Anda di halaman 1dari 6

patofisiologi

Faktor resiko mayor untuk kanker servikal adalah infeksi dengan virus papiloma manusia
(HPV) yang ditilarkan secara seksual. Penelitian epidemiologi seluruh dunia menegaskan
bahwa infeksi HPV adalah faktor penting dalam perkembangan kanker servikal. Lebih dari
20 tipe HPV yang berbeda mempunyai

hubungan dengan kanker servikal. Penelitian

memperlihatkan bahwa perempuan dengan HPV-16, 18, da 31 mempunyai angka neoplasma


intraepielial servikal (CIN) yang lebih tinggi . penelitian terbaru memperlihatkan bahwa
perempuan dengan HPV strain 18 memeiliki angka mortalitas yang lebih tinggi dan prognosis
yang lebih buruk. Faktor resiko lain untuk perkembangan kanker servikal adalah aktivitas
seksual pada usia muda, paritas tinggi, jumlah pasanagan seksual yang meningkat, status
sosioekonomi yang rendah, dan merokok .
Evaluasi untuk karsinoma servikal adalah pemeriksaan dengan inspeksi atau palapsi, keadaan
biokoimia (fungsi hati dan ginjal ), foto thotax , sistokopi, proktosigmoidoskopi, dan CT
scan. Pengguanaan CT scan meningkat karena hasil penemuan dari beberapa penelitian
berhubungan dengan penemuan patologis-bedah yang 97% spesifik pada pasien dengan
penyakit yang sudah lanjut. Pengobatan karsinoma servik invasif ditentukn oleh pemeriksaan
klinis dan bedah. Metode pengobatan adalah dengan eksisi bedah, terapi iradiasi, kemoterapi,
atau kombinasi metode-metode tersebut.

Ilmu kandungan
patologi
Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan
endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ). Histologi
antara epitel gepeng berlapis (squamous complex) dari portio dengan epitel kuboid/silindris
pendek selapis bersilia dari endoserviks kanalis serviks. Pada wanita SCJ ini berada di luar
ostius uteri eksternum, sedangkan pada wanita umur > 35 tahun, SCJ berada di dalam kanalis
serviks. Maka untuk melakukan pap smear yang efektif, yang dapat mengusap zona
transformasi, harus dikerjakan dengan skraper dari Ayre atau cytobrush sikat khusus. Pada
awal perkembangannya kanker serviks tak memberi tanda-tanda keluha. Pada pemeruksaan

dengan spekulum, tampak sebagai porsio yang erosif ( metaplasi skuamosa ) yang fisiologik
atau patologik . Tumor dapat tumbuh :
1.

Eksofilik mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa yang mengalami infeksi
sekunder dan nekrosis.

2.

Endofilik mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stomaserviks dan cenderung untuk
mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.

3.

Ulseratif mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan
melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.
Serviks normal secara alami mengalami proses metaplasi/erosi akibat saling desakmendesak kedua jenis epitel yang melapisi. Dengan masuknya mutagen, porsio yang erosif
(metaplasia skuamosa) yang semula fisiologik dapat berubah menjadi patologik melalui
tingkatan NIS I, II, III dan KIS untuk akhirnya menjadi karsinoma invasif. Sekali menjadi
mikroinvasif atau invasif, prose keganasan akan berjalan terus.
Periode laten dari NIS I s/d KIS 0 tergantung dari daya tahan tubuh penderita.
Umumnya fase pra invasif berkisar antara 3 20 tahun (rata-rata 5 10 tahun).
Perubahan epitel displastik serviks secara kontinyu yang masih memungkinkan terjadinya
regresi spontan dengan pengobatan / tanpa diobati itu dikenal dengan Unitarian Concept dari
Richard. Histopatologik sebagian besar 95-97% berupa epidermoid atau squamos cell
carsinoma sisanya adenokarsinoma, clear cell carcinoma/mesonephroid carcinoma dan yang
paling jarang adalah sarcoma.

TINGKATAN PRA-MALIGNA
Porsio yang erosif dengan ektropion bukanlah termasuk lesi pramaligna, selama tidak ada
bukti adanya perubahan displastik dari SCJ. Penting untuk dapat menggaet sel-sel dari SCJ
untuk pemeriksaan eksfoliatif sitologi, meskipun pada pemeriksaan ini ada kemungkinan
terjadi false negative atau false positive. Perlu ditekankan bahwa penanganan/ terapi hanya
dapat dilakukan atas dasar bukti histopatologik. Oleh sebab itu, untuk konfirmasi hasil Pap
smear, perlu tindak lanjut upaya diagnostik biopsi serviks.

PENYEBARAN
Pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah : a) ke arah
fornices dan dinding vagina, b) ke arah korpus uterus, dan c) ke arah parametrium dan dalam
tingkatan yang lanjut menginfiltrasi septum rektovaginal dan kandung kemih.
Melalui pembuluh getah bening dalam parametrium kanan dan kiri sel tumor dapat menyebar
ke kelenjar iliak luar dan kelenjar iliak dalam (hipogastrika). Penyebaran melalui pembuluh
darah (bloodborne metastasis) tidak lazim. Karsinoma serviks umumnya terbatas pada daerah
panggul saja. Tergantung dari kondisi immunologik tubuh penderita KIS akan berkembang
menjadi mikro invasif dengan menembus membrana basalis dengan kedalaman invasi <1mm
dan sel tumor masih belum terlihat dalam pembuluh limfa atau darah. Jika sel tumor sudah
terdapat >1mm dari membrana basalis, atau <1mm tetapi sudah tampak dalam pembuluh
limfa atau darah, maka prosesnya sudah invasif. Tumor mungkin sudah menginfiltrasi stroma
serviks, akan tetapi secara klinis belum tampak sebagai karsinoma. Tumor yang demikian
disebut sebagai ganas praklinik (tingkat IB-occult). Sesudah tumor menjadi invasif,
penyebaran secara limfogen melalui kelenjar limfa regional dan secara perkontinuitatum
(menjalar) menuju fornices vagina, korpus uterus, rektum, dan kandung kemih, yang pada
tingkat akhir (terminal stage) dapat menimbulkan fistula rektum atau kandung kemih.
Penyebaran limfogen ke parametrium akan menuju kelenjar limfa regional melalui
ligamentum latum, kelenjar-kelenjar iliak, obturator, hipogastrika, prasakral, praaorta, dan
seterusnya secara teoritis dapat lanjut melalui trunkus limfatikus di kanan dan vena subklavia
di kiri mencapai paru-paru, hati , ginjal, tulang dan otak.
Biasanya penderita sudah meninggal lebih dahulu disebabkan karena perdarahan-perdarahan
yang eksesif dan gagal ginjal menahun akibat uremia oleh karena obstruksi ureter di tempat
ureter masuk ke dalam kandung kencing.

Gambaran klinik dan diagnosis


Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Getah yang keluar dari vagina ini
makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam hal demikian,

pertumbuhan tumor menjadi ulseratif. Perdarahan yang dialami sehabis senggama (disebut
sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75-80%).
Perdarahan yang timbul akibat terbukanya pembuluh darah makin lama akan lebih sering
terjadi, juga di luar sanggama (perdarahan spontan). Perdarahan spontan umumnya terjadi
pada tingkat klinik yang lebih lanjut (II atau III), terutama pada tumor yang
bersifat eksofitik.pada wanita usia lanjut yang sudah tidak melayani suami secara seksual,
atau janda yang sudah mati haid (menopause) bilamana mengidap kanker serviks sering
terlambat datang meminta pertolongan. Perdarahan spontan saat berdefekasi terjadi akibat
tergesernya tumor eksofitik dari serviks oleh skibala, memaksa mereka datang ke dokter.
Adanya perdarahan spontan pervaginam saat berdefekasi, perlu dicurigai adanya karsinoma
serviks tingkat lanjut. Adanya bau busuk yang khas memperkuat dugaan adanya karsinoma.
Anemia akan menyertai sebagai akibat dari perdarahan pervaginam yang berulang. Rasa
nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf, memerlukan pembiusan umum untuk dapat
melakukan pemeriksaan dalam yang cermat, khususnya pada lumen vagina yang sempit dan
dinding sklerotik yang meradang. Gejala lain yang dapat timbul adalah gejala-gejala yang
disebabkan oleh metastasis jauh. Sebelum tingkat akhir (terminal stage), penderita meninggal
akibat perdarahan yang eksesif, kegagalan faal ginjal (CRF= Chronic Renal Failure) akibat
infiltrasi tumor ke ureter sebelum memasuki kandung kemih, yang menyebabkan obstruksi
total. Membuat diagnosa karsinoma serviks uterus yang sudah agak lanjut tidaklah sulit. Yang
menjadi masalah ialah, bagaimana mendiagnosis dalam tingkat yang sangat awal, misalnya
pada tingkat pra-invasif, lebih baik jika dapat menangkapnya dalam tingkat pra-maligna
(displasia/diskariosis serviks).
Hasil pemeriksaan sitologi eksploratif dari ekto dan endo-serviks yang positif tidak boleh
dianggap diagnosis pasti. Diagnosis harus dapat dipastikan dengan pemeriksaan
histopatologik dari jaringan yang diperoleh dengan melakukan biopsi

Penanganan
Terapi karsinoma serviks dilakukan bilamana diagnosis telas dipasikan secara histologik dan
sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim yang sanggup melakukan rehabilitas
dan pengamatan lanjutan ( im kanker/tim onkologi).

Pada tingkat klinik (KIS) tidak dibenarkan dilakukan elektrokoagulasi atau elektrofulgerasi,
bedah kryo (cryosurgery) atau dengan sinar laser, kecuali yang menangani seorang ahli dalam
koloskopi dan penderita masih muda dan belum mempunyai anak. Dengan biopsi kerucut
(conebiopsy) meskipun untuk diagnostik acapkali menjadi terapeutik. Ostium uteri internum
tidak boleh sampai rusak karenanya. Bila penderitanya telah cukup tua, atau sudah
mempunyai cukup anak, uterus tidak perlu ditinggalkan, agar tidak kambuh (relaps) dapt
dilakukan histerektomi sederhana (simple vaginal hysterectomy)
Pada kasus tertentu dimana operasi merupakan suatu kontraindikasi aplikasi radium dengan
dosis 6500-7000 rads/cGy di titik A tanpa penambahan penyinaran luar, dapat dilakukan.

Pada tingkat klinik Ia, umumnya dianggap dan ditangani sebagai kanker yang invasif.
Bilamana kedalaman invasi kurang dari atau hanya 1mm dan tidak meliputi area yang luas
serta tidak melibatkan pembuluh limfa atau pembuluh darah, penanganannya dilakukan
seperti KIS di atas.
Pada klinik Ib. Ib occ. Dan Iia dilakukan histerektomi tadikal dengan limfadenektomi
panngul. Paska bedah biasanya dilanjutkan penyinaran, tergantung ada/tidaknya sel tumor
dalam kelenjar limfa regional yang diangkat.

Pada tingkat Iib,III, dan IV tidak dibenarkan melakukan tindakan bedah, untuk ini primer
adalah radioterapi. Sebaiknya kasus dengan karsinoma serviks selekasnya dikirim ke pusat
penaggulangan kanker.

Pada tingkat klinik IVa dan IVb penyinaran hanya bersifat paliatif. Pemberian khemotherapi
dapat dipertimbangakan. Pada penyakit yang kambuh satu tahun sesudah penanganan
lengkap dapat dilakukan operasi jika terapi terdahulu adalah radiasi dan prosesnya masih
terbatas padan panggul, bilamana prosesnya sudah jauh atau operasi tak mungkin dilakuakn,
harus dipilih khemoterapi bila syarat-syaratnya terpenuhi, untuk ini tak digunakan sitostastika
tunggal tetapi berbentuk regimen yang terdiri dari kombinasi beberapa sitostatika

(polokhemoterapi). Jika terapi terdahulu adalah operasi sebaiknya dilakukan penyinaran bila
prosesnya masih terbatas dalam panggul (lokoregional), sedangkan kalau penyinaran tidak
memungkinkan atau proses penyebarannya sudah lanjut maka dipilih polikhemoterapi bila
syarat-syaratnya terpenuhi.

Pengamatan lanjut
Tiap 3 bulan selama 2 tahun pertama kemudian tiap 6 bulan, tergantung dari keadaan. Jangan
dilupakan meraba kelenjar inguinal dan supraklavikular, perabaan abdomen, perabaan
abdomino-vaginal, dan abdomino-rektal, pemeriksaan sitologi puncak vagina dan foto
rontgen toraks (tiap 6 bulan). Kolposkopi sangat penting untuk meneliti puncak vagina, untuk
menemukan bentuk-bentuk pra-maligna. Rektoskopi, sitoskopi dan pemeriksaan lain seperti
renogram, IVP (Intravenous Pyelography) dan CT-scan panggul atau limfografi dilakukan
menurut indkasi. Dewasa ini MRI dapat digunakan pula.

prognosis
Faktor-faktor yang menentukan prognosis ialah1) umur penderita, 2) keadaan umum 3)
tingkat klinis keganasan, 4) ciri-ciri histologik sel tumor, 5) kemampuan ahli atau tim ahli
yang menangani, 6) sarana pengobatan yang ada.