Anda di halaman 1dari 66

REAKSI

HIPERSENSITIVITAS

Yusmala Helmy SpA


1

Hipersensitivitas adalah aktivasi


berlebihan sel T dan sel B oleh
antigen atau gangguan mekanisme
ini.
Gell dan Coombs skema klasifikasi
tentang 4 tipe reaksi hipersensitivitas
Ketiga reaksi yang pertama
diperantarai oleh antibodI dan yang
keempat oleh sel T

Reaksi Hipersensitivitas
Reaksi hipersensitivitas tipe 1 rx alergi tipe cepat
Hayfever (alergi rhinitis), eczema, asma dan urtikaria
Akibat kontak dengan antigen dimana
tersebut telah memiliki antibody IgE
Sel-sel
basofil

individu

berperan penting adalah sel mast dan sel

Mengandungnya
histamin dan zat
peradangan lainnya
Dibagi menjadi reaksi anafilaktik (tipe 1a)
dan reaksi anafilaktoid (tipe 1b)
Rx selular yang berangkai pada reaksi tipe
1a diperlukan interaksi antara IgE spesifik
yang berikatan dengan reseptor IgE pada
sel mast atau basofil dengan alergen yang
bersangkutan

Dua tipe Reseptor IgE

Reaksi silang degranulasi


sel mast yang cepat dan
pelepasan mediator radang
primer yang disimpan di
granul
Menyebabkan reaksi radang
akut, meningkatkan
permeabilitas pembuluh
darah, kontraksi otot halus,
kemotaksis granulosit dan
ekstravasasi, dll
Juga mengakibatkan produksi
dua tipe mediator lainnya
Mediator sekunder harus
disintesis secara de novo dan
metabolit asam arakidonat dan
protein

Type- I Hypersensitivity: Production of IgE in Response to


an Allergen
The allergen enters the body and is recognized by sIg on a Blymphocyte. The B-lymphocyte proliferates and differentiates
into plasma cells that produce and secrete IgE against
epitopes of the allergen.

Reaksi Hipersensitivitas Tipe 1 Fase


cepat terjadi beberapa menit setelah
pajanan antigen
bertahan beberapa jam walaupun tanpa
kontak dengan alergen lagi.
dapat terjadi resintesis mediator
farmakologik reaksi hipersensitivitas, yang
kemudian dapat responsif lagi terhadap
alergen.
pelepasan mediator ini dipermudah oleh
adanya proses penurunan siklik adenosin
monofosfat (cAMP).
10

Reaksi Hipersensitivitas Tipe 1 Fase Lambat

- belum jelas.
- didahului reaksi alergi fase cepat
- Sel mast dapat membebaskan mediator kemotaktik
dan sitokin--menarik sel radang ke tempat terjadinya
reaksi alergi--meningkatkan permeabilitas kapiler
yang meningkatkan migrasi sel radang

11

Dua tipe mediator dua


komponen respons tipe 1
Respons yang sangat cepat
terkena dengan Ag dimana
kita sensitive terhadapnya,
muncul beberapa menit dan
maksimal setelah 20 menit
Bila yang terkena kulit
wheal dan flare yang
meninggi dan dikelilingi
warna kemerahan
Respons telat setelah
beberapa jam, ditandai
infiltrate seluler yang
menimbulkan nodul pigmen
pada kulit

Mediator Penyakit Alergi


dibebaskan bila terjadi interaksi antara antigen dengan IgE
spesifik yang terikat pada membran sel mast.
Dibagi menjadi dua kelompok - mediator yang sudah ada
dalam granula sel mast
(preformed mediator)
- mediator yang terbentuk kemudian
(newly formed mediator)
Menurut asalnya
- berasal dari sel mast atau basofil (mediator primer)
- dari sel lain akibat stimulasi oleh mediator primer
(mediator sekunder).
Mediator yang terdapat dalam granula sel mast
- histamin
- eosinophil chemotactic factor of anaphylactic (ECF-A)
- neutrophil chemotactic factor (NCF).
15

molecule

effects
Primary mediators

Histamine

Vascular permeability, sm contraction

Serotonin

vascular permeability, sm contraction

ECF-A

eosinophil chaemotaxis

NCF-A

neutrophil chaemotaxis

proteases

mucus secretion, connective tissue


degradation
Secondary mediators

Leukotrienes

vascular permeability, sm contraction

Prostaglandins

vasodilation, sm contraction, platelet


activation

Bradykinin

vascular permeability, sm contraction

Cytokines

numerous effects inc. activation of vascular


endothelium, eosinophil recruitment
and activation

17

Histamin
dibentuk dari asam amino histidin dengan perantara
enzim histidin dekarboksilase.
Gejala yang timbul---berupa rangsangan terhadap
reseptor saraf iritan, kontraksi otot polos dan
peningkatan permeabilitas vaskular.
Manifestasi klinis:
- Hidung---rasa gatal, hipersekresi dan tersumbat,
- Paru---kontraksi otot polos bronkus---menyebabkan
bronkokonstriksi
- Kulit---reaksi gatal berupa wheal and flare
- saluran cerna---hipersekresi asam lambung, kejang
usus dan diare.
Kadar histamin tinggi dalam plasma dapat menimbulkan
gejala sistemik berat (anafilaksis).
18

Antihistamin sebagai Antiinflamasi


Antihistamin inhibitor
berkompetisi pada reseptor
histamin.
Penghambat reseptor H1
digunakan pada terapi alergi
yang diperantai IgE.
Contoh: klorfeniramin,
bromfeniramin, difenhidramin,
klemastin, hidroksizin)
Pemberian antihistamin
intramuskular atau intravena
dalam pengobatan anafilaksis
sistemik hanya efektif terhadap
gejala kulit dan gastrointestinal--tidak efektif pada vaskular yang
kolaps dan obstruksi jalan napas.
19

Faktor Kemotaktik eosinophil-anaphylactic


(ECF-A)
efek mengumpulkan dan menahan
eosinofil di tempat reaksi radang yang
diperan oleh IgE (alergi).
merupakan tetrapeptida yang sudah
ada dalam granulasi sel mast---segera
dibebaskan pada waktu degranulasi

20

Faktor Kemotaktik Neutrofil (NCF)


ditemukan pada supernatan
fragmen paru manusia setelah
provokasi dengan alergen tertentu
terjadi dalam beberapa menit dalam
sirkulasi penderita asma setelah
provokasi inhalasi dengan alergen
atau setelah timbulnya urtikaria fisik
(dingin, panas atau sinar matahari)
21

Mediator yang terbentuk kemudian


terjadi dari hasil metabolisme asam
arakidonat, faktor aktivasi trombosit,
serotonin dan lain-lain.
Metabolisme asam arakidonat
- jalur siklooksigenase
- jalur lipoksigenase
akan mengeluarkan produk yang
berperan sebagai mediator bagi
berbagai proses inflamasi
22

Slow reacting substance of anaphylaxis


onset yang lebih lambat dengan masa
kerja lebih lama dibandingkan dengan
histamin
Mediator SRS-A lebih berperan dari
histamin dalam terjadinya asma
Mediator ini mempunyai efek
bronkokonstriksi 1000 kali dari histamin.
Selain itu SRS-A---meningkatkan
permeabilitas kapiler serat
23

Faktor aktivasi trombosit


dapat menggumpalkan trombosit
serta mengaktivasi pelepasan
serotonin dari trombosit
menimbulkan kontraksi otot polos
serta peningkatan permeabilitas
vaskular.

24

Serotonin
Sekitar 90% serotonin tubuh (5-hidroksi
triptamin) terdapat di mukosa saluran
cerna.
merupakan mediator sekunder yang
dilepaskan oleh trombosit melalui
aktivasi produk sel mast yaitu PAF dan
TxA2.
dapat meningkatkan permeabilitas
pembuluh darah.
25

Blocking Type-1 Hypersensitivity Using Monoclonal


Antibodies Against IgE
A new experimental approach to treating and preventing Type-I
hypersensitivity involves giving the person with allergies
injections of monoclonal antibodies that have been made against
the Fc portion of human IgE. This, in turn, blocks the attachment
of the IgE to the Fc receptors on mast cells and basophils and the
subsequent release of histamine by those cells upon exposure to
allergen.

Reaksi Hipersensitivitas Tipe II


(Reaksi Sitotoksik)
Antibodi dalam keadaan bebas
dalam sirkulasi beraksi dengan
antigen pada permukaan sel.
Antibodi yang terlibat Ig G dan Ig
M, komplemen, phagosit, dan sel K
Waktu reaksi berkisar dari menit
hingga jam

Setelah reaksi antigen-antibodi,


maka sel dimusnahkan melalui:
Opsonisasi sel host oleh makrofag
dengan perantara Ig G, C3b atau
C4b dengan pelepasan lisosom
Aktivasi komplemen
Antibody dependent cell
mediated cytotoxicity (ADCC)

Opsonisasi sel host oleh makrofag dengan


perantara Ig G, C3b atau C4b dengan
pelepasan lisosom

Adopted From : The Adaptive Immune System


www: student.ccbcmd.edu/.../type4/u3fg45d.html

Fab pada Ig G bereaksi dengan epitop pada membran se host


dan Fc berikatan dengan makrofag.
makrofag berikatan dengan Fc Ig G dan membebaskan
lisosom yang mnyebabkan sel lisis

Aktivasi komplemen
Ig G dan Ig M bereaksi dengan
epitop sel host dan mengaktifkan
komplemen. Membran attack
complex (MAC) menyebabkan sel
lisis.

Adopted From : Hypersensitivity and Chronic


Inflamation
www.rx hipersensitivitas\Lecture 14
Hypersensitivity.htm

Adopted From : The Adaptive Immune System


www: student.ccbcmd.edu/.../type4/u3fg45d.html

Ig G dan Ig M bereaksi dengan epitop sel host


dan mengaktifkan komplemen. Membran
attack complex (MAC) menyebabkan sel lisis

MAC yang menyebabkan sel lisis

Antibody dependent cell mediated


cytotoxicity (ADCC)
Destruksi sel host diperantarai NK sel yang
menempel pada Fc antibodi. NK sel
kemudian membebaskan protein (poreforming proteins) yang disebut perforins
dan enzim proteolitik yang disebut
granzymes. Granzymes kemudian
berpindah melalui celah dan mengaktifkan
enzim apoptosis sel yang terinfeksi
dengan cara mendestruksi struktur protein
cytoskeleton dan mendegradasi
kromosom.

ADCC(Antibody dependent cell mediated cytotoxicity)


Adopted From : Hypersensitivity and Chronic
Inflamation
www.rx hipersensitivitas\Lecture 14
Hypersensitivity.htm

Bagian Fab antibadi berikatan dengan epitop


sel host, NK sel berikatan pada Fc antibodi

Destruksi protein cytoskleton dan


destruksi kromosom

Sel yang lisis menjadi framen-framen yang


kemudian dipindahkan oleh makrofag

Contoh hipersensitivitas tipe II


Autoimmune hemolytic anemia
Goodpasture's syndrome
Erythroblastosis Fetalis
Pemphigus
Pernicious anemia (If autoimmune)
Immune thrombocytopenia
Transfusion reactions
Hashimoto's thyroiditis
Graves' disease
Myasthenia gravis
Farmer's Lung
Rheumatic fever
Hemolytic disease of the newborn

Reaksi Hipersensitivitas Tipe III


(Reaksi Kompleks Imun)
Reaksi hipersensitivitas tipe III juga dikenal
sebagai hipersensitivitas oleh kompleks imun.
Reaksi yang timbul dapat general (contoh
serum sickness) atau dapat melibatkan organ
tertentu saja termasuk kulit (contoh SLE,
reaksi Arthus), pada ginjal (nefritis lupus),
pada paru (aspergilosis), pada pembuluh
darah (poliarteritis), sendi (rheumatoid
arthritis) dan organ lain

Ag sirkulasi + Ab sirkulasi Kompleks


imun + komplemen (C3a, 4a, dan 5a)
Kompleks imun :
- Kompleks tak larut (antibody excess)
- Kompleks terlarut (antigen excess)
Antibodi IgG dan IgM
Reaksi ini membutuhkan waktu 3-10 jam
setelah terpapar dengan antigen

Kompleks imun tak larut.


Cepat diendapkan
Kelainannya terbatas pada tempat masuknya antigen
Kompleks imun terlarut.
Mengikuti sirkulasi darah berkaitan dgn jalur
klasik sistem komplemen
Sirkulasi darah mengendap di berbagai organ.

-Lebih mudah diendapkan di tempat bertekanan tinggi disertai


putaran arus; kapiler glomerulus, bifurkasi pemb darah, plx
koroid otak, badan siliar
-Aktivasi komplemen; agregasi trombosit endapan kompleks
imun patologis.
-Aktivasi komplemen kerusakan jaringan; sel PMN
menambah kerusakan.
-Agregasi trombosit mikrotrombus dan pelepasan vasoactive
amine.

Komplek imun yang kecil akan


menetap di kapiler antara sel
endotelial pembuluh darah
(khususnya: kulit, sendi dan ginjal)
dan kemudian menyusup ke
membran basement.

Hipersensitivitas tipe III

Adopted From : The immune system is not perfect-allergies


www.microibiologytext.com

Komplek imun pada kapiler

Adopted From : The Adaptive Immune System


www: student.ccbcmd.edu
/.../type4/u3fg45d.html

Komplek imun dalam jumlah yang besar dalam


darah yang tidak dibersihkan oleh makrofag
Komplek imun menetap di kapiler di antara sel
endotel dan membran basement

Komplek imun mengaktifkan komplemen sehinga


terjadi vasodilatasi
Protein komplemen dan komplek imun memanggil
leukosit

Leukosit melepaskan agen-agen yang


menghancurkan dan menyebabkan inflamasi.
Pada saat ini dapat terjadi kematian jaringan
dan hemoragi

Adopted From : Hypersensitivity and Chronic Inflamation


www.rx hipersensitivitas\Lecture 14 Hypersensitivity.htm

Contoh tipe III


Immune complex glomerulonephritis
Rheumatoid arthritis
Serum sickness
Subacute bacterial endocarditis
Symptoms of malaria
Systemic lupus erythematosus
Arthus reaction

REAKSI HIPERSENSITIVITASTIPE
IVDiperantarai oleh limfosit T. Reaksi ini
terjadi oleh karena sel T8 yang telah
tersensitisasi dengan antigen akan
berdiferensiasi menjadi CTL (cytotoxic
T-lymphocytes). Kemudian limfosit T4
tipe Th1 menjadi tersensitisasi dengan
antigen sehingga melepaskan sitokin.
timbul 24-48 jam setelah pajanan
antigen

Mekanisme kerusakan sel pada reaksi


tipe lambat
Melibatkan limfosit dan monosit
dan/ atau makrofag. Sel T
sitotoksik (Tc) menyebabkan
kerusakan langsung disamping Sel
T helper (TH1) mensekresikan
sitokin yang mengaktifkan sel T
sitotoksik

sel T sitotoksik dan mengajak dan


mengaktifkan monosit dan
markrofag, yang menyebabkan
kerusakan sel yang besar. Pada lesi
jaringan akibat reaksi ini terutama
mengandung monosit dan sedikit
sel

Reaksi hipersensitivitas tipe IV dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori


berdasarkan waktu onset dan gambaran klinik dan histopatologi
Table 3 - Delayed hypersensitivity reactions
Type

Reaction time

Clinical
appearance

Histology

Antigen and site

contact

48-72 hr

eczema

lymphocytes,
followed by
macrophages; edema
of epidermis

epidermal
( organic
chemicals, poison
ivy, heavy metals,
etc.)

tuberculin

48-72 hr

local induration

lymphocytes,monocyt
es, macrophages

intradermal
(tuberculin,
lepromin, etc.)

granuloma

21-28 days

hardening

macrophages,
epitheloid and giant
cells, fibrosis

persistent antigen
or foreign body
presence
(tuberculosis,
leprosy, etc.)

Adopted From : The immune system is not perfect-allergies


www.microibiologytext.com

Ikatan CTL pada sel normal melepaskan


perforins, granzymes dan chemokins.

Degradasi protein cytoskeletones


dan degradasi kromosom

Adopted From : Hypersensitivity and


Chronic Inflamation
www.rx hipersensitivitas\Lecture 14
Hypersensitivity.htm

Contoh tipe IV
Contact dermatitis (poison ivy
rash, for example)
Temporal arteritis
Symptoms of leprosy
Symptoms of tuberculosis
Transplant rejection
Coeliac disease

Type 5 - stimulatory
Reaksi ini disebut juga stimulatory hypersensitivity. Beberapa jenis sel
tubuh menerima instruksi dari zat semacam hormon melalui reseptor
yang terdapat pada permukaan sel tersebut. Misal hormon TSH yang
berikatan dengan reseptor pada sel tiroid dan menstimulasi aktivitas
sel tersebut. Hal ini dapat juga terjadi pada limfosit B. bila
imunoglobulin telah berikatan dengan reseptor Ig pada permukaan
sel, maka limfosit B dapat diaktifkan melalui ikatan yang spesifik.
Pada keadaan patologis antibodi yang terbentuk terhadap
imunoglobulin itu sendiri juga dapat mengaktifkan sel tersebut.

Contoh reaksi hipersensitivitas tipe V


Graves disease
Myasthenia gravis