Anda di halaman 1dari 59

Putro Perdana

Grafologist & Handwriting Examiner

Apa itu Grafologi, Grafonomi dan Handwriting


Forensic?
Grafologi adalah sebuah studi untuk mengungkap kepribadian dan karakter seseorang
berdasarkan tulisan tangannya. Grafologi merupakan bagian kecil dari Handwriting
Forensic, dan memiliki disiplin ilmu yang saling berkaitan. Kata Grafologi itu sendiri
memiliki definisi sebagai studi tentang kepribadian seseorang melalui tulisan tangannya.
Perlu diperhatikan bawa analisis ilmiah yang dilakukan oleh seorang grafolog, bertujuan
untuk menemukan informasi mengenai sifat, kepribadian, dan karakter penulisnya.
Grafonomi adalah suatu ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari dari goresan-goresan
tulisan dalam sebuah tanda tangan. Grafonomi berasal dari kata grafis dan nomi, yang
berarti pengetahuan tulisan, sehingga hasil goresan setiap individu dapat dipelajari secara
ilmiah berdasarkan karakteristik tulisan/goresan yang ada.
Sedangkan, Handwriting Forensic sebagai bidang studi ilmiah yang mengidentifikasi
pemalsuan dan mengungkap kisah asli (original) dari dokumen yang menjadi objek
sengketa di pengadilan.
Dalam prakteknya, Handwriting Forensic mengkombinasikan ilmu Grafologi dan
Grafonomi dalam menangani kasus kejahatan. Ilmu Grafologi dipergunakan khususnya
dalam mengemukakan adanya atau kecenderungan dari penulis untuk melakukan
perbuatan menyimpang (fraud). Sedangkan ilmu Grafonomi lebih banyak digunakan
untuk mengidentifikasi pemalsuan tanda tangan pada suatu dokumen.
Ketiga cabang ilmu ini merupakan bagian dari ruang lingkup dalam ilmu Handwriting
Analysis.

Service
A. Analisa Forensik Tulisan Tangan
Handwriting Forensic (atau) Grafonomi (atau) Questioned Document Examination
(QDE), sebagai bidang yang telah diuji kebenarannya, merupakan cara untuk
mengidentifikasi pemalsuan dan menetapkan keaslian dokumen dalam sengketa. Bidang
ini dapat digunakan pada kasus yang berhubungan dengan dugaan pemalsuan
tandatangan.
Melalui QDE dapat diketahui beberapa hal penting sehubungan dengan dokumen, yaitu:

Membandingkan perbedaan karakter pada suatu tulisan tangan atau tandatangan.


Membandingkan kesamaan karakter yang identik atau tidak identik pada suatu
tulisan tangan atau tandatangan.

DATA YANG DIPERLUKAN:


Kriteria yang harus dipenuhi untuk menganalisa pemalsuan tulisan tangan, adalah sebagai
berikut:
1. Dokumen yang berisi tandatangan atau tulisan yang diragukan (Questioned
Document), bisa dalam bentuk asli atau fotokopi.
2. Minimal 10 sampel tulisan atau tanda tangan dari penulis yang sebenarnya.
Rentang waktu sampel tulisan adalah plus minus 5 tahun dari tahun kejadian di
Questioned Document.
3. Sampel tulisan tersangka berupa huruf maupun angka dengan menggunakan
beberapa media, termasuk media yang memiliki kualitas tinta seperti pada
Questioned Document.

Ilmu Forensik, Penghadir Silent Witness

Forensik merupakan cabang ilmu dari kriminalistik, yang agak berbeda dengan
kriminologi. Walaupun begitu, keduanya mempunyai ruang lingkup yang sama:
membahas soal kejahatan. Forensik dipakai untuk membantu penyidikan dalam suatu
kasus kejahatan. Hasil analisa forensik tersebut nantinya akan digunakan untuk
membantu penyajian data atau bukti dalam pemeriksaan di pengadilan.
Kata forensik berasal dari bahasa Yunani yaitu Forensis yang berarti debat atau
perdebatan. Dalam diskusi ini, maka istilah forensic bisa mempunyai arti sebagai bidang
ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu proses penegakan keadilan melalui
proses penerapan sains.
Kenapa ilmu forensik ada? karena dalam suatu peristiwa kejahatan, ada bukti bukti selain
saksi hidup, yaitu bukti bukti fisik yang biasa disebut saksi diam / silent witness. Silent
witness ini bisa mengandung informasi yang sama signifikannya dengan keterangan
seorang saksi hidup.
Silent witness atau bukti fisik, bisamemiliki berbagai bentuk. Bisa berupa selongsong
peluru, jejak sepatu, bagian tubuh manusia, maupun tanda tangan. Bukti bukti fisik ini
tentu tidak akan dengan sendirinya menceritakan apa yang mereka alami layaknya saksi
hidup. Diperlukan ilmu forensik untuk membedah isi yang tersembunyi di dalam bukti
bukti fisik ini, dan dituangkan dalam laporan analisa forensik.

Salah satu bidang ilmu forensic yang paling terkenal adalah forensic medicine atau
forensik kedokteran. Cabang ilmu ini juga memiliki nama lain, yaitu Medical
jurisprudence dan Legal Medicine.Dalam cabang ilmu ini, focus penelitiannya adalah
menganalisa aspek aspek medis (termasuk mayat) untuk membantu persoalan hukum.
forensik kedokteran mungkin paling populer dikenal oleh masyarakat. Namun yang perlu
digaris bawahiadalah bahwa forensik tidak hanya sebatas menganalisa mayat, namun
juga menganalisa segala bentuk alat bukti lain yang bisa mengungkap peristiwa
kejahatan.
Selain forensik kedokteran, terdapat satu divisi khusus yang juga menarik untuk dibahas
yaitu Forensik Tanda Tangan. Bidang ini merupakan cabang ilmu forensic yang
mengkhususkan diri pada pembahasan mengenai dokumen, dan tulisan tangan. Bidang
Forensik Tanda Tangan ini juga memiliki berbagai sebutan lain, diantaranya adalah
Signature Verification, Handwriting Forensic, Handwriting Identification, Document
Examination atau bahkan Grafonomi. Dalam ranah kriminalistik, ilmu Forensik Tanda
Tangan memiliki beberapa fungsi yaitu:

Mengungkap penulis atau pembuat dari suatu tulisan tangan


Menganalisis originalitas dari suatu dokumen dan tulisan tangan
Jumlah orang yang membuat tulisan tangan dalam suatu dokumen
Menganalisis apakah sebuah dokumen pernah diubah atau direkayasa
Tipe alat atau instrumen yang digunakan dalam membuat sebuah dokumen atau
tulisan

Bidang ilmu ini akan sangat berguna untuk mengungkap kasus kasus kejahatan yang
melibatkan suatu dokumen di dalamnya, seperti kasus korupsi, penggelapan, hingga
penipuan. Umumnya masalah tentang dokumen memang paling sering terjadi pada
kejahatan kerah putih atau white collar crime. Pada kasus kejahatan jalanan atau street
crime tertentu juga kadang melibatkan masalah dokumen dan tulisan tangan. Misalkan
pada kasus pemerasan dan penculikan dimana pelakunya meninggalkan sebuah ancaman
yang ditulis dengan menggunakan tulisan tangan. Tidak hanya berhenti sampai disitu,
Forensik Tanda Tangan juga akan sering dipakai pada kasus kasus bunuh diri. Seringkali
para korban bunuh diri meninggalkan suicide letter yang menyebutkan tentang alasan
kematiannya. Pertanyaannya, apakah surat tersebut benar ditulis oleh sang korban?
Mungkinkah surat tersebut justru ditulis oleh orang lain? Dengan bukti yang cukup serta
keterangan dari ahli Forensik Tanda Tangan, kasus yang awalnya diduga sebagai bunuh
diri, bisa berubah menjadi kasus pembunuhan.

Salam
Putro Perdana, S.Sos, CMHA
(Praktisi dan alumnus Kriminologi UI)

Cegah Kejahatan Pemalsuan Tanda Tangan Dengan


Tips Ini
Pemalsuan tanda tangan merupakan tindak kejahatan yang bisa menimpa siapa saja.
Kerugiannya tidak main main. Bisa kehilangan harta benda, pekerjaan,reputasi,
mencemarkan nama baik, atau memaksa kita untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah
kita setujui sebelumnya. Banyak orang yang kehilangan segala hal yang ia sayangi hanya
karena tanda tangan miliknya dipalsukan oleh orang lain. Hanya karena tanda tangan.
Sekali lagi, hanya karena tanda tangan, seseorang bisa menjadi korban kejahatan yang
serius.
Melihat dari berbagai kasus yang saya tangani di lapangan, saya melihat bahwa ternyata
ada semacam benang merah tentang celah yang sering dimanfaatkan oleh para pelaku
pemalsuan ini. Salah satu celah tersebut adalah; karena sebagian dari kita seringkali
membuat tanda tangan yang terlalu mudah untuk dipalsukan.
Untuk saat ini saya belum akan membahas tentang rational choice theory atau
occupational crime theory yang menjelaskan mengapa seseorang mau melakukan
kejahatan dengan segala kesempatan yang dia miliki. Diskusi tentang hal tersebut akan
ditulis lain waktu. Kali ini saya akan membagi pengalaman tentang ciri-ciri tanda tangan
yang mudah dipalsukan, serta pencegahannya.
Perhatikan kedua tanda tangan dibawah ini, mana yang lebih mudah dipalsukan?

Tanda tangan A memiliki ciri-ciri:

1.
2.
3.
4.
5.

Terdiri dari sedikit huruf


Mudah terbaca
Terdiri dari 2 tarikan atau lebih
Dibuat dengan sangat pelan
Bentuknya terlalu sederhana

Sedangkan Tanda Tangan B memiliki ciri-ciri:


1.
2.
3.
4.
5.

Terdiri dari banyak huruf


Sulit terbaca
Hanya terdiri dari 1 tarikan
Dibuat dengan sangat cepat
Bentuknya sangat kompleks

Dalam sudut pandang ilmu forensik tulisan tangan, tanda tangan A akan jauh lebih
mudah untuk dipalsukan dibandingkan tanda tangan B. Mengapa? Jawabannya seperti
yang disebutkan diatas;
1. karena tanda tangan A hanya terdiri dari 3 huruf yaitu K-I-M (terlalu sedikit)
2. mudah terbaca (jelas sekali, Kim!)
3. terdiri dari 2 tarikan (tarikan ke-1 membentuk huruf K, tarikan ke-2 membentuk
huruf i & m)
4. Dibuat dengan sangat pelan
5. Bentuknya sederhana sekali, hampir tidak ada ciri unik dalam tanda tangan
tersebut
Apabila diberikan analogi, tanda tangan A hanya ibarat gembok pagar yang mudah
dibobol, sedangkan tanda tangan B adalah brankas besi yang memiliki berbagai
kombinasi password. Setiap pelaku pemalsuan tanda tangan, tentu akan setuju dengan
pendapat saya. Tanda tangan A sangat mudah untuk dipalsukan.
Tanda tangan yang dipalsukan biasanya akan dibuat dengan pelan. Sebab bila sang pelaku
membuatnya secara cepat, maka ia akan kehilangan bentuk. Simpelnya seperti ini: pelaku
hanya bisa memilih antara speed atau form. Umumnya, mereka akan memilih form dan
kehilangan speed. Pelaku pemalsuan akan meniru bentuk tanda tangan semirip mungkin
dengan aslinya, namun ia akan kehilangan kecepatan alaminya.
Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mencegah tanda tangan kita dipalsukan orang lain?
Secara garis besar, ini yang bisa saya sarankan:
1. Buatlah tanda tangan dengan tarikan yang cepat, kompleks dan tegas
2. Tanda tangan sebaiknya dibuat hanya dalam 1 tarikan

3. Semakin tanda tangan anda tidak terbaca dan terdiri dari banyak huruf, akan
semakin sulit dipalsukan
4. Tambahkan ornamen unik dalam tanda tangan anda, seperti penggunaan titik,
garis bawah, atau apa saja yang bisa menjadi karakteristik tambahan supaya
mudah diidentifikasi.
5. JANGAN memberikan tanda tangan asli untuk berkorespondensi. Buatlah tanda
tangan khusus untuk mengirim undangan, menanda tangani absen, ataupun daftar
hadir
6. JANGAN terlalu mudah memberikan fotokopi KTP, SIM, atau kartu identitas
yang memuat tanda tangan anda di dalamnya
7. Gunakan bolpen yang sama dalam menandatangi perjanjian legal. Karakteristik
tinta dalam bolpen anda, dapat menjadi ciri khas tambahan

Pencegahan kejahatan adalah suatu tanggung jawab yang harus dilakukan oleh setiap
individu yang mempelajarinya.
We prevent crime, based on social justice Salah satu Tagline Kriminologi UI

Salam,
Putro Perdana, S.sos, CMHA
(Praktisi dan alumnus Kriminologi UI)

Sejarah Singkat Tulisan Tangan


Perkembangan ilmu tentang tulisan tangan atau grafologi, tidak bisa dilepaskan dari
perkembangan tentang tulisan tangan itu sendiri. Bentuk tulisan seseorang sangat
tergantung dari budaya yang dimilikinya sejak lahir. Hal inilah yang menyebabkan
tulisan tangan seseorang memiliki karakteristik yang unik dan bisa digunakan sebagai
bukti atau evidence di dunia forensik.
Bagaimana perkembangan sejarah tentang tulisan sehingga setiap budaya di dunia
memiliki karakteristiknya masing masing? Berikut adalah sedikit ulasan yang penulis
dapatkan dari berbagai literatur tentang sejarah tulisan tangan.
Menulis adalah suatu bentuk penyampaian pesan terhadap ide yang tadinya bersifat
abstrak, menjadi bentuk yang lebih permanen. Ide tadinya yang bersifat abstrak,
diterjemahkan oleh manusia melalui coretan termasuk gambar dan tulisan tangan.
Tulisan tangan merupakan hasil evolusi pikiran manusia untuk beradaptasi terhadap
kebutuhan komunikasi yang lebih kompleks. Ketika manusia mulai memiliki kebutuhan
untuk mengkomunikasikan ide-idenya di tempat yang berbeda.
Komunikasi yang awalnya dalam bentuk lisan, hanya mampu mengkomunikasikan ide di
satu tempat yang sama antara pembicara dan pendengar. Dengan adanya tulisan, manusia
jadi mampu untuk menyampaikan idenya tanpa harus berada di tempat yang sama dengan
pembacanya. Dari situlah kemudian tulisan semakin berkembang, dan mengalami
perkembangan yang unik di setiap budaya di dunia.
Masyarakat primitif sudah mulai mengembangkan ide tentang tulisan melalui coretan
coretan di dinding goa. Berbagai ukiran pada batu, maupun pada kayu, sudah digunakan
oleh masyarakat primitif sebagai media komunikasi simbolik. Lambat laun coretan
coretan berupa gambar gambar tersebut, secara gradual menjadi lebih terkonsep dan
berkembang menjadi gambar simbolik yang bertindak sebagai huruf.
(Coretan Primitif Pada Dinding Goa)

Gambar simbolik ini, dikenal dalam sejarah sebagai ideograph. Ideograph digunakan di
berbagai kebudayaan seperti sumeria, cina, aztec, maya, dan juga mesir. Dari berbagai
ideograph ini, salah satu yang paling terkenal dalam sejarah adalah milik bangsa mesir,
yang disebut sebagai hieroglyphics
(hieroglyphics).

Gambar berkembang menjadi simbol, simbol berkembang menjadi silabel. Silabel


berkembang menjadi phonograph. Phonograph ini kemudian dibuat menjadi lebih simpel
sebagai phonetic symbols, yang disebut sebagai phonetic alphabet. Bangsa sumeria
diakui sebagai kebudayaan yang mengembangkan alfabet pertama, yang kemudian
dikembangkan dan disebarkan berbagai kebudayaan lain.
Asal kata alfabet sendiri berakar dari bangsa Yunani. Bangsa yunani memiliki sejumlah
huruf, dimana huruf pertamanya yaitu alpha dan huruf keduanya adalah beta, dari situlah
kata alfabet muncul. Alfabet Yunani memiliki 24 huruf, termasuk didalamnya adalah
huruf huruf vokal pertama yang dikenal manusia. Arah penulisan bangsa Yunani (writing
direction) adalah dari kiri ke kanan, yang agak berbeda dengan writing direction bangsa
Phoenician yang dari kanan ke kiri.
(Alfabet Bangsa Yunani)

Bangsa Romawi, meminjam sebagian alfabet milik yunani. Bangsa romawi


kemudianmempopulerkannya dengan ciri khas tulisannya yaitu huruf huruf terpisah
(disconnected capital letter). Huruf huruf milik bangsa Romawi dikenal lebih sederhana
dan lebih mudah untuk ditiru dan digunakan sebagai acuan huruf dalam berbagai
manuscript kuno.
Saat ini pengaruh dari alfabet alfabet awal yang berasal dari Romawi dan Yunani, masih
bisa dilihat pengaruhnya di berbagai negara Eropa, dan Amerika. Negara negara di
Amerika Utara dan Amerika Selatan, memiliki basis alfabet dari Germanic system.
Germanic system itu sendiri, diperoleh dari alfabet bangsa Romawi.
Pengaruh Germanic system di era penulisan modern:
1. Tulisan pada bahasa Inggris (English) di Amerika Serikat dan Kanada.

2. Bahasa Spanyol (Spanish) di Amerika Tengah dan Amerika Selatan


3. Bahasa Portugis (Portuguesee) di Brazil
4. Bahasa Prancis (French) di provinsi Quebec di Kanada.
(Alfabet Fraktur Pada Germanic System)

Huruf huruf alfabet dari Yunani juga masih digunakan di beberapa negara, salah satunya
adalah negara Yunani itu sendiri. Huruf alfabet yang kini digunakan bangsa Rusia dan
negara-negara Eropa Timur, yaitu huruf Cryillic, juga berakar dari alfabet Yunani.
(Huruf Cyrillic bangsa Rusia)

Selain tulisan dengan huruf terpisah, dikenal juga tulisan sambung atau cursive writing.
Jenis tulisan ini dikembangkan pada tahun 1552 oleh warga negara italia yaitu Ludovico
Arrighi. Arrighi mempopulerkan tulisan bersambung ini dan menyebutnya sebagai italic
style. Kata italic sendiri berasal dari kata Italia, dimana jenis tulisan dengan gaya italic ini
pertama kali digunakan di negara tersebut. Pada masa dewasa ini, istilah italic lebih
dikenal sebagai gaya penulisan dengan kemiringan ke kanan (right slant). Gaya penulisan
italic yang bersambung adalah cikal bakal tulisan modern yang digunakan saat ini di
berbagai negara Eropa, termasuk Indonesia.
(Tulisan Sambung atau Cursive Writing)

Wajarkah Bentuk Tulisan Tangan Berubah-ubah?

Seringkali seseorang merasa heran ketika melihat bentuk tulisan tangannya yang
cenderung berubah-ubah dari waktu ke waktu. Jangankan bentuk tulisan tangan, bentuk
tanda tangan pun kerap berubah walaupun dibuat pada hari yang sama. Perubahan bentuk
tanda tangan biasanya akan disadari ketika sedang diminta menandatangani suatu
dokumen di bank. Apabila pihak teller melihat bentuk tanda tangan anda tidak sama
dengan database yang ada, ia akan meminta anda untuk menandatangani ulang dokumen
tersebut. Hal ini merupakan contoh sehari hari, yang menunjukan bukti bahwa bentuk
tulisan dan tanda tangan kita ternyata bisa berubah pada situasi tertentu. Apakah hal ini
normal?
Manusia memiliki psikologi yang dinamis, dan selalu beradaptasi dengan keadaan
hidupnya. Berubahnya bentuk tulisan seseorang, dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya
pada saat itu. Dalam ilmu grafologi, disebutkan bahwa tulisan tangan merupakan
representasi dari gambaran karakteristik penulisnya. Tulisan tangan sebagai cerminan
psikologis seseorang, akan terus berubah mengikuti perkembangan psikologis yang
terjadi di dalam dirinya. Merupakan suatu hal yang wajar jika seseorang memiliki tulisan
tangan yang berbeda beda pada situasi tertentu.
Tulisan tangan antara seseorang yang sedang depresi akan berbeda dengan tulisannya
ketika sedang bahagia. Gejolak emosi yang mempengaruhi psikologis seseorang, juga
akan mempengaruhi bentuk tulisan tangannya. Coba perhatikan bentuk tulisan anda
ketika sedang merasa senang, pasti akan berbeda dengan bentuknya dengan ketika
menulis dalam keadaan marah. Ketika sedang marah, biasanya bentuk tulisan seseorang
akan menjadi lebih tajam huruf-hurufnya. Tekanan tulisan juga cenderung akan lebih
dalam dibanding biasanya. Tekanan tulisan ini dipengaruhi oleh gejolak energi agresif

yang disebabkan oleh kemarahan. Itulah sebabnya secara tidak sadar, ketika anda
menandatangani suatu dokumen dalam keadaan tertekan, bentuk tanda tangannya akan
cenderung lebih tajam. Hal ini juga menjelaskan mengapa bentuk tulisan anda saat
terburu-buru, memiliki bentuk yang berbeda dengan saat tenang. Perubahan seperti ini
biasanya terlihat ketika anda sedang mengerjakan ujian. Ketika sudah memasuki detikdetik terakhir pengumpulan jawaban, maka bentuk tulisannya akan lebih berantakan.
Perasaan terburu-buru ini dipicu oleh rasa ketakutan karena dikejar oleh tenggat waktu.
Adanya ketakutan ini membuat jalan pikiran anda dipenuhi kecemasan. Ketakutan dan
kecemasan inilah yang kemudian mempengaruhi bentuk tulisan anda. Perubahan gejolak
emosi sekecil apapun, akan muncul pada tulisan tangan. Namun perubahan bentuk tulisan
yang seperti ini sifatnya sementara, karena hanya mengikuti suasana hati penulisnya.
Ada faktor lain yang mempengaruhi bentuk tulisan tangan secara permanen. Dalam
grafologi dijelaskan bahwa faktor perkembangan psikologis dan perubahan perilaku, juga
akan mempengaruhi keseluruhan kualitas tulisan. Sadarkah anda, bahwa pada saat di
Sekolah Dasar, kita semua diajarkan untuk menulis dengan bentuk huruf yang sama..
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, ada materi tentang cara menulis indah / menulis tegak
bersambung. Uniknya, walaupun setiap siswa di Indonesia Raya ini diajarkan cara
menulis yang sama, namun tidak ada satupun diantara kita yang memiliki bentuk tulisan
yang sama persis.
Coba perhatikan tulisan anda semasa SD. Bandingkan bentuknya dengan tulisan anda
sewaktu SMA. Lalu bandingkan lagi dengan bentuk tulisan anda pada saat ini. Anda akan
melihat bahwa bentuk tulisan anda pada saat SD dan masa SMA cenderung berbeda jauh.
Tentunya selain bentuk tulisan, anda juga sadar bahwa perilaku anda semasa SMA
pastinya akan lebih dewasa dibanding sewaktu SD, bukan? Perubahan tulisan tersebut
mencerminkan perubahan perilaku yang anda alami.Seperti yang dijelaskan sebelumnya,
bahwa psikologis manusia sangatlah dinamis. Karakter diri seseorang akan terus
berkembang sesuai dengan konflik hidup yang dihadapinya. Konflik hidup yang dihadapi
setiap orang, tentu tidak akan sama. Itulah sebabnya perkembangan karakter diri setiap
individu juga akan berbeda. Perubahan perilaku ini, akan terekam melalui bentuk tulisan
tangan setiap penulisnya. Hal ini menjelaskan mengapa tulisan tangan setiap orang tidak
ada yang identik, sekalipun kita diajarkan cara menulis yang sama. Tulisan tangan adalah
identitas psikologi yang dimiliki setiap penulisnya.
(Putro Perdana, 2013)

Tulisan Tangan Dapat Merekam Keinginan Bunuh Diri

Bunuh diri merupakan masalah psikologi serius yang bisa terjadi pada orang orang yang
mengalami depresi berat. Seringkali bunuh diri terjadi karena seseorang yang sedang
depresi, tidak bisa mengungkapkan masalahnya kepada orang lain. Kesulitan untuk
mengungkapkan depresinya ini, membuatnya menjadi semakin menumpuk permasalahan
hidupnya. Akibatnya pada titik tertentu, ia akan sampai pada batas kemampuan dirinya
dalam menahan masalah, dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Tragedi bunuh diri pada orang disekeliling kita, sebetulnya bisa dicegah. Namun isu ini
dianggap terlalu sensitif untuk ditanyakan kepada orang yang sedang mengalami depresi.
Tidak semua orang yang sedang dilanda depresi berat, mau menceritakan secara verbal
tentang masalahnya. Lalu bagaimana cara agar kita mengetahui apakah orang yang kita
sayang mempunyai potensi untuk melukai dirinya sendiri? Ternyata keinginan bunuh diri
bisa dideteksi melalui tulisan tangan seseorang. Ilmu ini merupakan salah satu studi yang
dipelajari dalam grafologi. Bahkan studi tentang analisa keinginan bunuh diri melalui
graologi ini sudah diteliti secara ilmiah. Penelitian ilmiah ini dipublikasikan melalui
International Journal of Clinical Practice. Penelitannya dilakukan sebagai berikut:
2 orang dengan profesi grafolog dan 2 orang yang berpofesi sebagai dokter kejiwaan,
diminta menganalisa 80 tulisan tangan. Dari 80 tulisan tangan tersebut, terdapat 40
tulisan dari orang orang yang pernah mencoba bunuh diri, dan 40 tulisan dari orang orang
normal. Isi dari 80 tulisan tersebut tidak ada hubungannya dengan bunuh diri sama sekali.
Para peserta hanya diminta menuliskan tentang memori mereka semasa kecil. Setiap
tulisan tersebut juga diminta untuk ditandatangani oleh penulisnya. Berbekal 80 tulisan

tersebut, kedua grafolog dan kedua dokter tersebut, diminta untuk menentukan tulisan
mana saja yang ditulis oleh orang yang pernah mencoba untuk bunuh diri.
Hasilnya para grafolog berhasil mencapai tingkat akurasi analisa sebesar 73%.
Sedangkan para dokter, hanya mendapatkan tingkat akurasi analisa sebesar 53%. Perlu
diketahui bahwa kedua grafolog tersebut tidak memiliki latar belakang kedokteran jiwa.
Begitu juga dengan kedua dokternya, mereka tidak memiliki kemampuan grafologi.
Sehingga, walaupun perbedaan akurasinya tidak terlalu jauh, namun dari penelitian ini
bisa terlihat bahwa ilmu grafologi dapat digunakan menganalisa keinginan bunuh diri
secara akurat. Hasil kesimpulan dari penelitian ini membuat grafologi semakin banyak
digunakan di beberapa institusi kejiwaan dan institusi kesehatan, untuk mencegah
terjadinya bunuh diri. Karena sejauh ini, tidak banyak alat analisa psikologi yang dapat
digunakan untuk memprediksi keinginan bunuh diri. Di sisi lain, grafologi dianggap
cukup sederhana untuk dilakukan kepada para pasien. Grafologi hanya membutuhkan
tulisan tangan dan cerita akan memori tentang masa kecil. Tidak perlu mengerjakan
sejumlah pertanyaan kompleks, yang kadang sulit dipahami oleh para pasien yang sedang
depresi.
Mengapa memori tentang keinginan bunuh diri dapat dideteksi oleh grafologi? Ketika
seorang individu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, terjadi suatu pengalaman
psikologis yang luar biasa di dalam dirinya. Memori akan keinginannya mengakhiri
hidup, akan terekam di dalam alam bawah sadarnya. Alam bawah sadar mempengaruhi
berbagai hal dalam hidup seseorang. Mulai dari cara pandang terhadap hidup, cara
berjalan, gaya bicara, hingga bentuk tulisan. Tulisan tangan merupakan salah satu
cerminan dari alam bawah sadar seseorang. Setiap orang memiliki karakter psikologis,
dan alam bawah sadar yang unik. Itulah sebabnya masing masing individu di dunia ini
memiliki tulisan tangan dengan karakteristik yang berbeda beda. Berbagai pengalaman
dan memori yang mempengaruhi psikologis seseorang, akan terlihat dari tulisan
tangannya. Termasuk pengalaman dan memori akan percobaan bunuh diri yang pernah
dilakukan oleh seorang individu.
Menurut ilmu grafologi, memori tentang masa kecil adalah memori yang paling
mempengaruhi psikologis seseorang. Dengan menuliskan tentang memori penulisnya
sewaktu kecil, akan dapat terlihat bagaimana karakter dirinya yang sesungguhnya.
Karena dari memori di masa tersebut, akan muncul tanda tanda tentang pengalaman
traumatik, ataupun masalah di masa lalu yang belum dilepaskan oleh penulisnya.
Sehingga apabila ada keinginan untuk menyakiti diri sendiri, itu disebabkan karena
adanya kesulitan dalam menyelesaikan konflik batin yang terjadi di masa lalu. Hal inilah
yang kemudian dapat mempengaruhi cara pandang penulisnya terhadap masalah hidup.
Ketika seorang individu terbiasa mengabaikan masalah hidupnya, akan mempengaruhi
alam bawah sadarnya. Permasalahan yang terus ditumpuk di alam bawah sadar
seseorang, dapat mendorongnya untuk melukai dirinya sendiri. Ketika seseorang ingin
menyakiti dirinya, akan muncul tanda tanda tertentu dari tanda tangannya. Salah satunya
adalah tanda tangan yang dibuat dengan mencoret nama sendiri. Dalam grafologi, tanda
tangan merupakan gambaran bagaimana seseorang ingin dilihat oleh orang lain.
Sedangkan tulisan tangan adalah karakter diri yang sesungguhnya. Sehingga ketika

seseorang membuat tanda tangan dengan mencoret nama sendiri, menandakan bahwa ia
merasa kecewa dengan dirinya. Kekecewaan yang mendalam terhadap diri sendiri, serta
pengalaman traumatik di masa lalu, dapat mendorong seseorang untuk menyakiti dirinya.
(Putro Perdana, 2

Grafologi, Grafonomi, dan Handwriting Forensic


Dalam beberapa diskusi tentang grafologi, seringkali muncul pertanyaan apakah ilmu
Handwriting Forensic sama dengan grafologi?. Kedua ini ilmu ini pada dasarnya adalah
disiplin ilmu yang sedikit berbeda, namun memiliki kesamaan. Dalam ilmu tentang
tulisan tangan atau Handwriting Analysis itu sendiri, dikenal 3 cabang disiplin ilmu, yaitu
Grafologi, Grafonomi, dan Handwriting Forensic.. Masing masing cabang ilmu memiliki
perbedaan, meskipun dalam prakteknya menggunakan objek yang sama, yaitu sebuah
dokumen atau tulisan.

1. Grafologi
Grafologi adalah sebuah studi untuk mengungkap kepribadian dan karakter seseorang
berdasarkan tulisan tangannya. Grafologi merupakan bagian kecil dari Handwriting
Forensic, dan sebaiknya tidak disamakan antara satu sama lainnya (Allan Jamieson,
2009:278). Kata Grafologi itu sendiri memiliki definisi sebagai studi tentang kepribadian
seseorang melalui tulisan tangannya. Perlu diperhatikan bawa analisis ilmiah yang
dilakukan oleh seorang ahli tulisan, merupakan suatu hal berbeda dengan pekerjaan yang
dilakukan oleh graphologist. Seorang graphologist dalam pekerjaannya ketika
menganalisis tulisan, bertujuan untuk menemukan informasi mengenai sifat, kepribadian,
dan karakter penulisnya. (Andrew R.W Jackson, 2011:347).
Di Indonesia, grafologi sudah cukup berkembang penggunaannya. Mulai dari untuk
keperluan recruitment, hingga untuk masalah investigasi kejahatan. Mabes Polri sendiri
pernah mengemukakan untuk menggunakan grafologi sebagai salah satu alat tes dalam
izin penggunaan senjata api. Berita lengkap tentang hal itu bisa dibaca disini:
http://bit.ly/Z4YLQm.
Grafologi lebih mengkhususkan pada analisa psikologi dalam tulisan tangan. Sehingga,
ahli ahli grafologi biasanya dapat diminta untuk membantu investigasi kasus kejahatan.
Analisa grafologi akan sangat berguna dalam analisa surat bunuh diri. Seorang ahli

grafologi akan dapat mengetahui faktor psikologis apakah yang membuat korban tertekan
hingga melakukan tindakan bunuh diri. Selain itu, ahli grafologi juga dapat menggunakan
kemampuannya untuk menganalisa kebohongan dalam suatu pernyataan tertulis. Teknik
ini disebut juga handwriting lie detection, yang telah saya tulis di artikel sebelumnya.
2. Grafonomi
Menurut Amri Kamil dalam bukunya Mengenal dan Mempelajari Anatomi Grafonomi
Berkatian dengan Kejahatan Pemalsuan Dokumen, Grafonomi adalah suatu ilmu
pengetahuan yang dapat dipelajari dari goresan-goresan tulisan dalam sebuah tanda
tangan. Grafonomi berasal dari kata grafis dan nomi, yang berarti pengetahuan tulisan,
sehingga hasil goresan setiap individu dapat dipelajari secara ilmiah berdasarkan
karakteristik tulisan/goresan yang ada. (Kamil: 2007)
Grafonomi mengkhususkan diri pada identifikasi tanda-tangan, tulisan tangan, tulisan
ketik, cap stempel, barang cetakan/blanko, isi dokumen, dokumen secara keseluruhan.
Kriteria karakter tulisan yang dipelajari dari Grafonomi adalah tarikan, tekanan,
kelancaran, halus kasar, tempat perubahan arah tarikan, tarikan akhir, kebiasaan dan
aksesorinya.
Dari definisi dan ruang lingkup (cakupan) Grafonomi, maka ilmu ini hanya mengungkap
originalitas dari suatu dokumen dan aksesori / tambahan yang ada didalamnya.
Di Indonesia, teknik grafonomi ini digunakan secara intensif oleh Laboraturium Forensik
Mabes Polri. Grafonomi seringkali digunakan oleh kepolisian untuk menganalisa kasus
dugaan pemalsuan tanda tangan. Salah satu tokoh dalam bidang grafonomi di kepolisian
adalah Kombes Pol. Amri Kamil yang telah menuliskan beberapa buku tentang bidang
ini.

3. Handwriting Forensic
Istilah Forensic memiliki arti sederhana, yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan
hukum. Handwriting Forensic sebagai bidang studi ilmiah yang mengidentifikasi
pemalsuan dan mengungkap kisah asli (original) dari dokumen yang menjadi objek
sengketa di pengadilan.
Dalam prakteknya, Handwriting Forensic mengkombinasikan ilmu Grafologi dan
Grafonomi dalam menangani kasus kejahatan. Ilmu Grafologi dipergunakan khususnya
dalam mengemukakan adanya atau kecenderungan dari penulis untuk melakukan
perbuatan menyimpang (fraud). Biasanya hal yang dapat diungkapkan adalah:
identifikasi mengenai apakah seseorang memiliki kecenderungan menggunakan obatobatan, apakah seseorang memanipulasi suatu kejadian tertentu, dan masih banyak lagi.
Sedangkan ilmu Grafonomi lebih banyak digunakan untuk mengidentifikasi pemalsuan
suatu dokumen (forgery).
Menurut Koppenhaver, dalam bukunya Attorneys Guide to Document Examination,
Handwriting forensic memiliki beberapa fungsi yaitu:

Mengungkap penulis atau pencipta dari suatu dokumen


Menganalisis originalitas dari suatu dokumen
Jumlah orang yang membuat suatu dokumen
Menganalisis apakah sebuah dokumen pernah diubah
Tipe alat atau instrumen yang digunakan dalam membuat sebuah dokumen atau
tulisan

Dari penjelasan tentang ketiga cabang ilmu tersebut, dapat dilihat bahwa sebenarnya
antara satu sama lain masih memiliki benang merah. Karena pada dasarnya ketiga cabang
ilmu tersebut merupakan bagian dari Ilmu Handwriting Analysis. Hanya saja terkadang
penggunaannya dalam lingkup bidang yang berbeda. Grafologi lebih banyak dipakai di
bidang psikologi. Grafonomi dan Handwriting forensic lebih dikembangkan di bidang
investigasi kejahatan.
(Putro Perdana, 2013)

Menganalisa Kebohongan Lewat Tulisan

Berbohong merupakan suatu tindakan yang seringkali dilakukan manusia untuk


memanipulasi ataupun menghilangkan kebenaran suatu cerita. Dalam proses komunikasi,
sebenarnya apa yang diceritakan secara verbal hanya mewakili 30% saja. Sedangkan 70%
lainnya akan lebih terlihat dari gestur atau gerak tubuhnya ketika sedang bercerita. Gestur
gestur ini disebut juga sebagai komunikasi non-verbal. Seseorang akan lebih mudah
memanipulasi perkataannya dibanding memanipulasi gestur alaminya. Itulah kenapa
ketika mencurigai orang sedang berbohong, jangan perhatikan ceritanya saja, tapi juga
perhatikan gesturnya.
Tulisan tangan merupakan bagian dari gerak motorik tubuh seseorang. Sebagaimana
halnya gerak tubuh atau gestur, tulisan tangan juga ternyata dapat dianalisa. Ketika
seseorang berbohong, maka gerak tubuhnya pasti akan berubah. Gerakan dan
tindakannya menjadi tidak alami lagi. Misalkan ia biasanya sehari hari kalau bercerita
bisa secara lancar, namun ketika sedang menceritakan alibinya malah jadi terbata bata.
Hal ini disebut juga sebagai ketidak-alamian tindakan atau unnatural behavior. Ketidakalamian ini, selain terlihat dari gerak tubuh, juga terlihat dari tulisan tangan seseorang.
Tulisan tangan juga merupakan gerak tubuh, karena keduanya melibatkan saraf motorik
dalam prosesnya. Sama seperti gerak tubuh, seseorang biasanya bisa menulis secara
lancar pada saat menceritakan film favoritnya. Namun ketika ia diminta menuliskan
tentang alibinya ketika suatu kejahatan terjadi, tulisannya menjadi tidak spontan dan
banyak tanda tanda yang mencurigakan. Sehingga, ketika seseorang berbohong di dalam
tulisan yang dibuatnya, maka akan terlihat tanda tandanya. Tanda tanda yang akan
muncul misalnya adalah: Hilangnya bagian bagian huruf yang menyebabkan tulisan
tidak terbaca. Hal ini disebabkan karena penulis mencoba untuk melupakan informasi
informasi yang berkaitan dengan informasi penting. Tanda lain yang juga akan muncul
adalah perubahan kemiringan tulisan yang cukup sering. Perubahan ini menunjukkan
adanya konflik antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar penulis ketika menuliskan
pernyataan tersebut. Teknik ini akan sangat berguna ketika kita menghadapi kasus kasus
kejahatan, untuk proses interograsi misalnya. Dari alibi atau keterangan yang ditulis oleh

tersangka, akan dapat dianalisa apakah alibi tersebut ditulis secara apa adanya, atau justru
dibuat buat untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya.

Manfaat dan Aplikasi Dalam Ranah Kriminalistik


Metode analisa kebohongan melalui grafologi ini dapat digunakan untuk mengungkap
berbagai jenis kasus kejahatan, baik kasus yang bersifat violent (pembunuhan, terorisme)
ataupun kasus non-violent (penipuan, penggelapan, korupsi). Selain itu, dengan
penerapan metode ini, waktu yang dibutuhkan untuk menggali informasi dan menguji
kebenaran informasi dari tersangka dapat dipersingkat. Dengan metode ini, tersangka
akan diminta menulis mengenai hal hal yang ingin diketahui oleh penyidik, seperti
kronologi peristiwa, alibi yang tersangka miliki, saksi lain yang diketahui , dan hal lain
yang bisa dinyatakan oleh tersangka. Melalui analisis tersebut, akan dapat diketahui
apakah keterangan tersangka tersebut benar adanya (jujur) atau telah dimanipulasi.
Prinsipnya adalah, mintalah para tersangka menuliskan segala keterangan dan
pembelaannya dengan tulisan tangan. Selain tulisan tersebut bisa menjadi bukti fisik, juga
bisa dianalisa kebenarannya melalui grafologi.

Sudahkah Teknik Ini Terbukti Secara Ilmiah?


Prinsip grafologi menjelaskan bahwa apabila ada manipulasi yang dilakukan dalam
proses menulis (misalnya berbohong) akan terlihat melalui hasil tulisan yang berbeda
dengan tulisan yang tidak dimanipulasi. Hal ini disebabkan pertentangan dari alam bawah
sadar (subconscious) yang menolak untuk menuliskan hal tersebut secara sadar
(conscious). Institute of Graphological Sciences Research Group and the Coordinating
Committee of Studies in Psychological Analysis of Handwriting, telah melakukan
penelitian pada penilaian lebih lanjut tentang pendeteksi ketidak jujuran melalui grafologi
milik Dr Francisco Vials Carrera, serta telah mengkonfirmasi temuan awal miliknya.
Penilaian ini dilakukan oleh Patricia Sarria dan beberapa rekannya dari Cordoba dan
Madrid, seperti Prof Juan Palma. Profesor Vials telah menerapkan tes ini pada
kehidupan nyata sebanyak lebih dari 200 kali, yang dilakukan pada kelompok antara tiga
dan empat puluh orang, sekurang-kurangnya dua minggu setelah kejahatan itu dilakukan,
dengan izin dari individu-individu yang diuji, dan menggunakan teks yang telah
dirancang dan dikirimkan oleh Prof. Vials sendiri. Dalam hampir sembilan puluh persen
dari kasus, penulis dari kejahatan tersebut berhasil ditemukan, dan pada sepuluh persen
sisa kasus, ada kemungkinan bahwa penulis kejahatan tidak hadir dalam grup tersebut,
sebagaimana direktur itu sendiri bersaksi. (The Institute of Graphological Sciences,
2006).
Mengutip hasil penelitian pada Jurnal yang berjudul Handwriting-based Tool Offers
Alternate Lie Detection Method yang diterbitkan pada Journal Applied Cognitive
Psychology vol 24, tahun 2009, para peneliti menemukan bahwa karakteristik tulisan

tangan dapat dibedakan ketika seorang individu, dalam proses penulisan, berusaha untuk
menutupi pernyataan tertulis yang sebenarnya. Instrument tulisan tangan mempunyai
potensial untuk menggantikan, atau melengkapi, pendeteksi ketidakjujuran melalui
pernyataan verbal seperti polygraph, agar dapat menghasilkan akurasi yang lebih tinggi
dan objektivitas dalam pendeteksian ketidakjujuran di ranah penegakan hukum. Hasil
penelitian tersebut menyimpulkan bahwa grafologi untuk pendeteksi ketidakjujuran
dapat menjadi alternatif solusi selain alat polygraph yang sudah umum. Hal ini juga
diungkapkan oleh Mustofa (2007) yang menyebutkan bahwa dalam kriminalistik, di
dalamnya, terdapat metode grafologi.
Saya akan menjelaskan mengenai teknik dan metode aplikatif cara menganalisanya pada
artikel berikutnya.
(Putro Perdana, 2013)
Bagian 2

Serial TV Lie to Me, saat ini sedang ramai diperbincangkan oleh beberapa pemerhati
masalah kriminal karena metode investigasi yang digunakan dalam film ini. Dalam film
Lie to Me, diceritakan bahwa para investigatornya mampu menganalisa kebohongan
lewat expresi mikro atau micro-expression. Walaupun film ini yang dibuat secara fiksi,
namun teori teori tentang micro-expression tersebut benar benar telah terbukti secara
nyata di lapangan.
Dalam grafologi, saya menemukan bahwa kebohongan itu, selain bisa terlihat dari
expresi wajah dan gerak tubuh, juga ternyata bisa terlihat melalui tulisan tangan.

Menganalisa kebohongan melalui tulisan tangan, tentunya akan sangat berguna di dunia
kriminalistik. Sebagaimana juga diungkapkan oleh Mustofa (2007) yang menyebutkan
bahwa dalam kriminalistik, di dalamnya, terdapat metode grafologi. Seperti yang telah
saya tulis di bagian I, bahwa ketika seseorang berbohong akan muncul tanda tanda
unnatural behavior atau ketidak alamian perilaku. Dari ketidak alamian perilaku ini, kita
akan dapat membedakan mana keterangan yang ditulis secara jujur, dan mana yang telah
dimanipulasi.
Perlu diperhatikan, bahwa untuk menyimpulkan apakah suatu tulisan itu ditulis secara
jujur atau sudah dimanipulasi, tidak bisa ditentukan dari 1 indikator saja (Karohs, 2003).
Namun perlu dianalisa keseluruhan tulisan, dan dicari juga indikator indikator lainnya.
Hal ini supaya tidak berdampak pada pengambilan kesimpulan yang salah. Keseluruhan
indikator yang muncul, harus saling dikonfirmasi dan dievaluasi.
Untuk mendekteksi ketidakjujuran dalam suatu tulisan tangan, menurut Dwikardana
(2010) terdapat beberapa kejanggalan yang mencirikan ketidakjujuran seseorang yang
sedang berbohong ketika menulis, yakni:
1. Beberapa kalimat yang ditulis dengan kecepatan yang pelan. Apabila dalam beberapa
kalimat tertentu terlihat adanya perubahan kecepatan tulisan, menunjukan penulis berhati
hati dan memperhitungkan respon dari apa yang akan dituliskannya.
2. Tulisan yang berantakan dan tidak terbaca, menandakan bahwa penulis tidak berusaha
mengkomunikasikan pikirannya secara jelas, ataupun sedang memikirkan banyak hal
dalam satu waktu. Perbaikan huruf huruf atau coretan yang cukup sering terjadi
menunjukan penulis dalam keadaan gelisah dan mencoba untuk memberi kesan baik
dengan memperbaiki setiap kesalahan yang terjadi akibat kegelisahannya.
Contoh:

3. Garis dasar tulisan yang bervariasi, menunjukan bahwa adanya emosi yang berubah
ubah pada saat tulisan dibuat. Perhatikan pada kata kata apa saja garis dasarnya naik atau
turun secara signifikan, karena biasanya disaat itulah penulis merasakan gejolak emosi.
Contoh:

4. Kesalahan penulisan yang terus menerus, hal ini disebabkan karena penulis dalam
keadaan gelisah, sehingga pada saat ia menulis, ia memikirkan sesuatu yang lain.
Contoh:

5. Ukuran huruf yang berubah, menunjukan penulis sedang menambahkan konsentrasi


untuk baris atau kata tertentu. Ukuran yang semakin besar pada huruf tertentu,
menunjukkan penulisnya kehilangan fokus pada kata tersebut. Sedangkan ukuran yang
mengecil pada huruf tertentu, menunjukkan penulisnya berusaha untuk lebih
berkonsentrasi pada kata tersebut.
Contoh:

6. Bentuk huruf yang berbeda beda, menunjukkan ketidakstabilan emosi dan pemikiran
dari penulis yang bersangkutan.
Contoh:

7. Penggunaan tanda baca yang tidak wajar, seperti titik atau koma yang dibuat
berlebihan, biasanya disebabkan karena menulis meletakkan ballpointnya ketika sedang
merasa ragu dengan apa yang ia tuliskan.
8. Hilangnya bagian bagian huruf yang menyebabkan tulisan tidak terbaca. Serta
Hhlangnya beberapa huruf dalam kata kata yang penting. Hal ini menandakan ada upaya
untuk mengalihkan perhatian dari kata kata yang dianggapnya penting, karena enggan
untuk memberikan informasi yang jelas.
Contoh:

9. Jarak antar kata yang tidak stabil. Menunjukkan penulis tidak spontan dalam menulis
sehingga memerlukan banyak waktu untuk berpikir, dan hal tersebut menyebabkan jarak
antar spasi yang tidak teratur.
Contoh:

10. Perubahan kemiringan tulisan yang cukup sering, menunjukkan adanya konflik antara
pikiran sadar dan pikiran bawah sadar penulis ketika menuliskan pernyataan tersebut.
Contoh:

Dari beberapa kejanggalan diatas, dapat diidentifikasi kejujuran suatu informasi yang
ditulis oleh tersangka. Apabila terdapat banyak sekali kejanggalan yang muncul, maka
besar kemungkinan pernyataan yang ditulis adalah informasi yang tidak jujur maupun
sudah dimanipulasi. Melalui pernyataan tertulis tersebut, selain dapat memperoleh
keterangan tertulis yang bisa diajukan pada saat proses pengadilan, juga dapat digunakan
untuk menekankan pertanyaan kepada tersangka, terkait dengan kejanggalan yang
muncul pada pernyataan tersebut.
(Putro Perdana, 2013)
Sumber Referensi:
1. Erika M. Karohs, Ph. D., Ed. D. 2003. How to Tell (Dis)Honesty From Handwriting
Pebble Beach, California
2. Dwikardana, Sapta. 2010. Graphology: the Basic Course. Authentic School
of Graphology Training, Consulting, & Counseling Service. Tidak Diterbitkan.
3. Mustofa, Muhammad. 2007. Kriminologi: Kajian Sosiologi terhadap Kriminalitas,
Perilaku Menyimpang, dan Pelanggaran Hukum. Depok: FISIP UI Press.

Fungsi Ahli Forensik Dalam Persidangan

Disumpah sebagai saksi ahli di Pengadilan Negeri Solok


Artikel ini saya tulis untuk membagi pengalaman saya sebagai saksi ahli di bidang
forensik tulisan tangan, serta menjelaskan mengapa ahli forensik dibutuhkan dalam
persidangan yang melibatkan barang bukti fisik.
Hukum pidana indonesia mengenal kesaksian ahli sebagai salah satu alat bukti dalam
Hukum Acara Pidana. Hal ini disebabkan karena sistem pembuktian di Indonesia
menggunakan sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif.
Dalam ilmu forensik, dikenal bukti bukti selain saksi hidup, yaitu barang bukti fisik yang
disebut juga sebagai saksi diam (silent witness). Untuk memeriksa, mengetahui, meneliti,
dan menganalisa serta mengungkapkan bukti fisik tersebut, diperlukan ilmu kriminalistik
atau forensic science. Individu yang melakukan pekerjaan forensik tersebut, dalam
persidangan disebut juga sebagai ahli. Seorang ahli diperlukan untuk mengetahui dan
mempelajari hubungan antara bukti fisik dengan suatu kasus pidana, dan menjelaskannya
di depan persidangan.
Di depan persidangan, ahli tersebut dimaksudkan hadir sebagai seorang ilmuwan atau
scientist yang melakukan pemeriksaan atas suatu bukti fisik, dan mengemukakan
pendapatnya tentang hasil analisanya. Bukti fisik ini merupakan saksi diam (silent
witness) yang terkadang keberadaannya krusial dalam suatu kasus pidana. Kegunaan dari
keberadaan ahli itu sendiri, menurut KUHAP adalah untuk menjelaskan suatu persoalan,
sehingga bisa dipahami oleh hakim dan jaksa. Keberadaan ahli menjadi penting dalam

persidangan, karena tidak semua bidang dalam ilmu forensik, dipahami oleh orang awam
maupun hakim.
Sifat keterangan ahli itu sendiri didasarkan pada ilmu dan pengetahuan khusus yang
dimiliki oleh sang ahli. Keterangannya di persidangan dikategorikan sebagai pendapat
(opinion) yang berdasarkan ilmu dan pengetahuannya yang khusus tersebut. Yang
dimaksud pengetahuan khusus adalah, pengetahuan dari ahli yang tidak dimiliki oleh
orang awam. Pengetahuan inilah yang dimanfaatkan untuk mengungkap hal hal
tersembunyi pada barang bukti dalam suatu kasus. Misalnya saja kasus yang melibatkan
suatu dokumen yang diduga dipalsukan. Untuk mengungkap keaslian dokumen tersebut,
dibutuhkan metode dan pengalaman khusus. Keahlian seperti ini tidaklah dimiliki oleh
orang awam, tetapi hanya dimiliki oleh ahli forensik tulisan. Ada begitu banyak kasus
pidana yang berhubungan dengan alat bukti surat. Salah satunya adalah kasus pemalsuan
dokumen atau pemalsuan tanda tangan. Dalam kasus seperti ini, ada tiga hal yang perlu
diungkap sebagai bukti di persidangan, yaitu: (a) Apakah dokumen tersebut asli atau
tidak; (b) isi yang tertera di dalam dokumen; (c) apakah dokumen tersebut dilaksanakan
sesuai dengan isinya. Seorang pemeriksa dokumen atau forensic document
examiner melakukan peran sebagai ahli membantu para aparat penegak hukum dan
penasihat hukum dengan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan keaslian dokumen
yang melibatkan tanda tangan, dan tulisan tangan

Forgery & Kejahatan Kerah Putih

Forgery atau lebih umum dikenal sebagai pemalsuan tanda tangan, ternyata memiliki
karakteristik yang membuatnya dapat dikategorikan sebagai Kejahatan kerah putih.
Kejahatan kerah putih atau white collar crime, diperkenalkan oleh kriminolog Edwin
Sutherland pada tahun 1939. Sutherland mendefinisikan white collar crime sebagai
kejahatan yang dilakukan oleh seseorang dengan status yang terhormat dan status sosial
yang tinggi dalam pekerjaannya. Kejahatan kerah putih terjadi karena adanya motivasi
finansial, yang dilakukan secara illegal, dan biasanya dilakukan tanpa kekerasan atau
non-violent. Kejahatan ini disebut sebagai kejahatan kerah putih, karena kerah putih
yang digunakan para pelakunya adalah simbol para korporat dan para pekerja dengan
status terhormat. Dalam kriminologi, para pelaku white collar crime memiliki atribut dan
motif yang berbeda dibandingkan pelaku kejahatan jalanan atau street criminals. Contoh
kejahatan kerah putih yang lebih umum dikenal adalah tindakan korupsi.
Mari kita bahas pelan pelan. Pertama, forgery itu tidak seperti tindakan kriminal jalanan
atau street crimes, yang biasa terjadi di pinggir jalan dan dilakukan oleh sembarang
orang. Kita mengenal berbagai macam street crimes seperti perampokan, pencurian,
maupun penodongan. Forgery, tidak bisa dikategorikan seperti itu. Coba perhatikan, pada
tindakan street crimes, biasanya korban dan pelaku sama sama saling tidak mengenal.
Kalaupun pelakunya memilih korbannya dengan cara mengamati, memperhatikan pola
tindakannya hingga berhari hari melalui stalking, namun tetap saja, jarang sekali mereka
memiliki pola hubungan interaksi yang saling kenal sebelumnya. Sedangkan, pada
tindakan forgery, ternyata ada pola hubungan saling mengenal antara korban dan pelaku.
Pelaku tahu persis tentang bentuk tanda tangan korban, jumlah uang yang ada dalam
rekeningnya, dan pola transaksi korban. Selain itu, pelaku forgery juga memiliki
kedudukan tertentu yang membuat dirinya dapat dengan bebas mengakses data diri
korbannya sehingga bisa dengan leluasa menggunakannya untuk tujuan pribadi. Ketika
seseorang sudah menggunakan kedudukan dan jabatannya untuk penyimpangan dan
keuntungan pribadi, maka tindakannya tersebut dapat dikategorikan sebagai white collar
crime. Kembali lagi pada forgery, ketika seseorang memalsukan tanda tangan pada
dokumen tertentu, biasanya disitu ada penyalahgunaan wewenang kekuasaan yang ada

pada dirinya. Umumnya forgery seperti ini sering terjadi pada institusi finansial seperti
bank.
Terkait dengan pembahasan forgery pada tulisan ini, ternyata sering sekali forgery
dilakukan oleh pelaku yang punya pekerjaan dengan akses untuk mengetahui data diri
potensial korbannya, termasuk tanda tangan dan isi rekening tabungannya. Selain itu,
tindak kejahatan seperti ini juga semakin bisa terjadi ketika ada pemberian kepercayaan
berlebih dari seorang nasabah kepada officer di institusi keuangan. Biasanya kepercayaan
berlebih ini bisa berupa kewenangan untuk meniru tanda tangan ketika saat saat urgent,
dan sang nasabah sedang berhalangan di tempat untuk memberikan tanda tangan aslinya.
Awalnya, kepercayaan yang sangat beresiko seperti ini, diberikan untuk kemudahan
transaksi. Namun lama kelamaan, apabila tidak ada pengawasan, akan muncul
penyalahgunaan kepercayaan atau abuse of trust. Kepercayaan yang diberikan bisa
disalahgunakan oleh officer di institusi keuangan tersebut untuk keuangan pribadinya.
Pelaku kejahatan kerah putih biasanya merasionalisasi tindakannya sebagai bagian dari
pekerjaan mereka. Ketika pelaku dituduhkan sebagai pelaku kejahatan karena
memalsukan tanda tangan, maka ia akan membela dirinya dengan menyebut hal itu
sebagai kewenangan yang diberikan oleh nasabah untuk mempermudah transaksi. Pelaku
kejahatan kerah putih, umumnya tidak akan melihat dirinya sebagai kriminal, karena
memang pekerjaan sehari hari mereka bukanlah berbuat kriminal, tapi mereka kerap
melakukan kriminal dalam pekerjaan legal mereka.
(Putro Perdana, 2012)

Tipe Tipe Pelaku Pemalsuan Tanda Tangan

Pelaku pelaku kejahatan, seringkali dikategorisasi berdasarkan kualitas tindak


kejahatannya, dan juga motif dari tindakannya. Dalam Pemalsuan tanda tangan atau
forgery, para pelakunya juga memiliki karakteristik khusus yang membuatnya dapat
dibedakan antara satu sama lain. Namun uniknya, pelaku kejahatan pemalsuan tanda
tangan ini, tindakannya begitu halus sehingga kita tidak sadar bahwa tau-tau kita telah
menjadi korban kejahatan. Berbeda dengan jenis kejahatan lain seperti perampokan atau
pencurian, dimana korban melihat langsung pelakunya dan sadar bahwa dirinya telah
menjadi korban. Banyak sekali korban pemalsuan tanda tangan yang kaget ketika telah
kehilangan sejumlah uang di rekening banknya hanya melalui pemalsuan tanda
tangan. Karena halusnya tindakan yang mereka lakukan ini, saya menjuluki para pelaku
pemalsuan tanda tangan sebagai smooth criminal, seperti salah satu lagu legendaris dari
Michael Jackson.
Pada dasarnya, pelaku pemalsuan tanda tangan atau forger, dibagi menjadi 3 tipe:
1. Forger profesional, adalah para kriminal yang secara terlatih memiliki kemampuan
untuk mengimitasi tanda tangan orang lain. Kriminal profesional ini secara terorganisir
melakukan tindak kejahatan yang menggunakan tanda tangan palsu. Motif dari tindakan
kejahatan mereka adalah motif ekonomi dan terkadang politik. profesional ini melakukan
kejahatan sudah seperti bisnis, dimana tindakan kriminal tersebut adalah pekerjaannya
dan diperjualbelikan selayaknya komoditas. Seringkali dalam tindak kejahatannya,
mereka memalsukan tanda tangan orang orang terkenal, seperti para public figure.
Nantinya tanda tangan palsu ini akan dijual dan di klaim sebagai tanda tangan asli.
Bisnis tanda tangan para public figure ini, terutama milik atlet baseball dan para pemusik,
merupakan salah satu bisnis yang digemari di luar negeri. Professional forger ini akan
menjual tanda tangan palsu tersebut melalui situs jual beli online, maupun forum kolektor
tanda tangan. Tidak hanya sebatas para public figure, bahkan buku harian adolf hitler,
pernah dipalsukan oleh salah seorang forger professional forger. Kasus pemalsuan buku

harian ini, merupakan salah satu kasus pemalsuan tulisan yang menggemparkan dunia di
tahun 1970. Sejak saat itulah, ilmu forensik tulisan mulai memiliki peran penting dalam
menentukan keaslian para tanda tangan tokoh tokoh terkenal. Selain memalsukan tanda
tangan tokoh terkenal, ada juga professional forger yang terspesialisasi dalam pemalsuan
tanda tangan pada dokumen dokumen berharga. Mereka memalsukan tanda tangan dalam
pembuatan ijazah palsu, KTP palsu, maupun sertifikat tanah yang telah diimitasi.
Umumnya, professional forger yang seperti ini, telah memiliki peralatan canggih dan
kemampuan yang terlatih untuk mengakomodir tindak kejahatan mereka. Di Indonesia,
ada beberapa tempat yang khusus menyediakan dokumen palsu untuk dijual kepada
publik. Tempat tempat ini memiliki peralatan layaknya percetakan besar dan orang orang
yang terlatih dalam memalsukan surat berharga. Ciri utama dari forger profesional
adalah; mereka teroganisir dalam melakukan kejahatannya, dan mereka memang dilatih
untuk memalsukan tanda tangan. Profesional forger ini banyak ditemukan pada kasus
pemalsuan ijazah, pemalsuan KTP dan sertifikat tanah. Mereka tidak hanya sekedar
memalsukan tanda tangan, tapi juga keseluruhan dokumen.
2. Tipe yang kedua adalah forger amatir. Bentuk tanda tangan palsu yang dihasilkan
oleh para amatir ini, umumnya akan lebih berantakan dan kurang terkonsep. Sangat
berbeda dengan hasil pemalsuan dari profesional forger yang lebih rapih dan terlatih
dalam pembuatannya. Para FDE (Forensic Document Examiner istilah untuk individu
yang bekerja di bidang forensik tulisan) akan lebih mudah mendeteksi pemalsuan tanda
tangan yang dihasilkan oleh forger amatir, karena adanya perbedaan kualitas yang
cenderung buruk. Forger amatir ini seringkali mencuri cek dan dokumen dokumen
berharga, untuk nantinya diberi tanda tangan palsu diatasnya. Walaupun mereka yang
melakukan tindakannya secara berkala, namun mereka tidak terlatih seperti profesional
forger. Sehingga para amatir ini umumnya hanya berani memalsukan tanda tangan yang
bentuknya simpel dan mudah untuk ditiru. Mereka akan kesulitan dalam meniru tanda
tangan yang bentuknya sulit dan kompleks. Dalam mengimitasi suatu tanda tangan,
mereka cenderung akan lebih mengutamakan bentuk supaya semirip mungkin, tapi
mengesampingkan kualitas dan kecepatan dari tanda tangan. Motif tindakan dari para
forger amatir ini adalah mencari keuntungan ekonomi, namun tindakannya tidak
dilakukan secara teroganisir dan tidak terlatih seperti para profesional forger. Forger
amatir seperti ini banyak ditemukan pada kasus pemalsuan tanda tangan di ranah
perbankan
3. Tipe ketiga, yaitu opportunist forger, pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan para
forger amatir. Hanya saja, forger amatir melakukan pemalsuan karena memang sudah ada
niat sejak awal untuk melakukan tindak kejahatan. Sedangkan forger oportunis,
melakukan pemalsuan karena ada situasi yang secara tidak sengaja dapat menguntungkan
mereka. Mungkin awalnya mereka tidak berniat melakukan kejahatan, namun karena ada
situasi tertentu, akhirnya mereka terdorong untuk memalsukan tanda tangan supaya
mendapatkan keuntungan. Umumnya pelaku dalam kasus seperti ini terjadi dalam ranah
hubungan keluarga ataupun hubungan kerja. Contohnya dalam kasus surat wasiat yang
melibatkan sejumlah nama dalam suatu keluarga besar. Seringkali ada salah satu anggota
keluarga yang berani memalsukan tanda tangan dalam surat wasiat, karena ia melihat
lemahnya posisi anggota keluarga lain dalam hak warisnya. Situasi seperti ini kemudian

dimanfaatkan olehnya untuk memalsukan tanda tangan pemberi waris, agar seluruh
warisan berada di tangannya. Namun, para forger oportunis tidak hanya bisa terjadi
dalam ranah hubungan keluarga. Dalam ranah hubungan pekerjaan juga seringkali terjadi,
terutama yang berkaitan dengan surat kuasa dan surat perintah. Dari segi motif, forger
oportunis ini ingin memanfaatkan situasi yang ada untuk mencari keuntungan demi
kepentingan pribadinya. Karena para forger oportunis ini biasanya tidak pernah
memalsukan tanda tangan sebelumnya, maka kualitas imitasi tanda tangan yang mereka
hasilkan pun akan seburuk para forger amatir. Imitasi tanda tangan mereka hanya akan
mengutamakan bentuk yang semirip mungkin, sehingga akan membuatnya secara
perlahan karena adanya keragu raguan. Pembuatan tanda tangan yang perlahan, tentu
akan menghasilkan kualitas garis yang lebih buruk dibanding tanda tangan asli yang
dibuat secara cepat dan yakin.
(Putro Perdana, 2012)

Modus Operandi Pemalsuan Dokumen dan


Tanda Tangan
Pada setiap tindak kejahatan terdapat banyak cara untuk melakukannya. Termasuk dalam
kejahatan pemalsuan dokumen dan tanda tangan, pelakunya melakukan berbagai cara
dalam melaksanakan tindak kejahatannya. Dalam kriminologi, setiap tindak kejahatan,
walaupun memiliki tingkat variasi yang tinggi, namun akan selalu ada pola dan teknik
yang akan muncul jika kejahatannya terus berulang. Setiap tindakan kejahatan, lambat
laun akan memunculkan pola pengulangan yang bisa dipelajari sebagai pencegahan. Pola
dan teknik kejahatan yang selalu muncul berulang ulang, juga umum dikenal sebagai
modus operandi.
Dalam tindak kejahatan pemalsuan dokumen, ada berbagai macam modus pemalsuan,
tergantung dari jenis dokumen dan juga tujuan si pelaku. Namun umumnya dalam jenis
apapun modus pemalsuan dokumen, pelakunya sudah merencanakan dulu tindak
kejahatannya. Dengan kata lain, pemalsuan dokumen bukanlah kejahatan insidentil
seperti street crimes. Pemalsuan dokumen adalah kejahatan terencana. Secara niat dan
perbuatan, pelakunya sudah merencanakan terlebih dahulu skema tindak kejahatannya.
Berbagai modus operandi dalam kejahatan pemalsuan dokumen dan tanda tangan:
1. Pemalsuan Tanda Tangan Pada Dokumen Bank

Dunia perbankan sering sekali melibatkan penggunaan dokumen dokumen pada setiap
kegiatan bisnisnya, baik untuk keperluan transaksi maupun keperluan lainnya. Cek, giro,
buku deposito, surat perintah transfer, dan sejenisnya, merupakan dokumen dokumen
yang digunakan oleh para nasabah perbankan. Lembaga perbankan sendiri, merupakan
lembaga yang menyimpan sejumlah uang yang tidak sedikit. Uang, merupakan salah satu
motif terbesar dalam dunia kejahatan. Hal ini membuat bank menjadi salah satu sasaran
dalam tindak tindak kejahatan. Transaksi transaksi perbankan yang melibatkan penarikan
uang, seringkali menggunakan surat surat dan dokumen sebagai syarat administratif
untuk mengambil sejumlah uang dari bank. Celah ini kemudian dimanfaatkan oleh para
pelaku kejahatan untuk mengelabui sistem di perbankan yang mengandalkan dokumen
dan tanda tangan dalam keperluan administratinya.
Uniknya, berbagai kejahatan yang terjadi di perbankan, berhasil dilakukan karena adanya
permainan dari pihak yang bekerja di bank itu sendiri. Dengan kata lain, ada orang dalam

yang membantu tindak kejahatan, atau disebut juga sebagai inside job. Tanpa bantuan
orang dalam, sulit untuk melakukan kejahatan di bank, karena banyaknya sistem
administrasi dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang harus dimengerti. Untuk
dapat melakukan tindakan forgery, pelaku harus memiliki informasi tentang pola
transaksi di bank, bentuk tanda tangan korban, dan jumlah uang dalam rekening
korbannya. Uniknya, tidak semua orang memiliki akses untuk bisa mendapatkan
informasi tersebut. Hanya individu tertentu dengan status dan kedudukan tertentu yang
bisa mengakses informasi yang tergolong dirahasiakan. Dalam kajian kriminologi,
tindakan yang memanfaatkan posisi serta jabatan yang legal untuk melakukan kejahatan,
dikategorikan sebagai white-collar crime. Modus operandi pelaku forgery saat ini
ternyata lebih sering memalsukan tanda tangan pada surat perintah transfer dibandingkan
pada cek. Surat perintah transfer dapat dengan segera memindahkan uang dalam jumlah
milyaran ke rekening tertentu. Tidak seperti cek yang dalam jumlah penarikannya
terbatas hanya beberapa ratus juta saja.
2. Pemalsuan Pada Sertifikat dan Surat Surat Tanah

Dokumen dan surat surat tanah yang berbentuk sertifikat merupakan produk dari lembaga
resmi yang mengeluarkannya. Sertifikat tanah di Indonesia, dikeluarkan oleh instansi
Badan Pertanahan Nasional atau BPN. Dalam setiap dokumen resmi yang dikeluarkan
BPN, terdapat tanda tanda atau ciri khas yang memiliki identitas tersendiri supaya sulit
dipalsukan. Kerahasiaan dan keaslian dalam dokumen resmi BPN, dijaga kualitasnya
melalui pengamanan khusus yang terdapat di dalam dokumen tersebut. Bisa dalam
bentuk penggunaan kertas khusus, pita pengaman, penggunaaan tinta khusus, dan lain
sebagainya. Fungsi dari berbagai jenis pengaman ini adalah untuk mencegah terjadinya
kejahatan pemalsuan terhadap dokumen terkait. Sehingga, ketika terjadi suatu kecurigaan
atas sertifikat tanah yang diduga palsu, dapat dianalisa dengan cara dibandingkan dengan
dokumen asli yang memiliki standar pengamanan tersebut.

Pelaku sindikat tanah biasanya akan pura pura membeli tanah yang diketahui melalui
surat kabar atau informasi lainnya. Awalnya, pelaku akan datang kepada korban untuk
berpura pura membeli, dan kemudian akan meminta izin untuk meminjam surat tanah
supaya bisa difoto kopi, dengan alasan supaya bisa dipelajari lebih lanjut. Padahal, foto
kopi surat tanah tersebut nantinya akan digunakan untuk diduplikasi, dipalsukan tanda
tangannya, dan akan digunakan untuk melakukan tindak kejahatan penipuan. Pelaku akan
mempelajari bentuk tanda tangan yang tertera pada sertifikat tanah tersebut, mempelajari
bentuk cap dan stempel, agar nantinya bisa dipalsukan dengan mudah.
Pelaku pelaku pemalsuan sertifikat tanah, menggunakan sertifikat palsunya untuk
berbagai keperluan. Bisa dipakai untuk membuat surat balik nama ke pihak BPN, supaya
seolah olah sudah terjadi transaksi jual beli dengan pemilik lama. Bisa juga dipakai
sebagai jaminan kepada pihak Bank, untuk peminjaman uang dan kredit. Bahkan juga
dipakai untuk menipu pembeli tanah agar menyangka sertifikat tanah tersebut sah dan
asli, yang nantinya bisa berujung sengketa dengan pemilik tanah yang sah. Untuk itu
masyarakat maupun instansi keuangan, perlu secara teliti memeriksa keaslian suatu
dokumen dan sertifikat tanah sebelum melakukan transaksi. Biasanya kejahatan
pemalsuan dokumen yang berkaitan dengan tanah, terjadi karena korban tidak teliti dalam
memeriksa secara seksama sertifikat tersebut. Oleh karena itu, penting sekali untuk
mengkonfirmasi keaslian sertifikat tanah kepada instansi yang mengeluarkannya, dan
tidak sembarangan memberikan sertifikat untuk difoto kopi, agar memperkecil
kemungkinan terjadinya tindak kejahatan.
3. Pemalsuan Tanda Tangan Pada Ijazah

Ijazah, yang merupakan tanda bukti atas suatu penyelesaian jenjang pendidikan,
merupakan barang berharga bagi pemiliknya. Ijazah dapat digunakan oleh pemiliknya
untuk berbagai keperluan; sebagai syarat untuk memperoleh pekerjaan, atau sebagai
syarat untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Ijazah juga digunakan
untuk meningkatkan kredibilitas intelektual dan keahlian seseorang. Akan menjadi suatu
persoalan serius, ketika seseorang yang tidak memiliki keahlian atau pengetahuan
tertentu, memiliki ijazah yang menyatakan ia ahli di bidang tersebut.

Ada dua pola modus yang dipakai dalam pemalsuan tanda tangan ijazah. Pertama adalah,
pelaku menggunakan dokumen atau surat yang asli, namun isinya dipalsukan. Biasanya
pelaku menuliskan nilai (seperti nilai ujian, atau nilai kelulusan) yang bukan sebenarnya,
dan kemudian memalsukan tanda tangan pejabat yang berwenang. Hal ini dimaksudkan
agar seolah olah pemilik ijazah memiliki kredibilitas yang tinggi terhadap status
pendidikannya. Selain itu, modus kedua adalah memalsukan seluruh dokumen, termasuk
jenis kertas dari dokumen itu sendiri. Biasanya pola ini dilakukan oleh sindikat pemalsu
dokumen yang sudah profesional. Mereka membuat dokumen yang bentuknya sangat
mirip dengan yang asli, termasuk bentuk tanda tangan pejabat yang berwenang dalam
ijazah tersebut. Untuk mencegah berhasilnya tindak kejahatan ini, perlu mengkonfirmasi
kepada instansi yang mengeluarkan dokumen tersebut. Konfirmasi bisa dengan cara
menanyakan keaslian dokumen dan tanda tangan, maupun dengan mengecek registrasi
pada dokumen tersebut.
4. Pemalsuan Pada Kartu dan Dokumen Identitas

Kartu dan dokumen identitas seperti KTP, paspor, maupun Kartu Keluarga, seringkali
dipalsukan untuk tindak kejahatan. Mulai dari kejahatan penipuan, seperti peminjaman
uang, pengajuan kartu kredit, maupun untuk kejahatan politis seperti dalam kasus
pemilihan umum dan pemilihan gubernur. Modus kejahatan pemalsuan kartu identitas
biasanya dilakukan oleh sindikat. Jarang sekali pelaku pemalsuan kartu identitas ini
dilakukan seorang diri. Sindikat ini nantinya akan menjual kartu identitas kepada
masyarakat umum yang membutuhkannya. Sebelum melakukan pemalsuan,pelaku
mempelajari terlebih dahulu bentuk cap stempel, bentuk tanda tangan pejabat setempat,
dan jenis kertas yang digunakan. Modus lain yang juga digunakan adalah, menggunakan
dokumen kartu identitas asli, namun identtasnya yang dipalsukan. Biasanya kartu
identitas tersebut memang asli secara kasat mata, namun identitas yang tertera
didalamnya adalah palsu. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara membuat surat
pengantar palsu. Surat pengantar itu biasanya dipalsukan sedemikian rupa, sehingga akan
diproses secara legal oleh kelurahan setempat, yang dimana isi identitasnya adalah palsu.
Untuk modus kedua ini (surat asli, namun identitas palsu) biasanya digunakan oleh
pelaku terorisme untuk menyembunyikan identitas aslinya ketika diminta menunjukan
kartu identitasnya.
5. Pemalsuan Surat Kuasa, Surat Perintah, dan Surat Waris

Jenis surat berharga yang juga sering dipalsukan adalah surat kuasa, surat perintah dan
surat waris. Modus yang dilakukan pelaku biasanya adalah dengan memalsukan isi surat
tersebut, dan kemudian memalsukan tanda tangan pihak yang memberikan kuasa. Perkara
ini terlihat sepele, namun permasalahan menjadi semakin rumit ketika pihak yang
memberikan kuasa sudah meninggal. Karena akan menjadi sulit untuk mengkonfirmasi
keaslian isi surat tersebut kepada pemberi kuasa. Hal ini biasa terjadi pada surat kuasa
dan surat waris. Untuk mencegah kejahatan pemalsuan tanda tangan pada surat surat jenis
ini, bisa dilakukan dengan menggunakan saksi pada saat surat dibuat. Adanya saksi yang
ikut menanda tangani proses ketika surat dibuat, akan mempersulit pelaku untuk
memalsukan surat tersebut. Karena apabila pelaku ingin memalsukannya, maka ia
terpaksa memalsukan pula tanda tangan para saksi. Untuk itu sebaiknya gunakanlah lebih
dari dua saksi, untuk memperkuat legitimasi dari isi surat tersebut.
(Putro Perdana, 2012)

Mengapa Dokumen Menggunakan Tanda Tangan?

Walaupun tidak semua dokumen selalu dibubuhi oleh tulisan atau tanda tangan, namun
banyak dokumen dalam society kita yang memiliki hubungan erat dengan kedua hal
tersebut. Tulisan tangan dan tanda tangan digunakan sebagai verifikasi identitas dalam
berbagai dokumen penting dan berharga. Institusi finansial seperti bank, menggunakan
tanda tangan sebagai cara untuk memastikan bahwa wewenang yang ditulis dalam
dokumen tersebut, diberikan oleh orang yang seharusnya. Tanda tangan menjadi penting
keberadaannya dalam suatu dokumen, tidak hanya sekedar coretan, namun merupakan
representasi identitas seseorang. Berdasarkan informasi yang penulis dapatkan sewaktu
melakukan penelitian tentang forgery, ternyata semua bank di indonesia diwajibkan untuk
menggunakan tanda tangan sebagai bentuk representasi identitas pada suatu dokumen.
Kewajiban ini dikeluarkan oleh Bank Indonesia sendiri, dan merupakan aturan tertulis.
Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang alasan penggunaan tanda tangan sebagai
ciri identik diri seseorang. Pada dasarnya sebuah tanda tangan yang dibuat oleh setiap
orang, hampir mustahil untuk bisa ditiru sama persis oleh orang lain. Roy A. Huber
(1999:38) dan Jamieson (2009:1437) menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa
membuat tulisan tangan dan tanda tangan dengan bentuk yang sama persis. Tulisan
tangan merupakan behavioral artifact, yang merupakan bentuk hasil dari kerja motorik
dan visual. Tulisan tangan tidak bisa dibentuk tanpa adanya kerjasama antara jaringan
otak, motorik, dan visual. Sehingga, tulisan tangan yang diproduksi oleh seseorang,
merupakan hasil dari perilaku psikologisnya, dan juga control motoriknya. Kemampuan
untuk menulis tangan itu sendiri, membutuhkan tugas motorik yang amat kompleks. Hal
ini membuat bentuk tulisan pada setiap orang menjadi sangat heterogen, dan identik pada
setiap penulisnya. Ketika seseorang berupaya untuk meniru dan memalsukan tanda

tangan orang lain, maka kualitas yang dihasilkan akan selalu lebih inferior dibandingkan
bentuk aslinya. Adanya keidentikan, ciri-ciri unik, serta kualitas yang khas, membuat
tanda tangan digunakan sebagai verifikasi atas representasi identitas seseorang dalam
suatu dokumen.
Namun yang perlu diperhatikan dan juga dipelajari adalah variasi natural pada tulisan dan
tanda tangan. Meskipun tulisan memiliki ciri kesamaan pada setiap pembuatnya, tetapi
pada situasi dan kondisi tertentu bentuknya bisa terlihat berbeda meskipun pembuatnya
sama. Bertino (2008: 279) mengatakan bahwa walaupun setiap orang memiliki bentuk
dan ciri khas yang unik pada tulisannya, namun tetap pada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi bentuk tulisannya sehingga terlihat berbeda. Kondisi emosi (mood), umur,
maupun kondisi fisik dan kesehatan dapat mempengaruhi hasil dari tulisan yang sedang
dibuat. Meskipun begitu, karakteristik unik seperti kemiringan huruf, dan ukuran huruf,
tetap dapat dianalisa untuk mengetahui keasliannya. Adanya variasi natural pada tulisan
ini, juga turut membuktikan bahwa otak memainkan peranan penting dalam
pembuatannya.
Keunikan dan karakteristik khas pada tulisan tangan dan tanda tangan, membuatnya
relevan untuk digunakan sebagai representasi diri seseorang. Karakteristik dan keunikan
tersebut juga membuat tanda tangan cenderung sulit untuk ditiru dengan kualitas
pembuatan yang sama dengan aslinya. Hal inilah yang membuat dokumen masih
menggunakan tanda tangan sebagai bukti legal representasi diri seseorang diatas kertas.
(Putro Perdana, 2012)
Referensi:
Roy A. Hubber (1999). Handwriting Identification: Facts and Fundamentals.
Allan Jamieson (2009). Wiley Encyclopedia of Forensic Science.
Bertino, A.J (2008). Criminal Investigation.

Kejahatan Forgery di Bank (Sebuah


Kajian Kriminologi)

Forgery atau pemalsuan tanda tangan merupakan tindak kejahatan yang unik, ia bukanlah
kejahatan konvensional seperti street crimes yang dapat dilakukan oleh sembarang orang.
Untuk dapat melakukan tindakan forgery, pelaku harus memiliki informasi tentang pola
transaksi di bank, bentuk tanda tangan korban, dan jumlah uang dalam rekening
korbannya. Uniknya, tidak semua orang memiliki akses untuk bisa mendapatkan
informasi tersebut. Hanya individu tertentu dengan status dan kedudukan tertentu yang
bisa mengakses informasi yang tergolong dirahasiakan. Dalam kajian kriminologi,
tindakan yang memanfaatkan posisi serta jabatan yang legal untuk melakukan kejahatan,
dikategorikan sebagai white-collar crime. Untuk itu, bisa dipastikan bahwa selalu ada
hubungan antara korban dengan pelaku. Bisa hubungan pekerjaan (seperti atasanbawahan) atau hubungan keluarga (kakak-adik). Karena jarang sekali tindak kejahatan
forgery dilakukan oleh random people yang tidak mengetahui tentang informasi
keuangan serta bentuk tanda tangan korban. Forgery merupakan tindak kejahatan yang
terencana dan memerlukan pengetahuan khusus tentang korbannya.
Modus operandi pelaku forgery saat ini ternyata lebih sering memalsukan tanda tangan
pada surat perintah transfer dibandingkan pada cek. Surat perintah transfer dapat dengan
segera memindahkan uang dalam jumlah milyaran ke rekening tertentu. Tidak seperti cek
yang dalam jumlah penarikannya terbatas hanya beberapa ratus juta saja.
Uniknya, walau kasus forgery sering terjadi di bank, tapi pemberitaan di media tentang
tindak kejahatan ini masih sangat minim. Hal ini disebabkan karena bank sangat menjaga
reputasi mereka kepada nasabahnya. Dengan mengakui bahwa forgery terjadi berulangulang di bank mereka, merupakan pernyataan bunuh diri yang bisa menjatuhkan bisnis
perbankan itu sendiri.

Selain itu, dalam mengidentifikasi korban white-collar crime, tidaklah semudah seperti
mengidentifikasi kejahatan konvensional. White-collar crime sering juga disebut sebagai
victimless crime, dimana korban kejahatannya tidak merasa dirinya sebagai korban.
Dalam kasus ini, ternyata bank menganggap diri mereka sebagai korban sekunder dan
menganggap bahwa korban utama dari forgery ini adalah nasabahnya. Secara finansial,
bank tidak merasa dirugikan secara langsung. Kecuali kalau nasabahnya menuntut ganti
rugi atas uang mereka yang hilang karena forgery. Bank merasa bahwa mereka dirugikan
atas kerusakan reputasi yang disebabkan oleh forgery. Tindakan forgery mencederai aset
utama mereka yang lebih berharga dari aset finansial, yaitu aset reputational. Sehingga
bank kemudian melihat dirinya hanya sebagai korban tidak langsung dari tindak
kejahatan ini.
Walaupun pembahasan tentang forgery masih jarang sekali dibahas oleh bank ke hadapan
publik, namun bukan berarti kejahatan ini tidak berusaha dicegah. Bank menyadari
tentang bahaya forgery, sehingga mereka melakukan serangkaian tindakan preventif
untuk mencegah kejahatan ini terjadi secara berulang-ulang. Salah satunya adalah dengan
mengadakan training tentang handwriting analysis.
(Tulisan ini berdasarkan pada penelitian akademis yang dilakukan oleh Putro Perdana
pada tahun 2012, dengan judul: An Illustration of The Ways Bank X and Bank Y
Respond to Forgery Within The Framework of Occupational Crime)

Forgery dan Tulisan Tangan

Pemalsuan tulisan atau forgery mungkin bukanlah bentuk kejahatan tertua, tetapi
kejahatan ini telah terjadi sejak manusia menggunakan tulisan dan kertas untuk
menuangkan isi pikirannya. Manusia memulai memalsukan dokumen yang memiliki nilai
atau value, dengan cara memanipulasi tanda tangan, atau bahkan dengan membuat
duplikat dari keseluruhan dokumen. Pemalsuan tanda tangan dan dokumen telah
dipraktekkan sejak pertama tulisan telah menjadi media komunikasi. Metode untuk
mengidentifikasi keabsahan tulisan tangan dan dokumen, sudah dimulai sejak hukum
Romawi, di bawah Code of Justinian pada tahun 539 Masehi. Pada masa itu, kerajaan
romawi melarang pemalsuan dokumen kepemilikan tanah. Kejahatan pemalsuan menjadi
semakin berkembang ketika kertas digunakan untuk transaksi perdagangan.
Keabsahan dokumen sangat tergantung pada keasliannya. Berbagai cara dan metode telah
dilakukan untuk menjaga keaslian dokumen dan mencegah pemalsuan terjadi. Mulai dari
penggunaan wax seal, stempel kerajaan, penggunaan jenis kertas khusus, hingga
pemberian watermark. Pada era modern ini, berbagai institusi perbankan maupun institusi
hukum, menggunakan tanda tangan sebagai bukti keabsahan suatu dokumen. Tanda
tangan digunakan sebagai representasi dari identitas seseorang dalam suatu dokumen.
Tulisan tangan dan tanda tangan merupakan suatu gerakan motorik yang dipelajari mulai
dari kecil sampai dewasa, dengan proses pembelajaran yang sangat kompleks. Setiap
orang bisa saja diajarkan cara menulis yang sama ketika mereka kecil, tapi lama
kelamaan, masing masing orang akan memiliki cara penulisan yang berbeda dan khas.
Hal ini karena dalam pembuatannya, tulisan tangan dipengaruhi oleh banyak sekali
faktor, mulai dari kerja otak, syaraf, perasaan dan suasana hati, sehingga tulisan tangan
adalah perilaku yang dapat ditunjukkan melalui coretan-coretannya. Hal yang
menyebabkan tulisan tangan berguna sebagai bukti di dunia forensik adalah bahwa
tulisan tangan mencerminkan perilaku yang relatif stabil dari penulisnya dan walaupun
setiap orang diajarkan dengan cara menulis yang sama, tetapi terdapat keunikan khusus
antara penulis yang satu dengan penulis yang lain.
(Putro Perdana,2012)

Psikologis Afriyani Dari Sudut Pandang Grafologi

Majalah Ungkap. Edisi Februari 2012


Analisa Grafologi Putro Perdana Jelaskan Psikologis Afriyani
Tragedi Tugu Tani 22 Januari 2012 lalu tidak dapat dipungkiri memiliki efek yang cukup
besar pada masyarakat luas. Kecelakaan yang memakan korban 13 orang ini berakhir
dengan total korban yang tewas 9 orang dan sisanya menderita luka-luka.
Afriyani Susanti adalah pengemudi Xenia hitam dengan nomer polisi B 2479 XI ini
adalah tersangka utama yang lalai dalam berkendara. Pengaruh narkoba juga ditemukan
setelah para penghuni mobil ini melakukan cek urin, sehingga dapat disimpulkan bahwa
pelaku sedang dalam keadaan dibawah pengaruh narkoba ketika menabrakan mobilnya.
Reaksi sosial masyarakat segera dapat dilihat pasca kecelakaan Xenia maut tersebut, caci
dan hujatan yang diutarakan kepada pelaku penabrakan bermuculan dengan berbagai
variasi. Bahkan saat ini sudah terdapat aksi gerakan di media sosial Facebook yang
menyerukan Gerakan 1.000.000 dukung Hukum mati Apriani Susanti untuk
mendukung hukuman mati bagi pelaku tabrakan di Tugu tani tersebut.
Masyarakat yang memberikan reaksi tetentunya juga didasarkan pada reaksi Afriyani
yang terlihat tetap sanati walau sudah menabrak 13 orang dan mengakibatkan 9 orang
diantaranya tewas. Namun berbeda dengan analisis ahli grafologi terkait dengan kondisi
Afriyani yang terlihat santai dan tidak merasa bersalah tersebut. Melalui tulisan tangan
Afriyani dalam surat permintaan maaf kepada keluarga korban, salah satu pakar
Grafologi Indonesia Putro Perdana pun angkat bicara.

Apa itu Grafologi?


Grafologi merupakan sebuah ilmu untuk menganalisa kepribadian seseorang melalui
tulisan tangannya. Seperti halnya sidik jari, tulisan tangan setiap orang memiliki
keunikan dan ciri khas. Hal ini dikarenakan tulisan tangan yang ditulis merupakan hasil
proyeksi dari otak manusia. Sehingga muncul istilah dalam studi grafologi bahwa tulisan
tangan merupakan tulisan otak. Melalui grafologi tulisan tangan dapat dianalisa untuk
mendeskripsikan perilaku dan kepribadian seseorang, termasuk diantaranya adalah
mendeteksi kecenderungan melakukan tindakan agresif, cara berpikir, hingga
pendeteksian ketidakjujuran.
Perkembangan grafologi sendiri di Indonesia belum terlalu banyak dikenal, hanya pihak
kepolisian seperti Lab forensic saja yang menggunakannya secara aplikatif untuk
mengetahui keaslian tanda tangan. Sejak dahulu, laboratorium forensik sudah memiliki
beberapa ahli di bidang grafonomi, salah satunya adalah Kombes Pol. Amri Kamil.
Beliau telah menulis sebuah buku tentang mengenal dan mempelajari grafonomi
berkaitan dengan kejahatan pemalsuan dokumen. Buku ini telah digunakan oleh
berbagai kalangan penegak hukum untuk menjadi rujukan dalam kasus kejahatan forgery.
Grafologi mulai berkembang di Indonesia sejak pertengahan tahun 2000. Doktor Sapta
Dwikardana seorang Certified Master Handwriting Analyst mengajarkan grafologi
melalui lembaga yang dibentuknya yaitu Authentic School of Graphology di Indonesia.
Dalam dunia kejahatan, termasuk kriminologi, Grafologi juga memiliki keterkaitan
karena dapat membantu dalam penyelidikan sebuah tindak pidana pemalsuan tanda
tangan maupun menggambarkan psikologi pelaku tindak pidana, serta kejujurannya.
Seorang Professor dari kriminologi, Muhammad Mustofa juga menyebutkan bahwa
dalam ilmu kriminalistik ilmu pengetahuan yang dipergunakan untuk menyelidiki
terjadinya suatu peristiwa kejahatan, terdapat metode grafologi didalamnya.
Grafologi dan Pengguna Narkoba
Pengguna Narkoba aktif dalam dunia grafologi memiliki ke-khas-an sendiri. Karakter
tulisan pecandu narkoba memiliki kecenderungan tulisan yang menyerupai tongkat
pemukul atau dalam grafologi disebut clubbed strokes. Apabila seseorang memiliki jenis
tulisan seperti ini, maka besar kemungkinan bahwa ia pecandu narkotika. Karakteristik
clubbed stroke ini hanya ditemukan bila penulis sudah menjadi pecandu, sudah teradiksi
dengan narkotika. Namun karakteristik ini tidak akan muncul apabila penulis hanya
pengguna narkotik yang tergolong masih baru. Contoh tulisan dengan karakteristik
clubbed stroke, yaitu adanya penebalan berbentuk seperti pemukul pada garis vertikal,
seperti gambar dibawah ini

dengan demikian maka untuk mempermudah melihat pelaku tindak pidana atau orang
yang menggunakan narkoba aktif dapat diidentifikasi dengan karakteristik tulisan
clubbed stroke ini.
Analisis Tulisan Tangan Afriyani Susanti
Terkait dengan tkejadian tragis pada tanggal 22 januari lalu dengan kejadian kecelakaan
di Tugu tani yang menewaskan 9 nyawa pejalan kaki. Kejadian ini diakibatkan oleh ulah
pengendara mobil yang mengemudi dibawah pengaruh alkohol dan narkotik. Masyarakat
langsung mengecam kejadian tersebut, dan banyak yang ingin mengetahui tentang
kondisi kejiwaan sang pengemudi. Setelah insiden berdarah tersebut, pengemudi
langsung ditetapkan sebagai tersangka kejahatan oleh kepolisian. Pengemudi yang
bernama Afriyani ini kemudian menuliskan surat pernyataan maaf kepada masyarakat.
Surat yang ditulis tangan ini beredar di media-media cetak maupun online. Dalam surat
tersebut, Afriyani meminta maaf berkali kali atas perbuatannya.
Ini adalah potongan surat permintaan maaf Afriyani yang diambil dari media online:

Dari tulisan tangan tersebut, dapat dianalisa bahwa penulis memiliki hambatan untuk
mengungkapkan ekspresi emosinya. Ada kesulitan dari dalam diri Afriyani untuk
mengekspresikan apa yang sedang ia rasakan. Ini mungkin salah satu sebab mengapa
Afriyani tidak berekspresi apapun setelah kejadian tabrakan. Dari bentuk garis dasar,
serta bentuk huruf kapitalnya juga menunjukan bahwa Afriyani tidak mempunyai emosi
yang stabil serta masih belum dewasa. Namun pada tulisan ini tidak ditemukan adanya
clubbed stroke yang merupakan karakteristik dari seorang pengguna berat atau pecandu
narkoba. Asumsi Putro Perdana sebagai graphologist adalah besar kemungkinan bahwa
Afriyani hanya pengguna baru, belum menjadi pecandu. Selain itu, nampaknya Afriyani
menggunakan alkohol dan narkoba sebagai bentuk pelarian dari masalah yang tidak bisa
ia ungkapkan kepada orang lain. Walaupun begitu, tetap tidak dapat dipungkiri bahwa
Afriyani memang terbukti dalam pengaruh alkohol dan narkoba ketika mengemudikan
kendaraannya.
Dari analisis tulisan tersebut, solusi secara psikologis yang dapat diberikan kepada pelaku
adalah dengan mengubah perilakunya yang masih impulsif dalam bertindak atau
gegabah. Solusi ini dapat dilakukan dengan cara melatih diri sang pelaku agar lebih
mampu menceritakan masalahnya kepada orang lain. Adanya hambatan untuk
mengungkapkan emosi serta menceritakan masalah, membuat pelaku menjadi bertindak
impulsif dan mencari pelarian dalam bentuk lain seperti alkohol dan narkotika. Terapi
lain yang dapat diberikan untuk mengendalikan emosi serta kontrol diri adalah melalui
grapho-therapy. Grapho-therapy ini juga merupakan salah satu kajian dalam studi

grafologi. Terapi ini bekerja dengan metode mengubah pola-pola bentuk tulisan, agar
nantinya dapat mempengaruhi saraf kejiwaan sang penulis.
(Majalah Ungkap Narcotic News. Edisi Februari 2012)

Grafo-Forensik: Melihat Tulisan Dari


Perspektif Forensik
Pada tanggal 22 November 2011, saya mendapat kehormatan untuk mewakili PT ALESI
Indonesia sebagai Handwriting Analyst / graphologist swasta pertama yang menjadi
saksi ahli di Pengadilan Indonesia. Kesaksian yang saya berikan di pengadilan berupa
keterangan ahli di bidang grafo-forensik / grafonomi / psychometrical graphology.
Artikel ini dibuat agar membuat masyarakat lebih sadar tentang keberadaan ilmu grafoforensik, dan mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika mengalami permasalahan
hukum yang berkaitan dengan pemalsuan tulisan / tanda tangan. Putro Perdana
Grafo-Forensik / Grafonomi
Psychometrical graphology adalah salah satu cabang dari graphology. Terminologi ini
digunakan untuk menggambarkan teknik pengambilan kesan/impresi psikis seseorang
melalui sampel/spesimen tulisan tangannya.
Forensic Document Examiners (FDE) menggunakan ilmu graphology untuk menguji
tulisan tangan untuk mengenali keaslian atau kepalsuannya. Salah satu jenis tulisan
tangan yang seringkali dianalisa adalah tanda tangan.
Informasi yang diperlukan untuk melakukan analisa adalah:
Questioned: Sampel tulisan tangan dan tanda tangan dari penulis yang tidak diketahui
atau dicurigai
Comparation sampel: Sampel tulisan/tanda tangan lain sebagai pembanding
Common authorship examination: Sampel tulisan/tanda tangan lain dari penulis yang
sama atau sampel tulisan asli dari seseorang
Dari ketiga jenis sampel yang berbeda tersebut, seorang Handwriting analyst dapat
memberikan pendapatnya yang dilihat dari keaslian tulisan, struktur tulisan sesuai dengan
kebutuhan atau kejahatan yang harus dipecahkan. Jika kasus yang dihadapi adalah
pemalsuan, maka harus ada sampel yang dianggap asli serta sampel yang disebut sebagai
questioned di atas.
FITUR UNTUK VERIFIKASI TANDA TANGAN
Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa fitur yang dapat diadaptasi dari graphology
dan graphometry untuk verifikasi tanda tangan.
Calibre
Proportion

: hubungan antara height dan width


: symetry dari tandatangan

Spacing
: spasi antar kata
Alignment to baseline : hubungan antara tulisan dengan dasar

Progression

Slant
Form
Terminologi khusus

: dinamika, kecepatan, continuity, dan


uniformity.Progression terdiri dari 3
fitur: density, distribution of pixel,
dan progression.
: kemiringan secara umum dan secara
individual huruf
: representasi bergambar dari
movement, (antara lain: pengukuran
bentuk-bentuk cekung dari setiap cell)
: Merupakan bentuk-bentuk yang khas
pada setiap tanda tangan yang
dihasilkan

Berikut adalah contoh hasil analisa grafo-forensik dalam kasus dugaan pemalsuan
dokumen
Tanda tangan yang dipermasalahkan (Questioned) beserta sampel tanda tangan asli
sebagai komparasi. (Click Picture to Enlarge)

.
Hasil Analisa Grafo-Forensik (Click Picture to Enlarge)

Contoh Laporan Analisa Dalam B.Indonesia


Handwriting and doodling analysis report
Graphologist: Putro Perdana
Client: ANAGRAM (bukan nama sebenarnya)
16 03 2011
_________________________________________________________________
Personality and Character
Dari tulisan tangan ANAGRAM, terlihat adanya kebutuhan physical activity yang cukup
tinggi. ANAGRAM membutuhkan penyaluran berupa aktivitas fisik seperti olahraga dan
hal hal yang memacu adrenalin. Apabila physical activity ini tidak tersalurkan dengan
baik, ada kecenderungan untuk munculnya perilaku agresif berupa violence. Jenis tulisan
ANAGRAM termasuk dalam kategori dominant lower-zone. Dalam grafologi, lowerzone mendefinisikan ambisi, kebutuhan material, serta physical activity. Ada keinginan
dalam diri ANAGRAM untuk mendapatkan ketiga hal tersebut.
ANAGRAM juga mampu mengekspresikan emosinya kepada orang lain. Ia akan terlihat
sedih ataupun senang apabila ia sedang merasakan perasaan tersebut. ANAGRAM
termasuk pribadi yang ekstrovert dan mampu untuk berkomunikasi dengan lingkungan
sosialnya. Ia mampu mendengarkan pendapat orang lain sebagai masukan dalam
pengambilan keputusan. Kebutuhannya untuk berinteraksi dengan orang lain, juga
terlihat dari keaktifan dirinya untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan. ANAGRAM
adalah pribadi yang sangat aktif.
Self-confidence yang dimiliki ANAGRAM cukup baik. Ia mampu tampil dihadapan
publik tanpa harus merasa malu. Namun karena adanya kepercayaan diri yang cukup
tinggi ini, membuat ANAGRAM rentan terhadap kritik. Ia kurang senang apabila ada
orang yang mengkritik dirinya tanpa memberikan solusi. Selain itu, Self-esteem
(penghargaan terhadap diri sendiri) dalam diri ANAGRAM cenderung agak rendah.
ANAGRAM terkadang kurang mampu menghargai dirinya sendiri, walaupun sebenarnya
ia telah mencapai prestasi tertentu.
ANAGRAM termasuk pribadi kurang yang mampu mengatur daily routine dan jadwal
kegiatannya. Terkadang secara tidak sadar ia menumpuk dua atau lebih jadwal kegiatan
yang dilakukan pada waktu yang sama. Apabila dalam keadaan tertekan secara
berlebihan, ada kecenderungan ANAGRAM untuk mengeluarkannya secara agresif.
Namun ANAGRAM bukanlah pribadi yang tidak punya visi terhadap masa depannya.
Adanya keinginan kuat dalam diri ANAGRAM untuk terus proggress maju ke depan. Ia

ingin menjadi seseorang yang lebih baik dan meninggalkan apa yang sudah berlalu dalam
hidupnya.
Dalam bersosialisasi, ANAGRAM bukan tipe orang yang mudah percaya begitu saja
pada seseorang yang ia kenal. Ada sikap hati-hati setiap kali ia berinteraksi dengan orang
baru. Namun ANAGRAM termasuk pribadi yang cukup humoris, dan senang diajak
bercanda. Hal ini yang membuat dirinya disenangi oleh lingkungan sosialnya. Dalam
hasil analisa doodle test, terlihat ia memiliki banyak teman dekat (close-friend) dan
teman teman biasa (casual friend)
Suitable Career
ANAGRAM memiliki jiwa kompetisi yang sangat kuat. Ia dapat memacu dirinya sendiri
agar tidak boleh kalah dengan orang lain. Dalam bekerja dan berkarir, jiwa untuk
berkompetisi ini akan lebih terlihat. Saat ini ANAGRAM sangat tertarik dan ingin
mewujudkan keinginannya sebagai seorang eksekutif. Dengan semangat berkompetisi
yang tinggi, hal ini akan lebih realistis untuk terwujud.
Dalam bekerja, ANAGRAM termasuk orang yang kreatif dan berpikir out of the box. Ia
kurang suka bila harus melakukan pekerjaan yang terikat dengan aturan aturan yang
kaku. Apabila ia bekerja dalam kondisi terikat aturan seperti itu, cenderung akan
bertabrakan dengan kreativitasnya. Walaupun begitu, self-discipline yang dimiliki
ANAGRAM sangat baik. Ia mampu untuk melakukan kedisplinan dalam bekerja.
Berdasarkan kepribadian ANAGRAM yang memiliki semangat kompetisi yang kuat, cara
berpikir yang kreatif, dan juga adanya jiwa ambisi, maka ANAGRAM akan merasa
nyaman apabila ia bekerja sebagai seorang entrepeuner.
Kecepatan tulisan tangan yg gesit, tidak ada coretan awal pada huruf, menunjukan
ANAGRAM adalah seseorang yang berkarakter quick starter.Tekanan tulisannya yang
cukup kuat, adanya hook pada huruf lower-zone,menunjukan sifat ambitiousness.
ANAGRAM juga termasuk orang yang mampu mengambil resiko (risk-taking). Ini
terlihat dari tulisannya yang berhenti cukup jauh dari batas margin kanan, serta memiliki
keunikan pada huruf huruf tertentu. Sifat risk-taking ini dapat menjadi penyaluran
adrenalin dalam diri ANAGRAM yang perlu disalurkan. Namun perlu ditekankan, bahwa
harus ada perhitungan resiko (risk-analysis) yang tepat sebelum mengambil suatu
keputusan.
Kemudian, yang juga menunjang adalah jiwa dan semangat kompetisi yang nantinya
akan membuat kreatifitas ANAGRAM berada pada titik maksimal. Hampir kesemua
karakteristik yang dimiliki ANAGRAM sangat diperlukan dalam bidang entrepenur.
Dengan latar belakang pendidikannya saat ini sebagai seorang mahasiswa ilmu
adminstrasi FISIP, akan sangat menunjang kesempatannya berkarir di bidang ini.

Analysis Report Example

The owner of this handwriting is remain anonymous, i post this by her approval.

Handwriting Analysis Report for H.A on 12/25/2010


Physical & Material Drives
H.A tends to have sufficient energy in reserve to call upon when necessary as long as
this energy reserve is not tapped too frequently. Her enjoyment of physical activity is
about average. H.A is unable to hold onto her money. She is fairly generous.
Emotional Characteristics
When faced with emotional situations, H.A changes back and forth between keeping her
feelings in and letting them out. Her feelings are typically moderate in intensity.H.A s
emotional attitude becomes increasingly optimistic, only to be tempered in the end by
realism. She is naturally sensitive.
Intellectual Style
H.As thinking style is deliberate, cautious and precise. She tends to be both creative and
methodical in her approach to problem-solving. H.A is more intuitive than she is logical.
She tends to be cautious in her thinking and problem-solving approach. Her interests
alternate between exercising her imagination and attending to details. She is fairly
attentive to details.
Personality Traits

H.A has a sufficient amount of self-confidence and self-esteem. She has a good sense of
self-identity within the environment. She takes pride in her appearance and performance.
H.A is moderately patient. Her willpower is consistently adequate. H.A is flexible under
most circumstances. She can exercise self-discipline when she needs to adapt to changing
conditions. Her behavior is consistent. She is competent in many areas and able to turn
with ease from one thing to another
Social Behavior
H.A doesnt like crowds.H.A s honest, open conversational style may inadvertently lead
her to say more than she should. She is very concerned about communicating clearly. H.A
may be offended by criticism of her personal appearance. She cares about what others
think of her. She tends to be superficial and passive. She tends to be critical of others. She
can take an active part in social activities without requiring the spotlight.
Vocational Implications
H.A may become frustrated when performing timed tasks. She is more concerned with
accuracy than with speed in her work. She can work alone or as a member of a team. H.A
is aware of space and time, has good taste and is aesthetically inclined. Her enjoyment of
physical labor may be satisfied either through her work or in physical activities outside of
her work.H.A is fairly enthusiastic. She is determined and follows through with projects
until they are complete. H.A has alternating goal expectations, so confidence in her
ability to reach her objectives may fluctuate.
Handwriting Analyst: Putro Perdana Prabowo
contact: putroperdana@yahoo.com
Website: putroperdana.blogspot.com

Graphology Trivia
Did you know?
Although its a common knowledge that Graphology is a branch of study from
Psychology, but history has found that Graphology is older than psychology itself.
There are more than 2000 professional graphologists, scatter on all over Europe.
85% companies in Europe and more than 3000 corporation in America uses the
handwriting analysis technique during the employment selection. It has been proved as
the fastest, cheapest, and most efficient than any other personality test.
In Indonesian bookstore, literature about graphology and handwriting analysis is
categorized under the same section with occult, palmistry, and tarot.
Half of professional Graphologist didnt have psychology background.
If a person writes exactly as they were taught in school, he/she will be very conservative.
Changes in personality will show in the handwriting.
Graphologist cannot predict your future. Were not fortune teller :P
Graphology is taught in psychology departments of several leading universities in
Germany, France, Switzerland, Holland and Israel.
Unlike any other psychological tests, graphology does not limited by culturally
discriminating test questions. It is not even necessary that the person speak or write
English or Indonesian.
Like a fingerprint, no one could have the same exact handwriting.
References:
* Siswanto, 2010. Menyingkap Kepribadian Lewat Tulisan Tangan. Jakarta: Libri.
*Marley J, 1976. Handwriting Analysis made easy. California: Wilshire book company.
*www.handwriting.com

Graphology in Criminal Law

The Italian scientist C. Lombroso thought that handwriting was an innate and invariable
human function and that it allows one to distinguish the traits which characterize the
criminal type (this concept became one of the bases of the anthropological school of
criminal law). While rejecting these ideas about handwriting as an innate function of the
human organism, contemporary criminologists study the process of the formation of
handwriting, which has a specific and habitual character, and also investigate the various
correlations between handwriting and the personality of the writersuch as the
difference between the handwriting of men and women and between that of children and
old people, as well as the professional peculiarities of many elements of the written
discourse of the writer.
References:
*Branston, Barry (1991) weiserbooks. Boston. Graphology Explained.

Criminal Minds
Like a finger print, handwriting is unique to its owner. From letter retrieved from the
crime scene, kidnap or black-mail notes, threats or letters sent to the press boasting of

killing, the graphologist is able to build a profile of the criminal and also distinguish
between the hoax letters and the real one.
A Graphologist looks for insights into some of the following:
* Mood
* Motivation
* Aggression
* Intelligence
* Emotional Stability
A Graphologist will examine an individuals handwriting for signs of some or all of the
above and there may be other factors that interest them as well, depending on the
reasoning behind their involvement in a particular investigation. it will suggest what the
criminals personality is like, their social standing, their self-esteem, how they think, how
they will act, etc.
These profiles have proven to be remarkably accurate, and already widely used in U.S
(CIA,FBI, Federal Cop) for crime solving. Unfortunately in Indonesia, these method of
investigations hardly ever used by our law enforcement.
References:
*Byrd, Anita. Handwriting Analysis: A Guide to Personality. New York: Arco, 1982.
*http://legal-dictionary.thefreedictionary.com/criminalinvestigation.