Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofit disebut
"Dermatofitosis ". Golongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena
mempunyai daya tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini
dapat menyerang lapisan-lapisan kulit mulai dari stratum korneurm sampai
dengan stratum basalis. Dermatofitosis disebabkan jamur golongan dermatofita
yang terdiri dari tiga genus yaitu genus: Microsporum, Trichophyton, dan
Epidermophyton. Dari 41 spesies dermatofita yang sudah dikenal hanya 23
spesies yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang terdiri
dari 15 spesies Microsporum, 7 spesies Trichophyton dan 1 spesies
Epidermophyton.
Secara etiologis dermatofitosis disebabkan oleh tiga genus dan penyakit
yang ditimbulkan sesuai dengan penyebabnya. Diagnosis etiologi ini sangat sukar
oleh karena harus menunggu hasil biakan jamur dan ini memerlukan waktu yang
agak lama dan tidak praktis. Disamping itu sering satu gambaran klinik dapat
disebabkan oleh beberapa jenis spesies jamur, dan kadang-kadang satu gambaran
klinis dapat disebabkan oleh beberapa spesies dematofita sesuai dengan lokalisasi
tubuh yang diserang.
Cara penularan jamur dapat secara langsung dan secara tidak langsung.
Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut-rambut yang mengandung
jamur baik dari manusia, binatang atau dari tanah. Penularan tak langsung dapat
melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, barang-barang atau pakaian, debu
atau air.
Istilah Tinea dipakai untuk semua infeksi oleh dermatofita dengan
dibubuhi tempat bagian tubuh yang terkena infeksi, sehingga diperoleh pembagian
dermatofitosis sebagai berikut : tinea kapitis, tinea korporis, tinea kruris, tinea
manus et pedis, tinea unguium, tinea barbae, dan tinea imbrikata.
Tinea korporis adalah penyakit dermatofitosis pada kulit tubuh tidak
berambut (glaborous skin), selain kulit kepala, wajah, kaki, telapak tangan dan

kaki, janggut dan lipatan paha. Manifestasinya akibat infiltrasi dan proliferasinya
pada stratum korneum dan tidak berkembang pada jaringan yang hidup.
Metabolisme dari jamur dipercaya menyebabkan efek toksik dan respon alergi.
Tinea korporis umumnya tersebar pada seluruh masyarakat tetapi lebih banyak di
daerah tropis.
Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur dan paling sering terjadi pada
iklim yang panas (tropis dan subtropis). Ada beberapa macam variasi klinis
dengan lesi yang bervariasi dalam ukuran derajat inflamasi dan kedalamannya.
Variasi ini akibat perbedaan imunitas hospes dan spesies dari jamur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A Tinea Korporis
1 Definisi
Tinea korporis adalah dermatofitosis pada kulit tubuh tidak
berambut (glaborous skin). Dermatofitosis adalah infeksi jamur yang
disebabkan oleh jamur dermatofita yaitu Epidermophyton, Mycrosporum
dan Trycophyton. Terdapat lebih dari 40 spesies dermatofita yang berbeda,
yang menginfeksi kulit dan salah satu penyakit yang disebabkan jamur
golongan dermatofita adalah tinea korporis.
2 Epidemiologi
Tinea korporis merupakan infeksi yang umumnya sering dijumpai
di daerah yang panas. Tricophyton rubrum merupakan infeksi yang paling
umum diseluruh dunia dan sekitar 47 % menyebabkan tinea korporis.
Tricophyton

tonsurans

merupakan

dermatofit

yang

lebih

umum

menyebabkan tinea kapitis, dan orang dengan infeksi tinea kapitis


antropofilik

akan berkembang menjadi

tinea korporis.. Walaupun

prevalensi tinea korporis dapat disebabkan oleh peningkatan Tricophyton


tonsurans, Microsporum canis merupakan organisme ketiga sekitar 14 %
menyebabkan tinea korporis.
Tinea korporis mungkin ditransmisikan secara langsung dari
infeksi manusia atau hewan melalui autoinokulasi dari reservoir, seperti
kolonisasi T.rubrum di kaki. Anak-anak lebih sering kontak pada zoofilik
patogen seperti M.canis pada kucing atau anjing. Pakaian ketat dan cuaca
panas dihubungkan dengan banyaknya frekuensi dan beratnya erupsi.
Infeksi dermatofita tidak menyebabkan mortalitas yang signifikan
tetapi mereka bisa berpengaruh besar terhadap kualitas hidup. Tinea
korporis prevalensinya sama antara pria dan wanita. Tinea korporis
3

mengenai semua orang dari semua tingkatan usia tetapi prevalensinya


lebih tinggi pada pra-dewasa. Tinea korporis yang berasal dari binatang
umumnya lebih sering terjadi pada anak-anak.
Secara geografi lebih sering pada daerah tropis daripada subtropik.
Berdasarkan habitatnya dermatofita digolongkan sebagai antropofilik
(manusia), zoofilik (hewan), dan geofilik (tanah). Dermatofita yang
antropofilik paling sering sebagai sumber infeksi tinea, tetapi sumber yang
zoofilik di identifikasi (jika mungkin) untuk mencegah reinfeksi manusia.
3 Etiologi
Dermatofitosis adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur
dermatofita yaitu Epidermophyton, Mycrosporum dan Trycophyton.
Terdapat lebih dari 40 spesies dermatofita yang berbeda, yang menginfeksi
kulit dan salah satu penyakit yang disebabkan jamur golongan dermatofita
adalah tinea korporis
4 Patogenesis
Dermatofitosis bukanlah patogen endogen. Transmisi dermatofita
ke manusia dapat melalui 3 sumber yang masing-masing memberikan
gambaran tipikal, karena dermatofita tidak memiliki virulensi secara
khusus dan khas hanya menginvasi bagian luar stratum korneum dari kulit.
Tabel 2.2. Tipe Dermatofita Berdasarkan Cara Transmisi
No.
1.
2.

Kategori
Antropofilik

Cara Transmisi
Manusia ke manusia

Gambaran Klinik Tipikal


Ringan, tanpa inflamasi, kronik

Zoofilik

Hewan ke manusia

Inflamasi hebat (mungkin


pustula dan vesikel), akut.

3.

Geofilik

Tanah ke manusia

Inflamasi sedang

atau hewan
Lingkungan kulit yang sesuai merupakan faktor penting dalam
perkembangan klinis dermatofitosis. Infeksi alami disebabkan oleh
deposisi langsung spora atau hifa pada permukaan kulit yang mudah

dimasuki dan umumnya tinggal di stratum korneum, dengan bantuan


panas, kelembaban dan kondisi lain yang mendukung seperti trauma,
keringat yang berlebih dan maserasi juga berpengaruh.
Pemakaian bahan yang tidak berpori akan meningkatkan
temperatur dan keringat sehingga mengganggu fungsi barier stratum
korneum. Infeksi dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan
individu atau hewan yang terinfeksi, benda-benda seperti pakaian, alat-alat
dan lain-lain. Infeksi dimulai dengan terjadinya kolonisasi hifa atau
cabang-cabangnya

dalam

jaringan

keratin

yang

mati.

Hifa

ini

memproduksi enzim keratolitik yang mengadakan difusi ke dalam jaringan


epidermis dan merusak keratinosit.
Setelah masa perkembangannya (inkubasi) sekitar 1-3 minggu
respon jaringan terhadap infeksi semakin jelas dan meninggi yang disebut
ringworm, yang menginvasi bagian perifer kulit. Respon terhadap infeksi,
dimana bagian aktif akan meningkatkan proses proliferasi sel epidermis
dan menghasilkan skuama. Kondisi ini akan menciptakan bagian tepi aktif
untuk berkembang dan bagian pusat akan bersih. Eliminasi dermatofit
dilakukan oleh sistem pertahanan tubuh (imunitas) seluler.
Pada masa inkubasi, dermatofita tumbuh dalam stratum korneum,
kadang-kadang disertai tanda klinis yang minimal. Pada carier,
dermatofita pada kulit yang normal dapat diketahui dengan pemeriksaan
KOH atau kultur.
5 Manifestasi Klinis
Tinea korporis bisa mengenai bagian tubuh manapun meskipun
lebih sering terjadi pada bagian yang terpapar. Pada penyebab antropofilik
biasanya terdapat di daerah yang tertutup atau oklusif atau daerah trauma.
Keluhan berupa rasa gatal. Pada kasus yang tipikal didapatkan lesi
yang berbatas tegas, pada tepi lesi tampak tanda radang lebih aktif dan
bagian tengah cenderung menyembuh. Lesi yang berdekatan dapat
membentuk pola gyrate atau polisiklik. Derajat inflamasi bervariasi,

dengan morfologi dari eritema sampai pustula, bergantung pada spesies


penyebab dan status imun pasien. Pada penyebab zoofilik umumnya
didapatkan tanda inflamasi akut. Pada keadaan imunosupresif, lesi sering
menjadi lebih luas.
Tinea korporis dapat bermanifestasi sebagai gambaran tipikal,
dimulai sebagai lesi eritematosa, plak yang bersisik yang memburuk dan
membesar, selanjutnya bagian tengah dari lesi akan menjadi bentuk yang
anular akan mengalami resolusi, dan bentuk lesi menjadi anular berupa
skuama, krusta, vesikel, dan papul sering berkembang, khususnya pada
bagian tepinya. Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan.
Lesi pada umumnya merupakan bercak terpisah satu dengan yang lainnya.
Pada tinea korporis yang menahun, tanda radang akut biasanya
tidak terlihat lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada tiap bagian tubuh dan
bersama-sama dengan kelainan pada sela paha. Dalam hal ini disebut
tinea korporis dan kruris.

Gambar 2.7. Tinea Korporis

Bentuk khas tinea korporis yang disebabkan oleh Trichophyton


concentricum disebut tinea imbrikata. Tinea imbrikata mulai dengan
bentuk papul berwarna coklat, yang perlahan-lahan menjadi besar. Stratum
korneum bagian tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar. Proses ini
setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk
lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris.

Gambar 2.8. Tinea Imbrikata


Infeksi dermatofita secara zoofilik atau geofilik lebih sering
menyebabkan respon inflamasi daripada yang disebabkan oleh mikroba
antropofilik. Umumnya, pasien HIV-positif atau imunokompromise bisa
terlihat dengan abses yang dalam dan meluas.
Tinea korporis lebih sering ditemukan sebagai asimptomatik atau
gatal ringan. Secara obyektif tipikal lesinya mulai sebagai makula
eritematosa atau papul yang menjalar dan berkembang menjadi anular,
dan lesi berbatas tegas, skuama atau vesikel, tepi yang berkembang dan
healing center. Tinea korporis lebih sering pada permukaan tubuh yang
terbuka antara lain wajah, lengan dan bahu.
6 Pemeriksaan Penunjang
Dalam patogenesisnya, jamur patogen akan menyebabkan kelainan
pada kulit sehingga atas dasar kelainan kulit inilah kita dapat membangun
diagnosis. Akan tetapi kadang temuan efloresensi tidak khas atau tidak
jelas, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang. Sehingga diagnosis

menjadi lebih tepat.


Pemeriksaan mikroskopik langsung terhadap bahan pemeriksaan
merupakan pemeriksaan yang cukup cepat, berguna dan efektif untuk
mendiagnosis infeksi jamur. Pemeriksaan KOH merupakan pemeriksaan
tunggal yang paling penting untuk mendiagnosis infeksi dermatofita secara
langsung di bawah mikroskop.
Setelah sediaan dicampur dengan larutan KOH, ditunggu 15 20
menit, hal ini diperlukan untuk melarutkan jaringan. Untuk mempercepat
proses pelarutan dapat dilakukan pemanasan sediaan basah di atas api
kecil. Pada saat mulai keluar uap dari sediaan tersebut, pemanasan sudah
cukup. Bila terjadi penguapan, maka akan terbentuk kristal KOH, sehingga
tujuan yang diiginkan tidak tercapai. Untuk melihat elemen jamur lebih
nyata dapat ditambahkan zat warna pada sediaan KOH, misalnya tinta
Parker superchroom blue black.
Pemeriksaan langsung sediaan basah dilakukan dengan mikroskop,
mula-mula dengan pembesaran 10 x 10, kemudian dengan pembesaran 10
x 45. Pemeriksaan dengan pembesaran 10 x 100 biasanya tidak diperlukan.
Akan terlihat hifa diantara material keratin.

Gambar 2.9. KOH, 400 x : Hifa Bercabang dan Bersepta


7 Diagnosis dan Diagnosis Banding
Diagnosis

ditetapkan

berdasarkan

gambaran

klinis

dan

lokalisasinya atau pemeriksaan sediaan langsung kerokan lesi dengan


8

larutan KOH 20%, untuk melihat elemen jamur dermatofit. Biakan jamur
diperlukan untuk identifikasi spesies jamur penyebab yang lebih akurat.
Diagnosis pasti digunakan melakukan pemeriksaan dengan
menggunakan mikroskop untuk mengidentifikasi adanya hifa dan spora
untuk mengetahui infeksi dermatofit. Infeksi dapat dikonfirmasi atau
beberapa dari keadaan ini diidentifikasi dari hasil positif kerokan oleh
kultur jamur.
Bergantung variasi gambaran klinis, tinea korporis kadang sulit
dibedakan dengan beberapa kelainan kulit yang lainnya. Antara lain
dermatitis kontak, dermatitis numularis, dermatitis seboroik, pitiriasis
rosea, dan psoriasis. Untuk alasan ini, tes laboraturium sebaiknya
dilakukan pada kasus dengan lesi kulit yang tidak jelas penyebabnya.
Kelainan kulit pada dermatitis seboroik selain dapat menyerupai
tinea korporis, biasanya dapat terlihat pada tempat-tempat predileksi,
misalnya di kulit kepala, lipatan-lipatan kulit, misalnya belakang telinga,
daerah nasolabial dan sebagainya. Psoriasis dapat dikenal dari kelainan
kulit dari tempat predileksi, yaitu daerah ekstensor, misalnya lutut, siku
dan punggung. Kulit kepala berambut juga sering terkena pada penyakit
ini. Adanya lekukan-lekukan pada kuku dapat pula menolong untuk
menentukan diagnosis.
Pitiriasis rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris dan
terbatas, tubuh dan bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan
dengan tinea korporis tanpa herald patch yang dapat membedakan
penyakit ini dengan tinea korporis. Pemeriksaan laboratoriumlah yang
dapat memastikan diagnosisnya.
8 Penatalaksanaan
Menghilangkan faktor predisposisi penting, misalnya mengusahakan
daerah lesi selalu kering dan memakai baju yang menyerap keringat.
a

Terapi topikal
Terapi direkomendasikan untuk infeksi lokal karena dermatofit

biasanya hidup pada jaringan. Berbagai macam preparat imidazol dan


alilamin

tersedia

dalam

berbagai

formulasi.

Dan

semuanya

memberikan keberhasilan terapi (70-100%). Terapi topikal digunakan


1-2 kali sehari selama 2 minggu tergantung agen yang digunakan.
Topikal azol dan allilamin menunjukkan angka perbaikan perbaikan
klinik yang tinggi.
Berikut obat yang sering digunakan :
1

Topical azol terdiri atas :


a Econazol 1 %
b Ketoconazol 2 %
c Clotrinazol 1%
d Miconazol 2%, dan lain-lain.
Derivat imidazol bekerja dengan cara menghambat enzim 14-alfadimetilase pada pembentukan ergosterol membran sel jamur.
2

Allilamin bekerja menghambat allosterik dan enzim jamur skualen


2,3

epoksidase

sehingga

skualen

menumpuk

pada

proses

pembentukan ergosterol membran sel jamur, yaitu aftifine 1 %,


butenafin 1% Terbinafin 1% (fungisidal bersifat anti inflamasi )
yang mampu bertahan hingga 7 hari sesudah pemakaian selama 7
hari berturut-turut.
3

Sikloklopirosolamin 2% (cat kuku, krim dan losion) bekerja


menghambat masuknya bahan esensial selular dan pada konsentrasi
tinggi merubah permeabilitas sel jamur merupakan agen topikal
yang bersifat fungisidal dan fungistatik, antiinflamasi dan anti
bakteri serta berspektrum luas.

Kortikosteroid

topikal

yang

rendah

sampai

medium

bisa

ditambahkan pada regimen anti jamur topikal untuk menurunkan


gejala. Tetapi steroid hanya diberikan pada beberapa hari pertama
dari terapi.
b

Terapi sistemik

10

Pedoman yang dikeluarkan oleh American Academy of


Dermatology menyatakan bahwa obat anti jamur (OAJ) sistemik dapat
digunakan pada kasus hiperkeratosis terutama pada telapak tangan dan
kaki, lesi yang luas, infeksi kronis, pasien imunokompromais, atau
pasien tidak responsif maupun intoleran terhadap OAJ topikal.
1

Griseofulvin
Obat ini berasal dari Penicillium griceofulvum dan masih dianggap
baku emas pada pengobatan infeksi dermatofit genus Trichophyton,
Microsporum, dan Epidermophyton. Bekerja pada inti sel,
menghambat mitosis pada stadium metafase. Larut lemak dan
harganya murah.

Ketokonazol
Merupakan OAJ sistemik pertama yang berspektrum luas,
fungistatik, termasuk golongan imidazol. Absorbsi optimum bila
suasana asam.

Flukonazol
Mempunyai mekanisme kerja sama dengan golongan imidazol,
namun absorbsi tidak dipengaruhi oleh makanan atau kadar asam
lambung.

Itrakonazol
Merupakan OAJ golongan triazol, sangat lipofilik, spektrum luas,
bersifat fungistatik dan efektif untuk dermatofita, ragi, jamur
dismorfik maupun jamur dematiacea. Absorbsi maksimum dicapai
bila obat diminum bersama dengan makanan.

Amfosterin B
Merupakan anti jamur golongan polyen yang diproduksi oleh
Streptomyces nodosus. Bersifat fungistatik, pada konsentrasi rendah
akan menghambat pertumbuhan jamur, protozoa dan alga.
Digunakan sebagai obat pilihan pada pasien dengan infeksi jamur
yang membahayakan jiwa dan tidak sembuh dengan preparat azol.

11

Prognosis
Untuk tinea korporis yang bersifat lokal, prognosisnya akan baik
dengan tingkat kesembuhan 70-100% setelah pengobatan dengan azol
topikal atau allilamin atau dengan menggunakan anti jamur sistemik.

12

BAB III
STATUS PASIEN
1

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. R

Umur

: 38 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Jl. Husin Hamzah

Pekerjaan

: IRT

Agama

: Islam

Status

: Menikah

ANAMNESIS
a Keluhan utama:
Gatal pada lengan kanan dan punggung bawah
b

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien wanita berusia 35 tahun pada tanggal 12 Februari 2016 datang ke

Poli Kulit dan Kelamin RSUD SSMA dengan keluhan gatal pada lengan
kanan dan punggung bawah sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan disertai dengan
timbulnya kelainan kulit berupa kulit kemerahan. Pertama kali timbul di
daerah punggung bawah sebesar buah kelereng yang semakin membesar dan
menyebar ke lengan kanan. Rasa gatal berlangsung sepanjang hari dan
memberat saat berkeringan. Pasien sering menggaruk lengan dan punggung
bawahnya karena gatal. pasien sebelumnya sudah pernah berobat 1 kali ke
puskesmas dan diberoobat minum dan obat salep. Keluhan sempat membaik,
namun timbul kembali. Pasien tidak mengetahui obat apa yang diberikan di
puskesmas.
c

Riwayat penyakit dahulu


Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya. Riwayat

alergi disangkal. Riwayat asma disangkal. Riwayat sering bersin di pagi hari
disangkal.
13

Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga pasien tidak memiliki keluhan yang sama dengan pasien.

Riwayat alergi disangkal. Riwayat asma disangkal. Riwayat sering bersin di


pagi hari disangkal.
e

Riwayat kebiasaan atau lingkungan


Pasien menggunakan air sumur sebagai sumber air kebutuhan keluarga.

Pasien sering memakai celana yang ketat. Pasien tidak pernah berbagi handuk
dan barang-barang pribadi dengan orang lain
f Riwayat sosial ekonomi
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga dan bertugas mengurus rumah
dan mengurus keluarga pasien.
3. STATUS GENERALIS
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

TD

: 120/70 mmHg

Nadi

: 74x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 37,4oC

4. STATUS DERMATOLOGIS

Lokasi lesi: Lengan kanan dan punggung bawah

14

Lokasi

: lengan kanan

Lesi plak hipopigmentasi, solitar, sirkumskripta, berukuran plakat, dengan central


healing, skuama halus berwarna putih dan sebagian permukaan mengalami erosi.

Lokasi

: punggung bawah

Lesi plak eritematosa, multiple, sirkumskripta, berukuran lentikular-plakat,


dengan central healing, skuama halus berwarna putih dan sebagian permukaan
erosi.
5. LABORATORIUM
Tidak dilakukan

15

6. RESUME
Pasien perempuan, 35 tahun, seorang ibu rumah tangga, datang dengan
keluhan gatal sejak 1 bulan yang lalu di lengan kanan dan punggung bawah. .
Keluhan disertai dengan timbulnya kelainan kulit berupa kulit kemerahan.
Pertama kali timbul di daerah punggung bawah sebesar buah kelereng yang
semakin membesar dan menyebar ke lengan kanan. Rasa gatal berlangsung
sepanjang hari dan memberat saat berkeringat. Pasien sering menggaruk lengan
dan punggung bawahnya karena gatal. pasien sebelumnya sudah pernah berobat 1
kali ke puskesmas dan diberi obat minum dan obat salep. Keluhan sempat
membaik, namun timbul kembali. Pasien tidak mengetahui obat apa yang
diberikan di puskesmas. Pasien mempunyai riwayat tinea korporis dan tinea kruris
sebelumnya. Pasien menggunakan air sumur sebagai sumber air keluarga. Pasien
memiliki kebiasaan memakai celana yang ketat. Pasien adalah seorang ibu rumah
tangga dan bertugas mengurus rumah dan mengurus keluarga pasien.
Pada pemeriksaan fisik, pada status dermatologi didapatkan pada regio lengan
kanan didapatkan Lesi plak hipopigmentasi, solitar, sirkumskripta, berukuran
numular, polisiklik dengan central healing, skuama halus berwarna putih dan
erosi. Pada regio punggung bawah didapatkan Lesi plak eritematosa, multiple,
sirkumskripta, berukuran lentikular-plakat, polisiklik, korimbiformis dengan
central healing, skuama halus berwarna putih dan erosi.
7. DIAGNOSIS KERJA
Tinea korporis
8. DIAGNOSA BANDING
Ptiriasis rosea
Dermatitis numularis
9. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Kerokan kulit daerah lesi dengan KOH 10%
Pembiakan dengan agar dekstrosa sabouraud

16

10. PENATALAKSANAAN
A. Non Medikamentosa
1) Memperbaiki higiene dan kebersihan kulit.
2) Menganjurkan kepada pasien untuk tidak menggunakan pakaian atau
celana yang ketat. Pasien sebaiknya menggunakan pakaian yang longgar
dan dari bahan yang menyerap keringat.
3) Mencuci dan mengganti pakaian secara teratur
4) Menganjurkan kepada pasien untuk tidak menggaruk kulit yang gatal.
5) Kontrol kembali 1 minggu kemudian.
B. Medikamentosa
1) Terbinafine cream 1x1 pagi
2) Ketokonazole 1x200 mg
3) Cetirizine 1x10 mg
11. PROGNOSIS
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad funcionam

: ad bonam

Quo ad sanationam

: ad bonam

BAB IV
PEMBAHASAN

17

Penegakan diagnosa pada pasien ini ditegakan berdasarkan hasil anamnesis


dan pemeriksaan fisik pasien. Pasien datang dengan keluhan gatal sejak 1 bulan
yang lalu di lengan kanan dan punggung bawah. Keluhan disertai dengan
timbulnya kelainan kulit berupa kulit kemerahan dan semakin membesar. Rasa
gatal berlangsung sepanjang hari dan memberat saat berkeringat. Pada
pemeriksaan fisik, pada status dermatologi didapatkan pada regio lengan kanan
didapatkan Lesi plak hipopigmentasi, solitar, sirkumskripta, berukuran numular,
polisiklik dengan central healing, skuama halus berwarna putih dan sebagian erosi
dan eksoriasi. Pada regio punggung bawah didapatkan Lesi plak eritematosa,
multiple, sirkumskripta, berukuran lentikular-plakat, polisiklik, korimbiformis
dengan central healing, skuama halus berwarna putih dan sebagian erosi dan
eksoriasi. Dari hasil ini didapatkan tanda morfologi khas dermatofita berupa lesi
yang terdiri atas bermacam-macam efloresensi kulit yang berbatas tegas. Bagian
tepi lebih aktif dengan tanda peradangan yang lebih jelas. Daerah sentral biasanya
menipis dan terjadi penyembuhan, sementara di tepi lesi makin meluas ke perifer.
Kadang-kadang bagian tengahnya tidak menyembuh, tetapi tetap meninggi dan
tertutup skuama sehingga menjadi bercak yang besar. Lesi ini disertai dengan rasa
gatal. Rasa gatal bertambah pada saat berkeringat karena hifa jamur lebih mudah
menginfiltrasi kulit saat berkeringat. Infiltrasi hifa jamur ini akan menimbulkan
reaksi radang lokal dan memberikan sensasi gatal. hal ini lah yang menyebabkan
pada infeksi jamur, rasa gatal meningkat saat berkeringat.
Diagnosis banding dari tinea korporis yang diambil adalah pitiriasis rosea dan
dermatitis numularis. Pitiriasis rosea disingkirkan karena ujud kelainan kulit yang
ditemukan pada penyakit pitriasis rosea berupa makula eritematosa dengan bentuk
lonjong atau bundar dengan garis diagonal terpanjang sesuai dengan garis-garis
lipatan kulit. Di atas makula eritem ditemukan skuama halus, tidak berlapis-lapis
dan di sekitar makula terdapat papul-papul miliar. Ini yang disebut dengan lesi
herald patch. Distribusi kelainan kulitnya simetris dan terbatas. Tempat
predileksinya di tubuh dan bagian proksimal anggota badan. Pada pasien ini tidak
ditemukan gambaran herald patch dan Christmas tree yang dapat membedakan
penyakit ini dengan tinea korporis. Pada dermatitis numularis penderita juga

18

mengeluh rasa gatal yang hebat. Lesi akut berupa papulo vesikel yang kemudian
membesar. Lambat laun vesikel pecah terjadi eksudasi. Kemudian mengering
menjadi krusta kuning. Penyembuhan dimulai dari tengah sehingga menyerupai
dermatomikosis. Pada pasien ini, tidak ditemukan awal lesi berupa papula vesikel
dan tidak ditemukan lesi basah madidans untuk membedakan dengan tinea
corporis.
Untuk membantu menegakkan diagnosis tinea korporis pada pasien ini,
diusulkan pemeriksaan penunjang yaitu: pemeriksaan mikologik Pemeriksaan
mikologik terdiri atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pada
pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis, yang
dapat berupa kerokan kulit dan rambut. Sebelum mengambil dan mengumpulkan
bahan untuk pemeriksaan mikologik, terlebih dahulu tempat kelainan dibersihkan
dengan spiritus 70%, kemudian langkah selanjutnya sebagai berikut :
a.

Untuk kulit tidak berambut (glaborous skin) : dari bagian tepi


kelainan sampai dengan bagian sedikit di luar kelainan sisik kulit dan kulit
dikerok dengan pisau tumpul steril.

b.

Untuk kulit berambut : rambut dicabut pada bagian kulit yang


mengalami kelainan; kulit di daerah tersebut dikerok untuk mengumpulkan
sisik kulit.
Sediaan basah dibuat dengan meletakkan bahan di atas gelas alas, kemudian

ditambah 1 2 tetes larutan KOH. Konsentrasi larutan KOH untuk sediaan


rambut adalah 10% dan untuk kulit 20%. Pada sediaan kulit yang terlihat adalah
hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang, maupun spora
berderet (artrospora) pada kelainan kulit lama dan / atau sudah diobati. Pada
sediaan rambut yang dilihat adalah spora kecil (mikrospora) atau besar
(makrospora). Spora dapat tersusun di luar rambut (ektotriks) atau di dalam
rambut (endotriks). Kadang-kadang dapat terlihat juga hifa pada sediaan rambut.
Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan
langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pemeriksaan ini
dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan. Yang dianggap
paling baik pada waktu ini adalah medium agar dekstrosa Sabouraud. Pada agar

19

Sabouraud dapat ditambahkan antibiotik saja (kloramfenikol) atau ditambahkan


pula klorheksimid. Kedua zat tersebut diperlukan untuk menghindarkan
kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan.
Terapi non medika mentosa yang diajukan untuk pasien ini adalah:
a. Memperbaiki higiene dan kebersihan kulit.
b. Menganjurkan kepada pasien untuk tidak menggunakan pakaian atau celana
yang ketat. Pasien sebaiknya menggunakan pakaian yang longgar dan dari
bahan yang menyerap keringat.
c. Mencuci dan mengganti pakaian secara teratur
d. Menganjurkan kepada pasien untuk tidak menggaruk kulit yang gatal.
e. Kontrol kembali 1 minggu kemudian.
Memperbaiki higiene dan kebersihan kulit. Hal ini dilakukan dengan
menganjurkan kepada pasien untuk selalu menjaga kebersihan kulit khususnya
ketika sedang berkeringat dan rajin mengganti pakaian yang lembab dengan
mandi sebanyak 2 kali sehari. Apabila pada udara panas pakaian dari setiap orang
cenderung akan basah seketika. Pada pakaian basah tersebut, jamur dapat tumbuh
dan menyerang kulit sehingga menyebabkan infeksi. Gesekan kulit, dimisalkan
pada lipatan paha, tingkat kelembapan yang relatif tinggi di wilayah yang terkena
gesekan itu menyebabkan jamur juga tumbuh. Oleh karena itu, disarankan untuk
tidak menggunakan pakaian yang cukup ketat dan padat serta mencuci dan
mengganti pakaian secara teratur. Pasien juga dianjurkan untuk tidak menggaruk
kulit yang gatal sehingga tidak menambah infeksi lainnya yang mungkin akan ikut
terjadi. Pasien juga dianjurkan untuk kontrol kembali 1 minggu lagi untuk
memantau perkembangan pengobatan yang diberikan.
Terapi medika mentosa yang diajukan untuk pasien ini adalah:
a

Griseofulvin 1 gr/hari selama 4-6 minggu


Obat ini berasal dari Penicillium griceofulvum dan masih dianggap baku emas

pada pengobatan infeksi dermatofita genus Trichophyton, Microsporum, dan


Epidermophyton. Bersifat fungistatik, bekerja pada inti sel, dan menghambat
mitosis pada stadium metafase. Griseofulvin masuk ke dalam sel jamur yang
rentan dengan proses yang tergantung energi. Hal ini diyakini bahwa obat ini

20

berinteraksi dengan mikrotubulus dalam jamur yang merusak serat mitotik dan
menghambat mitosis. Obat ini berakumulasi di daerah yang terinfeksi, disintesis
kembali dalam jaringan yang mengandung keratin, sehingga menyebabkan
pertumbuhan jamur terganggu.
Secara umum, griseofulvin dalam bentuk fine particle dapat diberikan dengan
dosis 0,5 1 g untuk orang dewasa dan 0,25 0,5 g untuk anak-anak sehari atau
10 25 mg per kg berat badan. Lama pengobatan tergantung pada lokasi penyakit,
penyebab penyakit, dan keadaan imunitas penderita. Terapi harus dilanjutkan
sampai jaringan normal menggantikan jaringan yang terinfeksi dan biasanya
membutuhkan beberapa minggu sampai bulan. Setelah sembuh klinis dilanjutkan
2 minggu agar tidak residif. Di dalam klinik cara pemberian dengan dosis tunggal
harian memberi hasil yang cukup baik pada sebagian besar penderita. Untuk
mempertinggi absorpsi obat dalam usus, sebaiknya obat dimakan bersama-sama
makanan yang banyak mengandung lemak.
Efek samping griseofulvin jarang dijumpai, yang merupakan keluhan utama
ialah sefalgia yang didapati pada 15% penderita. Efek samping yang lain dapat
berupa gangguan traktus digestivus yaitu nausea, vomitus, dan diare. Obat
tersebut juga bersifat fotosensitif dan dapat mengganggu fungsi hepar.
b

Terbinafine cream
Terbinafine merupakan suatu derivat alilamin sintetik. Obat ini diindikasikan

untuk terapi dermatofitosis terutama penggunaan topical. Terbinafine bersifat


keratofilik dan fungisidal. Mekanisme kerja terbinafin bekerja dengan
menghambat enzim skualen peroksidase sehingga akan menghambat sintesis
dinding sel bakteri. Efek samping terbinaafine adalah gangguan saluran cerna,
sakit kepala, hepatotoksik, neutropenia, Sindrom steven Johnson.
c

Cetirizine
Cetirizine merupakan derivate antihistamin antagonis reseptor AH1 generasi

kedua. Efek antihistaminnya akan menghambat efek histamin pada pembuluh


darah, bronkus, otot polos dan SSP menyebabkan terjadinya bronkokontriksi,
penurunan permeabilitas kapiler, menghambat SSP. Indikasi pemberian cetirizine
terurama pada penyakit-penyakit alergi. Efek samping yang bisa ditemukan

21

berupa vertigo, tinnitus, lelah, penat, inkoordinasi, penglihatan kabur, diplopia,


euphoria, gelisah, insomnia, tremor, nafsu makan berkurang, mual, muntah,
keluhan epigastrium, konstipasi/diare, mulut kering, palpitasi, dysuria, hipotensi
dan sakit kepala.

DAFTAR PUSTAKA

22

Djuanda A., 2011, Dermatofitosis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi:
Ke-6, Badan Penerbit FKUI, Jakarta.
Siregar, R.S., 2004, Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit, Edisi ke-2, EGC,
Jakarta.
Adiguna, Swastika, Goedadi, M.H., 2004, Dermatomikosis Superfisialis, Badan
Penerbit FKUI, Jakarta.
Soebono, H., Dermatomikosis Superfisialis: Pedoman untuk Dokter dan
Mahasiswa Kedokteran, Badan Penerbit FKUI, Jakarta.
Budimulja, U., 2008, Eritrasma dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Badan
Penerbit FKUI, Jakarta.
Soepardiman, L., 2007, Pitiriasis Alba dalam Ilmu Penyakit Kulit dan kelamin,
Badan Penerbit FKUI, Jakarta.
Wolff K., Johnson R.A., 2009, Fitzpatricks Color Atlas & Synopsis of Clinical
Dermatology. 6th ed. New York: McGraw-Hill Companies.
Kuswadji, 2007, Kandidosis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan kelamin, Badan
Penerbit FKUI, Jakarta.
Jawetz, Melnick A., 2008, Mikrobiologi Kedokteran, Edisi ke-23, EGC, Jakarta.
Gomella, L.G.; Steven A.H., 2003, Clinicians Pocket Drug Reference, McGrawHill, New York.
Gunawan, S.G.; Rianto S.N.; Elysabeth, 2011, Farmakologi dan Terapi, Edisi ke5, Badan Penerbit FKUI, Jakarta.

23