Anda di halaman 1dari 26

PERUSAHAAN ASURANSI PT.

Gaya Arah Perkasa


PRODUK ASURANSI TESLA PROTECTION
1.1 Latar Belakang
Pada perusahaan Asuransi dan Penjaminan Kredit (Credit insurance and
guarantee) dikategorikan dalam asuransi kerugian, variabel determinan yang
menentukan besaran tarif premi dapat berbeda dengan penentuan tarif premi di
perusahaan asuransi umum. Untuk menentukan variabel penentu (determinant
variables) perlu dilakukan pengkajian yang mendalam berdasarkan data empiris
atau statistik perusahaan yang menceritakan perkembangan kinerja
asuransi/penjaminan dari jenis produk yang dipasarkan perusahaan dan data
pendukung lainnya.
Penentuan tarif dasar premi dilakukan hanya pada suatu periode tertentu
karena tarif dasar premi akan mengalami koreksi atau evaluasi baik dari segi
keuntungan maupun daya tariknya. Faktor-faktor yang mempengaruhi atau
mengkoreksi daya tarik tarif premi baik dari sisi perusahaan maupun pasar asuransi
antara lain adalah variabel makro ekonomi seperti tingkat inflasi, suku bunga, dan
nilai tukar rupiah, serta variabel eksternal perusahaan seperti perkembangan tarif
premi perusahaan pesaing yang memiliki jenis produk yang sama.
Kebijakan penentuan tariff yang meliputi penghitungan tariff premi, komisi,
dan fee collector/collecting fee merupakan kebijakan strategis perusahaan yang
harus ditetapkan secara komprehensif dan penuh kehati-hatian dengan
mempertimbangkan berbagai factor ekonomi dan non ekonomi. Untuk mendukung
hal tersebut perlu suatu kegiatan rutin, sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan
untuk mengelola kebijakan tariff agar perusahaan memperoleh suatu pedoman atau
tolok ukur yang akurat, dapat dipertanggungjawabkan, dan menguntungkan
perusahaan.
Sebagai suatu pedoman, buku ini merupakan alat bantu yang fleksibel dan
dapat dilakukan penyesuaian untuk mengakomodasi seluruh variabel biaya yang
mungkin kurang sesuai dengan asumsi-asumsi yang ditetapkan dalam pedoman ini.
Namun demikian, penyesuaian yang dilakukan agar tetap mengikuti prinsip-prinsip
perhitungan tarif (premi, komisi, dan fee collector/collecting fee) dalam pedoman ini.
Dalam rangka itu perlu ditetapkan pedoman penetapan tarif khususnya tariff
premi/Service Charge asuransi dan penjaminan kredit untuk dapat digunakan baik
bagi pembinaan maupun penyelenggaraan bisnis Asuransi dan Penjaminan Kredit.

1.2 Tujuan
Penyusunan dan penggunaan buku pedoman yang menjelaskan konsep dan
metodologi penghitungan tarif premi/service charge untuk masing-masing jenis
produk dalam bisnis Asuransi dan Penjaminan Kredit
diharapkan dapat
menghasilkan :
1.

Adanya kesamaan cara perhitungan tarif premi/service charge untuk seluruh jenis
produk bisnis Asuransi dan Penjaminan Kredit.

2.

Ditetapkannya tarif dasar premi untuk paket bisnis Asuransi dan Penjaminan Kredit
yang memiliki asas kompetitif dan asas menguntungkan untuk seluruh kantor
cabang/pusat dalam kurun waktu tertentu.

3.

Ditetapkannya kesepakatan tentang tarif dasar premi yang dipasarkan yaitu tarif
premi yang dijual ke pasar dapat berubah sesuai dengan permintaan pasar tetapi
masih berdasarkan pada tarif dasar premi yang telah ditetapkan yang dapat
disesuaikan dengan varibel-variabel yang relevan dengan tarif premi.

4.

Disepakati dan dipilihnya metode penghitungan tarif dasar premi/service charge


yang efektif dan efesien serta memiliki kaidah-kaidah ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan.

5.

Disepakati dan dipilihnya metode monitoring dan evaluasi tarif yang didasarkan
pada kaidah-kaidah ilmiah, mudah digunakan, dan dipahami dengan tujuan agar
kebijakan tarif yang dihasilkan dapat menguntungkan perusahaan baik secara
finansial dan non finansial.

1.3 Manfaat
Kredit

Auransi

Kerugian

Pinjaman

Memberikan jaminan kepada Bank atas risiko kegagalan Debitur/Principal


dalam melunasi fasilitas pinjaman non tunai (non cash loan) yang diberikan oleh
Bank. Bersifat Three-Party Agreement yang melibatkan Bank, Debitur/Principal dan
Asuransi Asei dengan adanya Indemnity Agreement yang merupakan suatu bentuk
Recourse Agreement kepada Debitur/Principal dalam hal Asuransi Asei telah
membayarkan klaim kepada Bank, maka Debitur berkewajiban mengembalikan
kepada Asuransi Asei senilai klaim (plus denda bunga) yang telah dibayarkan oleh
Asuransi Asei kepada Bank. Ganti Rugi Asuransi Asei sebesar 100% dari besarnya
Kerugian Bank.
Jenis-jenis Penjaminan Kredit :

1. Jaminan Pembukaan Letter of Credit (L/C) Impor (Usance L/C dan Sight L/C
sublimit TR/UPAS) Jaminan yang diberikan oleh Asuransi Asei kepada
Bank Pembuka L/C Impor untuk kepentingan Applicant / Importir dalam hal
terjadi kegagalan pembayaran (default payment) pada saat jatuh tempo L/C.
2. Jaminan Pembukaan Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN) baik
Usance maupun Sight sublimit TR/UPAS). Jaminan yang diberikan oleh
Asuransi Asei kepada Bank Pembuka SKBDN untuk kepentingan
Applicant / Importir dalam hal terjadi kegagalan pembayaran (default
payment) pada saat jatuh tempo SKBDN.
3. Jaminan Kontra Bank Garansi (Counter Guarantee) dan Standby L/C
(SBLC). Jaminan yang diberikan Asuransi Asei kepada Bank Penerbit Bank
Garansi / SBLC untuk kepentingan nasabah (Debitur / Principal) apabila
Principal/Nasabah mengalami wanprestasi.
Obyek penjaminan Bank Garansi antara lain untuk keperluan :

Jaminan penawaran / Bid Bond,

Jaminan pelaksanaan / Performance Bond,

Jaminan uang muka / Advance Payment Bond,

Jaminan pembayaran / Payment Bond, baik konstruksi maupun non


konstruksi.

Jaminan pemeliharaan / Maintenance Bond,

Jaminan untuk keperluan lainnya (kecuali jaminan untuk mendapatkan


fasilitas pembiayaan dari Lembaga Keuangan).

Manfaat-manfaat Asuransi Kredit & Penjaminan Kredit :


a. Bagi Perbankan
1. Transaksi yang tidak bankable karena tidak memenuhi persyaratan collateral
akan tetapi feasible dapat dibantu dengan adanya Asuransi dan Penjaminan
Kredit dari Asuransi Asei. Asuransi atau penjaminan kredit dari Asuransi Asei
dapat menggantikan sebagian collateral yang diperlukan Perbankan dalam
mendukung pemberian kredit kepada sektor riil.
2. Untuk transaksi non-cash loan khususnya, tergantung kepada penilaian
risiko berdasarkan risks assessment Asuransi Asei yang
juga mempertimbangkan risks analysis dari Bank,Asuransi Asei dapat
memberikan penjaminan sampai 100% (seratus persen) dari nilai non-cash
loan yang diberikan oleh Bank dan persyaratan Agunan/collateral yang lebih
ringan bagi nasabah.

3. Mengurangi risks premium sehingga lending rate dapat lebih kompetitif.


Risiko kredit yang dialihkan kepada Asuransi Asei dapat
diperhitungkan sebagai penurunan unsur risiko dalam pricing suku bunga
(mengurangi risks premium).
4. Pengurangan Bobot ATMR atas kredit yang diasuransikan atau dijaminkan
kepada Asuransi Asei sebagai BUMN di bidang asuransi dan penjaminan
kredit dihitung sebesar 50% (lima puluh persen) sesuai Surat Edaran BI
No.11/1/DPNP tanggal 21 Januari 2009, sehingga pemakaian kredit tidak
menggerus banyak rasio kecukupan modal Bank.
5. Fee-based income dan penempatan cash collateral Debitur pada Bank
sehingga Bank dapat menarik manfaat dari penempatan dana tersebut.
6. Safety net perbankan menghindari 100% own retention. Dengan
memanfaatkan fasilitas Asuransi Kredit Asuransi Asei, Bank
telah mengembangkan strategic partnership yang kuat dengan salah satu
jaring pengaman (safety net) Perbankan terhadap risiko atas kredit
yang disalurkannya. Bank tidak harus menanggung sendiri keseluruhan
beban kerugian (100% own retention) yang dalam jangka panjang dapat
berakibat catashtropical risks, dengan cara mengalihkan kemungkinan risiko
kerugian kepada Asuransi Asei.
7. Second opinion dalam analisa pemberian kredit. Asuransi Asei melakukan
risks assessment terhadap pertanggungan / penjaminan yang akan diberikan
Perbankan kepada Asuransi Asei. Dengan demikian Bank akan
memperoleh second opinion dari Asuransi Asei.
8. Clients referrals, Asuransi Asei dapat memberikan referrals atas nasabahnasabah yang memiliki track record baik untuk dapat memanfaatkan fasilitas
Bank.
9. Fungsi intermediasi perbankan meningkat. Bank lebih kompetitif, berani dan
bergairah di dalam menyalurkan kredit kepada sektor riil, dengan adanya
proteksi kredit dan insentif non subsidi manfaat-manfaat diatas.
Dengan demikian fungsi intermediasi Perbankan khususnya untuk
pembiayaan sektor riil akan meningkat.
b. Manfaat Bagi Sektor Riil/Debitur
1. Sektor riil akan terbantu likuiditasnya dengan adanya produk Asuransi Asei
yang menjadi jembatan penghubung antara sektor riil dan Perbankan.
2. Competitiveness sektor riil akan terbantu melalui : Likuiditas yang cukup serta
fasilitas kredit dengan tingkat bunga yang lebih baik, karena adanya
pembiayaan Bank yang didukung oleh Asuransi Asei.
3. Lapangan kerja baru tercipta sehingga mengurangi tingkat pengangguran.

1.4 Konsep dan Definisi


Premi adalah Suatu balas jasa yang harus dibayar oleh pengguna jasa
asuransi/penjaminan kredit kepada perusahaan asuransi (insurer) dalam suatu nilai
untuk mendapatkan hak penggantian kerugian dalam jumlah yang telah disepakati.
Cadangan resiko adalah Sejumlah nilai yang diperoleh dari bagian premi yang
digunakan sebagai cadangan dana untuk pembayaran klaim.
Biaya reasuransi adalah biaya yang dikeluarkan untuk mereasuransikan kembali
produk asuransi untuk tujuan memperkecil resiko (risk sharing) kepada perusahaan
reasuransi lainnya.
Biaya Pemasaran adalah biaya yang digunakan dalam kegiatan pemasaran
produk asuransi ke konsumen.
Komisi adalah Biaya yang dikeluarkan karena menggunakan jasa orang lain/broker
dalam memasarkan produk asuransi
Overhead Cost adalah Biaya awal yang dikeluarkan perusahaan sebelum produk
asuransi mulai dipasarkan.
Keuntungan (profit loading) adalah laba bersih yang diperoleh dari hasil
penjualan produk asuransi dalam suatu periode tertentu.
Biaya hubungan relasi (Maintenance Cost) adalah Biaya yang digunakan untuk
memelihara hubungan baik dengan konsumen/nasabah agar tetap menjadi
konsumen perusahaan.

2.1 Ruang Lingkup Manfaat


Dalam penghitungan tarif dasar premi ini diperlukan berbagai instrumen atau data
yang up to date dan lengkap yaitu meliputi:
1. Data Non Performance Guarantee (NPG) yaitu rasio antara net klaim dengan nilai
plafond kredit dalam bentuk persentase (%). Data NPG yang diperlukan adalah data
NPG seluruh jenis kredit/produk selama 5 (lima) tahun terakhir.

2. Data Laporan keuangan yang dapat mengambarkan perkembangan biaya usaha,


pendapatan premi/service charge, komisi, biaya overhead, cadangan resiko, biaya
reasuransi, dan lainnya.
3. Data tarif premi pesaing yang memasarkan produk yang sama dalam suatu industri
asuransi yang sama serta data variabel makro ekonomi yang dibutuhkan untuk
mengevaluasi perkembangan tarif premi.
4. Penghitungan tarif dasar premi ini menggunakan data nasional yang berasal dari
unit operasional yang direkam dalam database perusahaan.

3.1 Landasan Teori


Penentuan tarif dasar premi secara umum perlu memperhatikan beberapa
aspek yang fundamental seperti (1) dapat memenuhi biaya klaim yang diperkirakan
akan terjadi dan (2) menyediakan keuntungan untuk mengkompensasi seluruh biaya
untuk memperoleh modal yang digunakan untuk biaya penjualan. Menurut
Harrington dan Niehus (2003), variabel penentu yang digunakan untuk menentukkan
tarif premiun (fair premium) ini adalah terdiri dari Ekspektasi Biaya Klaim (Expected
Claim Cost), Pendapatan Investasi (investment income), Biaya administrasi
(administrative costs), dan Margin keuntungan perusahaan (fair profit loading)
seperti pada gambar 1 di bawah ini.

Dan menurut Nelson, Caroline & R. Beauchamp (November 2002) tentang tariff
premi adalah
The cost of product provision is referred to as the pure premium (being the claims
costs) plus expenses. The required premium is generally formulated as:
Premium required = Pure Premium + Expenses + Profit Loading
or P
= (1+) E[X]
where:

E[X] is the expected cost of losses and expenses


is the profit loading
P is the required premium
Pada perusahaan Asuransi dan Penjaminan Kredit (Credit insurance and
guarantee) yang dikategorikan dalam asuransi kerugian, variabel determinan yang
menentukan besaran tarif premi dapat berbeda dengan penentuan tarif premi di
perusahaan asuransi umum. Untuk menentukan variabel penentu (determinant
variables) perlu dilakukan pengkajian yang mendalam berdasarkan data empiris
atau statistik perusahaan yang menceritakan perkembangan kinerja
asuransi/penjaminan dari jenis produk yang dipasarkan perusahaan dan data
pendukung lainnya.
Penentuan tarif dasar premi dilakukan hanya pada suatu periode tertentu
karena tarif dasar premi akan mengalami koreksi atau evaluasi baik dari segi
keuntungan maupun daya tariknya. Faktor-faktor yang mempengaruhi atau
mengkoreksi daya tarik tarif premi baik dari sisi perusahaan maupun pasar asuransi
antara lain adalah variabel makro ekonomi seperti tingkat inflasi, suku bunga, dan
nilai tukar rupiah, dan variabel external perusahaan seperti perkembangan tarif
premi perusahaan pesaing yang memiliki jenis produk yang sama. Untuk
mengevaluasi tarif dasar premi pada suatu periode tertentu agar tetap kompetitif dan
menguntungkan perlu dilakukan suatu evaluasi tarif dasar premi (insurance pricing
evaluation) secara berkala sesuai dengan kondisi perekonomian nasional dan
persaingan di pasar asuransi (insurance market).

4.1 Actuarial Statement


Berdasarkan data empiris dan pendapat para pakar asuransi/penjaminan
kredit dalam memasarkan produk asuransi/penjaminan kredit selama ini, ada
beberapa komponen yang membentuk tarif premi dari masing-masing jenis produk
tersebut yaitu:
1.
2.
3.
4.

Cadangan resiko
Biaya akuisisi
Overhead cost
Profit loading

Biaya akuisisi yang digunakan dalam model persamaan diatas meliputi biaya
pemasaran , biaya hubungan relasi, biaya komisi, dan biaya reasuransi. Biaya
reasuransi selayaknya digunakan dalam formula tersebut apabila suatu jenis produk
asuransi kredit perlu direasuransikan lagi untuk menyebarkan resiko kepada
reinsurer.
Dengan menggunakan formula komponen determinan tarif premi diatas, ada
tiga cara pendekatan dalam menentukan nilai variabel tarif premi yaitu:
1.
2.
3.

Expert adjustment
Statistical approach
Combination of expert and statistical approach
Expert Adjustment
Pengertian expert adjusment disini adalah nilai-nilai variabel penentu/komponen tarif
premi (Cadangan resiko, Biaya akuisisi, Overhead cost, dan Profit loading)
ditentukan berdasarkan pendapat para ahli atau praktisi yang memiliki pengalaman
lama dalam menggeluti bisnis asuransi/penjaminan kredit. Pengalaman dan
keahlian para pakar tersebut bisa dijadikan masukan untuk memberikan suatu nilai
dari variabel determinan tarif premi karena berdasarkan pengalaman tersebut
perilaku variabel determinan (determinant variable behavior) dapat diperkirakan
dengan tingkat akurasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Statistical Approach
Penggunaan data empiris atau statistik menjadi dasar utama dalam statistical
approach ini sehingga hasil metode penghitungan dengan metode ini diharapkan
lebih realistis dan tidak ambisius.
Pada pendekatan ini, ada 3 (tiga) metode yang dapat ditempuh untuk menentukan
tarif premi yaitu:
1.

Pure Premium Method, yaitu suatu metode penentuan tarif dengan cara
merasiokan variabel loss dengan exposure seperti pada formula dibawah ini:
P=L/E,

dimana L adalah Loss dan E adalah Exposure.

Metode ini sebenarnya dapat disamakan dengan formula dalam menghitung Non
Performance Guarantee (NPG) yaitu
NPG = (Claim/ Credit Plafond) X 100 %

Secara konseptual, NPG adalah rasio antara net klaim dengan nilai plafond kredit
dalam bentuk persentase (%). Indikator NPG digunakan sebagai dasar untuk
menentukan batas yang aman (safe line) tarif dasar premi yang dihitung
berdasarkan data historis klaim dan plafond kredit dari setiap jenis produk
asuransi/penjaminan kredit. Dengan demikian, tarif premi yang menguntungkan
adalah harus diatas nilai NPG atau tarif premium > NPG. Namun penentuan tarif
premi dengan menggunakan indikator NPG ini harus melihat struktur pasar dimana
jenis produk asuransi/penjaminan kredit tersebut dipasarkan. Dalam pasar yang
bersaing, maka penentuan tarif ini harus melihat tarif premi pesaing agar tarif
preminya nanti lebih kompetitif dan menguntungkan. Kondisi yang menguntungkan
adalah berada dalam pasar yang monopolistik sehingga perusahaan dengan leluasa
dapat menentukan tarif premi di pasaran.
2.

Loss Ratio, yaitu secara konseptual adalah suatu rasio antara klaim yang terjadi
dengan jumlah premi yang diterima dalam bentuk persentase. Formula untuk
menghitung loss ratio ini adalah
Loss ratio = (Claim / Premium value) X 100 %
Loss ratio ini digunakan untuk mengukur loss atau kerugian yang dialami jika terjadi
klaim. Berdasarkan formula loss ratio tersebut maka ada 3 kemungkinan yaitu:
1.

Loss ratio 100 %, berarti bahwa premi yang diterima lebih besar
dibandingkan dengan klaim yang dibayar
2.
Loss Ratio 100 %, berarti bahwa premi yang diterima lebih kecil
dibandingkan dengan klaim yang dibayar atau dengan kata lain timbul
kerugian.
3. Loss Ratio = 100 %, yang mengindikasikan bahwa jumlah premi yang
diterima sama dengan klaim yang dibayar.
Namun pada kenyataannya, suatu tarif premi biasanya digunakan antara lain
sebagai cadangan resiko, komisi, biaya operasional, dan keuntungan perusahaan
dengan besaran jumlah yang bervariasi. Dengan demikian, berdasarkan
pengalaman bisnis (business experiences), jika loss ratio sudah melebihi angka 20
% dapat dipastikan perusahaan akan mengalami kesulitan dalam membiayai
operasional, cadangan klaim, komisi, bahkan kesulitan dalam menghasilkan
keuntungan. Untuk itu, berdasarkan pengalaman bisnis sebagai batas aman (safe
line) angka loss ratio untuk keuntungan perusahaan adalah tidak boleh melebihi 20
% ( 20 %).
3. Financial tracking method
Metode ini dihitung dengan cara menelusuri penggunaan nilai premi yang diterima
secara finansial mulai dari produk tersebut dalam proses pengembangan (product
development) sampai produk tersebut terjual dan memperoleh premi. Data historis
keuangan yang berkenaan dengan premi produk tersebut sangat dibutuhkan di
dalam menentukan struktur biaya tarif premi.
Pada kenyataannya, tariff premi perlu ditetapkan dengan memperhatikan biaya
resiko yang akan ditanggung jika terjadi wanprestasi (default). Hal ini perlu

diperhatikan karena pendapatan yang diperoleh dari produksi premi jika tidak
mencapai hukum bilangan besar (the law of large number) tidak akan dapat cukup
membiayai resiko yang akan terjadi. Dengan demikian, perlu menetapkan suatu tariff
dasar premi yang mengadopsi biaya resiko dan biaya lainnya yang melekat pada
biaya produksi dan biaya pemasaran produk asuransi dan penjaminan kredit
tersebut. Indikator yang dapat digunakan sebagai pendekatan biaya resiko adalah
NPG atau loss ratio.
Tujuan akhir penghitungan tariff dasar premi ini adalah untuk memperoleh tariff
premi yang dapat dijual ke pasar (market premium) yang memiliki asas kompetitif
dan menguntungkan. Tarif dasar premi merupakan suatu tariff awal atau dasar
sebagai tolok ukur tariff premi yang didasarkan atas variable resiko (NPG/Loss
ratio) dan komponen tariff premi (seperti cadangan resiko, biaya akuisisi, overhead
cost, dan profit loading). Tariff dasar premi belum di sesuaikan dengan variable
lainnya yang relevan seperti tariff premi pesaing, karakteristik produk yang secara
signifikan disinyalir berpengaruh terhadap tariff premi, dan variable ekonomi lainnya.
Dengan demikian, tariff dasar premi benar-benar tariff dasar yang digunakan
sebagai premium base yang dapat mengadopsi variable resiko (NPG dan Loss ratio)
dan variable komponen tariff premi. Sementara itu, Tarif premi pasar (market
premium) yang dapat dijual dapat dihitung dengan menyesuaikan tariff dasar premi
dengan variable lainnya seperti variable tariff premi pesaing, karakteristik produk
(produk pemerintah dan non pemerintah), dan karakteristik bisnis (ada agunan/tdk
ada agunan, condition/unco, dan ada reasuransi atau tidak). Variable lainnya ini
harus dapat terukur sehingga dapat dilakukan proses penyesuaian secara kuantitatif
atau kualitatif dengan tariff premi dasar yang sudah ditetapkan.
Alur Proses penghitungan tariff premi yang dijual ke pasar berdasarkan tariff dasar
premi seperti yang nampak pada diagram di bawah ini adalah sebagai berikut:
1.

Menghitung Tarif Dasar Premi. Tarif dasar premi ini dihitung berdasarkan variable
resiko yang didekati dengan indicator NPG atau Loss Ratio dan Variabel komponen
utama tariff seperti cadangan resiko, biaya akuisisi, overhead cost, dan profit
loading. Metode penghitungan tariff dasar ini akan dijelaskan pada uraian
berikutnya. Pada tarif dasar premi ini berusaha agar tarif premi yang akan dihasilkan
memiliki sifat yang menguntungkan (profitable premium) karena telah mengadopsi
resiko produk dan variabel biaya dari komponen tarif premi.

2.

Penyesuaian dengan Variabel lainnya. Tariff dasar premi yang telah dihasilkan
harus diarahkan agar tariff premi tersebut dapat diterima oleh pasar (accepted by
market) yang memiliki sifat kompetitif. Untuk menyesuaikan tariff dasar premi agar
lebih marketable maka menggunakan variable lain yang secara signifikan
berpengaruh dalam menentukan tariff premi pasar ini. Variabel lainnya yang dilihat
pengaruhnya antara lain variable tariff premi pesaing, karakteristik produk, dan
karakteristik bisnis. Pengukuran pengaruh variable lainnya ini dapat digunakan
metode kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan kebutuhan penghitungan tariff premi
pasar.

3.

Menghitung Tarif Premi yang dijual ke pasar (market premium). Tarif premi ini
ditentukan dengan menyesuaikan tariff dasar premi dengan variable lainnya yang
dianggap signifikan mempengaruhi asas kompetitif tariff premi di pasaran.

4.

Kebijakan Penentuan Tarif Premi oleh manajemen. Setelah menentukan tarif


premi pasar, maka manajemen perusahaan menguatkan tarif premi tersebut dengan
mengeluarkan suatu keputusan hukum yang mengikat pada seluruh pengguna tarif
dalam memasarkan produk ke pasar. Keputusan manajemen tentang tarif premi ini
bersifat sementara dalam periode tertentu dimana tarif premi masih dapat
menguntungkan dan bersaing di pasar. Kebijakan penentuan tarif premi ini bisa
dilakukan perubahan sesuai dengan kondisi pasar dan perekonomian secara
menyeluruh.

5.

Monitoring dan evaluasi tarif Premi. Perkembangan ekonomi dan pasar asuransi
dan penjaminan kredit relatif dinamis yang menyebabkan supply dan demand pasar
bergerak dengan dinamis. Disamping itu, dengan network perusahaan yang semakin
luas tersebar di seluruh daerah di Indonesia, penggunaan tarif premi resmi yang
telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan perlu dilakukan pengawasan dan
monitoring sehingga sesuai dengan tujuan kebijakan tarif premi tersebut. Untuk
mengantisipasi keadaan tersebut perlu dilakukan monitoring dan evaluasi tarif
secara periodik sesuai dengan kondisi ekonomi dan pasar asuransi dan penjaminan
kredit agar tarif premi tetap dapat bersaing dan menguntungkan. Periodisasi
evaluasi tarif premi perlu ditetapkan agar tarif premi selalu up to date dan sesuai
dengan persaingan tarif premi di pasaran.

Salah satu faktor yang dapat memperkecil tingkat resiko adalah


mengoptimalkan kegiatan manajemen resiko. Suatu manajemen resiko yang briliant
atau efisien dan efektif tentu akan berdampak pada usaha untuk memperkecil resiko
secara signifikan. Begitu pula sebaliknya jika usaha manajemen resiko yang kurang
optimal atau gagal tidak memberikan pengaruh sama sekali terhadap tingkat resiko
yang akan terjadi. Disini perlu mengkategorikan suatu manajemen resiko agar dapat
memetakan resiko dengan tepat dan memiliki keakuratan yang relatif tinggi. Kategori
manajemen resiko yang bisa dimasukkan dalam pohon resiko dapat berupa; sangat
baik, baik, tidak optimal, dan tidak berhasil, dimana kategori tersebut memiliki
peluang atau tingkat resiko yang berbeda sesuai dengan data historis atau pendapat
para pakar. Variabel mitigasi resiko yang merupakan buah akitivitas manajemen
resiko perlu dijadikan variabel yang dapat mempengaruhi tingkat resiko seperti
halnya variabel lainnya yang masuk dalam pohon resiko.

4.2 Tahap Penghitungan Tarif Dasar Premi


Dalam penghitungan nilai komponen tarif premi ini digunakan gabungan metode
penghitungan atau modifikasi rumus-rumus (modified method) seperti di atas agar
dapat sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan perusahaan.
Penentuan tarif premi dasar dapat berupa satu titik (one point) atau interval,
namun lebih baik dalam bentuk interval agar dapat fleksibel dalam memutuskan tarif
dasar mana yang akan dipilih. Ada beberapa cara untuk menentukan dasar
pembentukan interval antara lain adalah menggunakan indikator NPG dan loss ratio
dari masing-masing jenis produk. Pada penghitungan berikut ini akan diuraikan
metode penetapan one point tarif dasar premi yang berdasarkan indikator NPG.
Formulasi yang digunakan dalam menghitung tarif dasar premi ini disebut sebagai
financially weigthed risk method*) , yaitu suatu metode penghitungan tarif
premium dengan menggunakan suatu ukuran resiko yang tertimbang dengan dasar
indikator keuangan yang relevan dari suatu jenis produk asuransi dan penjaminan

kredit. Metode ini merupakan metode baru yang dikembangkan secara mandiri
berdasarkan pertimbangan dan kaidah-kaidah ilmiah serta praktek bisnis sehingga
memudahkan dalam mengaplikasikannya.
Dalam metode ini, apabila ada kesulitan dalam menelusuri penggunaan premi
secara finansial atau keterbatasan data untuk membiayai kegiatan bisnis seperti
biaya overhead, biaya pemasaran, maintenace cost, dan lainnya, maka dilakukan
pendekatan atau estimasi. Metode estimasi ini menggunakan data historis laporan
keuangan dengan memperhatikan nilai NPG atau resiko (klaim) untuk masingmasing jenis produk asuransi/penjaminan kredit yang dihitung dengan beberapa
tahapan yaitu:
1.

Tentukan andil (share) klaim dari masing-masing jenis produk asuransi/penjaminan


kredit secara proporsional dalam bentuk persentase (%) selama periode tertentu.
Keterangan:
s = Andil klaim jenis produk asuransi/penjaminan kredit ke i pada periode n
C i = Nilai klaim jenis produk asuransi/penjaminan kredit ke-i pada periode n
Penggunaan klaim sebagai dasar untuk menghitung andil ini adalah bahwa jika
suatu produk asuransi/penjaminan kredit mengalami default (wanprestasi) dan
timbul klaim maka akan lebih banyak membutuhkan biaya dibandingkan dengan
jenis produk yang tidak banyak mengalami klaim. Data NPG per jenis produk juga
dapat digunakan untuk memperoleh andil tersebut karena NPG dan klaim memiliki
pola yang sama dalam menggambarkan kebutuhan biaya suatu produk karena
terjadi default. Periodisasi yang digunakan dalam menghitung andil ini dapat
tahunan atau bulanan sesuai dengan ketersediaan data yang ada. Dengan
demikian, data klaim tahunan untuk masing-masing jenis produk dibutuhkan yang
kemudian dikumulatifkan sehingga memperoleh nilai total klaim dari seluruh jenis
produk.

2.

Setelah menentukan andil klaim masing-masing jenis produk, maka langkah


selanjutnya adalah menghitung nilai masing-masing biaya secara finansial dengan
cara mengalikan andil tersebut dengan rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk
membiayai variabel determinan premi yang ada dalam laporan keuangan dalam
periode tertentu. Data laporan keuangan yang digunakan adalah rata-rata dari biayabiaya tersebut selama periode tertentu untuk memperoleh pola besaran biaya dalam
waktu tertentu
Keterangan:
W nit =
Nilai jenis produk ke-i dari biaya variabel determinan ke t yang
tertimbang dengan klaim pada periode n
E nit
=
Biaya variabel determinan/komponen tarif premi ke-t untuk jenis
produk ke-i pada periode n
S ni
=
Andil (share) klaim jenis produk ke-i pada periode n
Penghitungan bobot untuk masing-masing akun biaya pembentuk premi ini
digunakan untuk mengetahui struktur biaya (cost structure) dari variabel determinan
tersebut sehingga dapat mengetahui pola besaran biaya yang dikeluarkan untuk
masing-masing jenis produk berdasarkan klaim yang dibayar.

3.

Menghitung struktur biaya (WC it) (cost structure) yang tertimbang dengan NPG
masing-masing jenis kredit/produk. Sebelumnya menghitung NPG dari masingmasing jenis produk. Tujuan penghitungan struktur biaya yang tertimbang ini adalah
agar struktur biaya tersebut dapat mengadopsi resiko yang timbul dari jenis produk
sehingga lebih realistik dengan pengalaman resiko dari produk tersebut.
Dimana:
NPG ni
= Non Performance Guarantee jenis produk I periode n
W nit =
Nilai jenis produk ke-i dari biaya variabel determinan ke t yang
tertimbang pada periode n
WC nit =
Nilai jenis produk ke-i dari variabel determinan ke-t yang
tertimbang dengan NPG periode n

4.

Menjumlahkan nilai WC nit diatas dengan nilai NPG masing-masing jenis produk
tersebut sehingga diperoleh suatu total komponen biaya yang tertimbang dari
komponen tarif premi yang telah ditentukan. Hal ini dilakukan agar biaya komponen
tarif premi diatas dapat menyerap resiko yang digambarkan dengan indikator NPG.
Dengan demikian, formulasi ini memberikan safe line yang jelas agar penetapan tarif
premi dasar sudah mencakup biaya-biaya komponen tarif premi yang telah
disesuaikan dengan resiko yang akan dialami oleh jenis produk asuransi dan
penjaminan kredit sehingga tidak mengakibatkan kerugian yang besar bagi
perusahaan jika terjadi wan prestasi (default). Nilai ini dapat disebut sebagai Biaya
(Cost) yang sudah disesuaikan (Cost adjusted).
dimana:
C (adjusted)it

= Biaya jenis produk i pada variabel determinan t yang telah


disesuaikan.

Penghitungan Tarif Dasar Premi.


Produk asuransi 'Tesla Protection
Perusahaan Asuransi Gaya Arah Perkasa
1. Berdasarkan Expert adjusment
Misal (menggunakan angka data fiktip) dalam memasarkan produk asuransi, jumlah
nilai plafond kredit yang diasuransikan adalah sebesar Rp. 100 juta dengan tarif
premi yang biasa diterapkan adalah 1,3 %. Maka nilai premi yang diperoleh dalam
bentuk rupiah adalah 1,3 % X Rp. 100 juta adalah Rp. 1,3 juta.
Premi sebesar Rp. 1,3 juta itu, menurut pengalaman dan pendapat para pakar
asuransi/penjaminan kredit atau praktisi, ukuran atau nilai yang digunakan untuk
membiaya variabel :
1.
2.

Cadangan klaim = 15 % atau 15 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 195.000,Biaya reassurance = 10 % ate 10 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 130.000,-

3.
4.
5.
6.
7.

Biaya pemasaran = 25 % atau 25 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 325.000,Maintenance cost = 10 % atau 10 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 130.000,Komisi sebesar 10 % atau 10 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 130.000,Overhead cost = 10 % atau 10 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 130.000,Profit loading = 20 % atau 20 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 260.000,Untuk mengkonversikan nilai variabel determinan diatas dalam bentuk persentase
dapat dihitung dengan cara:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Cadangan resiko = Rp. 195.000,- atau 1,3 % X (195.000/1.300.000) = 0,195 %


Biaya reasuransi = Rp. 130.000,- atau 1,3 % X (130.000/1.300.000) = 0,13 %
Biaya pemasaran = Rp. 325.000,- atau 1,3 % X (325.000/1.300.000) = 0,325 %
Maintenane cost = Rp. 130.000,- atau 1,3 % X (130.000/1.300.000) = 0,13 %
Komisi = Rp.130.000,- atau 1,3 % X (130.000/1.300.000) = 0,13 %
Overhead cost = Rp. 130.000,- atau 1,3 % X (130.000/1.300.000) = 0,13 %
Profit loading = Rp. 260.000,- atau 1,3 % X (260.000/1.300.000) = 0,26 %
2. Financially Weigthed Risk Method
Penghitungan tarif premi dengan metode ini merupakan gabungan dari metode
expert adjustment dan statistical approach. Hal ini dilakukan karena selain
menggunakan data historis yang berkaitan dengan perkembangan resiko suatu
produk dan indicator keuangan, adakalanya diperlukan suatu adjustment atau
pertimbangan dari para pakar asuransi dan penjaminan kredit agar tarif tersebut
lebih realistic berdasarkan pengalaman bisnis.
Dalam formulasi tersebut (nomor formula (vii) sampai dengan (xiii)) diharapkan
memperoleh suatu tariff dasar premi yang telah mengadopsi biaya komponen tarif
premi dan resiko yang telah terjadi.
Apabila berdasarkan data historis ditemukan nilai NPG yang sangat besar maka
perlu dilakukan suatu treatment yang dapat menjadikan tarif premi nanti lebih
kompetitif dan menguntungkan dengan jalan merubah periodesasi data NPG atau
disesuaikan dengan tarif premi pasar serta kondisi ekonomi makro yang berlaku.
Maksud metode ini adalah menentukan suatu nilai dimana tarif premi tersebut dapat
membiayai resiko dan variabe biaya yang digunakan dalam memproduksi jasa
asuransi dan penjaminan kredit untuk masing-masing jenis produk. Dengan
demikian, formula financially weigthed risk method ini dapat secara ringkas di
gambarkan sebagai berikut:
Tarif dasar premi (P) = variabel resiko + variabel biaya
2. Financially Weigthed Risk Method
Penghitungan tarif premi dengan metode ini merupakan gabungan dari metode
expert adjustment dan statistical approach. Hal ini dilakukan karena selain
menggunakan data historis yang berkaitan dengan perkembangan resiko suatu
produk dan indicator keuangan, adakalanya diperlukan suatu adjustment atau

pertimbangan dari para pakar asuransi dan penjaminan kredit agar tarif tersebut
lebih realistic berdasarkan pengalaman bisnis.
Dalam formulasi tersebut (nomor formula (vii) sampai dengan (xiii)) diharapkan
memperoleh suatu tariff dasar premi yang telah mengadopsi biaya komponen tarif
premi dan resiko yang telah terjadi.
Apabila berdasarkan data historis ditemukan nilai NPG yang sangat besar maka
perlu dilakukan suatu treatment yang dapat menjadikan tarif premi nanti lebih
kompetitif dan menguntungkan dengan jalan merubah periodesasi data NPG atau
disesuaikan dengan tarif premi pasar serta kondisi ekonomi makro yang berlaku.
Maksud metode ini adalah menentukan suatu nilai dimana tarif premi tersebut dapat
membiayai resiko dan variabe biaya yang digunakan dalam memproduksi jasa
asuransi dan penjaminan kredit untuk masing-masing jenis produk. Dengan
demikian, formula financially weigthed risk method ini dapat secara ringkas di
gambarkan sebagai berikut:
Tarif dasar premi (P) = variabel resiko + variabel biaya
Tahapan penghitungan dengan
metode Financially Weigthed Risk
menggunakan data fiktif sebagai contoh adalah sebagai berikut:
I.

dengan

Menghitung nilai variabel determinan yang diperoleh dari laporan keuangan selama
periode tertentu. Laporan keuangan yang digunakan ada dua cara yaitu di pilih
laporan keuangan dengan predikat minimal sehat pada suatu periode tertentu atau
merata-ratakan nilai laporan keuangan tersebut sesuai dengan jangka waktu
penutupan produk asuransi dan penjaminan kredit yang paling lama agar dapat
mencakup klaim yang terjadi. Periode yang digunakan dalam penghitungan tarif
premi ini adalah tahun 2002 2006, kemudian hitung rata-ratanya seperti pada
worksheet dibawah ini:

II. Pada worksheet A, kelompokan akun-akun yang termasuk variabel determinan tarif
premi/komponen tarif premi seperti pada worksheet B di bawah ini. Untuk variabel
cadangan klaim/resiko, burning cost, dan biaya reasuransi, apabila tidak ada nilainya
dalam laporan keuangan, maka dapat diestimasikan dengan cara:
a. Variabel cadangan klaim/resiko (CD) untuk masing-masing jenis produk, diestimasi
dengan menghitung:
Contoh: diketahui (nilai klaim / plafond kredit) variabel cadangan resiko/klaim
ditetapkan berdasarkan pendapat pakar asuransi & penjaminan kredit adalah 0,15,
maka nilai CD est adalah 0,15 X 206.078 = 30.911,68.
Pengertian total pendapatan disini adalah nilai total pendapatan yang diperoleh
dari hasil laporan keuangan seperti yang tercantum pada worksheet A diatas.
b.

Variabel biaya reasuransi dan maintenance cost (mc) dapat diestimasi dengan cara
mengalikan factor pengali (multiplier factor) yang berasal dari data empiris atau
expert adjusment dengan nilai total pendapatan yang ada di laporan keuangan.
Nilai variabel mc dan biaya reasuransi ini idealnya dihitung secara akuntansi
dari indikator keuangan yang ada. Seandainya ada keterbatasan dalam
memperoleh data tersebut dari laporan keuangan, maka nilai kedua variabel
tersebut dilakukan dengan pendekatan (estimasi) dari pendapat para pakar (expert
adjustment) untuk menentukan berapa besar persentase pengeluaran untuk kedua
variabel tersebut terhadap total pendapatan.
Worksheet B.

Pada worksheet B diatas adalah contoh penghitungan tariff untuk jenis produk
Jaminan Pelaksanaan pada Surety Bond dengan nilai NPGnya adalah 1,20 %.
Secara lengkap tahapan ini dapat dilihat pada lampiran.
III. Hitung W nit, WC it, dan C (adjusted)it seperti yang terlihat pada worksheet B diatas.
Contoh: Nilai Sni adalah andil klaim produk asuransi & penjaminan kredit ke I pada
periode n. Untuk melihat penghitungan S ni digunakan suatu contoh pada produk
jaminan pelaksanaan Surety Bond seperti tertera pada worksheet B diatas, dan nilai
Sni untuk produk tersebut adalah 18,07. maka untuk menghitung W nit untuk variable
cadangan resiko/klaim adalah

E nit
=
Biaya variabel determinan/komponen tarif premi ke-t untuk jenis
produk ke-i pada periode n
Misal untuk biaya variabel cadangan resiko (E nit ) seperti pada contoh worksheet B
di atas adalah 30.911,68
Karena WCit menggunakan data NPG, maka pada penghitungan diatas diasumsikan
nilai NPG suatu jenis produk berdasarkan data empiris adalah 1,20 %.
Setelah itu menghitung Biaya (Cost) yang sudah disesuaikan (Cost adjusted) (C
(adjusted)it ) dengan cara menambahkan nilai NPG dengan WC it. Contoh menghitung
C (adjusted)it untuk variabel resiko/klaim seperti pada worksheet B adalah
= NPG i + WC nit (cadangan resiko) = 1,20 + 0,1559538 = 1,35
Kemudian menghitung Total Cost (TC (adjusted)i) yang disesuaikan dengan resiko
(NPG) seluruh variable determinan seperti terlihat pada worksheet B diatas yang
bernilai 9,47. setelah itu, hitunglah rata-rata cost (C (adjusted)it) seperti pada worksheet
B dan diperoleh angka sebesar 1,35.
Dengan demikian, tarif dasar premi yang kompetitip dan menguntungkan adalah
ekuivalen dengan Rata-rata Cost (C (adjusted)i) yang disesuaikan dengan resiko (NPG).
Untuk menentukan nilai variabel biaya dapat dilakukan dengan cara:
imana jumlah variabel adalah 7, (p=7), maka
Rata-rata Cos(C (adjusted)I ) = (C (adjusted)it CD + C (adjusted)it Reas + C (adjusted)it MC + C (adjusted)it
BP + C (adjusted)it OHP + C (adjusted)it Profit + C (adjusted)it Komisi)/7 = (1,35 + 1,32+1,20 +
1,22 + 1,51 + 1,65 + 1,22 )/7 = 1,35
Jadi tariff dasar premi di atas adalah 1,35 sebagai rata-rata C

(adjusted)I

Dengan demikian, untuk menentukan variable biaya seperti pada rumus (x) di atas
adalah
= NPG + variabel biaya = rata-rata NPG
= 1,20 % + variabel biaya = 1,35

(adj)

= tarif premi

Maka nilai variabel biayanya adalah


Nilai variabel biaya = 1,35 1,20 = 0,15
Aplikasi dari metode penghitungan tarif dasar premi dengan metode Financially
Weigthed Risk Method dapat dilihat pada lampiran makalah ini.

4.3 Kebijakan Penentuan Akhir Tarif Dasar


Premi
Tarif dasar premi yang digunakan untuk memasarkan produk asuransi dan
penjaminan kredit pada akhirnya harus melihat tarif premi pasar/struktur pasar
industri jasa, karakteristik produk, karakteristik bisnis dan variabel ekonomi yang
relevan ( seperti inflasi & suku bunga). Ada beberapa skenario yang akan muncul
dari hasil penghitungan tarif dasar premi yang menggunakan data empiris tersebut
yaitu:
1.

Skenario Pertama, jika berdasarkan data empiris NPG terekam bahwa nilai NPGnya relatif tinggi dan ketika digunakan sebagai dasar penghitungan tarif dasar premi
ternyata menghasilkan tarif premi yang tinggi dan tidak kompetitif, maka perlu
dilakukan penyesuaian kembali dengan jalan:

a.

Jika struktur pasar produknya adalah persaingan, maka tarif premi tersebut
disesuaikan dengan tarif premi pasar namun masih dianggap menguntungkan
perusahaan.
b. Jika struktur pasarnya monopolistik, maka gunakan hasil penghitungan tarif dasar
premi tersebut dengan melihat kemampuan debitur/konsumen produk asuransi dan
penjaminan kredit serta keuntungan perusahaan.
2.

Skenario kedua, seandainya berdasarkan data empiris NPG menghasilkan tarif


dasar premi paling rendah dibandingkan tarif premi pasar sebagai akibat dari
kebijakan manajemen resiko yang baik, maka perlu dilakukan beberapa
penyesuaian dengan memperhatikan tarif premi pesaing dan keuntungan yang akan
diperoleh oleh perusahaan.

Contoh Penghitungan Tarif Dasar Premi.


1. Berdasarkan Expert adjusment

Misal (menggunakan angka data fiktip) dalam memasarkan produk asuransi, jumlah
nilai plafond kredit yang diasuransikan adalah sebesar Rp. 100 juta dengan tarif
premi yang biasa diterapkan adalah 1,3 %. Maka nilai premi yang diperoleh dalam
bentuk rupiah adalah 1,3 % X Rp. 100 juta adalah Rp. 1,3 juta.
Premi sebesar Rp. 1,3 juta itu, menurut pengalaman dan pendapat para pakar
asuransi/penjaminan kredit atau praktisi, ukuran atau nilai yang digunakan untuk
membiaya variabel :
1.
2.
3.
4.

Cadangan klaim = 15 % atau 15 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 195.000,Biaya reassurance = 10 % ate 10 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 130.000,Biaya pemasaran = 25 % atau 25 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 325.000,Maintenance cost = 10 % atau 10 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 130.000,-

5.
6.
7.

Komisi sebesar 10 % atau 10 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 130.000,Overhead cost = 10 % atau 10 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 130.000,Profit loading = 20 % atau 20 % X Rp. 1,3 juta = Rp. 260.000,Untuk mengkonversikan nilai variabel determinan diatas dalam bentuk persentase
dapat dihitung dengan cara:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Cadangan resiko = Rp. 195.000,- atau 1,3 % X (195.000/1.300.000) = 0,195 %


Biaya reasuransi = Rp. 130.000,- atau 1,3 % X (130.000/1.300.000) = 0,13 %
Biaya pemasaran = Rp. 325.000,- atau 1,3 % X (325.000/1.300.000) = 0,325 %
Maintenane cost = Rp. 130.000,- atau 1,3 % X (130.000/1.300.000) = 0,13 %
Komisi = Rp.130.000,- atau 1,3 % X (130.000/1.300.000) = 0,13 %
Overhead cost = Rp. 130.000,- atau 1,3 % X (130.000/1.300.000) = 0,13 %
Profit loading = Rp. 260.000,- atau 1,3 % X (260.000/1.300.000) = 0,26 %
Dengan demikian, maka secara keseluruhan nilai variable dalam formula diatas
menjadi:
1,3 % = 0,195 %+ 0,13 % + 0,325 % + 0,13 % + 0,13 % + 0,13 % + 0,26 %

4.4 Monitoring dan Evaluasi Tarif Dasar


Premi
Tarif dasar premi seperti halnya harga produk perdagangan lainnya di
pasaran cenderung mengalami perkembangan yang fluktuatif sesuai dengan
pergerakan indikator ekonomi yang dinamis, kondisi permintaan masyarakat,
dan perilaku dari para industri pesaing yang memasarkan bisnis asuransi &
penjaminan kredit yang sejenis. Untuk menyesuaikan pergerakan tarif dasar
premi yang dinamis di pasar tersebut, perlu dilakukan suatu kegiatan monitoring
dan evaluasi tarif dasar premi secara rutin pada periode tertentu. Kegiatan
monitoring dan evaluasi tarif dasar premi harus di dukung dengan instrumen
informasi dan data yang relevan dan up to date sehingga penentuan kembali
tarif dasar premi tersebut tetap memiliki asas kompetitif dan menguntungkan.
Kebutuhan data tentang data tarif premi yang berlaku di pasar, indikator
ekonomi, dan potensi pasar sangat diperlukan sebagai dasar melakukan evaluasi
tarif disamping ada kegiatan marketing research yang memadai.

5.1 Cara dan Strategi Pemasaran Produk


Bahwa strategi pemasaran adalah alat fundamental yang direncanakan untuk
mencapai tujuan perusahaan dengan mengembangkan keunggulan bersaing yang
berkesinambungan melalui pasar yang dimasuki dan program pemasaran yang
digunakan untuk melayani pasar sasaran tersebut. Untuk menunjang strategi
pemasaran agar sukses diperlukan kapabilitas yang baik dari pihak internal
perusahaan. Strategi pemasaran harus memperhatikan elemen 4P, yang
terdiri dari product, promotion, price dan place.
1. Product: Di era pemasaran yang banyak persaingan pada masa ini,
keupayaan mengemukakan produk yang lebih kompetitif sangat penting
sebagai strategi pemasaran. Melalui penggunaan teknologi dan kepakaran
yang tinggi, pengeluar boleh menghasilkan produk yang berkualiti, namun
untuk memiliki kelebihan kompetitif dikalangan pesaing, lianya memerlukan
berbagai inisiatif tambahan oleh pemasar. Asasnya, isu terpenting mengenai
produk ialah ianya perlu menetapi keperluan, kemahuan dan harapan
pengguna. Di sini, faktor faktor lain selain kualiti seperti variety untuk pilihan,
kesesuaian rekabentuk, kaedah pembungkusan, faedah penggunaan, serta
berbagai attribute daripada produk patut diambilkira untuk menarik perhatian
pelanggan. Di peringkat awalnya, strategi produk menghendaki pemasar
menganalisa persekitaran pasaran seperti demand, persaingan dan
pertumbuhan serta mengukurnya dengan keupayaan yang ada. Pemasar
juga perlu menjangkakan perubahan dan pelbagai situasi luar kawalan dan
menyediakan alternatif
2. Price: Umumnya, menjadi fahaman bahawa harga melambangkan kualiti
produk. Tetapi, dalam realiti pemasaran fakta tersebut tidak semestinya betul
untuk dijadikan asas perletakan harga yang strategik. Strategi penetapan
harga menjadi penting di atas kesedaran pemasar bahawa faktor harga
berperanan dalam mempengaruhi pengguna untuk membeli dan kekal
sebagai pelanggan sesuatu produk. Di masa yang sama penetapan harga
mesti berasaskan kepada objektif yang hendak dicapai daripada pemasaran
itu sendiri. Samaada memperkenalkan produk baru ke pasaran, memasuki
segmen baru pasaran, menstabil harga atau menandingi harga pesaing,
jualan penghabisan stok, jualan produk yang spesifik, dsb., strategi harga
sepatutnya mempunyai kriteria yang berbeda. Kepada pemasar, harga
merupakan kaedah meghasilkan pendapatan dan mencipta keuntungan
3. Place: Strategi penempatan memberi penekanan kepada aspek saluran
pengedaran produk yang berfungsi menyampaikan produk kepada pengguna
sasaran. Ianya melibatkan aktiviti perkhidmatan seperti transaksi, inventori,
lojistik dan kelengkapan fasiliti. Disamping itu, strategi ini juga perlu
mengambilkira faktor liputan pengedaran dan kebolehan kakitangan serta
tahap perkhidmatan mereka. Menawarkan produk yang betul, di tempat/lokasi
yang betul dan pada masa yang betul, adalah tujuan kepada strategi ini.
Kesemua ini sangat bergantung kepada keberkesanan saluran-

saluranpengedaran yang ditetapkan. Bagaimana produk ditempatkan di


kalangan pengguna, begitu jugalah penerimaan mereka

4. Promotion: Terdapat juga anggapan bahawa produk yang berkualiti akan


terjual dengan sendirinya. Tetapi, dalam strategi mempromosi, pemasar
melaksanakan aktiviti memperkenalkan produk yang hendak ditawarkan
kepada pengguna. Dalam usaha tersebut berbagai kaedah promosi perlu
dilaksanakan agar pengguna mengetahui, memahami dan seterusnya
membuat keputusan untuk menggunakan produk.Tanpa aktiviti promosi,
pemasaran produk yang berkualiti sekalipun tidak menjadi aktif dan industri
sukar memperoleh tahap kompetitif yang dikehendaki di pasaran. Untuk
menarik pengguna membeli produk bukannya tugas yang mudah. Mereka
perlu dipengaruhi, bukan setakat di perkenal sahaja. Mereka perlu diberi
kesedaran hingga mereka merasa perlu untuk membeli produk yang
ditawarkan. Pengiklanan melalui media massa utama, antara kaedah
mempromosi yang termahal, menjadi pilihan industri yang berkemampuan.
Walaupun tahap keberkesanannya agak sukar diukur, tetapi yang lebih
penting di sini adalah faktor penyebaran maklumat produk yang meluas. Di
samping pengiklanan, kaedah promosi yang lain-lain boleh digunakan,
samaada serentak mahupun berasingan, bersesuaian dengan objektif
pemasaran serta faktor-faktor seperti kos, peluang dan kebolehan
berinteraksi yang lebih terbuka dengan pelanggan.Sementara itu, sebagai
tambahan kepada 4P di atas, Booms & Bitner telah menambah 3P lagi
kepada bauran sediaada iaitu People, Process dan Physical
Evidence.Penerangan ringkas kepada 3P tambahan ini adalah seperti
berikut:
A. People: Faktor manusia (yang terlibat secara langsung & tidak langsung)
dalam aktiviti penyampaian produk di pasaran tidak patut dikecualikan.
Peranan kakitangan yang menjalankan pelbagai aktiviti berkaitan pemasaran
perlu dijadikan sebagai strategi. Oleh itu inisiatif dari aspek kebolehan,
kemampuan dan kepakaran para pekerja dan pihak pengurusan di industri
perlu juga di beri perhatian dalam strategi meningkatkan keupayaan
pemasaran.
B. Process: Proses / aliran kerja termasuk arahan dan prosedur yang bertepatan
bagi setiap aktiviti merupakan elemen yang akan menentukan keberkesanan
dan kejayaan pemasaran. Oleh itu, ianya juga adalah inisiatif yang strategik
sesebuah industri untuk memasukkan unsur process ini kedalam strategi
pemasarannya.
C. Physical Evidence: Kebolehan dan keupayaan industri dalam penyampaian
perkhidmatan mestilah dipadankan bersesuaian dengan persekitaran pasaran
di mana perkhidmatan diberikan. Ini akan meningkatkan lagi keberkesanan
dalam berkomunikasi dan melaksanakan penyampaian produk, khasnya
dalam aspek kepuasan kepada pengguna sasaran.STRATEGI pemasaran 4
P boleh dikatakan sebagai tindakan empat serangkai oleh pemasar untuk
menawarkan produk kepada pelanggan sasaran dengan cara yang lebih
efektif. Sementara tambahan 3P lagi kepada bauran tersebut adalah sebagai

pelengkap yang Konsep dalam penelitian ini terdiri dari strategi pemasaran di
mana didalamnya akan membahas: kredit UKM, keuntungan kredit UKM ,
strategi pemasaran kredit UKM, tingkat keberhasilan pemasaran kredit UKM
.

6.1 Polis Asuransi Kerugian Kredit


Asuransi Kerugian Kredit adalah program asuransi yang melindungi dan
menjamin Pemegang Polis selaku "Pemberi Kredit" (Kreditur) dalam hal Tertanggung
selaku "Penerima Kredit" (Debitur) mengalami risiko:

Kematian Akibat Kecelakaan

Kematian Biasa/ Natural Death

Cacat Tetap Akibat Kecelakaan

Perluasan Jaminan PHK

Calon Debitur --> Bank --> Asuransi


Nilai Pertanggungan yang dapat di jamin:
1. Sisa Pinjaman tanpa tunggakan
dan bunga
2. Sisa Pinjaman dengan tunggakan
dan bunga maks. 3 bulan.
3. Sebesar Pinjaman/ plafon awal
Tertanggung

Bank Umum, BPR dan Koperasi

Kepesertaan:
1. Debitur Bank Umum yang berusia
antara 20 s/d 64 tahun, dan usia
tertanggung ditambah masa
asuransi maksimal 65 tahun

2. Debitur Bank BPR/Koperasi yang


berusia antara 20 s/d 64 tahun, dan
usia tertanggung ditambah masa
asuransi maksimal 65 tahun.

Contoh Polis Asuransi Kerugian


Contoh SPPA dibawah diambil dari perusahaan asuransi ACA

Asuransi memang banyak manfaat nya jika terjadi kejadian yang tak terduga,
asuransi yang umum di gunakan yaitu seperti asuransi motor, asuransi mobil terbaik,
asuransi perjalanan, asuransi pendidikan, asuransi kesehatan, asuransi rumah,
asuransi property , dan di bawah ini adalah fungsi dan isi polis asuransi

1. Fungsi Polis
Menurut ketentuan pasal 225 KUHD perjanjian asuransi harus dibuat secara tertulis
dalam bentuk akta yang disebut polis yang memuat kesepakatan, syarat-syarat
khusus dan janji-janji khusus yang menjadi dasar pemenuhan hak dan kewajiban
para pihak (penanggung dan tertanggung) dalam mencapai tujuan asuransi. Dengan
demikian, polismerupakan alat bukti tertulis tentang telah terjadinya perjanjian
asuransi antara tertanggung dan penanggung.
Mengingat fungsinya sebagai alat bukti tertulis maka para pihak (khususnya
Tertanggung) wajib memperhatikan kejelasan isi polis dimana sebaiknya tidak
mengandung kata-kata atau kalimat yang memungkinkan perbedaan interpretasi
sehingga dapat menimbulkan perselisihan (dispute).

2. Isi Polis
Menurut ketentuan pasal 256 KUHD, setiap polis kecuali mengenai asuransi jiwa
harus memuat syarat-syarat khusus berikut ini:
a. Hari dan tanggal pembuatan perjanjian asuransi
b. Nama tertanggung, untuk diri sendiri atau pihak ketiga
c. Uraian yang jelas mengenai benda yang diasuransikan
d. Jumlah yang diasuransikan (nilai pertanggungan)
e. Bahaya-bahaya/ evenemen yang ditanggung oleh penanggung
f. Saat bahaya mulai berjalan dan berakhir yang menjadi tanggungan penanggung