Anda di halaman 1dari 31

Poliomielitis

PENDAHULUAN
Poliomielitis adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus dengan
predileksinya merusak sel anterior masa kelabu sumsum tulang belakang (anterior horn cells of
the spinal cord) dan batang otak (brain stem); dengan akibat kelumpuhan otot-otot dengan
distribusi dan tingkat yang bervariasi serta bersifat permanen.
Pertama sekali ditemukan oleh Jacob Heine (1840) yaitu seorang ortopedik
berkebangsaan Jerman, dimana ia mengidentifikasi berbagai gejala dan gambaran patologi dari
penyakit ini. Pada tahun 1890, Medin seorang dokter anak berkebangsaan Swedia
mengemukakan berbagai data epidemiologi penyakit Poliomielitis. Atas jasa kedua sarjana ini,
maka Poliomielitis disebut juga sebagai penyakit Heine-Medin.
Tahun 1908, Landsteiner dan Popper berhasil memindahkan penyakit ini pada kera
melalui cara inokulasi jaringan sumsum tulang belakang penderita yang meninggal akibat
penyakit Poliomielitis.
Tahun 1949 Enders, Weller dan Robbins dapat menumbuhkan virus ini pada sel-sel yang
bukan berasal dari susunan syaraf, sehingga memungkinkan ditelitinya patogenesis dan
perkembangan vaksin polio.
Tahun 1952, Bodian dan Horstmann mendapatkan bahwa viremia terjadi pada awal
infeksi, yang mana hal ini perlu untuk menerangkan fase sistemik penyakit dan bagaimana
penyebaran virus polio ke susunan syaraf pusat.
Salk pada tahun 1953 melaporkan keberhasilan imunisasi dengan formalin-inactivated
poliovirus, dan lisensi vaksin ini diperoleh pada tahun 1955. Beberapa tahun kemudian Sabin,
Koprowski dan lain-lain mengembangkan vaksin live attenuated poliovirus dan mendapat lisensi
pada tahun 1962.
ETIOLOGI
Virus poliomyelitis (virus RNA) tergolong dalam genus enterovirus dan famili
picornaviridae, mempunyai 3 strain yaitu tipe 1 (Brunhilde), tipe 2 (Lansing) dan tipe 3 (Leon).
Infeksi dapat terjadi oleh satu atau lebih dari tipe virus tersebut. Epidemi yang luas dan ganas
biasanya disebabkan oleh virus tipe 1.
Imunitas yang diperoleh setelah terinfeksi maupun imunisasi bersifat seumur hidup dari spesifik
untuk satu tipe.
EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia. Manusia merupakan satu-satunya reservoir
penyakit Poliomielitis. Di negara yang mempunyai 4 musim, penyakit ini lebih sering terjadi di
musim panas, sedangkan di negara tropis musim tidak berpengaruh. Penyebaran penyakit ini
terutama melalui cara fecal-oral walaupun penyebaran melalui saluran nafas dapat juga terjadi.
Sebelum tahun 1880 penyakit ini sering terjadi secara sporadis, dimana epidemi yang
pertama sekali dilaporkan dari Scandinavia dan Eropah Barat, kemudian Amerika Serikat.

Pada akhir tahun 1940-an dan awal tahun 1950-an epidemi Poliomielitis secara teratur ditemukan
di Amerika Serikat dengan 15.000 - 21.000 kasus kelumpuhan setiap tahunnya. Pada tahun 1920,
90% kasus terjadi pada anak <5 tahun, sedangkan di awal tahun 1950an, kejadian tertinggi
adalah pada usia 5-9 tahun; bahkan belakangan ini lebih dari sepertiga kasus terjadi pada usia >
15 tahun.
Sejak dipergunakannya vaksin ada tahun 1955 dan 1962, secara dramatis terjadi
penurunan jumlah kasus di negara maju. Di Amerika Serikat angka kejadian turun dari 17.6
kasus Poliomielitis per 100.000 penduduk di tahun 1955 menjadi 0.4 kasus per 100.000 di tahun
1962. Sejak tahun 1972, kejadiannya <0,01 kasus per 100.000 atau 10 kasus per tahun.
PATOGENESIS
Bila tertelan virus yang virulen, maka akan terjadi multiplikasi di orofaring dan mukosa
usus (Peyer's patches). lnvasi sistemik terjadi melalui sistem limfatik dan kemudian darah.
Kira-kira 7-10 hari setelah tertelan virus, kemudian terjadi penyebaran, termasuk ke
susunan syaraf pusat. Penyebaran virus polio melalui syaraf belum jelas diketahui. Penyakit yang
ringan ("minor illness) terjadi pada saat viremia, yaitu kira-kira hari ketujuh, sedangan major
illness ditemukan bila konsentrasi virus di susunan syaraf pusat mencapai puncaknya yaitu pada
hari ke-12 sampai 14.
GAMBARAN KLINIS
Masa inkubasi penyakit ini berkisar anatara 9 - 12 hari, tetapi kadang-kadang 3 - 35 hari.
Gambaran klinis yang terjadi sangat bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai dengan
yang paling berat, yaitu :
1. Infeksi tanpa gejala (asymptomatic, silent, anapparent)
Kejadian infeksi yang asimptomatik ini sulit diketahui, tetapi biasanya cukup tinggi terutama
di daerah-daerah yang standar higine-nya jelek. Pada suatu epidemi diperkirakan terdapat
pada 90-95% penduduk dan menyebabkan imunitas terhadap penyakit tersebut. Bayi baru
lahir mula-mula terlindungi karena adanya antibodi maternal yang kemudian akan
menghilang setelah usia 6 bulan.
Penyakit ini hanya diketahui dengan menemukan virus di tinja atau meningginya titer
antibodi.
2. Infeksi abortif
Kejadiannya di perkirakan 4-8% dari jumlah penduduk pada suatu epidemi. Tidak dijumpai
gejala khas Poliomielitis. Timbul mendadak dan berlangsung 1-3 hari dengan gejala "minor
illnesss" seperti demam bisa sampai 39.5 C, malaise, nyeri kepala, sakit tenggorok,
anoreksia, filial, muntah, nyeri otot dan perut serta kadang-kadang diare .
Penyakit ini sukar dibedakan dengan penyakit virus lainnya, hanya dapat diduga bila terjadi
epidemi. Diagnosa pasti hanya dengan menemukan virus pada biakan jaringan.
Diagnosa banding adalah influenzae atau infeksi tenggorokan lainnya.
3. Poliomielitis non Paralitik
Penyakit ini terjadi 1 % dari seluruh infeksi. Gejala klinik sama dengan infeksi abortif yang
berlangsung 1-2 hari. Setelah itu suhu menjadi normal, tetapi kemudian naik kembali
(dromedary chart), disertai dengan gejala nyeri kepala, mual dan muntah lebih berat, dan
ditemukan kekakuan pada otot belakang leher, punggung dan tungkai, dengan tanda Kemig
dan Brudzinsky yang positip. Tanda-tanda lain adalah Tripod yaitu bila anak berusaha duduk
dari sikap tidur, maka ia

akan menekuk kedua lututnya ke atas, sedangkan kedua lengan menunjang kebelakang pada
tempat tidur. Head drop yaitu bila tubuh penderita ditegakkan dengan menarik pada kedua
ketiak, akan menyebabkan kepala terjatuh kebelakang. Refleks tendon biasanya normal. Bila
refleks tendon berubah maka kemungkinan akan terdapat poliomielitis paralitik. Diagnosa
banding adalah Meningitis serosa, Meningismus
4. Poliomielitis Daralitik Gambaran klinis sama dengan Poliomielitis non paralitik disertai
dengan kelemahan satu atau beberapa kumpulan otot skelet atau kranial. Gejala ini bisa
menghilang selama beberapa hari dan kemudian timbul kembali disertai dengan kelumpuhan
(paralitik) yaitu berupa flaccid paralysis yang biasanya unilateral dan simetris. Yang paling
sering terkena adalah tungkai. Keadaan ini bisa disertai kelumpuhan vesika urinaria, atonia
usus dan kadang-kadang ileus paralitik. Pada keadaan yang berat dapat terjadi kelumpuhan
otot pernafasan.
Secara klinis dapat dibedakan atas 4 bentuk sesuai dengan tingginya lesi pada susunan syaraf
pusat yaitu :
4.1. Bentuk spinal Dengan gejala kelemahan otot leher, perut, punggung, diaftagma, ada atau
ekstremitas, dimana yang terbanyak adalah ekstremitas bawah. Tersering yaitu otot-otot
besar, pada tungkai bawah kuadriseps femoris, pada lengan otot deltoideus. Sifat
kelumpuhan ini adalah asimetris. Refleks tendon menurun sampai menghilang dan
tidak ada gangguan sensibilitas.
Diagnosa banding adalah :
4.1.1. Pseudo paralisis non neurogen: tidak ada kaku kuduk, tidak pleiositosis.
Disebabkan oleh trauma/kontusio, demam rematik akut, osteomielitis
4.1.2. Polineuritis : gejala paraplegia dengan gangguan sensibilitas, dapat dengan
paralisis palatum mole dan gangguan otot bola mala.
4.1.3. Poliradikuloneuritis (sindroma Guillain-Barre) : 50% kasus sebelum paralisis
didahului oleh demam tinggi; Paralisis tidak akut tetapi perlahan-lahan;
kelumpuhan blateral dan simetris; pada likuor serebrospinalis protein
meningkat; sembuh tanpa gejala; terdapat gangguan sensorik.
4.2. Bentuk bulbar ditandai dengan kelemahan motorik dari satu atau lebih syaraf kranial
dengan atau tanpa gangguan pusat vital seperti pernafasan, sirkulasi dan temperatur
tubuh. Bila kelemahan meliputi syaraf kranial IX, X dan XII maka akan menyebabkan
paralisis faring, lidah dan taring dengan konsekwensi terjadinya sumbatan jalan nafas.
4.3. Bentuk bulbospinal Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan bubar
4.4. Bentuk ensefalitik Ditandai dengan kesadaran yang menurun, tremor, dan kadangkadang kejang.
LABORATORIUM
Virus polio dapat di isolasi dan dibiakkan dari bahan hapusan tenggorok pada minggu
pertama penyakit, dan dari tinja sampai beberapa minggu. Berbeda dengan enterovirus lainnya,
virus polio jarang dapat di isolasi dari cairan serebrospinalis. Bila pemeriksaan isolasi virus tidak
mungkin dapat dilakukan, maka dipakai pemeriksaan serologi berupa tes netralisasi dengan
memakai serum pada fase akut dan konvalesen. Dikatakan positip bila ada kenaikan titer 4 kali
atau lebih. Tes netralisasi sangat

spesifik dan bermanfaat untuk menegakkan diagnosa Poliomielitis. Selain itu bisa juga
dilakukan pemeriksaan CF (Complement Fixation), tetapi ditemukan reaksi silang diantara
ketiga tipe virus ini.
Pemeriksaan likuor serebrospinalis akan menunjukkan pleiositosis biasanya kurang dari
500/mm3, pada permulaan lebih banyak polimorfonukleus dari limfosit, tetapi kemudian segera
berubah menjadi limfosit yang lebih dominan. Sesudah 10-14 hari jumlah sel akan normal
kembali. Pada stadium awal kadar protein normal, kemudian pada minggu kedua dapat naik
sampai 100 mg%, dengan jumlah set menurun sehingga disebut dissociation cytoalbuminique,
dan kembali mencapai normal dalam 4-6 minggu. Glukosa normal. Pada pemeriksaan darah tepi
dalam batas normal dan pada urin terlihat gambaran yang bervariasi dan bisa ditemukan
albuminuria ringan.
PENGOBATAN
Tidak ada pengobatan spesifik terhadap Poliomielitis. Antibiotika, -globulin dan vitamin
tidak mempunyai efek. Penatalaksanaan adalah simptomatis daft suportif.
lnfeksi tanpa gejala : istirahat
Infeksi abortif : Istirahat sampai beberapa hari setelah temperatur normal. Kalau perlu dapat
diberikan analgetik, sedatif. Jangan melakukan aktivitas selama 2 minggu. 2 bulan kemudian
dilakukan pemeriksaan neuro-muskuloskletal untuk mengetahui adanya kelainan.
Non Paralitik: Sama dengan tipe abortif Pemberian analgetik sangat efektip bila diberikan
bersamaan dengan pembalut hangat selama 15-30 menit setiap 2-4 jam dan kadang-kadang
mandi air panas juga dapat membantu. Sebaiknya diberikan foot board, papan penahan pada
telapak kaki, yaitu agar kaki terletak pada sudut yang sesuai terhadap tungkai. Fisioterapi
dilakukan 3-4 hari setelah demam hilang. Fisioterapi bukan mencegah atrofi otot yang timbul
sebagai akibat denervasi sel kornu anterior, tetapi dapat mengurangi deformitas yang terjadi.
Paralitik: Harus dirawat di rumah sakit karena sewaktu-waktu dapat terjadi paralisis pernafasan,
dan untuk ini harus diberikan pernafasan mekanis. Bila rasa sakit telah hilang dapat dilakukan
fisioterapi pasip dengan menggerakkan kaki/tangan. Jika terjadi paralisis kandung kemih maka
diberikan stimulan parasimpatetik seperti bethanechol (Urecholine) 5-10 mg oral atau 2.5-5
mg/SK.
PROGNOSIS
Bergantung kepada beratnya penyakit. Pada bentuk paralitik bergantung pada bagian
yang terkena. Prognosis jelek pada bentuk bulbar, kematian biasanya karena kegagalan fungsi
pusat pernafasan atau infeksi sekunder pada jalan nafas. Data dari negara berkembang
menunjukkan bahwa 9% anak meninggal pada fase akut, 15% sembuh sempurna dan 75%
mempunyai deformitas yang permanen seperti kontraktur terutama sendi, perubahan trofik oleh
sirkulasi yang kurang sempurna, sehingga mudah terjadi ulserasi. Pada keadaan ini diberikan
pengobatan secara ortopedik.

2.1 DEFINISI, ETIOLOGI DAN EPIDEMIOLOGI DARI POLIOMIELITIS


2 .1 .1 D ef in is i P ol i o
Poliomielitis merupakan penyakit virus dengan penularan cepat dan mengenai sel anterior
masa kelabu medulla spinalis dan inti motorik batang otak dan akibat kerusakkan tersebut terjadi
kelumpuhan dan atrofi otot.
Terdapat banyak terminologi untuk poliomyelitis, antara lain : Poliomielitis Anterior
Akuta, Infantile Paralysis, Penyakit Heine dan Medin.
Penyakit ini terdapat di seluruh dunia dengan beraneka ragam gambaran epidemiologis
dan klinis. Dan telah diketahui sejak akhir abad XVIII. Di Indonesia penyakit ini sering
dihubungkan dengan akibat salah suntik.
Poliomielitis terutama menyerang pada anak di bawah 5 tahun. Pencegahan penyakit ini
sangat penting, oleh karena belum ada obat yang efektif terhadap penyakit ini. Namun, akhirakhir ini dengan begitu agresifnya program vaksinasi di seluruh dunia, tampak bahwa insiden
penyakit ini sudah menurun dengan sangat drastic, bahkan 10 tahun terkhir ini sangat jarang
dijumpai terutama di Indonesia.
2.1.2 Poliomielitis terbagi menjadi 4 bagian, yaitu:
1.

Poliomielitis asimtomatis : setelah masa inkubasi 7-10 hari, tidak terdapat gejala
karena daya tahan tubuh cukup baik, maka tidak terdapat gejala klinik sama sekali.

2.

Poliomielitis abortif : timbul mendadak langsung beberapa jam sampai beberapa


hari. Gejala berupa infeksi virus seperti malaise, anoreksia, nausea, mu nt a h, n ye r i
k ep a la , n ye ri t en gg or ok an , k ons t ip as i d an n ye r i a bd o me n.

3.

Poliomielitis non paralitik : gejala klinik hampir sama dengan poliomyelitis abortif ,
hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih hebat. Gejala ini timbul1 -2 ha ri k ad an gk ad an g d ii ku t i pe n ye mbu h an s e me n ta r a u nt uk k e mud i a n remisi demam atau
masuk kedalam fase ke2 dengan nyeri otot. Khas untuk penyakit ini dengan
hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak, ganglion spinal dan kolumna
posterior.

4.

P o li o mi e l i ti s pa ra l i ti k : gej a la s a ma pa da p ol io m ye l i t is n on pa ra l i ti k disertai
kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet atau cranial. Timbul paralysis akut pada
bayi ditemukan paralysis fesika urinaria dan antonia usus.
Adapun bentuk-bentuk gejalanya antara lain :
1. Bentuk spinal. Gejala kelemahan / paralysis atau paresis otot leher,abdomen,
tubuh, diafragma, thorak dan terbanyak ekstremitas.
2. Bentuk bulbar. Gangguan motorik satu atau lebih syaraf otak dengan atau tanpa
gangguan pusat vital yakni pernapasan dan sirkulasi.
3. Bentuk bulbospinal. Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan bentuk
bulbar.kadang ensepalitik dapat disertai gejala delirium, kesadaran menurun, tremor dan
kadang kejang.
2.2 EPIDEMIOLOGI POLIOMIELITIS
Selama 3 dekade pertama di abad ke 20-,80-90% penderita polio adalah anak
balita,kebanyakan dibawah umur 2 tahun. Tahun 1955,di Massachusett Amerika Serikat pernah
terjadi wabah polio sebanyak 2.771 kasus dan tahun 1959 menurun menjadi 139 kasus.Hasil
penelitian WHO tahun 1972-1982,di Afrika dan Asia Tenggara terdapat 4.214 dan 17.785 kasus.
Dinegara musim dingin,sering terjadi epidemic dibulan Mei-Oktober,tetapi kasus sporadic tetap
terjadi setiap saat .Di Indonesia ,sebelum perang dunia II, penyakit polio merupakan penyakit
yang sporadic-endemis,epidemi pernah terjadi di berbagai daerah seperti Bliton sampai ke banda,
Balikpapan, bandung Surabaya,Semarang dan Medan Epidemi terakhir terjadi pada tahun
1976/1977 di Bali Selatan. Kebanyakan infeksi virus polio tanpa gejala atau timbul panas yang
tidak spesifik.Perbandingan asimtomatik dan ringan sampaiterjadi paralisis adalah 100:1 dan
1000:1.
Terjadinya wabah polio biasanya akibat:
a.Sanitasi yang jelek
b.Padatnya jumlah penduduk
c.Tingginya pencemaran lingkungan oleh tinja
d.Pengadaan air ber`sih yang kurang

Penularan dapat melalui:


a. Inhalasi
b. Makanan dan Minuman

c.

Bermacam serangga seperti lipas dan lalat.


Penyebaran dipercepat bila ada wabah atau pada saat yang bersamaan dilakukan pula
tindakan bedah seperti tonsilektomi ,ekstraksi gigi dan penyuntikan.Walaupun penyakit ini
merupakan salah satu penyakit yang harus segera dilaporkan ,Namun data epidemiologi yang
sukar didapat.Dalam salah satu symposium imunisasi dijakarta(1979) dilaporkan bahwa:

1.

Jumlah anak berumur 0-4 tahun yang tripel negative makin bertambah (10%)

2.

Insiden polio berkisar 3,5-8/100.000 penduduk.

3.

Paralytic rate pada golongan 0-14tahun dan setiap tahun bertambah dengan 9.000
kasus.Namun,10 tahun terakhir terjadi penurunan drastic penyakit ini akibat gencarnya program
imunisasi diseluruh dunia maupun Indonesia.
Mortalitas tinggi terutama pada poliomyelitis tipe paralitik ,disebabkan oleh komplikasi berupa
kegagalan nafas ,sedangkan untuk tipe ringan tidak dilaporkan adanya kematian.Walaupun
kebanyakan poliomyelitis tidak jelas /inapparent (90-95%);hanya 5-10% yang memberikan
gejala poliomyelitis
2.3 ETIOLOGI POLIOMIELITIS
Penyebab polio adalah virus polio.Virus polio merupakan RNA virus dan termasuk famili
Picornavirus dari genus Enterovirus. Virus polio adalah virus kecil dengan diameter 20-32 nm,
berbentuk spheris dengan struktur utamanya RNA yang terdiri dari 7.433 nukleotida, tahan pada
pH 3-10, sehingga dapat tahan terhadap asam lambung dan empedu. Virus tidak akan rusak
dalam beberapa hari pada temperatur 20 80 C, tahan terhadap gliserol, eter, fenol 1% dan
bermacam-macam detergen, tetapi mati pada suhu 500 550 C selama 30 menit, bahan oksidator,
formalin, klorin dan sinar ultraviolet. Selain itu, penyakit ini mudah berjangkit di lingkungan
dengan sanitasi yang buruk, melalui peralatan makan, bahkan melalui ludah.
Secara serologi virus polio dibagi menjadi 3 tipe, yaitu:

Tipe I Brunhilde
Tipe II Lansing dan
Tipe III Leoninya
Tipe I yang paling sering menimbulkan epidemi yang luas dan ganas, tipe II kadang-kadang
menyebabkan wajah yang sporadic sedang tipe III menyebabkan epidemic ringan. Di Negara

tropis dan sub tropis kebanyakkan disebabkan oleh tipe II dan III dan virus ini tidak
menimbulkan imunitas silang.
Penularan virus terjadi melalui
1.

Secara langsung dari orang ke orang

2.

Melalui tinja penderita

3.

Melalui percikan ludah penderita


Virus masuk melalui mulut dan hidung,berkembang biak didalam tenggorokan dan saluran
pencernaan,lalu diserap dan disebarkan melalui system pembuluh darah dan getah bening
Resiko terjadinya Polio:

a)

Belum mendapatkan imunisasi

b)

Berpergian kedaerah yang masih sering ditemukan polio

c)

Usia sangat muda dan usia lanjut

d)

Stres atay kelehahan fisik yang luar biasa(karena stress emosi dan fisik dapat melemahkan
system kekebalan tubuh).
2.4 PATOFISIOLOGI DAN MANIFESTASI KLINIS
2.4.1Definisi Patofisiologi
Virus polio masuk melalui mulut dan hidung,berkembang biak di dalam tenggorokkan
dan saluran pencernaan,diserap dan di sebarkan melalui sistem pembuluh darah dan getah
bening.virus ini dapat memasuki aliran darah dan dan mengalir ke sistem saraf pusat
menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis)
Virus hanya menyerang sel-sel dan daerah susunanan syaraf tertentu.tidak semua neuron
yang terkena mengalami kerusakan yang sama dan bila ringan sekali dapat terjadi penyembuhan
fungsi neuron dalam 3-4 minggu sesudah timbul gejala.Daerah

yang biasanya terkena

poliomyelitis ialah:medula spinalis terutama kornu anterior,batang otak pada

nucleus

vestibularis dan inti-inti saraf cranial serta formasio retikularis yang mengandung pusat
vital,sereblum terutama inti-inti vermis,otak tengah midbrain terutama masa kelabu substansi
nigra dan kadang-kadang nucleus rubra.
2.1.2. MANIFESTASI KLINIS
Poliomyelitis terbagi menjadi empat bagian yaitu:
a).Poliomyelitis asimtomatis

Gejala klinis : setelah masa inkubasi 7-10 hari, tidak terdapat gejala karena daya tahan
tubuh cukup baik,maka tidak terdapat gejala klinik sama sekali.
b).Poliomyelitis abortif
Gejala klinisnya berupa panas dan jarang melibihi 39,5 derajat C,sakit tenggorokkan,sakit
kepala,mual,muntah,malaise,dan faring terlihat hiperemi.Dan gejala ini berlangsung beberapa
hari.
c)Poliomyelitis non paralitik
Gejala klinis:hamper sama dengan poliomyelitis abortif,gejala ini timbul beberapa hari
kadang-kadang diikuti masa penyembuhan sementara untuk kemudian masuk dalam fase kedua
dengan demam,nyeri otot.khas dari bentuk ini adalah adanya nyeri dan kaku otot belakang
leher,tulang tubuh dan anggota gerak.Dan gejala ini berlangsung dari 2-10 hari.
d).Poliomyelitis paralitik
Gejala klinisnya sama seperti poliomyelitis non paralitik.Awalnya berupa gejala abortif
diikuti dengan membaiknya keadaan selama 1-7 hari.kemudian disusun dengan timbulnya gejala
lebih berat disertai dengan tanda-tanda gangguan saraf yang terjadi pada ekstremitas inferior
yang terdapat pada femoris,tibialis anterior,peronius.sedangkan pada ekstermitas atas biasanya
pada biseps dan triseps.
Adapun bentuk-bentuk gejalanya antara lain :
1.
2.

Bentuk spinal,dapat mengenai otot leher,toraks abdomen,diafragma,dan ekstremitasan


Bentuk bulbar,dapat mengenai satu atau lebih saraf cranial,gangguan pusat pernafasan,

termoregulator,dan sirkulasi
a) Saraf otak yang terkena :
1) Bagian atas (N.III N.VII) dan biasanya dapat sembuh.
2) Bagian bawah (N.IX N.XIII ) : pasase ludah di faring terganggu sehingga terjadi
pengumpulan air liur,mucus dan dapat menyebabkan penyumbatan saluran nafas sehingga
penderita memerlukan ventilator.
b) Gangguan pusat pernafasan dimana irama nafas menjadi tak teratur bahkan dapat terjadi gagal
nafas.
c) Gangguan sirkulasi dapat berupa hipertensi,kegagalan sirkulasi perifer atau hipotensi
d) Gangguan termoregulator yang kadang-kadang terjadi hiperpireksia.
3.

Bebtuk bulbospinal yang merupakan gejala campuran antara bentukspinal dan bentuk
bulbur.dan gejalanya berupa : kadang ensepalitik,di sertai dengan delirium,kesadaran
menurun,tremor dan kejang.

2.3 DIAGNOSA POLIOMEILITIS


2.3.1. ANAMNESIS
1.

Riwayat penyakit:
Keluhan utama (poliomielitis)
Pertama kali dirasakan/ pernah sebelumnya
Mendadak, terus-menerus, perlahan-lahan, hilang timbul, sesaat
Di bagian tubuh mana atau Keluhan lokal: lokasi, menetap, pindah-pindah, menyebar
Pengobatan sebelumnya dan hasilnya (macam obat dll)
Riwayat imunisasi (lengkap atau tidak).

2.

RIWAYAT PEKERJAAN
Hobi/kebiasaan

3.

RIWAYAT ALERGI
Apakah ada alergi makanan
Apakah pasien ada alergi obat

4.

RIWAYAT KELUARGA
Apakah ada anggota keluarga mengalami keluhan yang sama
Apakah ada tetangga mengalami keluhan yang sama

5.

RIWAYAT PENYAKIT
Apakah penyakit dahulu yang mungkin berulang
Penyakit lain yang ada hubungannya dengan penyakit sekarang

2.3.2. PEMERIKASAAN FISIK


Tanda-tanda vital di nilai pada infeksi virus polio. Gejala dapat bervariasi dari infeksi yang tidak
jelas sampai paralisis.
Pemeriksaan neurologis
Kelemahan otot
Otot-otot tubuh terserang paling akhir
Sensorik biasanya normal
Reflek tendon dalam biasanya mulai terlihat 3-5 minggu setelah paralisis, dan menjadi lengkap

dalam waktu 12-15 minggu serta bersifat permanen.


Gangguan fungsi otonom sesaat, biasanya ditandai denganretensi urin.
Tanda-tanda rangsang mingineal
Gangguan saraf kranial (poliomielitis bulbar). Dapat mengenai saraf kranial IX dan X atau III.
Bila mengenai retikularis di batang otak maka terdapat ganguan bernafas, menelan, dan sestem
kardiovaskuler.
2.3.3. PEMRIKSAAN PENUNJANG (LABORATORIUM)
1)

Pemeriksaan darah biasanya dalam batas normal. Laju endap darah meningkatkan sedikit,
lekopenia/lekositosis ringan terjadi pada stadium dini.Cairan serebrospinalis

2)

Biasanya tekanan serebrospinalis nermal, cairan liquor jernih; pleositosis antara 15-500
sel/mm3, dengan sel limposit yang predominan tetapi pada stadium awal sel PMN lebih
dominan. Kadar protein normal pada minggu ke-1, meningkat pada minggu ke-2 dan ke-3. Kadar
glukosa dan klorida dalam batas normal.

3)

Isolasi virus polio


Dapat diperoleh dari asupan tenggorak satu minggu sebelum dan sesudah paralisis
Dari tinja pada minggu 2-6 minggu bahkan sampai 12 minggu setelah gejala klinis
4) pemeriksaan imunoglobulin mempunyai nilai diagnostik, bila terjadi kenaikan titer antibodi 4x
dari imunoglobulin G (IgG) atau imunoglobulin M (IgM) yang positip.
2.3.4. DIAGNOSA BANDING

1) Poliomielitis nonparalitik harus dibedakan dengan:


a) Aseptik meningitis
Khususnya dibedakan dengan infeksi oleh virus coxackie dan virus echo serta virus lain. Karena
virus-virus tersebut memberikan gejala klinis yang sama, perlu ditemukan virus atau titer
antibodi dalam serum yang tinggi untuk membantu menegakkan diagnosis
b) Meningitis purulenta dan tuberculosis
c)

Perlu dilakukan pemeriksaan cairan serebropinalis; pembiakan kuman.


Penyakit lain seperti:
Demam rematik, rheumatoid arthritis, serum sickness, pneumonia dini, disentri, tifoid, pielitis,
tonsillitis akut dapat memberi gejala nyeri cairan serebrospinalis ternyata dalam batas normal.

2)

Poliomielitis paralitik dibedakan dengan:

a)

pseudoparalitik
Disebabkan oleh trauma, osteomielitis, dan artritis, biasanya didapatkan nyeri tekan lokal dan

refleksi tendon tidak beracun.


b) Sindrom Guillain Berre
Gejala khas paralisis simetris, asenden, adanya gangguan sensibilitas. Pada cairan
serebrospinalis, kadar protein meningkat tampa kenaikan sel. Pada pemeriksaan EMG terdapat
penurunan kecepatan hantar syarap motorik.
c) Transverse myelitis/neuromyelitis optika
Penyebabnya transverse myelitis/neuromyelitis optika tidak diketahui. Di bawah lesi terdapat
paraplegia dengan arefleksia pada awal gejala, kemudian hiperefleksia, kehilangan rasa. Di atas
lesi didapati hiperestesia ata normal, terdapat paralisis kandung kemih dan rektum, atrofi saraf
optikus atau neuritis. Cairan serebrospinalis terliahat meningkat dan globulin meningkat,
d)

pleositosis dengan monosit predominan.


Tick bite paralis
Ada riwayat gigitan kutu yang mengeluarkan toksin, terjadi paralisis yang menaik secara cepat
dan progresif disertai rasa sakit /parestesia, gangguang sensibilitas, paralisis tipe flaccid,
simentris, dapat terjadi gangguan saraf kranialis, gangguan bulbar sedangkan pernapasan dan

e)

sfingter tidak ada gangguan dan cairan serebrospinalis dalam batas normal.
Mielopati akut sekunder dan polineuropati
Berhubungan dengan infeksi vaksinasi, gangguan metabolisme endokrin, tumor, alergi,
intoksikasi.
Gejala seperti sindrom Guillain Berre, dengan gangguan sensibilitas lebih menonjol.
Gambaran serebrospinalis seperti pada sindrom Guillain Berre tipe Landri, kecuali pada infeksi
dan posvaksinasi terdapat pleositosis ringan 15-250 sel/mm3 dengan monosit yang menonjol,
protein meningkat (lebih besar dari pada 150 mg%).

2.4
2.4.1 PENGOBATAN

PENATALAKSANAAN POLIOMIELITIS

Tidak ada pengobatan yang spesifik. Diberikan obat simtomatis dan suportif. Istirahat total
jangan dilakukan terlalu lama, apabila keadaan berat sudah reda. Istirahat sangat penting di fase
akut, karena terdapat hubungan antara banyaknya keaktifan tubuh dengan berat nya penyakit.
Poliomielitis Abortif
a.

Cukup diberikan analgetika dan sedatifa, untuk mengurangi mialgia atau nyeri kepala,

b.

Diet yang adekuat dan

c.

Istirahat sampai suhu normal untuk beberapa hari, sebaiknya aktivitas yang berlebihan dicegah
selama 2 bulan, dan 2 bulan kemudian diperiksa sistem neuroskeletal secara teliti untuk
mengetahui adanya kelainan.
Poliomielitis nonparalitik

a)

Sama seperti tipe abortif, Pemberian analgetik sangat efektif

b)

Selain diberi analgetika dan sedatifsangat efektif. Bila diberikan bersamaan dengan kompres
hangat selama 15 30 menit, setiap 2 4 jam, dan kadang kadang mandi air panas juga
membantu
Poliomielitis Paralitik

a.

Membutuhkan perawatan di rumah sakit.

b.

Istirahat total minimal 7 hari atau sedikitnya sampai fase akut dilampaui

c.

Selama fase akut kebersihan mulut dijaga

d.

Perubahan posisi penderita dilakukan dengan penyangga persendian tanpa menyentuh otot dan
hindari gerakan menekuk punggung.

e.

Fisioterapi, dilakukan sedini mungkin sesudah fase akut, mulai dengan latihan pasif dengan
maksud untuk mencegah terjadinya deformitas.

f.

Akupunktur dilakukan sedini mungkin

g.

Interferon diberikan sedinini mungkin, untuk mencegah terjadinya paralitik progresif.


Poliomielitis bentuk bulbar

a.

Perawatan khusus terhadap paralisis palatum, seperti pemberian makanan dalam bentuk padat
atau semisolid

b.

Selama fase akut dan berat, dilakukan drainase postural dengan posisi kaki lebih tinggi (2025), Muka pada satu posisi untuk mencegah terjadinya aspirasi, pengisapan lendir dilakukan
secara teratur dan hati hati, kalau perlu trakeostomi.

2.4.2

PENCEGAHAN

1.

Jangan masuk ke daerah wabah

2.

Di daerah wabah sebaiknya dihindari faktor faktor predisposisi seperti tonsilektomi, suntik,
dan lain lain.

3.

Mengurangi aktifitas jasmani yang berlebihan

4.

Imunisasi aktif
Imunisasi polio yang harus diberikan sesuai rekomendasi WHO adalah sejak lahir
sebanyak

kali

dengan

interval

6-8

minggu.

Kemudian, diulang usia 1,5 tahun, dan 15 tahun. Upaya ketiga adalah survailance accute flaccid
paralysis atau penemuan penderita yang dicurigai lumpuh layuh pada usia di bawah 15 tahun.
Mereka harus diperiksa tinjanya untuk memastikan karena polio atau bukan.Tindakan lain adalah
melakukan mopping-up. Yakni, pemberian vaksinasi massal di daerah yang ditemukan penderita
polio terhadap anak usia di bawah lima tahun tanpa melihat status imunisasi polio sebelumnya.
2.4.3 IMUNISASI AKTIF :
Terdapat 2 macam Vaksin yang digunakan dalam mencegah penyakit poliomielitis
1.

Inactivated Virus Vaccine ( Salk )


Diberikan secara suntikan

2.

Live Attenuated Virus Vaccine ( Sabin )


Diberikan secara oral
Inactivated Virus Vaccine ( IPV )
Merupakan vaksin Polio pertama yang dipasarkan sekitar tahun 1950 an. Pada mulanya
dibuat bentuk nonen hanced IPV dengan imunogenisitas kurang pada mukosa usus dan harus
diberikan dengan cara parenteral, namun akhir akhir ini dibuat bentuk Enhanced IPV dan
terbukti bahwa bentuk ini tingkat imunogenisitasnya sama dengan vaksin polio oral ( OPV ).
Vaksinasi dasar dimulai pada usia 2 3 bulan, diberikan 3 kali dengan interval 4 6 minggu
.diberikan pada umur prasekolah.Suntikan ulangan diberikan pada umur prasekolah.

2.4.4
1.

KEUNTUNGAN
Dengan dosis yang cukup, dapat memberikan imunitas humoral yang baik.

2.

Keuntungan IPV terbuat dari virus inaktif, sehingga tidak ada hubungannya dengan terjadinya
Poliomielitis akibat pemakaian vaksin ( Vaccine associated poliomyelitis )

3.

Dapat diberikan kepda anak anak yang sedang mendapatkan kortikosteroid atau kelainan
imunitas.

4.

Sangat berfaedah di daerah tropis karena faksin mengandung virus hidp/lemah mudah rusak
Live attenuated poliovirus vaccine
OPV telah digunakan sejak 1960 an, jenis vaksin ini banyak digunakan sehingga banyak
membantu menurunkan prevalensi penyakit polio diseluruh dunia. OPV ini telah digunakan di
Indonesia dalam program imunisasi.
Keuntungan Vaksin Sabin yaitu :

a)

Lebih efektif dari vaksin Salk

b)

Memberikan imunitas likal dan humoral pada dinding usus

c)

Mudah diberikan dan harganya murah

d)

Imunitas bertahan cukup lama ( 8 tahun )

e)

Timbul zat anti sangat cepat

f)

Dapat dipakai di lapangan dan tidak perlu npersyaratan suhu beku

g)

Waktu epidemi pembentukan zat anti tidak saja cepat cepat tetapi juga merangsang usus dan
mencegah penyebaran virus

h)
2.4.5
1.

Dapat dibuat dalam sel manusia dan tidak bergantung pada binatang.
KERUGIAN
Sangat mungkin berhubungan dengan timbulnya Vaccine associated paralytic poliomyelitis
( VAPP ), karena walaupun virus ini dalam bentuk dilemahkan, sewaktu waktu dapat menjadi
neurotropik sehingga menimbulkan penyakit ini seperti pada virus tipe ringan.

2.

Diperlukan cold chain yang baik untuk menyimpan vaksin ini ;

3.

Adanya kontreindikasi bagi penderita dengan defisiensi imun dan penderita yang sedang diberi
kortikosteroid/imunosupresif.
Imunisasi dasar diberikan ketika anak berusia 2 bulan, diberikan sebanyak 2 3 kali dengan
interval 4 6 minggu, booster diberikan pada usia 1,5 tahun dan menjelang usia 5 tahun dan 10
tahun.
2.5 PROGNOSIS DAN KOMPLIKASI
2.5.1 PROGNOSIS

Prognosis tergantung kepada jenis polio (subklinis, non-paralitik atau paralitik) dan bagian
tubuh yang terkena. Jika tidak menyerang otak dan korda spinalis, kemungkinan akan terjadi
pemulihan total. Jika menyerang otak atau korda spinalis, merupakan suatu keadaan gawat
darurat yang mungkin akan menyebabkan kelumpuhan atau kematian (biasanya akbiat gangguan
pernafasan).
Pada bentuk paralitik bergantung pada bagian mana yang terkena. Bentuk spinal dengan paralisis
pernafasan dapat ditolong dengan bantuan pernafasan mekanik. Tipe bulber prognosisnya buruk,
kematian biasanya karena kegagalan fungsi pusat pernafasan atau infeksi sekunder pada jalan
nafas. Otot-otot yang lumpuh dan tidak pulih kembali menunjukkan paralisis tipe flasiddengan
atonia (tidak ada kontraksi otot), arefleksi (tidak adanya refleks), dan degenerasi (kemunduran
fungsi sel).
2.5.2

KOMPLIKASI
Adapun komplikasi dari Poliomyelitis diantaranya :

a)

Hiperkalsuria
Yaitu terjadinya dekalsifikasi (kehilangan zat kapur dari tulang atau gigi) akibat penderita tidak
dapat bergerak.

b)

Melena
Yaitu suatu keadaan yang ditandai dengan tinja yang berwarna hitam ataupun muntah yang
berwarna kehitaman karena darah dari saluran cerna yang menjadi hitam dibawah pengaruh asam
klorida lambung dan akibat terjadinya emosi pada permukaan lambung dapat tunggal atau
multiple.

c)

Pelebaran lambung akut


Keadaan ini terjadi pada masa akut atau konvalesen (dalam keadaan pemulihan
kesehatan/stadium menuju ke kesembuhan setelah serangan penyakit/masa penyembuhan)
disebabkan gangguan pernafasan.

d)

Hipertensi ringan
Keadaan ini terjadi selama fase akibat gangguan pusat vasoregulator

e)

Pneumonia
Disebabkan oleh terganggunya refleks batuk dan menurunnya gerakan pernafasan.

f)

Ulkus dekubitus dan emboli paru

Dapat terjadi akibat tirah baring yang lama ditempat tidur, sehingga terjadi pembusukan pada
daerah yang tidak ada pergerakan (atrofi otot) sehingga terjadi kematian sel dan jaringan.
g) Psikosis

2.6 Jenis jenis dan Cara Pemeriksaan Refleks


Refleks neurologic bergantung pada suatu lengkungan (lengkungan reflex) yang terdiri atas jalur
aferen yang dicetuskan oleh reseptor dan sistem eferen yang mengaktivasi organ efektor, serta
hubungan antara kedua komponen ini. Misalnya; reflex tendon lutut timbul karena adanya
rangsangan (ketokan), reseptor, serabut aferen, ganglion spinal, neuron perantara, sel neuron
motorik, serabut aferen dan efektor (otot). Hal ini dinamakan lengkungan reflex (reflex arc). Bila
lengkungan reflex ini rusak maka reflex akan hilang.

2.6.1 Jenis Reflex


Dalam praktek sehari-hari kita biasanya memeriksa 2 macam reflex, yaitu reflex dalam
dan reflex superficial.
1.

Refleks dalam (reflex regang otot, refleks fisiologis)


Refleks dalam timbul oleh regangan otot yang disebabkan oleh rangsangan, dan sebagai

jawabannya maka otot berkontraksi. Refleks dalam juga dinamai refleks regang otot (muscle
stretch reflex).Nama lain bagi refleks dalam ialah refleks tendon, refleks periostal, refleks
miotatik dan reflek fisiologis.
Refleks dalam dapat dinamai menurut otot yang bereaksi atau menurut tempat
merangsang, yaitu tempat insesio otot.Misalnya refleks kuadriseps femoris disebut juga refleks
tendon lutut atau refleks patela.Telah dikemukakan di atas bahwa timbulnya refleks ini ialah
karena teregangnya otot oleh rangsang yang diberikan dan sebagai jawaban otot
berkontraksi.Rasa-regang (ketok) ini ditangkap oleh alat penangkap (reseptor) rasaproprioseptif,
karena itu refleks ini juga dinamai refleks proprioseptif.Contoh dari refleks dalam ialah refleks
kuadriseps femoris glabela.
2.

Refleks Superfisialis

Refleks ini timbul karena terangsangnya kulit atau mukosa yang mengakibatkan
berkontraksinya otot yang ada dibawahnya atau disekitarnya.Jadi bukan karena teregangnya otot
seperti pada refleks dalam.
Tingkat Jawaban Refleks
Jawaban refleks dapat dibagi atas beberapa tingkat, yaitu;
- (negative)

: tidak ada refleks sama sekali

: kurang jawaban, jawaban lemah

: jawaban normal

++

: jawaban berlebihan, refleks meningkat.


Refleks yang meninggi tidak selalu berarti adanya gangguan patologis, tetapi bila refleks

pada sisi kanan berbeda dari sisi kiri, besar sekali kemungkinan bahwa hal ini disebabkan oleh
keadaan patologis . Tiap refleks dalam dapat meninggi secara bilateral, namun hal ini tidak selalu
berarti adanya lesi pyramidal.Lain halnya kalau peninggian refleks bersifat asimetris. Karenanya
harus diingat bahwa: pada pemeriksaan refleks jangan lupa membandingkan bagian-bagian yang
simetris (kiri dan kanan). Asimetris dapat menunjukkan adanya proses patologis.
2.6.2 PEMERIKSAAN REFLEKS
1. Refleks Glabela
Pukulan singkat pada glabela atau sekitar daerah supraorbitalis mengakibatkan kontraksi singkat
kedua otot orbikularis okuli. Pada lesi perifer nervus fasialis, refleks ini berkurang atau negative,
sedangkan pada sindrom Parkinson refleks ini sering meninggi. Pusat refleks ini terletak di pons
2.Refleks Rahang Bawah (jaw refleks)
Penderita disuruh membuka mulutnya sedikit dan telunjuk pemeriksa ditempatkan melintang di
dagu. Setelah itu, telunjuk diketok dengan ketok-refleks (refleks hammer) yang mengakibatkan
berkontraksinya otot maseter sehingga mulut merapat. Pusat refleks ini terletak di pons.
3.

Refleks Biseps

Kita pegang lengan pasien yang di semigfleksikan sambil menempatkan ibu jari di atas tendon
otot biseps. Ibu jari kemudian diketok; hal ini mengakibatkan gerakan fleksi lengan bawah,Pusat
refleks ini terletak di C5-C6.
4.

Refleks Triseps

Kita pegang lengan bawah pasien yang difleksikan setengah (semifleksi). Setelah itu, diketok
pada tendon insersi m.triseps, yang berada sedikit diatas olekranon. Sebagai jawaban, ini lengan

bawah mengadakan gerakan ekstensi,Lengkungan refleks melalui nervus radialis yang pusatnya
terletak di C6-C8.
5.

Refleks Brakhioradialis (refleks radius)

Lengan bawah difleksikan serta dipronasikan sedikit.Kemudian diketok pada prosesus stiloideus
radius. Sebagai jawaban lengan bawah akan berfleksi dan bersupinasi. Lengkungan refleks
melalui nervus radialis, yang pusatnya terletak di C5-C6.
6.

Refleks Ulna
Lengan bawah di semifleksikan dan semipronasi.Kemudian diketok pada prosesus stiloideus dan
ulna. Hal ini mengakibatkan gerakan pronasi pada lengan bawah dan kadang-kadang juga
gerakan aduksi pada pergelangan tangan. Lengkungan refleks, melalui nervus medianus yang
pusatnya terletak di C5-Th1.
7.

Refleksi Fleksor Jari-Jari

Tangan pasien yang ditumpukan pada dasar yang agak keras disupinasikan dan jari-jari
difleksikan sedikit.Telunjuk pemeriksa ditempatkan menyilang pada permukan volar falang jarijari.Kemudian telunjuk pemeriksa diketok. Pada keadaan normal, jari-jari pasien akan berfleksi
enteng demikian juga falang akhir ibu jari. Pada lesi pyramidal, fleksi jari-jari lebih kuat.Nilai
patologiknya lebih penting jika terdapat asimetri antara jari kanan dan kiri.Lengkungan refleks
ini melalui nervus medianus dan nervus ulnaris, yang pusatnya terletak di C6-Th1.
8.

Refleks-Dalam Dinding Perut

Dinding perut pasien, yang disuruh berbaring, ditekan sedikit dengan jari telunjuk atau dengan
penggaris, kemudian diketok. Otot dinding perut akanberkontraksi. Terlihat pusar akan bergerak
kea rah otot yang berkontraksi .lengkungan refleksi ini melalui Th6-Th12. Pada orang normal,
kontraksi dinding perut sedang saja; pada orang yang menggeli reaksi ini dapat kuat. Reaksi
dinding perut ini mempunyai nilai yang penting bila ditinjau bersama-sama dengan refleks
superfisialis dinding perut. Bila refleks-dalam dinding perut meninggi, sedang refleks
superfisialisnya negative, maka hal ini dapat menandakan adanya lesi piramidal pada tempat
yang lebih atas dari Th6.
9.

Refleks Kuadriseps Femoris (Refleks Tendon Lutut, Refleks Patella)

Kata KPR masih sering digunakan untuk refleks ini, yaitu singkatan dari bahasa Belanda,
Kniepeersreflex, yang berarti refleks tendon lutut.Pada pemeriksaan refleks ini, tungkai di
fleksikan dan digantungkan, misalnya pada tepi tempat tidur. Kemudian, diketok pada tendon
muskulus kuadriseps femoris akan berkontraksi dan mengakibatkan gerakan ekstensi tungkai
bawah (gambar 8.10). Lengkungan refleks ini melalui L2, L3, L4
10. Refleksi Triseps Sure (Refleks Tendon Achilles)
Dalam bahasa Belanda refleks ini disebut Achillespeesreflex, disingkat APR.singkatan APR ini
masih sering digunakan di Indonesia. Tungkai bawah difleksikan sedikit , kemudian kita pegang
kaki pada ujungnya untuk memberikan sikap dorsofleksi ringan pada kaki. Setelah itu, tendon
Achilles diketok. Hal ini mengakibatkan berkontraksinya m.triseps sure dan memeberikan gerak
plantar fleksi pada kaki. Lengkung refleks ini malalui S1, S2.
2.6.3 Refleks Superfisial
1.

Refleks kornea
Kornea mata disentuh dengan sepotong kapas yang ujungnya dibuat runcing.Hal ini

mengakibatkan dipejamkannya mata (m.orbikularis okuli).Pada pemeriksaan ini harus dijaga


agar datangnya kapas ke mata tidak diilihat oleh pasien, misalnya dengan menyuruhnya melirik
ke arah yang berlawanan dengan arah datangnya kapas (gambar 8.12).Pada gangguan nervus V
sensorik, refleks ini negatif atau berkurang.Sensibilitas kornea diurus oleh nervus V. sensorik
cabang oftalmik. Refleks kornea juga akan menghilang atau berkurangnya bila terdapat
kelumpuhan m.orbikularis okuli, yang disarafi oleh nervus VII (fasialis).
2.Refleks dinding perut superfisialis
Refleks ini dibangkitkan dengan jalan menggores dinding perut dengan benda yang agak
runcing, misalnya kayu geretan atau kunci.Bila positif, maka otot (m.rektus abdominis) atau
berkontraksi. Refleks ini dilakukan pada berbagai lapangan dinding perut, yaitu di epigastrium
(otot yg berkontraksi diinervasi oleh Th6, Th7), perut dibagian atas (Th7,Th9), perut bagian
tengah (Th9, Th11), perut bagian bawah (Th11, Th12 dan lumbal atas). Pada kontraksi otot,
terlihat pusar bergerak ke arah otot yang berkontraksi.
Refleksi superfisialis dinding perut sering negatif pada wanita normal yang banyak anak
(sering hamil), yang dinding perutnya lembek, demikian juga pada orng gemuk dan orang lanjut
usia; juga pada bayi baru lahir sampai usia 1 tahun. Pada orang muda otot-otot dinding perutnya

berkembang baik, bila refleks ini negative, hal ininmempunyai nilai patologis. Bila refleks
dinding perut superfisialis negative disertai refleks dalam dinding perut yang meninggi hal ini
menunjukkan adanya lesi traktus piramidalis di tempat yang lebih atas dari Th 6
3.Refleks kremaster
Refleks ini dibangkitkan dengan jalan menggores atau menyentuh bagian medial pangkal
paha.Terlihat skrotum berkontraksi (gambar 8.14). Pada lesi traktus piramidalis, refleks ini
negative. Refleks ini dapat negative pada orang lanjut usia, penderita hidrokel, varikokel, orkhitis
atau epididimitis. Lengkung refleks melalui L1,L2.
Refleks anus superfisialis
Bila kulit di sekitar anus dirangsang; misalnya dengan tusukan ringan atau goresan, hal
ini mengakibatkan otot sfingter eksternus berkontraksi.Lengkung refleks ini melalui S2-S4, S5.
3

Refleks telapak kaki, refleks plantar (plantar reflex)


Kaki dilemaskan, kemudian telapak kaki digores dengan benda yang agak runcing.Pada
orang normal terlihat jawaban berupa kaki melakukan gerakan plantar fleksi.Pada orang yang
penggeli gerakan ini disertai gerakan menarik kaki.Pada orang dengan lesi di traktus piramidalis,
didapatkan gerakan atau jawaban yang lain, yaitu dorsofleksi ibu jari kaki serta gerakan mekar
(fanning) jari-jari lainnya.Hal ini disebut refleks patologis.
2.6.4 REFLEKS PATOLOGIS
Banyak macam ransangan yang dapat digunakan untuk membangkitkannya, misalnya
menggores telapak kaki bagian lateral, menusuk atau menggores dorsum kaki atau sesi
lateralnya, memberi ransangan panas atau ransangan listrik pada kaki, menekan pada daerah
interossei kaki, mencubit tendon Achilles, menekan tibia, fibula, otot betis, menggerakkan patela
ke arah distal, malah pada keadaaan yang hebat, refleks dapat dibangkitkan dengan jalan
menggoyangkan kaki, menggerakkan kepala dan juga bila menguap
1. Refleks Babinski
Untuk membangkitkan refleks Babinski, penderita disuruh berbaring dan istirahat dengan
tungkai diluruskan.Kita pegang pergelangan kaki supaya kaki tetap pada tempatnya.Untuk
merangsang dapat digunakan kayu geretan atau benda agak runcing. Goresan harus dilakukan
perlahan, jangan sampai mengakibatkan rasa nyeri , sebab hal ini akan menimbulkan refleks
menarik kaki (flight reflex). Goresan dilakukan pada telapak kaki bagian lateral, mulai dari tumit

menuju pangkal jari. Jika reaksi positif, kita dapatkan gerakan dorso fleksi ibu jari, yang dapat
disertai gerak mekarnya jari-jari lainnya
Tadi telah dikemukakan bahwa cara membangkitkan refleks patologis ini bermacammacam diantaranya dapat disebut :
a)

Babinsky
Cara : penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior ke anterior
Respon : ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan jari kaki lainnya

b)

Chadock
Cara : penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral sekitar maleolus lateralis dari posterior ke
anterior
Respon : seperti babinsky

c)

Oppenheim
Cara : pengurutan krista anterior tibia dari proksiml ke distal
Respon : seperti babinsky

d)

Gordon
Cara : penekanan betis secara keras
Respon : seperti babinsky

e)

Schaffer
Cara : memencet tendon achilles secara keras

f)

Respon : seperti babinsky


Gonda
Cara : penekukan (plantar fleksi) maksimal jari kaki ke-4
Respon : seperti babinsky

g)

Stransky
Cara : penekukan (lateral) jari kaki ke-5
Respon : seperti babinsky

h)

Rossolimo
Cara : pengetukan pada telapak kaki
Respon : fleksi jari-jari kaki pada sendi interfalangeal

i)

Mendel-Bechterew
Cara : pengetukan dorsum pedis pada daerah os coboideum
Respon : seperti rossolimo

j)

Hoffman
Cara : goresan pada kuku jari tengah pasien
Respon : ibu jari, telunjuk dan jari lainnya fleksi

k)

Trommer
Cara : colekan pada ujung jari tengah pasien
Respon : seperti hoffman
l)

Leri

Cara : fleksi maksimal tangan pada pergelangan tangan, sikap lengen diluruskan dengan bgian
ventral menghadap ke atas
Respon : tidak terjadi fleksi di sendi siku.
m) Mayer
Cara : fleksi maksimal jari tengah pasien ke arah telapk tangan
Respon : tidak terjadi oposisi ibu jari
2. KLONUS
salah satu gejala kerusakan piramidal ialah adanya hiper-refleksi. Bila hiperrefleksi ini
hebat dapat terjadi klonus.Klonus ialah kontraksi mimik dari otot, yaitu timbul bila otot

diregangkan secara pasif. Klonus merupakan refkes regang otot (muscle stretch reflex) yang
meninggi dan dapat dijumpai pada lesi supranuklir (upper motor neuron,piramida) . Ada orang
normal yang mempunyai hiperrefleksi fisiologis ; pada mereka ini dapat terjadi klonus, tetapi
klonusnya berlangsung singkat dan disebut klonus abortif. Bila klonus berlangsung lama (yang
terus berlangsung selama rangsangan diberikan), hal ini diangap patologis. Klonus dapat
dianggap sebagai rentetan refleks regang otot, yang meninggi. Hal ini menunjukkan adanya
hiperrefleksi yang patologis, yang dapat disebabkan oleh lesi piramidal.
Pada lesi piramidal kita sering mendapatkan klonus di pergelangan kaki, lutut, dan
pergelangan tangan.
a. Klonus kaki
Klonus ini dibangkitkan dengan jalan meregangkan otot triseps sure betis.Pemeriksa
menempatkan tangannya di telapak kaki penderita, kemudian telapak kaki ini didorong dengan
cepat (dikejutkan) sehingga terjadi dorso fleksi sambil seterusnya diberikan tahanan enteng.Hal
ini mengakibatkan teregangan otot betis.Bila ada klonus, maka terlihat gerakan ritmik (bolakbalik) dari kaki, yaitu berupa plantar fleksi dan dorso fleksi secara bergantian.
b. Klonus patella
Klonus ini dibangkitkan dengan jalan meregangkan otot kuadriseps femoris.Kita pegang
patella penderita, kemudian didorong dengan kejutan (dengan cepat) ke arah distal sambil
diberikan tahanan enteng. Bila terdapat klonus, akan terlihat kontraksi ritmik otot kuadriseps
yang mengakibatkan gerakan bolak-balik dari patela. Pada pemeriksaan ini tungkai harus
diekstensikan serta dilemaskan.
2.6.5 Refleks dan gejala patologis lain yang perlu diketahui
1.

Refleks Hoffman Trommer


Pada orang normal, refleks refleks fleksor jari-jaribiasanya tidak ada atau enteng saja
karena ambang refleks tinggi.Akan tetapi, pada keadaan patologik, ambang refleks menjadi
rendah dan kita dapatkan refleks yang kuat.Refleks inilah yang merupakan dasar dari refleks
Hoffman-Trommer, dan refleks lainnya, misalnya refleks Bechterew.Tiap refleks tendon dapat

meninggi secara bilateral, namun hal ini belum tentu berarti adanya lesi pyramidal.Lain halnya
kalau peninggian refleks bersifat asimetris.
Cara membangkitkan refleks Hoffman-trommer : tangan penderita kita pegang pada
pergelangan dan jari-jarinya disuruh fleksi-entengkan. Kemudian jari tengah penderita kita jepit
di antara telunjuk dan jari tengah kita. Dengan ibu jari kita gores kuat (snap) ujung jari tengah
penderita. Hal ini mengakibatkan fleksi jari telunjuk, serta fleksi dan aduksi ibu jari, bila refleks
positif.Kadang juga disertai fleksi jari lainnya.
2.

Refleks massa, refleks automitisme spinal


Bila refleks Babinski cukup hebat , kita dapatkan dorso jari-jari, fleksi pada pergelangan
kaki, fleksi tungkai bawah dan atas dan kadang-kadang terdapatjuga kontraksi tungkai yang satu
lagi. Daerah pemberian rangsangpun bertambah luas.Hal ini demikian dapat kita jumpai pada lesi
transversal medulla spinalis, dan siebut refleks autotisme spinal.Hal ini dapat ditimbulkan oleh
berbagai macam rangsang, misalnya goresan, rangsangan nyeri dan lain sebagainya.
Bila refleks lebih hebat lagi, didapatkan juga kontraksi otot dinding perut, adanya miksi
dan defekasi, keluarnya keringat, refleks eritema dan refleks pilomotor. Keadaaan demikian
disebut pula sebagai refleks massa dari Riddoch. Hal demikian didapatkan pada lesi transversal
yang komplit dari medulla spinalis, setelah fase syoknya lampau.

3.

Refleks genggam (grasp reflex)


Refleks genggam merupakan hal normal pada bayi sampai usia kira-kira 4 bulan. Pada
orang normal, bila telapak tangan digores kita tidak mendapatkan gerakan fleksi jari-jari, tetapi
kadang-kadang terjadi fleksi enteng (ambang refleks ini tinggi).
Dalam keadaaan patologis, misalnya pada lesi di lobus frontalis, didapatkan reaksi (fleksi
jari) yang nyata.Penggoresan telapak tangan mengakibatkan tangan digenggamkan, dan
menggenggam alat yang digunakan sebagai penggores.Hal ini dinamai refleks genggam.Refleks
genggam terdiri dari fleksi ibu jari dan jari lainnya, sebagai jawaban terhadap ransangan taktil,
misalnya bila pemeriksa meraba telapak tangan pasien atau menyentuh atau menggores tangan
pasien di antara ibu jari dan telunjuknya.
a. Gejala Leri
Pemeriksaan dilakukan sebagai berikut : kita pegang lengan bawah pasien yang
disupinasikan serta difleksi sedikit. Kemudian kita tekukkan dengan kuat (fleksi) jari-jari

pergelangannya. Pada orang normal, gerakan ini akan diikuti oleh fleksi lengan bawah dan
lengan atas, dan kadang-kadang juga disertai aduksi lengan atas. Refleks ini negative bila
terdapat lesi pyramidal.Tidak adanya refleks ini dinyatakan sebagai gejala Leri positif.
b. Gejala Mayer
Pasien disuruh men-supinasikan tangannya, telapak tangan ke atas dan jari-jarinya difleksi-entengkan

serta

ibu

jari

difleksi-entengkan

dan

diabduksikan.Tangannya

kita

pegang.Kemudian dengan tangan yang satu lagi kita tekukkan jari 3 dan 4 pada falang proksimal
dan menekannya pada telapak tangan (fleksi).Pada orang normal, hal ini mengakibatkan aduksi
dan oposisi ibu jari disertai fleksi pada persendian metakarpofalangeal dan ekstensi di persendian
interfalang ibu jari.Jawaban demikian tidak didapatkan pada lesi pyramidal dan tidak adanya
jawaban ini disebut sebagai gejala Mayer positif
Tangis dan ketawa patologis (pathological laughing and crying)
Fenomena ini yang merupakan fenomena release, menampakkan dirinya sebagai berikut :
ekspresi mimik menangis dan ketawa mulai lebih cepat, lebih banyak, lebih intensif dan
berlangsung lebih lama daripada orang normal. Muka dengan lambat beristirahat
kembali.Ambang untuk aksi menangis dan ketawa sangat rendah, dan aksi ini dikontrol secara
buruk.Pasien dapat lebih lama ketawa bila diberi ransangan yang tidak berarti dan ketawanya ini
tanpa emosi.Sebenarnya ransangan yang menimbulkan serangan tidak adekuat dan tidak
cukup.Serangan menangis dan ketawa patologis dapat terjadi tanpa provokasi, atau provokasi
yang sangat ringan. Menangis dna ketawa patologis terdapat pada penderita dengan lesi
pseudobulber, lesi difus otak.
2.6.6 Penyakit Penyebab Kelumpuhan pada Anak
a.

step pada anak


anak bisa mengalami kelumpuhan pada kaki, ketajaman otak menjadi lemah, bahkan bisa
terkena ayan. Step memiliki beberapa tanda yang mudah dikenali. Yang paling mudah dikenali
adalah kejang yang sifatnya mendadak. Dalam tingkatan yang parah step dapat menimbulkan
busa pada mulut, wajah biru, mata terbalik sehingga warna putih berada dibawah, tidak

ditengah,mulut mencong (ujung mulut tertarik kearah pipi). Semua gejala ini hanya berlangsung
dalam beberapa menit.
b.

Polio
kependekan dari poliomyelitis, adalah penyakit yang dapat merusak sistem saraf dan
menyebabkan paralysis. Penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak di bawah umur 2
tahun. Infeksi virus ini mulai timbul seperti demam yang disertai panas, muntah dan sakit otot.
Kadang-kadang hanya satu atau beberapa tanda tersebut, namun sering kali sebagian tubuh
menjadi lemah dan lumpuh (paralisis). Kelumpuhan ini paling sering terjadi pada salah satu atau
kedua kaki. Lambat laun, anggota gerak yang lumpuh ini menjadi kecil dan tidak tumbuh secepat
anggota gerak yang lain

c.

Cerebral Palsy
Cerebral Palsy (CP, Kelumpuhan Otak Besar) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan
buruknya pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan dan gangguan fungsi saraf lainnya.Cerebral
Palsy bukan merupakan penyakit dan tidak bersifat progresif (semakin memburuk). Pada bayi
dan bayi prematur, bagian otak yang mengendalikan pergerakan otot sangat rentan terhadap
cedera
Cerebral Palsy terjadi pada 1-2 dari 1.000 bayi, tetapi 10 kali lebih sering ditemukan pada bayi
prematur dan lebih sering ditemukan pada bayi yang sangat kecil.
Penyebabnya Lahir dini merupakan faktor risiko cerebral palsy. Otak prematur berada pada
risiko tinggi perdarahan, dan ketika cukup berat, dapat mengakibatkan cerebral palsy. Anak-anak
yang lahir prematur juga dapat mengalami gangguan pernapasan serius akibat paru-paru belum
matang dan kurang berkembang. Hal ini dapat menyebabkan periode penurunan oksigen yang
dikirimkan ke otak yang mungkin mengakibatkan cerebral palsy, Penyebab penting lain dari
cerebral

palsy

termasuk

kecelakaan

pada

waktu

perkembangan

otak, kelainan

genetik , stroke karena pembuluh darah abnormal atau bekuan darah dan infeksi otak
d.

Kelainan bawaan (Kelainan Kongenital)


Kelainan Bawaan (Kelainan Kongenital) adalah suatu kelainan pada struktur, fungsi maupun
metabolisme tubuh yang ditemukan pada bayi ketika dia dilahirkan. Sekitar 3-4% bayi baru lahir
memiliki

kelainan

bawaan

yang

berat.

Beberapa kelainan baru ditemukan pada saat anak mulai tumbuh, yaitu sekitar 7,5% terdiagnosis

ketika anak berusia 5 tahun, tetapi kebanyakan bersifat ringan. Sindroma varicella kongenital
disebabkan oleh cacar air dan bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada otot dan
tulang, kelainan bentuk dan kelumpuhan pada anggota gerak, kepala yang berukuran lebih kecil
dari normal, kebutaan, kejang dan keterbelakangan mental
e.

Distrofi otot
Distrofi otot adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan lebih dari 40 macam
penyakit otot yang berlainan, yang kesemuanya ditandai dengan kelemahan dan kemunduran
yang progresif dari otot-otot yang mengendalikan pergerakan.

KESIMPULAN
Seorang anak perempuan umur 4 tahun menderita poliomyelitis paralitik, ,Tidak ada
pengobatan yang spesifik. Diberikan obat simtomatis dan suportif. Istirahat total jangan
dilakukan terlalu lama, apabila keadaan berat sudah reda. Istirahat sangat penting di fase akut,
karena terdapat hubungan antara banyaknya keaktifan tubuh dengan berat nya penyakit.
Poliomielitis Paralitik Membutuhkan perawatan di rumah sakit,Istirahat total minimal 7 hari
atau sedikitnya sampai fase akut dilampaui,Selama fase akut kebersihan mulut dijaga,Perubahan
posisi penderita dilakukan dengan penyangga persendian tanpa menyentuh otot dan hindari
gerakan menekuk punggun,.Fisioterapi, dilakukan sedini mungkin sesudah fase akut, mulai
dengan latihan pasif dengan maksud untuk mencegah terjadinya deformitas,Akupunktur
dilakukan sedini mungkin,Interferon diberikan sedinini mungkin, untuk mencegah terjadinya
paralitik progresif.

REFRAT
POLIOMYELITIS

Disusun untuk memenuhi sebagian tugas kepaniteraan klinik bagian Ilmu Penyakit Saraf di
RSUD Tugurejo Semarang

Disusun oleh :
Tyza Vidya Yasmin
01.210.6288

Pembimbing :
dr. Noorjanah, Sp.S

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2015

KEPUSTAKAAN
1. Marc Laforce F: Poliomyelitis. In Hunter's Tropical Medicine Sixth Edition. Edited by
Strickland G.T. W.B Saunders Company. Philadelphia-London-Toronto-Mexico City-Rio de
Janeiro-Sydney-Tokyo. 121-124, 1984.
2. Jolly H: Diseases of Children. Third edition. ELBS and Blackwell Scientific Publications.
Oxford-London-Edinburg. 407-412,1976
3. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak FK-UI. Jilid 2.632-637,11985
4. Modlin IF: Poliovirus. In Principles and Practice of Infectious Diseases. Second edition.
Edited by Mandell G.L, Douglas Jr R G, Bennet J .E. A Wiley Medical Publication. New
York-Chichester-Brisbane- Toronto-Singapore. 806-814,1985
5. Lepow M.L: Poliomyelitis. In nfections in Children. Edited by Wedgwood RJ, Davis S.D, Ray
C.G, Kelley V.c. Harper & Row Publisher Philadelphia. 1240-1258,1982
6. Cherry ID: Enteroviruses. In Nelson Textbook of Pediatrics. 13th edition. Edited by Behrman
RE and Vaughan V.C. W.B Saunders Company. Philadelphia-LondonToronto-MontrealSydney-Tokyo. 689-698,1987.
SP-95
Dibacakan pada Sarasehan Ilmiah Pekan Imunisasi Nasional tanggal 25 April 1995 di Medan
e-USU Repository 2005 Universitas Sumatera Utara 5