Anda di halaman 1dari 4

Profil Kondisi Geografi

ASPEK GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI

Berdasarkan UU No. 49 Tahun 2009, terbentuk Kabupaten Kepulauan Mentawai yang berasal
dari sebagian wilayah Kabupaten Padang Pariaman yang terdiri atas 4 (empat) pulau besar yaitu
Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan
satu-satunya kabupaten di Provinsi Sumatera Barat yang berupa daerah kepulauan, sehingga
memiliki karakteristik daerah yang berbeda dengan kota dan kabupaten lain di Sumatera Barat.
Terdiri dari gugusan pulau-pulau besar dan kecil yang berjumlah 99 pulau yang dikelilingi oleh
Lautan Hindia (Samudra Hindia). Jarak antara Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan ibukota
provinsi, Kota Padang adalah sekitar 62 mil laut (nautical mile). Transportasi laut dan udara
menjadi transportasi utama ke Kabupaten ini.

Dalam kacamata historio-antropos, penduduk asli Kabupaten Kepulauan Mentawai pada


dasarnya adalah tipe masyarakat berburu dan meramu, dan tipe masyarakat berkebun
(holtikultura). Pekerjaan ini dilakukan oleh orang Mentawai yang tinggal di pedalaman, jauh dari
pantai. Untuk mereka yang bermukim di sekitar pantai, pekerjaan mereka adalah menangkap
ikan, kerang atau kepiting, di sungai-sungai, rawa maupun di laut (dangkal). Namun
demikian,secara historis tidak ada data yang mengungkapkan orang Mentawai bekerja sebagai
nelayan dengan perahu melaut ke laut lepas untuk menangkap ikan. Berdasarkan tipe-tipe mata
pencaharian ini, untuk mempertahankan hidup, orang Mentawai mengembangkan suatu pola
kebudayaan yang berorientasi kepada pemanfaatan sumber daya yang tersedia di alam sekitar
tempat mereka bermukim sebagai modal dasar kehidupan, seperti untuk ekonomi, teknologi,
pangan, perumahan, dan sosial. Secara substansial, orang Mentawai lebih memiliki orientasi nilai
kehidupan yang selaras dengan alam, dan tidak menguras alam untuk kepentingan hidup mereka.
Kearifan lokal mereka adalah menjaga keseimbangan alam untuk kelangsungan hidup yang
berkelanjutan, dari generasi ke generasi.

Secara antropologis, orang Mentawai seolah terhindar dari perkembangan dan pengaruh
kebudayaan megalitihik (batu besar) serta bercocok tanam padi, sebagaimana halnya yang telah
dialami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sejak puluhan abad silam (masa prehistori).
Orang Mentawai, dalam sejarah sosialnya, tidak mengenal kepandaian mengembangkan pola
menetap yang permanen dan mengembangkan seni mengolah tanah membuat tembikar ataupun
perangkat kehidupan lainnya, kecuali alat-alat untuk berburu. Kondisi kehidupan budaya yang
asli ini mengalami perubahan semenjak Kolonial Belanda masuk ke Pagai sejak permulaan abad
ke-17 dan agama Kristen mulai menyebar di Pagai Utara pada sekitar tahun 1901. Pada tahun
1904 di Siberut didirikan pos militer Belanda.

Dewasa ini masyarakat Mentawai sudah semakin maju dan berkembang dalam konteks
pembangunan daerah dan nasional. Gambaran orang Mentawai yang hidup dalam tata cara
kesederhanaan sudah mulai memudar, karena mereka sudah banyak terlibat dalam kehidupan
modern berdampingan dengan masyarakat lain yang datang ke Mentawai. Kampung yang terdiri
dari sejumlah rumah panggung yang besar (uma) yang disekelilingnya berdiri sejumlah rumah
kecil (lalep), sudah hampir sulit di temukan di daerah ini. Di Pulau Pagai Utara dan Selatan,
kehidupan pinggir pantai sudah tidak ada ubahnya gambaran kehidupan masyarakat kebanyakan
di Indonesia. Desa-desa (laggai) atau dewasa ini dikenal dengan sebutan kampung, telah
berkembang baik sebagaimana halnya perkembangan suatu desa. Di pulau Sipora, khususnya di
ibukota Tuapeijat, kehidupan masyarakat telah maju dengan pola sosial dan ekonomi yang
mengarah kepada gaya hidup kota kecil. Sarana pelabuhan, jalan, pasar, pekantoran adalah
sebagian eksistensi fisik yang memberikan gambaran kemajuan tersebut di Mentawai secara
umum.

Letak Geografis dan Batas Administrasi Wilayah


Kabupaten Kepulauan Mentawai mempunyai luas sebesar 6.011,35 km2 dan panjang garis pantai
1.402,66 km yang terletak diantara 10-30 LS dan 980-1000 BT. Posisi dan letak geografis,
menunjukkan bahwa Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan sebuah daerah kepulauan yang
letaknya terpisah dari kota dan kabupaten lain di provinsi Sumatera Barat, yang terletak di pulau
Sumatera. Kabupaten Kepulauan Mentawai mempunyai batas-batas sebagai berikut:

Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Siberut

Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia

Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Mentawai

Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia.

Secara umum Kabupaten Kepulauan Mentawai terdiri dari empat pulau besar yang letaknya
terbentang dari utara ke selatan, yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau
Pagai Selatan, yang terdiri atas 10 kecamatan.

Kecamatan yang paling luas adalah kecamatan Siberut Barat dengan ibukota kecamatan adalah
Betaet, dan kecamatan yang paling kecil adalah kecamatan Sipora Selatan dengan ibukota
Sioban.

Ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah Tuapeijat yang terletak di Kecamatan Sipora
Utara. Untuk mencapai ibukota Propinsi Sumatera Barat, Kota Padang, umumnya ditempuh
dengan transportasi laut. Transportasi darat masih terbatas di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Transportasi udara juga ada tetapi aksesnya masih terbatas. Transportasi Udara hanya untuk
penerbangan dari Rokot ke Kota Padang, sementara untuk akses ke tempat lain belum tersedia.