Anda di halaman 1dari 12

Borang Portofolio

Nama Peserta : dr. Kristanti Andarini


Nama Wahana : RS Bhayangkara Balikpapan
Topik : Depresi Berat Tanpa Gejala Psikotik
Tanggal (kasus) : 31 Januari 2016
Nama Pasien : Ny. SR
No.RM : 05 33 53
Tanggal Presentasi : 25 Januari 2016
Nama Pendamping : dr. Ami Noviana P.
Tempat Presentasi :
Ruang Presentasi RS Bhayangkara Baikpapan
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi Anak
Remaja Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi :
Perempuan, 49 tahun, tampak sedih , tidak bisa tidur dan pusing berputar
Tujuan :
Penegakkan diagnosa dan pengobatan yang tepat dan tuntas.
Bahan
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Bahasan :
Cara
Diskusi Presentasi dan Diskusi E-mail
Pos
Membahas :
Data Pasien : Nama : Ny. SR, 49 tahun
No. Registrasi :
Nama Unit Pelayanan : IGD RS
Telp :
Terdaftar sejak :
Bhayangkara
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran Klinis : Depresi berat tanpa gejala psikotik/
2. Riwayat Pengobatan : Riwayat alergi (-), Riwayat operasi pengangkatan payudara kiri dan
kemoterapi
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit : Pasien memiliki riwayat kanker payudara dan telah
menjalani operasi dan kemoterapi
4. Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan seperti pasien.
5. Riwayat Pekerjaan : Pasien seorang Ibu rumah tangga
6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik :
Daftar Pustaka :
1. De Jong, Wim. 2004. Apendisitis Akut, dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi II. Hal 640645. Jakarta: EGC.
2. Mansjoer, Arif dkk. 2000. Apendisitis, dalam Kapita Selekta Kedokteran, edisi III, jilid
II. Hal 307-313. Jakarta: Media Aesculapius.
3. Schwartz S, Shires G, Spencer F. Prinsip-prinsip Ilmu Bedah (Principles of Surgery.
Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2008
4. Modul Kepaniteraan Klinik Bedah. Apendisitis Akut. Bagian Ilmu Bedah FK Unand.
2002.
Hasil Pembelajaran :
1

1. Apendisitis Akut
2. Penegakan diagnosa apendisitis
3. Tatalaksana apendisitis

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


1

Subjektif
Alloanamnesis (Orang Tua Pasien)

Pasien Laki-laki, 28 tahun, belum menikah, dibawa keRS oleh keluarganya karena pasien
sering diam menyendiri dan tidak mau bicara dengan keluarga sejak 1 bulan yang lalu. Pasien
juga tidak mau makan sejak 1 minggu yang lalu. Menurut pengakuan ibu pasien, pasien 1
bulan yang lalu sedang menghadapi masalah dengan pacarnya. Pasien putus dengan pacarnya,
pasien sudah berencana menikah dengan pacarnya. Namun pacar pasien memutuskan hubungan
tanpa alasan yang jelas. Sejak saat itu, pasien mengalami perubahan perilaku seperti menjadi
pendiam dan penyendiri. Pasien juga tidak mau makan. Pasien juga tidak bias berkomunikasi
dengan siapapun.
2

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat Kejang (-)
Riwayat Trauma Capitis (-)
Riwayat NAPZA (-), Alkohol (-)
Riwayat Demam lama (-)
Riwayat Alergi obat (-)
Riwayat hidup dan gambaran premorbid:
Bayi

: lahir normal, cukup bulan, ditolong oleh bidan, tidak ada masalah

kehamilan dan menyusui


Anak Anak

: Pendiam, tidak terlalau banayak teman

Remaja dan Dewasa: Pendiam, tertutup, tidak terlalu banyak teman.

Ket: Os anak pertama dari 3


bersaudara, os memilika dua adik
laki-laki.

Riwayat Keluarga :

Ayah dan ibu os masih hidup

Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal.


Riwayat Pendidikan :
SD

: tamat, tidak pernah tinggal kelas, nilai rata-rata

SMP : tamat, tidak pernah tinggal kelas, nilai rata-rata


Riwayat Pekerjaan : Wiraswasta
3

selama

Riwayat Perkawinan : Belum menikah


Riwayat agama :
Os beragama Islam tetapi os tidak taat dalam menjalankan ibadahnya.
Hubungan dengan keluarga :
Os memiliki hubungan yang baik dengan ayah kandung, ibu kandung dan saudaranya. Keluarga
Os juga mendukung Os untuk sembuh. Pada saat ini Os tinggal di rumah milik orang tuanya.
Status Ekonomi:
Os hidup bersama ayah dan ibunya. Ayah os bekerja sebagai PNS dan ibu os sebagai ibu rumah
tangga. Os bekerja membuka usaha jual hp.
2

Objektif
Dari hasil anamnesis pasien yang mengarah
Objektif :
Pemeriksaan fisik:
TD 120/80, HR 80x/menit, RR 18x/menit, Suhu: 36,5C
Status generalisata: dalam batas normal
Gejala rangsang meningeal: negatif
Nervus cranial: Tidak ada kelainan
Fungsi motorik, sensorik dan koordinasi: normal
Refleks fisiologis: normal
Refleks patologis: negatif
Pemeriksaan Psikiatri:
Keadaan Umum

Kesadaran/Sensorium

: Compos mentis

Perhatian

: Kurang

Sikap

: Kooperatif

Inisiatif

: Ada

Tingkah Laku Motorik

: Normoaktif
4

Verbalisasi

: Jelas

Cara Bicara

: Lancar

Kontak Psikis :

- Kontak Fisik

: Ada, adekuat

- Kontak Mata

: Ada, adekuat

- Kontak Verbal

: Ada, adekuat

Keadaan Khusus
Keadaan afektif: Distimik
Hidup emosi: Sedih
Keadaan fungsi intelek: daya ingat baik, daya konsentrasi baik, orientasi baik,

kemunduran itelektual tidak ada.


Kelainan proses berpikir: waham (-)
Sensasi dan persepsi: Halusinasi (-) dan ilusi (-)
Keadaan dorongan instinktual dan perbuatan: baik
Anxietas: tidak ada
RTA (Reality Testing Ability): tidak terganggu dalam pikiran, perasaan dan perbuatan.

Pemeriksaan Lanjutan:
Laboratorium: Belum dilakukan

Assessment

Definisi Depresi
Buckley and Buckley (2006) menyebutkan bahwa depresi adalah menurunnya mood dan
hilangnya minat terhadap aktivitas-aktivitas yang biasanya dilakukan. Ismail dan Siste (2010)
mengatakan pasien dalam keadaan depresi memperlihatkan kehilangan energi dan minat, merasa
bersalah, sulit berkosentrasi, hilangnya nafsu makan, berpikir mati atau bunuh diri.
Berdasarkan DSM-IV seseorang mengalami gangguan depresi jika dia merasakan 5 gejala
secara bersamaan dari 9 gejala yang ada, antara lain :
1. Kehilangan mood, biasanya terjadi di pagi hari
2. Merasakan letih atau kehilangan energi setiap harinya
3. Merasakan ketidakberhagaan diri atau perasaan bersalah hampir setiap hari
5

4. Hilang kemampuan berkosentrasi dan bimbang


5. Susah untuk tidur atau bahkan selalu tidur setiap harinya
6. Kehilangan minat atau merasakan kesenangan dalam setiap aktivitas setiap harinya
7. Timbul pemikiran-pemikiran tentang kematian atau bahkan pemikiran-pemikiran
untuk melakukan tindakan bunuh diri.
8. Gelisah, tidak dapat diam tenang, gerakkannya terlihat tidak memiliki tenaga
9. Berat badan turun atau bertambah (5% dari berat badan sebelumnya dalam waktu 1
bulan).
Dari sembilan gejala yang ada Waller dan Rumball (2004) membagi ke dalam 4 gejala
berdasarkan ranah tingkah lakunya :
1. Affective Symptoms
2. Cognitive Symptoms
3. Behavioral Symptoms
4. Physical Symptoms
Tingkatan Depresi
Berdasarkan The International Classification of Disease (ICD)-10 Classification of
Mental Behavioural Disorder, World Health Organization (1993), mengklasifikasi tingkatan
depresi sebagai berikut :
1. Mild / Minor Depression
Berdasarkan WHO seseorang yang mengalami mild depression akan merasakan 2 dari 3
gejala pertama diikuti dengan 2 gejala lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :

2 minggu mengalami perasaan yang tertekan

Hilangnya minat dalam melakukan kegiatan yang menyenangkan

Merasa lelah

Hilangnya kepercayaan diri dan self esteem

Merasa bersalah dan tidak berharga

Muncul pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri

Susah untuk berkosentrasi

Gerakkannya melambat

Mengalami gangguan tidur


6

Nafsu makan hilang/ bertambah diikuti berkurangnya/ bertambahnya berat badan

Libido menurun

Merasakan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan

Mild depression seringkali terjadi pada kondisi konstan (3-4 bulan) dan secara episodik.
Jika seseorang yang mengalami mild depression ditanggulangi dengan perawatan yang baik akan
mencegah untuk menjadi lebih buruk.
2. Moderate Depression
Berdasarkan WHO seseorang yang mengalami moderate depression akan merasakan 2 dari
3 gejala diikuti dengan 4 gejala lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :

2 minggu mengalami perasaan yang tertekan

Hilangnya minat dalam melakukan kegiatan yang menyenangkan

Merasa lelah

Hilangnya kepercayaan diri dan self esteem

Merasa bersalah dan tidak berharga

Muncul pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri

Susah untuk berkosentrasi

Gerakkannya melambat

Mengalami gangguan tidur

Nafsu makan hilang/ bertambah diikuti berkurangnya/ bertambahnya berat badan

Libido menurun

Merasakan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan

Biasanya seseorang yang mengalami moderate depression akan jelas terlihat mengalami
penurunan kepercayaan diri dan self esteem, tidak produktif dalam bekerja, menjadi sangat
sensitif perasaannya.
3. Major/ Severe Depression
Berdasarkan WHO seseorang yang mengalami severe depression akan merasakan 3 gejala
pertama diikuti 5 gejala lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :

2 minggu mengalami perasaan yang tertekan

Hilangnya minat dalam melakukan kegiatan yang menyenangkan


7

Merasa lelah

Hilangnya kepercayaan diri dan self esteem

Merasa bersalah dan tidak berharga

Muncul pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri

Susah untuk berkosentrasi

Gerakkannya melambat

Mengalami gangguan tidur

Nafsu makan hilang/ bertambah diikuti berkurangnya/ bertambahnya berat badan

Libido menurun

Merasakan gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan

Seseorang yang mengalami major/ severe depression akan mengalami perasaan bersalah,
stress yang parah sehingga tidak dapat bekerja, bersosialisasi maupun berinteraksi dengan
keluarga ataupun kerabat dekatnya.
Etiologi
Ismail dan Siste (2010) membagi faktor penyebab depresi menjadi faktor organobiologi,
faktor genetik, faktor psikososial, faktor kepribadian dan faktor psikodinamik.
1. Faktor organobiologi
2. Faktor genetik
3. Faktor psikososial
4. Faktor kepribadian.
5. Faktor psikodinamik pada depresi
6. Teori Kognitif
Macam-macam Depresi
Harun (2009) membagi depresi menjadi :
1.

Depresi pasca kausa

2.

Depresi pasca stroke

3.

Depresi Neurotik

4.

Depresi Siklitimik

5.

Depresi Pasca NAPZA

Gejala Klinis Depresi


8

Harun (2009) mengatakan bahwa gangguan kejiwaan pada alam perasaan atau mood
disorder yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak
berguna, putus asa dan lain-lain. Berikut gejala-gejala dari depresi :
1. Perasaan murung (afek disforik), sedih, gairah hidup menurun, tidak semangat
2. Merasa tidak berdaya, perasaan bersalah, berdosa, penyesalan
3. Berat badan menurun, nafsu makan menurun
4. Kosentrasi dan daya ingat menurun
5. Gangguan tidur (insomnia)
6. Agitasi (gaduh, gelisah dan lemah tak berdaya)
7. Hilang rasa senang, semangat dan minat.
8. Kreativitas menurun, produktivitas menurun
9. Gangguan seksual berupa libido menurun
10. Pikiran akan kematian, bunuh diri
Kriteria Diagnosis
Berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III, diagnosis
depresi ditegakkan dengan adanya gejala utama berupa afek depresif, kehilangan minat dan
kegembiraan dan berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa
mudah lelah yang nyata sesudah bekerja) dan menurunnya aktivitas. Gejala lainnya berupa
kosentrasi dan perhatian kurang, harga diri dan kepercayaam diri berkurang, gagasan tentang
rasa berasalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan
atau perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu, nafsu makan
berkurang. Diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis, tetapi
periode pendek dapat dibenarkan bila gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat. PPDGJ
III mengklasifikasikan depresi menjadi 3 kategori yaitu ringan, sedang dan berat. Pedoman
diagnsotik untuk depresi ringan yaitu : sekurang-kurangnya harus ada 1 dari 3 gejala utama
depresi seperti tersebut diatas, ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya. Tidak boleh
ada gejala yang berat diantaranya, lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya 2
minggu, hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukannya.
Pedoman diagnostik untuk depresi sedang yaitu : sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3
gejala utama depresi seperti pada episode ringan, ditambah sekurang-kurangnya 3 gejala lainnya,

lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu dan penderita mengalami
kesulitan yang nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga.
Pedoman diagnsotik untuk depresi berat yaitu : harus ada semua 3 gejala utama depresi,
ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya berintensitas berat,
bila ada gejala penting (misal agitasi atau retardasi psikomotor) yang mencolok, maka mungkin
pasien tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci, episode
depresif harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan tetapi gejala sangat berat dan
beronset cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang
dari 2 minggu dan umumnya tidak mungkin penderita akan mampu meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan atau urusan rumah tangga.
2.1.7. Skala Penilaian Objektif Untuk Depresi
Skala penilai objektif yang dapat digunakan dalam praktek dokter atau untuk dokumentasi
keadaan klinik pasien depresi.
The Zung Self-Rating Depression Scale terdiri dari 20 item skala pelaporan. Skala normal
adalah < 34 : skor depresi adalah > dari 50. Skala tersebut meliputi indek global intensitas gejala
depresi pasien, termasuk kecenderungan ekspresi dari depresi (Ismail dan Siste, 2010)
Hamilton Depression Rating Scale (HDRS) adalah suatu skala pengukuran depresi terdiri
dari 17 pertanyaan dengan tiap pertanyaan memiliki 4 pilihan jawaban, masing-masing pilihan
dengan skor 0,1,2 dan 3 dengan sensitivitas sebesar 78,4% dan spesifisitas 81,3%. HDRS saat ini
merupakan salah satu test yang paling banyak digunakan untuk mendeteksi depresi pada
berbagai lembaga penelitian. Keakuratan diagnosis HDRS dapat mencapai 87,1% pada skor >
17, oleh karena itu lebih baik dalam proses penegakkan diagnosis (Nardeeka, 2007). HDRS
merupakan test yang dilakukan secara wawancara oleh observer sedangkan test-test serupa
menggunakan metode penilaian diri sendiri oleh pasien (Self Rating). Skor akhir HDRS berkisar
dari 0-54 dengan klasifikasi skor 0-6 tidak ada depresi, skor 7-17 depresi derajat ringan, skor 1824 depresi sedang dan skor > 24 depresi derajat berat (Amir, 2005)
ma dalam kematian adalah apakah apendiks perforasi sebelum bedah dan usia pasien.
4

Plan

Diagnosis Multiaksial
AKSIS I

AKSIS II

: Gambaran kepribadian skizoid


10

AKSIS III

: Tidak ada Diagnosis

AKSIS IV

: Masalah keluarga : pasien putus hubungan dengan calon istrinya.

AKSIS V

GAF Scale saat ini: 70-61 (beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan
dalam fungsi, secara umum masih baik).

DIAGNOSIS DIFERENSIAL

Terapi Farmakologi
Psikofarmaka :
Antidepresan Amitryptilin 2 x 25 mg
Psikoterapi :
Pada Keluarga:
o Memotivasi keluarga untuk membawa pasien kontrol ke dokter dan minum obat
secara teratur dan menciptakan suasana yang dapat membantu penyembuhan.
o Bila pada saat keluhan datang dan pasien merasa ketakutan, pasien dapat mencari
perlindungan dari anggota keluarganya atau jika masih mengganggu juga segera
kontrol ke dokter.
Pada pasien
o Jika ada suara-suara jangan dipedulikan.
o Mencoba mengalihkan pikiran-pikiran negatif dengan mengisinya dengan
kegiatan positif yang bermanfaat.
o Lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Terhadapat Lingkungan
o Tidak menjauhi pasien dan membiarkan pasien berinteraksi dengan lingkungan
sehingga membantu bersosialisasi
Prognosis:
11

Dubia ad Bonam

12