Anda di halaman 1dari 28

CEDERA KEPALA

(HEAD INJURY)
Preseptor: Arief Guntara, dr.SpB
SMF ILMU BEDAH
RSUD AL-IHSAN
FK UNISBA
2009

CEDERA KEPALA
Trauma merupakan penyebab kematian ke4 dari seluruh populasi & 50% kematian
diakibatkan oleh cedera kepala
Definisi
Menurut Brain Injury Assosiation of America
cedera kepala adalah suatu kerusakan pada
kepala, bukan bersifat kongenital ataupun
degeneratif, tetapi disebabkan oleh
serangan/benturan fisik dari luar, yang
dapat mengurangi atau mengubah
kesadaran yang mana menimbulkan
kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi
fisik.

Klasifikasi
1. Mekanisme Cedera Kepala
Cedera kepala tumpul
Kecelakaan lalu lintas, jatuh atau
pukulan benda tumpul.
Cedera tembus
Disebabkan oleh luka tembak
ataupun tusukan.

2. Beratnya Cedera

Glasgow Coma Scale (GCS),


Penilaian ini dilakukan terhadap
respon motorik (1-6), respon verbal
(1-5) dan buka mata (1-4).
Pengelompokkan berdasarkan
beratnya cedera kepala:
GCS <= 8 sebagai cedera kepala berat.
GCS 9-13 sebagai cedera kepala sedang.
GCS 14-15 sebagai cedera kepala ringan.

Glasgow Coma Scale

Nilai

Respon Membuka Mata (E)


Buka mata spontan

Buka mata bila dipanggil/rangsangan suara

Buka mata bila dirangsang nyeri

Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun

Respon Verbal (V)


Komunikasi verbal baik, jawaban tepat

Bingung, disorientasi waktu, tempat, dan orang

Kata-kata tidak teratur

Suara tidak jelas

Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun

Respon Motorik (M)


Mengikuti perintah

Dengan rangsangan nyeri, dapat mengetahui tempat rangsangan

Dengan rangsangan nyeri, menarik anggota badan

Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi fleksi abnormal

Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi ekstensi abnormal

Dengan rangsangan nyeri, tidak ada reaksi

3. Morfologi cedera kepala


1. Fraktur kranium
Dapat terjadi pada atap atau
dasar tengkorak (dengan/tanpa
kebocoran cairan
serebrospinal,dengan/tanpa
kelumpuhan nervus VII)
Dapat berbentuk garis atau
bintang
Dapat pula terbuka atau tertutup

2. Lesi Intrakranial
1. Fokal
a. Perdarahan epidural
b. Perdarahan subdural
c. kontusio (Intraserebral)
2. Difus
a. Kontusio ringan
b. Kontusio klasik
c. Cedera akson difus

Perdarahan Epidural
0,5%

dari seluruh penderita cedera


kepala, 9% dari penderita yang
dalam keadaan koma
Sering terletak di area temporal atau
temporo parietal.

Perdarahan Subdural
30%

dari cedera kepala berat


Sering terjadi akibat robeknya
vena-vena yang terletak antara
korteks serebri & sinus venous
tempat vena tadi bermuara, atau
akibat laserasi pembuluh darah
arteri pada permukaan otak.

Pendarahan kontusio
Jarang

terjadi.
Biasanya di lobus frontal &
temporal

Cedera Difus(diffuse
axonal injury)
Merupakan

bentuk yang paling


sering terjadi pada cedera kepala
Penderita mengalami koma
pasca cedera yang berlangsung
lama.
Penderita hipotensi, hiperhidrosis
& hiperpireksia

Penatalaksanaan pada
cedera kepala ringan

Definisi : Penderita sadar dan berorientasi (GCS 14-15)


Riwayat :
- Nama, umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan

- Mekanisme cedera

- Waktu cedera

- Tidak sadar segera setelah tidak sadar

- Tingkat kewaspadaan

- Amnesia : retrograde, antegrade

- Sakit Kepala : ringan, sedang, berat

- Kejang

Pemeriksaan umum untuk menyingkirkan cedera sistemik


Pemeriksaan neurologis terbatas
Pemeriksaan ronsen vertebra servikal dan lainnya ssuaii indikasi
Pemeriksaan kadar alcohol darah dan zattoksik dalam tubuh
Pemeriksaan CT scan kepala sangat ideal pada setiap penderita cedera kepala ringan, kecuali bila memang sama sekali asimtomatik dan pemeriksaan
neurologis normal

Observasi atau dirawat di RS :

Dipulangkan dari RS :

CT scan tidak ada/ abnormal

- tidak memenuhi criteria rawat diskusikan kemungkinan kembali


ke RS bila memburuk dan berikan lembar observasi
- Jadwalkan untuk kontrol ulang dipoliklinik setelah 1 minggu

-Semua cedera tembus

- Riwayat hilang kesadaran

-Kesadaran menurun

- Sakit kepala sedang-berat

-Intoksikasi alcohol/ obat-obatan

- Fraktur tengkorak

-Rhinorea-otorea

- Cedera penyerta yang bermakna

-Tidak ada keluarga dirumah

- Tidak mungkin kembali ke RS segera

-amnesia

Instruksi bagi penderita cedera kepala diluar RS


Kami telah memeriksa dan ternyata tidak ditemukan indikasi bahwa cedera kepala anda serius. Namun
gejala-gejala baru dan komplikasi yang tidak terduga dapat muncul dalam beberapa jam atau beberapa
hari setelh cedera 24 jam pertama adalah waktu yang kritis dan anda harus tinggal bersama keluarga
atau kerabat dekat anda sedikitnya dalam waktu itu. Bila kelak timbul gejala-gejala berikut seperti tertera
dibawah ini maka and harus segera menghubungi dokter anda atau kembali ke RS.
1.Mengantuk berat atau sulit di bangunkan (penderita harus dibangunkan setiap 2 jam selama periode
tidur)
2.Mual dan muntah
3.Kejang
4.Perdarahan atau keluar cairan dari hidung atau telinga
5.Sakit kepala hebat
6.Kelemahan atau rasa baalpada lengan atau tungkai
7.Bingung atau perubahan tingkah laku
8.Salah satu pupil mata lebih besar dari yang lain, gerakan-gerakan aneh bola mata, melihat dobel atau
gangguan penglihatan lainnya.
9.Denyut nadi yang sangat lambat atau sangat cepat, atau pola nafas yang tidak biasa.
Bila timbul pembengkakan pada tempat cedera, letakkan kantung es diatas selembar kain/ handuk pada
kulit tempat cedera. Bila pembengkakan semakin hebat walau telah dibantu dengan kantung es, segera
hubugin RS.
Anda boleh makan dan minum seperti biasa namun tidak diperbolekan minum mnuman yang
mengandung alcohol sedikitnya 3 hari setelah cedera.
Jangan minum obat tidur atau obat penghilang nyeri yang lebih kuat dari acetaminophen sedikitnya 24
jam setelah cedera. Jangan minum obat yang mengandung aspirin.

Penatalaksanaan cedera kepala sedang


(GCS 9-13)

Definisi : penderita biasanya nampak kebingungan atau mengantuk,


namun masih mampu menuruti perintah-perintah sederhana (GCS 9-13)
Pemeriksaan awal :
Sama dengan untuk cedera kepala ringan ditambah pemeriksaan darah
sederhana
Pemeriksaan CT scan kepala
Dirawat untuk observasi
Setelah dirawat :
Pemeriksaan neurologis periodik
Pmeriksaan CT scan ulang bila kondisi penerita memburuk atau kalo
penderita akan dipulangkan

Bila kondisi membaik (90%)


Bila kondisi memburuk (10%)
Pulang
- Bila penderita tidak mampu melakukan perintahperintah lagi, segera lakukan pemeriksaan ct-scan
ulang dan
penatalaksanaan sesuai protokol cedera
kepala berat
Kontrol di poliklinik

PENATALAKSANAAN
CEDERA KEPALA BERAT

KRITERIA CEDERA KEPALA


BERAT
GCS

3-8
Tidak mampu melakukan
perintah-perintah sederhana
walaupun sistem
kardiopulmonari stabil

PENATALAKSANAAN AWAL
ABCDE
Secondary Survey dan riwayat AMPLE
Reevaluasi neurologis:

Respon buka mata


Respon motorik
Respon verbal
Reaksi cahaya pupil
Refleks okulosefalik (Dolls eyes)
Refleks okulovestibular

Obat-obatan:
Manitol
Hiperventilasi sedang
Antikonvulsan

Tes diagnostik (sesuai urutan):


CT scan
Ventrikulografi udara
Angiogram

PRIMARY SURVEY
Penderita

cedera kepala berat dengan hipotensi


mempunyai mortalitas 2 kali lebih banyak
daripada penderita tanpa hipotensi.
Hipoksia + hipotensi = mortalitas mencapai
75%.
Airway dan Breathing
Pada cedera kepala sering terjadi henti nafas
sementara.
Intubasi endotrakeal
Tindakan hiperventilasi harus dilakukan secara hatihati, pCO2 harus dipertahankan antara 25-35 mmHg.
Sirkulasi

Hipotensi biasanya disebabkan olek cedera otak,


gangguan medulla oblongata, atau karena kehilangan
darah yang cukup berat. Lakukan pemberian cairan
untuk mengganti volume yang hilang.

SECONDARY SURVEY
Head-to-toe

examination

PEMERIKSAAN
NEUROLOGIS
GCS

dan refleks pupil

Ukuran Pupil
Dilatasi unilateral

Reaksi Cahaya
Lambat/(-)

Interpretasi
Paresis CN III akibat kompresi sekunder herniasi
tentorial

Dilatasi bilateral

Dilatasi

unilateral

Lambat/(-)

atau Reaksi

Perfusi otak tidak cukup, paresis CN III

menyilang Cedera nervus optikus

ekual

(Marcus-Gunn)

Konstriksi bilateral

Sulit dilihat

Obat (opiate), ensefalopati metabolik, lesi pons

Konstriksi unilateral

Positif

Cedera saraf simpatis

PROSEDUR DIAGNOSIS
CT

scan
Angiografi

Terapi medikamentosa
Prinsipdasar:selsarafdiberikansuasanayangoptimaluntukpemulihanmakadiharapkandapatberfungsi
secaranormalkembali.

A.CairanIntravena
resusitasipenderitaagartetapnormovolemia

Janganberikancairanhipotonik
cairanyangdianjurkanuntukresusitasiadalahlarutanRingersLactateatauNaClfisiologis.

B. Hiperventilasi
HiperventilasibekerjadenganmenurunkanPCO2danmenyebabkanvasokonstriksipembuluhdarahotak.
PenurunanvolumeintrakranialiniakanmenurunkanTIK.

C.Manitol
Konsentrasicairan20%.
Dosisyangbiasanyadipakaiadalah1gram/kgBBdiberikansecaraintravena.
Indikasiyangjelaspenggunaanmanitoladalahpadapenderitakomayangsemulareaksicahayapupilnya
normaltetapikemudiantimbuldilatasipupildenganatautanpahemiparesis.

D.Furosemid
ObatinidiberikanbersamamanitoluntukmenurunkanTIK.Penggunaankombinasikeduaobatiniakan
meningkatkandiuresis.Dosisyanglazimadalah0,30,5
mg/kgBBdiberikansecaraIV.
E.Barbiturat

barbituratbermanfaatuntukmenurunkanTIKyangrefrakterterhadapobatatau proseduryangbiasa.Namun
obatinitidakbolehdiberikanbilaterdapathipotensi,karenabarbituratdapatmenurunkantekanandarah,

sehinggabarbiturattidak bolehdiberikanpadafaseakutresusitasi.

F. Antikonvulsan
kejangpascatraumaterjadipada5%penderitayangdirawatdiRSdengancederakepalatertutup,dan15%pada
cederakepalaberat.Haltersebutmenjadidasarpenganjuranpenggunaanantikonvolsansepertiphenobarbital,
phenitoin,diazepamataulorazepam,sebagaiantikonvulsanprofilaktik.

Penatalaksanaan
Pembedahan
A. Luka Kulit Kepala
Perdarahan dari laserasi kulit kepala yang dalam dapat dihentikan
dengan penekanan lokal langsung, kauterisasi, atau ligasi
pembuluh besar, kemudian dilakukan penjahitan luka. Hal penting
yang harus dilakukan adalah inspeksi cesara cermat untuk
menentukan adanya fraktur tengkorak atau benda asing.
B. Fraktur depresi tengkorak
umumnya fraktur depresi yang memerlukan koreksi secara
operatif adalah bila tebalnya deprasi lebih besar dari ketebalan
tulang didekatnya.

C. Lesi-lesi intrakranial
Bila terjadi suatu masa di intra kranial perlu dilakukan tindakan operatif.
Biasanya pada hematoma dengan fasilitas RS yang kurang memadai dan
tidak ada doker ahli bedah syaraf, perlu dilakukan trepanasi darurat
(emergency burr holes). Tujuan trepanasi darurat itu adalah untuk
mencegah kematian dengan mengeluarkan hematoma intrakranial.

Tindakantrepanasidaruratharusdipertimbangkandenganhatihati:

Sebagianbesarpenderitacederakepalayangkomatidakmenunjukanadanyaperdarahanintrakranial

Lubangboryangdibuatsejauh2cmdarihematomamungkintidakdapatmenemukanperdarahanitu

Hanyasedikityangbisadikeluarkanlewatlubangbor

Lubangborsendiridapatmengakibatkankerusakanotakatauperdarahan

Evakuasihematomamelaluilubangbortidakselaludapatmenyelamatkanjiwapenderita

MembuatlubangbormungkinmembutuhkanwaktulebihlamadibandingkandenganmembawakeRS
denganfasilitasmemadai.

DapatdilakukanCTscanuntukmengetahuisecaratepatlokasidarihematomaataupunlesilainya.

TERIMAKASIH