mengalami pemanasan lebih, membuat pemutusan dan rangkaian menjadi terpisah
dari sistem Kapasitas arus kontinue fuse link ratarata adalah 150 % dari arus pengenalnya
untuk fuse link type K dan type T dengan elemen pelebur dari timah dan 100% untuk fuse
link tipe H, N dan type K perak seperti terlihat pada tabel 5 pada SPLN 64 : 85
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

23

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Kemampuan hantararus terus menerus pelebur ( FCO ) jenis letupan ( expulsion) tipe T
(lambat) dan tipe K (cepat) ditetapkan sebagai berikut :
a.

1.5 kali arus pengenalnya, bagi pelebur dengan arus pengenal 6.3 A sampai
dengan 100 A.

b.

1.3 kali arus pengenalnya bagi pelebur dengan arus pengenal 125 A sampai
dengan 160 A

c.

Sama dengan nilai arus pengenalnya bagi pelebur dengan arus pengenal 200 A

d.

Pelebur ltupan tipe H sama dengan arus pengenalnya

e.

Pelebur jenis Pembatas Arus ( limmiting Current) atau disebut MV Fuse


( Power Fuse) sama dengan arus pengenalnya

f.

Kemampuan hantararus terus menerus dari pelebur harus sama atau lebih besar
dari arus beban maksimum terus menerus yang akan melewatinya

Koordinasi operasi suatu proteksi dengan proteksi lain penting untuk dilasanakan
untuk menjaga hal yang tidak diinginkan misalnya adanya pemutusan yang tidak di
inginkan demikian juga koordinasi operasi proteksi fuse cut out dimana prinsipnya adalah :
Memberi kesempatan pada fuse pemroteksi (protecting) pada sisi beban yang berada di
depan terdekat dari titik gangguan untuk bekerja sepenuhnya (memutus rampung) terlebih
dahulu sebelum fuse sebelah hulu (sisi sumber) yang diproteksi bertindak sebagai
cadangannya mulai bekerja.
Untuk memenuhi koordinasi hendaknya dipilih waktu leleh arus pengenal yang
memiliki kerenggangan waktu minimum 25 % antara waktu pemutusan maksimum Fuse
pemroteksi pada sisi terdekat dengan gangguan dengan waktu leleh minimum pelebur yang
diproteksi atau dengan kata lain waktu pemutusan maksimum dari fuse pemroteksi
hendaknya tidak melebihi 75 % dari minimum fuse yang diproteksi
Untuk pelaksanaan koordinasi dapat dilakukan dengan menggunakan tabel 6 dan tabel
7 dan 8 seperti berikut

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

24

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Tabel 6

Koordinasi Proteksi Antara Fuse Cutout

Tabel 7
Koordinasi Proteksi Antara Fuse Cutout
Fuse link tipe T Koordinasi dengan Fuse Link Tipe T

Tabel 8

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

25

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan
Koordinasi Fuse link tipe H dengan tipe K dan tipe K dengan K

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

26

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

b.

Pemilihan Arus pengenal ( Rating ) fuse link FCO


untuk Proteksi Trafo Distribusi
1.

Dilihat dari karakteristik waktu arusnya proteksi trafo dibatasi dua garis kerja yaitu :
a. Garis batas ketahanan pelebur yang merupakan batas ketahanan pelebur dimana
pelebur FCO tidak boleh bekerja pada beban lebih yang masih dan harus dapat
ditahan oleh trafo tersebut yaitu :

Beban lebih ( Beban Maksimum )

Arus Beban Peralaihan ( Cold Load pick up )

Hubung singkat JTR

Arus Masuk Awal ( Inrush ) trafo

Arus asutan motor

b Garis Batas Ketahanan Trafo yang merupakan batas ketahanan trafo dimana pelebur
( FCO ) harus sudah bekerja / melebur

gangguanh yang dapat melebihi batas

tersebut adalah hubung singkat pada sisi primeratau sekunder trafo


2

Garis batas ketahanan pelebur bagi trafo distribusi umum ditentukan oleh titik titik
berikut :
2 x In

selama 100 detik ................beban lebih

3 x In

selama 10 detik ................Arus beban peralihan

6 x In

selama

1 detik ............... Arus beban peralihan

12 x In

selama

0.1 detik ...........Arus Inrush trafo

25 x In

selama 0.01 detik ............Arus Inrush trafo

Bila Beban Trafo berupa motor listrik maka :


3

x In

selama 100 detik ................Arus beban peralihan

x In

selama

10 detik ............... Arus beban peralihan

10 x In

selama

1 detik ........

...Arus Inrush trafo

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

27

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

28

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Rekomendasi pemilihan arus pengenal pelebur 24kv jenis letupan


(Publikasi IEC 282-2 (1970) / nema) di sisi primer berikut pelebur jenis pembatas arus
Publikasi IEC 269-2 (1973) di sisi sekunder (230/400 v) yang merupakan pasangan yang
diselaraskan sebagai pengaman trafo distribusi

Catatan : pemilihan nilai maksimum pelebur sekunder perlu di


koordinasikan dengan nilai maksimum pelebur primer
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

29

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

*) diperoleh dengan pelebur paralel.

Arus pengenal pelebur jenis pembatasan arus menurut berbagai merek dan buatan untuk
pengaman berbagai daya pengenal trafo dapat dilihat pada tabel.
Rekomendasi pemilihan arus pengenal anak pelebur 24 kv, jenis pembatasan arus, rujukan
plubikasi IEC 282-1(1974), VDE dan UTE (Perancis) di sisi primer 20 kV, berikut pelebur
jenis pembatasan arus rujukan IEC 269-2 (1973) di sisi sekunder (230/400 V) yang
diselaraskan sebagai pengaman trafo distribusi.

Catatan : pemilihan nilai maksimum pelebur sekunder perlu di kombinasikan dengan nilai
maksium pelebur primer
*) diperoleh dengan pelebur paralel.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

30

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Ketahanan Pelebur terhadap surja kilat


Bagi trafo trafo berdaya kecil dibawah 100 KVApemilihan pelebur harus memperhatikan
ketahanan terhadap arus surja kilat :
a. minimum 74 A selama 0.01 detik untuk surja kilat 2 KA
b. minimum 370 A selama 0.01 detik untuk surja kilat 10 KA

4. Garis batas ketahanan trafo ditentukan oleh kondisi sebagai berikut :


2

x In

selama 300 detik ................beban lebih, arus Hs JTR

4.75 x In

selama 60 detik ................ beban lebih, arus Hs JTR

6.7

selama 30 detik ................ beban lebih, arus Hs JTR

x In

11.3 x In

selama 10 detik ..............Beban lebih, arus Hs JTR

25

x In

selama

I2 t

= 1.250 ..........................................Hubung singkat pada trafo

2 detik ...............Hubung singkat pada trafo

3. Relai Arus Lebih


Relai arus lebih adalah suatu relai yang bekerja berdasarkan adanya kenaikan arus yang
melebihi nilai arus dan waktu setingnya. Relai arus lebih ini berfungsi sebagai proteksi
terhadap gangguan hubung singkat, baik hubung singkat antar fasa maupun fasa ke tanah.
Berdasarkan karakteristik waktu kerjanya relay arus lebih dapat dibagi menjadi :
a.

Relai arus lebih seketika (instanstaneous over current relay).

b.

Relai arus lebih dengan tunda waktu tertentu (definite time over current
relay).

c.

Relai arus lebih dengan tunda waktu terbalik (inverse time over current relay).

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

31

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

3.1. Relai Arus Lebih Seketika


Relai arus lebih seketika adalah relai arus lebih yang bekerja tanpa penundaan waktu, atau
jangka waktu relai mulai saat arusnya pick-up sampai selesai sangat singkat (sekitar 20
sampai 100 ms).
.t detik

I ampere
Gambar : Karakteristik Rele Arus Lebih Seketika

3.2.

Relai Arus Lebih Waktu Tertentu


Jangka waktu relai mulai pick-up sampai selesai diperpanjang dengan nilai tertentu dan
tidak tergantung besarnya arus yang menggerakkannya. Relai arus lebih jenis ini terdiri
dari elemen arus lebih dan elemen relai waktu

.t detik

I ampere
Gambar : Karakteristik Relai Arus Lebih Waktu Tertenu

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

32

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

3.3. Relai Arus Lebih dengan Tunda Waktu Terbalik


Jangka waktu relai mulai pick-up sampai selesai kerjanya diperpanjang dengan nilai yang
berbanding terbalik dengan besarnya arus yang menggerakkannya.
.t detik

t1

t2

I ampere
If1

Gambar :

If2

Karakteristik

Relai

Arus Lebih Waktu Terbalik

Relai arus lebih waktu terbalik pada dewasa ini dalam suatu relai dapat memiliki
beberapa jenis kurva yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhannya berkat
kemajuan tekonologi elektronika dan micro prosesor Dimana kurva kurva tersebut
dapat diubah kedalam bentuk bentuk persamaan diantaranya adalah :
1. Kurva standar Inverse
0.14
tp TD.
0.02
1
M

( 3.1 )

2. Kurva Very Inverse


13.5
tp TD.

M 1

( 3.2 )

3. Kurva Extremely Invers


Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

33

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

80.0
tp TD.
2

M 1

( 3.3 )

4. Kurva long time inverse


80.0
tp TD.
2

M 1

( 3.4 )

Dimana
. tp

waktu kerja relai dalam detik

TD

Time Dial Seting

Perkalian arus kerja relai (Pick-Up) M >1

4. P B O (Penutup Balik Otomatis)


Alat ini digunakan sebagai pelengkap untuk pengaman gangguan temporer dan juga untuk
membatasi luas daerah yang padam akibat gangguan, dilihat dari peredam busur apinya
PBO adalah :
1. PBO dengan media minyak
2. PBO dengan media Vaccum
3. PBO dengan media Gas SF6
Dilihat dari peralatan kontrolnya adalah :
1. PBO dengan kontrol hidroulick
2. PBO dengan kontrol elektronik
Dilihat dari peralatan sensornya adalah :
1. PBO dengan sensor arus listrik
2. PBO dengan sensor tegangan

5. PENGAMAN TERHADAP TEGANGAN SENTUH


Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

34

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

1. Pengertian.
Jika suatu tegangan tersentuh tubuh manusia maka pada umumnya mengalir arus listrik
kedalam tubuh yang berbahaya bagi tubuh sebenarnya bukan tegangannya melainkan arus
listrilk yang mengalir didalam tubuh.
Tegangan akan berbahaya akibat sentuhan dengan tegangaan itu menyebabkan mengalirnya
arus listrik yang cukup besar didalam tubuh, jika tidak menyebabkan aliran arus tegangan
tidak berbahaya.
2. Akibat arus listrik dalam tubuh
Berdasarkan penelitian didapat kesimpulan bagaimana akibat arus mengalir dalam tubuh
manusia digambarkan sebagai berikut :

Daerah 1 menunjukkan arus tidak menimbulkan reaksi apapun


Daerah 2 Menunjukkan arus sudah terasa tetapi umumnya tidak menimbulkan bahaya
Daerah 3 menunjukkan arus terasa dan belum mengakibatkan bahaya fibrilasi (denyuk
jantung tak teratur).
Daerah 4 menunjukkan arus terasa dan bisa terjadi bahaya fibrilasi dengan kemungkinan
sampai 50 %
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

35

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Daerah 5 menunjukkan bahaya fibrilasi lebih dari 50 %.


Dalam gambar ini terlihat bahaya akibat arus mengalir ( tidak hanya tergantung kepada
besarnya arus tetapi juga lamanya arus mengalir )
3. Tegangan Sentuh Yang Berbahaya
Jika tegangan sentuh tersentuh bagian tubuh sedangkan kaki menginjak ketanah maka akan
mengalir arus listrik krdalam tubuh yang besarnya tergantung dari tahanan tubuh dan tahan
kontak pada kedua titik sentuhan. Bila tubuh tersengat aliran listrik besar arus listrik yang
melewati tergantung kepada tegangan listrik yang mengenai dan lintasan yang dilalui arus
listrik dengan demikian beasar tahan tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan
kelembaban tubuh.
Lintasan tubuh yang dilalui arus dan besar tegangan yang disentuh dapat dilihat pada
gambar berikut ini :

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

36

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Tabel batas tegangan sentuh dan lamanya sentuhan maksimum


Lama Sentuhan Maksimum

Besar Tegangan Sentuh


Arus Bolak-Balik (V) / harga efektif

Arus Searah (V)

< 50

< 120

50

120

75

140

0,5

90

160

0,2

110

175

0,1

150

200

0,05

220

250

0,03

280

310

(detik)

4. Cara Pengamanan Terhadap Tegangan Sentuh


Sentuhan dengan tegangan dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung. Pengamanan
terhadap sentuhan langsung adalah pengamanan terhadap sentuhan pada bagian yang aktif
dari suatu peralatan atau instalasi yang dalam kondisi normal bertegangan. Sedangkan
pengaman terhadap sentuhan tidak langsung adalah pengamanan terhadap sentuhan pada
badan peralatan atau instalasi yang menjadi bertegangan pada waktu ada gangguan
(hubung singkat ke badan tersebut).kebadan instalasi yang bersifat konduktif.
Pengaman terhadap sentuhan langsung :
1. Pengamanan dengan isolasi pada bagiuan bagian yang aktif
2. pengamanan dengan selungkup atau sekat
3. Pengamanan dengan penghalang
4. Pengamanan dengan penempatan diluar jangkauan tangan
5. Pengamanan tambahan dengan saklar pengaman arus ke tanah
Pengamanan terhadap sentuhan tak langsung
1. Pengamanan dengan pemutusan otomatis
2. pengamanan dengan isolasi pengaman
3. pengamanan dengan alas isolasi
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

37

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

4. pengamanan dengan pemisah pengaman (trafo pemisah)


5. pengamanan dengan pentanahan
6.

Pentanahan TR
Fungsi Pentanahan TR
Pentanahan TR berfungsi untuk menghindari bahaya tegangan sentuh bila terjadi
gangguan atau kegagalan isolasi pada peralatan atau pada instalasi Dalam SPLN 3 1978
pentanahan netral pada jaringan tegangan rendah adalah pentanahan efektif yang
mempunyai tahanan pentanahan dibawah 5
Semua JTR dan instalasi harus menggunakan sistem pentanahan netral pengaman ( PNP)
PNP adalah sistem pentanahan dengan cara menghubungkan badan peralatan atau
instalasi dengan hantaran netral yang ditanahkan (disebut hantaran nol) sehingga jika
terjadi kegagalan isolasi tercegahlah bertahannya tegangan sentuh yang terlalu tinggi
karena pemutusan arus oleh alat pengaman arus lebih
Tegangan sentuh yang timbul akibat gangguan atau kegagalan isolasi tergantung kepada
pentanahan. Bekerjanya peralatan pengaman juga ditentukan oleh sistim pentanahan yang
dipergunakan

5. PENGAMAN TERHADAP TEGANGAN LEBIH TRANSIENT


5.1.

Sebab Timbulnya Tegangan Lebih Transient


Dalam keadaan operasi, suatu sistem tenaga listrik sering mengalami gangguan yang
dapat mengakibatkan terjadinya pelayanan-pelayanan daya. Gangguan tersebut lebih
sering terjadi pada jaringan distribusi. Terjadinya gangguan adalah disebabkan oleh
peninggian tegangan lebih, dimana tegangan itu melampaui tingkat ketahanan isolasi
dari hantaran distribusi. Dengan demikian terjadi hubung singkat kawat-kawat fasa ke
tanah yang dapat menyebabkan PMT membuka.
Tegangan lebih ini antara lain ditimbulkan oleh :

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

38

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

a. Sambaran petir pada hantaran distribusi baik merupakan sambaran langsung atau
tidak langsung.
b. Surja hubung
Oleh sebab itu, kebutuhan tingkat ketahanan isolasi dari suatu sistem tenaga biasanya
ditentukan oleh tegangan lebih akibat sambaran petir (tegangan lebih atmosfir ) dan
tegangan lebih akibat transien pada waktu switching.
5.1.1. Tegangan lebih atmosfir ( petir )
Tegangan lebih ini timbul pada JTM karena JTM terkena sambaran petir baik
langsung ( jarang terjadi ) maupun sambaran tidak lansung ( sering terjadi ),
misalnya petir menyambar pohon atau benda lain yang lebih tinggi dari JTM lalu
menginduksi ke JTM yang ada di sekitar lokasi sambaran petir.
Teganganlebih atmosfir ini sekitar 345 kV.
5.1.2. Tegangan lebih hubung.
Di dalam jaringan listrik ada dua macam yang dapat dibedakan, yaitu keadaan
stasioner ( misalnya keadaan masa kerja suatu jaringan ) dan keadaan sementara
atau proses menuju keseimbangan ( transien ), yang timbul pada waktu switching
atau memutus arus. Proses transien adalah peralihan dari keadaan stasioner I ke
keadaan stasioner II, yang hampir selalu menyebabkan ossillasi tegangan dan arus,

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

39

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

karena

itu

dapat

menimbulkan

kenaikan

Trafo

Trafo

tegangan

G.

Gambar 1 : Keadaan I dan II dari distribusi daya

Karena adanya tahanan dalam jaringan, maka tegangan lebih diredam dan setelah
beberapa waktu tertentu tegangan itu menghilang. Dalam gambar 1 digambarkan
keadaan stasioner I dan II. Dalam keadaan I generator memberikan daya melelui
suatu penghantar trafo terus ke pemakai melalui penghantar, melainkan dalam
distribusi daya itu ada juga medan magnit yang mengelilingi penghantar-penghantar
dan medan listrik antara penghantar-penghantar sendiri dan penghantar-penghantar
dengan tanah.
Medan listrik dan medan magnet itu mengandung energi yang berpulsa sebesar
harga rata-rata dari frekuensi yang 2 x sebesar frekuensi jaringan. Selama keadaan
stasioner I, energi dari pembangkit itu disimpan pada trafo, penghantar dan
pemakai.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

40

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Sesudah membuka sakelar S ( keadaan II ) generator itu tidak menyerahkan daya


lagi kepada pemakai, tetapi generator itu tetap memberi energi medan listrik pada
penghantar, walaupun energi tersebut hanya sedikit. Proses keseimbangan itu
membawa keadaan energi dari keadaan I ke keadaan II, yang dimulai dengan proses
switching ( pemutus arus ).
Jadi dapat dikatakan, bahwa proses transien adalah proses keseimbangan energi
antara dua keadaan stasioner yang masing-masing mempunyai muatan-muatan
energi yang berbeda-beda.
6. KARAKTERISTIK TEGANGAN LEBIH
6.1.

Karakteristik
Tegangan Lebih Atmosfir ( petir )
Teori yang dapat diterima tentang petir yaitu bahwa awan terdiri dari daerah
bermuatan positif dan negatif. Pusat-pusat muatan ini menginduksikan muatan
berpolaritas berlawanan ke awan terdekat atau ke bumi. Gradien potensial di udara
antara pusat-pusat muatan di awan atau antara awan dan bumi tidak seragam tapi
gradien tersebar timbul pada bagian konsentrasi muatan tinggi.
Dimana konsentrasi muatan tertinggi dan gradien tegangan tinggi dari awan ke
bumi, timbul muatan pelepasan yang secara umum terjadi di awan. Ketika gradien
mencapai batas untuk udara, udara di daerah konsentrasi stres tinggi mengionisasi
atau tembus ( break down ).
Muatan dari pusat muatan mengalir ke dalam kanal terionisasi, mempertahan-kan
gradien tegangan tinggi pada ujung kanal dan melanjutkan proses tembus listrik.
Formasi suatu sambaran petir berikutnya adalah tembus listrik pro-gresif pada jalur
busur api lebih kecil dari pada tembus listrik sesaat dan komplit di udara sepanjang
kanal. Sambaran petir ke bumi mulai ketika suatu muatan sepanjang pinggir awan

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

41

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

menginduksikan muatan lawan ke bumi, seperti diperlihatkan pada gambar 2.


Lidah arah bawah menyebar dari awan ke arah bumi seperti diperlihatkan pada
gambar 3. Jika pusat muatan kecil, semua muatan bisa saja dilepaskan selama lidah
utama ( pilot leader ) terbentuk dan sambaran tidak lengkap. Ketika sambaran
lengkap, muatan kecil tampaknya dikosongkan. Akibatnya lidah petir juga terhenti.
Begitu pusat muatan baru terbentuk dan lidah petir terbentuk lagi secara cepat.
Begitu lidah petir mendekati bumi, sambaran ke arah atas terbentuk, biasanya dari
titik tertinggi di sekitarnya bila lidah petir ke arah atas dan ke arah bawah ertemu
seperti terlihat pada gambar 4.
Suatu hubungan awan ke bumi terbentuk dan energi muatan awan dilepaskan ke
dalam tanah. Muatan-muatan dapat terinduksi ke jaringan listrik yang ada di
sekitar sambaran petir ke tanah. Walaupun muatan awan dan bumi dinetralisir
lewat jalur awan ke tanah, muatan dapat terjebak pada jaringan listrik, seperti
terlihat pada gambar 5. Besar muatan yang terjebak ini tergantung pada gradien
mula awan ke bumi dan jarak sambarangan terhadap jaringan. Tegangan terinduksi
pada jaringan listrik dari sambaran ke tempat jauh, akan menjalar sepanjang
jaringan dalam bentuk gelombang berjalan sampai dihilangkan oleh pengurangan
( atennuasi ), kebocoran, isolator rusak/ pecah, atau arrester beroperasi. Bila
sambaran langsung ke jaringan listrik, tegangan naik secara cepat pada titik kontak.
Tegangan ini juga menjalar dalam bentuk gelombang berjalan dalam dua arah dari
titik sambaran, berusaha menaikkan potensial jaringan terhadap tegangan lidah
petir arah ke bawah.
Tegangan ini melampaui ketahanan tegangan jaringan terhadap tanah dari isolasi
sistem dan jika tidak cukup dilengkapi dengan pengaman tegangan lebih, dapat
mengawali kerusakan isolasi. Kerusakan isolasi ( kegagalan ), atau operasi arrester
lebih baik, akan di bentuk suatu jalur dari kawat jaringan ke tanah untuk sambaran
petir. Ini menyempurnakan mata rantai antara awan dan bumi untuk melepas energi
awan dalam bentuk arus surja. Karena titik hubung jaringan ke tanah makin jauh
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

42

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

dari titik kontak sambaran, sebagian kawat jaringan dapat membentuk suatu bagian
dan jurus arus petir.
Arrester surja, dengan karakteristik tembus listrik terkontrol, loncatan listrik
(spark over) terjadi pada tegangan di bawah ketahanan isolasi sistem. Loncatan
listrik yang rendah, tahanan yang rendah selama arus surja mengalir menyebabkan
arrester surja begitu penting dalam sistem distribusi.
Tegangan yang dihasilkan oleh sambaran petir secara karakteristik naik mencapai
nilai puncak secara cepat dan kemudian menurun menuju nol pada laju yang sangat
lambat.
Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tegangan puncak biasanya beberapa mikro
detik atau kurang. Waktu ekor gelombang dapat mencapai sepuluh atau ratusan
mikro detik. Tegangan pada penghantar jaringan distribusi yang tersambar petir
tidak seragam kenaikannya menuju puncak gelombang. Ketika lidah sambaran
mendekati penghantar, terjadi induksi muatan. Ketika lidah ini mendekati
penghantar pada kecepatan 0,3048 m / mikrodetik, terjadi kenaikan tegangan
induksi.
Bila sambaran petir mencapai penghantar, kenaikan tegangan menjadi lebih cepat.
Karena arrester yang biasa dipakai pada jaringan distribusi mempunyai tegangan
pengenal yang rendah, maka bisa saja arrester beroperasi pada tegangan terinduksi
tersebut.
Jadi perbandingan kenaikan tegangan terhadap beroperasinya arrester akan lebih
rendah pada JTM dari pada JTT. Untuk mengetahui ketahanan tegangan isolasi
terhadap tegangan petir, dilakukan uji tegangan impuls di laboratorium. Bentuk
gelombang tegangan impuls ini distandarisir (SPLN) 1,2 x 50 mikrodetik, seperti
terlihat pada gambar 6, bentuk gelombang dan besar arus sambaran petir juga
bervariasi. Hal ini juga telah distandarisir untuk gelombang arus uji yaitu naik dari
nol mencapai nilai puncak dalam 8 mikrodetik dan menurun mencapai nilai
puncak dalam 20 mikro detik sejak awal.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

43

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

+
+ + +
+
++

+++++++++
+

+
+ +
++

++++++++
+

Gambar 2 : Muatan sepanjang pinggir awan menginduksi muatan


lawan pada bumi

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

44

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

++++++++

++++++

Gambar 3 : Lidah petir menjalar ke arah bumi

6.2.

Karakteristik
Tegangan Surja Hubung
Ketika suatu sakelar dalam rangkaian listrik dibuka atau ditutup akan terjadi suatu
transien hubung. Hal serupa juga akan terjadi pada JTM atau JTT. Kombinasi dari
kapasitansi, induktansi dan resistansi JTM secara umum sedemikian rupa sehingga
teganga lebih surja hubung yang merusak isolasi sistem tidak terjadi. Akan tetapi
tegangan lebih surja hubung yang dapat merusak isolasi sistem dapat terjadi akibat dari
pukulan balik ketika proses buka/tutup (switching) saklar bangka kapasitor perbaikan
faktor daya. Pukulan balik yang terjadi pada saat buka/tutup saklar kapasitor
menunjukkan suatu pemakaian tidak sempurna dari saklar. Mengatasi masalah ini
sebaiknya dengan cara mendapatkan saklar yang bebas pukulan balik dan mencegah
tegangan lebih dari pada mencoba mempro-teksinya.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

45

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Ferroresonansi dapat menghasilkan tegangan lebih merusak pada JTM. Tegangan lebih
ini tidak benar-benar transien ( peralihan ) karena bersiklus dan tetap ada dalam periode
panjang. Tegangan lebih ini dapat terjadi ketika kapasitansi dienerjais secara hubungan
seri dengan kumparan primer dari trafo tanpa beban atau berbeban rendah. Ini biasanya
terjadi ketika proses hubung ( switching ) sebagai akibat dari suatu pelebur putus atau
suatu penghantar JTM putus. Penyelesaian dari masalah ini adalah merubah hubungan
jaringan atau merevisi operasi saklar ( switching ) sehingga tegangan lebih tidak dapat
terjadi. Cara ini tidak dapat mengamankan isolasi terhadap tegangan lebih tersebut.
7. PENGAMANAN TERHADAP TEGANGAN LEBIH
7.1.

Pengaman Surja
dari Saluran Distribusi ( Metode Lama ).
Pengaman saluran distribusi menurut metode lama adalah merupakan pengembangan
dari metoda yang digunakan pada saluran transmisi. Ada beberapa metoda pengaman
yang digunakan metoda lama ini, yaitu kawat tanah, kawat netral dan sela batang.
7.1.1. Kawat Tanah ( Overhead Statics )
Metoda pertama yang digunakan untuk pengaman saluran distribusi adalah
kawat tanah. Metoda ini yang biasanya digunakan pada saluran transmisi,
memerlukan ketahanan impuls isolasi sangat tinggi. Untuk saluran distribusi hal
ini tidak mungkin dipenuhi, khususnya pada tempat-tempat peralatan seperti
transformator. Kriteria utama perencanaan dalam mengevaluasi kawat tanah
adalah persoalan back flash over ke tanah. Penggunaan kawat tanah
memerlukan tahanan pentanahan yang sangat rendah untuk setiap struktur dan
ketanahan impuls isolasi yang tinggi. Pada sistem multi grounded Y, kawat
netral dihubungkan pada banyak titik tanah, yang selanjutnya berlaku
mempengaruhi arus petir pada seluruh peralatan di saluran. Dan hasilnya tidak
seberapa untuk mengamankan saluran dari flash over bila arus petir yang besar
mengenai transformator dan peralatan-peralatan.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

46

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

7.1.2. Kawat Netral


Dalam hal ini kawat netral ditempatkan di atas fasa menggantikan kedudukan
kawat tanah. Persoalan sama yang mencakup back flash over juga tetap terjadi.
Penelitian yang telah dilakukan ( di Australia ) menunjukkan bahwa baik kawat
tanah ( di atas kawat fasa ) maupun kawat netral ( di bawah kawat fasa )
keduanya meredam sedikit gelombang surja. Kawat netral di atas kawat fasa
ternyata tidak ekonomis atau tidak merupakan metoda yang baik untuk
melindungi peralatan terhadap sambaran petir.
7.1.3. Sela Batang.
Latar belakang dari metoda ini adalah apabila saluran harus juga flash over,
maka buatlah ketahanan impuls dari saluran tinggi dan buat pada beberapa titik
dari saluran ketahanan impuls yang lebih rendah tersebut yaitu pada sela batang.
Hal ini memerlukan beroperasinya pemutus daya (circuit breaker) untuk
menghilangkan gangguan 50 Hz itu.
Ada beberapa persoalan dengan sela batang ini pertama adalah jarak sela
batang karena hal ini terutam menentukan flash over. Dengan adanya arus
gangguan yang besar bunga api pada sela batang ( rod gap ) bunga api pada alat
tersebut dapat merusak peralatan di sekitarnya.

7.1.4. Arrester Pada Trafo Distribusi


Terminal pentanahan arrester dihubungkan dengan terminal trafo dan terminal
pentanahan netral trafo ( netral ditanahkan langsung ) jika tidak ditanahkan
bersama maka arus surja akan mengalir ke tanah melalui impedansi Z
menyebabkan drop tegangan pada impedansi tersebut sehingga timbul tegangan
tinggi pada kumparan primer trafo karena kumparan sekunder dan tangki
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

47

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

mempunya beda potensial terhadap tanah maka timbul beda potensial di antara
keduanya. Jika ditanahkan bersama seperti Gambar 8, maka akan menurunkan
drop tegangan pada impedansi tersebut. Sehingga menghilangkan beda
potensial yang dihasilkan drop tegangan pada impedansi tanah, lihat gambar 9.
Jika interkoneksi ( solid ) antara tangki dan titik pentanahan bersama tidak
diizinkan dapat digunakan cela antara titik pentanahan dan netral kumparan
sekunder, lihat gammbar 10. Hal ini menyebabkan arus surja dilewatkan melalui
beberapa impedansi pentanahan paralel. Dan bahaya terhadap kerusakan isolasi
diminimalkan walaupun dalam koneksi arus surja besar dan impedansi
pentanahan tinggi.
Arrester dipasang pada tiap-tiap penghantar baik pada trafo tiga fasa maupun
satu fasa untuk sistem Y ditanahkan, lihat gambar 11 untuk seistem delta
arrester pada jaringan tidak ditanahkan.
Tegangan pada arrester adalah tegangan fasa-fasa jika salah satu penghantar
mengalami gangguan fasa ke tanah dan arrester tetap harus dipasang tiap fasa.
Untuk trafo satu fasa juga memerlukan arrester pada tiap kawat fasa di sisi
primer seperti ditunjukkan pada gambar 12.
7.1.5. Arrester pada SUTM
Penempatan arrester pada jaringan dilaksanakan sebagai berikut :
Arrester sedapat mungkin dipasang pada titik percabangan dan pada ujungujung saluran yang panjang, baik saluran utama maupun saluran percabangan,
jarak arrester yang satu dan yang lain tidak boleh lebh dari 500 meter. Jika
terdapat kabel tanah sebagai bagian dari sistem, arrester sebaiknya dipasang
pada ujung kabel. Arrester yang dipasang pada tiap kawat fasa.
7.1.6. Arrester SKTM
Saluran kabel bawah tanah tahan terhadap gangguan petir jika saluran kabel
bawah tanah mulai dari generator sampai pelanggan. Akan tetapi jika SKTM
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

48

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

digabung dengan SUTM, maka petir dapat masuk ke SKTM melalui SUTM
tiang naik.
Jadi arrester harus dipasang pada tiang naik dan di tiap kawat fasa.

Gambar 14 : Tegangan pada SKTM akibat sambaran petir pada SUTM

8. KEGAGALAN PENGAMANAN DAN SEBAB-SEBABNYA.


Pengaman tegangan lebih yang terbaik adalah arrester jika pengaman terpasang tapi alat
yang diamankan juga mengalami kerusakan saat terkena sambaran petir baik langsung
maupun tidak langsung disebabkan oleh kekurangan, antara lain :
a. Arrester.
-

Sambungan kawat arrester pada terminal arrester tidak baik ( tidak cukup
kencang )

Sambungan kawat arrester pada kawat fasa jaringan tidak baik ( tidak cukup
kencang )

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

49

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Sambungan kawat arrester ke terminal tanah arrester tidak baik (tidak cukup
kencang)

Sambungan kawat pentanahan arrester yang satu dengan kawat pentanahan


arrester lain tidak baik ( tidak cukup kencang).

Sambungan kawat pentanahan arrester dengan kawat batang / batang


pentanahan tidak baik ( tidak cukup kencang ).

Tahanan pentanahan arrester lebih besar dari 1 ohm.

Jarak arrester terlalu jauh dari trafo.

Jarak panjang arrester pada tiang yang satu dengan arrester pada tiang yang lain
terlalu jauh.

Arrester tidak bekerja optimal, yaitu walaupun tidak ada petir menyambar
langsung maupun tidak langsung, langsung arrester bekerja. Atau juka ada
sambaran dan arrester bekerja tapi alat yang diamankan juga rusak, ini
disebabkan oleh jarak celah arrester tidak sesuai atau arrester sudah rusak,
karena itu perlu diganti dengan yang baik/baru. Jika arrester meledak karena
terkena sambaran langsung atau tidak langsung baik pada JTM maupun pada
arrester maka berarti arrester tidak dapat bekerja, tidak dapat merubah dirinya
menjadi penghantar lagi jadi arrester harus diganti.

b. Bila turun (trafo, isolator, bushing) Rodgap/Sparkgap.


-

posisi dan jarak antara rod gap pada terminal sekunder trafo GI maupun pada
terminal primer trafo distribusi perlu dikembangkan ke posisi dan jarak semula
yang benar.

Rod gap perlu dibersihkan dari akumulasi kotoran/polusi bushing : tua, kotor,
retak rambut dan lain-lain.

Isolator.
Kotor, jadi perlu dibersihkan dari akumulasi kotoran / polusi.
Retak/pecah, perlu diganti.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

50

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Trafo :
Trafo sudah tua/isolasi kumparan menurun tahanan isolasinya.
Minyak trafo kotor, banyak mengandung bahan konduktif, endapan

karbon

dan uap/air.
Kawat tanah :
Jarak kawat tanah dari kawat fasa kurang dari standar ( sudut perlindungan
maksimum 45o ).
Terjadi perubahan konstruksi JTM karena gangguan alam, tiang miring, dll.
Pentanahan kawat tanah tidak sempurna ( lebih besar dari 1 ohm ) misalnya
sambungan pada konnektor longgar, elektroda bumi berkarat, perubahan kondisi
tanah, dll.
a. Perencanaan salah yaitu penempatan pengaman, jenis/ukuran pengaman,
koordinasi isolasi salah pemilihan dan survey tahanan tanah tidak akurat.
b. Pemeliharaan tidak baik pada jaringan, trafo, penghantar maupun pada alat
pengaman.
Minyak trafo kotor, banyak mengandung bahan konduktif, endapan

karbon

dan uap/air.

I. PENTANAHAN / PEMBUMIAN
I.1 Pengenalan Pentanahan/Pembumian.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

51

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Pada bidang ketenaga listrikan bahaya didefinisikan sebagai bahaya terhadap kesehatan atau
terhadap kehidupan atau akibat sengatan listrik (shock), kebakaran atau luka lainnya pada
manusia / pekerja pada pembangkitan, transmisi, distribusi atau pada pemakai energi listrik
Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa semua peraturan-peraturan keselamatan dari bahaya
listrik dirancang untuk mencegah timbulnya bahaya seperti itu dan salah satu faktor kunci
dalam

setiap

usaha

pengamanan

rangkaian

listrik

adalah

Grounding

(Pentanahan/Pembumian) .
Apabila suatu tindakan pengamanan akan dilaksanakan, terlebih dahulu perlu ada sistim
pentanahan yang dirancang dengan baik, agar sistem pentanahan dapat bekerja efektif, perlu
memenuhi syarat-syarat berikut

Sistem pentanahan yang dipasang dapat membuat jalur impedansi yang rendah ke tanah
untuk maksud pengamanan personil dan peralatan serta mengurangi gangguan interferensi
radio komunikasi.

Sistem pentanahan dapat menyebarkan arus surja dan arus gangguan yang berulang.

Sistem pentanahan yang dipasang menggunakan bahan tahan korosi terhadap berbagai
kondisi kimiawi tanah untuk meyakinkan kontinuitas penampilannya sepanjang umur
peralatan yang diamankan.

Sistem pentanahan menggunakan sistem mekanik yang kuat namun mudah dalam
pemasangan.

Sebelum mengenal system pentanahan sebaiknya mengetahui istilah-istilah pentanahan/


pembumian :
a. Elektrode Pentanahan (Earth Electrode).
Adalah penghantar/saluran yang ditanam didalam tanah dengan kedalaman tertentu sesuai
tujuan dan membuat kontak langsung dengan tanah. Elektrode ini dapat berbentuk pipa, besi
siku, besi pita, kawat pilin, pelat baja, beton eser bahkan jaringan pipa air juga dapat dipakai
sebagai elektrode pembumian.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

52

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

b. Tanah Referensi (Reference Earth).


Karena tanah mempunyai tahanan jenis (specific earth resistivity) tertentu, misal 10.000 Cm, maka dengan mengalirnya arus didalamnya terjadilah beda potensial/tegangan antara
suatu titik ditanah dan titik lainnya yang lebih jauh dari elektroda, ke padatan arusnya makin
berkurang, maka beda potensial/tegangan antara dua titik dengan jarak tertentu juga makin
berkurang. Sehingga dapat dibayangkan untuk daerah yang cukup jauh dari elektrode, beda
tegangan itu praktis sudah tidak ada.
Daerah demikian disebut tanah referensi. Jadi tanah referensi (reference earth) adalah daerah
di tanah, khususnya dipermukaan, yang sedemikian jauhnya dari elektrode pentanahan yang
bersangkutan, sehingga tidak ada beda tegangan yang berarti antara titik dimana saja dalam
daerah itu.
c. Gradien Tegangan (Potential Gradient).
Beda potensial/tegangan di tanah, khususnya dipermukaan tanah disekitar elektrode
pembumian yang terjadi akibat mengalirnya arus dari elektroda itu ketanah disekitarnya,
disebut gradien tegangan (potential gradient).
Sebagai contoh, gradien tegangan pada tanah dipermukaan disekitar elektroda pipa.
d. Tegangan Elektroda Pentanahan/Pembumian (Earth Electrode Voltage)
adalah tegangan antara elektroda tersebut dan tanah referensi, yang timbul akibat
mengalirnya arus dari elektroda itu ke tanah disekitarnya.
e. Tegangan langkah (Step Voltage).
Adalah sebagian dari tegangan elektroda pentanahan yang dapat dijembatani oleh orang
dengan langkah sebesar kira-kira 1 meter, atau tegangan antara dua titik di tanah yang
berjarak satu langkah ( 1 meter) dalam arah radial terhadap elektroda pembumian. Jika
tegangan langkah disekitar elektroda pembumian itu terlalu besar, sehingga membahayakan

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

53

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

orang yang kebetulan berada diatasnya, maka tegangan langkah itu dapat dikurangi
memasang elektroda pengontrol gradien tegangan.
f. Tahanan Elaktroda Pembumian (Earth Electrode Resistance).
Adalah tahanan dari tanah antara elektroda atau sistem pembumian dan tanah referensi.
g. Sistem Pembumian.
Untuk memperolah tahanan elektroda pembumian yang lebih rendah, dapat dipakai beberapa
elektroda pembumian yang dihubungkan satu sama lain (paralel) yang merupakan satu
sistem pembumian.
h. Tahanan Pembumian (Earthing Resistance).
Adalah jumlah dari hasil tahanan elektroda pembumian dan tahanan hantaran pembumian.
i. Tahanan Pembumian Total.
Adalah tahanan pembumian dari keseluruhan sistem pembumian yang terukur di suatu titik.
Contoh :
Sebagai contoh diambil sebuah elektroda pipa dengan diameter 2a = 5 Cm, panjang L = 5 m,
dan dimissalkan keadaan tanahnya homogen dengan tahanan jenis 4.000 -Cm. Pipa
tersebut ditanam tegak lurus kedalam tanah dengan ujungnya persis menyembul
kepermukaan tanah, maka untuk daerah disekitar pipa dan cukup dekat dengan pipa, arah
arusnya akan radial homogen, sehingga bidang-bidang ekipotensial disekitarnya akan
berbentuk silinder yang konsentris dengan poros pipa.
I.2. Tegangan Gangguan.
Dalam suatu motor yang di suplai dari sistem 3 phasa yang netralnya ditanahkan disumber.
Badan dari motor itu dihubungkan oleh hantaran pengaman ke elektroda pembumian.
Jika terjadi kegagalan isolasi pada motor itu (disebut terjadi gangguan tanah), maka
mengalirlah arus gangguan IF kebumi, sehingga timbulah tegangan gangguan (U F). Sedangkan
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

54

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

badan dari lampu yang tidak dibumikan, sehingga jika terjadi kegagalan isolasi, maka badan
dari lampu itu (yang konduktif) akan bertegangan sama dengan tegangan sistem itu ke
tanah/bumi.
Jadi tegangan gangguan adalah tegangan antara bagian konduktif yang tidak merupakan bagian
sirkit, dan tanah referensi yang timbul karena terjadinya gangguan.
I.3. Daerah Tahanan/Daerah Gradien tegangan.
Di tempat orang berpijak pada jarak kurang dari 20 meter terhadap elektroda pembumian,
sehingga pada waktu ada gangguan (mengalir arus gangguan I F), pada tempat kaki berpijak atu
akan mengalami kenaikan tegangan pula terhadap tanah referensi.
Daerah demikian disebut daerah Tahanan atau Daerah Gradien Tegangan. Jadi daerah
Tahanan atau daerah gradien Tegangan suatu elektroda pembumian itu dan tanah referensi yang
akan mengalami kenaikan tegangan terhadap tanah referensi akibat mengalirnya arus melalui
elektroda itu ke tanah.
I.4. Tegangan Sentuh.
Jika orang itu kebetulan menyentuh badan dari motor itu pada waktu ada gangguan, maka
orang itu akan terkena Tegangan Sentuh (US) yang kurang dari tegangan gangguan.
Jadi tegangan sentuh adalah sebagian dari tegangan gangguan atau sebagai dari tegangan
elektroda pembumian yang dapat dijembatani oleh manusia. Dalam lantai tempat orang
berpijak terisolasi dari tanah, jadi tegangan sentuh terjadi antara badan dari alat yang terganggu
(lampu) dan benda lain (kran air) yang di bumikan.
Jika seorang manusia bersepatu/bersandal karet sehingga kaki orang itu terisolasi dari tanah
secara baik, maka orang itu tidak akan merasakan jika pada waktu yang bersamaan kebetulan
dia menyentuh benda lain yang dibumikan. Jika tahanan isolasi sepatu/sandal itu kira-kira sama
dengan tahanan tubuh orang, maka tegangan sentuh yang dia rasakan kira-kira separuhnya.
Tetapi dalam masalah tindakan pengamanan, pada umumnya yang diperhitungkan adalah
keadaan yang seburuk-buruknya, ialah orang tidak bersepatu, lantai tempat berpijak tidak
terisolasi dan diluar daerah tahanan dari elektroda pentanahan yang bersangkutan.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

55

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Dari tabel diatas dapat dilukiskan profil tegangan gradien. Dari profil tegangan gradien tersebut
dapat dicatat antara lain:
- Pada jarak kira-kira 1 meter dari pipa, tegangan terhadap tanah referensi sudah
tinggal kira-kira 50% UE.
- Pada jarak 2 meter dari pipa, tegangan tersebut tinggal 1/3 UE (66% UE).
- Pada jarak 6 meter dari pipa, tegangan tersebut tinggal 18% UE.
Catatan tersebut diatas hanya berlaku untuk elektroda pipa tunggal.
Tahanan elektroda pembumian :
2.000 dr

2.000

ln
RE =

2L 2 ,5 r
2L
2,5

RE =

1.000
x 6,685
2 500

RE = 8,5
Daya konduktif dari tanah pada dasarnya bersifat elektrolitis, oleh karena itu tahanan jenis
tanah, selain tergantung dari jenid tanahnya juga sangat tergantung pada banyaknya air yang
dikandungnya (kebasahannya), komposisi serta konsentrasi garam-garam yang larut
didalamnya.
Oleh karena itu tahanan pembumian suatu elektroda berubah-ubah tergantung pada keadaan
musim.

II. NEUTRAL GROUNDING


II.1 Pentanahan/pembumian (Earthing) :
-

Sistem tenaga listrik.

Peralatan (badan peralatan listrik).

Tujuan : Untuk mengamankan peralatan dan Manusia terhadap bahaya kelistrikan.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

56

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Tujuan Pembumian peralatan ialah untuk mengamankan manusia terhadap bahaya tegangan
sentuh.
Tujuan pembumian sistem kelistrikan ialah untuk mengamankan sistem tenaga kelistrikan dari
mulai pembangkitan sampai dengan pembebanan di konsumen.
Sistem tenaga listrik adalah sekumpulan unit-unit pembangkit yang mensuplai ke pusat-pusat
beban melalui sarana (transmisi, distribusi) dengan tegangan yang berbeda-beda.
Unit pembangkit dan pusat beban perlu ditanahkan/dibumikan karena untuk menghindarkan
bahaya-bahaya yang ditimbulkan dikemudian hari baik terhadap makluk hidup maupun
peralatan peralatan yang tersambung pada sistem tenaga listrik tersebut.
Sistem yang perlu dibumikan adalah:
-

Pusat pembangkit : PLTA, PLTU, PLTG, dll.

Gardu Induk : Gardu Induk Konvensional maupun GIS.

Gardu distribusi (Trafo) dll.

Urutan urutan Pembumian :


-

Jaringan Tegangan Rendah (JTR).

Jaringan Tegangan Menengah (JTM).

Jaringan Transmisi (SUTT, SUTET dll).

Pembangkitan (Generator) isolatet.

Proteksi :
-

Relaying.

Grounding.

Surge protection.

Tegangan Rendah :
-

380/220 Volt, tujuannya untuk mengamankan makluk hidup (manusia/binatang) terhadap


tegangan sentuh.

II.2 Pengamanan Terhadap Tegangan Sentuh.


Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

57

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Standar IEC.TC 64 (working Group/WG) telah mengeluarkan IEC report.


Effects of current passing Through a Body.

t msec
b

5000
1

1000

100

10

0,5

10

1000

mA

Keterangan :
-

Zone 1 : Usually no reaction effect.

Zone 2 : Usually no pathophysiologi cally dangerous effect let go current kira-kira


10 mA; > 10 mA otot-otot tidak dapat digerakan.

Zone 3 : Usually no danger of fibrillation.

Zone 4 : fibriation possible (up to 50 % probability).

Zone 5 : Fibriation danger (more than 50% probability).

Dalam suatu system tenaga listrik yang berbahaya adalah arusnya (selama tegangan saja yang
mengenai makluk hidup tsb tidak ada masalah, selama arusnya listriknya tidak mengalir ke
tubuh, maka makluk tersebut tidak apa-apa/selamat).
IEC (International Electric Comission); TC (Technic Comission).

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

58

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

IEC Publication 364 4 41


Table 41 A.
Maximum Touch Voltage Duration
Max. Disconnecting

Prospective Touch Voltage


AC rms (V)

Time (sec)
~

DC (V)

50

120

50

120

75

140

0,5

90

160

0,2

110

175

0,1

150

200

0,05

220

250

0,03

280

310

Tahanan Tubuh
Tegangan sentuh (Volt)
25

Ohm ()
2500

50

2000

200

1000

asymtote

650

Asumsi untuk tegangan sentuh :


Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

59

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Dari ujung tangan ke ujung tangan .

Dari ujung tangan ke kaki.

Berat badan 50 kg (laki-laki).


Arus I =

V
Ampere.
tahanan.tubuh

c2

c1

1.000

Aspek-aspek lain yang harus diperhatikan :


-

probability terjadinya gangguan.

Probability terjadinya sentuhan.

Tecnical feasibility.

Economic.

Cara-cara pengamanan terhadap tegangan sentuh :


a. Sentuhan langsung.
b. Sentuhan tidak langsung.
Sentuhan langsung : sentuhan pada peralatan yang dalam keadaan normalnya bertegangan.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

60

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Sentuhan tak langsung : sentuhan pada badan peralatan yaitu bagian sirkit yang dalam keadaan
normalnya tidak bertegangan, tetapi bisa menjadi bertegangan bila terjadi kegagalan isolasi.

1. Pengamanan Terhadap Sentuhan Langsung.


a.Pengamanan dengan isolasi (isolasi pada bagian-bagian aktif)
b.

Selungkup.

c.Penghalang.
d.

Penempatan diluar jangkauan tangan.

e.Pengamanan tambahan dengan saklar pengaman arus tanah (spat), ELCB (Earth Leakage
Circuit Breaker).
2.

Pengamanan Terhadap Sentuhan Tak Langsung.


a. Pengamanan dengan pemutusan otomatis dari supplai.
b. Isolasi pengaman.
c. Alas isolasi / karpet .
d. Hubungan equipotensial (Earth Free Equipotensial Bonding).
e. Pemisahan pengaman.

3. Isolasi pengaman yang mengisolir badan, sehingga orang yang bekerja tidak menyentuh.
Misal : peralatan kerja (Bor listrik, Gergaji listrik, gerinda listrik dll)
4. Alas isolasi
Semua lantai diberi alas karet agar supaya pekerja dengan tanah tidak berhubungan
langsung.
5. Earth Free Equipotensial Bonding.
Pada bodi peralatan langsung dihubungkan dengan tanah melalui kabel grounding dll.
6. Pemisahan pengamanan.
Digunakan Trafo dengan tegangan primer-skunder besarnya sama.
7. Pengamanan terhadap sentuhan langsung ataupun tak langsung.
Tegangan Extra Rendah.
Misal : 48, 24, 12, dan 6 Volt dibawah 50 Volt
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

61

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

220 Volt

terpisah

24 Volt

M
G

Dipakai pada : children toy, accumulator, pemeras susu, pemotong bulu domba dll.

V. SISTEM PENTANAHAN INSTALASI


V.1 Sistem Pentanahan Instalasi.
Pada sistim tenaga listrik pentanahan dapat dibedakan dalam dua macam yaitu

Pentanahan Perlengkapan ( Equipment Grounding ) .

Pentanahan Netral Sistim ( Neutral Sistim Grounding ).

Pentanahan Perlengkapan (Equipment grounding) adalah penghubungan ke tanah dari bagianbagian metal yang tidak bertegangan / tidak membawa arus pada semua perlengkapan yang
berhubungan dengan sistem tenaga listrik dan hal ini mutlak diperlukan tanpa memperdulikan
apakah titik netral sistimnya ditanahkan atau tidak baik pada stationer equipment atau portable.
Contoh Metal Equipment :
Lemari kontrol, Tangki trafo, Rangka motor, Tiang, PHB

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

62

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Tujuannya mencegah timbulnya / terjadinya tegangan sentuh yang membahayakan manusia


pada saat terjadi gangguan tanah serta memperendah impedansi hubung tanah sehingga alatalat pengaman dapat dengan segera memutus arus hubung tanah (gangguan)
Komponen pentanahan untuk grounding equipment

Elektrode

Bus ( Rel ) Pentanahan

Penghantar Pentanahan

Pentanahan Netral Sistim ( Neutral Systim Grounding) adalah penghubungan netral ke tanah
Dilingkungan PLN pentanahan untuk sistim yang bertegangan rendah diatur pada suatu standar
SPLN no 3 tahun 1978 . Dimana pentanahan sistim yang dimaksud dalam hal ini adalah
pentanahan netral sistem dengan sistim Pentanahan Netral Pengaman yang disingkat dengan
istilah PNP yang didefinisikan sebagai suatu sistim pentanahan dengan suatu tindakan
pengamanan dengan cara menghubungkan instalasi yang diamankan atau badan peralatan
dengan hantaran netral yang ditanahkan ( disebut hantaran Nol ) dengan begitu rupa sehingga
jika terjadi kegagalan isolasi tercegahlah bertahannya tegangan sentuh yang terlalu tinggi
karena pemutusan arus oleh alat pengaman arus lebih
Dalam SPLN No 3 tahun 1978 disebutkan standar tersebut dimaksudkan untuk melengkapi
peraturan listrik dan syarat-syarat sambungan listrik yang mencakup :

Jaring tegangan rendah fasa tunggal, bertegangan 220 v dan 2 x 220 volt fasa tunggal

Jaring Tegangan Rendah fasa tiga bertegangan 220 / 380 V

Semua instalsi baik fasa tunggal 220 V fasa netral maupun fasa tiga 220 / 380 volt
Dimana tahanan jenis tanah suatu daerah akan menentukan kebijaksanaan PLN dalam
rangka merancang sistim pentanahan
Mengacu pada standar SPLN No 3 tahun 1978 ini semua JTR dan Instalasi harus
menggunakan pentanahan netral pengaman di mana :

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

63

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Titik netral sistim (titik netral kumparan tegangan rendah transformator atau kumparan
generator) di tanahkan dengan elektroda tanah sesuai sub ayat 24,6 ketentuan ini . Hantaran
pentanahan dapat dihubungkan pada titik netral sistem di gardu transformator, bila
elektroda tanah tidak mungkin di pasang di gardu transformator (misalnya dalam keadaan
dimana pentanahan sistem tegangan rendah harus terpisah dari pentanahan sistem tegangan
menengahnya), maka elektroda tanah dapat dipasang disetiap tiang pertama JTR.

Hantaran netral disemua tiang akhir JTR harus di tanahkan dengan elektroda tanah sesuai
sub ayat 24.6 ketentuan ini

Semua PHB harus ditanahkan sesuai dengan sub ayat 24.6 ketentuan ini

Interkoneksi hantaran netral dari gardu transformator yang satu dengan yang lainnya
diperkenankan. Interkoneksi ini menyebabkan nilai tahanan keseluruhan menjadi lebih
rendah.
Dalam ketentuan ini persyaratan pentanahan sistem ditentukan sedemikian rupa tergantung
pada penggunaan jenis jaringannya dan jenis jaringan tegangan rendah di wilayah PLN
dapat terbagai dalam 4 macam hal ini ditinjau dari

konstruksi sistem dan sistem

pentanahan netral sistemnya yaitu :

Jaringan dengan pentanahan pengaman JTR dan JTM terpisah dan tiang-tiang JTR dan
JTM terpisah (disebut type A)

Jaringan dengan pentanahan pengaman JTR dan JTM digabunghan dimana JTM adalah
Kabel tanah (disebut type B)

Jaringan dengan pentanahan JTR dan JTM yang digabungkan dimana JTR dan JTM
tepasang pada tiang tiang yang sama (disebut Type C)

Jaringan diaman JTR dan JTM mempunyai Hantaran netral bersama (type D)

Untuk jaringan dengan type A berlaku ketentuan sebagai berikut :


Tahanan pentanahan menyeluruh hantaran netral JTR yang telah tersambung pada
transformator, tiang akhir dan PHB utama besarnya maksimum 5 ohm .
Pada keadaan khusus misalnya JTR dengan transformator berkapsitas kecil (Maksimum 50
kVA , fasa tunggal atau 150 kVA fasa- tiga ), Jumlah konsumen masih rendah dan tahanan
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

64

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

jenis tanahnya tinggi sehingga sukar didapat harga 5 ohm tahanan menyeluruh diperkenankan
maksimum 10 ohm
Untuk macam B berlaku ketentuan :
Pada keadaan pentanahan bersama dari macam B ini dilepas nilai pentanhan JTR nya sama
dengan macam A
Untuk macam C berlaku ketentuan :
Nilai tahanan pentanahan menyeluruh maksimum 0,2 ohm . ketentuan ini hanya berlaku bagi
sistim dengan arus gangguan satu fasa ketanah di JTM tidak lebih besar dari 300 Amper Untuk
sistem dengan netral JTM di tanahkan dengan tahanan yang tinggi berlaku ketentuan macam
A
Untuk macam D berlaku ketentuan :
Bagi sistem yang hantaran netral JTR dihubungkan / dijadikan satu dengan hantarn netral JTM
berlaku ketentuan bahwa :
Hantaran netral yang dimaksud mempunyai pentanahan sekurang kurangnya 4 buah untuk
setiap mile (1,609 km ) dan besar tahanan pentanahan setiap elektrodanya adalah 25 ohm atau
dengan kata lain pentanahan menyeluruh dari hantaran netral tersebut adalah 6,25 ohm untuk
setiap milenya pentanahan ini tidak termasuk pentanahan yang terdapat pada masing-masing
PHB utama
Pada JTR interkoneksi hantaran netral JTR dari gardu yang satu dengan yang lain
diperkenankan dan interkoneksi ini dapat menurunkan nilai tahanan pentanahan menjadi lebih
rendah.
Hantaran netral untuk SLP dan SMP

Hantaran Netral untuk SLP

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

65

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Jika Sambungan luar Pelayanan (SLP) bukan dari jenis hantaran terlindung baik secara elektris
maupun mekanis seperti hantaran terbuka atau NYA maka penampang minimum hantaran
netralnya sama dengan penampang minimum hantaran fasanya yaitu (6 mm2 tembaga).
Jika SLP menggunakan jenis hantaran terlindung seperti NYY , maka penampang minimum
hantaran netralnya sama dengan penampang minimum hantaran fasanya yaitu (4 mm 2
tembaga).
Jika digunakan hantaran Aluminium diatur dengan ketentuan tersendiri
Hantaran Netral untuk saluran masuk pelayanan (SMP) terdiri dari jenis hantaran terlindung
(seperti NYA) yang terpasang pada pipa instalasi penampang minimum hantaran netralnya
adalah sama dengan penampang minimum hantaran fasanya yaitu 4 mm2 tembaga
Khusus untuk Listrik Pedesaan dimungkinkan SMP dengan penampang 2,5 mm 2 yaitu jika
instalasinya hanya terdiri dari satu kelompok
V.2 Pentanahan Perlengkapan Lain

Kotak Alat Pembatas dan Pengukur

Kotak alat pembatas dan pengukur dari bahan logam harus diperlengkapi dengan terminal
pentanahan.
Kotak alat pembatas / Pengukur harus ditanahkan dengan cara menghubungkan kotak tersebut
dengan hantaran netral.

Hantaran Hubung.

Persyaratan hantaran hubung alat pembatas / pengukur sama seperti yang berlaku bagi saluran
masuk pelayanan.

PHB Utama.

PHB utama dari bahan logam harus dilengkapi dengan terminal atau jalur terminal pentanahan.
Pelaksanaan penyatuan hubungan antara :
Hantaran netral, hantaran pentanahan , hantaran pengaman instalasi dan PHB utama sendiri
harus dilakukan didalam PHB Utama pada terminal pentanahannya
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

66

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Jika PHB bukan dari bahan logam maka kerangka yang terbuat dari logam harus ditanahkan
Terminal atau jalur terminal tersebut harus dilengkapi dengan mur baut agar hubungannya
dapat dilepas waktu pemeriksaan

Elektroda Tanah PHB Utama

Elektroda tanah yang digunakan untuk pentanahan titik netral transformator, tiang akhir , PHB
Utama dan Tiang-tiang JTR atau JTM lainnya harus memenuhi surat edaran No 024/PST/70
buku normalisasi No 03-1-92 dengan panjang 2,75 meter . Kemungkinan untuk menggunakan
bahan atau ukuran yang berlainan ditentukan oleh PLN Wilayah/ Distribusi masing-masing.
Khusus bagi sistem yang hantaran netral

JTR

nya dihubungkan dijadikan satu dengan

hantaran netral JTM berlaku ketentuan bahwa nilai tahanan pentanahannya :


Tidak melebihi 3 ohm bila digunakan pipa saluran air minum sebagai elektroda
Tidak melebihi 25 ohm bila digunakan elektroda tanah jenis lain
Bila dengan sebuah elektroda tanah tidak dapat dicapai nilai 25 ohm, dapat menyimpang dari
ketentuan ini tetapi harus digunakan dua atatau lebih elektroda tanah dengan jarak satu sama
lain tidak kurang dari dua meter
Hantaran pentanahan PHB utama harus dari jenis yang terlindung dari gangguan mekanis
misalnya dengan pipa atau NYY dengan penampang minimum 6 mm2
Jika hantaran fasa saluran masuk pelayanan lebih besar dari 6 mm 2 ( tembaga) maka
penampang hantaran pentanahan harus sama dengan hantaran fasanya tetapi tidak perlu lebih
dari 50 mm2 (tembaga) dan nilainya harus diukur secara berkala.

Hantaran Pengaman

Instalasi dengan hantaran netral tidak lebih dari 10 mm2, maka hantaran netralnya dapat
dipergunakan sebagai hantaran pengaman.
Bila hantaran netralnya lebih kecil dari 10 mm2 diperlukan hantaran penagaman tersendiri yang
besarnya sama dengan penampang netralnya.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

67

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Jika terdapat alat-alat khusus misalnya pemanas di kamar mandi sebaiknya dilakuka
pentanahan hantaran pengaman alat tersebut.
Jika instalasi dengan beberapa bangunan dimana masing-masing bangunan mempunyai satu
PHB atau lebih maka satu PHB dari masing-masing bangunan harus ditanahkan lengkap
dengan hantaran pentanahan dan elektroda tanah.
Hantaran pengaman harus dari jenis hantaran yang terlidung dan berisolasi seperti hantaran
fasanya.

Pengamanan massa terbuka

Massa terbuka seperti tersebut dibawah ini harus disambung pada hantaran pengaman
- Pipa instalasi dari logam.
- Langit-langit rumah dari logam.
Armatur logam yang tergantung tidak perlu ditanahkan.
Kotak kontak (Stop kontak) harus dilengkapi kontak pengaman dengan sedemikian rupa
sehingga peralatan yang tersambung pada kotak kontak tersebut otomatis tersambung pada
hantaran pengaman.
Semua logam yang terhubung baik dengan tanah dan ada dibawah JTR terbuka antara lain
jaring pipa air pagar dsb. Harus tersambung pada hantaran netral atau hantaran pentanahan
terdekat.

Hubungan Instalasi dengan pentanahan. Peralatan pentanahan konsumen merupakan bagian


yang tidak terpisahkan dari instalasi.
VI. SISTEM PEMBUMIAN NETRAL PENGAMAN (PNP).

VI.1 Sistem PNP.


Dalam sistim ini Bagian Konduktor Terbuka (BKT) peralatan / perlengkapan dihubungkan
dengan penghantar netral yang dibumikan (penghantar nol) sedemikian rupa sehingga bila
terjadi kegagalan isolasi tercegahlah bertahannya tegangan sentuh yang terlalu tinggi karena
bekerjanya pengaman arus lebih.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

68

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Macam sistim pentanahan PNP adalah :


a). Sistim PNP dengan penghantar netral yang sekaligus berfungsi sebagai penghantar
pengaman seluruh sistim (penghantar yang lebih besar dari 10 mm2 tembaga). Lihat gambar 1
C2.
b). Sistim PNP dengan penghantar netral dan pengaman sendiri-sendiri diseluruh sistim (untuk
penghantar yang lebih kecil dari 10 mm2 tembaga), disebut juga sistim 5 kawat. Lihat gambar
1 C 1.
c). PNP sistim dengan penghantar netral yang sekaligus berfungsi sebagai penghantar
pengaman yang disebagian sistem, sedangkan dibagian sistem lainnya, penghantar netral dan
pengaman terpisah sendiri-sendiri. Lihat gambar 1 C 3.
VI.2 Persyaratan Umum PNP.
a). dalam PUIL 1987 pasal 313. B.1, luas penampang penghantar antara sumber atau trafo dan
peralatan listrik, harus sedemikian, sehingga bila terjadi hubung singkat antara fasa dan
hantaran nol atau badan peralatan, arus gangguan besarnya paling sedikit sama dengan arus
pemutus alat pengamannya yang terdekat yaitu : IA = k IN, dimana k adalah factor yang
harganya tergantung kepada karakteristik alat pengamannya.
b). Penghantar nol setidak-tidaknya harus dibumikan di sumber, disetiap percabangan saluran,
disetiap ujung saluran dan juga setiap pelanggan.
Tahanan pembumian total hantaran nol (RNE) harus tidak melebihi 5 ohm, dengan alas an bila
terjadi gangguan ketanah yang biasanya melalui tahanan gangguan RG, maka penghantar
netral akan mengalami kenaikan tegangan sesuai persamaan berikut (tahanan penghantar
diabaikan) :

VNE =

R NE
x 220Volt
R NE RG

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

69

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Pada umumnya harga tahanan gangguan yang kurang dari 17 ohm jarang terjadi, maka besar
kenaikan tgangan netral adalah :
V NE

5
X 220Volt 50Volt
5 17

Batas tegangan sentuh yang aman menurut PUIL atau IEC adalah 50 Volt.
VI.3 Sistem PNP untuk JTR dan Instalasi Pelanggan di PLN
Di JTR penghantar netral sekaligus berfungsi sebagai hantaran pengaman dan dibumikan
disepanjang saluran. Titik bintang trafo distribusi dibumikan. Di instalasi pelanggan, mulai dari
PHB utama penghantar pengamannya terpisah tersendiri dari netralnya pengamannya, bila
penampangnya kurang dari 10 mm2.
Setiap pelanggan diharuskan memasang sebuah elektroda pembumian yang melalui hantaran
pembumian tersambung ke rel / terminal pengaman ini dihubungkan dengan rel / terminal
netral PHB.
Maksud pembumian ganda pada penghantar netral sepanjang JTR dan pembumian disetiap
pelanggan adalah untuk :
-

Mencegah terjadinya tegangan yang terlalu tinggi pada hantaran netral termasuk juga
badan peralatan bila terjadi gangguan satu fasa ketanah ataupun hubungan singkat fasa
netral, ataupun kegagalan isolasi peralatan.

Mencegah terjadinya kenaikan tegangan yang terlalu tinggi akibat terputusnya


penghantar netral, pada pelanggan yang netralnya terpisah dari sumber / gardu.

Mencegah kenaikan tegangan kawat netral, termasuk juga badan peralatan, dalam hal
ada arus netral akibat beban yang tak seimbang.

Untuk mencegah kenaikan tegangan yang terlalu tinggi pada kawat netralnya, bila
JTR yang ada dibawah JTM menyentuh JTM.

Dengan tersambungnya penghantar pengaman ke netral maka bila terjadi kegagalan isolasi
pada peralatan, maka arus gangguan akan lebih terjamin cukup besarnya sehingga alat selalu
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

70

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

bekerja / putus dengan cepat, sebab dalam hal ini penghantar netral merupakan jalan kembali
yang baik, tidak hanya tergantung pada elektroda pembumian seperti dalam sistim PP.
Tegangan sentuh yang terjadipun relative lebih rendah dari sistim PP.

PHB
Rel pengaman

Pentanahan
pengaman

Peralatan

Electrode
pembumian

Gambar 3.2
Sistim PNP pada instalasi pelanggan.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

71

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

VI.4 Bahaya Putusnya Penghantar Netral Pada Sistim PNP.


Bila penghantar netral putus, arus beban masih mungkin mengalir melalui tanah, akibatnya
akan terjadi kenaikan tegangan pada penghantar netral. Karena pengaman peralatan pelanggan
terhu8bung kenetral, maka kenaikan tegangan netral tersebut akan dirasakan dibadan peralatan
pelanggan. Hal ini dapat membahayakan pelanggan.
Bila pembumian netral yang seharusnya dilakukan dititik-titik tertentu (di netral trafo
distribusi, di tiang awal, tiang akhir) tidak dilakukan maka pada saat terjadi penghantar netral
putus akan terjadi kenaikan tegangan pada fasa-fasa yang berbeban rendah dan penurunan
tegangan pada fasa yang berbeban tinggi, di jaringan yang penghantar tidakterhubung pada
sumber . Berikut akan dilihat beberapa kasus terputusnya kawat netral dan bahayanya :
Kasus a : Penghantar netral putus pada instalasi pelanggan yaitu antara PHB dan
peralatan listrik.
Jalan balik bagi arus netral terputus, sehingga peralatan listrik tidak bias hidup. Kedua terminal
alat listrik akan bertegangan 220 Volt. Bahaya lainnya tidak ada.
Kasus b : Penghantar netral sambungan pelayanan terputus pada pelanggan satu fasa.
Jalan balik bagi arus beban adalah melalui tanah setelah melalui hantaran pembumian
elektroda pembumian pelanggan, badan peralatan yang dibumikan akan bertegangan sebesar
VB I B XRE Tegangan sentuh bila seseorang menyentuh peralatan tersebut

adalah : VS

RE
X 220V
RE RB

RE adalah tahanan total dari semua peralatan yang dihidupkan.

Tegangan Vs diatas akan terasa pada semua alat yang badannya tersambung kenetral melalui
penghantar pengaman, baik yang dihidupkan maupun tidak,
Pelanggan sedang menghidupkan peralatan yang terdiri dari atas seterika 500 watt, pemanas air
700 watt dan mempunyai Rg = 20 ohm.
Maka :
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

72

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2202
40,33
700 500

RB

20
X 220V 73Volt
20 40,33

VS

Tegangan sebesar ini akan terasa pada semua alat yang badannya terhubung terhu bung
kenetral melalui penghantar pengaman baik yang dihidupkan atau tidak.
Menurut ketentuan tegangan sentuh dibatasi sampai 50 Volt untuk waktu yang tak terbatas.
Untuk mendapatkan harga ini RE perlu diturunkan. Hubungan besar RE dan besar RB dapat
diturunkan dari persamaan diatas :
RE
X 220V 50Volt
RE RB

VS

50 RE RB 220 RE
RE

Atau

50
50
2202
RB
X
170
170
VA

RE x VA = 14235

Dari hubungan tersebut dapat dibuat table :


DAYA ( VA )
450

RE ( Ohm )
31,6

900

15,8

1300

11

2200

6,5

4400
3,2
Hubungan antara besar daya tersambung pelanggan 1fasa dan tahanan pembumian agar
diperoleh tegangan sentuh yang aman pada saat sambungan pelayanan putus.
Dari table ini dapat dilihat makin besar daya pelanggan, harus semakin baik tahanan
pembumiannya agar pada saat netral putus tidak terjadi kenaikan tegangan badan peralatan.
Kasus c : Penghantar netral sambungan pelayanan terputus pada pelanggan tiga
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

73

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Fasa.
Bila beban pelanggan tiga fasa terbagi rata pada setiap fasa arus yang melalui penghantar
netral diterminal netral PHB akan saling menetralisir, sehingga arus netral yang keluar dari
terminal PHB akan = 0 . Tetapi hal seperti ini jarang terjadi.
Bila beban tidak seimbang kasus bahaya yang sama seperti butir b akan terjadi. Arus netral
yang diteruskan ketanah adalah :
IE = I R + I S + I T
Tegangan badan perlatan yang tersambung ke netral melalui penghantar pengaman adalah :
VE = IE X RE
Jadi semakin besar arus ketidak seimbangan akan semakin besar tegangan VE.
Bila putusnya netral ini terjadi pada pelanggan yang pentanahan netralnya tidak ada,
sedangkan netral instalasi dan penghantar pengaman tetap dihubungkan diterminal netral PHB,
maka bila bebannya tidak seimbang badan peralatan akan menjadi bertegangan. Disamping itu
sebagian peralatan akan tersambung pada tegangan yang lebih besar dari 220 Volt. Hal ini
tentu saja dapat merusak peralatan pelanggan yang bersangkutan.
Kasus d : Penghantar metral JTR tiga fasa didekat gardu distribusi putus.
Disebelah hilir dari titik putus terdapat sejumlah pelanggan. Arus balik yang melalui netral
akan melewati tahanan pembumian ekivalen RE, yang merupakan gabungan dari tahanan
pembumian (di PHB pelanggan dan di JTR) yang terdapat disebelah hilir titik gangguan. Bila
beban ada dalam keadaan seimbang, arus yang melalui netral ini kecil dan kondisi ini tidak
membahayakan.
Bila beban ada dalam keadaan tak seimbang bahaya yang sama seperti kasus c akan terjadi.
Hal yang sama akan berlaku juga bila kawat netral putus ditempat lain di JTR. Pada bagian
dibelakang netral yang putus tidak akan terjadi hal yang membahakan selama beban dalam
keadaan seimbang. Bila beban tak seimbang akan terjadi kenaikan tegangan pada badan
peralatan yang tersambung ke netral melalui penghantar pengaman sebesar :
VE = IE X RE
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

74

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Kasus e : Penghantar netral JTR tiga fasa ditiang terakhir putus.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

75

PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan

Hal seperti pada butir d diatas akan terjadi juga bila penghantar ditiang akhir dibumikan secara
baik.

Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan

76