Anda di halaman 1dari 9

BAB III

HASIL DAN DISKUSI

3.1.1

3.1 Hasil Percobaan


Pengaruh Kecepatan Pengadukan terhadap Kecepatan Disolusi Zat
Tabel 3.1 Pengamatan Kecepatan Pengadukan terhadap Konsentrasi Asam Salisilat
Waktu
(menit)
1
5
10
15
20

3.1.2

100 rpm
0,001
0,00375
0,0065
0,00875
0,01175

Konsentrasi Asam Salisilat (N)


200 rpm
300 rpm
0,00125
0,00475
0,00425
0,0075
0,00675
0,01375
0,00925
0,01525
0,01225
0,0165

Pengaruh Suhu terhadap Kecepatan Disolusi Zat


Tabel 3.2 Pengamatan Pengaruh Suhu terhadap Konsentrasi Asam Salisilat
Waktu
(menit)
1
5
10
15
20

25OC
0,001
0,00375
0,0065
0,00875
0,01175

Konsentrasi Asam Salisilat (N)


40OC
0,00325
0,007
0,01325
0,0155
0,0185

50OC
0,0045
0,0135
0,017
0,02025
0,024

3.2 Diskusi
Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat
terlarut dalam pelarut tertentu setiap satuan waktu (Yelmida, 2015). Percobaan ini
bertujuan untuk mempelajari pengaruh suhu dan kecepatan pengadukan pada suatu
larutan.
Percobaan pertama dilakukan untuk mengamati pengaruh kecepatan pengadukan
terhadap kecepatan disolusi zat, dalam hal ini yang digunakan asam salisilat sebagai zat
terlarut, dan aquadest dipilih sebagai pelarut. Pengadukan dilakukan pada kecepatan yang
berbeda-beda, yaitu pada 100 rpm, 200 rpm dan 300 rpm, pada suhu ruangan (25 OC).
Sampel diambil sebanyak 20 ml pada selang waktu 1 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit
dan 20 menit, untuk dihitung konsentrasinya melalui proses titrasi menggunakan NaOH
0,05 M dan bantuan indikator phenolptalein. Pada saat sampel dititrasi dengan NaOH
akan timbul perubahan warna menjadi merah muda yang menandakan titik akhir titrasi
telah tercapai. Perubahan warna ini terjadi disebabkan karena penambahan indikator
phenolptalein pada sampel dan dari volume NaOH yang terpakai pada saat proses titrasi,
dapat dilakukan perhitungan untuk menentukan konsentrasi asam salisilat dengan
menyetarakan mol asam salisilat dengan mol NaOH.

Asam salisilat yang berupa serbuk dimasukkan ke dalam labu dewar 500 ml yang
sebelumnya telah berisi 400 ml aquadest, beriringan dengan dimasukkannya asam
salisilat, mechanical stirrer dinyalakan dengan kecepatan pengadukan 100 rpm.
Mechanical stirrer merupakan alat pengaduk yang membantu agar asam salisilat cepat
terlarut di dalam aquadest. Pada selang waktu 1 menit setelah pengadukan dilakukan,
sebanyak 20 ml larutan diambil menggunakan pipet volum dan volume yang hilang dari
larutan digantikan dengan aquadest sebanyak 20 ml. Sampel yang diambil, ditambahkan
indikator pp dan dititrasi dengan NaOH, diperoleh konsentrasi asam salisilat sebesar
0,001 N pada selang waktu 1 menit setelah pengadukan. Pada selang waktu 5 menit
setelah pengadukan dilakukan, sebanyak 20 ml larutan diambil menggunakan pipet
volume dengan melakukan penggantian volume yang hilang dari larutan dengan
melakukan penambahan 20 ml aquadest. Sampel yang diambil, dititrasi dengan NaOH,
dan diperoleh konsentrasi asam salisilat sebesar 0,00375 N. Proses ini diulangi tiap selang
waktu 10 menit, 15 menit dan 20 menit dan diperoleh konsentrasi asam salisilat tiap
menitnya sebesar 0,0065 N; 0,00875 N; dan 0,01175 N. Konsentrasi asam salisilat tiap
menit mengalami kenaikan disebabkan semakin banyaknya asam salisilat yang terlarut
akibat pengadukan yang dilakukan. Menurut Budiman (2015): "Semakin banyak suatu zat
yang terlarut di dalam suatu larutan, maka konsentrasi zat tersebut di dalam larutan
semakin bersar pula".
Pada kecepatan pengadukan 200 rpm, pada selang waktu 1 menit, 5 menit, 10
menit, 15 menit, dan 20 menit, diperoleh masing-masing konsentrasi asam salisilat tiap
selang waktu yaitu, 0,00125 N; 0,00425 N; 0,00675 N, 0,00925 N dan 0,01225 N. Pada
kecepatan pengadukan 300 rpm, pada selang waktu 1 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit
dan 20 menit diperoleh masing-masing konsentrasi asam salisilat tiap selang waktu yaitu
0,00475 N; 0,0075 N; 0,01375 N; 0,01525 N dan 0,0165 N. Konsentrasi asam salisilat
semakin meningkat pada saat kecepatan pengadukan dinaikkan pada selang waktu yang
sama. Hal ini menunjukkan bahwa kecepatan pengadukan berbanding lurus dengan
kecepatan disolusi, semakin cepat pengadukan semakin besar pula kecepatan disolusi
disebabkan semakin banyaknya zat terlarut ke dalam larutan. Menurut Yelmida (2015):
"Pengadukan dapat meningkatkan jumlah tumbukan partikel zat terlarut dengan pelarut,
yang menyebabkan meningkatnya kecepatan disolusi".
Percobaan kedua dilakukan untuk mengamati pengaruh suhu terhadap kecepatan
disolusi zat. Pada percobaan ini, pengadukan dilakukan pada kecepatan 100 rpm,
sementara suhu diubah-ubah, yaitu pada suhu ruangan (25 OC), 40OC, dan 50OC untuk
mempelajari pengaruh suhu terhadap kecepatan disolusi zat. Pada suhu 25 OC, pada selang

waktu 1 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit, dan 20 menit, diperoleh masing-masing


konsentrasi asam salisilat tiap selang waktu yaitu, 0,001 N; 0,00375 N; 0,0065 N,
0,00875 N dan 0,01175 N. Konsentrasi asam salisilat tiap menit mengalami kenaikan
disebabkan semakin banyaknya asam salisilat yang terlarut akibat pengadukan yang
dilakukan. Menurut Budiman (2015): "Semakin banyak suatu zat yang terlarut di dalam
suatu larutan, maka konsentrasi zat tersebut di dalam larutan semakin bersar pula". Pada
suhu 40OC, pada selang waktu 1 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit dan 20 menit
diperoleh masing-masing konsentrasi asam salisilat tiap selang waktu yaitu 0,00325 N;
0,007 N; 0,01325 N; 0,0155 N dan 0,0185 N. Pada suhu 50 OC, pada selang waktu 1
menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit dan 20 menit diperoleh masing-masing konsentrasi
asam salisilat tiap selang waktu yaitu 0,0045 N; 0,0135 N; 0,017 N; 0,02025 N dan 0,024
N. Konsentrasi asam salisilat semakin meningkat pada saat suhu dinaikkan pada selang
waktu yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu berbanding lurus dengan
kecepatan disolusi. Menurut Yelmida (2015): "Kenaikan temperatur umumnya
memperbesar kelarutan zat, yang menyebabkan zat berdisolusi dengan cepat".

BAB I
TEORI
1.1 Larutan
Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat yang
jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut zat terlarut (solute), sedangkan zat yang
jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut (solvent).
Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan,
sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut
pelarutan (solvasi).
Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut dan
pelarut di dalam larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandingan jumlah
zat terlarut dengan jumlah total zat dalam larutan, atau dalam perbandingan jumlah zat
terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh beberapa satuan konsentrasi adalah molar, molal,
dan bagian per juta (part per million). Sementara itu, secara kualitatif, komposisi larutan
dapat dinyatakan sebagai encer (berkonsentrasi rendah) atau pekat (berkonsentrasi
tinggi).
Bila komponen zat terlarut ditambahkan terus-menerus ke dalam pelarut, pada
suatu titik komponen yang ditambahkan tidak akan dapat larut lagi. Misalnya, jika zat
terlarutnya berupa padatan dan pelarutnya berupa cairan, pada suatu titik padatan tersebut
tidak dapat larut lagi dan terbentuklah endapan. Jumlah zat terlarut dalam larutan tersebut
adalah maksimal, dan larutannya disebut sebagai larutan jenuh. Titik tercapainya keadaan
jenuh larutan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti suhu, tekanan,
dan kontaminasi. Secara umum, kelarutan suatu zat (yaitu jumlah suatu zat yang dapat
terlarut dalam pelarut tertentu) sebanding terhadap suhu. Hal ini terutama berlaku pada
zat padat, walaupun ada perkecualian. Kelarutan zat cair dalam zat cair lainnya secara
umum kurang peka terhadap suhu daripada kelarutan padatan atau gas dalam zat cair.
Kelarutan gas dalam air umumnya berbanding terbalik terhadap suhu (Budiman, 2015).
1.2 Difusi
Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari
bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan
konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus
terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas secara merata atau mencapai keadaan
kesetimbangan dimana perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan

konsentrasi. Contoh yang sederhana adalah pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat
laun cairan menjadi manis. Contoh lain adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalam
udara. Difusi yang paling sering terjadi adalah difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika
terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer) molekul yang diam dari solid atau
fluida.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi, yaitu:
1.

Ukuran partikel, Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu
akan bergerak, sehingga kecepatan difusi semakin tinggi.

2.

Ketebalan membran, Semakin tebal membran, maka semakin lambat


kecepatan difusi.

3.

Luas suatu area, Semakin besar luas area, maka semakin cepat kecepatan
difusinya.

4.

Jarak, Semakin besar jarak antara dua konsentrasi,maka semakin lambat


kecepatan difusinya.

5.

Suhu, Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak


dengan lebih cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya (Warino,
2012).

1.3 Kecepatan Disolusi


Disolusi merupakan proses ketika suatu zat padat masuk ke dalam pelarut
menghasilkan suatu larutan atau dengan kata lain proses saat zat padat melarut. Maka
kecepatan disolusi dapat dinyatakan sebagai jumlah zat dalam bentuk padatan yang
terlarut dalam pelarut tertentu sebagai fungsi dari waktu. Prinsip disolusi dikendalikan
oleh afinitas antara zat padat dengan pelarut (Martin, 1990).

Gambar 1.1 Disolusi Suatu Padatan Matriks (Budiman, 2015)


Proses pelarutan zat ini dikembangkan oleh Noyes Whitney dalam bentuk
persamaan berikut:

dM D . s
=
( CsC )
.........................................................................................
dT
h

(1.1)
Keterangan:
dM/dt
D
S
Cs
C
h

: kecepatan disolusi
: koefisien difusi
: luas permukaan zat
: kelarutan zat padat
: konsentrasi zat dalam larutan saat waktu t
: tebal lapisan difusi

Menurut Einstein, koefisien difusi dapat dinyatakan sebagai berikut:

D=

K.T
6. .r ..................

(1.2)
Keterangan:
D: koefisien difusi
k : konstanta Boltzman (13,8 x 10-24 J/atom K)
T : suhu
r : jari-jari molekul
: viskositas pelarut
Disolusi atau pelarutan didefinisikan sebagai proses melarutnya suatu obat dari
sediaan padat dalam medium tertentu. Selain itu disolusi juga dikatakan sebagai

hilangnya kohesi suatu padatan karena aksi dari cairan yang menghasilkan suatu dispersi
homogen bentuk ion (dispersi molekuler) sedangkan kecepatan pelarutan atau laju
pelarutan adalah kecepatan melarutnya zat kimia atau senyawa obat ke dalam medium
tertentu dari suatu padatan (Budiman, 2015).
Menurut Otetatsuya (2008) kecepatan disolusi dapat ditentukan menurut
beberapa metoda sebagai berikut:
1.

Metode Suspensi
Serbuk zat padat ditambahkan kedalam pelarut tanpa pengontrolan eksak

terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktu-waktu tertentu dan
jumlah zat yang terlarut telah ditentukan dengan cara yang sesuai.
2.

Metode Permukaan Konstan


Zat ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui luasnya, sehingga variable

perbedaan luas permukaan efektif dapat diabaikan. Penentuan dengan metoda suspensi
dapat dilakukan dengan alat uji disolusi tipe dayung yang tercantum di USP. Sedangkan
untuk metoda permukaan konstan digunakan alat seperti usulan Simonelli dkk.
Faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan disolusi suatu zat diantaranya yaitu:
1.1 Suhu
Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu zat yang bersifat
endotermik serta memperbesar harga koefisien difusi zat.
1.2 Viskositas
Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan disolusi suatu zat
sesuai dengan persamaan Einstein. Meningginya suhu juga menurunkan
viskositas dan memperbesar kecepatan disolusi.
1.3 pH Pelarut
pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan zat-zat yang bersifat asam atau
basa lemah.
a) Untuk asam lemah

dc
Ka
K.C.Cs 1
dt
H

.................................................................

............(1.3)
Jika (H+) kecil atau pH besar maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan
demikian, kecepatan disolusi zat juga meningkat.

b) Untuk basa lemah

dc
H

K.C.Cs 1
dt
Ka

............

(1.4)
Jika (H+) besar atau pH kecil maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan
demikian, kecepatan disolusi juga meningkat.
1.4 Pengadukan
Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi kecepatan disolusi. Pengadukan
dapat meningkatkan jumlah tumbukan partikel zat terlarut dengan pelarut.
1.5 Ukuran Partikel
Jika partikel zat berukuran kecil, maka luas permukaan efektif menjadi besar
sehingga kecepatan disolusi meningkat (Yelmida, 2015).
1.6 Polimorfisme
Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh adanya polimorfisme. Struktur internal
zat yang berlainan dapat memberikan tingkat kelarutan yang berbeda juga
Yelmida, 2015).
1.7 Sifat Permukaan Zat
Untuk zat yang bersifat hidrofob, dengan adanya surfaktan di dalam pelarut,
tegangan permukaan antar partikel zat dengan pelarut akan menurun sehingga zat
mudah terbasahi dan kecepatan disolusinya bertambah (Yelmida, 2009).
1.4

Asam Salisilat
Asam salisilat memiliki rumus molekul C 6H4COOHOH berbentuk kristal

berwarna putih yang memiliki berat molekul sebesar 138,123 g/mol dengan titik leleh
sebesar 1560C dan densitas pada 250C sebesar 1,443 g/mL. Mudah larut dalam air dingin
tetapi dapat melarutkan dalam keadaan panas. Asam salisilat dapat menyublim tetapi
dapat terdekomposisi dengan mudah menjadi karbon dioksida dan phenol bila dipanaskan
secara cepat pada suhu sekitar 2000C (Stenly, 2012).

Gambar 1.2 Rumus struktur asam salisilat (Stenly, 2012)


Dari gambar rumus struktur asam salisilat di atas, terlihat bahwa asam salisilat
memiliki gugus polar dan gugus nonpolar. Gugus polarnya adalah gugus OH dan gugus
nonpolarnya adalah gugus cincin benzennya. Dari rumus struktur ini dapat dilihat bahwa
asam salisilat larut pada sebagian pelarut polar dan sebagian pada pelarut non polar, tetapi
sukar larut dengan sempurna pada pelarut polar saja atau pelarut nonpolar saja karena
memiliki gugus polar dan nonpolar sekaligus dalam satu gugus. Sehingga otomatis
mudah larut pada pelarut semipolar seperti alkohol dan eter (Stenly, 2012).

Anda mungkin juga menyukai