Anda di halaman 1dari 13

PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

(AHP) UNTUK IDENTIFIKASI PREFERENSI KONSUMEN PADA


PEMILIHAN MINYAK PELUMAS SEPEDA MOTOR TIPE 4-TAK
Bayu Ch. A. Manila1), Agung Sutrisno2), Johan S. C. Neyland3)
Jurusan Teknik Mesin Universitas Sam Ratulangi

ABSTRACT
Lubricating oil available in a wide range which is offered consumers through
the promotion in order to convince consumers that the product is the best. This study
aims to determine preferences of consumers in the selection of motorcycle 4-stroke
type lubricating oils using Analytical Hierarchy Process (AHP) method.
From the analysis using the AHP based on criteria, it shows that durability is
ranks the first with a weight value of 0.5034, following with stock availability (0.5019),
price (0.4248), and recommendations of manufactorer coming last (0.3840). As for the
preference of alternative lubricating oil, analysis base on brand of motorcycle it shows
that Yamaha with Yamalube 7.5% all criteria, Honda with Yamalube of respective
value 4.77% and 4.37% on criteria recomendation of manufactorer and price, Enduro
3.16% the stock availability, and federal 3.08% for durability. Suzuki of Yamalube
which is value of 3.43% and 3.05% on criteria recommendation of manufactorer and
price, Enduro respectively 3.56% and 3.43% to criteria stock availability and
durability. Kawasaki on Enduro with 43.76% and 26.85% to the price and stock
availability, Top-1 27.17% and 31.28% to recommendations of manufactorer and
durability.
Keywords : Preferences, Oil Lubricants, AHP, Criteria
ABSTRAK
Dalam memilih minyak pelumas, pada saat ini telah tersedia berbagai macam
minyak pelumas yang menawarkan produknya kepada konsumen baik promosi lewat
media informasi, dan cara lainnya yang dibuat, agar meyakinkan konsumen bahwa
produk tersebut pilihan utama dalam memakai minyak pelumas. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui preferensi dari konsumen pada pemilihan minyak
pelumas sepeda motor tipe 4-tak dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy
Process (AHP).
Dari hasil analisis dengan metode AHP berdasarkan kriteria, daya tahan menempati
urutan pertama dengan bobot nilai 0.5034, kemudian ketersediaan barang 0.5019, harga
0.4248, dan rekomendasi pabrik 0.3840. Sedangkan untuk preferensi alternatif minyak
pelumas terhadap kriteria berdasarkan merk sepeda motor didapat untuk merk Yamaha
minyak pelumas Yamalube 7.5 % pada semua kriteria, merk Honda minyak pelumas
Yamalube masing-masing nilai 4.77 % dan 4.37 % pada kriteria rekomendasi pabrik
dan harga, Enduro 3.16% untuk ketersediaan barang, dan federal 3.08 % untuk daya
tahan. Merk Suzuki minyak pelumas Yamalube masing-masing nilai 3.43 % dan 3.05
% pada kriteria rekomendasi pabrik dan harga, Enduro dengan nilai masing-masing
3.56 % dan 3.43 % untuk kriteria ketersediaan barang dan daya tahan. Merk Kawasaki
Enduro masing-masing nilai 43.76 % dan 26.85 % untuk harga serta ketersediaan
barang, Top-1 masing-masing nilai 31.28 % dan 27.17 % pada rekomendasi pabrik dan
daya tahan.
Kata Kunci : Preferensi, Minyak Pelumas, AHP, Kriteria
Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

24

tersebut pilihan utama dalam memakai

I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang

minyak pelumas. Beberapa faktor seperti

Sepeda motor merupakan kendaraan

harga,

ketersediaan

minyak

pelumas,

beroda dua yang saat ini banyak dimiliki

rekomendasi pabrik, serta daya tahan dari

setiap orang yang ada di Indonesia maupun

minyak pelumas merupakan hal-hal yang

sampai Negara-negara yang ada di Luar

seyogyanya menjadi perhatian konsumen

Negeri. Kendaraan yang dapat dipakai

dalam memilih produk di saat ini.

dalam melakukan suatu perjalanan jauh dan

Karena adanya berbagai faktor

dekat, digunakan pada perlombaan balap di

yang dijadikan bahan pertimbangan, serta

sirkuit dan dipakai dalam keadaan apapun

begitu

ini dibuat oleh pabrik demi kemudahan

pelumas yang saat ini ditawarkan melalui

dalam berkendara oleh masyarakat, serta

berbagai

salah satu usaha bidang industri kendaraan

sehingga

roda dua yang maju.

pengambilan keputusan yang efektif atas

Kendaraan ini juga tidak dibuat dengan

permasalahan

mudah, berbagai faktor atau sistem menjadi

Analytical Hierarchy Process (AHP).

banyaknya

pilihan

merek

dari

kepada

dibutuhkan

minyak

konsumen,

suatu

kompleks

metode

tersebut

yaitu

perhatian dari pabrikan yang memproduksi

Bustanul Arifin Noer (2010), dalam

alat transportasi ini yaitu desain casis, sistem

Buku Belajar Mudah Riset Operasional

pengereman,

mengatakan AHP sering diartikan sebagai

sistem

kelistrikan,

sistem

pembakaran, bahkan sistem pelumasan pada

pembobotan

bagian mesin saat dihidupkan.

serangkaian persoalan yang dihadapi, baik

Dalam perawatan sistem pelumasan

(penentuan

prioritas)

terhadap kriteria maupun alternatifnya. AHP

ini, tentunya menggunakan Minyak Pelumas

dapat

sebagai bahan yang dapat melumasi bagian

permasalahan yang kompleks.

mesin dari sepeda motor.

Dalam

dari

digunakan

Sehingga

untuk

dalam

memecahkan

kesempatan

ini,

memilih minyak pelumas, pada saat ini telah

penulis

tersedia berbagai macam minyak pelumas

menerapkan/menggunakan

yang

kepada

Analytical Hierarchy Process (AHP) pada

media

penelitian ini untuk mengetahui preferensi

menawarkan

konsumen

baik

produknya

promosi

lewat

merasa

tertarik

informasi, dan cara lainnya yang dibuat,

dari konsumen pada pemilihan

agar meyakinkan konsumen bahwa produk

pelumas sepeda motor tipe 4-tak.

Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

dalam
metode

minyak

25

3.

1.2 Rumusan Masalah

Jumlah sampel yang digunakan adalah 30

Berdasarkan latar belakang yang ada,


maka

dirumuskan

masalah

penelitian

sebagai berikut :
1.

responden dengan basis merek : Yamaha,


Honda, Suzuki, Kawasaki.
1.4 Tujuan Penelitian

Bagaimana

caranya

melakukan

Tujuan dari penelitian ini kiranya dapat :

penilaian preferensi konsumen terhadap

Mengetahui preferensi penilaian konsumen

kriteria dan jenis minyak pelumas

terhadap kriteria & jenis minyak pelumas

sepeda

dengan menggunakan metode Analytical

motor

menggunakan

Tak

metode

dengan
Analytical

Hierarchy Process (AHP) ?

Hierarchy Process (AHP).


1.5 Manfaat Penelitian

2. Kriteria apakah yang dapat digunakan

Penelitian

ini

diharapkan

dapat

untuk menentukan preferensi konsumen

memberikan gambaran bagi Pengguna yang

dengan metode Analytical Hierarchy

ingin

Process (AHP) ?

persoalan-persoalan

3. Apakah terdapat perbedaan tentang

pendekatan AHP.

preferensi konsumen terhadap kriteria

II.

LANDASAN TEORI

dan jenis minyak pelumas, berdasarkan

2.1

Preferensi

tipe sepeda motor yang dimiliki masingmasing konsumen ?

penelitian

cara

pemecahan

kompleks

dengan

Menurut Bilson Simamora (dalam


Arianty dan Rohmana. 2012), preferensi
konsumen

1.3 Batasan Penelitian


Dalam

mengetahui

ini,

penulis

merupakan

suatu

tindakan

konsumen dalam memilih suatu barang

memberikan batasan pada penelitian sebagai

sesuai

berikut :

Preferensi dapat terbentuk melalui pola pikir

1. Metode

yang

digunakan

adalah

Analytical Hierarchy Process (AHP).


2. Sumber

data

penelitian

yang

akan

diambil yaitu, pada mahasiswa Teknik

dengan

tingkat

kebutuhannya.

konsumen yang didasari oleh beberapa


alasan antara lain :
a.

Pengalaman yang diperolehnya


Konsumen

merasakan

kepuasan

Mesin Unsrat yang memiliki kendaraan

dalam membeli produk dan merasakan

sepeda motor 4 - tak, dengan bantuan

kecocokan dalam mengkonsumsi produk

kuisioner penelitian AHP.

yang dibelinya, maka konsumen akan terusmenerus menggunakan produk tersebut.

Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

26

b.

Kelengkapan (Completeness)

Kepercayaan turun-temurun
Kepercayaan

kebiasaan

dari

ini

dikarenakan

Jika A dan B merupakan kondisi atau

keluarga

menggunakan

situasi, maka setiap orang harus selalu bisa

produk tersebut, setia terhadap produk yang

menspesifikasikan apakah :

selalu dipakainya karena manfaat dalam

1.)

A Lebih disukai daripada B

pemakaian

produk

2.)

B Lebih disukai daripada A

konsumen

memperoleh

3.)

A dan B sama-sama disukai.

tersebut,

sehingga

kepuasan

dan

manfaat dari produk tersebut.

Dengan

Setiap individu memiliki preferensi

diasumsikan

dasar

ini

tidak

pernah

setiap

orang

ragu

dalam

dalam menentukan berbagai pilihan untuk

menentukan pilihan, sebab mereka tahu

memenuhi kebutuhannya. Dalam melakukan

mana yang lebih baik dan mana yang lebih

pemenuhan kebutuhan, konsumen pasti

buruk, dan dengan demikian selalu bisa

memiliki kendala-kendala yang dihadapinya

menjatuhkan pilihan diantara dua alternatif.

seperti pendapatan yang dimiliki, waktu,

Transitivitas (Transitivity)

selera, dan kendala lainnya.

Jika seseorang mengatakan ia lebih

Adanya keterbatasan anggaran yang


dimiliki

menyebabkan

B daripada C, maka Ia harus lebih menyukai

konsumen kesulitan untuk memenuhi semua

A daripada C. Dengan demikian orang tidak

keinginan

bisa mengartikulasikan preferensinya yang

menuntut

oleh

konsumen

menyukai A daripada B, dan lebih menyukai

yang
para

diharapkan.
konsumen

Hal

untuk

ini
lebih

selektif lagi dalam menentukan pilihannya.


Menurut

Nicholson

(dalam

saling bertentangan.
Kontinuitas (Continuity)
Jika

seseorang

menyatakan

lebih

Wijayanti. 2011.), preferensi Konsumen

menyukai A daripada B, ini berarti segala

merupakan pilihan suka atau tidak suka

kondisi dibawah A tersebut disukai daripada

terhadap

yang

kondisi dibawah pilihan B. Diasumsikan

konsumen

preferensi tiap orang mengikuti dasar diatas.

produk

dikonsumsi.
menunjukkan

(barang/jasa)

Preferensi
kesukaan

konsumen

dari

berbagai pilihan produk yang ada.


Hubungan

preferensi

Dengan

demikian

setiap

orang

dapat

membuat atau menyusun rangking semua

diasumsikan

situasi atau kondisi mulai dari yang paling

memiliki tiga sifat dasar. ketiga sifat dasar

disenangi hingga yang paling tidak disukai

tersebut adalah :

dari bermacam barang/jasa yang tersedia.

Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

27

Seorang yang rasional akan memilih

hingga naik ke puncak level. Peralatan

barang yang disenanginya. Dengan kata lain,

utama

dari sejumlah alternatif yang ada orang lebih

fungsional dengan input utamanya persepsi

cenderung memilih sesuatu yang dapat

manusia.

memaksimalkan

kepuasannya.

Hal

ini

AHP

adalah

Dengan

sebuah

hirarki,

suatu

hierarki

masalah

sejalan dengan konsep barang yang lebih

kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan

diminati menyuguhkan kepuasan yang lebih

kedalam

besar dari barang yang kurang diminati.

Kemudian

2.2

diatur menjadi satu bentuk hirarki. Pada

Metode

Analytical

Hierarchy

kelompok-kelompoknya.
kelompok-kelompok

tersebut

Process (AHP)

dasarnya, formula matematis pada model

Analytical Hierarchy Process (AHP)

AHP dilakukan dengan menggunakan suatu

dikembangkan oleh Dr. Thomas Saaty dari

matriks. Kelebihan dari AHP dibandingkan

Wharton School Of Bussines pada tahun

dengan metode lainnya :

1970-an. Pada saat itu, metode AHP

1. Struktur

yang

berhirarki,

sebagai

digunakan untuk mendukung pengambilan

konsekuensi dari kriteria yang dipilih,

keputusan pada beberapa perusahaan dan

sampai pada sub-sub kriteria yang paling

pemerintahan.

dalam.

Pengambilan

keputusan

terendah hingga puncak.

2. Memperhitungkan

Pada proses pengambilan keputusan

dengan

batas

validitas

toleransi

sampai

inkonsistensi

dengan AHP, ada permasalahan dan tujuan

berbagai kriteria dan alternatif yang

dengan beberapa level kriteria dan alternatif.

dipilih oleh para pengambil keputusan.

Masing-masing skor atau kriteria memiliki

3. Memperhitungkan

daya

tahan

atau

skor, dan skor diperoleh dari eigen vektor

ketahanan output analisis sensitivitas

matriks yang diperoleh dari perbandingan

pengambilan keputusan.

berpasangan dengan alternatif yang lain.

Tujuan

Skor yang dimaksud ini adalah bobot


masing-masing

alternatif

terhadap

satu
Faktor 1

Faktor 2

Faktor 3

Faktor 4

kriteria. Masing-masing kriteria ini memiliki


bobot tertentu (didapat dengan cara yang
sama).

Selanjutnya

perkalian

Alternatif 1

Alternatif 2

Alternatif 3

matriks

alternatif dan kriteria dilakukan ditiap level


Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

Gambar 2.1 Struktur Hirarki


(Sumber : Setyaningsih. 2011)
28

Matriks komparansi / perbandingan

merupakan nilai matriks pendapat hasil

berpasangan (Pair wise comparison)

komparansi

Dengan membuat matriks komparansi


/ berpasangan, dapat digambarkan kontribusi

kepentingan

kepentingan

tujuan

yang

ataupun

setingkat

mencerminkan

terhadap

nilai

seperti pada

contoh berikut.

relatif atau prioritas setiap elemen terhadap


masing-masing

yang

Matriks Perbandingan Berpasangan :

level
W1

W2

...

W3

W1

A12

...

A1j

W2

1/A12

diatasnya.

Penentuan tingkat kepentingan pada setiap


level hierarki dilakukan dengan teknik
komparansi

berpasangan

dimana

untuk

A=

masing-masing elemen yang akan saling

. . . A2j

Wi : Djumaati.
1/ A1i 1/A
2 ...
(Sumber
2009)

dibandingkan, diberikan pembobotan.


Pembobotan

dilakukan

deduktif

Penilaian Kriteria dan Alternatif.

berdasarkan nilai skala komparansi 1 sampai

Kriteria dan Alternatif dinilai melalui

9. Untuk masing-masing komponen yang

perbandingan

dimulai dari tingkat/level tertinggi sampai

Thomas Saaty (1993), untuk berbagai

terendah.

ini

persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala

digunakan untuk mengkuantifikasi data yang

terbaik dalam mengekspresikan pendapat.

bersifat kualitatif.

Hierarki yang terbentuk memiliki level-level

Proses

Nilai

skala

perhitungan

komparansi

matriks

banding

berpasangan.

Menurut

yang memperlihatkan faktor-faktor yang

berpasangan :

hendak dianalisis seperti terlihat pada tabel

Perhitungan bobot input dalam baris/kolom

2.2.

As

untuk i = 1,2,3,...,n dan

j = 1,2,3,...,n

prosedur

setiap

hierarki,

perhitungan

dilakukan

perbandingan

= Bobot input dalam baris

berpasangan (pairwise). Dalam prosedur

= Bobot input dalam kolom

perhitungan berpasangan yang dilakukan,

Perhitungan

tingkat

Pada

berpasangan

setiap faktor yang dibandingkan satu sama

adalah set elemen pada suatu

lain secara konsisten dengan memanfaatkan

matriks

keputusan

baris

dalam

hierarki.

Kuantifikasi pendapat dari hasil, komparansi


berpasangan membentuk matriks i x j. Nilai
Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

skala pembanding yang jelas.


Setiap level dari hierarki yang ada
dilakukan

perbandingan

berpasangan,
29

sehingga kepentingan atau preferensi dari


suatu faktor dengan faktor yang lain pada

b.

Perhitungan jumlah bobot dalam baris


Aij.

seluruh bagian akan diketahui. Dengan cara

ini, maka akan diketahui peran dari masingmasing faktor yang menjadi objek dalam

c. Perhitungan jumlah dari jumlah bobot

penelitian yang dilakukan.


Proses perhitungan yang dilakukan

dalam baris Aij.

adalah perhitungan matriks dimana nantinya


akan diperoleh nilai-nilai perbandingan,

eigen value, dan tingkat konsistensi.


Tabel 2.2

Penilaian

Kriteria

dan

Alternatif metode Analytical Hierarchy


Process (AHP)
Nilai
1

d. Matriks

Skolastik (Normalisasi)

dihasilkan dengan merubah jumlah


bobot baris Aij.
=

Keterangan
Kedua elemen sama pentingnya

Elemen yang satu sedikit lebih penting dari elemen


3

lainnya
Elemen yang satu lebih penting dari elemen lainnya

Satu elemen jelas lebih mutlak penting dari elemen


lainnya
Satu elemen mutlak penting dari elemen lainnya

Nilai-nilai antara dua pertimbangan nilai yang


berdekatan

Perhitungan Consistency Ratio (CR)


Consistency

Ratio

merupakan

parameter yang digunakan dalam teknik


AHP untuk memeriksa apakah perbandingan

berpasangan
2,4,6,8

konsekuen

Perhitungan Manipulasi Matriks

konsistensi

telah
atau
yang

dilakukan

tidak.

Suatu

tertentu

dengan
tingkat
memang

diperlukan dalam penentuan prioritas untuk


a. Kuadrat dari matriks A.
A dikuadratkan menjadi Aij.
Elemen Aij jika ditulis secara
matematis adalah :

Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

mendapatkan hasil yang sah. Untuk matriks


ukuran 5x5 atau lebih RC semestinya tidak
lebih dari 10%. Jika tidak, penilaian yang
telah dibuat mungkin dilakukan secara
random dan perlu direvisi.

30

Untuk matriks lebih kecil, seperti


3x3 batas CR 5% dan matriks 4x4 batasnya

Selanjutnya dilakukan perhitungan vektor


konsistensi (Consistency Vector):

9%. CR (Consistency Ratio) merupakan


perbandingan CI (Consistensy Index) dan RI

/
CV =

(Random Index). Nilai RI merupakan nilai

random indeks yang dikeluarkan oleh


Oarkridge laboratory yang berupa tabel

Nilai rata-rata (p) dari vektor konsistensi

dibawah ini :

dapat ditulis :

Nilai Konsistensi Indeks (CI) dapat dihitung


sebagai berikut :

Tabel 2.3 Nilai Random Indeks (RI)


N

RI

0,00
8

0,00 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32

10

11

12

CI =

7
Setelah

nilai

Consistency Ratio

1,45

1,49

1,51

1,54

1,56

didapat,

maka

nilai

(CR) dapat dihitung

menjadi :

13

(Sumbe
1,41

CI

CR = CI / RI

r:

Dimana

Djumaa

banyaknya alternatif "n.

RI

ditentukan

berdasarkan

ti. 2009)
Untuk menentukan Consistency Ratio (CR)
dihasilkan

dengan

mengalikan

matriks

perbandingan berpasangan awal dengan nilai


eigen pada iterasi terakhir, atau dalam
ekspresi matematik dapat ditulis :
1
CR mx1 =

III.

METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Tempat dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian di Jurusan Teknik Mesin,


Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi
Manado dengan jangka waktu dua bulan,
yaitu bulan Februari Maret 2014.

...

1/

...

1/

1/

...

X
1

3.2

Bahan dan Peralatan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini

Dimana n menandakan tingkat prosedur

adalah

iterasi.

Hierarchy

Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

lembar

kuisioner

Process

(AHP),

Analytical
sedangkan
31

peralatan penunjang lain yang digunakan

Kriteria yang ditentukan dalam penelitian ini

adalah sebuah laptop dan kalkulator.

adalah kriteria harga, ketersediaan barang,

3.3

rekomendasi

Prosedur Penelitian

pabrik,

dan

daya

tahan.

Berdasarkan dengan permasalahan yang

Sedangkan untuk jenis minyak pelumas

diangkat

yaitu Federal, Yamalube, Enduro, dan Top-

dalam

penelitian

ini,

maka

prosedur yang digunakan yaitu :

1.

Studi Literatur

Melakukan

studi

literatur

yang

ada

Pembuatan Kuisioner

Pembuatan kuisioner atau angket dalam

kaitannya dengan penelitian yang dimaksud,

membantu

yaitu studi mengenai metode Analytical

referensi kuisioner yang ada sebelumnya,

Hierarchy Process (AHP) yang digunakan

dan berisi pertanyaan mengenai penilaian

pada proses analisis data penelitian ini.

terhadap kriteria dan alternatif minyak

Identifikasi Variabel dan Penentuan

pelumas sepeda motor tipe 4-tak.

Jumlah Sampel
Variabel

yang

penelitian

ini

menjadi
adalah

bagian

minyak

dalam
pelumas

penelitian

ini,

mengambil

Penyebaran Kuisioner

Penyebaran kuisioner dilakukan dengan cara


bertemu

langsung

pada

responden

berbasis otomotif dengan menggunakan

mahasiswa di lingkungan jurusan Teknik

metode

Mesin Unsrat yang memiliki sepeda motor

Analytical

Hierarchy

Process

tipe 4-tak untuk dimintai penilaian.

(AHP).
Menurut

Roscoe

Statistika

Terapan

(1975)

dalam

buku

yang

disusun

oleh

Analisis Data
Perhitungan Perbandingan

Suharjo (2013), ukuran sampel sebaiknya

Berpasangan

diantara 30 s/d 500. Jadi dalam penelitian

Nilai

perbandingan

berpasangan

ini, penulis mengambil sampel minimal

yang diberikan responden pada lembar

yaitu 30. dimana responden tersebut adalah

kuisioner, akan disederhanakan menjadi

mereka yang memiliki sepeda motor tipe 4-

angka

tak, dan cara penentuan sampel adalah

perhitungan iterasi-iterasi matriks.

insidental, yaitu secara kebetulan bertemu


dengan peneliti dan dapat dijadikan sampel.

Penentuan

Kriteria

dan

Jenis

Minyak Pelumas
Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

desimal

serta

dilanjutkan

pada

Perhitungan Bobot Penilaian


Bobot penilaian akan didapat pada
proses perhitungan dari iterasi matriks
pertama sampai iterasi terakhir, dan hasil
32

iterasi terakhir ini menjadi nilai bobot

Tabel 4.1 Matriks pembobotan hirarki

responden terhadap penilaian.

untuk kriteria Yamaha

Mulai

Studi Literatur

Identifikasi Variabel
Penelitian dan Penentuan
Jumlah sampel

Penentuan Kriteria Pemilihan


Minyak Pelumas dan Jenis Minyak
Pelumas

Bobot penilaian dari responden

DT

KB

1/9

RP

DT

perbandingan

berpasangan

desimal sehingga matriks perbandingan


berpasangan ditulis :

Analisis Data :

b.

RP

kemudian disederhanakan menjadi bilangan

Penyebaran Kuisioner AHP Kepada


Responden

Perbandingan berpasangan

KB

Nilai

Pembuatan Kuisioner

a.

Tabel 4.2 Matriks pembobotan hirarki


untuk kriteria Yamaha yang

Kesimpulan dan Saran

disederhanakan
H

KB

RP

DT

1.0000

9.0000

1.0000

1.0000

KB

0.1111

1.0000

1.0000

1.0000

RP

1.0000

1.0000

1.0000

1.0000

DT

1.0000

1.0000

1.0000

1.0000

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Prosedur


Penelitian
IV.
4.2

HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisis pembobotan pada kriteria

4.2.1 Pembobotan Kriteria Yamaha


Hasil analisis preferensi pada 14
responden

yang menggunakan

sepeda

motor yamaha menunjukkan : kriteria


harga 9 kali lebih penting dari ketersediaan
barang, dan sama pentingnya dengan
dengan kriteria rekomendasi pabrik serta
daya tahan.

Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

Nilai desimal pada tabel dilanjutkan


dengan proses perhitungan iterasi pertama
sampai iterasi terakhir, sehingga didapatkan
nilai eigen tertinggi. Dengan unsur nilai
jumlah masing-masing baris dibagi dengan
total keseluruhan nilai jumlah baris, maka
nilai eigen akan diketahui. Hasil perhitungan
iterasi yang terakhir dapat dilihat pada data
dibawah ini :

33

Tabel 4.3 Nilai iterasi kriteria matriks

CR = CI/RI

yang dinormalkan

CR = - 0.0787/0.90
Nilai Eigen

KB

RP

DT

dinormalkan)

RI = 0.90

= -0.087 < 0.10 (Memenuhi syarat

(yang

untuk n = 4,

tingkat konsistensi rasio dibawah 10%).


Dari hasil perhitungan pada nilai

KB
RP

yang ada ditabel di atas, menunjukkan

DT

bahwa, kriteria harga, rekomendasi pabrik,


konsistensi

daya tahan menjadi kriteria yang penting

dengan cara mengalikan matriks awal

bagi konsumen dalam produk dengan nilai

dengan nilai eigen yang didapat :

bobot

Selanjutnya

dilakukan

uji

26.56

%,

kemudian

kriteria

ketersediaan barang dengan nilai bobot


[

20.29

%.

Proses

perhitungan

diatas,

dilakukan untuk semua kriteria hingga


Dari perkalian matriks diperoleh :

alternative

preferensi

konsumen

dalam

penilaian pada minyak pelumas.


V.

PENUTUP

5.1

Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan perhitungan

yang diperoleh, untuk mengetahui preferensi

Consistency Vector

setiap konsumen terhadap penilaian kriteria


=

dan jenis minyak pelumas sepeda motor tipe


4-tak, ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Consistency Vector rata-rata

Hasil perhitungan Kriteria


Dari keseluruhan responden yang

P=
/4 = 3.7637
Consistency Index
CI = (p-n)/(n-1)

memberikan

penilaian,

didapat

tingkat

indeks preferensi konsumen sebagai berikut


Bobot

No

Kriteria

= (3.7637 4) / (4-1)

1.

Daya Tahan

0.5034

= -0.0787

2.

Ketersediaan Barang

0.5019

3.

Harga

0.4248

4.

Rekomendasi Pabrik

0.3840

Dengan demikian nilai CR dapat dihitung ,

Nilai

Rangking

yaitu :
Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

34

Hasil perhitungan penilaian jenis

2.

minyak

dapat menjadi acuan bagi agen minyak

pelumas

berdasarkan

pelumas.

masing - masing kriteria


Pada

hasil

perhitungan

Hasil penelitian dan analisis ini,

untuk
DAFTAR PUSTAKA

penilaian jenis minyak pelumas sepeda


motor

tipe

4-tak,

berdasarkan

dengan

masing masing kriteria, dari basis merek


sepeda motor yang dimiliki adalah sebagai
berikut :
a.

b.

c.

Rekomendasi

Daya

Barang

Pabrik

Tahan

Yamalube

Yamalube

Yamalube

Yamalube

(7.5 %)

(7.5 %)

(7.5 %)

(7.5 %)

Rekomendasi

Daya

Basis Honda

aplikasi

SPSS.

Penerbit

Djumaati, F. 2009. Penerapan Metode


Analytical Hierarchy Process (AHP)
Dalam

pemilihan

Lokasi

Pengambilan Material (Studi Kasus

Barang

Pabrik

Tahan

Enduro

Yamalube

Federal

(4.37 %)

(3.16 %)

(4.77 %)

(3.08 %)

Pada Proyek Pembangunan Gedung


Kantor Pelayanan Penyuluhan Dan
Konsultasi

Basis Suzuki

Perpajakan

(KP2KP)

Ketersediaan

Rekomendasi

Daya

Amurang). Skripsi Program Studi S1

Barang

Pabrik

Tahan

Teknik

Yamalube

Enduro

Yamalube

Enduro

(3.05 %)

(3.56 %)

(3.43 %)

(3.43 %)

Sipil

Universitas

Sam

Ratulangi Manado.
Primantari

Basis Kawasaki
Harga

5.2

Ketersediaan

Yamalube

Harga

d.

Suharjo, B. 2013. Statistika Terapan disertai

Graha Ilmu, Yogyakarta.

Ketersediaan

Harga

Operasional. Penerbit Andi, Yogyakarta.

contoh

Merk Yamaha
Harga

Noer, B.A. 2010. Belajar Mudah Riset

Luky

FA.

2011.

Aplikasi

analitical hierarchy process (AHP)

Ketersediaan

Rekomendasi

Daya

Barang

Pabrik

Tahan

Enduro

Enduro

Top-1

Top-1

pada pemberdayaan landas pacu

(43.76 %)

(26.85 %)

(27.17 %)

(31.28 %)

bandara internasional Adisumarmo

Saran

Surakarta.

1. Disarankan untuk pembaca, untuk

Magister Teknik Sipil Universitas

menggunakan aplikasi expert choice

Sebelas Maret Surakarta.

dalam proses analisis pada AHP untuk


memperoleh hasil yang cepat & tepat.

Tesis

Program

Studi

Sukirno. 1988. Pelumasan dan Teknologi


Pelumas,

Departemen

Teknik

Kimia. Fakultas Teknik Universitas


Indonesia.
Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

35

Ngatawi dan Setyaningsih, I. 2011. Analisis

Arianty D. dan Rohmana Y. 2012. Faktor-

Pemilihan Supplier Menggunakan

faktor Yang Mempengaruhi Preferensi

Metode

Konsumen Provider

Analytical

Hierarchy

Process (AHP). Jurnal Ilmiah Teknik

Perguruan

Industri. Volume .10, No. 1.

Bandung, Bandung Provinsi Jawa

Setyaningsih, W. 2011. Desain Sistem

Tinggi

Indosat di
Negeri

Kota

Barat. 3-5.

Siswa Berprestasi Pada Sekolah


Menengah

Pertama

Menggunakan

Metode

Dengan
Analytical

Hierarchy Process (AHP). Jurnal


Program Studi Sistem Informasi,
Universitas Kanjuruhan Malang.
Wijayanti, M.R. 2011. Analisis Preferensi
Konsumen Dalam Membeli Daging
Sapi di Pasar Tradisional Kabupaten
Karanganyar. Skripsi Program S1
Sosial

Ekonomi

Universitas

Sebelas

Pertanian
Maret.

Surakarta.
Darmanto, Arisandi M dan Priangkoso T.
2012. Analisa pengaruh bahan dasar
pelumas terhadap viskositas pelumas
dan

konsumsi

bahan

bakar,

Momentum, Vol. 8, No. 1, April


2012 : 56- 61. Jurnal Jurusan Teknik
Mesin, Fakultas Teknik Universitas
Wahid Hasyim, Semarang.
Darmanto. 2012. Mengenal pelumas pada
mesin. Jurnal Jurusan Teknik Mesin
Fakultas Teknik, Universitas Wahid
Hasyim Semarang.
Jurnal Online Poros Teknik Mesin Volume 3 Nomor 1

36