Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Awalnya jalan hanya berupa jejak manusia yang mencari kebutuhan hidup
atau pun sumber air. Setelah manusia mulai berkelompok, jejak-jejak tersebut
berubah menjadi jalan setapak. Dengan mulai dipergunakannya hewan sebagai
alat transportasi, jalan mulai dibuat rata dan diperkeras.
Jalan merupakan salah satu sarana dan prasarana perhubungan yang sangat
penting dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat (Silvia Sukirman, 1999).
Pada kenyataannya sarana jalan sangat menunjang laju perkembangan di berbagai
sektor kehidupan manusia diantaranya sector perekonomian, pendidikan, politik,
dan sebagainya. Hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan nasional demi
tercapainya pembangunan nasional yang adil dan merata.
Saat ini perkembangan transportasi terutama untuk mobilitas penduduk
dan kendaraan sudah semakin meningkat. Oleh karena itu, diperlukan suatu
prasarana jalan yang memadai untuk menghubungkan suatu daerah dengan daerah
yang lain. Untuk membuat suatu jalan yang baik diperlukan perencanaan jalan
yang baik pula. Dengan demikian, perkembangan jalan harus dapat mendukung
perkembangan umat manusia sehingga kegiatan untuk mencari kebutuhan hidup
dan berkomunikasi antar penduduk lain dapat lebih meningkat.
Dengan demikian, suatu jalan harus direncanakan tebal perkerasannya.
Sejalan dengan tingkat pertumbuhan sosial masyarakat, maka perlu diadakan
usaha peningkatan jalan. Hal ini disebabkan agar terjalin kesinambungan antara
peningkatan sarana transportasi jalan tiap tahunnya dengan kemampuan daya
dukung jalan itu sendiri, yang secara tidak langsung untuk mengurangi kemacetan
dan kecelakaan lalu lintas.

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

Sebagai tindak lanjut dari masalah di atas maka pemerintah dalam hal ini
Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga mengadakan
pembangunan dan peningkatan jalan secara menyeluruh kedaerah - daerah, baik
itu Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II di seluruh Indonesia. Dalam
melaksanakan suatu proyek pekerjaan jalan dibutuhkan penanganan yang
professional, dan tenaga-tenaga yang memiliki semangat yang tinggi dan keahlian
di bidang pekerjaan jalan.
Politeknik Negeri Ujung Pandang, khususnya Jurusan Teknik Sipil pada
kurikulum semester V mengadakan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Hal ini
dimaksudkan agar mahasiswa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan
tambahan tentang teknik pelaksanaan suatu proyek di lapangan. Agar nantinya
mahasiswa dapat menyeimbangkan antara teori yang telah didapatkan di bangku
perkulihan dan praktek yang telah diikuti di lapangan.
B. Maksud dan Tujuan
Praktek kerja lapangan ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat terlibat
langsung dalam pekerjaan di lapangan. Adapun tujuan dari pelaksanaan praktek
kerja lapangan adalah sebagai berikut:
1. Menambah wawasan tentang ruang lingkup disiplin ilmu teknik sipil dan
bagaimana penerapannya di lapangan secara nyata.
2. Dapat membandingkan keadaan yang terjadi di lapangan dengan hasil
teori yang diterima di bangku kuliah.
3. Mampu memahami gambar - gambar secara detail pekerjaan konstruksi
jalan raya.
4. Memperluas hubungan dengan masyarakat industri yang merupakan mitra
kerja kami nantinya.
5. Meningkatkan hubungan antara Politeknik dan Industri di lapangan.

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

C. Batasan Masalah
Pada proyek Pembangunan Jalan Ruas Mustafa Dg. Bunga Mutalib Dg.
Narang Kab. Gowa mengingat keterbatasan waktu dan masalah-masalah yang
berkaitan dengan hal tersebut, maka laporan ini membahas:
1. Mobilisasi, Pekerjaan Lapis Pondasi Bawah beton kurus, Pekerjaan
perkerasan beton semen.
2. Pemeliharaan dan Pengendalian mutu.
D. Metode Praktek Kerja Lapangan
Dalam praktek kerja lapangan ini metode yang kami gunakana dalah :
1. Pengambilan Data Primer
a. Metode pengamatan langsung (observasi)
Metode pengamatan langsung di lapangan selama 1 bulan pada
Proyek Pembangunan Jalan Ruas Mustafa Dg. Bunga Mutalib Dg.
Narang Kab. Gowa
b. Metode interview (wawancara / diskusi).
Metode pengambilan data dengan cara menanyakan langsung pada pihak pihak yang bertanggung jawab di lapangan pada saat pelaksanaan proyek
sedang berlangsung.
2. Pengambilan Data Sekunder
Berupa pengambilan data langsung mengenai proyek tersebut di kantor
CV. Faiz Karya PT. Tristar Mandiri, baik gambar atau pun hasil uji
laboratorium.

E. Sistematika Penulisan

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

Ada beberapa aspek kegiatan yang termasuk pokok-pokok penulisan pada


laporan ini, yaitu :
Bab I Pendahuluan
A. Latar belakang masalah
B. Maksud dan tujuan
C. Batasan masalah
D. Metode praktek kerja lapangan
E. Sistematika Penulisan
Bab II Gambaran Umum Proyek
A. Tinjauan umum proyek
B. Maksud dan tujuan proyek
C. Nama proyek
D. Lokasi proyek
E. Biaya proyek
F. Nomor Kontrak
G. Jangka waktu pelaksanaan
H. Owner / Pemilik
I. Kontraktor / Pelaksana
J. Konsultan / Pengawas
K. Hubungan kerja pelaksanaan proyek
L. Struktur Organisasi
Bab III Pelaksanaan Pekerjaan
A. Tinjauan umum
B. Ruang Lingkup
C. Sumber daya
D. Pelaksanaan pekerjaan
E. Metode Pekerjaan
Bab IV Masalah dan Pemecahannya
A. Tinjauan Umum
B. Masalah dan Pemecahannya
Bab V Penutup
A. Memuat tentang kesimpulan
B. Memuat tentang saran

BAB II
Subandi / 312 13 008
Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

GAMBARAN UMUM PROYEK


A. Tinjauan Umum Proyek
Jaringan jalan raya merupakan salah satu sarana transportasi yang sangat
penting sebagai penunjang berhasilnya berbagai faktor pembangunan. Proyek
Pembangunan Jalan Ruas Mustafa Dg. Bunga Mutalib Dg. Narang Kab. Gowa
merupakan pembangunan sarana transportasi yang dapat memberikan pelayanan
bagi kegiatan masyarakat di masa kini dan yang akan datang.
Untuk menentukan kelayakan suatu sarana transportasi darat ditingkatkan
atau dibangun, sangatlah ditentukan oleh berbagai aspek seperti ekonomi, sosial
budaya, politik, dan yang lebih penting lagi adalah fungsi dari jalan tersebut.
Melalui Proyek Proyek Pembangunan Jalan Ruas Mustafa Dg. Bunga
Mutalib Dg. Narang Kab. Gowa diharap dapat memperlancar arus kendaraan baik
itu dari arah Kota Makassar ataupun dari daerah-daerah lain sehingga potensipotensi sumber daya ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya dapat meningkat.
Dengan adanya pembangunan jalan ini berarti memberikan arti yang
sangat besar bagi masyarakat untuk memperlancar arus mobilitas kendaraan dan
manusia sehingga kemacetan dan waktu tempuh dapat di minimalisir
B. Maksud dan Tujuan Proyek
Pada umumnya pembangunan / peningkatan sarana jalan dimaksudkan
untuk memperlancar dan meningkatkan serta percepatan pembangunan bidang
kehidupan masyarakat. Melalui pembangunan / peningkatan sarana jalan berarti
membuka isolasi daerah dan masyarakat di suatu kawasan yang dilalui oleh jalan
tersebut.
Dengan terbukanya isolasi suatu daerah dan masyarakat berarti memberi
kemungkinan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tersebut karena arus
informasi, transportasi dan komunikasi akan lebih lancar. Berdasarkan
pertimbangan tersebut di atas, maka pemerintah menganggap perlu untuk
mengadakan Proyek Pembangunan Jalan Ruas Mustafa Dg. Bunga Mutalib Dg.
Subandi / 312 13 008
Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

Narang Kab. Gowa mengingat kondisi jalan yang ada sekarang memerlukan
rehabilitas, ditinjau dari segi konstruksi terhadap kondisi yang ideal dan
perkembangan mobilitas kendaraan.
Dengan melihat kondisi yang demikian maka proyek ini diharapkan dapat
meningkatkan pelayanan dan struktur dari jalan yang lama. Disamping itu Proyek
Pembangunan Jalan Ruas Mustafa Dg. Bunga Mutalib Dg. Narang Kab. Gowa
ini bertujuan untuk :
1. Meningkatkan

pelayanan

sehingga

memberikan

kenyamanan

dan

keamanan bagi para pemakai jalan.


2. Dengan selesainya pembangunan prasarana jalan ini otomatis waktu
perjalanan lebih singkat antara Kota Makassar dan Kabupaten lainnya.
C. Nama Proyek
Nama proyek ini adalah Proyek Pembangunan Jalan Ruas Mustafa Dg.
Bunga Mutalib Dg. Narang Kab. Gowa.
D. Lokasi Proyek
Lokasi pada proyek yaitu Jalan Ruas Mustafa Dg. Bunga Mutalib Dg. Narang
Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
E. Biaya Proyek
Biaya total proyek sebesar Rp. 4.472.004.756,-. ( Empat Milyar Empat Ratus
Tujuh Puluh Dua Juta Empat Ribu Tujuh Ratus Lima Puluh Enam Rupiah ).
F. Nomor Kontrak
602.2/2090/DBM
G. Jangka Waktu Pelaksanaan
Berdasarkan persetujuan kontrak maka waktu pelaksanaan proyek 145 hari
kalender, di mulai tanggal 15 Juni 2015
H. Owner / Pemilik
Owner / Pemilik adalah perorangan atau suatu badan/ instansi yang
menugaskan atau atas namanya menugaskan perencana, pelaksana dan pengawas
proyek. Adapun yang bertindak selaku pemilik proyek adalah Kementrian
Subandi / 312 13 008
Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga, dalam hal ini Pelaksana Teknis
Kegiatan Layanan Teknis Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Dinas
Bina Marga Provinsi Sulawesi Selatan. Adapun tugas dan tanggung jawab pemilik
proyek adalah sebagai berikut :
1.

Mengambil

keputusan

terakhir

yang

mengikat

mengenai pembangunan proyek.


2.

Mengambil keputusan terakhir tentang penunjukan


kontraktor.

3.

Menandatangani Surat Perintah Kerja ( SKP ) dan


surat perjanjian dengan kontraktor.

4.

Mengesahkan dokumen pembayaran kontraktor.

5.

Menyetujui atau menolak perubahan pekerjaan.

6.

Menyetujui atau menolak pekerjaan tambah / kurang.

7.

Menyetujui atau menolak penyerahan pekerjaan.

I. Kontraktor / Pelaksana
Kontraktor/Pelaksana adalah badan hukum yang menpunyai tenaga ahli
atau keahlian serta peralatan lengkap, untuk mengusahakan dan melaksanakan
pekerjaan bangunan untuk orang lain/jasa atas dasar pembayaran, seperti yang
telah ditetapkan, yang bertindak sebagai pelaksana pada proyek ini adalah PT.
Mitra Bahagia Utama. Hak dan kewajiban dari kontraktor, adalah :
1.

Melaksanakan suatu pekerjaan yang diberikan oleh owner


(pemberi pekerjaan).

2.

Bertanggung jawab atas pelaksana konstruksi hingga selesai


sesuai dengan rencana kerja dan syarat-syaratnya.

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

3.

Berhak menerima pembayaran dari Owner sesuai dengan hasil


kerja yang dihasilkan.

J. Konsultan / Pengawas
Konsultan / Pengawas adalah perorangan atau suatu badan instansi yang
bertugas mengawasi pelaksanaan suatu proyek. Adapun yang bertindak sebagai
pengawas pada pelaksanaan Proyek Pembangunan Jalan Ruas Mustafa Dg. Bunga
Mutalib Dg. Narang Kab. Gowa adalah CV. Fais Karya - PT. Wesitan Konsultasi
Pembangunan, JO.
Adapun tugas dan tanggung jawab dari pengawas, adalah:
1. Mengawasi pekerjaan sesuai dengan gambar rencana.
2. Menyetujui perubahanperubahan serta penyesuain di lapangan selama
pelaksanaan atas dasar persetujuan bersama.
3. Memuat laporan harian dan bulanan atas dasar kemajuan pekerjaan.
4. Mengawasi kecepatan waktu penyelesaian.
K. Hubungan Kerja Pelaksanaan Proyek
1. Hubungan Owner dan Kontraktor
Pemilik proyek dalam hal ini menawarkan gambar kerja kepada
kontraktor untuk direalisasikan dan menyediakan dana seperti yang
tercantum dalam RAB serta membuat kontrak perjanjian. Pemilik proyek
juga harus menyediakan segala sesuatu yang diperlukan sehingga proyek
dapat rampung sesuai dengan rencana dan waktu yang telah di tentukan.
2. Hubungan Owner dan Pengawas

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

Kontraktor dan Konsultan bersama-sama bertanggung jawab atas


pelaksanaan, yaitu menekan biaya dan waktu pelaksanaan proyek sehingga
proyek dapat selesai sesuai dengan biaya dan waktu yang telah ditentukan.
Pemilik proyek wajib menyediakan dana / biaya pengawasan.
Adapun bagan hubungan kerjasama antara Owner, Konsultan dan
Kontraktor adalah sebagai berikut:
OWNER

KONSULTAN

KONTRAKTOR

Ket :

Garis Komando
Garis Koordinasi

Gambar Bagan Hubungan Kerja

Gambar 1. Bagan Hubungan Kerja

L. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi Konsultan

Gambar 2. Struktur Organisasi Konsultan


Subandi / 312 13 008
Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

Struktur Organisasi Kontraktor Pelaksana

ANSHARULLAH, ST
SITE MANAGER

KHAERUL
QUALITY ENGINEER

BAKRI

UDIN

PELAKSANA 1

PELAKSANA 2

Gambar 3. Struktur Organisasi Kontraktor Pelaksana

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

10

BAB III
PELAKSANAAN PEKERJAAN
A. Tinjauan Umum
Proyek Pembangunan Jalan Ruas Mustafa Dg. Bunga Mutalib Dg.
Narang Kab. Gowa pada pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan dari tanggal 15
Juni 20 November 2015 yang kami laksanakan di Kabupaten Gowa,
dilaksanakan karena kepadatan arus lalu lintas pada jalan tersebut tinggi.
Perkerasan jalan yang digunakan pada proyek ini adalah perkerasan jalan
dengan menggunakan Rigid Pavement sebagai bahan perekat. Secara umum
keadaan jalan yang akan dikerjakan merupakan jalan yang sudah pernah
mengalami perkerasan jalan sebelumnya.
Oleh karena ruas jalan ini merupakan jalan di mana perkembangan
ekonomi masyarakat bergantung pada kelancaran arus barang dan manusia,
sehingga dengan adanya proyek ini maka diharapkan dapat meningkatkan
kemampuan structural dari poros jalan tersebut dengan cara perkerasan jalan
dalam rangka peningkatan kegiatan ekonomi Sulawesi Selatan kedepannya.
B. Lingkup Pekerjaan
Proyek Pembangunan Jalan Ruas Mustafa Dg. Bunga Mutalib Dg.
Narang Kab. Gowa merupakan proyek yang sifatnya melaksanakan pekerjaan
fisik pada badan jalan yang dimaksudkan untuk meningkatkan mutu jalan demi
kelancaran dari pelayanan bagi pemakai jalan. Berdasarkan tanggal kontrak
Proyek ini berjalan sejak tanggal 15 Juni 2015 sampai tanggal 20 November
2015 (135 hari kalender) dan masa pemeliharaan terhitung 180 hari kalender .
Sedangkan PKL (praktek kerja lapangan) kami mulai dilaksanakan mulai 21
September 2015 sampai 29 Oktober 2015. Adapun Pelaksanaan pada pelebaran
jalan ini, meliputi

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

11

DIV. I UMUM
1. Mobilisasi
2. Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas
3. Pengamanan Lingkungan Hidup
DIV. II DRAINASE
1. Galian untuk Selokan Drainase dan Saluran Air
2. Pasangan Batu dan Mortar
DIV. III PEKERJAAN TANAH
1. Penyiapan Badan Jalan
DIV. IV PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN
1. Urugan Pilihan
DIV. V PERKERASAN BERBUTIR

1. Lapis Pondasi Agregat Kelas B


2. Lapisan Pondasi Bawah Beton Kurus
3. Perkerasan Beton Semen
DIV. VII STRUKTUR
1. Pasangan Batu
DIV. VIII PENGEMBALIAN KONDISI DAN PEKERJAAN MINOR
1. Marka Jalan Termoplastik
DIV. IX PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN
1. Pemeliharaan Rutin Perkerasan
2. Pemeliharaan Rutin Bahu Jalan
3. Pemeliharaan Rutin Selokan, Saluran Air, Galian dan Timbunan
C. Sumber Daya
1. Bahan
Semen
a. Semen harus merupakan semen portland jenis I, II atau III sesuai dengan
AASHTO M 85.
b. Kecuali diperkenankan lain, maka hanya produk dari satu pabrik atau satu
jenis merk semen portland tertentu yang harus digunakan di proyek.

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

12

Air
Air yang digunakan dalam pencampuran, perawatan atau penggunaanpenggunaan tertentu lainnya harus bersih dan bebas dari bahan-bahan yang
merugikan seperti minyak, garam, asam, alkali, gula atau bahan-bahan
organik. Air harus diuji sesuai dengan dan harus memenuhi persyaratan
AASHTO T 26. Air yang diketahui dapat diminum dapat dipakai dengan
tanpa pengujian.
Persyaratan Gradasi Agregat
a. Gradasi agregat kasar dan halus harus memenuhi persyaratan yang
diberikan. Bahan-bahan yang tidak memenuhi persyaratan gradasi ini
dapat tidak ditolak asalkan Kontraktor dapat menunjukkan bahwa
persyaratan yang dirinci dalam Butir dapat dipenuhi jika menggunakan
bahan-bahan tersebut.
b. Agregat kasar harus dipilih sedemikian rupa sehingga ukuran partikel
terbesar tidak lebih besar dari pada jarak bersih minimum antara
batang tulangan atau antara batang tersebut dengan acuan atau antara
batasan-batasan

ruang

lainnya

dimana

pekerjaan

beton

harus

ditempatkan.
Sifat Agregat
a.

Agregat untuk pekerjaan beton harus terdiri dari partikel yang bersih
dan keras yang diperoleh dari pemecahan batu, atau dengan menyaring
dan mencuci (bila perlu) kerikil dan pasir sungai.

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

13

b.

Agregat harus bebas dari bahan-bahan organik seperti yang dirinci


dalam AASHTO T21 bila diambil contoh dan diuji sesuai dengan
ketentuan BS CP 114 dan prosedur AASHTO yang relevan.

c.

Agregat yang berupa bahan-bahan yang berukuran sama yang berasal


dari berbagai sumber harus ditimbun dalam timbunan terpisah dan
hanya boleh digunakan dalam struktur yang terpisah.

Bahan Tambah (Additive)


Penggunaan plastisator, bahan-bahan tambah untuk mengurangi air atau
bahan tambah lainnya, harus mendapat persetujuan terlebih dahulu. Jika
digunakan, bahan yang bersangkutan harus memenuhi AASHTO M 154
atau M 194. Bahan tambahan yang bersifat mempercepat dan yang
mengandung Calcium Chlorida tidak boleh digunakan.

Membran Kedap Air


Lapisan bawah yang kedap air harus terdiri dari lembaran plastik yang
kedap setebal 125 mikron. Air tidak boleh tergenang di atas membran, dan
membran harus kedap air sepenuhnya waktu beton dicor. Lapisan bawah
yang kedap air tidak boleh digunakan di bawah perkerasan jalan beton
bertulang yang menerus.
Tulangan Baja

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

14

a. Tulangan baja untuk jalur kendaraan harus berupa anyaman baja atau
batang baja berulir sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar Rencana.
b.

Baja tulangan harus merupakan batang baja polos atau berulir grade
U24 atau batang berulir grade U40 sesuai dengan persyaratan Sll 013684, kecuali jika disetujui lain atau diperlihatkan lain dalam Gambar
Rencana.

c.

Tulangan anyaman kawat baja harus memenuhi persyaratan-persyaratan


AASHTO M 55. Tulangan ini harus disediakan dalam bentuk lembaranlembaran datar dan merupakan jenis yang disetujui.

d.

Batang baja harus memenuhi persyaratan AASHTO M 54. Bagianbagiannya

harus

berukuran

dan

berjarak

antara

sebagaimana

diperlihatkan dalam Gambar Rencana.


e.

Batang baja untuk Ruji (Dowel) harus berupa batang bulat biasa sesuai
dengan AASHTO M 31. Batang dowel berlapis plastik yang memenuhi
AASHTO M 254 dapat digunakan.

f.

Batang pengikat (Tie bar) harus berupa batang baja berulir sesuai
dengan AASHTO M 31.

Bahan-bahan untuk Sambungan


a. Bahan-bahan pengisi siar muai harus sesuai dengan persyaratanpersyaratan AASHTO M 153 atau M 213. Bahan-bahan tersebut harus
dilubangi untuk dilalui dowel-dowel sebagaimana diperlihatkan dalam
Gambar Rencana. Bahan pengisi untuk setiap sambungan harus disediakan
Subandi / 312 13 008
Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

15

dalam bentuk satu kesatuan utuh untuk tebal dan lebar penuh yang
diperlukan untuk sambungan yang bersangkutan kecuali jika diijinkan lain.
Di mana ujung-ujung yang berbatasan diperkenankan, maka ujung-ujung
tersebut harus diikat satu sama lainnya dan dipertahankan dengan kokoh dan
tepat ditempatnya dengan jepitan kawat (stapling) atau penyambung /
pengikat yang baik lainnya.
b.

Bahan penutup sambungan (joint sealant) harus berupa Expandite

Plastic, senyawa gabungan bitumen karet Grade 99 yang dituangkan dalam


keadaan panas, atau bahan serupa yang disetujui. Bahan sambungan harus
sebagaimana dianjurkan oleh pabrik pembuat bahan yang bersangkutan.
2. Tenaga kerja
a. General Superintendent
b. Site Manager
c. Quality Engineer
d. Quantity Engineer
e. Koordinator Teknik
f. Safety Management
g. Administrasi
h. Surveyor
i. Supervisi
j. Logistic/ Equipment
k. Operator
l. Pelaksana
m. Kepala Tukang
n. Tukang
o. Tenaga Harian
3. Alat-alat yang digunakan
Untuk memperlancar pelaksanaan pekerja di lapangan, tentu tidak lepas
dari penyediaan alat alat pekerjaan. Dalam Proyek ini digunakan alat
alat kerja antara lain :
a. Concrete Mixer ( Molen )
Untuk mengadukkan beton harus menggunakan alat pengaduk
concrete mixer. Pada proyek ini menggunakan beton dengan mutu KSubandi / 312 13 008
Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

16

350 untuk pengecoran rigid dan beton dengan mutu K-125 untuk
pengecoran lean concrete. Karena keterbatasan alat, dan beton yang
dibutuhkan dalam jumlah besar maka perusahaan yang bersangkutan
memilih untuk membeli beton siap pakai (yang telah diaduk) dari
beberapa perusahaan pengelola beton yang juga berada dalam lokasi
Proyek Bandara Kuala Namu.
b. Truck dan Grobak Dorong
Alat ini digunakan untuk mengangkut bahan bahan seperti pasir,
batu, besi atau baja, baut serta bahan bahan lain yang diperlukan
untuk

berada

disekitar

lokasi

sesuai

dengan

kapasitas

dan

kemampuaannya.
c. Alat Pemotong Besi
Alat ini digunakan untuk memotong besi tulangan sesuai dengan
ukuran yang telah ditentukan.
d. Alat pembengkok Besi Tulangan
Alat ini digunakan untuk membengkokkan besi tulangan sesuai
dengan ukuran yang telah ditentukan.
e. VibratorRoller
Untuk mencegahnya timbulnya rongga-rongga kosong pada adukan
beton, maka adukan beton harus dipadatkan. Pemadatan dilakukan
dengan 2 (dua) cara yaitu :
1) Merojok dan menumpuk atau memukul mukul cetakan dengan besi
atau kayu (non mekanis)
2) Memadatkan dengan cara mekanis yaitu Vibrator. Bila pemadatan

menggunakan vibrator, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:


- Jarum penggetar harus dimasukkan ke dalam adukan beton secara

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

17

vertikal pada keadaan khusus boleh

dimiringkan sampai 45 0.

- Selama penggetaran, jarum tidak boleh digerakkan ke arah


horizontal,

karena

akan

menyebabkan

pemisahan

bahan.

- Jarum penggetar tidak boleh bersentuhan dengan tulangan beton,


untuk menjaga agar tulangan tidak bergeser dari betonnya.
- Untuk beton tebal penggetaran dilakukan berlapis-lapis dan setiap
lapis 30 cm sampai 50cm.
- Jarum pengetar di tarik secara pelan-pelan, bila adukan beton sudah
nampak mengkilat (air semen memisah dari agregat) alat penggetar
ditarik.
- Jarak antara pemasukan jarum penggetar harus dipilih sehingga
daerah-daerahnya saling menutupi.
f. Mesin Pompa.
Alat ini digunakan untuk menghisap sisa air pada pipa baja dan
mengurangi kelebihan air pada tapak pilar sebelum pengecoran.
g. Waterpass
Digunakan untuk mengukur elevasi tanah untuk dapat melakukan
pekerjaan pengecoran lean concrete sebelum pengecoran rigid
dilakukan.
h. Excavator
Setelah dilakukan pengukuran elevasi dengan menggunakan
waterpass, maka dilakukan pengerukan, penimbunan dan meratakan
tanah dengan menggunakan escafator.
Subandi / 312 13 008
Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

18

i. Paku
j. Tali
k. Martil
l.

Slang

m. Sendok spesi
D. Pelaksanaan Pekerjaan
1. Pekerjaan Umum
Pekerjaan umum meliputi :
a. Pembuatan Papan Proyek
Sebagai langkah awal persiapan,maka perlu dibuat suatu
proyek yang tujuannya agar orang dapat mengetahui nama dan proyek
yang sedang dikerjakan dan pemasangan papan proyek ini ditempatkan
pada titik awal pekerjaan hingga akhir pekerjaan.
Dalam papan proyek ini berisi tentang :
1) Nama proyek
2) Lokasi proyek
3) Biaya proyek
4) Sumber dana proyek
5) Masa kontrak
6) Nama pemilik proyek, pengawas proyek, pelaksana proyek
7) Dan lain-lain
b. Pembuatan Base Camp
Salah satu tanggung jawab kontraktor adalah menyiapkan
fasilitas yang bertujuan untuk menunjang pelaksanaan selama proyek
berlangsung dalam hal ini Base Camp..
c. Pengukuran Awal / Shop Drawing
Pengukuran awal ini dilakukan oleh pihak kontraktor dengan
diawasi oleh pengawas lapangan untuk menentukan jarak panjang dan
lebar bahu jalan setiap stasiun (Sta) di sepanjang jalan yang akan
dikerjakan.
Subandi / 312 13 008
Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

19

Pengukuran ini dimaksudkan untuk membandingkan volume


pekerjaan yang ada pada kontrak penawaran dengan volume di
lapangan.
2. Pelebaran Perkerasan dan Bahu Jalan
a. Urugan Pilihan
1) Wheel Loader memuat kedalam Dump Truck.
2) Dump Truck mengangkut dari quarry ke lapangan.
3) Material dihampar dengan menggunakan Motor Grader.
4) Hamparan material disiram air dengan Water tank Truck (sebelum
pelaksanaan pemadatan) dan dipadatkan dengan menggunakan
Vibrator Roller.
5) Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi
hamparan dan level permukaan dengan menggunakan alat bantu.
3. Pekerjaan Berbutir
a. Lapis Pondasi Agregat Kelas B
1) Wheel Loader mencampur dan memuat Agregat kedalam Dump
Truck di Base Camp
2) Dump Truck mengangkut Agregat kelokasi pekerjaan dan dihampar
dengan Motor Grader.
3) Dump Truck mengangkut Agregat kelokasi pekerjaan dan dihampar
dengan Motor Grader
4) Selama pemadatan, sekelompok pekerja akan merapikan tepi
hamparan dan level permukaan dengan menggunakan Alat Bantu.
b. Lapis Pondasi Bawah Beton Kurus
1) Lantai kerja dicor di atas tanah yang telah ditimbun/digali
berdasarkan elevasi yang telah direncanakan.
2) Setelah pekerjaan timbun/gali selesai akan dilanjutkan dengan
pekerjaan Lean Concrete (lantai kerja) setebal 10 cm dengan beton
K-125. Pekerjaan ini memerlukan ketelitian dalam hal kerataan dan
elevasi harus diperhatikan. Lean concrete akan menentukan kualitas
pekerjaan beton rigid diatasnya.
Subandi / 312 13 008
Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

20

3) Material lean concrete akan disuplai dari baching plant dalam bentuk
ready mix yang diangkut ke lapangan dengan menggunakan truck
mixer
4) Pekerjaan penghamparannya akan dilakukan dengan menggunakan
tenaga manusia (pekerja). Untuk menjaga kerataan disiapkan
Straight Edge agar tidak ada gelombang
c. Pekerjaan Beton Semen
1) Pertama-tama yang harus diperhatikan adalah segregasi dan
bleeding. Untuk menghindari terjadinya segregasi dan bleeding, ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penuangan beton.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Campuran yang akan dituangkan harus ditempatkan sedekat
mungkin dengan cetakan akhir untuk mencegah segregasi karena
penanganan kembali atau pengaliran adukan.
-

Pembetonan harus dilaksanakan dengan kecepatan penuangan


yang diatur sedemikian rupa sehingga campuran beton selalu
dalam keadaan plastis dan dapat mengalir dengan mudah ke
dalam rongga di antara tulangan.

Campuran beton yang telah mengeras atau yang telah terkotori


oleh material asing tidak boleh dituang ke dalam struktur.
Campuran beton yang setengah mengeras atau telah mengalami
penambahan air tidak boleh dituangkan, kecuali telah disetujui
oleh pengawas ahli.

Setelah penuangan campuran beton dimulai, pelaksanaan harus


dilakukan tanpa henti hingga diselesaikan penuangan suatu panel
atau penampang, yang dibentuk oleh batas-batas elemennya atau

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

21

batas penghentian penuangan yang ditentukan, kecuali diizinkan


atau dilarang dalam pelaksanaan siar pelaksanaan (construction
joint).
-

Permukaan atas dari acuan yang diangkat secara vertical pada


umumnya harus terisi rata dengan campuran beton.

2) Sama halnya dengan lean concrete, pengecoran beton kaku K-350


dilakukan dengan tenaga manusia dan material beton rigid disuplai
dari baching plant dalam bentuk ready mix yang diangkut ke
lapangan dengan menggunakan truck mixer dan dicor setebal 25 cm
yang diletakkan di atas lean concrete yang sebelumnya telah
dipasang penulangan.
3) Apabila spesi beton dituang dalam bekisting maka diantara dinding
dan spesi beton didalam campuran spesi beton sendiri terdapat
banyak udara. Ruang kosong ini sangat merugikan bagi kualitas
beton. Karenanya spesi beton yang baru dicor harus dipadatkan.
4) Metode pemadatan beton rigid yang dilaksanakan pada proyek ini
adalah pemadatan mekanis yaitu dengan menggunakan vibrator. Hal
hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian vibrator adalah :
-

Pada tempat tempat yang dekat jaraknya dilakukan dengan


waktu getar yang pendek tidak boleh lebih dari 5 detik untuk satu
titik.

Masukkan alat penggetar dengan arah tegak lurus.

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

22

Bila tampak permukaan agak licin, tarik perlahan lahan


sehingga lubang yang ditinggalkan akan menutup dengan
sendirinya

Jangan sampai menggetarkan konstruksi tulangan.

Hindarkan singgungan alat penggetar dengan bekisting.

5) Pada

prinsipnya

pembongkaran

bekisting

dilakukan

dengan

ketentuan ketentuan yang terdapat dalam peraturan PBI-1971.


Adapun ketentuan ketentuannya adalah sebagai berikut :
-

Untuk bekisting bagian struktur hanya boleh dibongkar setelah


mencapai kekuatan yang cukup untuk memikul berat sendiri dan
beban beban pelaksanaan yang bekerja padanya selama
pembangunan. Cetakan dapat dibongkar setelah beton berumur 3
minggu atau menurut ketentuan lain.

Bekisting harus tetap dipasang selama paling sedikit 8 jam


setelah penghamparan beton.

Setelah acuan dibongkar, permukaan beton yang terbuka harus


segera dirawat.

4. Perawatan Baton
Setelah pengecoran beton selesai, beton perlu dirawat agar mutu
beton tidak berubah atau berkurang. Perawatan beton dimaksudkan untuk
mencegah pengerasan bidang bidang beton secara mendadak akibat terik
Subandi / 312 13 008
Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

23

matahari. Pengerasan mendadak dapat menimbulkan retak retak pada


permukaan beton, karena beton belum meningkat secara sempurna.
Beton yang telah dicor harus dicurring dengan Curring Compound
eks. Fosroc segera setelah pekerjaan pembuatan alur (grooving)
dilaksanakan, untuk menjaga kelembaban air sering digunakan karung
goni atau geoteksil non wovan dan disiram berulang ulang dan karung
harus selalu dalam kondisi basah. Proses curring ini dilakukan sampai
kekuatan beton memenuhi syarat penelitian laboratorium yang biasanya
sampai 7 hari setelah pengecoran.
Adapun cara perawatan beton adalah :
a. Beton yang belum kering / harus dilindungi dari aliran air dan peralatan
yang merusak beton.
b. Beton harus dilindungi dari pengaruh panas langsung, sehingga tidak
terjadi penguapan yang terlalu cepat.
c. Beton harus dilindungi dari hujan yang bisa merusak ikatan beton.

5. Pengendalian Mutu Di Lapangan


a. Pengujian Untuk Kelecakan (Workability). Satu atau lebih pengujian
slump, harus dilaksanakan pada setiap takaran beton yang dihasilkan.
b. Pengujian Kuat Tekan. Kontraktor harus melaksanakan tidak kurang dari
1 pengujian kuat tekan untuk setiap 60 m3 beton yang dicor. Setiap

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

24

pengujian harus termasuk 3 contoh yang identik untuk diuji pada umur
3, 7 dan 28 hari. Tetapi bila jumlah beton yang dicor dalam satu hari
memberikan kurang dari 5 contoh untuk diuji, maka contoh-contoh
harus diambil dari 5 takaran yang dipilih secara acak. Contoh pertama
dari contoh-contoh ini harus diuji pada umur 3 hari disusul dua oleh
pengujian lebih lanjut pada umur 7 dan 28 hari.
c. Pengujian Tambahan. Kontraktor harus melaksanakan pengujian
tambahan yang diperlukan untuk menentukan mutu bahan atau
campuran atau pekerjaan beton akhir, pengujian tambahan tersebut
meliputi :
1) Pengujian yang tidak merusak menggunakan sclerometer atau
perangkat penguji lainnya.
2) Pengambilan dan pengujian benda uji inti (core) beton.
3) Pengujian lainnya sebagaimana ditentukan secara khusus.

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

25

BAB IV
MASALAH DAN PEMECAHANNYA

A. Tinjauan Umum
Pada umumnya semua pekerjaan yang dilakukan pasti akan mendapatkan
masalah. Masalah yang timbul dalam pekerjaan yaitu masalah yang timbul karena
faktor instansi terkait, faktor masyarakat, dan faktor lalu lintas. Masalah-masalah
tersebut dapat menimbulkan kerusakan/kerugian dan keterlambatan terhadap
progres pekerjaan yang dinginkan. Untuk itu perlu diperhitungkan masalahmasalah yang akan terjadi pada pekerjaan agar dapat meminimalisir masalahmasalah yang akan terjadi sehingga pekerjaan dapat mencapai hasil yang
diinginkan.
B. Masalah dan Pemecahannya
1. Faktor Instansi Terkait
Subandi / 312 13 008
Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

26

Lemahnya

pengawasan

dari

konsultan

pengawas

sehingga

menyebabkan progres pekerjaan tidak sesuai dengan rencana.


Pemecahan masalahnya adalah konsultan pengawas seharusnya

bekerja lebih professional dan harus selalu berada di lapangan.


2. Faktor Masyarakat
- Masalah yang terjadi akibat faktor masyarakat, yaitu pembebasan
lahan karena tidak setuju dengan harga yang ditawarkan oleh
-

pemerintah kepada warga/masyarakat tersebut.


Pemecahan masalahnya adalah melakukan

negosiasi

dengan

warga/masyarakat, mengalihkan sebagian dana pekerjaan ke site


development. Atau bernegosiasi dengan intansi kemasyarakatan atau
tokoh-tokoh masyrakat.
3. Faktor lalu lintas
- Permasalahan yang terjadi akibat padatnya lalu lintas yang hilir mudik
-

pada saat pekerjaan berlangsung sehingga menghambat pekerjaan.


Pemecahan masalahnya adalah seharusnya instansi terkait menyiapkan
orang-orang yang khusus mengatur lalu lintas pada pekerjaan tersebut
dan memaksimalkan sosialisasi pada masyarakat sekitar agar pekerjaan
dapat dikerjakan semaksimal mungkin.

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

27

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan Pada Proyek
Pembangunan Jalan Ruas Mustafa Dg. Bunga Mutalib Dg. Narang Kab.
Gowa.

Dalam pelaksanaan suatu proyek, kerjasama dan koordinasi antar pihak


kontraktor, pihak konsultan, dan pihak pimpinan proyek harus terjalin
dengan baik. Demikian pun dalam tubuh kontraktor, setiap personil
harus menciptakan suasana kerja yang tentram dan menjadi satu team
work yang baik.

Tidak sesuainya waktu yang telah ditentukan dalam Time Schedule


sehingga pekerjaan terhambat yang disebabkan beberapa faktor seperti
faktor cuaca, lingkungan dan teknis.

B. Saran

Sebelum melakukan suatu pekerjaan proyek maka terlebih dahulu


melakukan persiapan yang akan dibutuhkan dalam proyek seperti alat
berat, material, dan kondisi lapangan sehingga tidak menghambat
proses pekerjaan.

Subandi / 312 13 008


Rijal Januari Utomo / 312 13 020

Jurusan Teknik Sipil PNUP

28