Anda di halaman 1dari 12

BST (BED SITE TEACHING)

Keterangan umum :
Nama

: Ny AL

Jenis kelamin
Usia

: wanita
: 46 tahun

Alamat

: Pondok Maulana Hegarmanah

Pekerjaan

: IRT

perkawinan

: menikah

Agama
Suku

: islam
: sunda

Tanggal pemeriksaan

: 11 Februari 2010 jam 10.30

ANAMNESA
Keluhan utama :
-

Pasien mengeluh digigit ular sejak 5 jam yang lalu di jari kelingking kiri.
Pasien merasakan nyeri dan pegal di daerah tangan kiri. Rasa pegal menjalar
dari tangan hingga bahu, pasien juga mengeluhkan bengkak disekitar daerah
gigitan. Pasien tidak mengeluhkan adanya mual muntah, pusing, sesak nafas
serta lemah badan, menggigil, berkeringat.

Pasien mengeluh rasa sakit di kaki kanan dan sakit dibelakang kepalanya.

Anamnesa tambahan :
-

Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi, kencing manis, jantung dan asma.

Pemeriksaan fisik :

a. Status generalis :
o

Pasien tampak sadar

Tampak sakit sedang

Vital sign : tekanan darah = 110/70 mmHg


: nadi =80 x / menit
: pernafasan = 20x / menit
: suhu = 35,40C

Kepala

- kepala :
- konjungtiva tidak anemis, sclera tidak icteric
o

Leher : tidak ada pembesaran KGB, JVP tidak meningkat

Thorax

- Pergerakannya simetris (ka-ki)


- Auskultasi :

VBS normal kanan dan kiri, tidak ada ronchi dan

wheezing
- Perkusi : batas jantung dan paru normal
o

Abdomen :
- DBN

Ekstremitas :
- Atas :
- a. tangan kiri : terdapat 2 titik bekas gigitan ular di jari kelingking

disertai edema di sekitar luka gigitan dan hyperemis


ROM :

Riwayat pengobatan :

Riwayat penyakit sebelumnya :


Usulan pemeriksaan :
-

Lab darah rutin

Diagnose akhir : SNAKE BITE GRADE I

Penatalaksanaan : SABU DRIP 2 AMPUL DALAM 500ML NACL, 64 ML/JAM

Prognosis :

VULNUS MORSUM (LUKA GIGITAN)

Luka gigitan dapat disebabkan oleh binatang seperti ular, anjing, serangga,
kalajengking, laba-laba, tawon dan juga bisa disebabkan oleh gigitan manusia.

A. Gigitan Ular
Ular Berbisa
Di Indonesia terdapat tiga famili ular berbisa yaitu elapidea, viperidea, dan
hydrophydae. Bisa ular berbisa bersifat neurotoksik, vaskulotoksik, hemotoksik, dan
miotoksik
Famili Elapidea

Yang termasuk famili elapidea ini adalah Najabungarus

(King Cobra), berwarna coklat hijau dan terdapat di Sumatra


dan Jawa. Najatripudrat sputatrix disebut juga cobra hitam
(ular sendok), panjangnya sekitar 1,5 meter dan terdapat di
Sumatra dan jawa. Najabungarus candida, disebut juga ular
sendok berkaca mata, sangat berbahaya, terdapat di India.
Famili Viperidae

: Yang termasuk famili ini adalah Ancistrodon rodostom (ular


tanah), Lachei graninius (ular hijau pohon), Micrurus fulvius
(ular batu koral)

Ular dapat dibedakan antara ular yang berbisa dan ular yang tidak berbisa
Bagian yang dilihat
Mata
Taring bisa (fang)
Lubang

antara

hidung

Ular berbisa

Ular tak berbisa

Bentuk lonjong

Bentuk bundar

Ada

Tidak ada

Ada

Tidak ada

dan mata

Gejala dan Tanda Klinis


Gambaran Utama

Adanya luka tusuk oleh taring dan penderita mengeluh

adanya nyeri yang hebat.

Keluhan dan gejala tergantung pada jenis ular.


1. Pada gigitan ular famili elapidae Nyeri, edema, ptosis, sengau, kelumpuhan
lidah dan faring, mual, muntah, saliva, hematuria, melena, kelumpuhan leher
dan kelumpuhan anggota gerak serta pernafasan.
2. Pada gigitan ular famili viperdae Nyeri, ekimosis, gagal ginjal akut, sputum
bercampur darah.
3.

Gigitan ular famili hydrophydae nyeri, kekakuan otot, nyeri pada otot sampai
1 jam setelah gigitan, kelumpuhan otot, oftalmoplegi, disfagia, mioglobinuri (3
sampai 6 jam setelah gigitan)

Klasifikasi Keracunan Akibat Gigitan Ular Berbisa


Derajat 0

: Tidak ada keracunan, hanya ada bekas taring dan gigitan ular, nyeri
minimal. Terdapat edema dan eritema kurang dari 1 inci dalam 12
jam. Pada umumnya gejala sistemik lainnya tidak ada.

Derajat 1

: Terjadi keracunan minimal, terdapat bekas taring dan gigitan, tersa


sangat nyeri, edema dan eritem seluas 1-5 inci dalam 12 jam. Tidak
ada gejala sistemik.

Derajat 2

: Terjadi gejala keracunan tingkat sedang terdapat bekas taring dan


gigitan, terasa sangat nyeri. Edema dan eritem terjadi meluas
antara 6-12 inci dalam 12 jam.

Kadang-kadang dijumpai gejala

sistemik seperti mual, gejala neurotoksi, syok, pembesaran kelenjar


getah bening regional.
Derajat 3

: Terdapat gejala keracunan hebat, bekas taring dan gigitan, terasa


sangat nyeri. Edema dan eritem yang terjadi luasnya lebih dari 12

inci dalam 12 jam. Juga terdapat gejala sistemik seperti hipotensi,


petekhiae dan ekhimosis, syok.
Derajat 4

: Gejala keracunan sangat berat, terdapat bekas taring dan gigitan


yang multipel. Terdapat edema lokal pada bagian distal ekstrimitas,
dan gejala sistemik berupa gagal ginjal, koma, sputum berdarah.

Pemeriksaan Laboratorium
Merupakan pemeriksaan penunjang yang penting dalam kasus ini. Pada
pemeriksaan

darah

dapat

dijumpai

hipoprotombinemia,

trombositopenia,

hipofibrinogenemia, dan anemia.


Pada foto rontgen thoraks dapat dijumpai emboli parun atau edena paru.

Penanganan dan Pengobatan


Untuk penanganan dan pengobatan luka gigitan ular perlu dilakukan langkahlangkah sebagai berikut:
1. Cegahlah perluasan penjalaran bisa ular dengan pemasangan torniket yang
harus cukup kuat untuk menghalangi aliran vena dan kelenjar getah bening.
Torniket

harus

dipasang

disebelah

proksimal

tempat

gigitan,

dan

dilonggarkan setiap 30 menit, ini untuk mencegah nekrosis lokal.


2. Batasi pergerakan penderita, untuk mencegah penyebaran bisa yang cepat.
Jadi penderita harus tidak banyak bergerak. Kemudian segera kirim ke rumah
sakit terdekat.
3. Tindakan lokal yang dapat dilakukan adalah (1) Setelah torniket terpasang,
luka dipijit untuk mengeluarkan bisa (2) Buatlah insisi linear multipel,
kemudian hisap dengan mulut, keluarkan darah/bisanya (pada penghisapan
ini penolong harus yakin bahwa tidak ada luka dalam mulut yang dapat
menjadi jalan masuk bisa ke dalam tubuh penolong sendiri) (3) Luka jangan
dikompres dengan es karena dapat meningkatkan kemungkinan nekrosis.

4. Pemberian antivena (antibisa) dengan Wyeths polyvalent antivenin secara IV

Perawatan Di Rumah Sakit


Torniket tetap terpasang, lakukan insisi pada bekas luka/gigitan taring lebih
kurang 1 inci hingga struktur vital di bawah kulit, rawatlah lukanya.
Bila penderita tidak alergi, berikan 1 vial serum antibisa ular secara IV, ke
dalam 100cc saline isotonik (NaCl 0,9%) ditambah dengan 100 mg Solu-cortef,
berikan dalam bentuk infus selama 20 menit.
Bila penderita alergi, lakukan disensitisasi dengan 0,1 ml antisera 1:1000 dan
dosis ditingkatkan setiap 5 menit.
Selain itu juga perlu dilakukan transfusi darah, imunisasi tetanus, pemberian
atibiotik, oksigen, kalsium, trakheostomi, hemodialisis.
Untuk

mencegah

perluasan

edema

dan

kerusakan

jaringan

lakukan

debridemen pada daerah subkutan dan fasia. Beberapa ahli menganjurkan


pemberian kortikosteroid dosis tinggi pada 48-72 jam pasca trauma.
Jangan diberi minuman beralkohol, karena dapat mempercepat sirkulasi,
dengan demikian mempercepat penyebaran luka.

Epidemiology

Di USA 8000 kasus per tahun, 98 % pada extrimitas


Etiology: rattle snake

Di indonesia : sering

Snakes, dibedakan menjadi 2 kelompok besar, venomous dan non-venomous

Venomous snakes:
1. viperidae, ada 2 subfamily,
a. viperinae (true vipers), terditribusi di afrika, eropa,dan timur tengah,
contoh: B.gabonica (gaboon viper), B. Nasicornus (rhinoceros-horned
viper), echis species (saw-scaled viper), cerastes species (horned or
desert viper), vipera species (vipers) yang terdistribusi di indian
subcontinent dan asia tenggara : daboia ruselli (russells viper)
b. crotalinae(pit vipers), amerika utara: crotalus dan sistrurus species
(rattle snake), agkistrodon species (cottonmouth, copperhead) ;
amerika tengah dan selatan : crotalus species (rattle snake)
agkistrodon species (copperhead), bothrops species (fer-de-lance),
lachesis muta (bushmaster)
2. elapidae, terdistribusi pada daerah ropis dan panas: naja species (cobras),
dendroaspis species (mambas), bungarus species (kraits), micrurus,
calliophis, and maticora species (coral snakes), dan kebanyakan ular berbisa
di australia.
3. hydrophidae, subfamily hidrophinae (true sea snakes), terdistribusi di region
indopasifik : pelamis platurus (pelagic sea snake)
4. attractaspidae the burnowing asps
5. collubridae, merupakan familly yang besar, tetapi mayoritas dari family ini
non-venomous, hanya beberapa saja dari family ini diketahui memiliki racun
berbahaya bagi manusia.

Snake anatomy and identification

Venomous snakes, memiliki bilateral venom glands, yang terletak di pinggir


kepala, di bawah dan dibelakang matanya. Dihubungkan oleh ductus di
anterior gigi maxilla.

Pada family viperids, memiliki taring yang dapat retraksi ke atap mulut ketika
ular sedang dalam keadaan istirahat

Sedangkan pada elapids, taringnya lebih kecil dan cenderung terfiksasi di


atap mulut dalam keadaan erect

Perbedaan antara venomous dan non-venomous snakes

Venoms and clinical manifestation


Venom ular terdiri dari :

Complex mixture of enzymes

Low-mollecular-weight polypeptides

Glucoprotein

Metal ions

Hemorrhagins , suatu zat yang dapat menyebabkan, vascular leaking & local
& systemic bleeding

Proteolytic enzyme, dapat menyebabkan:

local tissue necrosis

menggangu jalur koagulasi darah pada berbagai tingkatan

mengganggu fungsi organ

myocardial depressant factor, yang dapat menyebabkan penurunan cardiac


output

neurotoxin , beraksi pada pre- / post synaps, yang menghambat


penghantaran impuls saraf.

Derajat snake bite