Anda di halaman 1dari 20

Laboratorium Sedimentologi

Dan Geologi Migas


Sie. Sedimentologi
2015

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pemadatan
endapan yang berupa bahan lepas. Menurut Tucker (1991), 70 % batuan di
permukaan bumi berupa batuan sedimen. Tetapi batuan itu hanya 2 % dari volume
seluruh kerak bumi. Ini berarti batuan sedimen tersebar sangat luas di permukaan
bumi, tetapi ketebalannya relatif tipis. Pettijohn (1975), ODunn & Sill (1986)
membagi batuan sedimen berdasar teksturnya menjadi dua kelompok besar, yaitu
batuan sedimen klastika dan batuan sedimen non-klastika.
Batuan sedimen klastika (detritus, mekanik, eksogenik) adalah batuan
sedimen yang terbentuk sebagai hasil pengerjaan kembali (reworking) terhadap
batuan yang sudah ada. Proses pengerjaan kembali itu meliputi pelapukan, erosi,
transportasi dan kemudian redeposisi (pengendapan kembali). Sebagai media
proses tersebut adalah air, angin, es atau efek gravitasi (beratnya sendiri). Media
yang terakhir itu sebagai akibat longsoran batuan yang telah ada. Kelompok
batuan ini bersifat fragmental, atau terdiri dari butiran/pecahan batuan (klastika)
sehingga bertekstur klastika. Batuan sedimen non-klastika adalah batuan sedimen
yang terbentuk sebagai hasil penguapan suatu larutan, atau pengendapan material
di tempat itu juga (insitu). Proses pembentukan batuan sedimen kelompok ini
dapat secara kimiawi, biologi /organik, dan kombinasi di antara keduanya
(biokimia).
Dalam praktikum sedimentologi, kita akan mempelajari berbagai macam
jenis batuan sedimen dimana hal ini bertujuan untuk mengetahui nama dari batuan
sedimen

tersebut,

komposisi

batuan

serta

menginterpretasi

lingkungan

pengendapan dari batuan tersebut yang akan dapat menambah ilmu pengetahuan
di bidang geologi.
Pada kesempatan kali ini, Kami akan mencoba untuk menjelaskan
mengenai hasil yang didapat pada acara ekskursi Praktikum Sedimentologi, yang
dimana stopsite tersebut akan diberikan penjelasan umum, deskripsi batuan
sedimen, profil daerah tersebut, serta interpretasi lingkungan pengendapannya.

KELOMPOK 8
1

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
I.2. Maksud Dan Tujuan
Acara lapangan ekskursi kali ini dimaksudkan dan bertujuan agar
praktikan dapat menjadi lebih mengerti dan memahami tentang konsep batuan
sedimen dalam ilmu sedimentologi melalui kontak langsung singkapan batuan
sedimen di lapangan serta untuk mendapatkan hasil interpretasi dan penjelasan
lingkungan pengendapan, deskripsi batuan sedimen serta mampu melakukan
pembuatan profil secara baik dan benar.
I.3. Dasar Teori
I.3.1. Lingkungan Pengendapan Laut Dalam
Lingkungan pengendapan merupakan tempat mengendapnya
material sedimen beserta kondisi fisik, kimia, dan biologi yang mencirikan
terjadinya mekanisme pengendapan tertentu (Gould, 1972). Lingkungan
pengendapan terbagi menjadi 3 macam yaitu continental,transisi dan
marine. Membahas tentang lingkungan pengendapan, akan ada parameterparameter yang berkaitan dengan proses terbentuknya lingkungan
pengendapan tersebut, yaitu: parameter fisik, kimia, dan biologi.
Pengendapan atau sedimentasi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor,
antara lain: pengendapan oleh angin, air, gletser.
I.3.2. Geologi Regional
Pegunungan Selatan Bagian Barat pada umumnya tersusun oleh
batuan sedimen volkaniklastik dan batuan karbonat.. Hampir keseluruhan
batuan sedimen tersebut mempunyai kemiringan ke arah selatan. Urutan
stratigrafi penyusun Pegunungan Selatan Bagian Barat dari tua ke muda
adalah :
1. Formasi Kebo Butak
Formasi ini secara umum terdiri-dari konglomerat, batupasir, dan
batulempung yang menunjukkan kenampakan pengendapan arus turbid
maupun pengendapan gaya berat yang lain. Di bagian bawah oleh
Bothe disebut sebagai anggota Kebo (Kebo beds) yang tersusun antara
batupasir, batulanau, dan batulempung yang khas menunjukkan struktur
turbidit dengan perselingan batupasir konglomeratan yang mengandung

KELOMPOK 8
2

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
klastika lempung. Bagian bawah anggota ini diterobos oleh sill batuan
beku.
Bagian atas dari formasi ini termasuk anggota Butak yang tersusun
oleh perulangan batupasir konglomeratan yang bergradasi menjadi
lempung atau lanau. Ketebalan rata-rata formasi ini kurang lebih 800
meter. Urutan yang membentuk Formasi Kebo Butak ini ditafsirkan
terbentuk pada lingkungan lower submarine fan dengan beberapa
interupsi pengandapan tipe mid fan yang terbentuk pada Oligosen Akhir
(N2 N3).
2. Formasi Semilir
Secara umum formasi ini tersusun oleh batupasir dan batulanau
yang bersifat tufan, ringan, dan kadang-kadang diselingi oleh selaan
breksi volkanik. Fragmen yang menyusun breksi maupun batupasir
biasanya berupa batuapung yang bersifat asam. Di lapangan biasanya
dijumpai perlapisan yang begitu baik, dan struktur yang mencirikan
turbidit banyak dijumpai. Langkanya kandungan fosil pada formasi ini
menunjukkan bahwa pengendapan berlangsung secara cepat atau berada
pada daerah yang sangat dalam, berada pada daerah ambang
kompensasi karbonat (CCD), sehingga fosil gampingan sudah
mengalami korosi sebelum mencapai dasar pengendapan. Umur dari
formasi ini diduga adalah pada Miosen Awal (N4) berdasar pada
keterdapatan Globigerinoides primordius pada daerah yang bersifat
lempungan dari formasi ini, yaitu di dekat Piyungan (Van Gorsel,
1987). Formasi Semilir ini menumpang secara selaras di atas anggota
Butak dari Formasi Kebo Butak. Formasi ini tersingkap secara baik di
wilayahnya, yaitu di tebing gawir Baturagung di bawah puncak Semilir.
3. Formasi Nglanggeran
Formasi ini berbeda dengan formasi-formasi sebelumnya, yang
dicirikan oleh penyusun utamanya berupa breksi dengan penyusun
material volkanik, tidak menunjukkan perlapisan yang baik dengan
ketebalan yang cukup besar, bagian yang terkasar dari breksinya hampir

KELOMPOK 8
3

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
seluruhnya tersusun oleh bongkah-bongkah lava andesit, sebagian besar
telah mengalami breksiasi.
Formasi ini ditafsirkan sebagai pengendapan dari aliran rombakan
yang berasal dari gunungapi bawah laut, dalam lingkungan laut, dan
proses pengendapan berjalan cepat, yaitu hanya selama Miosen Awal
(N4).
Singkapan utama dari formasi ini adalah di Gunung Nglanggeran
pada Perbukitan Baturagung. Kontaknya dengan Formasi Semilir di
bawahnya merupakan kontak yang tajam. Hal inilah yang menyebabkan
mengapa Formasi Nglanggeran dianggap tidak searas di atas Formasi
Semilir. Namun perlu diingat bahwa kontak yang tajam itu bisa terjadi
karena perbedaan mekanisme pengendapan dari energi sedang atau
rendah menjadi energi tinggi tanpa harus melewati kurun waktu geologi
yang cukup lama. Hal ini sangat biasa dalam proses pengendapan akibat
gaya berat. Van Gorsel (1987) menganggap bahwa pengendapannya
diibaratkan proses runtuhnya gunungapi seperti Krakatau yang berada
di lingkungan laut.
Ke arah atas, yaitu ke arah Formasi Sambipitu, Formasi
Nglanggeran berubah secara bergradasi, seperti yang terlihat pada
singkapan di Sungai Putat. Lokasi yang diamati oleh EGR tahun 2002
berada pada sisi lain Sungai Putat dimana kontak kedua formasi ini
ditunjukkan oleh kontak struktural.
4. Formasi Sambipitu
Di atas Formasi Nglanggeran kembali terdapat formasi batuan yang
menunjukkan ciri-ciri turbidit, yaitu Formasi Sambipitu. Formasi ini
tersusun oleh batupasir yang bergradasi menjadi batulanau atau
batulempung. Di bagian bawah, batupasirnya masih menunjukkan sifat
volkanik, sedang ke arah atas sifat volkanik ini berubah menjadi
batupasir yang bersifat gampingan. Pada batupasir gampingan ini
sering dijumpai fragmen dari koral dan foraminifera besar yang berasal
dari lingkungan terumbu laut dangkal yang terseret masuk dalam
lingkungan yang lebih dalam akibat arus turbid.

KELOMPOK 8
4

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
Ke arah atas, Formasi Sambipitu berubah secara gradasional
menjadi Formasi Wonosari (anggota Oyo) seperti singkapan yang
terdapat di Sungai Widoro di dekat Bunder. Formasi Sambipitu
terbentuk selama zaman Miosen, yaitu kira-kira antara N4 N8 atau
NN2 NN5.
5. Formasi Oyo Wonosari
Selaras di atas Formasi Sambipitu terdapat Formasi Oyo
Wonosari. Formasi ini terutama terdiri-dari batugamping dan napal.
Penyebarannya meluas hampir setengah bagian dari Pegunungan
Selatan memanjang ke timur, membelok ke arah utara di sebelah
Perbukitan Panggung hingga mencapai bagian barat dari daerah depresi
Wonogiri Baturetno.
Bagian terbawah dari Formasi Oyo Wonosari terutama tersusun
dari batugamping berlapis yang menunjukkan gejala turbidit karbonat
yang terendapkan pada kondisi laut yang lebih dalam, seperti yang
terlihat pada singkapan di daerah di dekat muara Sungai Widoro masuk
ke Sungai Oyo. Di lapangan batugamping ini terlihat sebagai
batugamping berlapis, menunjukkan sortasi butir dan pada bagian yang
halus banyak dijumpai fosil jejak tipe burial yang terdapat pada bidang
permukaaan

perlapisan

ataupun

memotong

sejajar

perlapisan.

Batugamping kelompok ini disebut sebagai anggota Oyo dari Formasi


Wonosari.
Ke arah lebih muda, anggota Oyo ini bergradasi menjadi dua fasies
yang berbeda. Di daerah Wonosari, semakin ke selatan batugamping
semakin berubah menjadi batugamping terumbu yang berupa rudstone,
framestone, floatstone, bersifat lebih keras dan dinamakan sebagai
anggota Wonosari dari Formasi Oyo Wonosari (Bothe, 1929).
Sedangkan di barat daya Kota Wonosari batugamping terumbu ini
berubah menjadi batugamping berlapis yang bergradasi menjadi napal
yang disebut sebagai anggota Kepek dari Formasi Wonosari. Anggota
Kepek ini juga tersingkap di bagian timur, yaitu di daerah depresi
Wonogiri Baturetno, di bawah endapan kuarter seperti yang terdapat

KELOMPOK 8
5

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
di daerah Eromoko. Secara keseluruhan, formasi ini terbentuk selama
Miosen Akhir (N9 N18).
6. Endapan Kuarter
Di atas seri batuan Endapan Tersier seperti telah tersebut di atas,
terdapat suatu kelompok sedimen yang sudah agak mengeras hingga
masih lepas. Karena kelompok ini di atas bidang erosi, serta proses
pembentukannya masih berlanjut hingga saat ini, maka secara
keseluruhan

sedimen

ini

disebut

sebagai

Endapan

Kuarter.

Penyebarannya meluas mulai dari timur laut Wonosari hingga daerah


depresi Wonogiri Baturetno. Singkapan yang baik dari Endapan
Kuarter ini terdapat di daerah Eromoko, sekitar Waduk Gadjah
Mungkur.
Secara stratigrafi Endapan Kuarter di daerah Eromoko, Wonogiri
terletak tidak selaras di atas Endapan Tersier yang berupa batugamping
berlapis dari Formasi Wonosari atau breksi polimik dari Formasi
Nglanggeran. Ketebalan tersingkap dari Endapan Kuarter tersebut
berkisar antara 10 hingga 14 meter. Umur Endapan Kuarter tersebut
diperkirakan Pliestosen Bawah.
Stratigrafi Endapan Kuarter di daerah Eromoko, Wonogiri secara
vertikal tesusun dari perulangan tuf halus putih kekuning-kuningan
dengan perulangan gradasi batupasir kasar ke batupasir sedang dengan
lensa-lensa konglomerat. Batupasir tersebut mempunyai struktur silang
siur tipe palung, sedangkan lapisan tuf terdapat di bagian bawah,
tengah, dan atas. Pada saat lapisan tuf terbentuk, terjadi juga aktivitas
sungai yang menghasilkan konglomerat.
Struktur Geologi Regional Pegunungan Selatan
Menurut Van Bemmelen (1949) daerah Pegunungan Selatan telah
mengalami empat kali pengangkatan. Pola struktur geologi yang ada pada
Pegunungan Selatan yaitu :
1. Arah NE-SW, umumnya merupakan sesar geser sinistral yang terjadi
akibat penunjaman lempeng Indo-Australia selama Eosen hingga

KELOMPOK 8
6

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
Miosen Tengah. Arah ini ditunjukkan oleh kelurusan sepanjang Sungai
Opak dan Sungai Bengawan Solo.
2. Arah N-S, sebagian besar juga merupakan sesar geser sinistral, kecuali
pada batas barat Pegunungan Selatan yang merupakan sesar turun.
3. Arah NW-SE, umumnya merupakan sesar geser dekstral. Set kedua
dan ketiga arah ini tampak sebagai pasangan rekahan yang terbentuk
akibat gaya kompresi berarah NNW-SSE yang berkembang pada
Pliosen Akhir.
4. Arah E-W, sebagian besar merupakan sesar turun yang terjadi akibat
gaya regangan berarah N-S dan berkembang pada Pleistosen Awal.

BAB II
METODOLOGI
II.1. Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian dalam acara ekskursi Praktikum Sedimentologi
dilakukan dengan cara pengambilan data dilapangan dan analisa serta interpretasi
lingkungan pengendapan. Pengambilan data dilapangan dilakukan dengan
mengambil data lapisan batuan (berupa tekstur batuan, struktur batuan, komposisi

KELOMPOK 8
7

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
mineral batuan, kedudukan strike dan dip batuan, jarak dan tebal), azimuth
lintasan, slope, foto litologi, foto bentang alam, serta foto lintasan atau singkapan.
Kemudian dilakukan analisa serta interpretasi lingkungan pengendapannya.
II.2. Alat dan Bahan
Alat dan Bahan:
1. Palu Geologi
2. Buku Lapangan
3. Clipboard dan Kertas HVS serta Tabulasi Data
4. HCL
5. Kompas Geologi
6. Meteran
7. Modul Praktikum Sedimentologi
8. Kamera Digital

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
III.1. Litologi dan Struktur Penciri
Foto 1.1
Lintasan 1
Azimuth N175E , Cuaca Mendung
Litologi pada lintasan 1:

KELOMPOK 8
8

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
Lapisan 1

Foto 1.2
Deskripsi Litologi : Coarse Sandstone, grey, coarse(1/2-1mm),
subrounded, poorly sorted, grain supported, F:-,M: Silica, calcite, stratified

Lapisan 2

KELOMPOK 8
9

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015

Foto 1.3
Deskripsi Litologi : Veryfine sandstone, light grey, very fine( 1/16
-1/8mm), silica, stratified, sisipan lempung

Lapisan 3

KELOMPOK 8
10

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015

Foto 1.4
Deskripsi Litologi : claystone, dark black , Silica, Stratified

Lapisan 4

Foto 1.5
Deskripsi Litologi : Siltstone, grey, silt (1/256-1/18mm), Silica, Stratified

Lapisan 5

KELOMPOK 8
11

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015

Foto 1.6
Deskripsi Litologi : Claystine, dark brown, silica, laminated

Lapisan 6

KELOMPOK 8
12

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015

Foto 1.7
Deskripsi Litologi : Fine sandstone, black, fine(1/8mm-1/16mm), Silica,
stratified, sisipan lempung

Lapisan 7

Foto

KELOMPOK 8
13

1.8

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
Deskripsi Litologi : Siltstone, dark black, silt (1/256-1/18mm), Silica,
Stratified

Lapisan 8
Deskripsi Litologi : Breccia, grey brown , cobble (64-256mm),
subrounded, badsorted, matrix supported, F: lithic, M: lithic, S: Calcite,
silica, massive

Lapisan 9
Deskripsi Litologi : Very fine sandstone, grey, very fine (1/16-1/8mm),
silica, Stratified

Lapisan 10
Deskripsi Litologi : Siltstone, dark grey, silt (1/256-1/18mm), Silica,
Lamination

Lapisan 11
Deskripsi Litologi : Very coarse sandstone, Grey ,verycoarse(12mm),subrounded, poorlysorted, grainsupported, F: Lithic, M: Lithic, S:
Calcite, Silica, masive

Lapisan 12
Deskripsi Litologi : Siltstone, grey, silt(1/256-1/18mm), Silica, Stratified

Lapisan 13
Deskripsi Litologi : Claystone, Dark Brown, Silica, Stratified, sisipan
batupasir

KELOMPOK 8
14

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
Lapisan 14
Deskripsi Litologi : Fine sandstone, light grey, fine(1/8-1/16mm), Silica,
Stratified

Lapisan 15
Deskripsi Litologi : Siltstone, Dark black, Silt(1/256-1/18mm), silica,
Stratified

Lapisan 16
Deskripsi Litologi : Coarse sandstone, Grey, Coarse(1/2-1mm),
Subrounded, Poorlysorted, grain supported, F:-, M: Silica, calcite,
Stratified

Lapisan 17
Deskripsi Litologi : Coarse Sandstone, light grey, coarse (1/2-1mm),
rounded, well sorted, grain supported, F:lithic, M: lithic, kuarsa,
hornblende, silica, graded bedding

Lapisan 18
Deskripsi Litologi : Siltstone, dark brown, silt( 1/256-1/18mm), Silica,
Stratified

Lapisan 19
Deskripsi Litologi : Coarse sandstone,Dark grey, Coarse(1/2-1mm),
Subrounded, Poorlysorted, grain supported, F:-, M: Silica, calcite,
Stratified

Lapisan 20

KELOMPOK 8
15

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
Deskripsi Litologi : Veryfine sandstone, lightgrey, veryfine(1/16-1/8mm),
Silica, Stratified

Lapisan 21
Deskripsi Litologi : Medium sandstone, darkgrey, medium(1/4-1/2mm)
Subrounded, wellsorted, F:-, M: Silica, Calcite, Stratified

Lapisan 22
Deskripsi Litologi : Fine sandstone,grey, fine (1/8-1/16mm) Silica,
Stratified

Lapisan 23
Deskripsi Litologi : Fine sandstone, black, fine(1/8-1/16mm), Silica,
Stratified

Lapisan 24
Deskripsi Litologi : Medium sandstone, white, medium(1/4-1/2mm),
Subrounded, wellsorted, F:-, M: Silica, Calcite, Stratified

Lapisan 25
Deskripsi Litologi : Siltstone, Dark green, Silt(1/256-1/18mm), Silica,
Laminated

Lapisan 26
Deskripsi Litologi : Claystone, Dark green, Silica, Laminated

Lapisan 27

KELOMPOK 8
16

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
Deskripsi Litologi : Coarse sandstone, Black, Coarse(1/2-1mm),
Subrounded, poorlysorted, grain supported, F:-, M: Silica, Calcite,
stratified

Lapisan 28
Deskripsi Litologi : Breccia, grey brown , cobble (64-256mm),
subrounded, badsorted, Grain supported, F: lithic, M: lithic, S: Calcite,
silica, massive

Lapisan 29
Deskripsi Litologi : Medium Sandstone, Dark Grey, medium(1/4-1/2mm),
Subrounded, poorlysorted, grain supported, F:-, M: Silica, Calcite,
Stratified

Lapisan 30
Deskripsi Litologi : Siltstone,White, Silt(1/256-1/18mm), Silica,
Laminated

Lapisan 31
Deskripsi Litologi : Fine sandstone, brown, Fine(1/8-1/16mm), Silica,
laminated

Lapisan 32
Deskripsi Litologi : Siltstone, grey, silt(1/256-1/18mm), Silica, Stratified

Lapisan 33
Deskripsi Litologi : Fine sandstone, dark grey, Fine(1/8-1/16mm), Silica,
Stratified

KELOMPOK 8
17

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
Lapisan 34
Deskripsi Litologi : Coarse sandstone, grey, Coarse(1/2-1mm),
subrounded, badsorted, grain supported, F:-, M: Silica, Calcite, stratified

Lapisan 35
Deskripsi Litologi : Siltstone, brown, silt(1/256-1/18mm), Silica,
Stratified

Lapisan 36
Deskripsi Litologi : Claystone, Brown, Silica, Stratified

Lapisan 37
Deskripsi Litologi : Fine sandstone, Brown, Fine(1/8-1/16mm), Silica,
Stratified

Lapisan 38
Deskripsi Litologi : Siltstone, brown, silt(1/256-1/18mm), Silica, Stratified

Lapisan 39
Deskripsi Litologi : Siltstone, Dark grey, Silt(1/256-1/18mm), Silica,
Laminated

Lapisan 40
Deskripsi Litologi : Medium Sandstone, grey, medium(1/4-1/2mm),
Subrounded, poorlysorted, grain supported, F:-, M: Silica, Calcite,
Stratified

Lapisan 41
KELOMPOK 8
18

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015
Deskripsi Litologi : Very Fine Sandstone, light grey, very fine( 1/161/8mm), Silica, Laminated

Lapisan 42
Deskripsi Litologi : Siltstone, dark brown, silt(1/256-1/18mm), Silica,
Stratified

Lapisan 43
Deskripsi Litologi : Fine sandstone, brown, fine(1/8-1/16mm), Silica,
Laminated

Lapisan 44
Deskripsi Litologi : Siltstone, dark black, silt(1/256-1/18mm), Silica,
Stratified

Lapisan 45
Deskripsi Litologi : Claystone, dark Brown, silica, Stratified

Lapisan 46
Deskripsi Litologi : Beccia, grey brown , cobble (64-256mm),
subrounded, badsorted, Grain supported, F: lithic, M: lithic, S: Calcite,
silica, massive

III.2. Model dan Lingkungan Pengendapan


III.3. Sketsa Lintasan

KELOMPOK 8
19

Laboratorium Sedimentologi
Dan Geologi Migas
Sie. Sedimentologi
2015

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
IV.1. Kesimpulan
IV.2. Saran
Dalam acara ekskursi Praktikum Sedimentologi, sangat dianjurkan untuk
mempelajari secara mendetail tentang bab analisa profil dalam modul praktikum
sedimentologi dan tentang field geology karena waktu yang disediakan untuk
mengambil data tidak terlalu banyak sehingga perlu suatu insting dan keahlian
agar mampu mengambil data dengan cepat, baik dan benar.

KELOMPOK 8
20