Anda di halaman 1dari 9

Berger, Tafsir Sosial atas Kenyataan

http://siluetkomix.6te.net/03Berger.htm

Peter L. Berger & Thomas Luckmann,

Tafsir Sosial atas Kenyataan:


Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan

yang tak pernah berhenti pada sampai

xi

Menyingkap Misteri Manusia Sebagai Homo Faber


Pengantar Frans M. Parera

Usaha Peter Berger dan Thomas Luckmann pada tahun 1962 lewat penulisan buku ini adalah untuk
menunjukkan peranan sentral sosiologi pengetahuan sebagai instrumen penting membangun teori sosiologi.
Rencana semula, proyek penulisan tentang pentingnya peranan sosiologi pengetahuan itu merupakan hasil
kerja sama antara ahli sosiologi dan ahli filsafat. Biarpun akhirnya buku ini ditulis hanya oleh dua orang ahli
sosiologi, pengaruh teori pengetahuan dari filsafatdalam hal itu terutama dari fenomenologidan ilmu-ilmu
pengetahuan alam terutama biologi memang cukup besar. Proses penulisan naskah sampai terbitnya buku ini
memakan waktu empat tahun, karena buku ini terbit pada tahun 1966. Ternyata sampai sekarang sambutan
lingkungan akademis terhadap karya ini sungguh luar biasa. Komunitas ahli-ahli ilmu sosial menaruh
perhatian besar terhadap buku ini, dan kini buku ini menjadi salah satu referensi penting bila mengulas
sosiologi pengetahuan kontemporer. Boleh dibilang buku ini sudah menjadi buku klasik di bidang sosiologi
pengetahuan, karena diakui sebagai tonggak penunjuk arah perkembangan teori sosiologi di masa-masa yang
akan datang. Dengan demikian Peter Berger mendapat reputasi internasional sebagai ahli sosiologi
pengetahuan terkemuka dewasa ini.
Minat Berger terhadap hubungan antara pemikiran manusia dan konteks sosial di mana pemikiran itu timbul,
berkembang ...

1 of 9

23/03/2009 11:39

Berger, Tafsir Sosial atas Kenyataan

http://siluetkomix.6te.net/03Berger.htm

xii
dan dilembagakan, bertolak dari pemikirannya tentang masalah keagamaan. Dua buku perdananya, yaitu The
Precarious Vision (1961) dan The oise of Solemn Assemblies (1961), mengulas tentang fungsi atau posisi
kritis sosiologi agama (sub-bidang sosiologi pengetahuan) berhadapan dengan perkembangan refleksi teologis
dalam kalangan umat Kristen Barat. Berger berusaha menggambarkan bagaimana sekularisasi sebagai salah
satu ciri peradaban modern tercermin dalam refleksi-refleksi teologis. Karena refleksi atas iman yang sudah
melembaga seperti terjelma pada teologi-teologi formal juga berfungsi sebagai ideologi, maka tugas sosiologi
agama antara lain menunjukkan bagaimana teologi sebagai ideologi juga memainkan peranan sebagai alat
legitimasi kekuasaan politik yang dibangun oleh masyarakat untuk menertibkan kehidupan publik.
Sekularisasi menunjukkan bahwa sektor publik kehidupan modern mengalami pluralisasi ideologi sehingga
pengaruh dominan pemikiran keagamaan seperti pada masyarakat pra-modern semakin kecil, bahkan
bergeser ke dalam kehidupan privat individu-individu (terjadi proses privatisasi kehidupan religius). Kedua
karya di atas memberikan pijakan awal bagi Berger (sebelum tahun 1960 Berger mengajar Etika Sosial di
Hartford Seminary Doundation) dalam pergumulan dengan masalah sosiologi pengetahuan pada periode
berikut dalam perjalanan kariernya sebagai ahli sosiologi.
Periode kedua karirnya dimulai ketika Berger meninggalkan tugasnya sebagai profesor Etika Sosial di
hartford Seminary dan diangkat sebagai guru besar sosiologi pada ew School for Social Reseach New York,
sebagai pusat gerakan fenomenologis di Amerika Serikat. Salah satu tokoh gerakan fenomenologis di bidang
ilmu-ilmu sosial dan sekaligus guru Berger adalah Alfred Schutz. Alfred Schutz dipandang oleh kalangan ahli
sosiologi Amerika sebagai murid Edmund Husserl, pendiri aliran fenomenologis di Jerman. Schutz berusaha
memberi konteks sosial atas konsep Lebenswelt (dunia kehidupan) ciptaan Husserl. ew School for Social
Reseach merupakan salah satu lembaga University of Buffalo, yang menerbitkan majalah Philosophy and
phenomenological research. Tidak mengherankan kalau fenomenologi mempengaruhi alam pikiran Berger
karena ...
xiii
perguruan tinggi itu merupakan almamater dan sekaligus lingkungan kerja Berger.
Dalam periode ini Berger mengadakan observasi dan refleksi atas situasi sosiologi Amerika Serikat ketika itu.
Pendekatan positivistis, yang sudah menjadi tradisi metodologi ilmu-ilmu alam, merupakan faktor dominan
berkembangnya teori-teori sosiologi di sana. Perkembangan ilmu-ilmu sosial diresapi oleh pengaruh pemikiran
model rasionalitas teknokratis, yang dianut oleh para teknokrat, politisi, birokrat, kelompok profesional
lainnya serta ilmuwan dari disiplin-disiplin lainnya. Ilmu-ilmu sosial dikembangkan sejauh menjadi sarana
teoritis untuk mencapai tujuan-tujuan praktis, yang tersirat dalam pelbagai perekayasaan sosial (social
engineering). Dalam suasana intelektual semacam itu hampir tidak berkembang luas sosiologi alternatif
seperti sosiologi interpretatif atau humanistis, yang menempatkan kegiatan sosial sebagai bagian dari kegiatan
manusia konkrit yang multidimensional seperti yang dimengerti oleh filsafat manusia. Manusia-manusia
konkrit dengan segala problematiknya, termasuk kebebasannya, menjadi titik tolak pencarian hakekat
masyarakat sebagai tugas utama pengembangan sosiologi.
Karena penguasaannya terbadap bahasa-bahasa Eropa (terutama bahasa Jerman), Berger mempunyai akses
ke sumber-sumber awal sosiologi di Eropa, terutama karya Max Weber dan Emile Durkheim. Di samping itu
ia juga mempunyai akses pada sumber-sumber awal karya sosiologi pengetahuan seperti karya-karya Max
Scheler, yang juga digunakan oleh Karl Mannheim (1893-1947), yang kemudian menulis karya-karyanya
tentang sosiologi pengetahuan dalam bahasa Inggris dan digunakan di kalangan ahli sosiologi Amerika.
Dengan bantuan literatur Eropa kontinental yang dikuasai oleh pakar-pakar di New School akhirnya Berger
membangun penilaian atas situasi ilmu-ilmu sosial di Amerika. Ternyata sifuasi faktual ilmu-ilmu sosial di
Amerika waktu itu memendam pertikaian problematika pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 di
lingkungan intelektual Eropa (khususnya di Jerman), ketika Max ...

2 of 9

23/03/2009 11:39

Berger, Tafsir Sosial atas Kenyataan

http://siluetkomix.6te.net/03Berger.htm

xiv
Weber tampil sebagai tokoh yang mempertahankan posisi humanistis dari sosiologi sebagai sub-disiplin
humaniora. Dalam situasi konflik itu Max Weber berusaha mensintesa pendekatan positivistis dengan
pendekatan idealistis untuk membangun pendekatan ilmu-ilmu sosial yang khas dan otonom.
Dari kenyataan itu Berger juga berusaha mengembalikan status otonomi sosiologi dari dominasi ilmu-ilmu
alam dan ideologi politik. Sosiologi dikembalikan ke fungsi aslinya sebagaimana dikehendaki Weber sebagai
sarana teoritis untuk memahami serta menafsir secara bertanggung jawab atas masalah-masalah kebudayaan
dan peradaban umat mausia. Fungsi itu bisa dilaksanakan kalau sosiologi merupakan cara pandang dan bagian
integral dari ilmu-ilmu kemanusiaan (humanities). Sementara itu sumbangan dari sumber-sumber asli
fenomenologis, khususnya karya-karya Max Scheler dan Alfred Schutz, memberi bobot baru untuk sosiologi
pengetahuan, yang menyimpang dari tradisi sosiologi pengetahuan selama ini. Dalam konsep teoritis
Lebenswelt (terjemahan Inggris life-world sedang terjemahan Indonesia, dunia kehidupan) dalam tradisi
fenomenologi mengandung pengertian dunia atau semesta yang kecil, rumit dan lengkap, terdiri atas
lingkungan fisik, lingkungan sosial, interaksi antarmanusia (intersubjektivitas) dan nilai-nilai yang dihayati.
Lebenswelt itu merupakan realitas sosial orang-orang biasa (orang awam, the man in the street). Dalam
cahaya fenomenologi dapat dikatakan bahaw dalam Lebenswelt terdapat gejala-gejala sosial yang mesti
dideskripsikan. Tugas para pemikirlah (termasuk ahli sosiologi) untuk menemukan hakekat masyarakat di
balik gejala-gejala sosial yang banyak itu. Berger kemudian yakin bahwa bersosiologi itu harus mengikuti
proses berpikir seperti yang dituntut oleh fenomenologi, yakni dimulai dari kenyataan kehidupan sehari-hari
sebagai realitas utama gejala kemasyarakatan. Usaha untuk memahami sosiologi pengetahuan secara teoritis
dan sistematis melahirkan karya Berger yang mashur ini, The Socal Construction of Reality, A Treatise in the
Sociology of Knowledge, yang dalam edisi bahasa Indonesia ini diberi judul Tafsir ...
xv
Sosial atas Kenyataan. Suatu Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan.
Beberapa catatan di bawah ini menjelaskan bagaimana usaha Berger untuk mendefinisi ulang tentang hakekat
dan peranan sosiologi pengetahuan menarik perhatian para ahli sosiologi lain dalam usaha mereka
mengembangkan teori-teori sosiologi. Pertama, usaha mendefinisikan kembali pengertian kenyataan dan
pengetahuan dalam konteks sosial. Sebuah teori sosiologi harus mampu menjelaskan, sehingga kita
memahami bagaimana kehidupan masyarakat itu terbentuk dalam proses-proses terus-menerus. Pemahaman
itu ditemukan dalam gejala-gejala sosial sehari-hari, yang dalam pengertian sehari-hari dinamakan
pengalaman bermasyarakat. Karena gejala-gejala sosial itu ditemukan dalam pengalaman bermasyarakat yang
terus-menerus berproses, maka perhatian terarah pada bentuk-bentuk penghayatan (Erlebniss) kehidupan
bermasyarakat secara menyeluruh dengan segala aspeknya (kognitif, psikomotoris, emosional dan intuitif).
Dengan kata lain, kenyataan sosial itu tersirat dalam pergaulan sosial, yang diungkapkan secara sosial lewat
belbagai tindakan sosial seperti berkomunikasi lewat bahasa bekerja sama lewat bentuk-bentuk organisasi
sosial. Kenyataan sosial semacam ini ditemukan dalam pengalaman intersubjektif (intersubjektivitas). Lewat
intersubjektivitas itu dapat dijelaskan bagaimana kehidupan masyarakat tertentu dibentuk secara terusmenerus. Konsep intersubjektivitas menunjuk pada dimensi struktur kesadaran umum ke kesadaran individual
dalam suatu kelompok khusus yang sedang saling berintegrasi dan berinteraksi.
Kedua, timbul pertanyaan berikut: bagaimana cara meneliti pengalaman intersubjektif sehingga ditemukan
bangunan atau konstruksi sosial dari kenyataan? Pertanyaan ini secara langsung mempersoalkan bagaimana
cara mempersiapkan penelitian sosiologis agar mampu menemukan esensi masyarakat yang tersirat dalam
gejala-gejala sosial itu. Persiapan di sini dimaksudkan dengan pilihan metodologi ilmu-ilmu sosial yang tepat
untuk berhasil mencapai tujuan penelitian. Dalam metodologi ilmu-ilmu alam, unsur subjektif sejauh mungkin
atau hampir tidak mendapat tempat dalam mendekati pelbagai masalah kealaman.
xvi

3 of 9

23/03/2009 11:39

Berger, Tafsir Sosial atas Kenyataan

http://siluetkomix.6te.net/03Berger.htm

Kekeliruan pendekatan positivistis yang diterapkan dalam penelitian gejala-gejala sosial ialah bahwa gejalagejala sosial diperlakukan kira-kira sama dengan gejala-gejala alam. Dan, yang dikejar oleh sosiologi
positivistis adalah hukum-hukum perkembagan masyarakat yang pada gilirannya dapat dikuasai dan
diarahkan menurut proyeksi-proyeksi perkembangan seperti model perencanaan di bidang sains dan
teknologi. Padahal, gejala sosial itu bersifat intersubjektif, sehingga metodologi itu memberi tempat yang
wajar pada unsur subjektif, karena apa yang dinamakan kenyataan sosial itu, selain menampilkan dimensi
objektif (tradisi Durkhemian) juga sekaligus mempunyai dimensi subjektifkarena, apa yang kita namakan
masyarakat itu adalah buatan kultural dari masyarakat tertentu; manusia sekaligus pencipta dari dunianya
tersendiri (lingkungan fisik, organisasi sosial serta sistem nilainya). Diakui pula bahwa tidak semua gejala
sosial mampu diamati secara leluasa.
Karena itu, dalam persiapan penelitian perlu diseleksi kenyataan yang penting-penting saja dan sikap-sikap
subjektif yang wajar dan alamiah, seperti yang dilakukan dalam kegiatan kehidupan sehari-haripada hari
kerja, bukan pada hari-hari raya. Perhatian dipusatkan pada proses terbentuknya fakta sosial atau gejala
sosial, di mana individu-individu ikut serta dalam proses pembentukan dan pemeliharaan fakta sosial yang
memang mempunyai unsur paksaan pada mereka. Dalam kehidupan sehari-hari proses pembentukan dan
pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat mikro tampak pada komunikasi tatap muka atau interaksi tatap
muka. Pada situasi-situasi itu dapat ditemukan seluk-beluk kenyataan sosial yang paling penting. Sedangkan
kenyataan sosial lainnya merupakan terjemahan atau perluasan dari kenyataan tatap-muka itu.
Dengan menyeleksi gejala-gejala sosial utama yang hendak diobservasi, maka yang diperhatikan dari
kenyataan sosial itu adalah aspek perkembangan, perubahan serta proses tindakan sosial; aspek-aspek itu
membantu si pengamat untuk memahami suatu tatanan-sosial atau orde sosial yang diciptakan sendiri oleh
masyarakat dan dipelihara dalam pergaulan sehari-hari. Norma-norma dan aturan-aturan yang mengontrol
tindakan manusia ...
xvii
dan menstabilkan struktur sosial dinilai sebagai prestasi penelitian. Dengan temuan itu si peneliti mampu
memberi tafsiran terhadap kejadian-kejadian dalam suatu masyarakat sebagai bukti konkrit pemahamannya
atas seluk beluk suatu kehidupan masyarakat. Ternyata manusia-manusia konkrit bukanlah wadah
penyimpaan dan pengawetan norma-norma sosial, sekurang-kurangnya itulah penemuan sosiologi sebagai
salah satu bentuk kesadaran masyarakat modern yang penuh dinamika.
Dengan ini hendak dikatakan bahwa prestasi seorang sosiolog tampak pada kemampuannya membangun
interpretasi objektif atas kejadian-kejadian yang dialami dalam masyarakat. Namun, ukuran yang
menunjukkan objektivitas tafsirannya antara lain adalah interpretasinya itu dipahami pula oleh masyarakat
yang ditelitinya, karena masyarakat itu sendiri sudah memiliki pengetahuan atau interpretasi tentang
kehidupannya sendiri. tuntutan relevansi dari suatu teori sosiologi mendapat tekanan baru di sini karena
interpretasi sosiologis yang mempunyai kadar ilmiah, rasional dan sistematis dibangun di atas observasi kritis
atas bangunan pengetahuan dan interpretasi masyarakat yang diteliti. Dengan kata lain tafsiran sosiologis
memberikan dimensi baru atas tafsiran masyarakat yang dibentuk karena common-sense, sehingga muncul
relevansi teori sosiologi atas kehidupan nyata. Sebaliknya akan sangat diragukan objektivitas suatu teori
sosiologi kalau masyarakat biasa tidak mampu melihat bahaw teori sosiologi itu merupakan penyempurnaan
pengetahuan sosial yang dibangun oleh common-sense, dan menjadi bahan baku analisa kegiatan ilmu-ilmu
sosial selanjutnya.
Ketiga, selain persoalan pilihan metodologi ilmu-ilmu sosial untuk menyingkapkan hakekat realitas sosial,
timbul juga masalah pilihan logika macam manakah yang perlu diterapkan dalam usaha memahami kenyataan
sosial yang mempunyai ciri-ciri khas seperti bersifat pluralis, dinamis, dalam proses perubahan terus-menerus
ini? Logika ilmu-ilmu sosial semacam apa yang perlu dikuasai agar interpretasi sosiologis itu relevan dengan
struktur kesadaran umum dan struktur kesadaran individual ...
xviii

4 of 9

23/03/2009 11:39

Berger, Tafsir Sosial atas Kenyataan

http://siluetkomix.6te.net/03Berger.htm

yang mengacu ke struktur kesadaran umum itu? Pertanyaan ini menjadi kerisauan bagi sosiologi pengetahuan,
karena sosiologi penetahuan harus menekuni segala sesuatu yang dianggap sebagai pengetahuan dalam
masyarakat. Padahal, selama itu sosiologi pengetahuan lebih berupa sosiologi tentang sosiologi karena fokus
perhatian selama ini pada sejarah intelektual dari golongan cendikiawan, yang menaruh minat besar pada
masalah pandangan hidup masyarakat (Weltanschaung), sedangkan manusia awam tidak begitu menaruh
perhatian pada kerisauan intelektual itu. Dengan kata lain, hanya segelintir orang saja yang bergumul dengan
usaha menafsir secara teoritis atas dunia kehidupan, dan setiap individu dalam masyarakat berpartisipasi
dengan caranya sendiri atas pandangan hidup masyarakat secara umum dan luas. Melebih-lebihkan arti
penting dari pemikiran teoritis dalam masyarakat dan sejarah sudah menjadi pengalaman yang menggelikan
bagi para mahasiswa dengan dosen-dosen pelbagai disiplin ilmiah di perguruan tinggi. Ini menunjukkan
kelemahan kodrati para ahli teori, termasuk ahli sosiologi.
Sosiologi pengetahuan seharusnya memusatkan perhatian pada struktur dunia akal sehat (common-sense
world) di mana kenyataan sosial didekati dari pelbagai pendekatan seperti pendekatan mitologis yang
irasional, pendekatan filosofis yang bercorak moralistis, pendekatan praktis yang bersifat fungsional; semua
jenis pengetahuan itu membangun struktur dunia akal sehat. Hal itu baru menyentuh aspek produksi
pengetahuan sosial, belum pula diteliti bagaimana pendistribusian pengetahuan itu ke lembaga-lembaga sosial
dan ke individu-individu. Dari perbendaharaan pengetahuan masyarakat yang dikumpulkan selama sejarah
kehidupannya, ternyata pengetahuan masyarakat ini bersifat kompleks, selektif dan aspektual (indrawi,
intelektif, perseptif, refleksif, diskursif, intuitif, induktif, deduktif, kontemplatif, spekulatif, praktis dan
sinergis).
Mengingat kompleksitas pengetahuan masyarakat, maka lewat segi mana dia harus didekati? Sosiologi
pengetahuan menyeleksi bentuk-bentuk pengetahuan yang mengisyaratkan adanya kenyataan sosial di sana.
Sosiologi pengetahuan harus mampu melihat pengetahuan dalam struktur kesadaran individual dan bisa
membedakan antara pengetahuan dan kesadaran. Pengetahuan adalah kegiatan yang menjadikan suatu
kenyataan menjadi kurang lebih diungkapkan, sedangkan kesadaran menjadikan saya lebih mengenal diri
sendiri yang sedang berhadapan dengan kenyataan tertentu itu. Pengetahuan lebih berurusan antara subjek
dengan objek yang berbeda dengan dirinya sendiri, sedangkan kesadaran lebih berurusan dengan subjek yang
sedang mengetahui dirinya sendiri. pengetahuan dalam dunia sehari-hari seringkali dikacaukan dengan
kegiatan-kegiatan efektif yang menyertainya sehingga terjadi distorsi dan penyimpangan-penyimpangan.
Berhadapan dengan pengetahuan sosial sehari-hari yang begitu berbeda-beda antara satu sama lain, maka
ditemukan secara sah masalah relativisme, historisisme dari pengetahuan, yang akan menjadi objek penelitian
sosiologi pengetahuan sesudahnya. Dengan usaha sosiologi pengetahuan semacam itu, maka sosiologi
pengetahuan menjadi pintu masuk utama dalam kegiatan membangun teori sosiologi yang relevan dengan
konteks sosialnya.
Karena dalam pengetahuan sosial terdapat prinsip-prinsip pemikiran yang bersifat kontradiktif dan kontratif
maka logika yang berpijak di atas prinsip identitas (principium identitatis) jelas tidak memadai lagi (seperti
diterapkan dalam logika ilmu-ilmu alam). Sekurang-kurangnya untuk memahami dunia akal-sehat maka
digunakan prinsip logis dan sekaligus prinsip non-logisdengan kata lain berpikir dengan berpijak pada
prinsip kontradiksi. Itu berarti kemampuan berpikir dialektis (tesis-antitesis dan sintesis) merupakan
persyaratan ilmiah awal atau elementer yang perlu dicapai oleh seorang ahli sosiologi, sehingga dia mampu
mensintesakan gejala-gejala sosial yang kelihatan bersifat kontradiksi dan paradoksal ke dalam suatu sistem
penafsiran yang sistematis, ilmiah dan meyakinkan. Di atas bangunan sosial dari kenyataan yang paradoksal
dan kontradiktif itu, boleh dikembangkan suatu teori sosiologi yang bersifat makro dan universal, sehingga
sifat sosiologi modern akhirnya menampakkan ciri kosmopolitan (aspek makro-sosiologi).
Kemampuan berpikir dialektis ini dimiliki oleh Berger seperti juga dimiliki oleh Karl Marx, serta para filsuf
eksistensial, yang menyadari hakekat manusia sebagai makhluk paradoksal. Ciri paradoksal dari hakekat
manusia itu tercermin pula dalam dunia intersubjektivitas, malahan ciri paradoksal menjadi lebih kompleks
lagi. Seperti sudah dijelaskan di atas, baru jaman sekaranglah sifat dasar hidup bermasyarakat yang dialektik
dirumuskan dan makin disadari. Kenyataan sosial lebih diterima sebagai kenyataan ganda daripada hanya
suatu kenyataan tunggal. Kenyataan kehidupan sehari-hari memiliki dimensi-dimensi objektif dan subjektif.

5 of 9

23/03/2009 11:39

Berger, Tafsir Sosial atas Kenyataan

http://siluetkomix.6te.net/03Berger.htm

Manusia adalah pencipta kenyataan sosial yang objektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana kenyataan
objektif mempengaruhi kembali manusia melalui proses internalisasi (yang mencerminkan kenyataan
subjektif). Dengan kemampuan berpikir dialektis, di mana terdapat tesa, antitesa dan sintesa, Berger
memandang masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat. Karya Berger ini
menjelajahi berbagai implikasi dimensi kenyataan objektif dan subjektif, maupun proses dialektis dari
objektivasi, internalisasi dan eksternalisasi.
Salah satu tugas pokok sosiologi pengetahuan adalah menjelaskan adanya dialektika antara diri (the self)
dengan dunia sosio-kultural. Dialektika itu berlangsung dalam suatu proses dengan tiga momen simultan,
yakni eksternalisasi (penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural sebagai produk manusia), objektivasi
(iteraksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi), dan
internalisasi (individu mengidentifikasi diri dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat
individu menjadi anggotanya). Kemandegan dari teori-teori sosiologi selama ini adalah hanya memperhatikan
salah satu momen dialektis itu dan kurang melihat hubungan atau interplay antara ketiga momen dialektis itu.
Dalam strategi pengembangan sosiologi di masa depan, harus diusahakan suatu sintesa antara ketiga momen
dialektis yang selama ini belum diusahakan dengan berhasil.
Buku ini mencoba mengadakan sintesa antara fenomena-fenomena sosial yang tersirat dalam tiga momen
dialektis itu dan memunculkan suatu konstruksi kenyataan sosial, yang dilihat dari segi asal-usulnya
merupakan hasil ciptaan manusia, buatan interaksi intersubjektif. Dari tradisi Durkhemian dan tradisi
fungsionalisme struktural (Parsonian), yang lebih memperhatikan momen objektivasi, Berger menerima
asumsi mereka bahwa harus diakui adanya eksistensi kenyataan sosial objektif yang ditemukan dalam
hubungan individu dengan lembaga-lembaga sosial (salah satu lembaga sosial yang besar adalah negara). Dan
aturan sosial atau hukum-hukum yang melandasi lembaga-lembaga sosial bukanlah hakekat dari lembagalembaga itu, karena lembaga-lembaga itu ternyata hanya produk buatan manusia, produk dari kegiatan
manusia. Ternyata ciri coersive dari struktur sosial yang objektif merupakan suatu perkembangan aktivitas
manusia dalam proses eksternalisasi atau interaksi manusia dengan struktur-struktur sosial yang sudah ada.
Aturan-aturan sosial yang bersifat memaksa secara dialektis bertujuan untuk memelihara (maintain) strukturstruktur sosial yang sudah berlaku, tetapi belum tentu menyelesaikan proses eksternalisasi individu-individu
yang berada dalam struktur-struktur itu. Sebaliknya, dalam pengalaman sejarah umat manusia, kenyataan
objektif dibangun untuk mengatur pengalaman-pengalaman individu yang berubah-ubah, sehingga
masyarakat terhindar dari kekacauan dan dari situasi tanpa makna. Perubahan-perubahan sosial terjadi kalau
proses eksternalisasi individu-individu menggerogoti tatanan sosial yang sudah mapan dan diganti dengan
suatu orde yang baru, menuju keseimbangan-keseimbangan yang baru. Dalam masyarakat yang lebih
menonjolkan stabilitas, maka individu-individu dalam proses eksternalisasinya mengidentifikasikan dirinya
dengan peranan-peranan sosial yang sudah dilembagakan dalam institusi-institusi yang sudah ada. Perananperanan sudah dibangun polanya, dilengkapi dengan lambang-lambang yang mencerminkan pola-pola dari
peranan-peranan. Dalam kehidupan sehari-hari individu-individu menyesuaikan dirinya dengan pola kegiatan
peranannya serta ukuran-ukuran dari pelaksanaan atau performance dari peranan yang dipilih. Peranan
menjadi unit dasar dari aturan-aturan yang terlembaga secara objektif.
Salah satu lembaga besar dalam masyarakat yang sangat mempengaruhi proses eksternalisasi individuindividu adalah negara. Negara dengan birokrasinya sangat mewarnai kehidupan publik dari individuindividu, bahkan dari pengalaman bernegara di beberapa tempat juga memasuki kehidupan privat individuindividu. Struktur-struktur objektif masyarakat dalam pandangan sosiologi pengetahuan Berger dan luckmann
tidak pernah menjadi produk akhir dari suatu interaksi sosial, karena struktur berada dalam suatu proses
objektivasi menuju suatu bentuk baru internalisasi yang akan melahirkan suatu proses eksternalisasi yang
baru lagi. Itulah perjalanan sejarah perkembangan kehidupan sosial. Perubahan itu tidak akan cepat terjadi
apabila ada rasa aman yang dialami individu-individu berhadapan dengan struktur objektif. Rasa aman di sini
bukan dalam arti aman secara materia, tetapi aman secara rohani, antara lain karena makna kehidupannya
dijamin dalam struktur objektif ini. Bila individu-individu kehilangan rasa aman atau mengalami alienasi,
maka ancaman terhadap struktur objektif mulai muncul, biarpun hanya dalam taraf kesadaran subjektif.
Karena itu, suatu sosiologi pengetahuan yang memiliki daya interpretasi sosial yang komprehensif dan
relevan, harus berpaling pula pada struktur kesadaran subjektif, yang selama ini sudah diteliti dan diamati

6 of 9

23/03/2009 11:39

Berger, Tafsir Sosial atas Kenyataan

http://siluetkomix.6te.net/03Berger.htm

oleh prikologi sosial, yang menggugat kesadaran kita terhadap arti penting dunia subjektif manusia.
Tradisi Weberian serta psikologi sosial lebih memperhatikan momen internalisasi dalam kehidupan
bermasyarakat. Individu-individu dalam perjalanannya di dunia sosial mengalami proses sosialisasi untuk
menjadi anggota organisasi sosial. Psikologi sosial membedakan sosialisasi primer, yang dialami individu pada
masa kecil (masa pra-sekolah dan masa sekolah) dan sosialisasi sekunder (yang dialami individu pada usia
dewasa dan memasuki dunia publik, dunia pekerjaan dalam lingkungan sosial yang lebih luas).
Pada umumnya, proses sosialisasi baik pada fase primer maupun sekunder berlangsung tidak sempurna,
karena kenyataan sosial yang kompleks itu tidak dapat diserap dengan sempurna oleh setiap individu. Setiap
individu menyerap satu
- xxiii bentuk tafsiran tentang kenyataan sosial secara terbatas, sebagai cermin dari dunia objektif. Diakui ada
hubungan simetris antara kenyataan sosial objektif dan kenyataan sosial subjektif, namun keduanya tidak
sama, tidak identik. Memandang masyarakat mirip seperti melihat bangunan rumah; ada bangunan luar dan
interiornya, dua-duanya kita namakan rumah. Dalam proses internalisasi, tiap individu berbeda-beda dalam
dimensi penyerapan, ada yang lebih menyerap aspek ekstern, ada juga yang lebih menyerap bagian intern.
Tidak semua individu dapat menjaga keseimbangan dalam penyerapan dimensi objektif dan dimensi subjektif
kenyataan sosial itu.
Aliran lain dalam sosiologi modern adalah yang memusatkan perhatian pada gejala perubaan sosial, gejala
ketimpangan sosial atau gejala modernisasi. Berger memandang aliran-aliran itu memusatkan perhatian pada
momen eksternalisasi di mana semua individu yang mengalami sosialisasi secara tidak sempurna,
bersama-sama membentuk kenyataan sosial yang baru. Perubahan memang berlangsung lambat tetapi tak
terelakkan, karena pasti akan terjadi. Tema modernitas yang menarik perhatian para sosiolog Dunia Ketiga
sebenarnya melihat kenyataan sosial dalam proses eksternalisasinya. Teori sosiologi yang menaruh minat
pada gejala kekuasaan dalam masyarakat (sosiologi politik) akan menyoroti masalah legitimasi kekuasaan.
Berger juga menerima adanya dunia institusional objektif yang membutuhkan cara penjelasan dan
pembenaran atas kekuasaan yang sedang dipegang dan dipraktekkan. Tidak cukup menjelaskan proses
legitimasi sebagai cara penjelasan dan pembenaran tentang asal-usul pengertian pranata sosial dan proses
pembentukannya (seperti para ahli sejarah melihatnya); juga percobaan mengaitkan sistem makna yang
melekat pada lembaga-lembaga atau praktek-praktek institusional dan penerimaan bersama (konsensus)
seperti yang digarisbawahi oleh para ideolog dan ahli indoktrinasi tentang suatu ideologi. Usaha setiap
masyarakat untuk melembagakan pandangan atau pengetahuan mereka tentang masyarakat akhirnya
mencapai tingkat generalitas yang paling tinggi, di mana dibangun suatu dunia arti simbolik yang universal,
yang kita namakan pandangan hidup atau
- xxiv ideologi. Pandangan hidup yang diterima umum itu dibentuk untuk menata dan memberi legitimasi pada
konstruksi sosial yang sudah ada serta memberikan makna pada pelbagai bidang pengalaman mereka
sehari-hari. Sosiologi pengetahuan akan melihat pandangan hidup atau ideologi atau dunia simbolik yang sarat
dengan makna-makna sosial itu bukan hakekat suatu masyarakat, karena hanya golongan cendikiawan dan
teoritikus sosial yang menaruh minat besar pada dunia simbolik itu, sedangkan anggota masyarakat yang lain
hanya partisipan biasa dari dunia makna itu. Berpartisipasi dalam pandangan hidup tertentu hanyalah salah
satu gejala objektivasi dari individu, yang menerima kenyataan objektif yang mempengaruhi hidupnya.
Legitimasi di sini dilihat sebagai proses penjelasan dan pembenaran dari suatu interaksi antara individu.
Legitimasi di satu pihak memberi nilai kognitif pada makna-makna dunia lembaga, sehingga aturan-aturan
yang dikeluarkan dari lembaga-lembaga mendapat status norma. Dengan demikian legitimasi mempunyai
komponen yang bersifat kognitif dan komponen yang bercorak normatif, sehingga tampak suatu sistem nilai
dan sistem pengetahuan. Sistem pengetahuan mendahului adanya sistem nilai dalam masyarakat (Knowledge
precedes value in the legitimation of institutions).
Dengan memandang masyarakat sebagai proses yang berlangsung dalam tiga momen dialektis yang simultan
itueksternalisasi, objektivasi dan internalisasiserta masalah legitimasi yang berdimensi kognitif dan

7 of 9

23/03/2009 11:39

Berger, Tafsir Sosial atas Kenyataan

http://siluetkomix.6te.net/03Berger.htm

normatif, maka yang kita namakan kenyataan sosial itu merupakan suatu konstruksi sosial buatan masyarakat
sendiri dalam perjalanan sejarahnya dari masa silam, ke masa kini dan menuju masa depan. Usaha Berger
untuk memadukan pelbagai perspektif dari pelbagai aliran teori sosiologi yang lebih memperhatikan satu
aspek dan melalaikan aspek yang lain sehingga menjadi suatu konstruksi teoritis yang memadai, boleh
dikatakan cukup berhasil, karena penjelasan ini mampu menampilkan hakikat masyarakat yang bercorak
pluralistis, dinamis, serta kompleks. Dengan demikian, peranan sosiologi pengetahuan yang selama ini
dianggap berisi sejarah pemikiran intelektual mendapat bobot baru sehingga tampil sebagai
- xxv instrumen penting untuk menemukan hakekat masyarakat secara lebih jelas di masa yang akan datang.
Sampai sekarang banyak buku dan karangan telah ditulis oleh Berger, yang juga dikenal sebagai penulis yang
produktif dan menggunakan bahasa penyajian yang enak dan mudah dicerna. Sudah hampir 30 tahun buku ini
telah dikarang, yang melaporkan proses pemikirannya pada waktu itu tentang hubungan pengetahuan dan
gejala masyarakat. Ironisnya edisi Indonesia dari karya klasik itu baru beredar di kalangan intelektual dan
komunitas ilmuwan sosial Indonesia hampir 30 tahun kemudian. Meskipun begitu terlambatnya proses
penerjemahan buku ini, kita sambut edisi Indonesianya dengan gembira, karena kontribusi buku ini
diharapkan dapat membangun cara pandang alternatif atas masyarakat. Sosiologi pengetahuan ternyata
mempunyai kemampuan subversif karena dapat mengganggu pandangan stabilitas suatu masyarakatkarena
ternyata masyarakat itu buatan masyarakat itu sendiri, seperti kehidupan individual adalah buatan dirinya
sendiri.
Judul edisi Indonesia yang berbunyi Tafsir Sosial atas Kenyataan ini merupakan usaha maksimal penerbit
untuk menerjemahkan The Social Construction of Reality. Terjemahan ini barangkali tidak dapat diterima
oleh mereka yang sudah membaca karya aselinya. Namun, menurut penerbit itulah pilihan terakhir dalam
usaha menerjemahkan judul aslinya.
Dalam setiap cabang ilmu pengetahuan, yang terpenting adalah memperoleh pengetahuan dan pengertian
serta menerapkan pengetahuan itu pada masalah-masalah yang selalu saja timbul. Ini berlaku pula pada
sosiologi pengetahuan yang menjadi tema sentral pembahasan buku ini. Lewat usaha menjelaskan dialektika
antara diri manusia dan lingkungan sosio-kultural, Berger berhasil merumuskan dan menyadarkan kita tentang
sifat dasar hidup bermasyarakat yang dialektik. Bila Karl Marx telah berhasil menjelaskan bagaimana matter
menciptakan mind, maka Berger dan Luckmann juga secara meyakinkan menjelaskan bagaimana mind
menciptakan matter. Dua-duanya terlibat dalam usaha menyingkapkan misteri manusia sebagai Homo Faber,
ma-
- xxvi nusia tindakan dan aksi yang kini dalam kebingungan dalam memberi makna pada hasil karyanya sendiri.
Jakarta, 8 Januari 1990

Bahan Bacaan
Berger, Peter, Invitation to Sociology, A Humanistic Perspective, Garden City, Doubleday, 1963.
The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion. Garden City: Doubleday, 1967
Rumor of Angels: Modern Society and the Rediscovery of the Supernatural. Garden City: Doubleday,
1969
Sociology : A Biographical Approach. New York: Basic Books, 1972
Sociology Reinterpreted. An Essay on Method and Vocation. Garden City: Doubleday, 1981
Cassirer, Ernst, An Essay on Man. An Introduction to A Philosophy of Human Culture. New Haven: Yale
University, 1944
8 of 9

23/03/2009 11:39

Berger, Tafsir Sosial atas Kenyataan

http://siluetkomix.6te.net/03Berger.htm

Dieter Evers, Hans, Teori Masyarakat: Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern, Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia, 1988
Drijarkara, N., Percikan Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan, 1964
Johnson, Doyle Paul, Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jilid I. Jakarta: Gramedia, 1985
Laeyendecker, I.., Tata, Perubahan dan Ketimpangan, Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Jakarta :
Gramedia, 1963
Poloma, Margaret M., Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali, 1984
Ritzer, George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: Rajawali 1985
Van Ufford, Philip Quarles, et al., Tendensi dan Tradisi dalam Sosiologi Pembangunan. Jakarta : Gramedia
1989
Veeger, K.J., Realitas Sosial, Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan Individu dan Masyarakat dalam
Cakrawala Sejarah Sosiologi. Jakarta: Gramedia, 1985
Wuthnow, Robert, et al., Cultural Analysis. The Work of Peter L. Berger, Mary Douglas, Michel Foucault
and Jurgen Habermas. Boston: Routledge & Kegan Paul, 1984

back , next

9 of 9

23/03/2009 11:39