Anda di halaman 1dari 10

Ardiansyah Putra Pratama

112011101030

PENGERTIAN IKHLAS
: :


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam telah
bersabda,Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta
kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.
Dalam mendefinisikan ikhlas, para ulama berbeda redaksi dalam menggambarkanya. Ada
yang berpendapat, ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepadaNya.
Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada makhluk.
Al Izz bin Abdis Salam berkata : Ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan
semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan
tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya.
Al Harawi mengatakan : Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda. Yang lain
berkata : Seorang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia
dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia
sampai memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi.
Abu Utsman berkata : Ikhlas ialah, melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat
kepada Khaliq (Allah).
Abu Hudzaifah Al Marasyi berkata : Ikhlas ialah, kesesuaian perbuatan seorang hamba
antara lahir dan batin.
Abu Ali Fudhail bin Iyadh berkata : Meninggalkan amal karena manusia adalah riya. Dan
beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas ialah, apabila Allah menyelamatkan kamu
dari keduanya.[1]
Ikhlas ialah, menghendaki keridhaan Allah dalam suatu amal, membersihkannya dari segala
individu maupun duniawi. Tidak ada yang melatarbelakangi suatu amal, kecuali karena Allah
dan demi hari akhirat. Tidak ada noda yang mencampuri suatu amal, seperti kecenderungan
kepada dunia untuk diri sendiri, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, atau
karena mencari harta rampasan perang, atau agar dikatakan sebagai pemberani ketika perang,
karena syahwat, kedudukan, harta benda, ketenaran, agar mendapat tempat di hati orang
banyak, mendapat sanjungan tertentu, karena kesombongan yang terselubung, atau karena
alasan-alasan lain yang tidak terpuji; yang intinya bukan karena Allah, tetapi karena sesuatu;
maka semua ini merupakan noda yang mengotori keikhlasan.
Landasan niat yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah semata. Setiap bagian dari
perkara duniawi yang sudah mencemari amal kebaikan, sedikit atau banyak, dan apabila hati
kita bergantung kepadanya, maka kemurniaan amal itu ternoda dan hilang keikhlasannya.

Karena itu, orang yang jiwanya terkalahkan oleh perkara duniawi, mencari kedudukan dan
popularitas, maka tindakan dan perilakunya mengacu pada sifat tersebut, sehingga ibadah
yang ia lakukan tidak akan murni, seperti shalat, puasa, menuntut ilmu, berdakwah dan
lainnya.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berpendapat, arti ikhlas karena Allah ialah,
apabila seseorang melaksanakan ibadah yang tujuannya untuk taqarrub kepada Allah dan
mencapai tempat kemuliaanNya.

SABAR
Sabar merupakan sebuah kata yang ringan diucapkan, namun sangat bermakna dalam
kehidupan. Dengannya, perjalanan hidup seseorang akan selalu terbimbing di atas
kebenaran. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,



Kesabaran itu adalah cahaya. (HR. Muslim no. 223, dari sahabat Abu Malik alAsyari radhiyallahu anhu)
Al-Hafizh an-Nawawi rahimahumallah berkata, Sesungguhnya kesabaran adalah amalan
yang terpuji dan pelakunya akan selalu terbimbing di atas kebenaran. (Syarh Shahih
Muslim 3/101)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berkata, Sebuah petunjuk (al-huda) tidak
akan diraih melainkan dengan ilmu, sedangkan kemudahan untuk beramal dengan ilmu (arrasyad) tidak akan diraih melainkan dengan kesabaran. (Majmu Fatawa 10/40)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, Sesungguhnya Allah l menjadikan sabar
sebagai kuda tunggangan yang tak kenal lelah, pedang yang tak pernah tumpul, prajurit
yang pantang menyerah, benteng kokoh yang tak bisa dihancurkan dan ditembus. Sabar
merupakan saudara kandung kemenangan. Di mana ada kesabaran, di situ ada
kemenangan. (Uddatush Shabirin, hlm. 4)
Secara etimologis, sabar mempunyai arti menahan. Maksudnya, menahan kalbu dari rasa
kesal terhadap ketentuan Allah Subhanahu wataala (takdir), menahan lisan dari berkeluh
kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan maksiat, seperti menampar-nampar pipi,
merobekrobek baju, mencabut-cabut rambut, dan yang semisalnya. Di atas tiga asas itulah
kesabaran dibangun. (al-Wabilush Shayyib karya al-Imam Ibnul Qayyim, hlm. 5)
Adapun hakikat sabar itu sendiri adalah sebuah budi pekerti luhur yang dapat menahan
seseorang dari perbuatan yang tidak baik. Sabar termasuk salah satu dari kekuatan batin
(psikis) yang dapat menstabilkan jiwa seseorang sehingga menjadi baik dan lurus.
(Uddatush Shabirin, hlm. 11)
Di dalam al-Quran dan as-Sunnah, sabar disebutkan dalam beberapa bentuk lafadz yang
mempunyai kandungan makna berbeda-beda;

1. Shabr (
) : kesabaran yang dilakukan dengan mudah.
2. Tashabbur (
) : kesabaran yang dilakukan dengan upaya dan perjuangan.
3. Ishthibar (
) : puncak dari tashabbur (
) . Maksudnya, puncak dari kesabaran
yang dilakukan dengan upaya dan perjuangan.
4. Mushabarah (
) : kesabaran yang dilakukan di medan laga saat berhadapan dengan
musuh. (Lihat Uddatush Shabirin, hlm. 1516)
Ditinjau dari sisi keterkaitannya dengan Allah Subhanahu wataala, sabar terbagi menjadi
tiga,
1. Sabar dengan Allah Subhanahu wataala ( ashshabru billah). Maksudnya, memohon
pertolongan kepada Allah Subhanahu wataala dan meyakini bahwa Dia-lah Dzat yang
menjadikan seorang hamba bersabar. Betapa pun seseorang mampu bersabar maka semua
itu berkat pertolongan dari AllahSubhanahu wataala, bukan kemampuan dirinya semata.
Allah Subhanahu wataala berfirman,



Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan
pertolongan Allah. (an-Nahl: 127)
Makna ayat di atas, jika Allah Subhanahu wataala tidak memberikan pertolongan
kepadamu untuk bersabar, niscaya engkau tidak akan mampu bersabar.
2. Sabar karena Allah Subhanahu wataala( ashshabru lillah). Maksudnya, kesabaran yang
dilakukan karena kecintaan kepada Allah Subhanahu wataala, menginginkan wajah-Nya,
dan taqarub kepada-Nya. Bukan untuk menonjolkan diri, ingin dipuji orang, dan tujuan
buruk lainnya.
3. Sabar bersama Allah Subhanahu wataala (ashshabru maallah).
Artinya, kesabaran seorang hamba bersama syariat Allah l dan segala ketentuan hukum-Nya
secara berkesinambungan, berteguh diri di atas syariat dan hukum tersebut, berjalan di
atasnya, serta menjalankan segala konsekuensinya. Hidupnya selalu dikendalikan oleh
syariat dan hukum tersebut, kapan saja dan di mana saja ia berada.
Demikianlah kondisi seseorang yang bersabar bersama Allah Subhanahu wataala. Ia
senantiasa menjadikan dirinya berada di atas segala yang diperintahkan oleh
Allah Subhanahu wataala dan dicintai-Nya. Kesabaran yang seperti ini adalah jenis
kesabaran yang paling berat dan sulit. Itulah kesabaran yang ada pada diri ash-shiddiqin
(orangorang yang sangat kuat keyakinannya kepada AllahSubhanahu wataala). (Madarijus
Salikin karya al-Imam Ibnul Qayyim, 2/157)
Dalam ranah kehidupan beragama, para ulama mengklasifikasi sabar menjadi tiga,

1. Sabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wataala, dengan selalu mengerjakan
segala perintah-Nya Subhanahu wataala.
2. Sabar dari perbuatan maksiat, selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh
Allah Subhanahu wataala.
3. Sabar atas segala musibah yang menimpa. (Lihat Qaidah fish Shabr karya Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah hlm. 9091, Syarh Shahih Muslim karya al-Hafizh an-Nawawi 3/101,
Madarijus Salikin 2/156, dll.)
Perbuatan apa sajakah yang dapat meniadakan (menafikan) kesabaran? Menurut al-Imam
Ibnul Qayyim rahimahumallah dalam Uddatush Shabirin (hlm. 228), hal-hal yang menafikan
kesabaran adalah rasa kesal dalam kalbu, berkeluh kesah dengan lisan kepada selain
Allah Subhanahu wataala, dan melakukan perbuatan maksiat, seperti menampar-nampar
pipi, merobek-robek baju, mencabut-cabut rambut, dan yang semisalnya.
Bagaimana halnya dengan berkeluh kesah kepada Allah Subhanahu wataala, apakah
menafikan kesabaran? Berkeluh kesah kepada Allah Subhanahu wataala, tidak menafikan
kesabaran. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada diri Nabi Yaqub q yang berkeluh kesah
kepada Allah Subhanahu wataala,

Yaqub menjawab, Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan
kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya. (Yusuf:
86)
Meski demikian, Allah Subhanahu wataala menyitir ucapan Nabi Yaqub Alaihissalam
yang lainnya,


Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan
mereka semuanya kepadaku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi
Mahabijaksana. (Yusuf: 83)
Adapun menyampaikan kesulitan yang dihadapi (curhat) kepada makhluk, jika untuk
meminta bimbingan dan bantuan untuk menghilangkan kesulitan tersebut, tidak menafikan
kesabaran. Misalnya, keluhan pasien kepada dokter, orang yang dizalimi kepada seseorang
yang dapat membelanya, atau curhat seseorang yang sedang mengalami problem kepada
orang lain yang diharapkan bisa memberikan solusinya.
Bagaimanakah dengan rintihan di kala sakit? Menurut al-Imam Ibnul
Qayyim rahimahumallah dalam Uddatush Shabirin (hlm. 229), rintihan di kala sakit ada dua
macam; rintihan yang mengandung keluh kesah maka hukumnya makruh, sedangkan
rintihan untuk melepas kegundahan dan menghibur diri maka tidak mengapa.

Wallahu alam.

KUSYU
Khusyu dalam ibadah kedudukannya seperti ruh/jiwa dalam tubuh manusia1, sehingga
ibadah yang dilakukan tanpa khusyu adalah ibarat tubuh tanpa jasad alias mati.
Oleh karena itu, Allah Taala memuji para Nabi dan Rasul Shallallahualaihi
Wasallam dengan sifat mulia ini, yang mereka adalah hamba-hamba-Nya yang memiliki
keimanan yang sempurna dan selalu bersegera dalam kebaikan. Allah Taala berfirman:
{}
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan)
perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka (selalu) berdoa kepada Kami dengan berharap
dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu (dalam beribadah) (QS alAnbiyaa: 90).
Dalam ayat lain, Allah Taala memuji hamba-hamba-Nya yang shaleh dengan sifat-sifat
mulia yang ada pada mereka, di antaranya sifat khusyu:
{








}
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang
mumin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan
yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu,
laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki
dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak
menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang
besar (QS al-Ahzaab: 35).
Bahkan Allah Taala menjadikan sifat agung ini termasuk ciri utama orang-orang yang
sempurna imannya dan sebab keberuntungan mereka2, dalam firman-Nya:
{
}
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu
dalam shalatnya (QS al-Muminuun: 1-2).

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam memohon kepada Allah Taala sifat
mulia ini dalam doa beliau Shallallahualaihi Wasallam: Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai
orang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin, kumpulkanlah aku di dalam golongan
orang-orang miskin pada hari kiamat3.
Arti orang miskin dalam hadits ini adalah orang yang selalu merendahkan diri, tunduk dan
khusyu kepada Allah Taala4.
Arti khusyu dan hakikatnya
Secara bahasa khusyu berarti as-sukuun (diam/tenang) dan at-tadzallul (merendahkan diri).
Sifat mulia ini bersumber dari dalam hati yang kemudian pengaruhnya terpancar pada
anggota badan manusia.
Imam Ibnu Rajab berkata: Asal (sifat) khusyu adalah kelembutan, ketenangan, ketundukan,
dan kerendahan diri dalam hati manusia (kepada Allah Taala). Tatkala Hati manusia telah
khusyu maka semua anggota badan akan ikut khusyu, karena anggota badan (selalu)
mengikuti hati, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam: Ketahuilah,
sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik
maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk
seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.
Maka jika hati seseorang khusyu, pendengaran, penglihatan, kepala, wajah dan semua
anggota badannya ikut khusyu, (bahkan) semua yang bersumber dari anggota badannya5.
Imam Ibnul Qayyim berkata: Para ulama sepakat (mengatakan) bahwa khusyu tempatnya
dalam hati dan buahnya (tandanya terlihat) pada anggota badan6.
Syaikh Abdur Rahman as-Sadi berkata: Khusyu dalam shalat adalah hadirnya hati
(seorang hamba) di hadapan Allah Taala dengan merasakan kedekatan-Nya, sehingga
hatinya merasa tentram dan jiwanya merasa tenang, (sehingga) semua gerakan (angota
badannya) menjadi tenang, tidak berpaling (kepada urusan lain), dan bersikap santun di
hadapan Allah, dengan menghayati semua ucapan dan perbuatan yang dilakukannya dalam
shalat, dari awal sampai akhir. Maka dengan ini akan sirna bisikan-bisikan (Setan) dan
pikiran-pikiran yang buruk. Inilah ruh dan tujuan shalat7.
Inilah makna ucapan salah seorang ulama salaf ketika beliau melihat seorang laki-laki yang
bermain-main dalam shalatnya: Seandainya hati orang ini khusyu maka akan khusyu
semua anggota tubuhnya8.
Lebih lanjut, imam al-Bagawi memaparkan makna ini dalam ucapan beliau: Para ulama
berbeda (pendapat) dalam makna khusyu, Ibnu Abbas Radhiallahuanhu berkata: (Orangorang yang khusyu adalah) mereka yang selalu tunduk dan merendahkan diri (kepada
AllahTaala). al-Hasan (al-Bashri) dan Qatadah berkata: (Mereka adalah) orang-orang yang
selalu takut (kepada-Nya). Muqatil berkata: (Mereka adalah) orang-orang yang
merendahkan diri (kepada-Nya). Mujahid berkata: Khusyu adalah menundukkan
pandangan dan merendahkan suara. Khusyu (artinya) mirip dengan khudhu, cuma khudhu

ada pada (anggota) badan, sedangkan khusyu ada pada hati, badan, pandangan dan suara.
Allah Taala berfirman:
{
}
Dan (pada hari kiamat) khusyulah (merendahlah) semua suara kepada Yang Maha
Pemurah (QS Thaahaa: 108)9.
Khusyu adalah buah manis dari ilmu yang bermanfaat
Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam pernah berdoa:
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari
hati yang tidak khusyu, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak
dikabulkan10.
Dalam hadits yang agung ini, Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam menggandengkan
empat perkara yang tercela ini, sebagai isyarat bahwa ilmu yang tidak bermanfaat memiliki
tanda-tanda buruk, yaitu hati yang tidak khusyu, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang
tidak dikabulkan11, nuuudzu billahi min dzaalik.
Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: Hadits ini menunjukkan bahwa ilmu yang tidak
menimbulkan (sifat) khusyu dalam hati maka ini adalah ilmu yang tidak bermanfaat12.
Maka hadits ini merupakan argumentasi yang menunjukkan bahwa sifat khusyu adalah
termasuk buah yang manis dan agung dari ilmu yang bermanfaat.
Imam al-Ala-i berkata: Ketika Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam (dalam hadits ini)
menggandengkan antara memohon perlindungan (kepada Allah Taala) dari ilmu yang tidak
bermanfaat dan dari hati yang tidak khusyu, (maka) ini mengisyaratkan bahwa ilmu yang
bermanfaat adalah yang mewariskan sifat khusyu (dalam diri manusia)13.
Lebih lanjut, imam Ibnu Rajab menjelaskan keterikatan antara ilmu yang bermanfaat dan
sifat khusyu dalam ucapan beliau: Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang merasuk dan
menyentuh hati manusia, kemudian menumbuhkan dalam hati marifatullah (mengenal
AllahTaala dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha
sempurna) dan meyakini kemahabesaran-Nya, (demikian pula) rasa takut, pengagungan,
pemuliaan dan cinta (kepada-Nya). Tatkala sifat-sifat ini telah menetap dalam hati (seorang
hamba), maka hatinya akan khusyu lalu semua anggota badannyapun akan khusyu
mengikuti kekhsyuan hatinya14.
Inilah keutamaan khusyu yang merupakan buah utama ilmu yang bermanfaat, sekaligus
merupakan ilmu yang pertama kali diangkat oleh Allah Taala dari muka bumi ini15,
sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Darda Radhiallahuanhu bahwa
RasulullahShallallahualaihi Wasallam bersabda: Yang pertama kali diangkat (oleh Allah)
dari umat ini adalah sifat khusyu, sehingga (nantinya) kamu tidak akan melihat lagi seorang
yang khusyu (dalam ibadahnya)16.

Khusyu dalam shalat


Sifat khusyu dituntut dalam semua bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah Taala, akan
tetapi dalam ibadah shalat, sifat yang agung ini lebih terlihat wujud dan pengaruh positifnya.
Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: Sungguh Allah telah mensyariatkan bagi hambahamba-Nya berbagai macam ibadah yang akan tampak padanya kekhusyuan (anggota) badan
(seorang hamba) yang bersumber dari kekhusyuan, ketundukan dan kerendahan diri dalam
hatinya. Dan termasuk ibadah yang paling tampak padanya kekhusyuan adalah ibadah
shalat. Allah Taala memuji hamba-hamba-Nya yang khusyu dalam shalat mereka dalam
firman-Nya:
{
}
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu
dalam shalatnya (QS al-Muminuun: 1-2)17.
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin berkata: Para ulama menafsirkan (arti) khusyu
dalam shalat yaitu diamnya anggota badan yang disertai dengan ketenangan (dalam) hati.
Maksudnya: menghadirkan/mengkonsentrasikan hati dalam shalat dan menjadikan anggota
badan tenang, maka tidak ada perbuatan sia-sia dan bermain-main (dalam shalat) disertai hati
yang hadir berkonsentrasi menghadap ke pada Allah Taala. Tatkala hati (seorang hamba)
menghadap kepada Allah Taala yang maha mengetahui isi hati, maka pasti hamba tersebut
akan (meraih) khusyu (dalam shalatnya) dan memusatkan pikirannya kepada Zat yang dia
sedang bermunajat kepada-Nya, yaitu Allah Taala. Kalau demikian khusyu adalah sifat
ruhani dalam diri manusia yang menimbulkan ketenangan dalam hati dan anggota badan18.
Ciri inilah yang ada pada orang-orang yang sempurna keimanannya, para
ShahabatRadhiallahuanhum, sebagaimana dalam firman Allah Taala:
{}
Tanda-tanda meraka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud (QS al-Fath: 29).
Imam Mujahid dan beberapa ulama ahli tafsir lainnya berkata tentang makna ayat ini: Yaitu
Khusyu (dalam shalat) dan tawadhu (sikap merendahkan diri)19.
Lebih lanjut, imam Ibnu Katsir menjelaskan manfaat dan faidah besar dari shalat yang
khusyu dalam membawa seorang mukmin untuk merasakan kemanisan iman dan menjadikan
shalatnya sebagai qurratul ain (penyejuk/penghibur hati) baginya. Beliau berkata20:
Khusyu dalam shalat hanyalah akan diraih oleh orang yang hatinya tercurah sepenuhnya
kepada shalat (yang sedang dikerjakannya), dia hanya menyibukkan diri dan lebih
mengutamakan shalat tersebut dari hal-hal lainnya. Ketika itulah shalat akan menjadi (sebab)
kelapangan (jiwanya) dan kesejukan (hatinya), sebagamana sabda
Rasulullah Shallallahualaihi Wasallamdalam hadits riwayat imam Ahmad dan an-Nasa-i,
dari Anas bin MalikRadhiallahuanhu bahwa Rasulullah Shallallahualaihi

Wasallam bersabda: Allah menjadikanqurratul ain (penyejuk/penghibur hati) bagiku pada


(waktu aku melaksanakan) shalat21.
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda kepada
BilalRadhiallahuanhu:
Wahai Bilal, senangkanlah (hati) kami dengan (melaksanakan) shalat22.
Cara untuk meraih khusyu
Dikarenakan sifat khusyu sumbernya dari dalam hati manusia, maka sifat ini hanya bisa
diraih dengan taufik dan anugerah dari Allah Taala. Oleh karena itu, cara utama untuk
meraih sifat mulia ini dan sifat-sifat agung lainnya dalam agama adalah dengan banyak
berdoa dan memohon kepada Allah Taala.
Oleh karena itu, imam Mutharrif bin Abdillah bin asy-Syikhkhiir berkata: Aku mengingatingat apakah penghimpun segala kebaikan, karena kebaikan itu banyak; puasa, shalat (dan
lain-lain). Semua kebaikan itu ada di tangan Allah Taala, maka jika kamu tidak mampu
(memiliki) apa yang ada di tangan Allah Taala kecuali dengan memohon kepada-Nya agar
Dia memberikan semua itu kepadamu, maka berarti penghimpun (semua) kebaikan adalah
berdoa (kepada Allah Taala)23.
Kemudian sifat khusyu akan diraih insya Allah dengan seorang hamba mengenal
Allah Taaladengan cara yang benar,melalui pemahaman terhadap nama-nama-Nya yang
maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna. Inilah ilmu yang paling mulia dalam
Islam dan merupakan jalan utama untuk meraih semua sifat dan kedudukan yang mulia di sisi
AllahTaala.
Imam Ibnul Qayyim berkata: Orang yang paling sempurna dalam penghambaan diri (kepada
Allah Taala) adalah orang yang menghambakan diri (kepada-Nya) dengan (memahami
kandungan) semua nama dan sifat-Nya yang (bisa) diketahui oleh manusia24.
Imam Ibnu Rajab al-Hambali memaparkan hal ini dalam ucapan beliau:
Asal (sifat) khusyu yang terdapat dalam hati tidak lain (bersumber)
dari marifatullah(mengenal Allah Taala dengan memahami nama-nama-Nya yang maha
indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna), mengenal keagungan-Nya, kemuliaan-Nya
dan kesempurnaan-Nya. Sehingga barangsiapa yang lebih mengenal Allah maka dia akan
lebih khusyu (kepada-Nya).
Sifat khusyu dalam hati manusia dalam hati manusia bertingkat-tingkat (kesempurnaannya)
sesuai dengan bertingkat-tingkatnya pengetahuan (dalam) hati manusia terhadap Zat yang dia
tunduk kepada-Nya (Allah Taala) dan sesuai dengan bertingkat-tingkatnya penyaksian hati
terhadap sifat-sifat yang menumbuhkan kekhusyuan (kepada Allah Taala).

Ada hamba yang (meraih) khusyu (kepada-Nya) karena penyaksiannya yang kuat terhadap
kemahadekatan dan penglihatan-Nya (yang sempurna) terhadap apa yang tersembunyi dalam
hati hamba-Nya, sehingga ini menimbulkan rasa malu kepada Allah Taala dan selalu
merasakan pengawasan-Nya dalam semua gerakan dan diamnya hamba tersebut.
Ada juga yang (meraih) khusyu karena penyaksiannya terhadap kemahasempurnaan dan
kemahaindahan-Nya, sehingga ini menjadikannya tenggelam dalam kecintaan kepada-Nya
serta kerinduan untuk bertemu dan memandang wajah-Nya.
(Demikian pula) ada yang meraih khusyu karena penyaksiannya terhadap kerasnya siksaan,
pembalasan dan hukuman-Nya, sehingga ini membangkitkan rasa takutnya kepada Allah.
Maka Allah Taala Dia-lah yang memperbaiki hati hamba-hamba-Nya yang tanduk dan
remuk hatinya kepada-Nya. Allah Taala maha dekat kepada hamba-Nya yang bermunajat
kepada-Nya dalam shalat dan menempelkan wajahnya ke tanah ketika sujud, sebagaimana
Dia maha dekat kepada hamba-Nya yang berdoa, memohon dan meminta ampun kepada-Nya
atas dosa-dosanya di waktu sahur. Dia maha mengabulkan doa hamba-Nya serta memenuhi
permohonannya, dan tidak ada sebab untuk memberbaiki kekurangan seorang hamba yang
lebih agung dari kedekatan dan pengabulan doa dari-Nya25.
Pemaparan imam Ibnu Rajab di atas merupakan makna firman Allah Taala:
{}
Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang
yang berilmu (mengenal Allah Taala) (QS Faathir:28).
Imam Ibnu Katsir berkata: Arti (ayat ini): Hanyalah orang-orang yang berilmu dan
mengenal Allah yang memiliki rasa takut yang sebenarnya kepada Allah, karena semakin
sempurna pemahaman dan penegetahuan (seorang hamba) terhadap Allah, Zat Yang Maha
Mullia, Maha kuasa dan Maha Mengetahui, yang memiliki sifat-sifat yang maha sempurna
dan nama-nama yang maha indah, maka ketakutan (hamba tersebut) kepada-Nya semakin
besar pula26.